=======================
"Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat."
Beberapa tahun yang lalu saya dan dua orang teman saya sedang bersama-sama mengerjakan tugas semalam suntuk di kost-an saya. Pada waktu itu mereka kebetulan sedang menjalankan ibadah puasa, sehingga waktu sahur harus dipertimbangkan agar jangan sampai ketinggalan. Karena kecapaian, kedua teman saya pun tertidur selama satu jam dalam pengerjaan tugas. Saya memaklumi kondisi mereka dan membiarkan saja, sementara saya mengerjakan apa yang bisa saya kerjakan. Menjelang waktu sahur, saya bangunkan mereka, dan mengajak mereka untuk pergi ke warung yang jaraknya lumayan jauh. Maklum, itulah warung terdekat yang buka untuk sahur. Mereka sudah bersiap-siap untuk berangkat berdua, dan mengira bahwa saya tidak ikut, karena toh saya tidak ikut berpuasa. Tapi saya memutuskan untuk ikut dengan mereka. Ternyata keputusan saya untuk ikut sahur waktu itu benar-benar berkesan bagi mereka. Dan hingga sekarang kalau saya bertemu dengan mereka, hal tersebut masih sering mereka katakan. Mereka sangat menghargai apa yang saya lakukan, ikut berjalan bersama-sama dalam dinginnya malam, ikut merasakan apa yang mereka rasakan. Inilah sebuah bentuk indah toleransi.Kita sedang memasuki bulan dimana saudara-saudara kita yang beragama Islam sedang menjalani ibadah Puasa. Bagi sebagian dari kita, ini adalah bulan yang sulit. Pertama tentu saja sulit mencari penjual makanan dan minuman. Kemudian kita pun mungkin akan sulit makan dan minum karena sungkan ketika berada di kantor, di kampus atau tempat-tempat umum lainnya. Pergerakan kenaikan harga bahan pokok kebutuhan rumah tangga mulai tidak terkendali dan akan terus meningkat hingga lebaran. Membayangkannya mungkin bisa membuat kita hilang semangat, tapi Tuhan Yesus menegaskan bahwa kita tidak perlu kuatir akan hal itu, karena Bapa di surga tahu apa yang kita butuhkan. "Sebab itu janganlah kamu kuatir dan berkata: Apakah yang akan kami makan? Apakah yang akan kami minum? Apakah yang akan kami pakai? Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Akan tetapi Bapamu yang di sorga tahu, bahwa kamu memerlukan semuanya itu. Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Mat 6:31-33).
Ini bulan dimana biaya hidup akan jauh lebih tinggi dari biasanya buat siapapun. Karena itu jika anda dalam keadaan sanggup membantu, bantulah saudara-saudara kita yang membutuhkan, dan dasarilah semua itu hanya untuk kemuliaan Tuhan semata. Marilah bersikap toleran, mari kita hormati saudara-saudara kita yang sedang menjalankan ibadah puasa.Di tengah kemajemukan masyarakat kita ini, kita harus semakin bisa memahami bahwa perbedaan-perbedaan yang ada bukanlah sebuah hal yang harus terus dipertentangkan, tetapi sebaliknya menyadari bahwa semua perbedaan itu adalah anugrah Tuhan. Lebih dari itu, adalah baik pula jika kita dapat hidup berdampingan dan tidak bersikap eksklusif seperti yang dikatakan Paulus dalam 1 Korintus 9:20-21, sehingga kita tidak menjadi batu sandungan tapi justru bisa memenangkan banyak jiwa. Kita diminta untuk tetap hidup damai dengan semua orang. (Roma 12:8). Ucapkanlah dengan tulus ucapan selamat menjalankan ibadah puasa bagi saudara-saudara kita, tunjukkan toleransi beragama yang baik. "Hendaklah kasih itu jangan pura-pura! Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik"(Roma 12:9).
Saling mengasihi dan menghormati adalah wujud kerukunan yang bisa menyatakan kemuliaan Allah

Suka nonton film-filmnya Walt Disney? Kebanyakan film kartun Walt Disney memiliki karakter-karakter hewan yang bisa bicara. Ada yang sebagai peran pembantu, ada pula film-filmnya yang secara penuh memakai tokoh hewan, seperti Lion King misalnya. Pada jaman dimana kartun tradisional lewat sketch drawing telah digantikan lewat animasi 3D dengan bantuan komputer, atau lewat metode CGI (Computer-Graphic Imagery) sehingga bisa terlihat lebih nyata dan hidup,penceritaan lewat kisah hewan-hewan masih juga laris dipakai. Contoh yang paling baru tentu saja Kung Fu Panda yang laris manis di pasaran, dan bisa dinikmati baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. Penggunaan karakter hewan ini tidak hanya lewat gambaran visual. Dongeng-dongeng di seluruh dunia pun banyak yang memakai tokoh hewan. Dongeng yang kita kenal juga sebagai dongeng jenis fabel, biasanya sarat pesan moral dan makna mendalam, berisikan berbagai kebijaksanaan dan pengajaran yang dapat menuntun anak-anak untuk memahami moral dalam kehidupannya.
Selain mengingatkan kita tentang pentingnya kasih dalam hidup manusia, Wall-E juga menyampaikan pesan yang tidak kalah serius: jagalah kelestarian lingkungan. Ketika sedang melakukan tugasnya membersihkan timbunan sampah, Wall-E menemukan sebatang tanaman kecil yang ditanam di dalam sepatu bot tua. Tanaman inilah yang nantinya menjadi bukti bahwa bumi sudah terbebas dari racun setelah 700 tahun terkontaminasi dan tidak bisa ditinggali. Perjuangan Wall-E dan Eve tidak kenal lelah untuk menjaga tanaman tersebut tetap hidup dan aman dari kejaran robot-robot Axiom yang tidak ingin manusia kembali ke bumi. 
Sepertinya sudah menjadi trend bahwa setiap pemimpin yang habis masa jabatannya akan terlilit masalah korupsi. Baru-baru ini giliran mantan gubernur Jawa Barat yang tersandung kasus serupa. Besar atau kecilnya tuduhan korupsi beragam, tapi celah untuk tuduhan itu bisa muncul karena ada hal-hal yang sedikit banyak mengarah kesana. Di sisi lain, banyak orang menempuh cara lewat okultisme atau kuasa gelap. Sebuah contoh nyata pernah saya saksikan sendiri. Ada juga tetangga teman saya yang pergi ke dukun untuk memuluskan usaha sarang waletnya. Dalam beberapa bulan dia kaya mendadak, saya melihat sebuah mobil langsung hadir di pekarangannya, namun tidak sampai setahun dia menderita sakit parah, dan seluruh uangnya habis untuk biaya. Ketika ia meninggal karena sakitnya, tidak saja uang yang ia peroleh lewat kuasa gelap yang habis, tapi juga rumah tempat tinggalnya disita dan istrinya terlilit hutang yang tidak sedikit. Bayangkan semua itu bagaikan roller coaster, terjadi hanya dalam hitungan kurang dari setahun. Padahal tadinya dia sehat-sehat saja. 
Mungkinkah seorang arsitek langsung membangun rumah tanpa terlebih dahulu membuat rancangannya? Bayangkan jika rumah langsung dibangun tanpa perencanaan matang, tanpa pondasi yang kokoh, rumah bisa rubuh sewaktu-waktu. Begitu pula yang terjadi dalam membangun kehidupan. Hidup yang penuh dengan pengambilan keputusan tergesa-gesa bisa mendatangkan kerugian demi kerugian yang akhirnya menguras habis seluruh harta milik kita. Ada seorang bapak yang saya kenal suka menanamkan investasi dan membuka usaha baru. Seringkali semua itu ia lakukan tanpa perencanaan matang. Akibatnya kebanyakan usahanya merugi, dan uang yang telah ia pakai sebagai modal tidak kembali.
Sebuah survei di salah satu edisi majalah Swa pada tahun 2004 menunjukkan sebuah hasil mencengangkan. Hasil survei menyimpulkan bahwa 80% di antara para eksekutif muda dengan penghasilan di atas 15 juta per bulan terancam miskin dan terlilit hutang dalam 10 tahun ke depan. Mungkin sepintas terdengar aneh, karena penghasilan diatas 15 juta per bulan tidaklah sedikit. Bagaimana mungkin mereka punya potensi terlilit hutang dan jatuh miskin? Tapi dasar pemikirannya memang benar. Fakta membuktikan bahwa para eksekutif muda ini terbiasa hidup konsumtif. Clubbing, pesta jetset, nongkrong di cafe, belanja barang-barang bermerk, gonta ganti mobil mewah, dan lain-lain sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Banyak diantara mereka tidak mempersiapkan masa pensiun mereka dengan perencanaan yang baik. Budaya hidup konsumtif diantara mereka tanpa disadari bisa menyeret mereka ke jurang. Ironisnya, ada banyak pula orang yang penghasilannya pas-pasan tapi ikut-ikutan gaya hidup mewah, karena gengsi atau tidak mau ketinggalan dalam pergaulan. Tidak heran akhirnya korupsi menjadi alternatif instan.Sebagian lagi terjerat dalam lingkaran hutang tanpa akhir.
Dalam sebuah mata kuliah enterpreneurship yang pernah saya ikuti, sang dosen meminta kami semua untuk membawa selembar koran. Di kelas siswa diminta untuk mencari peluang usaha dari selembar koran yang kami bawa, dan ternyata dari selembar koran saja, peluang bisa mencapai puluhan. Ada beberapa yang membutuhkan modal besar, tapi tidak sedikit yang ternyata hanya butuh modal kecil. Ada peluang yang tepat bagi orang-orang tertentu dengan keahlian dan pengetahuan yang mereka miliki, artinya bermacam-macam talenta berbeda yang dikaruniakan Tuhan pada manusia membuat mereka setidaknya bisa bertahan hidup. Jika peluang yang ada kita tindak lanjuti, ditunjang dengan usaha yang giat, keuntungan akan bisa diperoleh. Tapi bayangkan jika peluang itu berakhir pada pemikiran dan perkataan semata tanpa realisasi, kita tidak akan menghasilkan apapun.
Ayat bacaan hari ini selalu mengingatkan saya pada masa ketika saya melakukan kerja praktek di sebuah pabrik obat nyamuk bakar. Ketika adonan obat nyamuk itu selesai melewati mesin cetak sehingga berbentuk lingkaran spiral dan lulus dari quality control, proses pun berlanjut menuju bagian packing. Pada bagian packing kotak berdiri beberapa wanita yang tugasnya memasukkan bungkusan 5 obat nyamuk bakar yang telah berada dalam plastik ke dalam kotak karton. Bagian ini selalu menarik perhatian saya sejak awal, karena pergerakan tangan mereka benar-benar tidak masuk akal. Kecepatannya luar biasa, sulit diikuti dengan mata normal. Saya menanyakan bagaimana mereka bisa melakukan itu, dan untuk apa, karena dalam pikiran saya, toh mereka tidak dikejar-kejar waktu untuk melakukan itu. Mereka menjawab bahwa mereka bisa seperti itu karena terbiasa, dan mereka di bayar per bungkus yang mereka buat. Artinya, semakin cepat mereka bekerja, semakin banyak kotak yang mereka hasilkan, dan dengan sendirinya pendapatan mereka akan semakin banyak.
Ibu yang melahirkan dan membesarkan kita pasti mengenal segala sesuatu tentang anaknya. Ada satu hal yang saya sesalkan ketika saya mengabaikan apa yang dianjurkan ibu saya ketika saya kecil. Ibu saya menyadari adanya bakat saya dalam bermusik. Maka ia pun menyekolahkan saya pada sebuah sekolah musik di sore hari. Pada awalnya saya menjalani semuanya dengan senang. Ketika saya mulai puber, saya mulai terpengaruh melihat bahwa mayoritas yang belajar di sekolah musik saya pada waktu itu adalah wanita. Saya melihat teman-teman pria saya tidak ada yang belajar piano dan teori musik seperti saya. Saya pun mulai malas berlatih, mulai menunjukkan penolakan. Ibu saya berulang kali mencoba menasihati bahwa tidaklah salah untuk mendalami musik sama sekali, meskipun saya pria. Akhirnya ketika menginjak SMA, saya pun berontak dan berhenti. Belakangan saya menyesali keputusan itu. Saat ini saya hanya bisa main piano ala kadarnya. Apa yang sempat saya tekuni sebelum saya berontak masih berbekas, dan dengan bekal itu saya bisa memanjatkan pujian penyembahan bersama istri saya dengan menggunakan sebuah keyboard. Seandainya saya tekun berlatih saat itu, mungkin saya bisa main dengan lebih baik lagi, mungkin bisa melayani di tim musik gereja, atau mungkin bisa berkarir sebagai musisi. Saya kini menyadari bahwa musik memang jadi bagian hidup saya yang sulit dipisahkan. Sayang sekali apa yang dinasihati ibu saya waktu itu saya abaikan. Tidak ada kata terlambat memang, namun saat ini ragam pekerjaan telah menyita waktu sehingga sulit untuk meluangkan waktu buat kembali belajar.
Banyak orang salah kaprah menganggap bahwa kemiskinan adalah sebuah takdir. Saya berulang kali mendengar perkataan, "sudah takdir saya 'kali ya untuk miskin.." , "yah..mau gimana lagi, namanya juga suratan.." dan lain-lain. Artinya, kemiskinan adalah jatah sebagian orang yang diberikan Tuhan buat mereka. Atau dengan kata lain, apapun yang mereka buat pasti sia-sia, karena toh semua itu takdir dari Yang Maha Kuasa. Bayangkan jika anda berada di pihak Tuhan, kesal tidak mendengar ini? Sementara anda menjanjikan berkat bagi setiap anak, dan janji-janji itu tidak pernah meleset, sebagian anak malah menuduh anda pilih kasih dan memberikan hal buruk dalam hidup mereka. Pembantu saya tadi siang pun bercerita tentang sulitnya hidup dibawah pas-pasan. Mulai dari sulitnya membiayai tujuh orang anak hingga rumah mereka yang bakal digusur sebentar lagi. Lagi-lagi perkataan "sudah nasib" itu saya dengar. Saya sadar hidup di jaman sekarang ini sama sekali tidak mudah. Tapi menyalahkan Tuhan dan menganggap itu sebagai "jatah" dari surga pun tidak beralasan. Saya mengajak teman-teman sekalian untuk melihat masalah keterikatan pada kuasa kemiskinan. Walaupun alkitab sebenarnya banyak membahas mengenai kemiskinan, saya akan fokus pada kitab Amsal yang membicarakan mengenai masalah kemiskinan mulai hari ini hingga 7 hari ke depan.
Dalam satu percakapan dengan seorang kakek di tempat saya bekerja, ia bercerita bahwa ia menyaksikan begitu banyak perubahan terjadi sepanjang hidupnya. Tempat-tempat yang tadinya hanya hutan dan sawah kini berubah menjadi gedung-gedung tinggi. Tempat yang tadinya sepi sekarang padat penghuni. Satu hal yang juga menarik adalah manusia pun berubah, katanya. Sekian puluh tahun lalu orang-orang di kota ini ramah dan sopan, saling menyapa meski tak kenal, sekarang orang tidak lagi peduli dengan orang lain. Tingkat kesopanan pun jauh menurun. Banyak orang yang tidak menghargai orang yang lebih tua, banyak yang sombong, sok jago dan merasa mereka punya hak lebih dari yang lain. Dalam skala mini, ini potret bangsa yang tengah merayakan hari kemerdekaannya.
Tanggal 17 Agustus adalah sebuah hari yang istimewa. Di banyak tempat masyarakat menggelar berbagai kegiatan untuk merayakan sebuah tanggal dimana 63 tahun yang lalu kita menyatakan kemerdekaan. Jalan-jalan di cat, bendera merah putih berkibar dimana-mana. Sebagian lainnya mendirikan gapura yang dihias dengan indah, menggantung spanduk ucapan selamat. Sebagian lagi mengadakan lomba-lomba seperti balap karung sampai panjat pinang. Sebuah hari yang masih dirayakan, dan memang pantas dirayakan, terlepas dari kondisi bangsa dan negara saat ini. Proklamasi yang dikumandangkan pendiri negara ini, Soekarno dan Hatta, adalah bentuk dari pernyataan bahwa kita adalah bangsa merdeka dan berdaulat.
Betapa pentingnya pelita jika anda berada dalam kegelapan. Bayangkan sulitnya kita mencari jalan di tempat gelap tanpa bantuan cahaya. Seorang teman saya pernah bercerita ketika dia tengah KKN (Kuliah Kerja Nyata) di sebuah desa yang terisolir dari kota. Untuk mencapai kota, mereka hanya punya transportasi sebuah mobil jeep tua yang beroperasi hanya dua kali seminggu. Jika mereka melewatkan mobil itu dan tetap harus ke kota, mereka harus menerobos hutan, dan berjalan sepanjang satu malam. Bagi orang desa mungkin mereka sudah hafal jalan di hutan itu, tapi tidak bagi teman saya dan teman-temannya yang KKN di tempat yang sama. Pada suatu kali merka harus menembus hutan itu, dan dia bercerita bahwa mereka tidak akan mampu melihat apapun di dalam hutan itu tanpa lampu petromak yang mereka bawa.
Apakah fungsi sebuah ikat pinggang bagi anda? Yang paling umum mungkin adalah sebagai penahan agar celana atau rok tidak melorot. Bagi banyak orang ikat pinggang juga berfungsi sebagai aksesoris pelengkap busana. Ikat pinggang pun bisa berfungsi sebagai penyeimbang dan pemberi aksen dalam berpakaian, bahkan dipakai untuk menurunkan atau menaikkan garis tubuh kita sehingga kita bisa berpenampilan lebih baik. Kalau anda menyangka fungsi ikat pinggang hanyalah hal-hal diatas, tunggu dulu.
Masih ingatkah anda dengan sebuah peristiwa menyentuh pada Olimpiade Sydney, Australia tahun 2000? Ini olimpiade pertama di era milenium. Pada parade kontingen dari negara peserta di pesta pembuka (opening ceremony), terjadi peristiwa mengharukan yang menyentuh hati banyak orang. Korea Utara dan Korea Selatan ternyata tampil bersatu, dengan bendera baru yang menggambarkan semenanjung korea. Bendera dipegang oleh dua orang yang mewakili masing-masing bagian, Pak Jung Chol, pelatih judo dari Korea Utara dan Chun Un Son, pemain basket wanita dari Korea Selatan. Pemandangan luar biasa ini langsung disambung tepuk tangan meriah dari seisi stadion, termasuk presiden IOC saat itu, Juan Antonio Samaranch yang melakukan standing applause. Tidak saja keluar beriringan sebagai satu kontingen, tapi mereka juga saling bergandengan tangan. Pujian bukan saja mereka dapat dari seisi stadion, tapi juga dari 3.7 milyar penonton televisi bahkan seluruh dunia pun memberikan hormat. "We became one body, the same race of the same blood." demikian komentar dari salah satu anggota dewan komisaris IOC yang berasal dari Korea. Seorang atlit asal Korea Utara, Choe Myong Hwa ketika diwawancarai Los Angeles Times berkata, “My heart is exhilarated. I never thought this would be a reality.This will bring us closer to reunification." Suasana menyejukkan seperti ini akan selalu indah untuk dikenang, dan mengingatkan kita bahwa perpecahan tidak akan pernah membawa kebahagiaan, damai dan sukacita.
Kira-kira seminggu yang lalu ketika saya selesai mengajar, saya menyempatkan diri duduk dan ngobrol bersama beberapa mahasiswa. Salah seorang mahasiswa membuat pernyataan yang mengejutkan, bahwa dia ternyata telah terinfeksi virus HIV selama beberapa tahun. Dia terjangkit HIV akibat pemakaian narkoba lewat penggunaan jarum suntik. Pada awalnya dia sempat depresi dan sangat takut, tapi untunglah setelah bergabung dengan sebuah LSM, keberadaannya diterima dan perlahan dia kembali hidup normal. Sekarang dia malah aktif melakukan penyuluhan pada generasi muda, khususnya kepada para pecandu narkoba. "Mereka beruntung. Dulu ketika saya memakai narkoba, tidak ada yang mengingatkan saya. Saya hanya tahu satu hal.. bahwa memakai narkoba itu enak. Saya tidak tahu ada bahaya seperti ini sebagai konsekuensinya." Demikian katanya. Dalam penyuluhan dia tidak melarang para pecandu untuk terus mengkonsumsi narkoba, dan tidak melarang para pemuda untuk menjauhi. Katanya: "Saya hanya memberi kesaksian apa konsekuensi yang bisa mereka terima jika terus tergoda oleh narkoba. Hidup ini penuh pilihan, silahkan mereka memilih.." 
Selain untuk menawarkan kemudahan, kelebihan dan keandalan produk, sebuah iklan juga kerap menawarkan kebahagiaan. Lihatlah iklan yang menampilkan puluhan orang bernyanyi dan menari, deretan gigi-gigi putih bersih, wajah yang begitu bahagia tanpa masalah hanya karena memiliki produk yang diiklankan. Logika manusia memang sepertinya begitu. Siapa sih yang tidak senang kalau punya kemampuan membeli yang lebih dari cukup, dan mampu memiliki produk-produk yang punya kelebihan dan memberi banyak kemudahan dalam hidup? Tapi nyatanya tidaklah demikian. Begitu banyak orang yang kemampuan finansialnya lebih dari cukup, namun kehidupannya jauh dari bahagia. Saya menyaksikan sendiri beberapa orang yang saya kenal hidup berkelimpahan tapi tidak bahagia. Orang yang melihat kekayaan mereka mungkin berpikir akan sangat bahagia jika memiliki setengah saja dari apa yang mereka punya, tapi semua itu tidak memberi rasa bahagia sama sekali bagi pemiliknya. Foya-foya, pesta pora, keliling dunia sekalipun seringkali hanya membawa kebahagiaan instan yang sangat singkat umurnya. Kebahagiaan langsung hilang begitu semuanya selesai. Kekayaan tidak berarti punya keluarga yang rukun, damai dan penuh kasih. Banyak keluarga kaya hidupnya berantakan dan penuh masalah. Bahkan tidak jarang kita membaca atau mendengar seseorang mengakhiri hidupnya, bukan karena tidak mampu tapi karena merasa hidup mereka sia-sia.
Ingat lagunya Oppie? "Andai a a a a a.. ku jadi orang kaya.." lirik ini mungkin menyuarakan permintaan banyak orang yang membayangkan betapa nikmatnya hidup bergelimang harta. Jika anda diberi satu kesempatan untuk meminta dan pasti dikabulkan, apa yang anda minta? Semoga bukan anda, tapi saya rasa banyak orang yang akan segera meminta harta berlimpah. Saya sering mendengar orang berkata, "seandainya aku bisa sekaya dia, aku tidak perlu susah lagi.." Dan banyak orang yang bekerja mati-matian, melupakan anak,istri dan keluarganya, tidak bisa lagi menikmati hidup, karena mereka mengejar kekayaan, menimbun harta sebanyak-banyaknya selagi masih bisa.
Zoe Koplowitz adalah seorang ibu berusia 54 tahun, yang rutin mengikuti lomba lari maraton di New York. Total maraton yang telah beliau ikuti mencapai 20 buah, semuanya bukan dimenangi Zoe, sebaliknya Zoe selalu finish di urutan terakhir! Ketika juara pertama finish dengan waktu sekitar 2 jam, Zoe mencapai garis finish dengan menempuh waktu 33 jam dan 9 menit, dan dengan sendirinya mencatat rekor waktu terlama dalam sejarah maraton wanita. Memalukan? Tidak. Ini prestasi mencengangkan yang membuat banyak orang kagum dan menjadikan Zoe teladan bagi banyak orang. Kenapa bisa demikian? Jawabannya sederhana: karena Zoe melakukan semua itu dalam keadaan lumpuh. Zoe menderita penyakit multiple sclerosis, sebuah penyakit saraf kronis yang mempengaruhi sistem saraf pusat. Penyakit ini bisa mengakibatkan berbagai masalah seperti masalah penglihatan, kelemahan otot, depresi, sulit bicara, gangguan berbagai indra sampai rasa sakit. Dalam kondisi parah, multiple sclerosis bisa mengakibatkan kelumpuhan, dan itulah yang terjadi pada Zoe. Zoe hanya mampu berjalan tertatih-tatih dengan bantuan tongkat penyangga. Dia ingin membuktikan bahwa penyakitnya tidak akan mampu meredam semangat yang ada di dalam dirinya, dan tidak akan pernah menghentikan perjuangannya. Zoe berkata bahwa apa yang dilakukannya adalah bentuk metafora kehidupan. Orang bisa mencapai sesuatu dengan menempatkan satu kaki di depan kaki lainnya. Semangat dan keyakinan Zoe membawanya mencapai sesuatu yang luar biasa. Dengan segala keterbatasan, dengan perjuangan yang saya yakin sungguh berat melawan rasa sakit dan lain-lain, Zoe selalu mampu mencapai garis finish. Finish di tempat terakhir dengan catatan waktu jauh lebih lambat dari normal ternyata tidak menempatkan Zoe pada posisi pecundang, tapi justru seorang juara sejati.
Hari ini saya diingatkan pada sejarah kelahiran musik jazz. Mendekati akhir abad ke 19, peta musik dunia didominasi oleh jenis musik blues, ragtime dan marching band. Sekitar tahun 1890 di New Orleans muncullah jenis musik baru yang menggabungkan elemen-elemen dari ketiga jenis aliran di atas, ditambah dengan pengaruh lain seperti dasar musik klasik, dan dibawakan dengan gaya yang berbeda. Musik ini diawali dari penumpahan kebebasan jiwa para budak berkulit hitam ketika menikmati saat-saat istirahat mereka. Ketika pola musik masa itu masih setia pada notasi dan partitur hasil ciptaan komposer yang dimainkan not per not sesuai komposisinya, aliran baru ini mengutamakan improvisasi. Apa yang tertera pada komposisi hanyalah menjadi referensi dasar, kerangka, atau garis batas yang dijadikan patokan bagi para musisi untuk berkreasi penuh dalam improvisasi mereka. Inilah yang menjadi dasar bagi kelahiran musik jazz. Tidak heran kalau para musisi jazz bisa bebas ber-jam session dadakan tanpa cacat seperti yang tampil pada panggung-panggung live seperti pada Java Jazz 2008 kemarin. Mereka tetap dipandu oleh salah satu musisi, bisa dirigen atau salah satu pemain yang diplot menjadi panduan, sehingga kebebasan berimprovisasi mereka tetap ada dalam kerangka harmoni dari keutuhan lagu. Si "pemimpin" inilah yang mengorganisir mereka, memberi kesempatan bagi masing-masing musisi untuk berkreasi bebas pada saat-saat tertentu, yang seringkali cuma diberikan lewat kode kerlingan mata, anggukan kepala, apabila sang "pemimpin" juga memainkan salah satu jenis musik pada saat yang sama. Dalam pola jazz, tidak ada musisi yang dominan dari awal hingga akhir, yang bisa bermain seenaknya. Bayangkan jika ada salah satu musisi yang merasa bahwa dirinya lebih hebat dan tampil seenaknya tanpa perduli dengan struktur lagu atau perintah sang "pemimpin", bisa dipastikan lagu akan berantakan kehilangan segalanya.
Jika kemarin kita telah melihat mukjizat luar biasa dari Allah yang penuh kasih turun atas Dana Lu Blessing, dimana diluar ekspektasi logika medis ternyata Dana tumbuh sehat dan diberkati, hari ini saya ingin membagikan kelanjutan kisah Dana, ketika dia berusia 5 tahun. Pada suatu hari Dana tengah duduk di pangkuan ibunya. Keduanya tengah melihat kakak Dana, Dustin, yang sedang main baseball. Di tengah obrolan santai bersama ibunya, Dana tiba-tiba terdiam. Dana lalu meletakkan kedua tangannya ke dada, seperti sedang memeluk. Dia bertanya pada ibunya,"ibu, bisa mencium sesuatu tidak?" Si ibu melihat ke langit yang tampaknya mulai mendung dan akan hujan, angin yang mulai bertiup lebih kencang, lalu menjawab: "ya, tampaknya bakal hujan. Seperti bau hujan." Dana menggelengkan kepalanya lalu menepuk pundak ibunya. "Tidak, tidak... ini seperti aroma Tuhan. Ini aroma yang tercium ketika aku berada dalam pelukanNya." Menangislah sang ibu. Ketika 2 bulan pertama mereka belum bisa memeluk Dana, ternyata Dana tetap berada dalam pelukan Allah yang penuh kasih. Ketika sistem saraf dan kulit Dana belum memungkinkan untuk menerima sentuhan dan belaian, tangan Tuhan ternyata memeluk dan melindungi Dana tanpa henti. Tuhan terus memeluk Dana, sampai-sampai Dana bisa mengenal aroma Tuhan dengan sangat baik.