Tuesday, January 17, 2017

Pilihan yang Berkenan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 3:16
===================
"Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan."

Life is full of choices. Terkadang kita tidak sadar bahwa sejak kita bangun pagi kita sudah dihadapkan pada pilihan. Mau langsung bangun atau mau nyantai dulu merem-merem di kasur. Mau olah raga dulu atau bikin sarapan? Mau minum kopi atau teh? Sarapan nasi atau roti, atau tidak usah sarapan? Pakai baju yang mana? Celana? Sepatu? Nanti naik mobil, motor, gojek atau kendaraan umum lainnya? Dan seterusnya, sampai akhirnya kita tidur. Sebelum tidur kita masih harus menentukan pilihan. Mau baca majalah atau novel sebelum tidur, mau browsing sebentar atau nonton tv? Lampu dimatikan atau dinyalakan? Ini semua hanyalah sedikit contoh hal ringan tentang pilihan yang harus kita ambil setiap harinya. Meski ringan, semua itu menunggu kita dalam mengambil keputusan, dan keputusan yang kita ambil akan membawa dampak tersendiri dalam setiap pilihan itu.

Ada banyak pula pilihan-pilihan yang lebih serius seperti mau mengambil jurusan apa setelah tamat SMA, mau berkarir di mana atau di bidang apa, atau malah mau memilih untuk taat atau membangkang karena lebih tertarik dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia dan orang-orang sesat di dalamnya. Pilihan-pilihan seperti ini bisa membawa dampak yang jauh lebih serius. Apakah kita sudah mengambil keputusan yang benar atau salah, apakah kita mendasari dengan Firman Tuhan atau pakai kalkulasi sendiri, apakah kita sudah hidup sesuai prinsip Kerajaan Allah atau terus hanyut dalam arus kesesatan dunia. Apakah kita memilih madu yang manis dan menyehatkan atau racun yang pahit dan mematikan.

Mari kita lihat ketika Salomo dihadapkan kepada sebuah kesempatan dari Tuhan langsung untuk menetapkan pilihan. Seandainya anda diberi satu kesempatan untuk meminta sesuatu yang pasti akan dikabulkan saat ini juga, apa yang menjadi pilihan anda? Ini pertanyaan yang sangat sederhana namun akan sangat sulit untuk dijawab. Anda tentu akan bingung dalam mengambil satu pilihan dari sekian ribu pilihan yang akan muncul dengan mudah dalam benak anda. Jika memilih panjang umur, bagaimana jika sepanjang umur itu hidup miskin dan penuh masalah? Jika memilih kekayaan, bagaimana jika hidup bakalan singkat? Ini dua pilihan yang rasanya termasuk yang bakal paling banyak dipilih orang. Bagaimana jika kita memilih sesuatu yang salah, padahal kesempatan memilih cuma diberikan satu kali saja? Itu pasti akan jadi kekuatiran sendiri.

Salomo mendapatkan kesempatan seperti itu dari Tuhan. Semua berawal dari cara hidup Salomo yang seperti ayahnya Daud, cara hidup yang menunjukkan kasih kepada Tuhan dengan taat kepada ketetapan-ketetapan sang ayah. Itu adalah sebuah pola hidup yang nyatanya terbukti berkenan di hadapan Tuhan. Suatu malam di Gibeon, Salomo diberikan sebuah kesempatan emas untuk meminta sesuatu dari Tuhan. "Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." (1 Raja-Raja 3:5).

Wah, itu tentu saja merupakan sebuah hadiah yang begitu besar dari Tuhan. Jika itu terjadi pada diri anda, apa yang akan anda minta? Bingung juga sih, mau minta untuk diri sendiri atau untuk anak, istri, keluarga dan sebagainya. Lalu minta apa? Yang kita butuh kan banyak sekali? Di saat kita mungkin masih bingung, Salomo ternyata mengambil keputusan yang mengejutkan bagi kebanyakan orang. Yang ia minta adalah sesuatu yang mungkin tidak lazim dipilih ketika berhadapan dengan satu kesempatan seumur hidup untuk mendapatkan sebuah permintaan yang bisa langsung dikabulkan. Berhadapan dengan kesempatan seperti ini, Salomo ternyata tidak meminta kekayaan atau panjang umur. Ia tidak minta berkat materi dan tidak meminta hal-hal yang berhubungan dengan pemuasan dirinya sendiri. Ia pun tidak butuh waktu lama untuk menentukan pilihan. Apa yang ia minta ternyata adalah HIKMAT.

Bisa jadi kita berpikir, bisa minta kekayaan, kemakmuran, ketenaran atau umur panjang, masa yang diminta hikmat? Untuk apa minta hikmat? Jawabannya bisa kita lihat lewat perkataan Salomo langsung. "Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman. Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya.Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?" (ay 7-9).

(bersambung)


Monday, January 16, 2017

Find Out and Do It

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 5:10
==================
"dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan."

Saya ingat masa-masa awal pacaran saya dengan wanita cantik yang sekarang sudah menjadi istri tercinta. Masa-masa awal itu penuh dengan penjajakan. Saya mencoba mengenalnya lebih jauh, seringkali menguji apa yang ia sangat suka, kurang suka dan tidak suka. Itu akan sangat membantu membangun kedekatan. Saya mempelajari sifatnya, kebiasaannya, reaksinya akan segala sesuatu dan sebagainya. Semakin saya mengerti dia, semakin kecil pula kemungkinan konflik. Dan, pastinya, hubungan pun akan jadi jauh lebih baik. Melatih kepekaan terhadapnya merupakan proses yang harus terus saya lakukan sampai ajal memisahkan. Setelah lebih dari 10 tahun bersama, saya bahkan tahu kapan ia butuh cemilan manis, kapan ia ingin yang asin tanpa perlu diberitahukan. Itu bukan lahir instan karena saya bukan ahli nujum atau bisa membaca pikiran, tapi melalui proses latihan selama bertahun-tahun. Buat saya pengenalan akan seseorang sangatlah penting, apalagi atas orang-orang yang dekat dengan kita.

Agar bisa mengerti sesuatu dengan baik, untuk bisa peka terhadap sesuatu tidaklah cukup dengan teori-teori lewat pelatihan dan pendidikan yang singkat, melainkan butuh sebuah proses pembentukan dari pengalaman dan latihan terus menerus. Tidak ada satupun orang yang bisa langsung menjadi ahli secara instan, tidak ada yang bisa langsung peka tanpa latihan dan pengalaman. Seringkali kita pun harus mengujinya untuk memastikan bahwa apa yang kita ketahui memang sudah benar. Saya teringat pada sebuah kepekaan lain, yaitu kepekaan rohani. Menjadi orang percaya bukanlah berarti bahwa kita akan serta merta langsung peka dalam sekejap mata. Kita tidak akan secara mendadak bisa mengerti apa yang berkenan di hadapan Tuhan, peka membedakan mana yang mengarah pada dosa dan mana yang tidak.

Kepada jemaat Efesus, Paulus mengajak mereka untuk menguji apa yang berkenan kepada Tuhan. Katanya, "dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan." (Efesus 5:10). Ternyata kalau mau benar-benar memahami isi hati dan pikiran Tuhan, kita diharuskan untuk menguji dahulu apa saja yang berkenan kepada Tuhan, mana yang boleh mana yang tidak, mana yang baik mana yang buruk, agar kita tidak salah melangkah sehingga melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: "Find out what pleases the Lord"Cari tahu apa yang berkenan kepada Tuhan," Find that out, and do it. Pertanyaannya, bagaimana bisa menguji, mengetahui dan mengenal jika kita sebagai orang percaya masih belum peka terhadap kebenaran?

Jika kita mundur dua ayat sebelumnya, kita akan menemukan bahwa agar mampu menguji, kita ternyata harus terus menerus belajar hidup sebagai "anak terang" (ay 8). Mengapa? "karena terang hanya berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran." (ay 9). "For the fruit of the Light or the Spirit consists every form of kindly goodness, uprightness of heart and trueness of life." Istilah "anak terang" atau "children of Light" merujuk pada mereka yang hidup sebagai anak-anak Allah yang taat pada firman dan dalam kasih Kristus. Anak-anak terang adalah pelaku firman Allah yang mengasihi Dia, sebab Kristus sendiri adalah sumber terang. "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12).

Kalau kita terus belajar untuk hidup sebagai anak terang dengan pengalaman hidup bersama Tuhan yang terus bertambah, disanalah kita akan mampu membedakan mana yang berkenan di hadapan Tuhan dan mana yang tidak. Kepekaan itu akan memungkinkan kita untuk tidak mudah disesatkan, meskipun tiap hari kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang mengejar kedagingan di dunia yang gelap ini, atau di dunia yang berisi penuh penyesatan, penyimpangan dan penipuan yang bertentangan dengan firman Tuhan. Lebih jauh lagi kita akan mampu menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan, tipu daya iblis meski terbungkus rapi dalam kemasan yang menipu sekalipun. "Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang" (Efesus 5:13).

Kita hidup dalam sebuah jaman dimana penyesatan hadir dimana-mana. Bentuknya beragam, jalan masuknya pun banyak. Bisa lewat apa saja yang kita dengar maupun yang kita lihat. Berbagai hal menggiurkan ditawarkan dunia setiap saat. Terkadang kita akan berhadapan dengan jalan-jalan yang kelihatannya baik, namun ternyata berujung pada maut, seperti yang tertulis dalam Amsal: "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut" (Amsal 14:12). Tanpa kepekaan rohani, kita akan mudah terjerumus dalam dosa dan mengarah kepada kebinasaan.

Karena itu adalah penting untuk memiliki kepekaan. Itu bisa dicapai dengan tetap hidup sebagai anak-anak Terang. Menjalani hidup sesuai firman Tuhan, tetap bertekun dalam doa dan terus berada dalam bimbingan Roh Kudus. Jangan lupa bahwa Paulus sudah mengingatkan "Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7). Sebuah proses latihan berarti sesuatu yang dilakukan secara berkesinambungan, kontinu atau terus menerus, secara serius untuk bisa meningkatkan sesuatu yang dengan tekun kita lakukan.

Sudahkah kita memiliki rohani yang peka? Kita anak-anak Tuhan diingatkan untuk bangun dari tidur dan bangkit dari kematian dan terus berusaha untuk menjadi anak terang, dimana Kristus akan bercahaya di atas kita (ay 14). Miliki kepekaan agar dapat menguji apa yang berkenan kepada Tuhan dan apa yang tidak.

Kepekaan rohani yang tinggi akan menjauhkan kita dari tipuan-tipuan si jahat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, January 15, 2017

Pembangkang (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kitab Ulangan menghadapkan dua pilihan untuk kita pilih. "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu" (Ulangan 30:19). kelanjutannya mengatakan bagaimana caranya, yaitu "dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya." (ay 20).

Seruan ini sesungguhnya amatlah penting untuk kita perhatikan, karena ayat ini selanjutnya berbunyi:"..hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka."

Membangkang dan terus lebih mementingkan kesibukan dunia tidak akan pernah membawa kebaikan, justru sebaliknya membawa kerugian bagi kita. Meski sepintas bisa jadi terlihat menyenangkan dan nikmat, itu akan sangat menentukan langkah kita ke depan. Ini bukan berarti bahwa kita harus terus nonstop serius bekerja tanpa boleh beristirahat dan bersenang-senang sedikitpun. Tetapi kita harus ingat agar jangan sampai semua itu menjauhkan kita dari Tuhan, atau malahmenjadikan kesibukan kita sebagai alasan untuk melupakan pentingnya membangun hubungan dengan Tuhan.

Apa yang dituntut Tuhan bagi kita sebenarnya tidaklah terlalu banyak. Apalagi semua itu juga untuk kebaikan kita sendiri. Lihatlah Firman Tuhan berikut ini:  "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:8). Memang tidak terbantahkan bahwa dalam kehidupan di dunia ini panca indera kita akan sering terpengaruh untuk membuat kita hidup dalam daging bukan dalam Roh. Dengan berbagai kesenangan yang ditawarkan dunia kita bisa terjebak pemikiran yang keliru bahwa hidup dalam Roh itu tidak penting atau bahkan dianggap memenjarakan kesenangan kita. Hidup dalam Roh sesungguhnya justru membebaskan, memberi kemerdekaan dan mengarahkan kita kepada kehidupan yang kekal penuh kebahagiaan.

Sejauh mana ketaatan yang sudah kita lakukan terhadap Tuhan hari ini? Apakah kita sudah mengikutiNya dengan baik atau masih beraninya hidup sebagai pembangkang-pembangkang? Mari kita periksa diri kita hari ini, seberapa besar hidup kita yang masih dikuasai oleh bentuk-bentuk kesenangan yang ditawarkan dunia dan seberapa besar yang dikuasai Roh yang berasal dari Allah. Jika menghadapi anak-anak yang keras kepala dan suka membangkang itu sulit, jangan sampai kita pun berlaku hal yang sama terhadap Bapa Surgawi yang sangat mengasihi kita.

Senangkan hati Tuhan dengan menjadi anak-anakNya yang taat dan setia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, January 14, 2017

Pembangkang (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Pembangkangan seperti apa? Ada yang jelas-jelas melanggar dengan melakukan hal-hal jahat dan sesat, ada pula bentuk-bentuk pembangkangan mungkin tidak terlihat nyata, tapi secara tidak sadar kita sering melakukannya. Beberapa contoh akan saya berikan dengan dihubungkan pada beberapa ayat yang sudah kita kenal baik.

Waktu Yesus mengatakan "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28), kita cenderung menolak dan mengambil alasan terlalu sibuk dengan kegiatan, pekerjaan atau aktivitas-aktivitas lainnya. Waktu Tuhan menginginkan kita untuk rajin membaca dan merenungkan FirmanNya, "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam" (Yosua 1:8), kita berdalih tidak punya cukup waktu untuk melakukannya.

Ketika Tuhan berseru "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mazmur 46:11), kita menolak untuk diam, karena merasa diam itu hanya berarti buang-buang waktu. Daripada diam, kita jauh lebih tertarik untuk panik dan terus mencari jalan menurut kita sendiri, termasuk mengambil keputusan-keputusan yang justru semakin keliru, semakin jauh dari kehendak Bapa.

Lantas ketika Tuhan berkata "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:16), kita malah berkata, "nanti dulu, bukankah dunia ini penuh dengan kenikmatan dan kesenangan yang sayang untuk diabaikan?" Waktu Tuhan mengingatkan kita bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus sehingga kita harus memuliakan Allah dengan tubuh kita (1 Korintus 6:19-20), kita tetap saja memasukkan berbagai zat atau benda yang akan sangat mengotori tubuh kita.

Ini baru beberapa contoh saja mengenai pembangkangan yang sering dilakukan orang percaya. Bukannya taat, kita menyerah pada keadaan dan ikut-ikutan berlaku sesat seperti yang dilakukan banyak orang. Padahal disetiap perintah Tuhan tersimpan janji luar biasa yang siap diberikan kepada kita sebagai upahnya. Terutama, saat kita hidup sesuai kebenaran dan menjalaninya sebagai murid Kristus yang taat, bukankah keselamatan kekal menjadi hak kita? Sayangnya kita justru lebih tertarik untuk urusan-urusan lainnya di dunia ini lebih dari menunjukkan ketaatan kepada Tuhan. Apa yang dirasakan Tuhan melihat perilaku-perilaku kita yang dengan berbagai alasan menomor-duakan dan mengabaikanNya? Tuhan akan sangat sedih dan kecewa karena semua yang terbaik yang Dia berikan kita abaikan sia-sia.

(bersambung)


Friday, January 13, 2017

Pembangkang (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mikha 6:8
======================
"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"

Seorang teman memutuskan untuk membatasi tontonan anaknya di televisi. Ada banyak stasiun televisi lokal, tapi hampir-hampir tidak ada yang aman bagi anak. Mayoritas sibuk mengejar rating dan tidak mempedulikan dampaknya bagi anak. Sinetron-sinetron semakin saja mengajarkan keburukan moral. Orang tua atau orang dewasa yang kejam, anak-anak yang tidak tahu sopan santun, berbagai sifat kasar, tipu menipu, perselingkuhan, orang yang batinnya teraniaya, semua dipertontonkan dengan bebas setiap hari sehingga kalau kita terus menontonnya lama-lama kita akan menganggap semua itu sebagai hal biasa. Bayangkan jika anak-anak yang masih polos menyerap semua ini, mereka bisa tumbuh menjadi anak-anak berperilaku buruk. Ada banyak orang tua yang terlalu sibuk sehingga gagal memperhatikan tontonan anaknya. Pergaulan yang tidak diperhatikan pun bisa merusak moral mereka. Sementara terlalu ketat membuat anak tidak pintar bersosialisasi. Serba salah, tapi itulah salah satu tugas orang tua. Teman saya ini menyadari hal itu. Mengingat anaknya masih di usia dini, ia memutuskan untuk menghilangkan beberapa channel dari televisinya. Kemudian menyewa tv cable dengan prioritas pada acara-acara untuk anak. "Mahal sedikit tidak apa-apa, yang penting anak-anak saya aman." katanya.

Semakin lama semakin banyak anak yang suka membangkang pada orang tuanya. Ini adalah salah satu dari sekian banyak hal negatif yang timbul akibat kurangnya pendidikan moral dan budi pekerti yang seharusnya dilakukan oleh orang tua. Kalau tidak dijaga, mereka bisa disesatkan oleh tayangan-tayangan buruk, lingkungan pergaulan dan lain-lain. Dunia dengan segala kecemaran akan terus berusaha mengkontaminasi lebih banyak lagi orang. Dan sikap membangkang hanyalah satu dari sekian banyak problematika yang timbul sejak usia dini.

Menghadapi anak-anak yang sudah terlanjur tumbuh sebagai pembangkang tidak mudah. Selain dibutuhkan kesabaran ekstra, bentuk hukuman yang diberikan pun harus benar-benar cermat dipikirkan. Jika terlalu keras bisa membuat mereka tambah berontak, jika terlalu lembut tidak membawa efek jera. Kalau anak-anak saja sudah susah diurus, bayangkan jika anda berhadapan dengan orang yang sudah dewasa tapi punya tipe pembangkang seperti itu. Mereka sulit mendengar tapi cepat membantah atau melawan, bahkan sebelum mereka mengetahui terlebih dahulu duduk perkaranya. Ada banyak pula tipe pembangkang yang hanya melawan karena hanya ingin beda biar keren. Yang penting beda, benar tidak itu urusan belakangan. Seperti itu kira-kira. Anda tentu pernah bertemu orang-orang seperti ini dan merasakan kekesalan, sedih, kecewa bahkan emosi saat harus berhadapan atau berhubungan dengan mereka.

Kalau terhadap manusia yang kelihatan kita terbiasa membangkang, apalagi terhadap Tuhan yang tidak kasat mata. Bagaimana dengan kita? apakah kita pernah berpikir seperti apa perasaan Tuhan menghadapi pembangkangan dari anak-anakNya sendiri? Ada banyak orang percaya yang menolak untuk taat sepenuhnya kepada Tuhan dan terus melemparkan alasan demi alasan sebagai pembenaran. Ada banyak orang yang berkompromi terhadap dosa dan mengira bahwa sedikit-sedikit itu tidak apa-apa. Bisa dibayangkan bagaimana kecewa dan sedihnya Tuhan melihat perilaku seperti ini. Jika kita bisa merasa kesal, kecewa, sedih dan sebagainya menghadapi beberapa orang saja, Tuhan pun akan merasakan hal yang sama jika harus menghadapi begitu banyak anak-anakNya sendiri yang terus menerus membangkang, melawan ketetapanNya.

Padahal Tuhan memberikan segala yang terbaik, menjanjikan keselamatan bahkan rela ketika harus mengorbankan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus mati demi kita. Semua itu bukan lagi akan diberikan, tetapi sudah terlebih dahulu diberikan ketika manusia masih berlumur dosa. Tapi apa yang kita berikan sebagai balasannya? Bukannya bersyukur dan menghargai dengan mematuhiNya, manusia malah terus melawan dan membangkang. Tuhan jelas kecewa dan sedih, bukan saja karena harus berhadapan dengan kebandelan kita tapi juga karena itu berarti kita menolak kasih karunia yang sudah Dia berikan dan lebih suka binasa.

(bersambung)


Thursday, January 12, 2017

Pentingnya Pengambilan Keputusan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Mari kita lihat reaksi Musa ketika ia hendak diutus Tuhan. "Lalu sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?" (Keluaran 4:1). Tuhan pun kemudian menunjukkan beberapa mukjizat dengan mengubah tongkatnya menjadi ular. Patuhkah Musa? Ternyata belum. Ia kembali mengeluarkan alasan. "Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (ay 10). Tuhan kemudian mengingatkan Musa bahwa semua yang ada pada Musa itu Dia sendiri yang menciptakan. "Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?  Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan." (ay 11).

Ayat ini jelas mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang akan menyertai dan mengajar kita dalam melakukan tugas-tugas Kerajaan. Bukan kehebatan dan kekuatan kita yang Tuhan minta, tetapi kepatuhan kita. Tapi Musa masih ragu dan berkelit lagi. "Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus." (ay 13). Karena terus begitu, Tuhan pun marah. Musa kemudian takut, dan memutuskan untuk taat pada perintah Tuhan. Dalam ayat 18 kita bisa melihat keputusan Musa untuk taat menjalani apa yang diperintahkan Tuhan. Kita tahu bagaimana Tuhan kemudian memakai Musa secara luar biasa, dimana hasilnya masih tetap harum dikenang orang hingga hari ini.

Masalah berkelit dan berbantah ini tidak hanya dilakukan Musa. Ada beberapa nabi lainnya yang juga melakukan hal ini. Nabi Yeremia misalnya. Ia berkelit dengan alasan bahwa ia terlalu muda untuk menjalani tugas berat dan belum saatnya untuk tampil di depan. (Yeremia 1:6). Kepada Yeremia Tuhan mengatakan: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan." (Yeremia 1:7). Apa dasarnya? "Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." (ay 8).

Contoh lain, Yunus yang memilih untuk melarikan diri dari tugas yang disematkan Tuhan kepadanya. Pada akhirnya kita tahu bagaimana mereka dipakai Tuhan secara luar biasa. Dari contoh-contoh ini jelas terlihat bahwa semua itu berawal dari sebuah keputusan. Tuhan mengutus, itu satu hal, tapi apakah kita mau taat atau menolak, itu hal lain. Kalau kita mengambil keputusan untuk menolak maka apapun rencana Tuhan, kita tidak akan membawa perubahan apa-apa. Keputusan yang kita ambil hari ini akan sangat menentukan di masa depan. Dampaknya seringkali bukan hanya untuk diri sendiri melainkan menyangkut kehidupan banyak orang. Mungkin awalnya tidak banyak, tapi sangat mungkin untuk meningkat atau bertumbuh.

Kita terbiasa untuk punya seribu satu alasan untuk menghindar dari apa yang diinginkan Tuhan untuk kita perbuat. Jangankan melayani, membantu orang yang susah saja rasanya sudah berat. Padahal Tuhan ingin kita semua menjadi perpanjangan tanganNya untuk mewartakan Injil, menjadi garam dan terang, agar dunia bisa mengenal Kristus dan selamat lewat diri kita masing-masing. Terlalu muda, terlalu tua, tidak pandai bicara, terlalu sibuk, sulit menghadapi orang, kekhawatiran ini dan itu, bagaimana jika begini dan begitu, semua ini selalu menjadi alasan kita untuk melakukan pekerjaan Tuhan.

Bagi teman-teman yang belum menjadi rekan sekerja Tuhan, apa yang menjadi kendala bagi anda untuk masih belum bekerja untukNya? Percayalah bahwa ketika anda menjalaninya, anda akan melihat sendiri bahwa yang diinginkan Tuhan hanyalah kerelaan kita untuk membagi sedikit waktu. Siapapun bisa dipakai Tuhan secara luar biasa, karena Tuhan tidak butuh ahli-ahli melainkan butuh hati yang rindu untuk mengasihi orang lain, seperti halnya Tuhan telah mengasihi kita. Tuhan tahu persis kekurangan dan kelemahan kita masing-masing. Tapi itu semua tidaklah menjadi penghalang bagi kita untuk mampu bekerja di ladang Tuhan. Yang Dia butuhkan adalah kemauan kita, bukan kemampuan kita. Dan Dia sedang menanti kita untuk bersukacita bekerja bersamaNya. Bukankah adalah sebuah kehormatan jika Tuhan mau memakai kita?

Tuhan tidak memerlukan kuat dan hebat kita, bukan kemampuan kita, yang Dia inginkan hanyalah kemauan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, January 11, 2017

Pentingnya Pengambilan Keputusan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | 2 Comments so far
Ayat bacaan: Keluaran 4:11-12
======================
"Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?  Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan."

Ada teman saya yang melayani sebagai pemain bass di gereja. Sejauh yang saya lihat, ia merupakan pemain bass yang handal. Rhythm feel nya bagus, dia punya groove dan intuisi dan instingnya pun hidup. Saat ia melakukan 'walking bass' pun keren. Suatu kali saat ngobrol, saya menanyakan dimana atau dari siapa ia belajar. Sambil tertawa ia berkata bahwa Tuhanlah guru bassnya. Saya terkejut dan bertanya, bagaimana bisa? Maka ia bercerita awal mulanya ia berkenalan dengan instrumen ini.

Awalnya ia merupakan pemain gitar dalam tim musik gereja. Suatu kali pemain bass berhalangan hanya beberapa jam sebelum kebaktian raya. Mencari pengganti dadakan tidaklah mudah. Alternatif tentu mengarah kepada pemain gitar. Tapi teman saya ini belum pernah memegang bass sama sekali sebelumnya. Tidak ada lagi orang lain yang bisa, waktu terus berjalan. Ia mengambil waktu berdoa, dan kemudian setelahnya dengan teguh ia menyatakan kesediaannya untuk menjadi pemain bass. Ia hanya sempat membunyikan bass beberapa saat sebelum tampil di depan. Dan ternyata, ia sendiri kaget dengan hasilnya. "Tangan saya seolah dituntun. Mula-mula saya berusaha berpikir cepat untuk mencerna intuisi meniti fret gitar bass, tapi kemudian saya membiarkan jari saya mengalir, mengikuti kemana Tuhan mau." katanya. Sejak saat itu ia pun beralih menjadi pemain bass.

Ia kemudian berkata bahwa seringkali pikiran kita mengintervensi rencana Tuhan. Kita tidak cukup percaya kepadaNya dan lebih mengandalkan logika dan penilaian kita sendiri terhadap kemampuan kita. Tidaklah heran kalau akhirnya kita minim pengalaman akan kuasa Tuhan yang supranatural, karena kita tidak membiarkan Tuhan bekerja atas diri kita. "Yang Tuhan cari itu orang yang mau, bukan yang mampu. Kalau kita mau, Tuhan yang memampukan." katanya.

Saya setuju dengannya. Saya mengalami sendiri hal itu. Saya bukanlah lulusan sekolah Alkitab, bukan pula penulis. Sebelumnya saya tidak pernah menulis selain tugas-tugas di sepanjang pendidikan formal, bahkan diary pun tidak. Waktu saya memutuskan untuk menulis renungan, saya masih bolong-bolong berdoa dan tidak betah membaca Alkitab. Bacanya malam, aminnya pagi, karena ketiduran. Itu sering sekali terjadi. Oleh karena itulah saat saya mendengar dalam hati saya sebuah 'suara' yang cukup jelas agar saya mulai melayani lewat menulis renungan, saya tidak langsung merespon untuk melakukannya. Mau tulis apa? Itu harus dilakukan tiap hari dan harus bisa menyampaikan kebenaran Firman Tuhan dengan aplikasinya masing-masing. Tapi kemudian saya mendengar kata-kata yang sama. "Yang Aku cari bukan orang yang mampu, tapi yang mau." Dan saya memutuskan untuk mau.

Hari ini saya sudah memasuki tahun ke 10 dalam meluangkan waktu setiap hari mengisi blog ini dengan Firman Tuhan. Komitmen yang masih saya pegang dan lakukan dengan sukacita. Ada banyak singkapan Tuhan yang disampaikan untuk saya sampaikan lagi kepada teman-teman, dan pengalaman itu buat saya luar biasa. Kalau saya waktu itu menolak, saya akan kehilangan banyak kesempatan untuk merasakan kedekatan Tuhan yang begitu nyata dalam hidup saya. Saya bersyukur saya tidak melawan saat itu dan memilih untuk taat, meskipun pikiran normal saya waktu itu meragukan kesanggupan saya.

Making decision atau mengambil keputusan adalah penentu ke arah mana hidup kita berjalan. Kita sering kurang menyadari hal itu, apalagi dalam mengambil keputusan-keputusan atas hal-hal yang kecil, sepele atau dianggap tidak/kurang penting. Padahal sekecil apapun, keputusan yang berbeda akan mendatangkan arah yang berbeda pula. Sama seperti jika anda memilih sebuah rute, anda akan melewati jalan yang berbeda, waktu tempuh yang berbeda dan sebagainya. Satu belokan akan sangat menentukan. Jadi seharusnya, kita harus benar-benar memastikan setiap keputusan kita sudah melalui pemikiran matang dan sesuai dengan rencana Tuhan agar tidak ada waktu terbuang sia-sia atau yang lebih parah lagi, membuat kita tersesat dan gagal mencapai tujuan. Satu langkah salah bisa mengarah pada langkah salah lainnya kalau tidak segera disadari dan diperbaiki. Semakin banyak keputusan yang salah, semakin jauh pula kita dari penggenapan rencana Allah atas hidup kita.

Hari ini mari kita lihat kepada siapa atau bagaimana Tuhan memilih pekerja-pekerjanya. Jika anda membaca Alkitab dengan seksama, maka bisa jadi anda akan terkejut karena mendapati bahwa Tuhan ternyata lebih suka memakai orang-orang yang bagi dunia mungkin dipandang sebelah mata ketimbang orang-orang yang ahli Taurat, menguasai hukum, orang kaya, jenius dan sebagainya. Tentu saja saya tidak bermaksud mengatakan bahwa orang yang pintar dan hebat tidak akan Dia pakai. Tuhan rindu memakai setiap anak-anakNya karena tugas yang diberikan bukanlah tugas yang mudah. Tapi yang ingin saya katakan adalah seberapa kecil pun kemampuan yang anda rasa anda miliki, itu bukan penghalang untuk menjadi pekerja yang berhasil. Dan siapapun anda, Tuhan tetap punya tugas dan rencana untuk anda.

Mari kita ambil satu contoh, yaitu Musa. Sangatlah menarik jika melihat reaksi awal Musa ketika mendapat tugas berat dari Tuhan. Kita tahu bahwa Musa adalah seorang nabi besar dan dihormati oleh begitu banyak orang dari kepercayaan yang berbeda, namanya harum dan menginspirasi dari generasi ke generasi hingga hari ini.Tapi lihatlah bahwa untuk menjadi besar seperti itu, Musa terlebih dahulu melewati sebuah proses pengambilan keputusan. Alkitab mencatat bahwa pada awalnya Musa ragu dan sempat berbantah-bantahan dengan Tuhan. Ia terus mencari alasan untuk berkelit karena merasa tugas yang dibebankan terlalu berat buat dirinya yang tidak lagi muda dan tidak ada apa-apanya.

(bersambung)


Tuesday, January 10, 2017

Diampuni dan Disucikan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kalau sudah terlanjur, apa yang harus kita lakukan? Yohanes berkata begini. "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9).

Lewat ayat ini kita bisa melihat bahwa  apabila kita mengakui dosa kita dengan jujur, ada dua hal yang akan Tuhan lakukan. Tuhan akan:
1. mengampuni dosa kita
2. menyucikan kita

God clearly promises that once we admit our sins, He will forgive and cleanse us from all unrighteousness, artinya dari semua pikiran, perasaan dan perbuatan yang tidak sesuai dengan ketetapanNya. Dan ini sesuai dengan sifat Tuhan yang sangat menonjol yaitu adil dan setia. Pintu pengampunan ternyata masih dibuka lebar-lebar bagi anak-anakNya yang terlanjur kembali tersesat. Itu jelas kabar baik dan sangat-sangat kita butuhkan sebagai manusia yang punya tendensi untuk melanggar ketetapan Tuhan.

Selanjutnya Yohanes mengatakan: "Anak-anakku, hal-hal ini kutuliskan kepada kamu, supaya kamu jangan berbuat dosa, namun jika seorang berbuat dosa, kita mempunyai seorang pengantara pada Bapa, yaitu Yesus Kristus, yang adil. Dan Ia adalah pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia." (1 Yohanes 2:1-2). Apa yang dikatakan Yohanes jelas. Sebagai ciptaan baru seharusnya kita tidak lagi berbuat dosa. Tetapi kalaupun kita kembali terjatuh, ingatlah bahwa kita punya Kristus yang akan bertindak sebagai perantara atau pembela buat kita di hadapan Allah. Ini janji Tuhan yang dihadirkan lewat Yohanes dan ditujukan buat kita, orang-orang percaya.

Ketika kita kembali berbuat dosa setelah bertobat, itu artinya kita memilih untuk kembali hidup dalam penghukuman. Arah jalan yang sudah menuju hidup kekal pun kemudian kembali berbalik menuju jurang kebinasaan. Tetapi begitu kita mau mengakui dosa dan berjanji untuk tidak melakukannya lagi, saat itu juga Tuhan mengampuni, tidak lagi mengingat-ingat pelanggaran kita sebelumnya. Bukan hanya itu, diri kita pun akan dibersihkan atau disucikan kembali.

Kebenaran akan kembali muncul setelah kita disucikan atau dimurnikan. Idealnya pada saat kita menerima Kristus dan dibaptis, kita sudah menjadi manusia baru dan sudah meninggalkan berbagai perbuatan salah masa lalu, sedang menatap ke depan untuk menuai janji-janji Tuhan. Akan tetapi kita bisa kembali terjebak dalam berbagai perbuatan dosa. Apabila itu yang terjadi, ingatlah bahwa Tuhan masih memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi kita orang yang sudah percaya untuk mengakui dosa di hadapan Tuhan. Jika itu dilakukan, maka Tuhan sendiri yang akan mengambil langkah: mengampuni dan menyucikan. He will forgive and cleanse us from our sins, and put us back to the path He's destined to each and every one of us.

Ketika Tuhan masih membuka kesempatan, bertobatlah segera sebelum kesempatan itu hilang

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, January 9, 2017

Diampuni dan Disucikan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Yohanes 1:9
======================
"Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan."

Di taman-taman kota sekarang sudah disediakan air yang bisa langsung diminum dari keran. Saya melihat ada banyak pengunjung dari desa yang masih belum terbiasa melihat fasilitas ini. Mereka sepertinya bingung, termasuk saat memencet tombol keluar air sehingga air pun muncrat kemana-mana. Air ini sudah melewati filterisasi yang baik agar bisa langsung diminum. Kalau dahulu air harus dimasak dahulu, sekarang teknologi sudah memungkinkan kita untuk langsung meminumnya, tentu saja dengan sistem penyaringan yang baik. Kalau tidak, kita bisa sakit perut dan mengalami banyak masalah lewat kandungan bakteri dan logam-logam berbahaya yang terkandung di dalamnya.

Apakah bersih tidaknya air bisa dilihat kasat mata? Benar, air yang keruh apalagi yang ada endapan atau butir-butiran kotor sudah pasti tidak layak minum. Tapi air yang terlihat bersih, berwarna biru cerah sekalipun belum menjamin bahwa air itu sudah layak dikonsumsi. Tetap diperlukan proses yang baik, mungkin penelitian atau pemeriksaan kandungan air terlebih dahulu untuk memastikan apakah air itu sudah boleh diminum atau tidak.  Air yang sudah murni kalau dibiarkan tak terjaga dan terbuka lama bisa kembali terkontaminasi oleh banyak kotoran. Karenanya kalau mau air itu tetap bertahan kemurniannya, kita harus menjaganya dengan benar.

Ilustrasi ini bisa diterapkan pada keadaan manusia. Kita bisa terlihat suci, rohani, tampak baik dari tampilan luar tapi sebenarnya di dalam tidaklah sebersih yang terlihat. Apalagi kalau dari luar saja sudah 'keruh', bisa dipastikan bahwa kita harus melakukan proses supaya hati yang sudah terkontaminasi itu bisa kembali bersih seperti yang diinginkan Tuhan bagi anak-anakNya.

Waktu kita menerima Yesus, kita mendapat kesempatan untuk menerima anugerah untuk menjadi manusia baru  Dalam 2 Korintus 5:17 hal itu disampaikan dengan jelas. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." Kita pun dikatakan sudah suci oleh ketaatan akan kebenaran karena kita dilahirkan kembali bukan dari benih yang fana melainkan benih yang tidak fana, melainkan oleh firman Allah, yang hidup dan yang kekal (1 Petrus 22:23-24). Itu artinya kita sudah dimurnikan, dilepaskan dari berbagai ikatan dan dosa-dosa kita di masa lalu. Job done, at least for a while.

Tugas kita selanjutnya adalah memastikan agar apa yang sudah murni jangan sampai kotor kembali. Seperti itu seharusnya, idealnya. Tapi dalam perjalanan hidup kita, kita bisa saja kembali jatuh ke dalam jebakan dosa mulai dari yang kecil sampai yang besar. Jangan lupa bahwa dosa-dosa masa lalu bisa kembali menjadi masalah mengotori kita. Juga dosa-dosa yang belum dibereskan. Maka ibarat air, bisa saja kita terlihat jernih dari luar tetapi sesungguhnya mengandung banyak kandungan yang membahayakan. Jika kotornya sudah keterlaluan, maka kita pun bisa terlihat seperti air lumpur yang pekat.

Pertanyaannya sekarang, kalau kita sudah terlanjur terpeleset dan kembali kotor, adakah 'filter' yang bisa kembali memurnikan kita jika ini yang terjadi? The good news is, yes there is. Tuhan tetap membuka pintu kesempatan kepada siapapun untuk berbalik dari jalan-jalan yang salah dan kembali kepada jalan kebenaran yang mengarah kepada keselamatan.

Akan hal ini, mari kita baca kitab 1 Yohanes. Surat ini ditujukan untuk orang-orang percaya. Dengan kata lain, surat ini dituliskan secara khusus untuk orang-orang Kristen yang sudah bertobat dan menerima Kristus. Yohanes mengerti bahwa setelah seseorang bertobat, akan selalu ada godaan yang berpotensi mengembalikannya ke dalam perangkap dosa. Misalnya kembali melakukan kebiasaan-kebiasaan buruk yang seharusnya sudah kita tinggalkan ketika kita telah menjadi ciptaan yang baru, atau tergoda untuk mencoba dosa-dosa baru.

(bersambung)


Sunday, January 8, 2017

Perasaan Tidak Dimengerti

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 139:1-3
=======================
"TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi."

Saya termasuk beruntung karena punya kedua orang tua yang mengerti anaknya. Kedekatan saya dengan keduanya dan kemudahan saya berkomunikasi membuat saya relatif tidak punya masalah dengan masalah dimengerti. Belakangan setelah dewasa saya baru sadar kalau ternyata ada banyak orang yang tumbuh dewasa membawa masalah tentang hal ini. Semasa kecil orang tua terlalu sibuk, mereka hanya menginginkan anak mereka untuk mengikuti perintah mereka secara sepihak tanpa mau melihat apa yang menjadi masalah dalam diri anak-anaknya. Bisa makan, bisa sekolah, punya kamar tidur atau minimal tempat tidur, punya uang jajan, sudah kan? Jangan macem-macem lagi, pakai minta dimengerti segala. Itu pikir orang tua yang mengira bahwa gelontoran uang dan penyediaan kewajiban dasar untuk anak sudah lebih dari cukup untuk memenuhi peran sebagai orang tua. Suami terlalu sibuk kerja sehingga tidak lagi punya cukup waktu untuk mendengarkan istrinya. Istri terlalu sibuk dengan gadget sehingga tidak lagi mempedulikan kebutuhan-kebutuhan suami yang sudah lelah seharian mengais rejeki di luar rumah. Teman-teman ada disaat suka, tapi disaat duka hilang entah kemana. Mereka datang pada kita kalau butuh apa-apa, tapi begitu kita yang butuh, seribu satu alasan muncul. Kita bermaksud baik, tapi disalah-artikan terus. Alih-alih mau mendengar dahulu dan mencoba mengerti, belum apa-apa sudah langsung menyalahkan. Sudah mati-matian berusaha menerangkan duduk permasalahan, tetapi disepelekan. Pernahkah anda merasakan seperti itu, bahwa sepertinya tidak ada satupun orang yang (mau) mengerti?  Tidak ada yang peduli? Nobody understands. Nobody wants to understand. Nobody cares. 

Perasaan seperti ini berpotensi menghambat pertumbuhan rohani kita. Rasa tidak dipedulikan, tidak dianggap, tidak didengar, tidak dimengerti, semua itu bisa mengkontaminasi hati dan melahirkan berbagai masalah. Kalau sudah melahirkan masalah, bisa dibayangkan buah yang akan kita petik. Oleh karena itu kita tidak boleh membiarkan perasaan seperti ini terus bercokol dalam diri kita. Jika sudah terlanjur ada, kita harus tangani cepat, jika belum, kita harus jaga supaya kita jangan sampai kecolongan.

Manusia bisa mengecewakan, bahkan orang-orang yang kita anggap dekat dan seharusnya bisa mengerti kita sekalipun. Jika anda tengah menghadapi masa-masa seperti itu, ingatlah satu hal: ada Tuhan yang sangat mengenal anda. Dia tahu pasti apa yang menjadi permasalahan anda. Dia mengenal anda luar dalam dengan sangat baik. Tidak ada yang tersembunyi bagiNya, Dia tahu isi hati kita yang terdalam sekalipun.

Daud tahu benar akan hal itu. Lihatlah apa yang ia katakan dalam Mazmur. "TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku; Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kaumaklumi." (Mazmur 139:1-3). Pemikiran-pemikiran seperti inilah yang menguatkan Daud dalam menjalani hidupnya yang tidak mudah. Daud tahu bahwa Tuhan mengenalnya, Tuhan tahu apa yang ia alami atau hadapi, ia mengerti setiap langkah Daud dalam hidupnya. Bagi saya ayat ini menunjukkan sebuah kedekatan dan saling pengertian yang sangat indah yang bisa terbangun antara manusia dengan Tuhan. Daud tahu, saat tidak ada manusia yang mengerti, ada Tuhan yang selalu mengerti dirinya dan keputusan-keputusan yang diambilnya.

Sebuah Firman Tuhan dalam Yesaya 29 menggambarkan betapa Tuhan sungguh mengetahui kita, karena kita adalah ciptaanNya sendiri. Jika Tuhan diibaratkan sebagai tukang periuk, dan kita adalah bejana yang dibentuk dari tanah liat olehNya sendiri, bisa kah kita berkata bahwa Tuhan, Sang Pencipta, tidak mengenal apa-apa tentang kita? "..Apakah tanah liat dapat dianggap sama seperti tukang periuk, sehingga apa yang dibuat dapat berkata tentang yang membuatnya: "Bukan dia yang membuat aku"; dan apa yang dibentuk berkata tentang yang membentuknya: "Ia tidak tahu apa-apa"? (Yesaya 29:16). Tuhan sungguh mengenal kita dengan baik, Dia sungguh peduli, namun seringkali kita-lah tidak mau mengenal Dia dengan sungguh-sungguh. Ketika Tuhan peduli, kita tidak peduli padaNya dan hanya menggantungkan harapan kepada manusia. Kita hanya berharap bisa dimengerti oleh orang lain dan melupakan kasih Tuhan yang selalu dicurahkan atas kita semua. Kita hanya ingin Tuhan mengabulkan semua permintaan kita, tapi kita tidak peduli untuk membangun hubungan yang kuat dan benar-benar intim denganNya. Kita peduli apa kata orang, tapi tidak peduli apa kata Tuhan. Kita mau dimengerti Tuhan, tapi kita tidak mau mengerti isi hatiNya.

Manusia bisa mengecewakan, tapi Tuhan tidak. Kalau kita sadar itu, seharusnya kita selalu mengandalkan Tuhan dalam segenap aspek kehidupan kita. Dia tidak pernah mengecewakan. "Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN!" (Yeremia 17:7).

Ketika tidak ada orang mengerti, ingatlah ada Tuhan yang mengerti. Ketika tidak ada yang peduli, ketahuilah Tuhan selalu peduli. Ketika tidak ada yang mau mengenal anda lebih jauh, Tuhan sudah mengenal anda bahkan lebih dari anda mengenal diri anda sendiri. Tuhan tahu pasti apa yang menjadi pergumulan anda saat ini. Bahkan hal-hal yang mungkin terlalu berat untuk dikemukakan, sulit untuk diucapkan, Tuhan pun mengetahui itu semua. Tuhan sungguh mendengar jeritan hati kita. Anda merasa sendirian saat ini menghadapi segala sesuatu? Datanglah pada Tuhan. Dia sangat mengenal anda, mengerti anda, mengasihi anda dan peduli.

Tuhan tidak pernah mengecewakan karena Dia sangat mengenal dan mengasihi kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, January 7, 2017

Manusia Berencana, Tuhan Menentukan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 16:9
=================
"Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya."

Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Tentu kita sudah tidak asing lagi dengan kalimat ini. Dan memang demikianlah adanya. Ada banyak orang yang sudah merencanakan begitu banyak hal sejak lama, tapi kemudian yang terjadi adalah sesuatu yang jauh dari rencana sebelumnya. Sehebat-hebatnya kita merencanakan, sehebat-hebatnya kemampuan kita,  pada suatu ketika kita akan menyadari bahwa tetap saja kita tidak bisa melawan kehendak Tuhan. Tidak jarang ada banyak orang yang sudah mengeluarkan biaya dan usaha yang tidak sedikit, namun akhirnya harus berakhir dengan kerugian karena ternyata itu tidak sejalan dengan apa yang menjadi kehendak Tuhan.

Saya sendiri pernah mengalami hal itu beberapa kali sebelum saya mengenal Yesus. Mengambil jalan yang tidak tepat, tidak menjalankan sesuai kebenaran, melawan apa yang menjadi rencanaNya dan pada akhirnya semuanya harus habis ludes, dan saya kemudian memulai lagi dari nol. Bayangkan berapa banyak waktu yang saya buang karena saya tidak mencari tahu dahulu apa yang menjadi rencanaNya bagi saya. Hari ini saya bisa menyadari sepenuhnya bahwa apa yang terbaik adalah ketika kita menjalani hidup seturut dengan kehendakNya, seperti yang sudah Dia rencanakan jauh hari, bahkan sebelum kita dilahirkan. Menjalankan dan kemudian menuai tepat seperti apa yang ada di hati Tuhan saat Dia menciptakan kita. Firman Tuhan berkata "mata-Mu melihat selagi aku bakal anak, dan dalam kitab-Mu semuanya tertulis hari-hari yang akan dibentuk, sebelum ada satupun dari padanya." (Mazmur 139:16).

Lewat Amsal Salomo kita diingatkan bahwa "Hati manusia memikir-mikirkan jalannya, tetapi Tuhanlah yang menentukan arah langkahnya." (Amsal 16:9). Ini adalah sebuah pernyataan yang tegas bahwa sehebat apapun kita, kita tidak akan pernah bisa melawan kehendak Tuhan. Kita bisa mencobanya, dan mungkin kita bisa mencapai sesuatu hingga tingkatan tertentu, tetapi walau bagaimanapun sesuatu yang tidak berjalan seperti rancangan Tuhan tentulah tidak sebaik seperti ketika kita berjalan sepenuhnya seturut kehendakNya. Hati atau pikiran kita bisa berpikir tentang jalan yang menurut kita terbaik, tapi di atas segalanya Tuhan tentu lebih tahu tentang kita, karena Dia sendirilah yang "membentuk dan menenun" kita sejak dalam kandungan.

Yesaya mengetahui benar hal itu dan berkata "Tetapi sekarang, ya TUHAN, Engkaulah Bapa kami! Kamilah tanah liat dan Engkaulah yang membentuk kami, dan kami sekalian adalah buatan tangan-Mu." (Yesaya 64:8). Sebagai Pembuat kita, tentu Tuhan lebih mengetahui segala sesuatu tentang kita. Dia jauh lebih tahu apa yang terbaik untuk kita ketimbang apa yang menurut kita terbaik buat kita. Kabar baiknya, Tuhan memang merencanakan segala rancanganNya yang terbaik lengkap dengan segala sesuatu untuk mencapai hari depan yang penuh harapan seperti firmanNya dalam Yeremia 29:11.

Agar kita tidak melakukan sesuatu sia-sia, yang terbaik tentu adalah mengetahui apa yang menjadi rancangan Tuhan buat kita, dan berjalan sesuai dengan rancanganNya. Dan kita tidak akan pernah bisa mengetahui itu apabila kita tidak mulai membangun keintiman dengan Tuhan lewat ungkapan syukur, pujian, ketaatan, kesetiaan dan doa-doa kita. Selain dari pada itu, kita harus pula memiliki sikap hati yang mau dibentuk.

Paulus telah mengingatkan agar kita agar tidak mengeraskan hati dan mau membiarkan Allah untuk membentuk dan mengajar kita. Menjadi ciptaan baru, itu bahasanya Paulus, akan memampukan kita untuk bisa mengetahui apa yang menjadi kehendakNya. "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2). Sebuah transformasi sudah disediakan Tuhan untuk itu dalam Kristus.

Kemudian, apa sebenarnya yang Tuhan ingin berikan pada kita? Alkitab menyebutkan dengan begitu hebat: "Tetapi seperti ada tertulis: "Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia." (1 Korintus 2:9-10). Dan sesungguhnya "..Allah telah menyatakannya oleh Roh, sebab Roh menyelidiki segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tersembunyi dalam diri Allah." (ay 10). Itulah sebabnya kita juga dipanggil untuk hidup dalam roh seperti yang disampaikan Paulus dalam Roma 8.

Kita boleh berencana apapun, tetapi jalan dari Tuhan pasti tetap yang terbaik. Kalau kita menyadari hal ini, sudahkah kita bertanya kepadaNya apa yang menjadi kehendakNya dalam hidup kita? Sudahkah kita mengetahui itu, dan menjalani semua seturut dengan kehendakNya? Kita bisa merencanakan apapun dengan kemampuan kita, namun ingatlah bahwa Tuhan sudah memiliki rancanganNya sendiri bagi kita, sebuah rancangan damai sejahtera, bukan kecelakaan, yang menjanjikan kita hari depan yang penuh harapan. Sebaik-baiknya kita tahu diri kita dan sehebat-hebatnya perencanaan kita, tidak akan ada yang sebaik jalan Tuhan. Mengabaikan rencanaNya hanya akan membuat banyak waktu terbuang sehingga kita tidak bisa maksimal dalam masa hidup kita. Karenanya temukanlah apa yang menjadi kehendak Tuhan untuk anda dan berjalanlah didalamnya.

Berjalan seturut kehendak Allah adalah yang terbaik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, January 6, 2017

Kegelisahan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yakobus 4:8a
===================
"Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu."

Seorang guru yang sudah berkarir lebih dari 30 tahun suatu kali bercerita pada saya bahwa lewat pengalamannya yang panjang itu ia relatif bisa melihat anak-anak yang curang pada saat ujian. Menurutnya, biasanya anak-anak ini akan terlihat gelisah, menghindari tatap mata dengan pengawas dan sering curi-curi melihat posisi pengawas dari sisi matanya. Seperti apa orang yang gelisah saat sedang ujian? Biasanya dia celingak-celinguk melihat ke kiri ke kanan. Lalu melakukan banyak gerakan alias tidak bisa diam. Misalnya pura-pura meregangkan badan atau kepala atau seringkali tidak terlihat karena tertutupi punggung teman atau pura-pura memegang kertas ujian tinggi sampai menutup muka. "Kadang ngeselin, tapi kalau diingat-ingat lucu juga" katanya tergelak.

Itu baru contoh gelisah saat menyontek dalam ujian. Ada banyak kegelisahan lain yang bisa mendatangkan gangguan. Kalau kadar gelisahnya masih sedikit, mungkin kita hanya jadi tidak betah duduk diam dan lebih suka mondar mandir agar kegelisahan tersalurkan. Misalnya saat tengah menunggu sesuatu. Saat kadarnya meningkat, perut mulai terasa mulas dan keringat dingin. Kita jadi mudah kesal, sulit tidur, sering terbangun tengah malam karena mimpi buruk atau mengigau sambil berteriak-teriak. Dalam kadar sangat tinggi, ada juga yang mengakhiri hidupnya karena dihantui perasaan tidak tenang. Manusia mempunyai perasaan, dan pada saat ada sesuatu yang mengganggu perasaan kita maka kegelisahan bisa timbul. Ada banyak reaksi yang muncul ketika kegelisahan yang mengganggu ini datang dalam hidup, ada banyak alternatif cara yang mungkin diambil untuk mengatasinya. Tetapi tidak banyak orang yang segera datang kepada Allah, menjadikanNya sebagai jawaban atau solusi atas kegelisahan yang sedang berkecamuk di dalam diri kita.

Berbagai perasaan yang mengganggu seperti kegelisahan bisa datang menghampiri kita kapan saja. Tapi jangan biarkan itu terus berlarut-larut hingga berbagai kesulitan lain berdatangan sebagai akibatnya. Berusaha untuk mencari penyelesaian agar bisa kembali tenang itu baik sejauh tidak bertentangan dengan firman Tuhan. Tetapi jangan lupa pula bahwa di dalam Tuhanlah sebenarnya ada jawaban yang memampukan kita untuk menyelesaikannya dan keluar menjadi pemenang.

Daud mengetahui hal itu dan berkata: "Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku." (Mazmur 62:2). Dalam hubungan yang erat dengan Allah kita akan selalu bisa mendapatkan kekuatan dan penghiburan tanpa perlu memandang berat ringannya kegelisahan, kecemasan atau berbagai perasaan lainnya yang mengganggu hidup kita. Tidak banyak yang menyadari hal ini. Mereka malah semakin lupa kepada Tuhan dan lebih tertarik untuk terus bergelut dalam kegelisahan tanpa jawaban pasti. Saat kita tenang, itu berarti kita bebas dari gelisah. Yesus sudah menyatakan kesediaanNya untuk meringankan beban kita dengan berkata "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28).

Apakah sulit bagi kita untuk mendapatkan Tuhan? Alkitab mengatakan justru sebaliknya. "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu." (Yakobus 4:8a). Dalam Perjanjian Lama lewat Yeremia kita bisa pula mendapatkan pesan Tuhan yang bunyinya demikian: "Dan apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku." (Yeremia 29:12-14a). Lihatlah bahwa Tuhan sudah menyatakan kesediaanNya untuk meringankan beban kita, bahkan menyediakan "akses" yang begitu sederhana agar kita bisa menemukanNya.

Tuhan tidak pernah terlalu sibuk untuk kita. Siapapun kita, semuanya adalah ciptaanNya yang istimewa yang teramat sangat Dia kasihi. Tetapi kitalah yang seringkali lupa untuk mencariNya karena terlalu sibuk mencari cara mengatasinya dengan mengandalkan diri sendiri atau berharap pada orang lain.

Ketika berbagai bentuk perasaan yang mengganggu datang, saat kegelisahan menyelubungi kita, itu saatnya bagi kita untuk membenahi ulang hubungan kita dengan Tuhan dan kembali dekat kepadaNya. Mungkin kita sudah terlalu jauh dari Tuhan sehingga beban pikiran dan perasaan bisa begitu menguasai diri kita. Mungkin Tuhan sudah tidak lagi ada dalam hati kita karena terhimpit oleh berbagai ketakutan, kekuatiran dan kegelisahan kita atas masalah-masalah yang sedang dihadapi.

Tuhan sudah menyatakan bahwa Dia akan selalu siap memberi kelegaan, kembali menguatkan dan bentuk-bentuk pertolongan lainnya kepada siapapun yang mau datang kepadaNya, mencariNya dengan sungguh-sungguh. Apakah itu kegelisahan akan sesuatu yang belum jelas, apakah itu luka-luka atau kekecewaan di masa lalu, kenangan buruk, kondisi-kondisi traumatis akibat kegagalan di waktu lalu, kegelisahan menghadapi kesulitan, masa depan dan sebagainya, Tuhan lebih dari sanggup untuk melepaskan kita dari semua itu, tidak peduli seberat apapun.

Jika ada diantara teman-teman yang saat ini tengah mengalami kegelisahan, jangan biarkan itu berlarut-larut. Inilah saatnya untuk menyegarkan kembali hubungan pribadi anda dengan Tuhan. Jika anda merasa sudah dekat namun kegelisahan masih melanda, mungkin itu tandanya anda harus mulai mengaplikasikan iman yang di dalamnya terdapat pengharapan secara nyata dalam kehidupan rohani anda. Anda ingin mengalami hidup yang tenang, jauh dari kegelisahan tanpa terpengaruh oleh keadaan? Jawabannya ada pada Tuhan dan kedekatan anda denganNya.

Gelisah tidak akan mampu menggoyahkan orang yang punya hubungan dekat dengan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, January 5, 2017

Curahan Roh Kudus

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yoel 2:28
================
"Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan."

Kemarin kita sudah melihat pentingnya berbalik arah untuk kembali kepada jalan Tuhan. Kita tahu bagaimana janji Tuhan yang luar biasa melimpah kepada kita yang melakukan pertobatan dengan sungguh-sungguh. Hujan awal dan hujan akhir, pemulihan dari tahun-tahun yang hasilnya habis dimakan belalang, kehadiran bala tentara Tuhan yang besar ketengah-tengah kita, semua itu akan diberikan kepada kita yang mau berbesar hati untuk menyadari penyimpangan-penyimpangan kita dan kemudian bertobat, kembali kepada Tuhan. Semua ini dengan panjang lebar dan jelas disampaikan dalam Yoel 2:18-27. Ada sebuah janji lagi yang sebenarnya sudah selintas saya singgung dalam renungan terdahulu, yaitu Tuhan akan mencurahkan RohNya, Roh Kudus, ke atas kita semua. Hari ini mari kita lihat lebih jauh mengenai hal ini.

Yoel menubuatkan curahan Roh Kudus seperti ini. "Kemudian dari pada itu akan terjadi, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia, maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat; orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi, teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan. Juga ke atas hamba-hambamu laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu." (Yoel 2:28-29).

Ini adalah sebuah nubuatan yang sangat penting, yang seharusnya kita sadari terlebih dalam menghadapi hari-hari yang sulit sekarang ini. Tuhan sudah berjanji mencurahkan Roh Kudus ke atas kita, sesuatu yang sudah kita peroleh lewat Yesus. Musa juga pernah mengungkapkan keinginan hatinya akan hal ini: "Tetapi Musa berkata kepadanya: "Apakah engkau begitu giat mendukung diriku? Ah, kalau seluruh umat TUHAN menjadi nabi, oleh karena TUHAN memberi Roh-Nya hinggap kepada mereka!" (Bilangan 11:29). Lantas Petrus pun menyinggung akan nubuatan Yoel ini dalam Kisah Para Rasul 2:16-21.

Lalu apa yang terjadi? Kita kemudian melihat bagaimana Roh Kudus turun dicurahkan Allah dari surga, turun bagai lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap di atas para jemaat gereja mula-mula yamg dicatat dalam Kisah Para Rasul 2. Setelah itu kita bisa melihat berulangkali kisah tercurahnya Roh Kudus ini hadir dalam pasal-pasal berikutnya, misalnya dalam Kisah Para Rasul 10 (ayat 44-46), pasal 11 (ayat 15-18), pasal 19 (ayat 6-7) dan sebagainya. Semua itu hadir dalam berbagai manifestasi secara rohani seperti berbicara dalam bahasa roh, bernubuat dan memuji Tuhan, tepat seperti apa yang dinubuatkan Yoel ratusan tahun sebelumnya.

Pertobatan merupakan langkah awal yang sangat penting untuk kita ambil. Berikutnya, Yoel juga mengingatkan "Dan barangsiapa yang berseru kepada nama TUHAN akan diselamatkan, sebab di gunung Sion dan di Yerusalem akan ada keselamatan, seperti yang telah difirmankan TUHAN; dan setiap orang yang dipanggil TUHAN akan termasuk orang-orang yang terlepas." (Yoel 2:32). Paulus kembali menyampaikan pesan ini dalam surat Roma: "Sebab tidak ada perbedaan antara orang Yahudi dan orang Yunani. Karena, Allah yang satu itu adalah Tuhan dari semua orang, kaya bagi semua orang yang berseru kepada-Nya. Sebab, barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan, akan diselamatkan." (Roma 10:13-14).Janji ini berlaku bagi semua orang tanpa terkecuali, siapapun dan apapun latar belakangnya.

Kembali kepada pertobatan, sadarilah bahwa dosa bagaikan batu yang jika semakin ditimbun akan semakin berat. Oleh karena itu sangatlah penting bagi kita untuk melepaskan diri dari dosa-dosa itu secepat mungkin dan melakukan pertobatan menyeluruh. Dan firman Tuhan pun berkata "Jika kita mengaku dosa kita, maka Ia adalah setia dan adil, sehingga Ia akan mengampuni segala dosa kita dan menyucikan kita dari segala kejahatan." (1 Yohanes 1:9).

Kita harus menyadari betul tanpa Tuhan kita bukanlah apa-apa. Tuhan menjanjikan curahan Roh-Nya ke atas diri kita, yang akan memungkinkan kita mampu menjalani kehidupan yang berat di muka bumi ini, mengalami banyak mukjizat yang bisa kita pergunakan sebagai kesaksian, dan juga membuat kita menerima kuasa yang memampukan kita untuk menjadi saksi dimanapun kita berada. (Kisah Para Rasul 1:8). Ini adalah hal yang sangat penting untuk kita perhatikan dalam memasuki tahun yang baru dengan segala kondisi yang mungkin sedikit banyak sepertinya tidak menjanjikan. Bagi saya, kitab Yoel ini terasa sangat memberkati dalam menghadapi perjalanan sepanjang tahun ini. Marilah kita berbenah diri menyongsong tahun yang baru sejak awal agar semua yang baik yang disediakan Tuhan bisa kita alami tanpa kurang sedikitpun.

Tuhan menjanjikan Roh Kudus tercurah ke atas anak-anakNya yang taat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, January 4, 2017

Berbalik (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Pemulihan setelah kehancuran akibat penyimpangan-penyimpangan yang telah kita perbuat pun Dia janjikan pula. "Aku akan memulihkan kepadamu tahun-tahun yang hasilnya dimakan habis oleh belalang pindahan, belalang pelompat, belalang pelahap dan belalang pengerip, tentara-Ku yang besar yang Kukirim ke antara kamu." (ay 25). Dari sana, "maka kamu akan makan banyak-banyak dan menjadi kenyang, dan kamu akan memuji-muji nama TUHAN, Allahmu, yang telah memperlakukan kamu dengan ajaib; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya. Kamu akan mengetahui bahwa Aku ini ada di antara orang Israel, dan bahwa Aku ini, TUHAN, adalah Allahmu dan tidak ada yang lain; dan umat-Ku tidak akan menjadi malu lagi untuk selama-lamanya." (ay 26-27).

Semua ini hadir sebagai janji Tuhan kepada orang yang mau berbalik dari jalannya yang keliru dan melakukan pertobatan sungguh-sungguh. Tidak hanya itu, pencurahan Roh Allah yang memberkati secara rohani pun juga Tuhan janjikan, seperti ayat-ayat pada perikop selanjutnya dalam Yoel 2:28-32.

Kalau membaca kitab Yeremia kita bisa pula melihat salah satu hasil dari pertobatan yang berkenan di hadapan Tuhan. "Kata mereka: Bertobatlah masing-masing kamu dari tingkah langkahmu yang jahat dan dari perbuatan-perbuatanmu yang jahat; maka kamu akan tetap diam di tanah yang diberikan TUHAN kepadamu dan kepada nenek moyangmu, dari selama-lamanya sampai selama-lamanya." (Yeremia 25:5). Dengan bertobat, kita akan bisa tetap diam di tanah yang diberikan Tuhan.

Tanah seperti apa? Tanah yang berlimpah susu dan madunya seperti yang berulang-ulang disebutkan dalam kitab Keluaran, Bilangan, Ulangan dan beberapa kitab lainnya. Sebuah tanah yang penuh dengan hujan awal dan hujan akhir. Sebuah tanah dimana segala sesuatu dipulihkan berkelimpahan. Inilah tempat yang seharusnya kita peroleh sebagai pemberian Allah. Dengan bertobat secara sungguh-sungguh, maka kita pun bisa kembali mendiaminya, tidak peduli sejauh manapun kita sudah tersesat dan menyimpang dari tanah yang Dia janjikan itu.

Tuhan begitu mengasihi kita, kita begitu berharga dan mulia di mataNya, sehingga segala yang baik telah Dia sediakan kepada kita dengan segala kelimpahan di dalamnya. Kalaupun kita menyimpang, sebuah pertobatan sungguh-sungguh akan mengantarkan kita kembali menempati posisi seperti yang Dia inginkan. Tuhan selalu begitu rindu agar tidak satupun anakNya terhilang dan terlepas dari peluang mendapatkan segala yang baik ini. Seruan bertobat pun berulang-ulang kita dapati bahkan sampai kitab Wahyu.

Memasuki tahun baru 2017, mari kita perbaharui ketaatan dan kesetiaan kita. Jika ada hal-hal di antara yang kita lakukan ternyata masih menyimpang, marilah kita segera berbalik dan kembali kepadanya. Mari songsong tahun yang baru dengan semangat baru, dengan komitmen baru, sehingga berkat-berkat berkelimpahan Tuhan bisa menjangkau kita semua di tahun ini tanpa terhalang oleh apapun.

God allows u-turns. Repent and turn back to Him

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, January 3, 2017

Berbalik (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yoel 2:23
=============
"Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu."

Suatu kali saya hendak mencari sebuah alamat tujuan di kota lain. Belum ada fasilitas GPS atau aplikasi-aplikasi di smart phone yang bisa membantu kita menemukan jalan dengan mudah pada saat itu. Hanya berbekal alamat, saya pun mencoba menemukannya dengan tanya sana-sini. Beberapa kali saya melewatkan arah yang dimaksud oleh para penunjuk jalan. Harusnya tinggal memutar saja, beres. Tapi saya 'sok tahu', mengira bahwa belokan berikutnya akan sama saja. Yang terjadi kemudian, saya tersesat, tidak lagi tahu harus ke arah mana. Sementara jalan itu sudah sangat jauh dari kota dan sangat sunyi. Mengingat kota itu masih asing buat saya yang baru pertama kali datang kesana, tersesat di jalan yang sunyi di malam hari tentu bukan sesuatu yang menyenangkan. Seandainya saja saat itu saya cepat berbalik arah selagi masih ingat jalannya, saya tidak harus tersesat seperti itu. Untunglah bebeapa waktu kemudian saya berhasil bertemu orang-orang yang menunjukkan jalan sehingga saya bisa kembali mencapai hotel.

Dalam kehidupan kita tidak bisa dipungkiri bahwa ada kalanya kita mengambil langkah-langkah yang salah. Sama seperti ketika anda salah jalan dalam berkendara, ada begitu banyak percabangan dalam perjalanan kehidupan kita, dan jika kita salah mengambil jalan maka kita pun bisa tersesat, sehingga gagal mencapai tujuan kita. Semakin lama kita salah jalan, maka semakin repot pula kita untuk kembali ke jalur yang benar. Itulah sebabnya kita harus segera berbalik begitu menyadari bahwa kita mengambil arah yang salah secepat mungkin, sebelum semuanya menjadi semakin berat dan suatu ketika nanti sudah terlambat untuk diperbaiki lagi.

Kitab Yoel berbicara mengenai bagaimana mengerikannya hukuman Tuhan yang dijatuhkan kepada bangsa Yehuda yang secara nasional sudah menyimpang dari ajaranNya. Disana kita melihat serbuan belalang yang menakutkan (Yoel 1:4), dimana serbuan belalang itu menimbulkan kerusakan sangat parah pada pertanian dan perekonomian mereka. (ay 7-12). Tidak ada lagi gandum, anggur dan minyak, sehingga mereka tidak bisa lagi mempersembahkan korban curahan. (ay 9-13). Bukankah semua ini merupakan gambaran kehancuran yang mengerikan bagi sebuah bangsa? Dan itulah yang terjadi, disebabkan oleh kesalahan bangsa itu sendiri yang terus menyimpang dari ketetapan Tuhan.

Menyikapi hal ini, Yoel menyampaikan seruan Allah pada mereka yang telah menyimpang. Yoel berdoa bagi semuanya. (ay 19). Yoel meminta bangsa Yehuda untuk melakukan tiga hal: meratap (ay 8,13), berkabung (ay 13) dan  puasa (ay 14). Yoel menyerukan agar bangsa Yehuda yang sudah terlanjur tersesat untuk segera berbalik kembali pada Tuhan dengan hati yang koyak. "Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada TUHAN, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia, dan Ia menyesal karena hukuman-Nya." (Yoel 2:13). Sebuah pertobatan dengan hati terkoyak punya kekuatan untuk mendorong Tuhan menghentikan hukuman kemudian mengembalikan belas kasihNya secara berlimpah untuk turun atas umatNya. Yoel 2:18-27 berbicara mengenai janji Tuhan yang luar biasa pada bangsa yang bertobat. Pemulihan luar biasa atas pertanian yang penuh kelimpahan, curah hujan yang cukup, kehormatan, semua akan mereka peroleh begitu mereka bertobat dengan sungguh-sungguh. Tuhan kita adalah Tuhan yang penuh kasih, adil, setia dan selalu siap untuk mengampuni siapapun yang datang kepadanya dengan hati hancur untuk bertobat, meninggalkan kesesatan mereka dan kembali pada jalan yang benar, kembali kepada Tuhan.

Meski menyimpang sejauh apapun, Tuhan tetap menyambut anak-anakNya yang berbalik kembali kepadaNya dengan segera dan dengan penuh sukacita, seperti apa yang dicontohkan Yesus dalam perumpamaan anak yang hilang. Dalam kitab Yoel pun gambaran Allah yang sama bisa kita lihat pula. Mari kita lihat janji Tuhan kepada umatNya yang bertobat. "Hai bani Sion, bersorak-soraklah dan bersukacitalah karena TUHAN, Allahmu! Sebab telah diberikan-Nya kepadamu hujan pada awal musim dengan adilnya, dan diturunkan-Nya kepadamu hujan, hujan pada awal dan hujan pada akhir musim seperti dahulu. Tempat-tempat pengirikan menjadi penuh dengan gandum, dan tempat pemerasan kelimpahan anggur dan minyak." (Yoel 2:23-24). Ini seruan Allah yang menjanjikan hujan awal, masa menanam atau investasi, hingga hujan akhir, masa menuai yang sama berkelimpahan.

(bersambung)


Monday, January 2, 2017

With God Throughout the Year (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Berkat yang sama sudah dipersiapkan Tuhan untuk kita dalam memasuki tahun yang baru. Kita mungkin belum melihatnya, tapi sesungguhnya apa yang disediakan Tuhan adalah tahun yang subur, melimpah susu dan madunya, tahun yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit alias tahun yang subur dan sangat menjanjikan, dan diatas semua itu, Tuhan sudah berjanji untuk memelihara kita berjalan di dalamnya, mulai dari awal sampai akhir tahun. Ini janji Tuhan yang luar biasa yang seharusnya bisa membuat kita tidak perlu kuatir dalam memasuki tahun 2017.

Tuhan tentu punya rencana dalam menempatkan kita dimanapun kita berada saat ini. Situasi yang kita alami mungkin saja tidak atau belum kondusif, mungkin kita masih berada dalam bentuk-bentuk tekanan atau mengalami ketidak-adilan. Mungkin semua usaha kita masih belum memperoleh tepat seperti yang diharapkan. Atau mungkin, kita masih terus terbentur berbagai hambatan dalam berusaha. Tahun ini bagi sebagian orang masih terlihat gelap, tetapi jangan lupa bahwa ada setitik cahaya di depan sana yang menjanjikan masa depan yang penuh harapan.

Apa yang Tuhan rencanakan adalah sesuatu yang indah. Ia menyediakan segala sesuatu dalam kelimpahan, ditambah penyertaannya bagi kita sepanjang tahun. Bukankah Tuhan sudah mengatakan bahwa Dia sendiri yang akan memelihara kita dari awal sampai akhir tahun? Bukankah itu seharusnya cukup untuk membuat kita tenang dan bisa melangkah pasti? Masalah mungkin belum akan selesai, mungkin kita masih harus bergumul dalam banyak hal tahun ini, tetapi tidak ada yang perlu kita takutkan jika Tuhan sudah berjanji akan selalu bersama kita sepanjang perjalanan kita di tahun ini.

Apa yang bisa membuat mata kita luput dari melihat itu semua adalah keraguan dan kecemasan kita sendiri. Seperti bangsa Israel, kita bisa buta dan lupa akan bukti penyertaan Tuhan selama ini apabila kita hanya fokus menimbang berat ringannya masalah. Kita lupa bahwa meski masalah awalnya terlihat ringan, bisa jadi kita tetap kesulitan kalau hanya terus mengandalkan kekuatan sendiri. Mata rohani yang buta bisa membuat kita terus didera rasa takut. Itu bisa membuat segala sukacita tercabut dari diri kita digantikan keluh kesah berkepanjangan yang sama sekali tidak produktif.

Padahal apa gunanya rasa kuatir? Adakah itu membawa sesuatu yang baik? Bukankah Yesus sudah mengingatkan kita seperti ini: "Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta pada jalan hidupnya?" (Lukas 12:25). Itulah sebabnya kita harus merubah pola pikir kita. Jangan lagi menggantungkan hidup kepada situasi dan kondisi tetapi pandanglah janji penyertaan Tuhan seperti yang sudah Dia janjikan sendiri. Dalam Filipi 2:5 Paulus berpesan: "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus". Itulah yang akan memampukan kita untuk melihat bahwa penyertaan Tuhan sesungguhnya selalu ada bersama kita.

Jika diantara teman-teman ada yang  merasa cemas menatap tahun yang baru ini. ingatlah bahwa kita tidak perlu kuatir. Jangan fokuskan pikiran pada segala kesulitan dalam kerumitannya di tahun lalu karena kita sebenarnya dapat melangkah maju dengan fokus yang tertuju kepada Tuhan yang sudah memberikan janjiNya. Seperti Tuhan mengawasi negeri dan umatNya dahulu, seperti itu pula Dia akan melakukannya untuk kita. MataNya pun akan senantiasa mengawasi kita, dan Dia akan berjalan bersama-sama dengan kita dari awal sampai akhir tahun. Tuhan sudah berjanji untuk mengelilingi, mengawasi dan menjaga kita selayaknya biji mataNya (Ulangan 32:10), kita terlukis dalam telapak tanganNya dan berada dalam ruang mataNya (Yesaya 49:16).

Dengan demikian kita tidak perlu ragu. Ada harapan baru di tahun yang baru, rahmatNya akan tercurah baru setiap pagi sepanjang tahun, dan Dia akan terus bersama anda, menggendong anda untuk menikmati tahun ini dengan penuh sukacita.

Oleh karena itu, masukilah tahun yang baru dengan semangat dan gairah baru dengan penuh sukacita dan rasa syukur. Jadikan tahun ini sebagai momen anda membina hubungan yang semakin baik dengan Tuhan. Jangan biarkan apapun menghambat turunnya berkat, pesan dan rencana Tuhan bagi diri anda. Jangan lewatkan saat-saat pribadi bersekutu denganNya, jangan lewatkan kesempatan anda untuk menjadi terang dan garam, jangan isi hidup dengan segala kejahatan tapi isilah dengan kebenaran Firman Tuhan.

Mari jadikan tahun 2017 sebagai tahun yang indah dan penuh berkat. Let's welcome the new year, the new dawn with new hope. Let's have a better year with better connection with God. Selamat Tahun Baru, Tuhan memberkati anda semua.

Tuhan sudah berjanji akan mengawasi kita dari awal sampai akhir tahun. Enter and live the year with joy

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, January 1, 2017

With God Throughout the Year (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ulangan 11:12
==================
"suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun."

Tahun demi tahun yang kita jalani tidaklah mudah. Sudah ada begitu banyak perbaikan di berbagai sektor, tapi nampaknya semua itu belum cukup untuk membuat kita bisa hidup makmur dan damai. Harga bahan pokok masih menjadi pekerjaan rumah, kerukunan antar umat beragama masih ternodai oleh paham-paham ekstrimis. Kesenjangan, ketidakadilan, kesulitan ekonomi, keamanan, itu masih memerlukan perbaikan. Bukan hanya tugas pemerintah tentu, melainkan menjadi tugas kita bersama.

Hari ini kita mulai memasuki lembaran tahun yang baru. Semoga teman-teman masih tetap sama seperti saya, terus menjalani dengan optimis dan penuh pengharapan. Sebagian dari kita mungkin menganggap tahun 2016 sebagai tahun yang sulit. Tapi satu hal, jika kita sudah melewati tahun kemarin dan sekarang siap untuk menjalani tahun yang baru, kalau bangsa ini masih bisa berdiri menyongsong 2017, itu jelas karena Tuhan. Artinya, kita masih punya kesempatan dan tidak seharusnya kehilangan pengharapan.

Kita selalu bisa belajar dari pengalaman mereka yang sudah hidup lebih dulu dari kita, termasuk juga belajar dari pengalaman orang-orang di masa lalu yang dicatat di dalam Alkitab. Pada waktu Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir untuk masuk ke tanah yang dijanjikan Tuhan, bangsa Israel sebenarnya telah mengalami begitu banyak penyertaan Tuhan secara langsung sepanjang perjalanan.

Ada tiang api dan tiang awan untuk menghangatkan disaat dingin dan memayungi mereka disaat panas: "TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam. Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu." (Keluaran 13:21-22), burung puyuh yang diberikan Tuhan karena mereka bersungut-sungut hanya makan roti terus menerus (Keluaran 16:13) dan lain-lain, sampai sebuah mukjizat besar yang secara mencengangkan jauh melewati batas logika kita waktu Tuhan membelah laut Teberau sehingga mereka bisa berjalan melewati laut itu sementara Firaun dan tentaranya habis tersapu laut yang kembali menutup di saat mereka melintasinya. (Keluaran 14).

Ini hanyalah beberapa bukti nyata penyertaan Tuhan yang saat itu mereka saksikan langsung dengan mata kepala sendiri. Apakah bangsa Israel ini menjadi teguh imannya dan bisa percaya penuh kepada Tuhan? Sayangnya tidak. Bukannya bersyukur, mereka terus keras kepala dan berulang-ulang menunjukkan sikap buruk baik lewat keluh kesah bahkan menyembah ilah lain. Ini bahkan terus terjadi hingga beberapa generasi selanjutnya.

Musa berulang kali mengingatkan mereka bahwa mereka seharusnya sadar bahwa mata mereka sendiri sebetulnya sudah menyaksikan segala perbuatan besar Tuhan. "Kamu tahu sekarang--kukatakan bukan kepada anak-anakmu, yang tidak mengenal dan tidak melihat hajaran TUHAN, Allahmu--kebesaran-Nya, tangan-Nya yang kuat dan lengan-Nya yang teracung, tanda-tanda dan perbuatan-perbuatan yang dilakukan-Nya di Mesir terhadap Firaun, raja Mesir, dan terhadap seluruh negerinya; juga apa yang dilakukan-Nya terhadap pasukan Mesir, dengan kuda-kudanya dan kereta-keretanya, yakni bagaimana Ia membuat air Laut Teberau meluap meliputi mereka, ketika mereka mengejar kamu, sehingga TUHAN membinasakan mereka untuk selamanya; dan apa yang dilakukan-Nya terhadapmu di padang gurun, sampai kamu tiba di tempat ini; pula apa yang dilakukan-Nya terhadap Datan dan Abiram, anak-anak Eliab, anak Ruben, yakni ketika tanah mengangakan mulutnya dan menelan mereka dengan seisi rumahnya, kemah-kemah dan segala yang mengikuti mereka, di tengah-tengah seluruh orang Israel." (Ulangan 11:2-6).  Seharusnya seluruh bangsa itu sadar, "Sebab matamu sendirilah yang telah melihat segala perbuatan besar yang dilakukan TUHAN." (ay 7).

Teguran Musa ini berlaku pula bagi kita. Kita seringkali terlalu sibuk terfokus memandang masalah sehingga lupa bagaimana Tuhan telah menyertai kita selama ini. Berbagai bukti nyata penyertaan Tuhan yang pernah kita alami kita kesampingkan atau lupakan karena kita terus fokus hanya kepada masalah yang mendera. Pujian dan ucapan syukur tidak lagi ada, digantikan oleh keluhan, ratapan dan kekecewaan dalam menghadapi berbagai kesulitan hidup.

Benar, hidup masih sulit. Ada banyak di antara kita yang masih bergumul dengan berbagai macam hal. Bangsa Israel pun demikian. Tidaklah mudah untuk berjalan selama 40 tahun untuk menggenapi apa yang Tuhan sediakan buat mereka di depan sana. Apalagi mereka belum mengalami langsung buktinya selagi masih dalam perjalanan. Tapi kalau mereka mau lebih bijaksana, seharusnya mereka melihat bagaimana penyertaan Tuhan dalam hidup mereka sudah begitu nyata mereka alami. Seharusnya mereka bisa mengacu kepada hal itu dan bersyukur pada saat mereka masih mengalami kesulitan demi kesulitan dalam menjalani hidup mereka.

Hal yang sama pula buat kita. Kalau kita menyadari bahwa Tuhan selama ini masih ada bersama kita dalam melewati masa-masa sulit, seharusnya kita tidak putus pengharapan dan bisa memakai iman untuk melihat bahwa rencana Tuhan yang indah menanti di depan sana. Seharusnya kita bisa berkaca pada penyertaan Tuhan yang sudah membawa dampak nyata bagi kita sehingga kita masih ada dan masih bisa berusaha hari ini.

Bangsa Israel tidak kunjung bisa melihat apa yang sebenarnya diberikan Tuhan kepada mereka. Padahal Tuhan sudah melepaskan mereka dari perbudakan di Mesir dan memberi sebuah tanah yang sangat subur, melimpah susu dan madunya. Apa  yang diberikan Tuhan bukanlah sesuatu yang ala kadarnya, bukan pula janji yang hanya main-main saja. "Sebab negeri, ke mana engkau masuk untuk mendudukinya, bukanlah negeri seperti tanah Mesir, dari mana kamu keluar, yang setelah ditabur dengan benih harus kauairi dengan jerih payah, seakan-akan kebun sayur. Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah, yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit." (Ulangan 11:10-11). Dan lebih dari itu, Tuhan juga mengatakan bahwa itu adalah "suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun." (ay 12). Lihatlah betapa besar berkat yang Tuhan sediakan bagi mereka.

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker