Showing posts sorted by date for query iman. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query iman. Sort by relevance Show all posts

Wednesday, March 19, 2025

Tidur (10)

 (sambungan)


Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya.

Iman seperti yang dimiliki Daud bisa membuat kita sadar bahwa Tuhan akan selalu lebih besar dari masalah, dan Tuhan peduli pada setiap kesulitan yang tengah kita hadapi.

Ketika banyak tekanan membuat kita sulit tidur, ketika kita dihadapkan kepada situasi-situasi sulit yang seolah tidak punya penyelesaian atau jawaban, serahkanlah semua kepada Tuhan. Ada ribuan janji Tuhan yang tertulis jelas di dalam Alkitab yang seharusnya lebih dari cukup untuk membuat kita bisa tenang.

Masalah ketenangan, ketentraman atau kedamaian ternyata bukan terletak pada ada tidaknya masalah, atau jumlah harta, empuk tidaknya kasur dan hal-hal duniawi lainnya, tetapi justru terletak pada sebesar apa iman kita sebenarnya akan Allah.

Apabila ada di antara teman-teman yang tengah mengalami banyak masalah atau beban pikiran hari ini dan karenanya menjadi sulit tidur, serahkanlah segalanya ke dalam tangan Tuhan. Di dalam Tuhan ada kelegaan, di dalam Tuhan ada jawaban, di dalam Tuhan ada pertolongan, dan tentu saja di dalam Tuhan ada keselamatan.

Malam ini mari kita lepaskan semua beban pikiran yang ada. Datanglah kepadaNya dan rasakan kelembutan jamahan Tuhan yang mampu memberikan kelegaan sehingga anda akan bisa beristirahat dengan tenang. Alami tidur yang nyenyak dengan penyertaan Tuhan sepenuhnya atas diri anda. Sleep well, goodnight, sweet dream.

Sebab Tuhan menopang anda, tenangkan hati dan tidurlah dengan nyenyak


Tuesday, March 18, 2025

Tidur (9)

 (sambungan)


Dalam kitab Yesaya ada ayat yang menegaskan penjagaan Tuhan. "Yang hatinya teguh Kaujagai dengan damai sejahtera, sebab kepada-Mulah ia percaya." (Yesaya 26:3). Hati yang teguh dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan akan Dia jaga dengan damai sejahtera yang melimpah.

Kalau kita menyadari bahwa Tuhan yang menjanjikan ini memiliki kuasa jauh diatas apapun, itu seharusnya bisa membuat kita tetap tenang dalam menghadapi kesulitan apapun.

Mana yang lebih besar: Tuhan atau masalah yang sedang dihadapi? Terkadang kita perlu mengingatkan diri kita akan hal ini. Sesungguhnya kedamaian hati bukan terletak pada ada tidaknya masalah melainkan kemana kita arahkan pandangan kita. Kalau kita merasa masalah lebih besar dari Tuhan, tidak heran jika kita terus gelisah, resah dan takut sehingga tidak bisa beristirahat dengan cukup. Padahal, kita jelas butuh tenaga, energi dan pikiran yang sehat untuk bisa menyelesaikan masalah satu demi satu.

Tidak ada solusi baik yang bisa kita pikirkan dengan keadaan otak dan mental yang lelah.

Benar, masalah yang dihadapi itu ril, sementara pertolongan atau campur tangan Tuhan untuk kita bisa mengatasinya terkadang tak kunjung datang. Tapi disanalah kita butuh faith, atau iman. Iman yang digerakkan oleh kasih, iman yang kata Yesus bahkan sebesar biji sesawi saja sudah bisa mendatangkan perkara besar.

(bersambung)

Monday, March 17, 2025

Tidur (8)

 (sambungan)


Imannya akan Allah membuatnya yakin bahwa Allah akan selalu melindunginya, dan karena itu ia tetap bisa tidur meski situasinya sedang sangat berat.

Di bagian lain, dalam Mazmur 4:1-8 kita menemukan seuntai doa yang indah dari Daud di malam hari. Bagian ini menunjukkan dengan jelas bagaimana yakinnya Daud akan penyertaan Tuhan dan pertolongannya. Disana kita bisa melihat bagaimana Daud menyadari betul bahwa Tuhan penuh kasih setia dalam menyertai kita, bahwa Tuhan punya kuasa yang lebih besar dari apapun yang ada di kolong langit ini. Dengan menyadari itu Daud tahu betul bahwa ia tidak perlu takut. Ia berkata:

"Dengan tenteram aku mau membaringkan diri, lalu segera tidur, sebab hanya Engkaulah, ya TUHAN, yang membiarkan aku diam dengan aman." (Mazmur 4:9)

"In peace I will both lie down and sleep, for You, Lord, alone make me dwell in safety and confident trust."  

Dari beberapa kejadian ini, saya bisa melihat bahwa dalam situasi sulit Daud tetap bisa tidur dengan baik, dan itu bisa ia lakukan semata-mata karena iman yang bisa membuatnya begitu percaya kepada penyertaan dan perlindungan Tuhan.

Dalam kitab Yesaya...

(bersambung)

Saturday, March 15, 2025

Tidur (6)

 (sambungan)


Ingatlah bahwa ucapan ini disampaikan bukan oleh orang yang sepanjang hidupnya nyaman tanpa masalah, tetapi sebaliknya justru oleh orang yang menghadapi tumpukan banyak masalah sepanjang hidupnya.

Berulang-ulang Daud menyerukan tentang kebaikan Tuhan. Sepanjang kitab Mazmur kita bisa menemukan ratusan ayat yang menunjukkan iman Daud yang percaya sepenuhnya kepada Tuhan meski ketika ia sedang menghadapi masalah atau bahaya.

Dalam kitab 2 Samuel pun kita bisa menemukan perkataan Daud yang tegas menunjukkan seperti apa kebaikan Tuhan itu menaungi hidupnya. "Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku, tempat pelarianku, juruselamatku; Engkau menyelamatkan aku dari kekerasan." (2 Samuel 22:3).

Benar, sebagai manusia biasa dia pun tentu pernah mengalami pergumulan-pergumulan dan rasa takut, tetapi ia tidak menyerah dalam perasaan seperti itu dan selalu berhasil untuk kembali mempercayakan hidup sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan. Ia mengalahkan rasa takut atau kuatirnya dan menggantikannya dengan kepercayaan yang didukung oleh imannya.

Sama seperti Daud, dalam menghadapi situasi-situasi sulit atau berbagai bentuk pergumulan kita memerlukan iman, sebuah iman yang akan memerdekakan kita dari rasa takut, khawatir, cemas dan sebagainya, hal-hal yang bisa dengan mudah merebut sukacita dan kedamaian dari hidup kita dan membuat kita menjadi susah tidur.

(bersambung)

Friday, March 7, 2025

The Good Samaritan (12)

 (sambungan)

Kemurahan hati seperti halnya iman haruslah diikuti dengan sebuah perbuatan nyata. Contoh orang Samaria yang murah hati sangat baik untuk dijadikan  pelajaran yang baik mengenai bagaimana sejatinya murah hati itu kita terapkan dalam bentuk-bentuk nyata, bukan sebatas omongan atau retorika.

5. Murah Hati tidak mengharapkan imbalan

Penerapan kemurahan hati yang berdasarkan sebab akibat dan untung rugi tidak akan pernah mendapat pembenaran dari Tuhan. Memberi hanya karena membalas pemberian orang, atau berharap diberi kembali, berbuat baik karena orang baik kepada kita, mengasihi orang karena mereka mengasihi kita, itu semua masih terlalu dangkal.

Yesus mengatakan "Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu? Bukankah pemungut cukai juga berbuat demikian? Dan apabila kamu hanya memberi salam kepada saudara-saudaramu saja, apakah lebihnya dari pada perbuatan orang lain? Bukankah orang yang tidak mengenal Allahpun berbuat demikian?" (Matius 5:46-47).

Benar. Dan ini sangatlah mudah kita mengerti kalau melihat apa yang terjadi saat ini. Alangkah menyedihkan kalau kita yang mengaku umatNya malah ikut berperilaku seperti itu.

Jika demikian, yang dituntut dari kita adalah seperti ini: "Karena itu haruslah kamu sempurna, sama seperti Bapamu yang di sorga adalah sempurna." (ay 48).

Seperti halnya Bapa di surga mengasihi semua orang dengan sempurna, seperti itu pula kita dituntut untuk berlaku. Membantu, memberi tanpa pamrih, tergerak dan terpanggil untuk melakukan sesuatu secara nyata bukan karena mengharap imbalan atau memiliki tujuan tersembunyi di belakangnya, tapi murni karena belas kasihan, sebuah kemurahan hati yang didasari kasih. Bukan sembarang kasih, tetapi seperti kasih Allah yang tinggal diam di dalam diri kita.

(bersambung)

Thursday, March 6, 2025

The Good Samaritan (11)

 (sambungan)

Ini adalah sebuah pertanyaan yang sangat mendasar. Bagaimana mungkin kita mengaku memiliki kasih Allah, mengaku sebagai anak Allah, tetapi kita tidak melakukan apa-apa secara nyata dan hanya bilang kasihan saja?

Maka apa yang harus kita lakukan pun hadir dalam ayat berikutnya. "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran." (ay 18).

Bukan hanya dengan perkataan, bukan sebatas di bibir atau lidah saja, tetapi haruslah lewat perbuatan-perbuatan yang dilakukan/diaplikasikan secara nyata dan berakar dalam kebenaran.

Yakobus juga menyinggung perihal kemurahan hati yang diikuti dengan perbuatan nyata ini. Mari kita lihat apa yang ia utarakan. Ia berkata "Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?" (Yakobus 2:15-16).

Bukankah banyak diantara kita yang masih tanpa sadar melakukan ini? Ketika orang butuh bantuan, kita mungkin menunjukkan rasa prihatin, bahkan mungkin mengeluarkan kata-kata nasihat yang panjang, menguliahi atau mengkotbahi mereka, tetapi kita tidak melakukan apapun secara nyata untuk meringankan beban mereka. Yakobus mengingatkan bahwa semua itu tidaklah berguna. Itu sama saja dengan iman yang hanya kita katakan, kita hanya mengakui kita memiliki iman, tapi kita tidak menyertainya dengan perbuatan. Dan iman seperti ini dikatakan pada hakekatnya adalah mati. (ay 17).

(bersambung)

Sunday, February 16, 2025

Kasih Sebagai Sumber Daya Iman (6)

 (sambungan)

Ingat pula bahwa aliran kasih itu akan mampu menghindarkan kita dari banyak kejahatan, sekaligus menyembuhkan berbagai luka dan membawa pengampunan bagi orang yang pernah menyakiti kita. "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa." "For love covers a multitude of sins [forgives and disregards the offenses of others]."  (1 Petrus 4:8).  

Mumpung kita berada di bulan penuh kasih bagi yang merayakan hari kasih sayang atau Valentine's Day, sekarang waktunya kita memeriksa kembali apakah iman masih terhubung dengan sumber dayanya yaitu kasih, dan apakah sumber daya kasih itu masih hidup dalam diri kita. Kita harus memastikan bahwa kasih menggerakkan iman dalam hidup kita, sehingga kita bisa terus melangkah dengan kepastian dan jaminan dari Tuhan.

Adalah percuma jika kita mengikuti tata cara, ritual dan kebiasaan tetapi melupakan esensi terpenting yang menjadi dasar utama kekristenan. Hari ini kita belajar bahwa kita tidak bisa mengaku beriman tanpa memiliki kasih, iman tidak akan bisa bekerja tanpa adanya kasih.

Selamat Hari Valentine, pastikan kasih tetap ada dalam hidup kita dan tetap jadikan itu sebagai sumber daya iman bekerja dalam diri kita.

Iman hanya bisa berfungsi jika ada aliran dari sumber dayanya yaitu kasih


Saturday, February 15, 2025

Kasih Sebagai Sumber Daya Iman (5)

 (sambungan)

Kasih adalah prinsip dasar dalam kekristenan. Oleh karenanya tidaklah mengherankan jika Yohanes dengan tegas mengingatkan kita agar terus saling mengasihi.

"Sebab inilah berita yang telah kamu dengar dari mulanya, yaitu bahwa kita harus saling mengasihi..." (1 Yohanes 3:11).

Kemudian Yohanes mengingatkan kita pula akan akibat yang timbul jika kita tidak mengasihi atau memiliki kasih, "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tetap di dalam maut" (ay 14), dan dengan lebih keras melanjutkan bahwa "Setiap orang yang membenci saudaranya, adalah seorang pembunuh manusia" (ay 15).

Maka dengan tegas kita harus menolak kehadiran iri hati dan berbagai kebencian serta bentuk kejahatan lainnya untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Kita harus mencegah apapun yang bisa membuat kabel kasih kita terputus dari sumber dayanya.

Kasih adalah esensi dasar ajaran Kristus. Sedemikian pentingnya sehingga dikatakan "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih." (1 Korintus 13:13).

(bersambung)

Friday, February 14, 2025

Kasih Sebagai Sumber Daya Iman (4)

 (sambungan)

Bagaimana jika tidak ada aliran kasih dalam diri kita? Itu akan sama dengan peralatan elektronik kita tanpa adanya listrik. Bayangkan bagaimana hidup tanpa kasih. Kita akan dengan mudahnya membenci orang lain, mendendam atau merasa iri hati dan cepat tersinggung. Kita akan hidup mencari kepentingan sendiri dan tega mengorbankan siapapun demi diri kita.

Jika itu sampai terjadi maka berbagai perbuatan jahat lainnya akan mengintip dan siap menerkam kita, Dan hal itu sudah diingatkan oleh Firman Tuhan. "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16).

Membiarkan diri tanpa kasih itu sangatlah berbahaya. Disanalah akan terbuka banyak lahan subur bagi iblis untuk berpesta di dalam kita. Perhatikanlah bahwa kasih termasuk salah satu buah Roh (Galatia 5:22), sementara iri hati dan berbagai sikap jahat lainnya adalah bagian dari keinginan daging (ay 19-21).

Kemudian lihatlah ayat ini: "Sebab keinginan daging berlawanan dengan keinginan Roh dan keinginan Roh berlawanan dengan keinginan daging--karena keduanya bertentangan--sehingga kamu setiap kali tidak melakukan apa yang kamu kehendaki" (ay 17).

Artinya, ketika hal ini terjadi, aliran kasih dalam diri kitapun akan terganggu. Hubungan kita dengan Tuhan terputus, iman kita tidak bekerja lagi dan tentu semua itu merugikan bahkan siap menghancurkan kita sampai habis.

(bersambung)

Thursday, February 13, 2025

Kasih Sebagai Sumber Daya Iman (3)

 (sambungan)

Paulus memulai bagian ini dengan penegasan tentang kemerdekaan yang sesungguhnya sudah diberikan kepada orang percaya lewat Kristus. (ay 1). Tapi banyak yang tidak mengetahuinya dan masih bergantung kepada prosesi atau ritual, bahkan menganggap prosesi dan ritual sebagai hal yang terpenting lalu melupakan apa yang justru seharusnya menjadi yang terutama yang harus kita lakukan. Maka Paulus pun mengatakan sia-sialah semua itu tanpa adanya satu hal yang terpenting dalam hidup untuk kita miliki, yaitu iman.

Iman. Itulah yang dikatakan Paulus sebagai hal yang "mempunyai sesuatu arti", alias bermakna, atau  something that really counts.

Lantas perhatikan ayat Galatia 5:6 bagian terakhir, disana dikatakan bahwa iman itu bekerja oleh kasih. Dalam versi English Amplified bagian ini tertulis dengan sangat detil, yaitu: "...faith activated and energized and expressed and working through love."

Iman diaktivasi, diberi tenaga/daya dan diekspresikan dan bekerja lewat kasih.

Dari mana iman itu timbul? Firman Tuhan mengatakan bahwa "..Iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17).

Dari sanalah iman itu berasal. Benih-benih Firman Tuhan yang kita tabur dan jatuh di tanah yang baik akan membuat benih-benih itu bertunas dan tumbuh subur.

Selanjutnya kita butuh sumber daya yang akan menggerakkan agar iman itu bisa terus berbuah baik untuk kebaikan kita sendiri maupun kebaikan sesama, dan sumber daya itu ternyata, dan tidak lain adalah kasih. Sedemikian pentingnya arti kasih itu, jauh lebih penting dari hal-hal lainnya.

(bersambung)

Wednesday, February 12, 2025

Kasih Sebagai Sumber Daya Iman (2)

 (sambungan)

Bagaimana dengan iman?

Dengan apa iman sebenarnya bekerja?

Apakah iman juga butuh sumber daya seperti halnya perangkat-perangkat elektrik kita?

Banyak dari kita yang tidak menyadari bahwa ternyata iman pun butuh 'sumber daya' agar iman tetap bisa aktif. Dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup, kita jelas butuh iman supaya bisa tetap melangkah maju tanpa diganggu rasa kuatir akan ketidakpastian atau kendala-kendala yang menyusahkan kita. Agar iman itu tetap menyala dan bekerja dengan baik, ada yang dibutuhkan sebagai sumber dayanya. Apakah itu?

Sumber daya yang mampu menggerakkan iman itu ternyata ada. Dan itu bisa kita lihat dalam surat Galatia, yang disampaikan Paulus saat mengingatkan jemaat tentang apa yang penting atau mempunyai makna mengenai keselamatan.

Saat itu ia menyinggung tentang banyaknya orang yang lebih bergantung kepada prosesi, tata cara atau ritual-ritual lengkap dengan perulangannya. Banyak orang keliru menganggap hal ini sebagai yang terpenting dalam beribadah dan mengira hal itu mampu membawa keselamatan, sementara kita lupa akan hal lain yang justru jauh lebih penting, berarti atau bermakna dalam menerima janji-janji Tuhan.

Maka perhatikan ayat berikut ini: "Sebab bagi orang-orang yang ada di dalam Kristus Yesus hal bersunat atau tidak bersunat tidak mempunyai sesuatu arti, hanya iman yang bekerja oleh kasih." (Galatia 5:6).

(bersambung)

Tuesday, February 11, 2025

Kasih Sebagai Sumber Daya Iman (1)

 Ayat bacaan: Galatia 5:6
==================
"...faith activated and energized and expressed and working through love." (English AMP)


Kebutuhan manusia akan perangkat komunikasi terus meningkat. Saat Alexander Graham Bell mematenkan telepon pertama saat masih berusia 29 tahun, dunia komunikasi manusia menjadi berubah. Berbagai penyempurnaan dan inovasi terus terjadi, hingga kemudian kita mengenal telepon yang tidak memerlukan kabel, bisa dibawa kemana-mana dalam genggaman.

Saya masih ingat saat telepon seluler atau handphone (hp) mulai menjamur di Indonesia di sekitar pertengahan dekade 90'an. Telepon seluler sebenarnya sudah ada sejak awal tahun 70an, dan kemudian mulai diperkenalkan di Indonesia sekitar 10 tahun kemudian. Tapi berbagai penyempurnaan dan berdirinya operator seluler membuat telepon seluler ini bisa eksis dan berkembang pesat dengan jumlah pemakai yang terus meningkat dengan cepat.

Dahulu di awal-awal layarnya tidak berwarna dan nada dering alias ringtonenya masih monophonic. Lantas layar mulai berwarna meski terbatas dan nada dering juga tidak lagi mono melainkan polyphonic. Karena pada masa itu telepon seluler hanya berfungsi untuk menelepon dan sms an, baterainya sangat awet. Standby time nya bisa tahan berhari-hari, yang artinya telepon seluler anda akan tetap aktif  meski tidak di charge selama beberapa hari.

Metamorfosis dan revolusi telepon genggam terjadi begitu cepat. Hari ini sulit rasanya membayangkan bagaimana jadinya tanpa adanya smart phone dalam genggaman kita. Seperti namanya yang 'smart', kegunaannya jauh melebihi fungsi dasar sebagai alat menelepon dan teks. Beberapa aplikasi tetap stand by agar pesan yang masuk bisa segera kita terima. Fitur-fitur terus bertambah, dunia seolah ada dalam genggaman kita.

Karena kompleksitasnya, baterainya pun jauh lebih cepat habis dibanding telepon seluler jadul. Orang yang aktif memakai smart phone bisa jadi butuh men-charge ulang gadgetnya beberapa kali dalam sehari. Tidaklah heran jika di pusat-pusat perbelanjaan, cafe atau tempat hang-out/pusat keramaian menyediakan colokan listrik untuk menjaring konsumennya. Tempat hang-out yang tidak 'peka' terhadap kebutuhan terkini orang akan sulit bersaing.

Alternatifnya, kita pun wajib dilengkapi dengan power bank agar kita bisa kembali mengisi daya unit baterai saat mengalami lowbat kapanpun dan dimanapun. Pendek kata, di jaman yang serba elektronik dan elektrik ini kita sangat tergantung pada sumber daya agar semua gadget dan kebanyakan perangkat penting kita bisa tetap berfungsi.

Bagaimana dengan iman?

(bersambung)

Wednesday, January 29, 2025

Siap Tidak Siap (2)

 (sambungan)

Bagaimana dalam hal menjalankan tugas mulia mewartakan berita mengenai Yesus? Seringkali kita punya ribuan alasan untuk menolak memberitakan kabar gembira kepada orang. Segala keterbatasan pun akan mudah kita berikan. Takut, tidak tahu caranya, tidak mengerti terlalu banyak, tidak pintar ngomong, sudah terlalu sibuk dan lain-lain, termasuk alasan waktunya kurang tepat, sedang tidak pas. Atau alasan takut, itu pun sering jadi penyebab untuk menolak. Padahal seringkali bukan waktunya yang tidak pas, tapi kitanya lah yang tidak siap.

Mari saya berikan satu contoh nyata dari pengalaman saya sendiri. Suatu pagi, saya berhadapan dengan seorang bapak yang tinggal tidak jauh dari rumah saya. Ia adalah ketua dari sebuah ormas garis keras yang kalau saya sebut namanya pasti anda tahu. Ia tahu keyakinan saya, dan entah dari mana ia tahu bahwa apa keyakinan lama saya.

Maka jadilah pagi itu saya seolah ia 'sidang' bersama salah seorang temannya. "Kenapa anda murtad?" pertanyaannya tajam dan air mukanya pun terlihat tidak menyenangkan.

Saya bisa saja ngeles atau berdalih untuk cari aman. Tapi tidak, saya tidak mau menyangkal Yesus yang sudah saya terima sebagai Tuhan dan Juru Selamat saya. Maka saya berdoa dalam hati, meminta Roh Kudus membimbing mulut dan lidah saya dalam menjawab.

Yang saya lakukan kemudian adalah saya bersaksi, sejujur-jujurnya kenapa saya berpindah. Saya juga bersaksi bagaimana perubahan dalam hidup saya setelah saya menerima Yesus.

Lantas berbagai pertanyaan 'klise' tentang Kristen pun mereka sampaikan pada saya, sesuatu yang biasa mereka pakai untuk mengolok-olok. Saya hanya menjawab bahwa yang namanya iman, itu tidak bisa tergantung dari orang lain melainkan dari diri sendiri. Ada banyak hal yang tidak akan pernah bisa kita jawab karena kemampuan manusia untuk menyelami kebesaran Tuhan itu sangatlah terbatas. Disaat seperti itu, iman akan sangat bermanfaat agar kita bisa meyakini betul kebesaran Tuhan, juga agar kita bisa mengalami banyak hal yang berada di luar kemampuan nalar manusia.

(bersambung)

Wednesday, January 22, 2025

Duri (2)

 (sambungan)

Duri itu mungkin kecil ukurannya. Tapi kalau tertusuk sakit sekali. Dalam jumlah yang banyak, duri bisa mendatangkan lebih banyak masalah. Luka tertusuk duri kalau dibiarkan bisa mendatangkan infeksi, membengkak, bernanah dan bisa mendatangkan resiko-resiko yang fatal.

Tanaman pun susah tumbuh dengan baik kalau ada di lingkungan semak duri. Menariknya, Tuhan Yesus menyadari betul hal itu.

Yesus kerap menggambarkan pertumbuhan iman dengan tanaman. Mulai dari benih yang ditabur, lalu tumbuh sehat dan berbuah banyak. Tanaman buah seperti itu, kita pun sama. Pertumbuhan iman akan sangat tergantung dari kualitas benih dan kondisi hati kita, lantas bagaimana kita merawatnya.

Kalau semua itu dilakukan dengan benar maka pertumbuhan iman kita akan sehat dan menghasilkan buah-buah yang baik. sebaliknya, apabila tidak maka iman kita akan terhimpit, tercekik dan terhambat pertumbuhannya.

Lihatlah saat Tuhan Yesus memberi sebuah perumpamaan seperti yang tertulis di Markus 4:1-20. Ini adalah kisah saat Yesus membagi pengajaran di tepi danau. Ada banyak orang yang datang untuk mendengarkannya, sehingga Yesus memilih untuk naik ke perahu agar bisa mengajar sambil berhadapan dengan mereka yang duduk di tepi danau.

Dalam kesempatan ini Yesus mengajar lewat perumpamaan tentang penabur yang menabur benih di kondisi tanah dan lingkungan yang berbeda. Benih yang jatuh di pinggir jalan lalu dimakani burung sampai habis sebelum bisa tumbuh, lalu benih yang jatuh di kondisi tanah berbatu-batu. Selanjutnya benih yang jatuh di tanah penuh semak duri, dan benih yang jatuh di tanah yang baik.

(bersambung)

Sunday, December 15, 2024

Mulanya Hanya Coba-Coba (3)

 (sambungan)

Sebuah lingkungan pertemanan yang tidak sehat seringkali menjerumuskan orang ke dalam dosa. Di dalam lingkungan pertemanan yang seperti ini, kalau kita mau hidup lurus dan benar kita malah bisa terlihat aneh. Supaya tidak aneh, kita pun mencoba menyesuaikan diri. Saat itu yang kita lakukan, bahaya pun akan langsung mengintai. Konsekuensinya kelak harus kita tanggung, dan penyesalan sering datang terlambat.

Pertanyaannya, apakah ini berarti kita tidak boleh membuka diri seluas-luasnya untuk berteman dengan banyak orang? Tentu saja bukan itu maksudnya. Kita tidak dilarang untuk berteman dengan orang lain, hanya saja kita harus memperhatikan benar dengan siapa kita menjalin hubungan pertemanan. Tidak peduli sekuat apapun iman kita, ketika kita terus menerus memberi toleransi akan dosa maka cepat atau lambat kita bisa terpengaruh dan terjebak dalam bermacam-macam dosa.

Adakah peringatan yang spesifik menyangkut hal ini di dalam Alkitab? Tentu saja ada, bahkan sudah sejak masa Salomo. Dalam Amsal ia menulis: "Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut." (Amsal 1:10).

Ini adalah pesan penting tentu saja. Lewat hikmatnya Salomo sudah bisa melihat kecenderungan manusia yang gampang termakan bujukan atau rayuan untuk berbuat dosa. Orang-orang berdosa akan selalu mencari orang lain untuk mengikuti gaya hidup mereka yang salah. Dan sayangnya, kita kerap menurut karena banyak alasan. Takut dianggap ketinggalan jaman, ingin menjaga gengsi atau segan jika menolak, takut dikucilkan dari pergaulan dan sebagainya.

(bersambung)

Wednesday, November 13, 2024

Collective Faith (3)

 (sambungan)

Dari kisah ini kita bisa melihat beberapa hal penting.

Pertama, kita bisa melihat bagaimana iman bisa menggerakkan Tuhan menjamah seseorang untuk mengalami mukjizat-mukjizat Ilahi termasuk di dalamnya kesembuhan.

Kedua, kita juga bisa melihat bahwa iman kita sanggup menggerakkan Tuhan untuk menjamah orang lain. Iman dari keempat sahabat ternyata mampu mendatangkan kesembuhan dari si penderita lumpuh ini.

Ketiga, yang tidak kalah penting adalah semua ini dimungkinkan pula dari kerjasama yang padu dengan dasar saling tolong menolong. Pada hakekatnya kita diciptakan sebagai mahluk sosial yang seharusnya berinteraksi untuk bisa maju. Kita tidak akan bisa bertumbuh secara optimal kalau menjalankan semuanya sendirian.

Pada kenyataannya kita melihat banyaknya orang yang sebenarnya sudah dipulihkan tapi kembali jatuh kepada dosa asalnya, bahkan bisa jadi lebih parah dari sebelumnya, dan saat diteliti ternyata karena mereka hanya sendirian, tidak memiliki komunitas yang bisa saling menjaga dan mengingatkan. Inilah yang juga sering dilupakan oleh orang percaya, yaitu pentingnya bagi kita untuk memiliki komunitas yang kuat dan erat seperti halnya keluarga.

(bersambung)

Tuesday, November 12, 2024

Collective Faith (2)

 (sambungan)

Mari kita lihat kisahnya dari Lukas pasal 5. "Lalu datanglah beberapa orang mengusung seorang lumpuh di atas tempat tidur; mereka berusaha membawa dia masuk dan meletakkannya di hadapan Yesus. Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: "Hai saudara, dosamu sudah diampuni." (Lukas 5:18-20).

Anda bisa lihat yang namanya usaha itu seperti apa. Tidaklah mudah menggotong seorang lumpuh untuk naik ke atas atap lalu menurunkannya dengan selamat ke bawah. Pakai apa naiknya? Tangga? Kalau tangga, bagaimana caranya mengangkat orang secara berempat dalam situasi tegak lurus ke atas? Kalaupun bisa, itu jelas memerlukan kemampuan keseimbangan yang diatas rata-rata dan kehatian tingkat tinggi. Kemudian bagaimana caranya meletakkan si lumpuh saat mereka harus membongkar atap? Tapi demi kesembuhan temannya oleh Yesus, mereka mati-matian berusaha dan mengalahkan kemustahilan.

Dan mari kita lihat apa reaksi Yesus yang saya pakai sebagai ayat bacaan hari ini. "Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: "Hai saudara, dosamu sudah diampuni." (ay 20).

Perhatikan kata yang saya beri penekanan, "MEREKA". Yang disembuhkan adalah si orang yang lumpuh. Tapi apa yang mendasari Yesus menyembuhkannya? Jawabannya jelas tertulis dalam ayat ini, yaitu: "IMAN MEREKA". Bukan iman si lumpuh, tapi iman mereka. Kata mereka disini berarti jamak dan bukan tunggal. Bisa termasuk iman si lumpuh, tapi bisa juga iman keempat sahabatnya. Yang pasti, iman mereka secara kolektif, itulah yang menggerakkan Tuhan Yesus untuk menurunkan mukjizatNya.

(bersambung)

Monday, November 11, 2024

Collective Faith (1)

 Ayat bacaan: Lukas 5:20
==============
"Ketika Yesus melihat iman mereka, berkatalah Ia: "Hai saudara, dosamu sudah diampuni."


Saya harap anda belum bosan dengan kisah keempat orang yang menggotong sahabat mereka yang lumpuh untuk bertemu Yesus agar disembuhkan. Dalam beberapa hari ini Tuhan memang sedang gencar berbicara banyak tentang beberapa hal mengacu kepada bagian kisah yang dicatat dalam tiga Injil, yaitu Matius Markus dan Lukas.

Bagi anda yang melewatkan beberapa renungan terdahulu, mari saya berikan lagi ringkasannya. Pada saat itu Yesus tengah datang di Kapernaum. Mengetahui bahwa Yesus ada disana, orang pun berbondong-bondong datang menjumpainya. Seketika rumah dimana Yesus ada pun penuh. Dalam Markus pasal 2 ayat 2 dikatakan bahwa disana sudah tidak ada lagi tempat, bahkan di muka pintu pun tidak. Kerumunan orang seperti itu membuat siapapun menjadi sulit untuk mendekat.

Datanglah seorang lumpuh yang digotong oleh empat orang temannya. Kalau satu orang saja sulit merapat, apalagi empat orang menggotong orang lumpuh. Tapi mereka tidak kehabisan akal, meski akal tersebut tampaknya sangat sulit atau bahkan sepertinya mustahil untuk dilakukan. Mereka memutuskan untuk memanjat atap, membuka atap rumah orang tersebut dan menurunkan temannya. Mukjizat pun terjadi. Yesus menyembuhkan si lumpuh pada saat itu. Ia pulang dengan berjalan dan membawa tilamnya sendiri.

Dalam beberapa renungan terdahulu kita sudah melihat beberapa aspek terkait mengenai hal ini, yaitu dari sisi pentingnya networking dan teamwork, kerjasama yang melibatkan Tuhan dan dari sisi si pemilik rumah yang merasakan sukacita kedua dari mukjizat yang terjadi di rumahnya dan menganggap kerugian sebagai bagian dari pelayanan. Hari ini saya ingin fokus kepada hal lain yang saya rasa juga jarang sekali kita perhatikan, yaitu iman dari keempat temannya.

(bersambung)

Sunday, November 3, 2024

Sukacita Kedua (7)

 (sambungan)

Menempatkan diri dari sisi sang pemilik rumah, saya merasa ia sadar bahwa itu adalah bagian atau resiko dari pelayanan. Saat kita melayani, kita pun harus rela mengorbankan waktu, tenaga dan uang. Bisa jadi orang yang kita hadapi malah sulit. Memberi penolakan, marah atau kambuhan. Mungkin sudah tidak memberi apa-apa, mereka malah tidak serius dan seperti malah kita yang punya kepentingan. Tapi itulah pelayanan. So be it. Memakai hati hamba dan mengaplikasikan kasih memang butuh pengorbanan.

Adalah baik jika kita sudah bisa bersukacita tanpa terpengaruh oleh kondisi faktual yang tengah kita alami saat ini. Tingkatkanlah sukacita itu kepada sebuah sukacita saat melihat ada orang lain yang diselamatkan, saat ada yang mengalami kuasa mukjizat Tuhan, menerima jamahanNya dan mendapat kesempatan menjadi manusia baru. Dan tentu saja, menjadi bagian atau rekan sekerja Tuhan dalam misi menyelamatkan jiwa-jiwa terhilang.

Meski kita harus rugi karenanya, itu tidak apa-apa, karena sebuah hati hamba yang berisi kasih Allah seharusnya tidak memperhitungkan hal tersebut melainkan turut bersukacita menyaksikannya. Bukankah saat melihat langsung hal itu atau saat mengalaminya, iman kita pun sedang ditumbuhkan? Pandanglah segala kerugian bahkan penderitaan itu sebagai suatu kehormatan.

Be joyful not only when you look at your life with faith but also when you see people being transformed by God



Monday, October 28, 2024

Sukacita Kedua (1)

 Ayat bacaan: Lukas 5:19
==================
"Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak tepat di depan Yesus. "


Belakangan ini saya merasa bahwa otot-otot iman saya tengah digembleng habis-habisan. Bukan hanya dalam hal tetap memegang teguh pengharapan dan kuat saat berada di masa kesukaran, tetapi terlebih dalam hal sukacita.

Ada kalanya saya sudah benar-benar kehilangan mood untuk bisa tetap ceria, tapi mau tidak mau saya harus tetap bisa ceria dan ramah dalam melayani pembeli, dan tentu saja, saat saya pulang ke rumah dan 'ditodong' putri tercinta saya untuk bermain bersamanya. "Hore papa pulang! Ayo main, pa." Begitulah sambutannya begitu melihat saya ada di depan pintu. Terkadang saya sudah merasa terlalu letih, baik fisik maupun mental, kalau ditanya saya lebih memilih untuk bisa langsung beristirahat, calling it a day and look forward to a new day with new chance tomorrow. Tapi bagaimana mungkin saya bisa mengecewakannya?

Dan kemarin, saat anak saya memimpin doa sebelum tidur, saya sempat kaget sekaligus terharu. Ia membuka doanya dengan "Tuhan Yesus, terima kasih karena hari ini saya bisa bermain lama sama papa. Terima kasih sudah mendengarkan doa saya tadi malam."

Itu membuat saya kaget, karena saya tidak menyangka bahwa ia ternyata secara khusus berdoa agar ia dapat kesempatan untuk bisa bermain bersama saya dalam jangka waktu yang cukup untuk membuatnya puas. Saya pun merasa lega bahwa saya tidak menolak untuk meluangkan waktu bersamanya meski saya merasa sangat letih dari segala arah. Dan itu mendatangkan sukacita dalam hati saya.

(bersambung)

Tidur (10)

 (sambungan) Menghadapi masalah hanya memandang pada masalah, itu bahaya. Menghadapi masalah tanpa iman, itu pun bahaya. Iman seperti yang d...