Tuesday, January 31, 2017

Meneladani Paulus tentang Hamba Tuhan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 20:33
==========================
"Perak atau emas atau pakaian tidak pernah aku ingini dari siapapun juga."

Hamba Tuhan. Itu sebuah gelar yang sangat terhormat. Seorang hamba Tuhan dituntut untuk menjadi teladan dan berkat bagi sesamanya, menjadi orang-orang terdepan yang menyatakan kasih lewat perbuatan nyata, menjadi cerminan keberadaan Tuhan di dunia, dimana seharusnya orang bisa merasakan kasih Kristus lewat mereka. Apapun jabatannya, apapun gugus tugasnya, seorang hamba Tuhan seharusnya bukan cuma melayani di gereja tapi juga menjadi contoh nyata dari orang yang hidup menurut norma-norma dan nilai-nilai sesuai prinsip kebenaran Firman Tuhan. Hamba Tuhan seharusnya menempatkan dirinya sebagai hamba, sesuai dengan jabatan yang dipegang. Apakah itu yang sudah ditunjukkan oleh hamba-hamba Tuhan yang ada di sekitar kita hari ini? Atau, jika anda melayani sebagai hamba Tuhan, apakah anda sudah melakukan itu?

Sayangnya ada banyak hamba Tuhan yang tidak merepresentasikan Tuhan sesuai dengan jabatannya. Mereka masih tergoda oleh hal-hal duniawi seperti iri hati, dengki, cemburu dan sejenisnya. Itu masih mudah kita temukan di kalangan internal para pelayan Tuhan, bahkan pendeta dan pengurus-pengurus gereja pun banyak yang terjangkit penyakit sama. Menjelekkan orang lain, menghasut bahkan memfitnah menjadi dampak dari mereka yang dari luar tampak melayani tapi sikap hati dan motivasinya masih perlu dipertanyakan. Diluar tampak baik, tapi itu hanya topeng karena dibelakang sifatnya tidak berbeda atau bahkan jangan-jangan lebih buruk dari orang yang tidak mengenal Kristus.

Yesus pernah mengatakan "Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit." (Matius 9:37a). Jika pekerja saja sudah dikatakan sedikit, jumlahnya akan menyusut lebih sedikit lagi kalau ditambahkan kata "yang motivasinya benar" di depan kata "pekerja". Melayani Tuhan adalah kewajiban bagi kita. Menjadi terang dan garam, menyampaikan kabar gembira, kabar tentang keselamatan merupakan Amanat Agung yang disampaikan Yesus tepat sebelum Dia naik ke Surga. Artinya ini tugas yang berlaku bagi kita semua tanpa terkecuali dan sifatnya sangat penting. Tapi tidak kalah penting pula untuk memastikan bahwa itu dilakukan dengan motivasi-motivasi yang benar. Sebab pada kenyataannya seperti yang saya sampaikan di atas, ada banyak orang yang keliru mengartikan hal melayani.

Mereka mengira bahwa melayani bisa membawa keselamatan atau keistimewaan-keistimewaan di banding orang lain. Kalau sudah melayani, berarti tidak perlu lagi mempelajari, mendalami dan menghidupi firman Tuhan, tidak perlu lagi membangun hubungan erat secara pribadi dengan Tuhan. Ada yang melayani karena ingin hidupnya aman lancar tanpa gangguan, supaya usahanya untung besar dan jauh dari kebangkrutan, supaya cepat kaya, sukses dan sebagainya. Mereka melayani karena pamrih, seolah menyogok Tuhan untuk memenuhi segala keinginannya. Ada pula yang melayani karena ingin dikenal atau terkenal. Pemain musik cuma mau melayani di ibadah raya tapi menolak melayani di sekolah minggu. Kenapa melayani harus pilih-pilih? Ya tentu saja, mereka ingin pamer dan dilihat hebat oleh jemaat saat bermain musik. Ada juga yang melayani karena mencari Persembahan Kasih (PK)  atau mengincar sumber uang masuk lainnya. Hamba Tuhan yang pilih-pilih gereja, dimana PK nya lebih besar, itu juga bukan lagi sesuatu yang aneh. Dan motivasi-motivasi lainnya.

Seperti apa sebenarnya motivasi yang harus dimiliki oleh para pengerja atau pelayan Tuhan? Bagaimana seharusnya agar kita tidak sampai mencuri kemuliaan yang seharusnya menjadi milik Tuhan yang bisa membuat Tuhan kecewa atau bahkan marah lewat sikap buruk kita dalam melayani?

Alangkah baiknya apabila kita belajar lewat sosok Paulus. Saya yakin tidak ada yang meragukan kegigihan, keseriusan dan kesabaran Paulus dalam melayani. Dampak dari pelayanannya begitu hebat sehingga sulit membayangkan bagaimana kita hari ini jika Paulus tidak ada atau tidak menjalankan pelayanannya.

(bersambung)


Monday, January 30, 2017

Dibalik Kesedihan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Apa yang kita pikirkan saat berada di sebuah kemeriahan pesta? Kebanyakan dari kita tentu lebih tertarik kepada makanan yang disajikan. Apa isi dari meja-meja kecil di sisi-sisi ruangan, makanan apa yang disajikan di meja panjang prasmanan, apakah musiknya bagus atau tidak, apakah baju kita yang bagus sudah setara elegan dan mewahnya dengan para tamu lainnya dan sebagainya. Saat berada di tempat-tempat hiburan, kita pun cenderung lupa akan esensi hidup dan terlarut dalam kegembiraan yang seringkali hanya berisi kebahagiaan semu. Bahkan tidak jarang orang berkenalan dengan dosa di tempat-tempat hiburan.

Sebaliknya, berada di rumah duka seringkali membawa momen-momen perenungan bagi kita. Disana kita diingatkan bahwa hidup ini sesungguhnya singkat saja. Dalam Mazmur dikatakan: "Manusia sama seperti angin, hari-harinya seperti bayang-bayang lewat." (Mazmur 144:4). Seperti itulah singkatnya. Berapa lama? Alkitab berkata masa hidup kita tujuh puluh tahun, dan jika kuat, delapan puluh tahun. (90:10). Tujuh puluh tahun, kalau mujur, 80 tahun. Ada yang lebih dari itu, tapi tetap saja jauh lebih singkat dibanding masa yang kekal. Alangkah sia-sianya jika masa hidup yang singkat itu kita buang tanpa diisi dengan sesuatu yang berguna, terutama untuk diisi dengan hal-hal yang sesuai dengan ketetapan Tuhan. Kalau masa hidup yang singkat ini diisi dengan menjadi pelaku-pelaku firman yang tentu baru bisa dilakukan kalau kita kenal baik dengan ketetapan-ketetapanNya, itu akan sangat bermanfaat bagi kehidupan kekal yang akan kita masuki selanjutnya. Betapa kita seringkali terlena dan lupa akan hal ini ketika kita sedang bersenang-senang. Tetapi berada di rumah duka biasanya akan mengingatkan kita dan membawa perenungan bagi kita. Itulah sebabnya dikatakan lebih baik berada di rumah duka ketimbang di tempat pesta dimana orang bersukaria.

Seperti yang saya sampaikan di awal, ada ayat dalam Pengkotbah yang berkata: "To everything there is a season, and a time for every matter or purpose under heaven", "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkotbah 3:1). Ada berbagai "musim" dalam hidup kita yang mau tidak mau harus kita hadapi. Termasuk salah satunya dikatakan "ada waktu untuk menangis, ada waktu untuk tertawa; ada waktu untuk meratap; ada waktu untuk menari." (ay 4). Ada saat dimana kita bisa bergembira, tetapi ada pula saat dimana kita masuk ke dalam waktu untuk menangis dan meratap. Ini bukanlah waktu dimana Tuhan sedang bertindak kejam dan sedang bersenang-senang menyiksa kita. Ketika kita sedang berada dalam sebuah kesedihan, disanalah kita bisa belajar banyak dan sadar bahwa kita seharusnya mengisi hidup kita yang singkat ini dengan hal-hal yang bermanfaat bagi sesama maupun bagi masa depan kita.

Maka dari itu jangan sia-siakan waktu bersedih hanya dengan mengeluh dan menangis, tetapi pakailah masa-masa itu untuk melakukan perenungan secara menyeluruh. Sadarilah bahwa ada banyak pelajaran yang bisa kita petik di balik sebuah kesedihan. Karenanya jika Tuhan mengijinkan kita untuk berada dalam keadaan bersedih, bersyukurlah untuk itu.

Bersyukur dalam keadaan bersedih sesuai dengan firman Tuhan berikut; "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18) Kita diingatkan untuk tetap bersyukur bukan hanya dalam beberapa hal, tetapi dalam segala hal. Artinya, meski kita sedang berada dalam kesesakan, masa-masa sulit atau bahkan saat tertindas, kita seharusnya tetap bisa bersyukur. Dibalik sebentuk kesedihan ada banyak manfaat yang bisa membuat kita menjadi lebih baik lagi termasuk di dalamnya mengalami pertumbuhan iman. Ada waktu dimana kita bersedih, pakailah itu sebagai momen untuk memperbaiki diri, beljar lebih banyak dan kembali menyadari esensi dari sebuah kehidupan yang dipercayakan Tuhan kepada kita, sehingga ketika saatnya untuk tertawa tiba, kita tidak akan terlena didalamnya dan melupakan esensi dan tugas kita.

Apakah anda sedang berada dalam "musim" bersedih hari ini? Jika ya, jangan patah semangat, jangan putus asa, tetapi bersyukurlah dan pergunakan musim tersebut untuk mempelajari lebih jauh tentang ketetapanNya. Jangan lupa pula, itu adalah kesempatan emas dimana anda bisa merasakan secara langsung jamahan Tuhan yang luar biasa.

Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari kesedihan, tetaplah bersyukur

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, January 29, 2017

Dibalik Kesedihan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Pengkotbah 7:3
=====================
"Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega."

Ada beberapa teman saya yang sifatnya melankolis. Mereka mudah terharu dan mudah sedih. Mereka punya perasaan sensitif sehingga hatinya gampang tersentuh. Saya pernah menanyakan pada beberapa dari mereka, ternyata mereka mengatakan kalau boleh memilih, mereka lebih suka bergembira ketimbang bersedih. Bagaimana dengan para pria? Bukankah sejak kecil pria dianjurkan, dididik atau bahkan bagi sebagian orang diharuskan untuk tabu terhadap yang namanya sedih? Banyak juga orang yang percaya bahwa bersedih apalagi kalau sampai menangis itu mengekspos kelemahan. Atau, orang yang menangis dianggap seperti anak-anak. Padahal, sebaik-baiknya hidup, akan ada saat dimana kita harus bersedih dan mengeluarkan air mata. Bagaimana hal ini disampaikan di Alkitab?

Di satu sisi Tuhan tidak menginginkan kita menjadi orang-orang yang dipenuhi kesedihan melainkan ingin anak-anakNya menjadi pribadi yang penuh sukacita dengan merasakan kasih dan penyertaanNya. Tapi sekali waktu, mau tidak mau memang kita harus masuk ke dalam masa-masa bersedih. Itu adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari oleh siapapun. Ada banyak ayat dalam Alkitab yang mampu menguatkan kita untuk kembali merasakan sukacita saat berada dalam kondisi sulit, dalam tekanan maupun saat tertindas, tapi juga mengingatkan bahwa segala sesuatu di kolong langit, dalam kehidupan kita di dunia, ada masanya. Termasuk masa bersedih.

Ada sebuah ayat yang terdengar sangan kontroversial yang isinya seolah berlawanan dengan ayat-ayat yang menguatkan. Dibuka dengan judul perikop "Hikmat yang benar", Pengkotbah mengatakan "Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega." (Pengkotbah 7:3). Bersedih lebih baik dari tertawa, dan itu dirangkum dalam bagian yang disebut 'hikmat yang benar'. Ditulis oleh orang paling berhikmat yang pernah ada di bumi yaitu Salomo. Aneh bukan? Ayat ini seolah menganjurkan kita untuk bersedih, karena itu dikatakan lebih baik ketimbang bergembira. Benarkah demikian? Apakah Tuhan sebenarnya ingin kita menjadi pribadi-pribadi yang kerap diliputi kesedihan, bermuka muram dan tidak ceria? Lalu, adakah keuntungan yang bisa kita peroleh dari kesedihan yang diijinkan Tuhan untuk kita rasakan? Kalau ada, apa saja?

Seperti yang saya sampaikan diatas, Tuhan tidak ingin kita berada dalam kesedihan berlarut-larut. Dia memberi begitu banyak tips dan janji yang bisa meneguhkan, menguatkan dan mengembalikan kita ke dalam rasa bahagia, penuh damai sejahtera dan sukacita. Tapi ada saat dimana kita harus bersedih, dan itu tidak salah sepanjang tidak dibiarkan berlarut-larut dan membuat hubungan kita menjadi renggang dengan Tuhan. Disaat seperti itu, ternyata masih ada hal positif yang bisa kita petik agar hidup kita menjadi lebih kuat, lebih bijaksana dan lebih baik dari sebelumnya.

Mari kita lihat ersi bahasa Inggrisnya. Ayat bacaan kita hari ini berbunyi: "Sorrow is better than laughter, for by the sadness of the countenance the heart is made better and gains gladness." Ayat ini sebenarnya mengatakan, bahwa bersedih ternyata tidaklah selalu harus buruk. Itu bisa lebih baik daripada tertawa, karena kesedihan yang membuat muka muram mampu membuat hati tarasa lebih baik, lega dan kemudian mendatangkan kesenangan hati. Ayat ini mendobrak paradigma yang selama ini kita anggap benar, yaitu bahwa kita sama sekali tidak boleh bersedih apapun situasinya, apapun kondisinya. Artinya, meski kita harus hidup dengan penuh sukacita, kalau memang harus bersedih, bersedihlah karena itupun bisa mendatangkan kebaikan bagi kita.

Seperti yang sudah saya sampaikan dalam renungan kemarin, Daud menyadari bahwa keadaan yang bisa mendatangkan kesedihan sangatlah baik dipakai sebagai waktu untuk belajar ketetapan-ketetapan Tuhan. "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." (Mazmur 119:71). Daud tidak mempergunakan masa-masa sulit sebagai alasan untuk menjadi lemah, merasa kecewa kepada Tuhan, merasa putus asa, hilang harapan dan sebagainya. Ia justru merasa bahwa itu membuka kesempatan baginya untuk mendalami ketetapan Tuhan lebih jahu. Disanalah ia bisa belajar lebih banyak dari sebelumnya dan menjadikan itu sebagai momen untuk merasakan luar biasanya jamahan Tuhan.

Bukankah manusia cenderung malas dan manja kalau hidup selalu berjalan baik? Maka keadaan sulit mengingatkan kita untuk mengandalkan Tuhan. Itu adalah kesempatan untuk kembali menata hidup seandainya sudah mulai melenceng dari jalan yang seharusnya, memperbaiki segala kesalahan yang akan kita sadari kalau kita belajar lebih jauh mengenai ketetapan Tuhan. Jadi kalau sekali waktu kita harus mengalami situasi yang tidak baik, jika kita memang harus bersedih, sikapi dengan baik dan pergunakan dengan baik pula. Itu akan mendatangkan kebaikan bagi kita, memberi kelegaan dan membuat kita bisa merasakan sukacita lebih dari waktu-waktu dimana kita sedang bergembira tanpa masalah.

Ternyata ada banyak yang bisa kita pelajari dibalik kesedihan. Kita bisa belajar untuk lebih kuat, lebih tegar, dan terlebih, kita bisa belajar mengandalkan Tuhan lebih dari segalanya, kita bisa belajar lebih sabar dan tabah. Ini adalah hal-hal yang jarang bisa kita peroleh lewat kegembiraan. Kegembiraan seringkali membawa kita terlena dan lupa kepada hal-hal yang esensial atau penting dalam kehidupan yang singkat ini. Bukan kita tidak boleh bergembira, tetapi ada banyak hal di balik sebuah bentuk kesedihan yang akan mampu membuat kita bertumbuh lebih baik, lebih kuat dan lebih dewasa. Karena itu ketika Tuhan menuntun kita untuk masuk ke dalam keadaan sedih, janganlah bersungut-sungut dan menuduh Tuhan sedang berlaku kejam kepada kita. Justru disaat seperti itulah kita sedang dilatih untuk lebih baik lagi, sedang diajar untuk mengalami peningkatan baik dari segi iman maupun sikap dan perilaku kita sebagai pribadi.

Ada juga ayat dalam Pengkotbah 7:3 yang sama kontroversial: "Bersedih lebih baik dari pada tertawa, karena muka muram membuat hati lega." Kalau kita lanjutkan pada ayat selanjutnya, kita akan mendapati ayat yang juga sama kontroversialnya, yang berbunyi: "Orang berhikmat senang berada di rumah duka, tetapi orang bodoh senang berada di rumah tempat bersukaria." (ay 4). Kalau kita mau jujur, dimana kita lebih senang berada, di rumah duka atau pesta? Tentu kita lebih memilih berada dalam sebuah pesta meriah, penuh dengan sajian makanan lezat, musik dan keceriaan. Tetapi Firman Tuhan berkata justru sebaliknya, bahkan lumayan keras. Hanya orang bodohlah yang lebih memilih tempat bersukaria ketimbang berada di rumah duka. Kalau hanya sepintas ayat ini tentu sulit kita terima. Tetapi marilah kita melihat mengapa berada di rumah duka itu lebih baik bagi orang berhikmat dibanding di pesta.

(bersambung)


Saturday, January 28, 2017

Sisi Positif dari Tertindas (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Saat mengalami itu sama sekali tidak enak, bahkan bisa jadi bukan main perih rasanya. Itu benar. Kabar baiknya, seperti pengalaman saya sendiri, ternyata Tuhan tidak membiarkan kita sendirian melewati penderitaan. Dia senantiasa menyertai kita dalam situasi sesulit apapun kalau kita mau belajar mengandalkanNya. "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati" (Ulangan 31:8).

Sewaktu-waktu Dia memberikan kekuatan, ketegaran bahkan kelegaan agar kita bisa melewati proses pembentukan itu sepenuhnya. Tuhan juga sudah berjanji bahwa sekalipun kita harus berjalan dalam lembah kekelaman, gada dan tongkatNya akan selalu beserta kita, menjauhkan kita dari bahaya dan mendatangkan penghiburan (Mazmur 23:4).

Daripada membiarkan penderitaan berjalan sia-sia dan hanya dipenuhi rasa sakit, mengapa kita tidak manfaatkan keadaan tertindas yang penuh penderitaan sebagai sebuah proses untuk belajar patuh mengikuti firman Tuhan? Dan lihat apa kata Tuhan ketika hidup kita berkenan padaNya. "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab TUHAN menopang tangannya." (Mazmur 37:23-24). Cara pandang dalam menyikapi hidup akan sangat berperan, apakah kita hanya akan menjadikannya sebagai momen kejatuhan kita atau justru kebangkitan kita menuju hari depan yang jauh lebih baik dari sebelumnya.

Apabila di antara teman-teman saat ini ada yang tengah merasakan penderitaan atau berada dalam keadaan tertindas, belajarlah banyak akan ketetapanNya. Pakailah itu sebagai momen untuk membentuk diri untuk menjadi pribadi-pribadi pemenang. Tuhan bisa memakai masalah sebagai sarana untuk mengoreksi kita dan membentuk ulang diri kita. Lewat penindasan atau penderitaan Tuhan bisa mengikis ego kita, membuat kita menjadi pribadi baru yang seturut dengan kehendakNya.

Jangan sia-siakan, jangan keraskan hati, jangan buru-buru negatif apalagi menyalahkan Tuhan. Pada suatu hari nanti, seperti saya, anda akan bersyukur pernah dilatih Tuhan melalui penindasan atau masalah untuk menjadi pribadi yang kuat, tegar dan taat, yang mengalami kasih Tuhan yang luar biasa dalam banyak hal serta memiliki kerinduan pula untuk menjadi umatNya yang mewakili otoritas Kerajaan dalam menjadi terang dan garam dimana kita ada saat ini.

Never let a bad situation bring out the bad in you. Choose to do good and God will show you just how good He really is

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, January 27, 2017

Sisi Positif dari Tertindas (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 119:71
==========================
"Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu."

Tidak satupun dari kita yang mau beada dlaam keadaan tertindas. Kalau boleh memilih, kita tentu ingin berada senantiasa dalam keadaan baik, tanpa kurang suatu apapun. Lebih bagus lagi kalau bukan hanya baik, tapi melimpah. Tapi akan ada masanya dimana kita harus keluar dari keadaan baik, subur dan berlimpah untuk masuk ke dalam masa padang gurun. Suka atau tidak, karena salah kita atau tidak. Ada kalanya Tuhan punya sebuah rencana besar yang hanya akan bisa kita genapi kalau sudah melewati masa-masa sulit terlebih dahulu. Selain itu, ada kalanya Tuhan ingin kita belajar sesuatu yang akan sangat berharga, yang tidak mungkin bisa kita peroleh tanpa harus melewati masa penderitaan.

Saya salah satu orang yang sudah mengalami itu. Di saat saya baru bertobat, saya tidak mengerti kenapa saya harus masuk ke dalam masa kesusahan yang luar biasa beratnya, jauh lebih berat dari masa sebelum saya bertobat. Penderitaan datang beruntun dalam rentang waktu yang dekat. Satu belum beres sudah datang lagi yang lain. Itu terjadi bukan untuk waktu yang singkat melainkan harus saya alami sekitar 5 tahun.

Sampai hari ini, sepanjang hidup saya itulah 5 tahun terberat. Tetapi hari ini saya bisa berkata bahwa masa penderitaan 5 tahun itu merupakan masa yang terpenting dalam hidup saya. Disana saya mengalami transformasi, belajar banyak mengenai ketetapan Tuhan. Lewat proses itu saya dibentuk ulang, diubahkan dari hidup lama yang buruk kepada sebuah paradigma hidup yang sesuai kebenaran. Tidak mudah mengubah pola hidup dan pola pikir yang sudah terbentuk sejak kecil, tapi lewat masa-masa sukar, di padang gurun itu saya menemukan jati diri yang baru sebagai murid Kristus. Saya tidak akan menjadi saya hari ini tanpa masa penderitaan itu.

Tertindas itu ternyata ada baiknya. Rasa sakit, berada dalam penderitaan, ternyata bisa membuat kita belajar banyak hal. Itu bisa mendewasakan dan membentuk karakter yang jauh lebih kuat dan bijaksana dari sebelumnya. Seringkali manusia harus belajar lewat rasa sakit untuk bisa mengerti. Orang tidak akan bisa naik sepeda kalau belum pernah terjatuh, orang sulit menghargai kesehatan sebelum merasakan sakit. Kita tidak tahu perihnya terbakar kalau belum merasakan panasnya api.

Jadi ada waktunya kita memang perlu merasakan penderitaan, sehingga kita bisa menghargai yang namanya kebahagiaan dengan baik. Ada banyak pelajaran yang hanya bisa kita peroleh melalui penderitaan, saat tertindas atau saat menghadapi kegagalan. Tuhan kerap memakai keadaan itu untuk membawa kita mengalami peningkatan dari sisi iman hingga dewasa, kuat dan tahan uji.

Hal itulah yang disadari Daud. Seperti kita, Daud pun pernah mengalami banyak ketidakadilan, penindasan dan kesukaran. Bedanya, Daud tidak terfokus pada penderitaan tapi ia mendapatkan pemikiran positif dengan menyadari bahwa itu adalah saatnya untuk belajar. Katanya: "Sebelum aku tertindas, aku menyimpang, tetapi sekarang aku berpegang pada janji-Mu." (Mazmur 119:67). Lantas ia melanjutkan: "Bahwa aku tertindas itu baik bagiku, supaya aku belajar ketetapan-ketetapan-Mu." (ay 71).

Daud menyadari bahwa berada dalam posisi tertindas itu bukan berarti bahwa hidupnya tamat, kesempatan tertutup, tapi justru semua itu merupakan waktunya untuk belajar ketetapan-ketetapan Tuhan, mengalami pembentukan karakter agar lebih dewasa, menyadari bahwa ia harus belajar untuk mengandalkan Tuhan dan berhenti bergantung pada kekuatan manusia yang terbatas.

(bersambung)


Thursday, January 26, 2017

How Much Longer (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Lihat bagaimana Daud kembali tegar dan mengubah pola pandangnya. "Tetapi aku, kepada kasih setia-Mu aku percaya, hatiku bersorak-sorak karena penyelamatan-Mu. Aku mau menyanyi untuk TUHAN, karena Ia telah berbuat baik kepadaku." (ay 6). Daud tahu bagaimana pentingnya ucapan syukur, ia bahkan bisa memerintahkan hatinya untuk bersorak-sorak karena penyelamatan Tuhan yang sebenarnya belum ia dapatkan pada waktu itu. Ia mau bernyanyi karena Tuhan ia katakan TELAH (bukan akan) berbuat baik kepadanya, walaupun sebenarnya situasi yang ia hadapi belum pulih. Inilah sebuah kebesaran iman yang ditunjukkan Daud. Luar biasa bukan? Meskipun ia masih dalam kesesakan, Daud bisa kembali bangkit, memuji Tuhan, bersorak dan bernyayi untukNya dan mengatakan bahwa Tuhan telah berbuat baik kepadanya.

Apa yang membuat Daud yang notabene juga manusia sama seperti kita bisa berkata demikian? Saya percaya Daud bisa seperti itu karena tidak melupakan pengalaman hidupnya. Disaat ia masih sangat muda ia sudah mampu mengalahkan raksasa Goliat dengan mengandalkan imannya kepada Tuhan.

Kemudian mari kita lihat siapa Daud itu. Daud tadinya bukan siapa-siapa, ia bahkan tidak dipandang ayahnya sendiri ketika Samuel hendak mengambil salah satu dari anaknya untuk menjadi raja. (1 Samuel 16:1-13). Daud hanyalah seorang anak yang tidak dianggap penting yang hanya dipercaya untuk menggembalakan kambing domba. Tapi lihatlah ternyata ia dipilih Tuhan untuk menjadi raja Israel. Dari padang rumput ke singgasana di istana, dari bukan siapa-siapa menjadi raja yang dikenang sepanjang masa, bahkan dikatakan jelas di dalam Alkitab bahwa si anak yang tadinya tidak ada apa-apanya ini merupakan figur yang melakukan kehendak Allah pada zamannya (Kisah Para Rasul 13:36). Dalam berbagai kesempatan Daud secara langsung mengalami penyertaan Tuhan atas hidupnya dalam begitu banyak kesempatan. Jika dulu semua itu mampu dilakukan Tuhan, bagaimana mungkin Tuhan sekarang tidak bisa menolongnya? Daud menyadari hal itu. Ia sudah mengalami banyak bukti sehingga ia pun bisa bangkit dan kembali mempercayakan hidup sepenuhnya ke dalam tangan Tuhan dalam iman yang kuat.

Di saat kita merasa sendirian menghadapi masalah, mungkin suatu kali kita berpikir seolah Tuhan tega membiarkan kita bergumul seorang diri. Tapi jangan biarkan perasaan itu menguasai kita berlarut-larut. Seperti Daud, segeralah bangkit. Berbaliklah segera dan kembalilah menyerahkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan, tetap puji dan ucapkan syukur kepadaNya. Percayalah jika dahulu Tuhan sanggup, saat ini pun Dia sanggup, sebab Tuhan tidak tidak pernah berubah. Dalam Ibrani dikatakan "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8). Apa yang dijanjikan Tuhan sesungguhnya jelas: "..Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Yosua 1:5) dan kemudian ayat ini kembali diulang dalam Ibrani: "Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5b). Karenanya, "Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan, dan bertekunlah dalam doa!" (Roma 12:12). Dan seperti yang sudah saya sampaikan diatas, "Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu." (1 Tesalonika 5:18).

Ada waktu dimana kita harus mengalami permasalahan yang mungkin menimbulkan penderitaan. Ada waktu dimana kita masih tetap harus bergumul meski sudah mematuhi kehendakNya. Akan ada waktu-waktu dimana kita diijinkan Tuhan untuk masuk ke dalam situasi sulit. Tapi jangan lupa bahwa apabila itu datang bukan dari kesalahan kita, maka ada rencana Tuhan yang indah disana yang mungkin belum bisa kita lihat. Dan ingat pula bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan kita sendirian dalam masa-masa sulit tersebut. Pada waktunya Dia akan mengangkat kita keluar dari tumpukan masalah yang menimbun kita.

Jika diantara teman-teman ada yang masih berada dalam situasi yang tidak baik, bersabarlah dan jangan putus harapan. Nantikan pertolongan Tuhan dengan sabar, tetaplah tekun dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan. Terus bersyukur dan terus taat menjalankan apa yang menjadi kehendakNya. Pada saatnya anda akan melihat sendiri betapa luar biasa ketika rencanaNya digenapi.

Bersabarlah dan tetaplah percaya dalam iman yang teguh, segala sesuatu pasti indah pada waktunya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, January 25, 2017

How Much Longer? (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 13:2
=====================
"Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?"

Ada orang yang tidak begitu masalah dengan menunggu, ada yang menganggapnya benar-benar masalah. Istri saya lahir dari keluarga yang punya masalah dengan menunggu, sedang saya tidak. Walaupun saya bisa merasa bosan kalau sedang menunggu sesuatu, tapi itu bukan sesuatu yang merusak mood. Sedang istri saya tipenya kurang sabaran. Menunggu sedikit saja bisa membuatnya kesal. Saya tahu itu sejak masa pacaran dan memastikan bahwa kalau sudah janji saya tidak akan terlambat. Lebih baik saya yang menunggu ketimbang dia.

Meski reaksi berbeda-beda bagi setiap orang, secara umum menunggu sering dianggap sebagai sebuah kegiatan yang membosankan dan bisa jadi menjengkelkan. Kenapa? Karena selain membuat waktu terbuang, menunggu itu mengandung unsur ketidakpastian sehingga bisa memunculkan perasaan tak tenang atau gelisah.

Sekarang, bagaimana kalau yang ditunggu bukan soal giliran untuk dilayani atau untuk bertemu orang tapi menanti datangnya pertolongan dari Tuhan? Tidak bisa dipungkiri kita semua berharap itu datang secepatnya. Tapi bagaimana kalau jawaban tidak kunjung datang? Satu doa, dua, tiga, kalau Tuhan belum juga menolong, banyak yang kemudian kecewa bahkan putus asa. Banyak orang yang sulit bersabar apalagi kalau sedang berada dalam keadaan terdesak dan tertekan. Di saat seperti itu mereka tidak lagi bisa mengucap syukur, padahal firman Tuhan sudah mengingatkan kita untuk tetap mengucap syukur dalam segala hal karena itulah yang sesungguhnya dikehendaki Allah dalam Kristus. (1 Tesalonika 5:18). Mereka tahu ayat ini, tapi berkata: bagaimana kita bisa mengucap syukur kalau kita sedang tidak berada dalam keadaan baik? Pemahaman manusia akan sebuah ucapan syukur seringkali sempit dengan hanya digantungkan kepada sebuah kondisi, situasi atau keadaan yang sedang dihadapi saja.

Ada masa dimana kita mengalami kesulitan sebagai bagian dari hidup, meski kita sudah mengikuti kehendak Tuhan dengan sebaik-baiknya. Ada waktu kita harus merasakan kesedihan bahkan penderitaan dengan berbagai bentuk. Firman Tuhan sudah mengatakan bahwa "Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya." (Pengkotbah 3:1). Sebagai manusia yang memiliki perasaan, tentu rasa itu menyakitkan kita, dan tidak ada satupun dari kita yang ingin berlama-lama berada dalam perasaan sakit itu. Kita ingin sesegera mungkin lepas. Kalau belum juga, kita bertanya-tanya berapa lama lagi Tuhan akan melepaskan kita, bahkan bisa saja mempertanyakan kenapa Tuhan seolah memalingkan muka dari kita.

Hal yang sama juga dialami oleh banyak tokoh Alkitab dalam berbagai kesempatan, termasuk Daud yang imannya sebenarnya sudah sangat teruji. Suatu kali Daud mengalami pergumulan berat. Semua musuhnya bersorak-sorak mengejeknya, dan ia pun sempat merasa mengalami itu sendirian saja tanpa ada yang peduli, termasuk merasa bahwa Tuhan pun sama, tidak peduli terhadap dirinya. Ia berada dalam titik rendah sampai-sampai Daud berseru: "Berapa lama lagi, TUHAN, Kaulupakan aku terus-menerus? Berapa lama lagi Kausembunyikan wajah-Mu terhadap aku?" (Mazmur 13:2). Daud terus bertanya, "Berapa lama lagi aku harus menaruh kekuatiran dalam diriku, dan bersedih hati sepanjang hari? Berapa lama lagi musuhku meninggikan diri atasku?" (ay 3).

Dalam tekanan dan penderitaan yang kita alami, sama seperti Daud kita pun sering mempertanyakan hal yang sama. Itu adalah hal yang manusiawi dan mungkin saja terjadi sekali waktu, tapi penting bagi kita untuk tidak membiarkan hal itu berlarut-larut, terus memandang kepada masalah atau bahkan menyalahkan Tuhan.  Daud boleh saja berseru seperti itu dalam keadaan kalut, tapi lihatlah bahwa Daud tidak mau terjebak berlama-lama pada perasaan seperti itu. Daud tidak ingin tenggelam dalam perasaan yang tidak enak lalu putus asa. Daud tidak mau membiarkan perasaannya berlarut-larut lalu kecewa pada Tuhan. Kita bisa melihat bagaimana ia kemudian bangkit dan kembali mengandalkan imannya. Daud percaya bahwa pertolongan Tuhan untuk mengatasi segala perkara, termasuk perkara dirinya dan melepaskannya dari kesesakan hanyalah soal waktu saja.

(bersambung)


Tuesday, January 24, 2017

Kelegaan dari Tuhan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Sejak saat itu Tuhan ternyata memberinya kelegaan. Ia bisa menerima keadaan, ia mengampuni rekan bisnisnya dan ia mulai memberkati teman-teman narapidana. Ia sudah lama keluar dari penjara, tapi sampai hari ini ia masih aktif melayani disana setiap minggu. Lihatlah bagaimana iman bekerja, dan lihatlah bagaimana sebuah kelegaan dari Tuhan ternyata mampu membuka mata kita akan rencana Tuhan saat kita tengah berada dalam situasi yang buruk. Membuat kita tetap bisa berbuah walaupun dalam keadaan sulit. Membuat kita tetap dipenuhi sukacita biarpun kondisi tidak berpihak pada kita.

Berbicara mengenai Tuhan memberi kelegaan, hal ini disampaikan langsung oleh Yesus sendiri. "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28). Dalam bahasa Inggris versi Amplified dikatakan "Come to Me, all you who labor and are heavy-laden and overburdened, and I will cause you to rest. [I will ease and relieve and refresh your souls.]" Perhatikan bagaimana versi ini menjabarkan kata kelegaan. Jesus will give a kind of rest that can ease (meringankan), relieve (melegakan) dan refresh (menyegarkan) jiwa kita. Ease, relieve, refresh our soul. Meringankan, melegakan dan menyegarkan jiwa kita. Don't we need that during the difficult times?

Tuhan selalu siap menyertai kita, dan selalu siap pula memberi kelegaan bahkan melepaskan kita dari belenggu masalah. Mungkin jawaban tidak langsung ada, mungkin solusi tidak langsung datang. Tetapi jika kita memiliki iman yang teguh kita akan tahu bahwa menaruh harapan pada Tuhan tidak akan pernah berakhir sia-sia. Menaruh pengharapan penuh di dalam Tuhan akan membuat kita tidak mudah goyah meski angin sedang kencang menerpa, dan dengan demikian kita tidak harus kehilangan sukacita walau sedang berada dalam keadaan yang tidak baik. Kegembiraan akan membuat banyak hal positif hadir dalam kehidupan kita. Sebaliknya hati yang selalu susah akan membuat segalanya tampak buruk.

Firman Tuhan berkata: "Hari orang berkesusahan buruk semuanya, tetapi orang yang gembira hatinya selalu berpesta." (Amsal 15:15). Ayat ini menunjukkan bahwa buruk-baiknya hari ternyata bukanlah bergantung pada situasi, kondisi atau keadaan, tapi dari sikap hati kita. Kita yang memutuskan apakah kita mau terus bergelut dalam kesusahan atau mau memiliki sukacita dalam hati, terlepas dari apa yang tengah membebani kita. The choice is up to us, whether we want to keep feeling joyful or surrender to respond the factual condition we're facing on. Ini adalah hal yang kita sering tidak kita sadari.

 Bukankah masalah itu nyata, dan perasaan kita memang bisa terpengaruh tergantung dari situasi yang kita hadapi? Benar, tapi jangan lupa bahwa pertolongan Tuhan dan keinginanNya memberi kita kelegaan pun nyata. Masalah bisa saja masih ada, dan akan tetap ada, tapi bersama Tuhan kita seharusnya berada pada kelompok orang-orang yang tidak gampang goyah, orang-orang yang selalu menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada Tuhan. Yang pasti, Tuhan siap memberikan kelegaan agar anda bisa lebih kuat dalam menghadapi masalah hingga nanti bisa menyelesaikannya. Anda butuh kelegaan? Datanglah pada Yesus, Dia siap meringankan, melegakan dan menyegarkan kembali jiwa anda.

Don't tell God you have big problem, tell your problem you have a big God

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, January 23, 2017

Kelegaan dari Tuhan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 11:28
====================
"Marilah kepadaKu, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu."

Suatu kali ada teman yang curhat dengan saya. Masalahnya cukup pelik, sehingga saya sempat tidak tahu harus menjawab apa. Saya lebih banyak diam mendengarkan ceritanya, hanya sesekali merespon untuk menguatkan dan menenangkannya. Saya merasa kurang maksimal dalam memberi solusi, tapi di akhir curhatannya, ia berkata bahwa ia merasa lega. Ia mengaku sudah curhat dengan beberapa teman lain, tapi mereka kemudian lebih banyak ngomong ketimbang mendengarkan. Malah ada yang menyalahkannya, the last thing she would need during that time. Padahal menurutnya, saat ia menumpahkan isi hatinya ia merasa lega, hati terasa lebih lapang, tidak sesak seperti sebelumnya. Dan itu justru ia dapatkan dari saya yang lebih banyak diam menyimak apa yang ia katakan.

Sejak saat itu saya tahu bahwa terkadang kita tidak perlu terlalu jauh mencoba memberikan solusi kalau kita tidak terlalu menguasai permasalahan seseorang. Ada kalanya mereka cuma butuh didengarkan, dibiarkan menumpahkan isi hatinya supaya terasa lapang. Ketika masalah menekan kita sampai kita lelah, jenuh, mumet, pusing dan sejenisnya, bisa jadi kita cuma butuh kelegaan supaya bisa lebih tenang dalam menyikapi masalah dan memikirkan solusi terbaik. Membersihkan kabut di pikiran kita supaya bisa berpikir jernih, dengan menumpahkan sebagian dari hal-hal yang berkecamuk disana menghimpit hati dan benak kita. Sometimes the only thing we need is a shoulder to cry on, people to talk to, not an answer, not an instant help.

Satu persatu masalah datang ke dalam hidup kita, mempengaruhi perasaan kita. Semakin berat masalahnya, semakin banyak yang harus dihadapi, perasaan-perasaan itu pun akan semakin membebani hati kita. Itu bisa membuat kita tidak bersemangat, mematikan kreativitas dan membuat mood kita jelek. Akibatnya kita tidak lagi produktif dan jadi malas berbuat apa-apa. Bagai batu-batu yang terus ditambah, digantungkan atau dikalungkan ke dalam hati kita sehingga berat benar rasanya. Yang lebih parah kalau itu membuat kita dicekam kekuatiran, merasa cemas dan takut. Kesehatan kita pun bisa jadi taruhannya. Seringkali kita sudah tahu cara mengatasinya, tapi tetap saja saat mengalami perasaan yang berkecamuk di hati seperti badai yang mengganggu hidup. Maka jelas, kita butuh kelegaan. Kelegaan agar bisa berpikir jernih, agar tidak terus menerus berendam dalam perasaan-perasaan negatif dan mulai kembali positif, agar bisa lebih ringan dalam mengambil langkah atau keputusan. Mungkin tidak serta merta pulih, mungkin masalah tersebut tidak segera selesai saat ini juga, tapi setidaknya keringanan atau kelegaan hati akan membuat kita bisa mengarah kepada situasi-situasi yang lebih baik.

Sangatlah menarik kalau mencermati bahwa Tuhan ternyata paham akan hal itu. Tuhan memang menjanjikan banyak pertolongan. Mukjizat dan kuasaNya lebih dari cukup untuk melepaskan kita dari masalah seberat apapun. Itu sudah disebutkan dalam banyak kesempatan sepanjang isi Alkitab. Tapi kalau kita masih harus berhadapan dengan semua itu, Tuhan juga menjanjikan sebuah kelegaan. Kelegaan yang bisa meringankan kita. Bayangkan jika anda  tengah mengangkat banyak beban berat, tapi kemudian anda tahu ada orang yang mau membantu anda, mengangkat sebagian dari beban itu sehingga anda bisa lebih ringan, bukankah itu sangat menyenangkan? Seperti yang saya sebut di awal, seringkali kita hanya butuh berbagi beban dan bukan mencari jawaban untuk saat ini. Masalah mungkin belum akan selesai, tapi setidaknya kita merasa lega dan lebih ringan dalam menghadadpinya. Tuhan juga menyediakan itu buat kita.

Saya akan beri satu contoh lagi dari pengalaman teman saya. Ia sempat dipenjara sekian bulan karena dituduh rekan bisnisnya melakukan apa yang sebenarnya tidak ia lakukan. Tidak ada bukti, semua pembelaan tidak dianggap oleh hakim, dan ia pun menolak melakukan kecurangan agar bisa mendapat kemudahan. Akibatnya ia harus rela mendekam di penjara. Awalnya ia merasa sangat kecewa pada Tuhan yang membiarkan semua itu terjadi. Dipenjara itu tidak enak. Ia punya suami dan anak yang sebenarnya harus ia urus sebagai ibu rumah tangga. Tapi ia tidak mau berlama-lama dalam perasaan itu. Suatu malam ia berdoa. Ia mengatakan bahwa ia mungkin belum tahu apa maksud dan rencana Tuhan menempatkannya disana, kenapa ia dibiarkan mendapat perlakuan tidak adil, tapi ia mau taat dan mempercayakan pada Tuhan.

(bersambung)


Sunday, January 22, 2017

Pilih yang Mana? (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Begitu baiknya Tuhan, karena meski Dia memberi kehendak bebas, Dia masih peduli dengan menunjukkan pilihan mana yang seharusnya kita pilih untuk menerima segala berkat dan anugerahNya, menuai semua yang terbaik sesuai rencanaNya. Pilihlah kehidupan, supaya kita hidup dengan kepenuhan Ilahi, baik bagi kita sendiri maupun keturunan kita. Mari kita baca lanjutannya. "dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya, sebab hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka." (ay 20). Dari ayat ini kita bisa lihat bahwa memilih kehidupan ternyata berkaitan dengan mendengarkan suaraNya, bergantung padaNya dan mengasihiNya. Itulah yang dimaksud dengan memilih kehidupan.

Kita bisa berdalih bahwa pengambilan keputusan itu tampaknya terlalu sulit, tetapi Tuhan mengatakan justru sebaliknya. Ayat-ayat sebelumnya menyebutkan hal tersebut. "Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu dan tidak pula terlalu jauh." (ay 11). Itu bukan di langit, bukan di seberang laut (ay 12-13), maksudnya keputusan seharusnya tidaklah jauh atau sulit untuk diraih. "Tetapi firman ini sangat dekat kepadamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, untuk dilakukan."(ay 14). Tuhan setiap hari berbicara kepada kita dengan banyak cara. Rajin membaca Alkitab akan membawa kita semakin tahu rencana Tuhan. Kita pun akan dibimbing langsung oleh Roh Kudus untuk mengetahui mana yang baik dan mana yang buruk. Ketika firman itu menjadi rhema dalam diri kita, maka hati kita akan berfungsi banyak untuk membuat kita peka mengetahui mana yang baik dan yang buruk. "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Hati kita haruslah kita jaga, dan terus disuburkan dengan firman Tuhan, karena dari situlah terpancar kehidupan.

Status, gelar, kepandaian atau kepintaran, tingkat IQ dan sebagainya tidaklah serta merta menjamin orang untuk bisa memilih dengan benar. Ada tertulis bahwa mengaku sebagai pengikut Kristus sekalipun belum menjamin orang untuk hidup sesuai kehendak Tuhan, jika ia tidak mendengar firmanNya, terlebih tidak melakukan firmanNya dan masih terus terjebak pada kepentingan-kepentingan duniawi saja. Begitu banyak anak-anak Tuhan yang jatuh pada banyak hal, terutama di seputar tahta, harta dan wanita. Ada begitu banyak lubang menganga di depan kita yang setiap saat siap menelan kita.

Apakah kita mau melompat melewati lubang-lubang itu atau memilih untuk jatuh, itu adalah pilihan. Pilihan dan keputusan kita hendaklah senantiasa didasarkan pada kehendak Tuhan, bukan atas diri kita sendiri. Ulangan 28 menjelaskan secara rinci mengenai berkat dan kutuk. Berkat, apabila kita melakukan hal ini: "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini...." (Ulangan 28:1), sementara kutuk akan jatuh bila demikian: "Tetapi jika engkau tidak mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan tidak melakukan dengan setia segala perintah dan ketetapan-Nya, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini." (ay 15).

Tuhan menjanjikan segala yang terbaik bagi kita karena kasihNya begitu besar pada kita, tapi hidup penuh dengan pilihan. Pilihan dan keputusan yang kita ambil hari ini akan menentukan bagaimana kita kelak di kemudian hari. Jagalah hati dan diri kita, penuhi dengan firman Tuhan. Mana yang kita pilih, kehidupan atau kematian? Bagaimana agar kita memilih kehidupan dan bagaimana agar tidak keliru dengan memilih kematian? Perhatikan baik-baik setiap langkah atau keputusan yang anda pilih. The choice is yours. Pilihlah dengan benar, jangan sampai salah.

Life is full of choices, choose carefully

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, January 21, 2017

Pilih yang Mana? (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ulangan 30:19
======================
"Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu"

Kemarin saya sudah membahas tentang bagaimana hidup itu sesungguhnya penuh dengan pilihan. Dari mulai bangun pagi sampai kita tidur, kita tetap dihadapkan pada pilihan. Keputusan yang bijaksana dan benar. Sebab, setiap keputusan yang salah akan berpengaruh pada pilihan berikutnya, dengan sendirinya akan sangat menentukan kemana langkah kita ke depan. Keputusan yang salah bisa membuat banyak waktu terbuang sia-sia, atau kehancuran yang pada suatu ketika tidak lagi bisa diperbaiki alias sudah terlambat.

Mari kita lihat contoh kecil saja. Jika anda berada di kantor, maka anda tidak mungkin ada di mal di detik yang sama. Tentu saja anda wajib menuruti peraturan dimana anda bekerja, tapi anda tentu bisa saja mangkir dan memilih untuk berada di tempat lain. Semua itu akan membawa konsekuensinya sendiri, tergantung dari keputusan memilih dari sekian banyak pilihan yang dihadapkan kepada anda. Memilih di mal saat jam kerja? Kalau ada razia anda bisa dapat masalah. Masih mending kalau hukumannya masih SP 1 atau surat peringatan pertama. Bagaimana kalau sudah terlanjur ada dua surat peringatan yang anda terimas sebelumnya?

Bagi yang masih sekolah, anda bisa jujur saat ujian atau mau curang. Memilih curang mungin tampaknya bisa menjamin nilai yang lebih baik. Tapi kalau ketahuan? Langsung dipastikan gagal adalah hukuman yang ringan, sebab bisa jadi anda akan berurusan dengan pihak berwajib. Coba hitung, ada berapa banyak pilihan yang dihadapkan pada anda dalam sehari? Jumlahnya bisa ratusan bahkan ribuan. So, our lives are full with choices, we definitely need good and wise decision making.

Sekarang mari kita kaitkan kepada masalah kerohanian. Sebuah pertanyaan: Apakah Tuhan menganugerahkan segala berkat termasuk keselamatan dan rancangan damai sejahteraNya pada semua orang atau sebagian saja? Tuhan memberikan itu kepada semua orang, tanpa terkecuali. Kalau Tuhan mau, Dia tentu bisa memaksa kita semua untuk tunduk kepadanya. Tuhan bisa saja bersikap otoriter dan memaksakan kehendakNya. Tapi ingatlah bahwa niat Tuhan dari awal adalah menciptakan manusia yang menyerupai gambar dan rupaNya sendiri, bukan robot. Robot itu terprogram sesuai kemauan pembuatnya, tapi manusia punya kehendak bebas (free will) yang bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif tapi bisa juga negatif.

Ada yang berdalih, kita kan manusia yang punya kekurangan? Wajar dong kalau kita mengambil pilihan-pilihan yang salah? Tunggu dulu. Tuhan sudah memberikan akal budi pada kita, dan kita pun bisa meminta hikmat kepada Tuhan kalau merasa kekurangan (Yakobus 1:5). Selain itu, bukankah Tuhan sudah memberi penolong yaitu Roh Kudus untuk membimbing kita? Jika kita rajin membaca dan merenungkan Firman Tuhan, kita pun tentu akan tahu mana yang benar dan salah. Lalu Tuhan pun kerap mengingatkan kita lewat hati nurani. Dan kalau kita peka, kita pun bisa mendengar suaraNya karena lewat Yesus hubungan kita dengan Tuhan sudah dipulihkan.

Semua itu seharusnya sangat membantu kita dalam mengambil keputusan-keputusan yang benar. Tapi namanya kehendak bebas, kita bisa pula menolak itu semua dan memilih melakukan apa yang kita suka. Agar hidup tidak sia-sia atau bahkan hancur, kita harus memperhatikan betul setiap langkah yang diambil karena setiap keputusan atau pilihan akan membawa hasil yang berbeda dan akan sangat menentukan langkah selanjutnya. Apakah kita ikut apa kata Tuhan, memilih untuk taat kepadaNya,apakah kita menyerahkan hidup kita ke dalam tanganNya, menjalani sesuai kehendakNya, atau kita memilih untuk membangkang dan menjalankan hidup menurut diri kita sendiri, mengambil keputusan-keputusan yang bertentangan dengan firman Tuhan. Apakah kita memilih untuk patuh mengikuti rencanaNya atau hanya mendasarkan keputusan kita terpusat pada diri sendiri atau orang lain, itu semua tergantung pilihan kita. Singkatnya: Tuhan menganugerahkan kita keselamatan dan rancangan terbaik untuk hari depan, tetapi kepada kita diberikan kehendak bebas (free will) yang membuat kita bisa memilih apakah mau mengikuti atau menolakNya. The choice is up to us.

Ayat bacaan hari ini menunjukkan bagaimana kaitannya kehendak bebas dengan dua pilihan mendasar yang dihadapkan Tuhan pada kita. "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu" (Ulangan 30:19). Perhatikan bahwa Tuhan sudah menjanjikan segala yang terbaik, penyertaan, pertolongan dan berkat-berkat luar biasaNya kepada kita. Tapi kepada kita dihadapkan dua pilihan: memilih kehidupan atau kematian, memilih berkat atau kutuk. Memilih kehidupan akan mendatangkan segala yang terbaik dari Tuhan, pilihan sebaliknya akan mengarah pada kematian dan kutuk. Kita bisa berbuat dosa, kita bisa hidup benar. Kita bisa menolak Tuhan, kita bisa taat kepadaNya. Kita bisa memilih untuk baik, bisa pula memilih untuk jahat. Kita bisa memilih kehidupan, kita bisa memilih kematian. Kita bisa memilih berkat, kita bisa memilih kutuk. Semuanya tergantung kita.

(bersambung)


Friday, January 20, 2017

Menang Menghadapi Para Raksasa (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kondisi sulit, situasi pelik, ancaman besar, keadaan terjepit dikurung bala tentara yang besar, logika tidak berpihak sama sekali kepada kita untuk memenangkannya, tetapi lihatlah janji Tuhan yang sangat melegakan itu. Tuhan berkata bahwa kita tidak perlu takut meski situasinya sama sekali tidak berpihak kepada kita. Mengapa? Sebab bukan kita yang berperang, melainkan Allah. Ancaman persoalan dalam hidup bisa bagai bersatu padu menyerang kita sekaligus seperti serangan laskar gabungan yang besar. Tapi kita tidak perlu takut, sebab bukan kita yang berperang melainkan Tuhan sendiri.

Kemudian lihatlah dalam Keluaran 23. Kita kembali mendapatkan suara Tuhan yang melegakan dalam menghadapi serangan besar sekaligus. Firman Tuhan berkata: "Sebab malaikat-Ku akan berjalan di depanmu dan membawa engkau kepada orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus, dan Aku akan melenyapkan mereka." (Ulangan 23:23). Orang Amori, orang Het, orang Kanaan dan sebagainya, itu menggambarkan raksasa-raksasa yang siap merontokkan dalam sekali pukul. Situasi ini bisa terjadi pada kita. Mungkin bukan lagi prajurit perang berukuran raksasa, tapi berbagai permasalahan pelik, serangan dari orang-orang jahat atau para penghulu iblis. Kalau menurut hitung-hitungan sesuai logika, kita jelas kalah. Namanya juga dikepung dari berbagai sisi seperti itu, oleh raksasa-raksasa pula.

Tetapi Tuhan berfirman sendiri bahwa bukan kita yang berperang, melainkan Tuhan. Dia akan mengutus malaikat-malaikatNya untuk berjalan di depan. Kita tetap akan berhadapan dengan berbagai "raksasa-raksasa" masalah, tetapi ada malaikat Tuhan yang berjalan di depan kita, dan Tuhan sendirilah yang akan melenyapkan semua itu. Bukan kita yang berperang, tetapi Tuhan. Itu janji penyertaaan dan penyelamatan Tuhan. Syaratnya disebutkan pada satu ayat sebelumnya: "Tetapi jika engkau sungguh-sungguh mendengarkan perkataannya, dan melakukan segala yang Kufirmankan, maka Aku akan memusuhi musuhmu, dan melawan lawanmu." (ay 22). Sungguh-sungguh mendengar dan melakukan firmanNya, itu bagian kita. Dan bagian Tuhan adalah membawa kita ke dalam kemenangan yang gemilang.

Berulang kali Tuhan menyatakan penyertaan, pemeliharaan dan pertolonganNya kepada kita. Berulang kali pula oleh karena itu Tuhan menyerukan agar kita jangan takut. "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Ulangan 31:6) Selanjutnya lihat juga ayat berikut ini: "janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan." (Yesaya 41:10).

Suka tidak suka kita sekali waktu harus siap berhadapan dengan masalah-masalah yang ada kalanya bisa besar dan banyak bagai serangan raksasa yang bergabung menjadi satu. Apakah itu masalah pekerjaan, keluarga, sakit penyakit atau serangan dari orang-orang yang bersatu hendak menghancurkan kita dan lain sebagainya, kita mungkin tidak bisa menghindari itu setiap saat. Tapi perhatikan bahwa Tuhan sudah menjanjikan pertolonganNya kepada setiap anakNya yang taat. Dia sendiri yang akan berperang, dan Dia akan membawa kita masuk ke dalam kemenangan. Itulah sebabnya kita tidak perlu takut menghadapi apapun dalam hidup ini.

Apabila ada di antara teman-teman yang tengah merasa berhadapan dengan "orang Moab dan Amon", atau serangan "orang Amori, orang Het, orang Feris, orang Kanaan, orang Hewi dan orang Yebus", tetaplah berdiri tegak, jangan mundur, jangan ragu dan jangan takut. Situasinya mungkin sangat menyesakkan saat ini, secara logika itu tandanya kita habis, tetapi ingatlah bahwa di atas segalanya kita memiliki Tuhan dengan kuasa tertinggi. Adalah Tuhan sendiri, bukan kita yang akan berperang menghadapi semua itu. Percayalah kepadaNya, taatlah kepada firmanNya dan lakukanlah seperti apa yang Dia kehendaki, maka kita tidak perlu kehilangan senyum dan damai sejahtera meski tengah dikerubungi "raksasa-raksasa" sekalipun,

"Jangan takut, percaya saja!" (Markus 5:36)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, January 19, 2017

Menang Menghadapi Para Raksasa (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Tawarikh 20:15
=========================
"...Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah."

Dalam turnamen-turnamen sumo yang diadakan di Jepang dan beberapa negara lainnya, sesi hiburannya kerap menampilkan 'pertandingan' lucu antara pemain sumo asli dengan anak kecil. Anak ini akan berusaha sekuat tenaganya mendorong sang atlit sumo. Tapi namanya ukuran tubuh dan tenaga yang jomplang, si anak tidak akan sanggup mendorong sang atlit kecuali sang atlit sengaja mengalah. Itu tentu jadi hiburan lucu bagi para penonton sebelum mereka menikmati pertandingan yang sesungguhnya antara para atlit.

Anak kecil lawan pemain sumo raksasa i atas tentu sesuatu yang menghibur. Tapi kalau diaplikasikan ke dalam hidup kita, seringkali kita harus menghadapi banyak masalah yang besar, yang bisa membuat kita merasa bagai terkurung ditengah raksasa-raksasa yang siap menghancurkan kita. Kalau satu saja sudah sepertinya sulit untuk diatasi, bagaimana kalau masalah yang datang lebih dari satu, besar-besar pula? Kalau dalam pertandingan main-main di atas si pegulat bisa pura-pura kalah sebagai bagian dari hiburan, masalah yang kita hadapi biasanya tidak ada yang mau mengalah. Yang ada malah bersaing, siapa dari antara mereka yang bisa menghancurkan kita terlebih dahulu.

Seberapa kuat daya tahan kita dalam menghadapi tekanan? Jawabannya bagi setiap orang akan berbeda-beda. Faktor mental, keyakinan, ketabahan, pengalaman dan sebagainya akan sangat berpengaruh akan hal ini, dan tentu saja sebuah faktor lain yang sesungguhnya sangat penting, yaitu faktor iman. Kita sudah menyaksikan sendiri kejatuhan banyak tokoh besar karena tidak lagi tahan menghadapi berbagai tekanan. Entah itu desakan dari luar, rasa malu akibat melakukan kesalahan, deraan masalah yang beruntun dan lain-lain. Bahkan ada yang akhirnya mengambil jalan pintas dengan mengakhiri hidupnya karena sudah tidak tahan atau tidak kuat lagi menanggung beban-beban hidup.

Mungkin ada di antara kita yang hari ini pun tengah mengalami situasi sulit. Terjepit di tengah-tengah 'raksasa-raksasa', tidak bisa maju dan mundur pun sudah terlambat. Bicara soal terjepit dalam situasi sulit, kita selalu bisa belajar dari kisah bansa Israel  Keluaran 14, dimana mereka terjepit antara kejaran tentara Firaun dan laut luas membentang. Disana kita bisa mendapati kunci untuk melepaskan diri dari situasi terjepit seperti yang dikatakan Musa: "Janganlah takut, berdirilah tetap dan lihatlah keselamatan dari TUHAN, yang akan diberikan-Nya hari ini kepadamu; sebab orang Mesir yang kamu lihat hari ini, tidak akan kamu lihat lagi untuk selama-lamanya." (ay 13). Jangan takut, tetap berdiri dan fokus pada penyertaan Tuhan, itulah ketiga kunci yang diberikan Musa agar bisa melepaskan diri dari situasi terjepit itu. Laut terbelah, mereka bisa melintas ditengahnya lalu laut kemudian menutup lagi menenggelamkan seluruh tentara Firaun.

Lalu selanjutnya Tuhan telah berjanji kepada setiap anak-anakNya yang patuh dan yakin kepadaNya bahwa Dia tidak akan pernah meninggalkan, meski harus melalui kesulitan-kesulitan besar bagai derasnya air atau panasnya api sekalipun dalam hidup ini. "Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau." (Yesaya 42:2-3a).

Kalau bicara soal raksasa, Daud lawat Goliat mungkin akan segera muncul di benak kita. Dan tentu saja itu benar. Prajurit bertubuh raksasa dengan perlengkapan perisai dan senjata lengkap sudah mengintimidasi prajurit Israel selama beberapa hari. Tidak ada yang berani menghadapinya. Tapi Daud muda, yang kerjanya cuma menggembalakan satu-dua ternak milik ayahnya mempergunakan pengalamannya bersama Tuhan saat menggembala untuk menghadapi raksasa yang secara akal sehat tidak akan mungkin bisa dikalahkan. "Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." (1 Samuel 17:37a). Nyatanya, dengan mengandalkan Tuhan dan bukan logika lewat iman, Daud berhasil mengalahkan Goliat.

Contoh yang tidak kalah menariknya akan hal ini bisa kita dapati dari apa yang terjadi pada suatu ketika di masa pemerintahan raja Yosafat. Pada waktu itu bangsa Yehuda tengah mengalami situasi pelik dan terjepit akibat ancaman bani Moab dan Amon juga sepasukan tentara Meunim sekaligus. (2 Tawarikh 20:1). Ini situasi yang tidak mudah, karena jelas kekuatan mereka tidaklah seimbang dalam menghadapi serangan sebesar itu. Dalam keadaan kalut dan takut, Yosafat mengajak seluruh bangsa Israel untuk mencari Tuhan dan berpuasa (ay 3), lalu berseru kepada Allah. (ay 6-12). Dan lihatlah, Tuhan menjawab seruan mereka!

 Melalui Yahezkiel bin Zakharia bin Benaya bin Matanya, seorang Lewi dari bani Asaf, Tuhan berseru: "Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah." (ay 15).

(bersambung)


Wednesday, January 18, 2017

Pilihan yang Berkenan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Salomo tidak meminta untuk kepentingan dirinya, tapi apa yang ia minta adalah sesuatu yang berhubungan dengan apa yang digariskan Tuhan untuk ia kerjakan. Salomo meminta hikmat, meminta kebijaksanaan memenuhi dirinya ternyata bertujuan agar ia mampu membedakan mana yang baik dan jahat, benar dan salah, supaya ia mampu menimbang perkara dan memutuskan dengan benar. Ternyata itu adalah sebuah pilihan yang berkenan dan dikatakan baik di mata Tuhan. (ay 10). Tuhan mengabulkan permintaan Salomo sepenuhnya, sehingga Salomo kemudian menjadi seseorang yang begitu hebat dari segi hikmat, tak tertandingi oleh siapapun. "Dan Allah memberikan kepada Salomo hikmat dan pengertian yang amat besar, serta akal yang luas seperti dataran pasir di tepi laut sehingga hikmat Salomo melebihi hikmat segala bani Timur dan melebihi segala hikmat orang Mesir." (1 Raja Raja 4:29-30). Granted.

Tapi perhatikan fakta berikut: ternyata pemberian Tuhan tidak berhenti sampai disitu saja. Pilihan yang diambil Salomo ternyata membawa berkat-berkat lain pula ke dalam hidupnya. Firman Tuhan bilang: "Dan juga apa yang tidak kauminta Aku berikan kepadamu, baik kekayaan maupun kemuliaan, sehingga sepanjang umurmu takkan ada seorangpun seperti engkau di antara raja-raja. Dan jika engkau hidup menurut jalan yang Kutunjukkan dan tetap mengikuti segala ketetapan dan perintah-Ku, sama seperti ayahmu Daud, maka Aku akan memperpanjang umurmu." (ay 13-14).

Wow, bukankah itu luar biasa? Bukan saja hikmat, tapi juga kekayaan, kemuliaan dan umur yang panjang. Semua itu menjadi bagian Salomo. Maka kita tahu hari ini bahwa selain raja hikmat, Salomo adalah tokoh terkaya dalam Alkitab dan tidak akan pernah bisa tersaingi oleh orang terkaya dunia manapun sampai dunia ini berakhir. Kemahsyuran namanya pun melegenda, hingga hari ini kita mengenal namanya. Alkitab mencatat seperti ini: "Raja Salomo melebihi semua raja di bumi dalam hal kekayaan dan hikmat." (1 Raja Raja 10:23).

Salomo sekedar beruntung? Tidak juga. Bukankah meminta hikmat itu merupakan sebuah pilihan yang luar biasa disaat seseorang diperkenankan meminta apapun yang pasti akan dikabulkan? Salomo bisa menekan egonya dan lebih memilih untuk kepentingan orang lain agar bisa mendapatkan pertimbangan/keputusan yang adil sesuai hikmat dari Tuhan. Dan itulah hasilnya, Salomo diberkati luar biasa dalam segala hal.

Di kemudian hari ketika Salomo menulis Amsal, ia kembali menyinggung hal mengenai hikmat ini berdasarkan pengalamannya sendiri. Demikian katanya: "Berbahagialah orang yang mendapat hikmat, orang yang memperoleh kepandaian, karena keuntungannya melebihi keuntungan perak, dan hasilnya melebihi emas." (Amsal 3:13-14). Tidak saja melebihi emas dan perak, tapi juga lebih berharga dari permata, begitu berharganya sehingga tidak ada sesuatu hal lain yang mampu menandingi nilai sebuah hikmat ini. (ay 15). Dan seperti apa yang dikatakan Tuhan, juga sesuai dengan kesaksiannya sendiri, Salomo pun mengatakan kembali apa yang difirmankan Tuhan. "Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan." (ay 16). Pilihan yang tidak terpusat pada kepentingan sendiri, itulah ternyata yang berkenan di mata Tuhan.

Apabila kita mundur satu generasi sebelumnya, ternyata ayah Salomo, Daud, sudah mengetahui pentingnya hikmat ini dalam hidup. Dan bukan itu saja,ia malah sudah menuliskan dari mana hikmat itu bermula. "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, semua orang yang melakukannya berakal budi yang baik. Puji-pujian kepada-Nya tetap untuk selamanya." (Mazmur 111:10). Dan hal ini diulangi kembali oleh Salomo dengan mengatakan "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian." (Amsal 9:10). Dengan hikmat yang berawal dari takut akan Tuhan, kita akan mendapat pengertian, kita akan menjadi bijaksana dan bisa mengetahui mana yang benar dan mana yang salah, tidak peduli apakah jebakan si jahat itu jelas nyata terlihat atau tersembunyi di balik kemasan-kemasan yang tampak baik, benar atau menggiurkan.

Samar atau kasat mata, kita akan bisa membedakan keduanya jika kita memiliki hikmat. Betapa pentingnya hikmat ini agar kita tidak salah jalan, terperangkap, tersandung lalu jatuh. Itulah sebabnya mengapa hikmat ini jauh lebih bernilai ketimbang emas, perak, permata atau keinginan/kekayaan lainnya yang pernah kita impikan.

Daud tampaknya telah menanamkan kebijaksanaan dan kebenaran dengan sangat baik kepada Salomo. Ia berhasil menurunkan apa yang ia peroleh sebagai hasil kedekatannya dengan Tuhan. Jika demikian, seandainya pilihan itu jatuh kepada anda, pastikan agar sampai salah menentukan pilihan. Lupakan segala kenikmatan-kenikmatan daging karena semua itu bukanlah yang terutama, melainkan pilihlah sebuah pilihan yang berkenan bagi Kerajaan Sorga. Siapkah kita memilih yang terbaik? Jika siap, jangan salah pilih. Hikmat, itulah pilihan yang tepat.

Jangan lupa pula menurunkan kebenaran kepada anak-anak kita. Pastikan pula bahwa mereka merupakan generasi keturunan Ilahi yang dipenuhi Roh Allah yang menjunjung tinggi integritas yang sesuai prinsip KerajaanNya.

"Knowlege comes, but wisdom lingers." - Alfred Lord Tennyson, pujangga Inggris

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, January 17, 2017

Pilihan yang Berkenan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 3:16
===================
"Umur panjang ada di tangan kanannya, di tangan kirinya kekayaan dan kehormatan."

Life is full of choices. Terkadang kita tidak sadar bahwa sejak kita bangun pagi kita sudah dihadapkan pada pilihan. Mau langsung bangun atau mau nyantai dulu merem-merem di kasur. Mau olah raga dulu atau bikin sarapan? Mau minum kopi atau teh? Sarapan nasi atau roti, atau tidak usah sarapan? Pakai baju yang mana? Celana? Sepatu? Nanti naik mobil, motor, gojek atau kendaraan umum lainnya? Dan seterusnya, sampai akhirnya kita tidur. Sebelum tidur kita masih harus menentukan pilihan. Mau baca majalah atau novel sebelum tidur, mau browsing sebentar atau nonton tv? Lampu dimatikan atau dinyalakan? Ini semua hanyalah sedikit contoh hal ringan tentang pilihan yang harus kita ambil setiap harinya. Meski ringan, semua itu menunggu kita dalam mengambil keputusan, dan keputusan yang kita ambil akan membawa dampak tersendiri dalam setiap pilihan itu.

Ada banyak pula pilihan-pilihan yang lebih serius seperti mau mengambil jurusan apa setelah tamat SMA, mau berkarir di mana atau di bidang apa, atau malah mau memilih untuk taat atau membangkang karena lebih tertarik dengan kenikmatan yang ditawarkan dunia dan orang-orang sesat di dalamnya. Pilihan-pilihan seperti ini bisa membawa dampak yang jauh lebih serius. Apakah kita sudah mengambil keputusan yang benar atau salah, apakah kita mendasari dengan Firman Tuhan atau pakai kalkulasi sendiri, apakah kita sudah hidup sesuai prinsip Kerajaan Allah atau terus hanyut dalam arus kesesatan dunia. Apakah kita memilih madu yang manis dan menyehatkan atau racun yang pahit dan mematikan.

Mari kita lihat ketika Salomo dihadapkan kepada sebuah kesempatan dari Tuhan langsung untuk menetapkan pilihan. Seandainya anda diberi satu kesempatan untuk meminta sesuatu yang pasti akan dikabulkan saat ini juga, apa yang menjadi pilihan anda? Ini pertanyaan yang sangat sederhana namun akan sangat sulit untuk dijawab. Anda tentu akan bingung dalam mengambil satu pilihan dari sekian ribu pilihan yang akan muncul dengan mudah dalam benak anda. Jika memilih panjang umur, bagaimana jika sepanjang umur itu hidup miskin dan penuh masalah? Jika memilih kekayaan, bagaimana jika hidup bakalan singkat? Ini dua pilihan yang rasanya termasuk yang bakal paling banyak dipilih orang. Bagaimana jika kita memilih sesuatu yang salah, padahal kesempatan memilih cuma diberikan satu kali saja? Itu pasti akan jadi kekuatiran sendiri.

Salomo mendapatkan kesempatan seperti itu dari Tuhan. Semua berawal dari cara hidup Salomo yang seperti ayahnya Daud, cara hidup yang menunjukkan kasih kepada Tuhan dengan taat kepada ketetapan-ketetapan sang ayah. Itu adalah sebuah pola hidup yang nyatanya terbukti berkenan di hadapan Tuhan. Suatu malam di Gibeon, Salomo diberikan sebuah kesempatan emas untuk meminta sesuatu dari Tuhan. "Di Gibeon itu TUHAN menampakkan diri kepada Salomo dalam mimpi pada waktu malam. Berfirmanlah Allah: "Mintalah apa yang hendak Kuberikan kepadamu." (1 Raja-Raja 3:5).

Wah, itu tentu saja merupakan sebuah hadiah yang begitu besar dari Tuhan. Jika itu terjadi pada diri anda, apa yang akan anda minta? Bingung juga sih, mau minta untuk diri sendiri atau untuk anak, istri, keluarga dan sebagainya. Lalu minta apa? Yang kita butuh kan banyak sekali? Di saat kita mungkin masih bingung, Salomo ternyata mengambil keputusan yang mengejutkan bagi kebanyakan orang. Yang ia minta adalah sesuatu yang mungkin tidak lazim dipilih ketika berhadapan dengan satu kesempatan seumur hidup untuk mendapatkan sebuah permintaan yang bisa langsung dikabulkan. Berhadapan dengan kesempatan seperti ini, Salomo ternyata tidak meminta kekayaan atau panjang umur. Ia tidak minta berkat materi dan tidak meminta hal-hal yang berhubungan dengan pemuasan dirinya sendiri. Ia pun tidak butuh waktu lama untuk menentukan pilihan. Apa yang ia minta ternyata adalah HIKMAT.

Bisa jadi kita berpikir, bisa minta kekayaan, kemakmuran, ketenaran atau umur panjang, masa yang diminta hikmat? Untuk apa minta hikmat? Jawabannya bisa kita lihat lewat perkataan Salomo langsung. "Maka sekarang, ya TUHAN, Allahku, Engkaulah yang mengangkat hamba-Mu ini menjadi raja menggantikan Daud, ayahku, sekalipun aku masih sangat muda dan belum berpengalaman. Demikianlah hamba-Mu ini berada di tengah-tengah umat-Mu yang Kaupilih, suatu umat yang besar, yang tidak terhitung dan tidak terkira banyaknya.Maka berikanlah kepada hamba-Mu ini hati yang faham menimbang perkara untuk menghakimi umat-Mu dengan dapat membedakan antara yang baik dan yang jahat, sebab siapakah yang sanggup menghakimi umat-Mu yang sangat besar ini?" (ay 7-9).

(bersambung)


Monday, January 16, 2017

Find Out and Do It

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 5:10
==================
"dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan."

Saya ingat masa-masa awal pacaran saya dengan wanita cantik yang sekarang sudah menjadi istri tercinta. Masa-masa awal itu penuh dengan penjajakan. Saya mencoba mengenalnya lebih jauh, seringkali menguji apa yang ia sangat suka, kurang suka dan tidak suka. Itu akan sangat membantu membangun kedekatan. Saya mempelajari sifatnya, kebiasaannya, reaksinya akan segala sesuatu dan sebagainya. Semakin saya mengerti dia, semakin kecil pula kemungkinan konflik. Dan, pastinya, hubungan pun akan jadi jauh lebih baik. Melatih kepekaan terhadapnya merupakan proses yang harus terus saya lakukan sampai ajal memisahkan. Setelah lebih dari 10 tahun bersama, saya bahkan tahu kapan ia butuh cemilan manis, kapan ia ingin yang asin tanpa perlu diberitahukan. Itu bukan lahir instan karena saya bukan ahli nujum atau bisa membaca pikiran, tapi melalui proses latihan selama bertahun-tahun. Buat saya pengenalan akan seseorang sangatlah penting, apalagi atas orang-orang yang dekat dengan kita.

Agar bisa mengerti sesuatu dengan baik, untuk bisa peka terhadap sesuatu tidaklah cukup dengan teori-teori lewat pelatihan dan pendidikan yang singkat, melainkan butuh sebuah proses pembentukan dari pengalaman dan latihan terus menerus. Tidak ada satupun orang yang bisa langsung menjadi ahli secara instan, tidak ada yang bisa langsung peka tanpa latihan dan pengalaman. Seringkali kita pun harus mengujinya untuk memastikan bahwa apa yang kita ketahui memang sudah benar. Saya teringat pada sebuah kepekaan lain, yaitu kepekaan rohani. Menjadi orang percaya bukanlah berarti bahwa kita akan serta merta langsung peka dalam sekejap mata. Kita tidak akan secara mendadak bisa mengerti apa yang berkenan di hadapan Tuhan, peka membedakan mana yang mengarah pada dosa dan mana yang tidak.

Kepada jemaat Efesus, Paulus mengajak mereka untuk menguji apa yang berkenan kepada Tuhan. Katanya, "dan ujilah apa yang berkenan kepada Tuhan." (Efesus 5:10). Ternyata kalau mau benar-benar memahami isi hati dan pikiran Tuhan, kita diharuskan untuk menguji dahulu apa saja yang berkenan kepada Tuhan, mana yang boleh mana yang tidak, mana yang baik mana yang buruk, agar kita tidak salah melangkah sehingga melakukan hal-hal yang tidak berkenan kepada Tuhan. Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: "Find out what pleases the Lord"Cari tahu apa yang berkenan kepada Tuhan," Find that out, and do it. Pertanyaannya, bagaimana bisa menguji, mengetahui dan mengenal jika kita sebagai orang percaya masih belum peka terhadap kebenaran?

Jika kita mundur dua ayat sebelumnya, kita akan menemukan bahwa agar mampu menguji, kita ternyata harus terus menerus belajar hidup sebagai "anak terang" (ay 8). Mengapa? "karena terang hanya berbuahkan kebaikan, keadilan dan kebenaran." (ay 9). "For the fruit of the Light or the Spirit consists every form of kindly goodness, uprightness of heart and trueness of life." Istilah "anak terang" atau "children of Light" merujuk pada mereka yang hidup sebagai anak-anak Allah yang taat pada firman dan dalam kasih Kristus. Anak-anak terang adalah pelaku firman Allah yang mengasihi Dia, sebab Kristus sendiri adalah sumber terang. "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12).

Kalau kita terus belajar untuk hidup sebagai anak terang dengan pengalaman hidup bersama Tuhan yang terus bertambah, disanalah kita akan mampu membedakan mana yang berkenan di hadapan Tuhan dan mana yang tidak. Kepekaan itu akan memungkinkan kita untuk tidak mudah disesatkan, meskipun tiap hari kita hidup berdampingan dengan orang-orang yang mengejar kedagingan di dunia yang gelap ini, atau di dunia yang berisi penuh penyesatan, penyimpangan dan penipuan yang bertentangan dengan firman Tuhan. Lebih jauh lagi kita akan mampu menelanjangi perbuatan-perbuatan kegelapan, tipu daya iblis meski terbungkus rapi dalam kemasan yang menipu sekalipun. "Tetapi segala sesuatu yang sudah ditelanjangi oleh terang itu menjadi nampak, sebab semua yang nampak adalah terang" (Efesus 5:13).

Kita hidup dalam sebuah jaman dimana penyesatan hadir dimana-mana. Bentuknya beragam, jalan masuknya pun banyak. Bisa lewat apa saja yang kita dengar maupun yang kita lihat. Berbagai hal menggiurkan ditawarkan dunia setiap saat. Terkadang kita akan berhadapan dengan jalan-jalan yang kelihatannya baik, namun ternyata berujung pada maut, seperti yang tertulis dalam Amsal: "Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut" (Amsal 14:12). Tanpa kepekaan rohani, kita akan mudah terjerumus dalam dosa dan mengarah kepada kebinasaan.

Karena itu adalah penting untuk memiliki kepekaan. Itu bisa dicapai dengan tetap hidup sebagai anak-anak Terang. Menjalani hidup sesuai firman Tuhan, tetap bertekun dalam doa dan terus berada dalam bimbingan Roh Kudus. Jangan lupa bahwa Paulus sudah mengingatkan "Latihlah dirimu beribadah." (1 Timotius 4:7). Sebuah proses latihan berarti sesuatu yang dilakukan secara berkesinambungan, kontinu atau terus menerus, secara serius untuk bisa meningkatkan sesuatu yang dengan tekun kita lakukan.

Sudahkah kita memiliki rohani yang peka? Kita anak-anak Tuhan diingatkan untuk bangun dari tidur dan bangkit dari kematian dan terus berusaha untuk menjadi anak terang, dimana Kristus akan bercahaya di atas kita (ay 14). Miliki kepekaan agar dapat menguji apa yang berkenan kepada Tuhan dan apa yang tidak.

Kepekaan rohani yang tinggi akan menjauhkan kita dari tipuan-tipuan si jahat

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, January 15, 2017

Pembangkang (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kitab Ulangan menghadapkan dua pilihan untuk kita pilih. "Aku memanggil langit dan bumi menjadi saksi terhadap kamu pada hari ini: kepadamu kuperhadapkan kehidupan dan kematian, berkat dan kutuk. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu" (Ulangan 30:19). kelanjutannya mengatakan bagaimana caranya, yaitu "dengan mengasihi TUHAN, Allahmu, mendengarkan suara-Nya dan berpaut pada-Nya." (ay 20).

Seruan ini sesungguhnya amatlah penting untuk kita perhatikan, karena ayat ini selanjutnya berbunyi:"..hal itu berarti hidupmu dan lanjut umurmu untuk tinggal di tanah yang dijanjikan TUHAN dengan sumpah kepada nenek moyangmu, yakni kepada Abraham, Ishak dan Yakub, untuk memberikannya kepada mereka."

Membangkang dan terus lebih mementingkan kesibukan dunia tidak akan pernah membawa kebaikan, justru sebaliknya membawa kerugian bagi kita. Meski sepintas bisa jadi terlihat menyenangkan dan nikmat, itu akan sangat menentukan langkah kita ke depan. Ini bukan berarti bahwa kita harus terus nonstop serius bekerja tanpa boleh beristirahat dan bersenang-senang sedikitpun. Tetapi kita harus ingat agar jangan sampai semua itu menjauhkan kita dari Tuhan, atau malahmenjadikan kesibukan kita sebagai alasan untuk melupakan pentingnya membangun hubungan dengan Tuhan.

Apa yang dituntut Tuhan bagi kita sebenarnya tidaklah terlalu banyak. Apalagi semua itu juga untuk kebaikan kita sendiri. Lihatlah Firman Tuhan berikut ini:  "Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?" (Mikha 6:8). Memang tidak terbantahkan bahwa dalam kehidupan di dunia ini panca indera kita akan sering terpengaruh untuk membuat kita hidup dalam daging bukan dalam Roh. Dengan berbagai kesenangan yang ditawarkan dunia kita bisa terjebak pemikiran yang keliru bahwa hidup dalam Roh itu tidak penting atau bahkan dianggap memenjarakan kesenangan kita. Hidup dalam Roh sesungguhnya justru membebaskan, memberi kemerdekaan dan mengarahkan kita kepada kehidupan yang kekal penuh kebahagiaan.

Sejauh mana ketaatan yang sudah kita lakukan terhadap Tuhan hari ini? Apakah kita sudah mengikutiNya dengan baik atau masih beraninya hidup sebagai pembangkang-pembangkang? Mari kita periksa diri kita hari ini, seberapa besar hidup kita yang masih dikuasai oleh bentuk-bentuk kesenangan yang ditawarkan dunia dan seberapa besar yang dikuasai Roh yang berasal dari Allah. Jika menghadapi anak-anak yang keras kepala dan suka membangkang itu sulit, jangan sampai kita pun berlaku hal yang sama terhadap Bapa Surgawi yang sangat mengasihi kita.

Senangkan hati Tuhan dengan menjadi anak-anakNya yang taat dan setia

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, January 14, 2017

Pembangkang (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Pembangkangan seperti apa? Ada yang jelas-jelas melanggar dengan melakukan hal-hal jahat dan sesat, ada pula bentuk-bentuk pembangkangan mungkin tidak terlihat nyata, tapi secara tidak sadar kita sering melakukannya. Beberapa contoh akan saya berikan dengan dihubungkan pada beberapa ayat yang sudah kita kenal baik.

Waktu Yesus mengatakan "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu." (Matius 11:28), kita cenderung menolak dan mengambil alasan terlalu sibuk dengan kegiatan, pekerjaan atau aktivitas-aktivitas lainnya. Waktu Tuhan menginginkan kita untuk rajin membaca dan merenungkan FirmanNya, "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam" (Yosua 1:8), kita berdalih tidak punya cukup waktu untuk melakukannya.

Ketika Tuhan berseru "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mazmur 46:11), kita menolak untuk diam, karena merasa diam itu hanya berarti buang-buang waktu. Daripada diam, kita jauh lebih tertarik untuk panik dan terus mencari jalan menurut kita sendiri, termasuk mengambil keputusan-keputusan yang justru semakin keliru, semakin jauh dari kehendak Bapa.

Lantas ketika Tuhan berkata "Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:16), kita malah berkata, "nanti dulu, bukankah dunia ini penuh dengan kenikmatan dan kesenangan yang sayang untuk diabaikan?" Waktu Tuhan mengingatkan kita bahwa tubuh kita adalah bait Roh Kudus sehingga kita harus memuliakan Allah dengan tubuh kita (1 Korintus 6:19-20), kita tetap saja memasukkan berbagai zat atau benda yang akan sangat mengotori tubuh kita.

Ini baru beberapa contoh saja mengenai pembangkangan yang sering dilakukan orang percaya. Bukannya taat, kita menyerah pada keadaan dan ikut-ikutan berlaku sesat seperti yang dilakukan banyak orang. Padahal disetiap perintah Tuhan tersimpan janji luar biasa yang siap diberikan kepada kita sebagai upahnya. Terutama, saat kita hidup sesuai kebenaran dan menjalaninya sebagai murid Kristus yang taat, bukankah keselamatan kekal menjadi hak kita? Sayangnya kita justru lebih tertarik untuk urusan-urusan lainnya di dunia ini lebih dari menunjukkan ketaatan kepada Tuhan. Apa yang dirasakan Tuhan melihat perilaku-perilaku kita yang dengan berbagai alasan menomor-duakan dan mengabaikanNya? Tuhan akan sangat sedih dan kecewa karena semua yang terbaik yang Dia berikan kita abaikan sia-sia.

(bersambung)


Friday, January 13, 2017

Pembangkang (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mikha 6:8
======================
"Hai manusia, telah diberitahukan kepadamu apa yang baik. Dan apakah yang dituntut TUHAN dari padamu: selain berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allahmu?"

Seorang teman memutuskan untuk membatasi tontonan anaknya di televisi. Ada banyak stasiun televisi lokal, tapi hampir-hampir tidak ada yang aman bagi anak. Mayoritas sibuk mengejar rating dan tidak mempedulikan dampaknya bagi anak. Sinetron-sinetron semakin saja mengajarkan keburukan moral. Orang tua atau orang dewasa yang kejam, anak-anak yang tidak tahu sopan santun, berbagai sifat kasar, tipu menipu, perselingkuhan, orang yang batinnya teraniaya, semua dipertontonkan dengan bebas setiap hari sehingga kalau kita terus menontonnya lama-lama kita akan menganggap semua itu sebagai hal biasa. Bayangkan jika anak-anak yang masih polos menyerap semua ini, mereka bisa tumbuh menjadi anak-anak berperilaku buruk. Ada banyak orang tua yang terlalu sibuk sehingga gagal memperhatikan tontonan anaknya. Pergaulan yang tidak diperhatikan pun bisa merusak moral mereka. Sementara terlalu ketat membuat anak tidak pintar bersosialisasi. Serba salah, tapi itulah salah satu tugas orang tua. Teman saya ini menyadari hal itu. Mengingat anaknya masih di usia dini, ia memutuskan untuk menghilangkan beberapa channel dari televisinya. Kemudian menyewa tv cable dengan prioritas pada acara-acara untuk anak. "Mahal sedikit tidak apa-apa, yang penting anak-anak saya aman." katanya.

Semakin lama semakin banyak anak yang suka membangkang pada orang tuanya. Ini adalah salah satu dari sekian banyak hal negatif yang timbul akibat kurangnya pendidikan moral dan budi pekerti yang seharusnya dilakukan oleh orang tua. Kalau tidak dijaga, mereka bisa disesatkan oleh tayangan-tayangan buruk, lingkungan pergaulan dan lain-lain. Dunia dengan segala kecemaran akan terus berusaha mengkontaminasi lebih banyak lagi orang. Dan sikap membangkang hanyalah satu dari sekian banyak problematika yang timbul sejak usia dini.

Menghadapi anak-anak yang sudah terlanjur tumbuh sebagai pembangkang tidak mudah. Selain dibutuhkan kesabaran ekstra, bentuk hukuman yang diberikan pun harus benar-benar cermat dipikirkan. Jika terlalu keras bisa membuat mereka tambah berontak, jika terlalu lembut tidak membawa efek jera. Kalau anak-anak saja sudah susah diurus, bayangkan jika anda berhadapan dengan orang yang sudah dewasa tapi punya tipe pembangkang seperti itu. Mereka sulit mendengar tapi cepat membantah atau melawan, bahkan sebelum mereka mengetahui terlebih dahulu duduk perkaranya. Ada banyak pula tipe pembangkang yang hanya melawan karena hanya ingin beda biar keren. Yang penting beda, benar tidak itu urusan belakangan. Seperti itu kira-kira. Anda tentu pernah bertemu orang-orang seperti ini dan merasakan kekesalan, sedih, kecewa bahkan emosi saat harus berhadapan atau berhubungan dengan mereka.

Kalau terhadap manusia yang kelihatan kita terbiasa membangkang, apalagi terhadap Tuhan yang tidak kasat mata. Bagaimana dengan kita? apakah kita pernah berpikir seperti apa perasaan Tuhan menghadapi pembangkangan dari anak-anakNya sendiri? Ada banyak orang percaya yang menolak untuk taat sepenuhnya kepada Tuhan dan terus melemparkan alasan demi alasan sebagai pembenaran. Ada banyak orang yang berkompromi terhadap dosa dan mengira bahwa sedikit-sedikit itu tidak apa-apa. Bisa dibayangkan bagaimana kecewa dan sedihnya Tuhan melihat perilaku seperti ini. Jika kita bisa merasa kesal, kecewa, sedih dan sebagainya menghadapi beberapa orang saja, Tuhan pun akan merasakan hal yang sama jika harus menghadapi begitu banyak anak-anakNya sendiri yang terus menerus membangkang, melawan ketetapanNya.

Padahal Tuhan memberikan segala yang terbaik, menjanjikan keselamatan bahkan rela ketika harus mengorbankan AnakNya yang tunggal, Yesus Kristus mati demi kita. Semua itu bukan lagi akan diberikan, tetapi sudah terlebih dahulu diberikan ketika manusia masih berlumur dosa. Tapi apa yang kita berikan sebagai balasannya? Bukannya bersyukur dan menghargai dengan mematuhiNya, manusia malah terus melawan dan membangkang. Tuhan jelas kecewa dan sedih, bukan saja karena harus berhadapan dengan kebandelan kita tapi juga karena itu berarti kita menolak kasih karunia yang sudah Dia berikan dan lebih suka binasa.

(bersambung)


Thursday, January 12, 2017

Pentingnya Pengambilan Keputusan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Mari kita lihat reaksi Musa ketika ia hendak diutus Tuhan. "Lalu sahut Musa: "Bagaimana jika mereka tidak percaya kepadaku dan tidak mendengarkan perkataanku, melainkan berkata: TUHAN tidak menampakkan diri kepadamu?" (Keluaran 4:1). Tuhan pun kemudian menunjukkan beberapa mukjizat dengan mengubah tongkatnya menjadi ular. Patuhkah Musa? Ternyata belum. Ia kembali mengeluarkan alasan. "Lalu kata Musa kepada TUHAN: "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (ay 10). Tuhan kemudian mengingatkan Musa bahwa semua yang ada pada Musa itu Dia sendiri yang menciptakan. "Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?  Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan." (ay 11).

Ayat ini jelas mengatakan bahwa Tuhan sendiri yang akan menyertai dan mengajar kita dalam melakukan tugas-tugas Kerajaan. Bukan kehebatan dan kekuatan kita yang Tuhan minta, tetapi kepatuhan kita. Tapi Musa masih ragu dan berkelit lagi. "Tetapi Musa berkata: "Ah, Tuhan, utuslah kiranya siapa saja yang patut Kauutus." (ay 13). Karena terus begitu, Tuhan pun marah. Musa kemudian takut, dan memutuskan untuk taat pada perintah Tuhan. Dalam ayat 18 kita bisa melihat keputusan Musa untuk taat menjalani apa yang diperintahkan Tuhan. Kita tahu bagaimana Tuhan kemudian memakai Musa secara luar biasa, dimana hasilnya masih tetap harum dikenang orang hingga hari ini.

Masalah berkelit dan berbantah ini tidak hanya dilakukan Musa. Ada beberapa nabi lainnya yang juga melakukan hal ini. Nabi Yeremia misalnya. Ia berkelit dengan alasan bahwa ia terlalu muda untuk menjalani tugas berat dan belum saatnya untuk tampil di depan. (Yeremia 1:6). Kepada Yeremia Tuhan mengatakan: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan." (Yeremia 1:7). Apa dasarnya? "Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." (ay 8).

Contoh lain, Yunus yang memilih untuk melarikan diri dari tugas yang disematkan Tuhan kepadanya. Pada akhirnya kita tahu bagaimana mereka dipakai Tuhan secara luar biasa. Dari contoh-contoh ini jelas terlihat bahwa semua itu berawal dari sebuah keputusan. Tuhan mengutus, itu satu hal, tapi apakah kita mau taat atau menolak, itu hal lain. Kalau kita mengambil keputusan untuk menolak maka apapun rencana Tuhan, kita tidak akan membawa perubahan apa-apa. Keputusan yang kita ambil hari ini akan sangat menentukan di masa depan. Dampaknya seringkali bukan hanya untuk diri sendiri melainkan menyangkut kehidupan banyak orang. Mungkin awalnya tidak banyak, tapi sangat mungkin untuk meningkat atau bertumbuh.

Kita terbiasa untuk punya seribu satu alasan untuk menghindar dari apa yang diinginkan Tuhan untuk kita perbuat. Jangankan melayani, membantu orang yang susah saja rasanya sudah berat. Padahal Tuhan ingin kita semua menjadi perpanjangan tanganNya untuk mewartakan Injil, menjadi garam dan terang, agar dunia bisa mengenal Kristus dan selamat lewat diri kita masing-masing. Terlalu muda, terlalu tua, tidak pandai bicara, terlalu sibuk, sulit menghadapi orang, kekhawatiran ini dan itu, bagaimana jika begini dan begitu, semua ini selalu menjadi alasan kita untuk melakukan pekerjaan Tuhan.

Bagi teman-teman yang belum menjadi rekan sekerja Tuhan, apa yang menjadi kendala bagi anda untuk masih belum bekerja untukNya? Percayalah bahwa ketika anda menjalaninya, anda akan melihat sendiri bahwa yang diinginkan Tuhan hanyalah kerelaan kita untuk membagi sedikit waktu. Siapapun bisa dipakai Tuhan secara luar biasa, karena Tuhan tidak butuh ahli-ahli melainkan butuh hati yang rindu untuk mengasihi orang lain, seperti halnya Tuhan telah mengasihi kita. Tuhan tahu persis kekurangan dan kelemahan kita masing-masing. Tapi itu semua tidaklah menjadi penghalang bagi kita untuk mampu bekerja di ladang Tuhan. Yang Dia butuhkan adalah kemauan kita, bukan kemampuan kita. Dan Dia sedang menanti kita untuk bersukacita bekerja bersamaNya. Bukankah adalah sebuah kehormatan jika Tuhan mau memakai kita?

Tuhan tidak memerlukan kuat dan hebat kita, bukan kemampuan kita, yang Dia inginkan hanyalah kemauan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, January 11, 2017

Pentingnya Pengambilan Keputusan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | 2 Comments so far
Ayat bacaan: Keluaran 4:11-12
======================
"Tetapi TUHAN berfirman kepadanya: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN?  Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan."

Ada teman saya yang melayani sebagai pemain bass di gereja. Sejauh yang saya lihat, ia merupakan pemain bass yang handal. Rhythm feel nya bagus, dia punya groove dan intuisi dan instingnya pun hidup. Saat ia melakukan 'walking bass' pun keren. Suatu kali saat ngobrol, saya menanyakan dimana atau dari siapa ia belajar. Sambil tertawa ia berkata bahwa Tuhanlah guru bassnya. Saya terkejut dan bertanya, bagaimana bisa? Maka ia bercerita awal mulanya ia berkenalan dengan instrumen ini.

Awalnya ia merupakan pemain gitar dalam tim musik gereja. Suatu kali pemain bass berhalangan hanya beberapa jam sebelum kebaktian raya. Mencari pengganti dadakan tidaklah mudah. Alternatif tentu mengarah kepada pemain gitar. Tapi teman saya ini belum pernah memegang bass sama sekali sebelumnya. Tidak ada lagi orang lain yang bisa, waktu terus berjalan. Ia mengambil waktu berdoa, dan kemudian setelahnya dengan teguh ia menyatakan kesediaannya untuk menjadi pemain bass. Ia hanya sempat membunyikan bass beberapa saat sebelum tampil di depan. Dan ternyata, ia sendiri kaget dengan hasilnya. "Tangan saya seolah dituntun. Mula-mula saya berusaha berpikir cepat untuk mencerna intuisi meniti fret gitar bass, tapi kemudian saya membiarkan jari saya mengalir, mengikuti kemana Tuhan mau." katanya. Sejak saat itu ia pun beralih menjadi pemain bass.

Ia kemudian berkata bahwa seringkali pikiran kita mengintervensi rencana Tuhan. Kita tidak cukup percaya kepadaNya dan lebih mengandalkan logika dan penilaian kita sendiri terhadap kemampuan kita. Tidaklah heran kalau akhirnya kita minim pengalaman akan kuasa Tuhan yang supranatural, karena kita tidak membiarkan Tuhan bekerja atas diri kita. "Yang Tuhan cari itu orang yang mau, bukan yang mampu. Kalau kita mau, Tuhan yang memampukan." katanya.

Saya setuju dengannya. Saya mengalami sendiri hal itu. Saya bukanlah lulusan sekolah Alkitab, bukan pula penulis. Sebelumnya saya tidak pernah menulis selain tugas-tugas di sepanjang pendidikan formal, bahkan diary pun tidak. Waktu saya memutuskan untuk menulis renungan, saya masih bolong-bolong berdoa dan tidak betah membaca Alkitab. Bacanya malam, aminnya pagi, karena ketiduran. Itu sering sekali terjadi. Oleh karena itulah saat saya mendengar dalam hati saya sebuah 'suara' yang cukup jelas agar saya mulai melayani lewat menulis renungan, saya tidak langsung merespon untuk melakukannya. Mau tulis apa? Itu harus dilakukan tiap hari dan harus bisa menyampaikan kebenaran Firman Tuhan dengan aplikasinya masing-masing. Tapi kemudian saya mendengar kata-kata yang sama. "Yang Aku cari bukan orang yang mampu, tapi yang mau." Dan saya memutuskan untuk mau.

Hari ini saya sudah memasuki tahun ke 10 dalam meluangkan waktu setiap hari mengisi blog ini dengan Firman Tuhan. Komitmen yang masih saya pegang dan lakukan dengan sukacita. Ada banyak singkapan Tuhan yang disampaikan untuk saya sampaikan lagi kepada teman-teman, dan pengalaman itu buat saya luar biasa. Kalau saya waktu itu menolak, saya akan kehilangan banyak kesempatan untuk merasakan kedekatan Tuhan yang begitu nyata dalam hidup saya. Saya bersyukur saya tidak melawan saat itu dan memilih untuk taat, meskipun pikiran normal saya waktu itu meragukan kesanggupan saya.

Making decision atau mengambil keputusan adalah penentu ke arah mana hidup kita berjalan. Kita sering kurang menyadari hal itu, apalagi dalam mengambil keputusan-keputusan atas hal-hal yang kecil, sepele atau dianggap tidak/kurang penting. Padahal sekecil apapun, keputusan yang berbeda akan mendatangkan arah yang berbeda pula. Sama seperti jika anda memilih sebuah rute, anda akan melewati jalan yang berbeda, waktu tempuh yang berbeda dan sebagainya. Satu belokan akan sangat menentukan. Jadi seharusnya, kita harus benar-benar memastikan setiap keputusan kita sudah melalui pemikiran matang dan sesuai dengan rencana Tuhan agar tidak ada waktu terbuang sia-sia atau yang lebih parah lagi, membuat kita tersesat dan gagal mencapai tujuan. Satu langkah salah bisa mengarah pada langkah salah lainnya kalau tidak segera disadari dan diperbaiki. Semakin banyak keputusan yang salah, semakin jauh pula kita dari penggenapan rencana Allah atas hidup kita.

Hari ini mari kita lihat kepada siapa atau bagaimana Tuhan memilih pekerja-pekerjanya. Jika anda membaca Alkitab dengan seksama, maka bisa jadi anda akan terkejut karena mendapati bahwa Tuhan ternyata lebih suka memakai orang-orang yang bagi dunia mungkin dipandang sebelah mata ketimbang orang-orang yang ahli Taurat, menguasai hukum, orang kaya, jenius dan sebagainya. Tentu saja saya tidak bermaksud mengatakan bahwa orang yang pintar dan hebat tidak akan Dia pakai. Tuhan rindu memakai setiap anak-anakNya karena tugas yang diberikan bukanlah tugas yang mudah. Tapi yang ingin saya katakan adalah seberapa kecil pun kemampuan yang anda rasa anda miliki, itu bukan penghalang untuk menjadi pekerja yang berhasil. Dan siapapun anda, Tuhan tetap punya tugas dan rencana untuk anda.

Mari kita ambil satu contoh, yaitu Musa. Sangatlah menarik jika melihat reaksi awal Musa ketika mendapat tugas berat dari Tuhan. Kita tahu bahwa Musa adalah seorang nabi besar dan dihormati oleh begitu banyak orang dari kepercayaan yang berbeda, namanya harum dan menginspirasi dari generasi ke generasi hingga hari ini.Tapi lihatlah bahwa untuk menjadi besar seperti itu, Musa terlebih dahulu melewati sebuah proses pengambilan keputusan. Alkitab mencatat bahwa pada awalnya Musa ragu dan sempat berbantah-bantahan dengan Tuhan. Ia terus mencari alasan untuk berkelit karena merasa tugas yang dibebankan terlalu berat buat dirinya yang tidak lagi muda dan tidak ada apa-apanya.

(bersambung)


Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker