Monday, July 4, 2022

Waktu dan Nasib (1)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 Ayat bacaan: Pengkotbah 9:11
=============
"Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua"

Fenomena crazy rich cukup menyita perhatian setidaknya dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir. Mereka ini disebut crazy rich karena kayanya ampun-ampunan, dan itu nyata mereka pamerkan di sosial media mereka. Tapi kemudian dalam waktu singkat pula beberapa dari mereka mengalami kasus, dimiskinkan dan berurusan dengan hukum. Secepat itu menjadi kaya, bisa secepat itu pula ambruk. Benar, ada dari mereka yang menjadi crazy rich lewat cara-cara yang tidak terpuji. Di sisi lain, ada pula mereka yang tadinya sukses, tenar, punya banyak fans tapi kemudian kesuksesan itu sirna dengan cepat dan hidup mereka berubah drastis. "Harus punya berapa banyak uang ya supaya kita benar-benar bisa aman? Harta sebanyak para crazy rich itu pun rupanya belum cukup untuk menjamin kita hidup tenang." kata seorang teman pada suatu kali.

Hmm.. saya pun berpikir, he is missing the point. Tidak pernah ada jumlah harta yang cukup untuk bisa menjamin hidup kita aman tanpa masalah. Mau berapa banyak pun jumlahnya, kemalangan bisa terjadi kapan saja dan membuat semuanya musnah dalam sekejap. Salah satu faktornya adalah sikap kita yang salah dalam mengelola apa yang ada pada kita. Berbagai perilaku buruk artis yang baru mencapai popularitas bisa membuatnya langsung sepi tawaran. Harta yang dihambur-hamburkan atau dipakai tanpa perencanaan matang bisa membuat semua itu ludes dengan cepat. Kepintaran akan menjadi bekal untuk sukses, tapi jika kepintaran disalah gunakan bisa destruktif. Tapi tanpa semua hal buruk, apakah ada juga jaminan bahwa hidup akan 100% aman sampai akhir? Tidak juga. Lantas faktor apa yang menyebabkan itu? Bagaimana kita seharusnya menyikapi hidup?

Pengkotbah yang sangat bijaksana dan penuh hikmat menuliskan seperti ini: "Lagi aku melihat di bawah matahari bahwa kemenangan perlombaan bukan untuk yang cepat dan keunggulan perjuangan bukan untuk yang kuat, juga roti bukan untuk yang berhikmat, kekayaan bukan untuk yang cerdas, dan karunia bukan untuk yang cerdik cendekia, karena waktu dan nasib dialami mereka semua" (Pengkotbah 9:11).

Dari hasil perenungannya, Sang Pengkotbah melihat bahwa di kolong langit, di bumi, ada fakta menarik mengenai jalannya hidup. Yang tercepat belum tentu menang, yang terkuat juga belum tentu. Kebijaksanaan belum tentu menjamin bisa makan enak selamanya, kecerdasan tidak pula menjamin kekayaan. Karunia pun bukan cuma ada pada mereka yang pintar. Mengapa? Karena waktu dan nasib, itu dialami oleh semuanya, siapapun tanpa terkecuali.

Waktu dan nasib. No matter how good we are, sometimes life is not as good as we want it to be. 

 (bersambung)

Sunday, July 3, 2022

Spirit, Volumetrik, Fullness (4)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 (sambungan)

3. Fulness, not half

Kepenuhan, bukan setengah penuh apalagi setengah kosong. Paulus berdoa seperti ini: "Aku berdoa, supaya kamu dipenuhi di dalam seluruh kepenuhan Allah." (19b)

Allah siap memenuhi kita dengan seluruh kepenuhanNya. Kalau kepenuhanNya memenuhi kita, apa lagi alasan bagi kita untuk tetap merasa takut? Kepenuhan Allah, bukan setengah atau sebagian daripada itu, itu bisa Dia berikan buat kita. Penuh, itu artinya sampai tidak ada lagi rongga yang tersisa yang bisa dipakai oleh rasa takut, cemas, khawatir dan sebagainya untuk bercokol. Bukankah itu akan sangat membantu dan berguna bagi kita?

Teman-teman, doa bukan sekadar ritual, tetapi harus menjadi sebuah wujud relasi yang tidak bisa dan tidak boleh terlepaskan dari iman. Doa adalah sebuah sarana hubungan antara kita dan Sang Pencipta, yang seharusnya dipakai seperti saat kita sebagai anak datang kepada ayah untuk menceritakan apa saja yang sedang kita alami. Lalu selanjutnya, kita pun mendengar apa yang disampaikan ayah pada kita. Apakah itu nasihat, peneguhan, peringatan bahkan teguran, dan itu seharusnya kita dengar baik-baik dan renungkan karena akan sangat bermanfaat bagi kita. Doa sejatinya bukanlah one way, tapi harus menjadi seperti dialog alias two ways. Kita bicara, kita mendengar. Tuhan mendengar, Tuhan menjawab. Kita menyampaikan rasa syukur dan cinta kita kepadaNya, Dia pun akan memeluk kita dan menyatakan kasihNya yang begitu indah dan besar pada kita. That's how prayers should be, karena kalau tidak, doa tidak akan bisa berfungsi maksimal.

Di tengah jaman yang keras dan kejam seperti sekarang, doa tidak lagi menjadi prioritas bagi banyak orang. Mudah bagi kita untuk merasa bahwa keadaan yang sekarang ini memerlukan penanganan dengan menggunakan kekuatan kita sendiri. Tapi lihatlah Paulus. Di tengah kondisi menyedihkan yang ia alami, Paulus senantiasa berdoa bukan saja untuk dirinya sendiri tapi juga bagi jemaatnya, bagi mereka di Efesus dan kita semua.

Paulus berdoa karena ia percaya penuh kepada kuasa Allah dan percaya pula dengan kekuatan pemberitaan Injil yang sangat bernilai (1-13). Rasul Paulus berdoa agar kiranya Allah senantiasa memelihara setiap  jemaat Efesus dalam segala pergumulan mereka, dan doa yang sama sangat meneguhkan buat kita hari ini terutama bagi kita yang tengah dilanda rasa takut akan bahaya, kemerosotan dan ketidakpastian.

Semoga apa yang saya bagikan hari ini bisa bermanfaat dan memberkati teman-teman semua. Bagi yang mengalami hal seperti saya, ayo kita terus renungkan semua ini supaya kita menjadi orang-orang dengan iman yang kuat dan secara sempurna berada dalam kasih Allah. Tuhan memberkati.

Rasa takut tidak punya tempat dalam volume kasih Kristus yang begitu besar dan kepenuhan Allah. Fear not, we have a loving God within us




Saturday, July 2, 2022

Spirit, Volumetrik, Fullness (3)

webmaster | 7:00:00 AM | Be the first to comment!

 

(sambungan)

Setidaknya ada tiga hal yang menjadi titik fokus dari doa Paulus ini. Mari kita lihat satu persatu.

1. Spirit, not flesh

"Aku berdoa supaya Ia, menurut kekayaan kemuliaan-Nya, menguatkan dan meneguhkan kamu oleh Roh-Nya di dalam batinmu, sehingga oleh imanmu Kristus diam di dalam hatimu dan kamu berakar serta berdasar di dalam kasih." (16-17)

Dalam keadaan takut, apa yang harus dikuatkan bukanlah hal-hal secara fisik, melainkan bagian 'dalam' kita yaitu roh kita. Paulus mengatakan bahwa dia berdoa, menurut kekayaan dan kemuliaan Tuhan, agar kiranya Tuhan menguatkan dan meneguhkan kita, OLEH RohNya, di DALAM batin kita. Masalah takut adalah sebuah kondisi psikis yang terjadi dalam jiwa kita.

Ketika kita berpikir bahwa kalau masalahnya jiwa ya penanganannya juga harusnya di jiwa, dari ayat ini saya mendapati bahwa solusi terbaik bukan menyasar pada jiwa melainkan pada roh. Roh Allah, meneguhkan dan menguatkan Roh kita. Artinya ini adalah urusan alam roh. Dan kalau begitu, kita pun seharusnya fokus kepada bagian atau alam roh kita dan bukan di sisi tubuh dan jiwa.

Terus membangun hubungan antara roh kita dan Roh Allah lewat doa, kontemplasi atau perenungan dan saat-saat teduh, terus menanam firmanNya dan memegangnya dengan kuat dan dengan iman menerimanya sebagai kebenaran mutlak dengan rasa percaya penuh adalah hal-hal yang harus terus saya jadikan titik fokus saya. Kalau manusia terdiri atas tubuh, jiwa dan roh, doa Paulus ini membuka mata saya bahwa solusi ada di bagian roh. So, let's focus on that.

2. Volumetric

Volumetrik terdengar sangat matematis ya? Tapi itulah yang saya jadikan poin penting dari hal ke dua dalam doa Paulus ini.

Apanya yang volumetrik? Ini yang saya sebut dengan volumetrik: "Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,
3:19 dan dapat mengenal kasih itu, sekalipun ia melampaui segala pengetahuan." (18-19a)

Paulus mendoakan agar kita bisa memahami, betapa LEBAR, PANJANG dan TINGGI dan DALAM nya kasih Kristus. Setelah paham, lalu bisa mengenal betapa luar biasa kasihNya itu meski kemampuan logika kita mungkin sulit untuk bisa mencapai pengertian akan hal itu.

Panjang x Lebar x Tinggi sama dengan volume. Saya jadi ingat jika ada pelanggan yang bertanya tentang ukuran kandang hewan yang saya jual, maka saya tidak hanya memberi tahu ukuran bagian depannya saja, tapi juga lebar ke belakang. Kenapa? Agar calon pembeli bisa mengetahui sebesar apa kira-kira volumenya. Apakah cukup nyaman, cukup luas atau terlalu sempit bagi hewan peliharaannya.

Jadi, ayat ini berbicara bahwa pemahaman kita mengenai volume kasih Yesus yang tak terukur besarnya itu akan membuat kita tidak perlu takut apabila berada di dalamnya. Jika diibaratkan kasih Yesus sebagai sebuah ruang, itu merupakan ruangan bervolume sangat besar dan kokoh, sehingga kita akan sangat aman dan nyaman berada di dalamnya.

So, kita seharusnya bisa teguh dan tidak lagi takut apabila kita (1) memahami, dan (2) mengenal sisi volumetrik dari kasih Kristus, dan berada di dalamnya. Let's focus on this too.

(bersambung)

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Stats

eXTReMe Tracker