Thursday, December 15, 2011

Hidup Sederhana

webmaster | 8:00 AM |
Ayat bacaan: Ulangan 16:16
====================
"Beginilah perintah TUHAN: Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa."

sederhanaDalam sebuah obrolan santai dengan beberapa teman, ada seseorang di antara mereka yang melontarkan pertanyaan: "apa perasaan yang paling sulit menurut kalian untuk dikendalikan?" Jawabannya beragam, tetapi ada satu jawaban yang saya rasa menarik, yaitu "rasa cukup." Saya rasa apa yang ia katakan itu benar, apalagi di dunia sekarang yang akan dengan mudah membuat kita menjadi masyarakat konsumtif. Ada begitu banyak kebutuhan yang tiba-tiba dianggap sangat penting untuk dimiliki, tidak bisa tidak, dan banyak diantaranya bukan karena fungsi atau kegunaannya melainkan karena gengsi. Selalu saja ada barang-barang atau gadget yang rasanya harus kita miliki atau kalau tidak maka kita pun malu dianggap ketinggalan jaman, tidak sanggup dan sebagainya. Betapa seringnya kita terus merasa tidak puas dengan apa yang kita miliki. Kita terus ingin lebih dan lebih lagi, sering iri melihat apa yang dimiliki oleh orang lain, bahkan tidak sedikit yang malah menuduh Tuhan pilih kasih atau tidak adil. Mudah bagi kita untuk menginginkan lebih banyak tetapi sulit bagi kita untuk merasa cukup dan bersyukur dengan apa yang kita miliki saat ini. Rasa tidak pernah puas menjadi kebiasaan banyak orang, itu dianggap wajar, dan kalau demikian bagaimana kita akan pernah bersyukur atas segala yang telah kita miliki hari ini.

Tuhan tidak menginginkan kita memiliki pola pikir seperti itu. Tuhan ingin kita tahu berterimakasih dan bersyukur atas apa yang kita punya saat ini. Tidak dipungkiri akan ada kebutuhan-kebutuhan yang harus dipenuhi kedepannya, tetapi itu bukan berarti kita harus merasa kurang, tidak puas lalu mengeluh dan sulit untuk mengucap syukur.

Perbandingan langsung antara cukup dan tamak bisa kita lihat lewat kisah bangsa Israel pada masa pengembaraan mereka dibawah pimpinan Musa menuju tanah ternjanji, Kanaan. Bangsa Israel saat itu dikenal sebagai bangsa keras kepala, tegar tengkuk yang selalu sulit untuk bersyukur atas berkat yang sudah turun atas mereka. Walau sudah berkali-kali mereka menyaksikan langsung penyertaan dan mukjizat Tuhan turun atas mereka, tetapi mereka tetap saja bersungut-sungut dan terus menuntut lebih dan lebih lagi. Begitu cepatnya mereka mengeluh, begitu mudahnya mereka bersungut-sungut. Hari ini bersukacita besok mereka sudah melupakan semua berkat itu dan kembali mengeluh tak habis-habisnya.

Salah satu contohnya bisa kita lihat dalam Keluaran 16:1-36. Pada bagian ini diceritakan ketika bangsa Israel berangkat dari Elim dan tiba di padang gurun Sin, setelah satu setengah bulan berada dalam perjalanan. Karena kelaparan dan mungkin bekal mereka habis, mulailah mereka mengeluh dan berkata "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." (ay 3). Tuhan yang mengasihi mereka lalu menjawab permintaan mereka dengan mengirimkan hujan roti dari langit. "Lalu berfirmanlah TUHAN kepada Musa: "Sesungguhnya Aku akan menurunkan dari langit hujan roti bagimu; maka bangsa itu akan keluar dan memungut tiap-tiap hari sebanyak yang perlu untuk sehari, supaya mereka Kucoba, apakah mereka hidup menurut hukum-Ku atau tidak." (ay 4). Lihatlah sebuah pesan penting hadir dalam ayat ini. Meski Tuhan mengabulkan permintaan mereka, namun Tuhan berpesan agar mereka memungut secukupnya saja. Dasar tamak, ternyata mereka masih juga merasa belum cukup. Tuhan pun kembali menurunkan burung puyuh sampai menutupi perkemahan mereka. (ay 13). Dan kembali Tuhan memberi pesan: "Pungutlah itu, tiap-tiap orang menurut keperluannya; masing-masing kamu boleh mengambil untuk seisi kemahnya, segomer seorang, menurut jumlah jiwa." (ay 16). Segomer itu kira-kira dua liter, itupun sebenarnya sudah lebih dari cukup. Dari kisah ini kita bisa memetik pelajaran bahwa meski Tuhan lebih dari sekedar sanggup memberkati kita secara berkelimpahan, tetapi kita tidak boleh terjebak kepada nafsu ketamakan. Hidup sederhana atau secukupnya tetaplah merupakan gaya hidup yang diinginkan Tuhan untuk diadopsi anak-anakNya.

Dalam kisah turunnya hujan roti dan burung puyuh di atas kita melihat dua kali pesan Tuhan berbunyi sama, agar mereka mengambil secukupnya saja. Tuhan ingin berkata: "Meski Aku sanggup memberkati secara berkelimpahan, tetapi hiduplah sederhana!". Jika hari ini ada diantara anda yang merasa masih hidup dalam kekurangan, ingatlah bahwa sesungguhnya Tuhan telah memberikan segala sesuatu di muka bumi ini secara cukup untuk kita olah, manfaatkan dan maksimalkan. Kita harus terus belajar untuk hidup dengan rasa cukup. Apa yang dikatakan cukup oleh firman Tuhan? "Asal ada makanan dan pakaian, cukuplah." (1 Timotius 6:8). Dan ingatlah firman berikut: "Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar." (ay 6). Mudah bagi kita untuk terus merasa tidak puas, tapi seringkali sulit bagi kita untuk bersyukur. Tuhan pasti sanggup memberkati kita berlimpah-limpah, tetapi sangatlah penting bagi kita untuk belajar bersyukur terlebih dahulu atas apa yang ada pada kita hari ini.

Hidup sederhana merupakan gaya hidup yang harus dimiliki orang percaya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker