Thursday, March 24, 2011

Menjadi Teladan

webmaster | 8:00 AM |
Ayat bacaan: 1 Korintus 4:16
====================
"Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!"

teladanMenasihati orang itu mudah, tapi tidaklah mudah untuk menjadi teladan. Ketika mengajari kita hanya perlu membagikan nilai-nilai kebenaran lewat perkataan, namun dalam menerapkan keteladanan kita harus mengadopsi langsung seluruh nilai-nilai  yang kita ajarkan untuk tampil secara langsung dalam perbuatan kita. Menjadi teladan itu jauh lebih berat dibanding menjadi guru. Itulah sebabnya tidak semua guru mampu menjadi teladan, sementara orang-orang yang mampu menunjukkan nilai-nilai kebenaran dalam hidupnya akan mampu memberi pengajaran tersendiri meski tanpa mengucapkan kata-kata sekalipun. Kita melihat ada anak-anak orang yang seharusnya jadi panutan justru menunjukkan sikap yang bertolak belakang. Tidak tertutup kemungkinan pula anak seorang pendeta malah sama sekali tidak mencerminkan keberadaannya sebagai anak hamba Tuhan. Dahulu ketika SMA anak yang terbandel di sekolah saya adalah anak dari kepala sekolah itu sendiri. Meskipun ada banyak faktor yang bisa menyebabkan orang untuk menjadi jahat, namun sedikit banyak peran dan keteladanan orang tua akan mempengaruhi sikap anak-anaknya. Orang tua yang terlalu sibuk bekerja mungkin dengan mudah memarahi anak-anaknya ketika bersalah, tetapi mereka kurang atau tidak sama sekali memberi keteladanan lewat perbuatan mereka. Tidak jarang pula orang tua justru melakukan apa yang mereka larang terhadap anak-anaknya. Akibatnya apa yang mereka ajarkan tidak akan bermakna dalam hidup anak-anaknya.

Kepada jemaat Korintus, Paulus mengingatkan demikian: "Sebab itu aku menasihatkan kamu: turutilah teladanku!" (1 Korintus 4:16). Kalimat ini singkat, tetapi sesungguhnya tidaklah ringan. Bagaimana mungkin Paulus berani berkata seperti itu apabila ia tidak atau belum mencontohkan apapun? Tapi kita mengenal siapa Paulus. Ia mengalami perubahan hidup 180 derajat dalam waktu relatif singkat. Dari seorang pembunuh dan penyiksa orang percaya, ia berubah menjadi orang yang sangat radikal dan berani dalam menyebarkan Injil keselamatan. Ia mengabdikan seluruh sisa hidupnya untuk pergi ke berbagai pelosok dalam menjalankan misinya bahkan sampai ke Asia kecil. Tidak ada pesawat waktu itu yang mampu mengantar orang dalam waktu singkat, tidak ada pula sarana internet, teleconference dan sebagainya yang bisa mempermudah kita dalam berhubungan dengan orang lain di belahan dunia yang berbeda. Bisa kita bayangkan bagaimana beratnya perjuangan Paulus. Cobalah letakkan diri kita pada posisinya, rasanya kita akan stres, depresi dan labil diterpa kelelahan dan tekanan dalam menghadapi hari demi hari. Pertanyaannya, bagaimana mungkin seorang yang tadinya begitu jahat kemudian bisa berubah total seperti itu? Paulus bertobat lewat perjumpaan dengan Yesus sendiri seperti yang bisa kita baca dalam Kisah Para Rasul 9. Yesus memang menjanjikan kita menjadi ciptaan baru dengan menerima dan percaya kepadaNya. (2 Korintus 5:17). Tetapi kita tetap bisa memilih apakah kita mau benar-benar menghayati transformasi yang telah diberikan kepada kita atau tetap hidup dalam sifat-sifat buruk di masa lalu. Hidup tetap penuh dengan pilihan-pilihan. Paulus bisa saja tetap berlaku seperti sebelumnya meski ia sudah mengalami sendiri perjumpaan dengan Kristus, tetapi untunglah dia tidak memilih untuk melakukan hal tersebut. Ia benar-benar menghayati kemerdekaan yang diperolehnya dengan penuh rasa syukur dan mempergunakan seluruh sisa hidupnya secara penuh untuk Tuhan. Dalam menjalankan misinya Paulus mengalami banyak hal yang mungkin akan mudah membuat kita kecewa apabila berada di posisinya. Tetapi tidak demikian dengan Paulus. Lihatlah apa yang ia katakan: "Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah." (1 Korintus 4:11-13a). Kita bisa melihat sendiri bagaimana karakter, sikap Paulus dalam menghadapi berbagai hambatan dalam pelayanannya. Apa yang ia ajarkan semuanya telah dan terus ia lakukan sendiri dalam kehidupannya. Karenanya pantaslah jika Paulus berani menjadikan dirinya sebagai teladan atau role model.

Dalam masa hidupNya yang singkat di muka bumi ini, Yesus pun menunjukkan hal yang sama. Segala yang Dia ajarkan telah Dia contohkan secara langsung pula. Lihatlah sebuah contoh dari perkataan Yesus sendiri ketika ia mengingatkan kita untuk merendahkan diri kita menjadi pelayan dan hamba dalam Matius 20:26-27. Yesus berkata: "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (ay 28). Apa yang diajarkan Yesus telah Dia contohkan pula secara nyata. Ketika Yesus berkata "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu." (Yohanes 15:12), kita pun lalu bisa melihat sebesar apa kasihNya kepada kita. Yesus mengasihi kita sebegitu rupa sehingga Dia rela memberikan nyawaNya untuk menebus kita semua. "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (ay 13). Yesus membuktikannya secara langsung lewat karya penebusanNya.

Jauh lebih mudah untuk menegur dan menasihati orang ketimbang menjadi teladan, karena sikap kita haruslah sesuai dengan perkataan yang kita ajarkan. Ini gambaran kehidupan yang berintegritas, sesuatu yang sudah semakin langka untuk ditemukan hari ini. Tetapi Tuhan menghendaki kita semua agar tidak berhenti hanya dengan memberi nasihat, teguran atau pengajaran saja, melainkan menjadi teladan dengan memiliki karakter, gaya hidup, sikap, tingkahlaku dan perbuatan yang sesuai dengan nilai-nilai kebenaran yang kita katakan. Alkitab mengatakan :"Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu" (Titus 2:7) Kita dituntut untuk bisa menjadi teladan di muka bumi ini. Sesungguhnya itu jauh lebih bermakna ketimbang hanya menyampaikan ajaran-ajaran lewat perkataan kosong. Sebagai orang tua, abang, kakak, dan teman kita harus sampai kepada sebuah tingkatan untuk menjadi contoh teladan. Tetapi tugas menjadi teladan pun bukan hanya menjadi keharusan untuk orang-orang tua saja. Sejak muda pun kita sudah bisa, dan sangat dianjurkan untuk bisa menjadi teladan bahkan bagi orang-orang yang lebih tua sekalipun. Firman Tuhan berkata: "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12).

Yesus menginginkan kita untuk menjadi orang-orang yang mampu bercahaya di depan orang lain. "Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16) Itu tidak akan pernah bisa kita lakukan apabila kita tidak memiliki sikap yang pantas sebagai seorang teladan. Menjaga kehidupan, perbuatan, tingkah laku dan sikap kita sesuai dengan Firman Tuhan merupakan jalan satu-satunya agar kita bisa menjadi terang yang bercahaya bagi orang lain dan bukan menjadi batu sandungan. Seperti apa karakter yang kita tunjukkan hari ini? Apakah sudah menyerupai karakter Kristus yang penuh kasih terhadap semua orang tanpa terkecuali atau kita masih hidup egois, eksklusif, pilih kasih, kasar, membeda-bedakan orang bahkan masih melakukan banyak hal yang jahat? Sadarilah bahwa cara hidup kita akan selalu diperhatikan oleh orang lain. Anak-anak kita akan melihat sejauh mana kita melakukan hal-hal yang kita nasihati kepada mereka, teman-teman akan  terutama oleh Tuhan sendiri. Menjadi teladan adalah sebuah keharusan, marilah kita terus melatih diri kita untuk menjadi teladan seperti yang dikehendaki Tuhan atas anak-anakNya.

Keteladanan mengandung unsur praktek nyata yang jauh lebih bermakna ketimbang sekedar teori saja

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

No comments :

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker