Monday, February 29, 2016

Penyemangat (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 1:11-12
========================
"Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku."

Dahulu saya sempat mengajar IT di beberapa sekolah kejuruan dan kampus. Lalu setelah itu saya menekuni karir di dunia musik. Dalam perjalanan karir tersebut, saya melihat bahwa seringkali letak permasalahan anak-anak muda untuk berhasil sebenarnya bukan dari segi kemampuan tapi dari sisi mental. Rendahnya kepercayaan diri membuat mereka sulit maju. Setiap saya melihat ada yang seperti itu, saya biasanya mendekati mereka dan mencoba mengenal lebih jauh, terutama mencari akar masalahnya dengan mengorek masa lalu mereka. Saya pun menemukan banyak penyebab. Ada yang tidak dipeduli atau bahkan terus diolok-olok orang tuanya ketika kecil, dibandingkan dengan saudaranya yang lebih difavoritkan, ada yang melewati masa-masa di bully di sekolah dan sebagainya. Saat hal ini ditangani, mereka biasanya ngebut dalam menerima pelajaran, dan seringkali lebih baik hasilnya dari mereka yang memang berbakat.

Apa yang saya lakukan adalah memposisikan diri sebagai teman, kakak atau tak jarang ayah yang menyemangati, bukan mengkritik. Saya lebih suka memotivasi ketimbang mengkritik. Saya harus meluangkan lebih banyak waktu, memberi waktu-waktu ekstra buat mereka agar kepercayaan bisa saling terbangun. Banyak diantara mereka yang meski temannya banyak tapi sebenarnya merasa sendirian, dan sekarang mereka punya saya yang peduli dan memotivasi agar berhasil. Betapa senangnya saya setial kali melihat adanya perubahan signifikan hingga kemudian berhasil mengembangkan talenta mereka secara maksimal lalu sukses dalam profesinya masing-masing.

Apa yang dibutuhkan orang yang masih berjuang atau dalam tahap-tahap belajar seringkali bukan kritik apalagi yang terus menerus dan berlebihan, tetapi orang yang bersedia mensupport mereka secara moril. Bukan hanya anak-anak muda yang masih belajar tetapi juga mereka yang sedang menghadapi ujian dalam kehidupan, sedang berhadapan dengan situasi-situasi sulit atau masalah. Pada suatu ketika kita harus kembali kepada hakekat seorang manusia yang tidak mampu bertahan hidup sendirian.

Jika melihat Firman Tuhan, Tuhan bahkan sudah menyadari hal itu dan menyebutkan jatidiri kita sebagai mahluk sosial sejak awal. "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Ketika Yesus hadir di dunia, Dia pun mengetahui hal yang sama. Lihatlah apa yang diputuskan Yesus saat mengutus kedua belas murid untuk melakukan pekerjaan mereka. "Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua.." (Markus 6:7). Tuhan Yesus meminta para murid melakukan tugasnya tidak sendirian tetapi setidaknya berdua agar bisa saling menguatkan dan membantu.

Kepada kita Tuhan pun merasa perlu untuk memberikan Penolong, Roh Kudus untuk menyertai, membimbing, mengingatkan dan membantu kita dalam setiap langkah yang kita jalani. "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya" (Yohanes 14:16). Kalau kita sadar bahwa kita tidak pernah bisa hidup sendirian dan selalu butuh orang lain yang mau menyemangati dan menolong, bukankah kita pun sebenarnya harus bersedia untuk menjadi penghibur atau penyemangat sesama kita juga? Jangan sampai kita masih terlalu sibuk mementingkan diri sendiri dan tidak peduli terhadap orang lain. Sudahkah kita meluangkan waktu sejenak untuk membantu mereka? Maukah kita meluangkan waktu untuk itu? Ada banyak yang berdalih bahwa mereka tidak punya waktu, tidak tahu harus bilang apa, tidak punya panggilan kesana, tidak punya apa-apa yang bisa dibagikan dan sebagainya. Tapi semua itu sebenarnya bukan masalah, karena seringkali sekedar menjadi pendengar yang baik dan membagi waktu yang sedikit saja pun sudah berarti besar buat mereka.

Mari kita lihat apa yang disampaikan Paulus kepada jemaat di Roma. "Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku." (Roma 1:11-12). Ia berkata, "saya datang agar kita sama-sama bisa mempergunakan karunia rohani kita untuk saling menguatkan. Iman saya menguatkan kalian, iman kalian menguatkan saya." Di ayat sebelumnya kita melihat bahwa Paulus terus berdoa agar ia diijinkan untuk bisa mengunjungi mereka. Kita tahu betapa berharganya hal itu bagi mereka. Jemaat di Roma tentu sangat senang ketika melihat bahwa ternyata ada orang yang peduli dengan mereka.

(bersambung)

Sunday, February 28, 2016

Pointing Finger

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Korintus 13:5
======================
"Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji."

Setiap hari di televisi kita bisa melihat orang-orang yang begitu mudah menyudutkan orang lain seolah-olah diri mereka sangat bersih. Menuduh orang lain memang sungguh mudah. Menunjuk orang lain dengan tudingan dan prasangka macam-macam itu gampang. Saat kita menunjuk orang lain dengan satu jari telunjuk, bukankah ada 3 jari yang justru mengarah kepada diri kita sendiri? Menilai keburukan orang lain tidaklah sulit. Yang sulit justru menilai diri sendiri. Ketika kita menilai keburukan orang lain, sudahkah kita memeriksa diri kita sendiri?

Mari kita lihat apa yang disampaikan oleh Paulus kepada jemaat di Korintus. Paulus berkata seperti ini: "Ujilah dirimu sendiri, apakah kamu tetap tegak di dalam iman. Selidikilah dirimu! Apakah kamu tidak yakin akan dirimu, bahwa Kristus Yesus ada di dalam diri kamu? Sebab jika tidak demikian, kamu tidak tahan uji." (2 Korintus 13:5). Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa kita seharusnya lebih memprioritaskan untuk menyelidiki diri kita sendiri terlebih dahulu ketimbang menilai orang lain, apalagi menghakimi.

Untuk kondisi fisik kita saja seharusnya begitu. Bayangkan bagaimana rawannya kelangsungan hidup kita jika kita tidak pernah memeriksa kesehatan kita, tidak pernah berolahraga tapi terus membiarkan hal-hal yang merusak kesehatan kita silih berganti masuk menghancurkan diri kita. Check up rutin pun bagi banyak orang sangat penting agar masalah bisa terdeteksi dini sehingga bisa ditangani segera. Kalau itu saja penting apalagi kondisi rohani kita. Bayangkan ada berapa banyak bahaya yang tidak tersaring apabila kita tidak pernah memperhatikan dengan seksama segala sesuatu yang masuk ke dalam diri kita. Ketika kita berani menguji atau memeriksa diri sendiri, itu artinya kita berani melihat segala sesuatu dari diri kita, yang baik maupun yang buruk. Itu artinya kita berani melihat kelemahan kita sendiri. Dengan mengetahui kelemahan kita, disitulah kita akan dapat mengambil langkah untuk melakukan perbaikan. Dan hasilnya jelas, kita akan lebih kuat, lebih tahan uji dibandingkan orang yang tidak pernah peduli terhadap keselamatan dirinya sendiri, terlebih orang yang hanya suka menilai kelemahan atau keburukan orang lain.

Yesus mengajarkan hal yang sama. "Mengapakah engkau melihat selumbar di mata saudaramu, sedangkan balok di dalam matamu tidak engkau ketahui?" (Matius 7:3). Bagaimana kita bisa menilai keburukan orang lain jika diri kita sendiri masih belum sempurna? Bahkan Yesus menyebut orang yang demikian sebagai orang yang munafik. "Hai orang munafik, keluarkanlah dahulu balok dari matamu, maka engkau akan melihat dengan jelas untuk mengeluarkan selumbar itu dari mata saudaramu." (ay 5). Kita harus berhati-hati dalam mengeluarkan perkataan mengenai orang lain, karena salah-salah kita akan terjebak kepada proses menghakimi yang akan merugikan diri kita sendiri. "Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (ay 2).

Manusia memiliki kecenderungan untuk merasa lebih pandai untuk menilai orang lain ketimbang memeriksa dirinya sendiri. Mengkritik orang lain itu mudah, melihat kelemahan atau kesalahan orang itu gampang, tapi memeriksa diri sendiri itu seolah sulitnya bukan main. Oleh karena itulah kita harus benar-benar menjaga diri kita untuk tidak terjebak kepada perilaku seperti ini. Hal ini sungguh penting, begitu pentingnya bahkan Tuhan pun mau membantu kita untuk menyelidiki hati kita, apakah kita masih menyimpan banyak masalah atau tidak. Firman Tuhan berkata "Aku, TUHAN, yang menyelidiki hati, yang menguji batin.." (Yeremia 17:10). Dan Daud pun pernah meminta Tuhan untuk menguji dan memeriksa dirinya sekiranya ada yang terlewat dari perhatiannya. "Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku." (Mazmur 26:2). Dalam kesempatan lain ia berkata "Selidikilah aku, ya Allah, dan kenallah hatiku, ujilah aku dan kenallah pikiran-pikiranku; lihatlah, apakah jalanku serong, dan tuntunlah aku di jalan yang kekal!" (139:23-24).

Daripada sibuk melihat keburukan orang lain, sebaiknya kita mau dengan segala kerendahan hati dan kejujuran memeriksa diri kita sendiri. Apabila kita masih menemukan hal-hal yang bisa menghambat pertumbuhan dan merusak kesehatan rohani di dalam diri kita, seharusnya kita dengan tulus mengakuinya dan membereskannya secepat mungkin agar hati kita bisa tetap terjaga bersih.

Saat menunjuk orang ada tiga jari yang mengarah pada kita sendiri

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, February 27, 2016

Gunung Batu

webmaster | 8:00:00 AM | 1 Comment so far
Ayat bacaan: Mazmur 62:8
========================
"Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah."

Tahun 2015 diwarnai oleh gonjang-ganjing politik yang tak ada habisnya. Badut-badut politik terus menggelontorkan komedi yang tak lucu seolah menghina nalar rakyat yang konon mereka wakili. Hal-hal memalukan terus dipertontonkan tanpa rasa bersalah seakan rakyat bodoh semua tak mengerti apa-apa. Alasannya selalu klise: itulah politik. Mereka lupa bahwa politik seharusnya dilakukan secara elegan dan bukan norak seperti itu. Krisis demi krisis membuat daya beli menurun, dan kalau sudah begitu tingkat kriminalitas pun meningkat. Ormas-ormas semakin berjaya tak tersentuh pihak berwajib, oknum yang terus mempermalukan korpsnya, itu membuat kita makin terjepit. Rasanya tingkat kenyamanan tinggal di negeri ini sudah jauh berkurang, apalagi dengan menyandang predikat minoritas.

Fakta diatas saya sajikan bukan untuk menakut-nakuti anda, tapi justru sebaliknya. Seperti yang saya sampaikan kemarin, sebagai orang percaya kita tidak boleh mengeluh dan harus tetap mengucap syukur. Setiap ucapan syukur itu punya kekuatan sendiri, dan jangan lupa bahwa tempat perlindungan yang terbaik bukanlah terletak pada kemampuan kita membentengi diri melainkan terletak pada Tuhan, Sang Gunung Batu kita. Saya ingin mengingatkan bahwa di atas segalanya ada perlindungan di dalam Allah kita.

Daud mengingatkan kita bahwa keselamatan ada di tangan Allah yang ia sebut sebagai gunung batu kekuatan kita, tempat perlindungan kita. "Pada Allah ada keselamatanku dan kemuliaanku; gunung batu kekuatanku, tempat perlindunganku ialah Allah." (Mazmur 62:8). He said, "God is a refuge for us (a fortress and a high tower)." Dalam banyak kesempatan lain pun Daud mengingatkan hal yang sama di berbagai ayat dalam Mazmur.

Dalam Ulangan, Musa yang sudah sangat lanjut usianya mengingatkan bangsa Israel akan penyertaan Tuhan yang penuh perlindungan. "Kuatkan dan teguhkanlah hatimu, janganlah takut dan jangan gemetar karena mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berjalan menyertai engkau; Ia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Ulangan 31:6). Dan ada banyak lagi janji Tuhan untuk melindungi kita yang dicatat dalam Alkitab.

Teknologi canggih terbukti tidak cukup ampuh membuat kita sepenuhnya aman dari tindak kejahatan di muka bumi. Memasang alarm, memelihara selusin anjing penjaga berbadan besar tidak juga memberi kepastian keamanan, menyewa puluhan pengawal menjaga rumah atau berbagai asuransi yang anda ikuti pun tidak serta merta memberi jaminan. Ketika begitu banyak alternatif keamanan lewat usaha manusia tidak mampu memberi rasa aman pada jiwa anda, jangan lupa bahwa ada Tuhan yang memberikan perlindungan yang pasti. Hanya Dia yang sanggup memberi perlindungan pada kita dan keluarga. Janji Tuhan seperti ini: "Malaikat TUHAN berkemah di sekeliling orang-orang yang takut akan Dia, lalu meluputkan mereka." (Mazmur 34:8), atau "Malapetaka tidak akan menimpa kamu, dan tulah tidak akan mendekat kepada kemahmu;sebab malaikat-malaikat-Nya akan diperintahkan-Nya kepadamu untuk menjaga engkau di segala jalanmu." (Mazmur 91:11). Jika anda merasa susah tidur pada malam hari dan merasa gelisah akan segala sesuatu yang mengkhawatirkan anda, ingatlah bahwa Allah adalah Penjaga Israel. Dia adalah Gunung Batu yang kokoh, tempat perlindungan yang luar biasa. Serahkan dan percayakan segala kekhawatiran dalam tanganNya, dan jiwa kita pun dapat beristirahat dengan tenang.


Hanya pada Allah saja kiranya aku tenang, sebab dari pada-Nyalah harapanku. (Mazmur 62:6)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, February 26, 2016

Mawar Berduri

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 106:1
=========================
"Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya."

Malam ini saya iseng memutar random lagu-lagu lama dan mendengar sebuah lagu lawas yang terkenal berjudul "Mawar Berduri". Tidak seperti bunga anggrek dan bunga-bunga indah lainnya, mawar memiliki duri-duri yang tajam pada tangkainya. Sebuah pertanyaan muncul di benak saya: kenapa bunga secantik mawar harus berduri? Kita mungkin mengeluh karena mawar memiliki duri, tapi saya kira kita seharusnya bersyukur karena duri memiliki mawar. Orang yang tertusuk duri mungkin menyesalkan kenapa bunga mawar yang begitu indah harus berduri, tapi jika duri bisa bicara, mungkin duri akan bersyukur bahwa ia memiliki mawar.

Kita bisa memandang dari banyak sisi akan benda yang sama, baik dengan keluhan ataupun bersyukur. It depends on how we look at it, most of the times it's in the state of mind. Dalam hal buruk tidaklah berarti semuanya buruk. Pasti ada hal baik dibalik situasi buruk yang kita alami. Ajakan untuk bersyukur pun sebenarnya bukan hal baru. Kita sudah sering berhadapan dengan ajakan ini baik lewat tulisan, kotbah dan sebagainya. Namun pola pikir untuk selalu bersyukur ini memang bukanlah semudah membalik telapak tangan, apalagi jika kita sedang berada dalam tekanan. Yang lebih ironis lagi, banyak orang berusaha mencari Tuhan ketika mereka tengah membutuhkan bantuan, namun lupa bersyukur saat mereka diberkati. Banyak orang memandang mukjizat dari Tuhan hanyalah datang dari hal-hal ajaib yang "bombastis" seperti orang sakit parah disembuhkan, orang lumpuh berjalan,orang buta melihat, bahkan orang mati dibangkitkan. Padahal, ketika kita masih memiliki kesehatan dan kemampuan untuk berjuang di tengah kesulitan, itu pun merupakan mukjizat dan berkat yang berasal dari Tuhan. Kalau kita masih berdiri hari ini, masih punya kesempatan untuk melakukan sesuatu, masih diberi nalar dan pikiran untuk menghasilkan buah-buah pikir yang produktif, masih bisa tidur dan sebagainya, bukankah untuk semua ini pun kita seharusnya mengucap syukur?

Begitu sulitnya untuk mengucap syukur pada saat sulit, sehingga ada orang yang berusaha mengucapkan syukur namun terbatas hanya pada kata-kata saja, tidak didasarkan dari hati. Bahkan kebanyakan orang sulit mengucap syukur tapi mudah mengeluh. Karena itu alkitab pun mencatat banyak nasihat untuk mengucap syukur dalam segala hal. Salah satunya yang saya jadikan ayat bacaan hari ini, sebuah kalimat yang rasanya sudah tidak asing lagi bagi kita. "Haleluya! Bersyukurlah kepada TUHAN, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya."  (Mazmur 106:1). Kalimat ini dituliskan berkali-kali dalam kitab Mazmur, bahkan tampil juga dalam kitab Tawarikh dan Yeremia. Saya yakin Tuhan menyadari benar sulitnya berada dalam sebuah situasi berat sehingga Dia merasa perlu mengingatkan kita berkali-kali bahwa kasih setiaNya bagi kita berlaku untuk selama-lamanya. Bukankah itu pun patut kita syukuri?

Jika kita membaca Alkitab, ada banyak tokoh disana yang tetap mampu memandang lewat iman ketika masalah menghadang mereka. Lihatlah Ayub yang memuji Tuhan meski mengalami penderitaan (Ayub 1:20-22). Selanjutnya Daud, yang pada suatu ketika dikejar, hendak dibunuh oleh Saul dan terjebak di dalam gua. Apa yang dilakukan Daud? Dia malah memuji Tuhan dan bermazmur! (Mazmur 57:1-12). Lalu apa yang terjadi ketika Paulus dan Silas tengah dipasung dalam penjara? Mereka bukannya menyesali nasib tapi malah berdoa dan menyanyikan puji-pujian pada Allah dengan lantang, hingga semua orang dipenjara itu mendengarkan. Apa yang terjadi selanjutnya? Terjadilah gempa sehingga semua pintu dan belenggu terbuka membebaskan mereka. Bukan itu saja, namun terjadi pertobatan pada diri kepala penjara dan keluarganya. (Kisah Para Rasul 16:19-40). Lihatlah bukti kasih setia Tuhan, Dia tetap menyertai dalam segala hal. Tidak ada yang harus kita takutkan. Yang harus kita lakukan adalah tetap mengucap syukur dan memuji Tuhan. Percayalah bahwa Dia ada melihat semuanya dan selalu siap untuk membawa kita keluar dari situasi yang paling sulit sekalipun.

Apa yang diberikan Tuhan pada kita sebenarnya adalah baik, meski ketika pada saat ini terlihat sepertinya jauh dari itu. Dia adalah Allah yang tidak pernah berubah. "Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran." (Yakobus 1:17) Karena itulah, dalam kondisi sulit sekalipun kita pantas mengucap syukur. Paulus pun menyadari berbagai pengalaman dari tokoh-tokoh alkitab di masa lalu, ia pun berulang kali menyatakan bahwa dirinya dipenuhi ucapan syukur meski dalam penderitaan berat. "Aku mengucap syukur kepada Allah, yang kulayani dengan hati nurani yang murni seperti yang dilakukan nenek moyangku. " (2 Timotius 1:3). Dunia boleh gonjang ganjing, namun kita harus tetap tegar dan percaya pada Tuhan lewat berbagai pujian, penyembahan dan ucapan syukur kita. Dia ingin kita tampil sebagai terang, seperti lentera di tengah kegelapan, sebuah posisi yang tidak akan mampu kita jalani jika kita sendiri goyah imannya.

Jika anda percaya bahwa Tuhan setia mengasihi anda, dan tidak ada satupun dari janjiNya yang Dia ingkari, mengucap syukurlah sekarang juga. Tuhan mengasihi anda lebih dari apapun. Bahkan setiap helai rambut di kepala kita pun dihitungNya. (Matius 10:30). Dia telah melukiskan kita dalam telapak tanganNya dan kita selalu ada di ruang mataNya. (Yesaya 49:16). Saya membiasakan diri untuk belajar mengucap syukur setiap hari apapun kondisinya, dan saya merasakan hidup yang jauh lebih ringan, tenang dan gembira. Pandanglah setangkai mawar dengan pola pandangan baru. Jangan bersungut-sungut melihat duri, tapi bersyukurlah bahwa duri yang tajam itu memiliki mawar yang sungguh indah.

Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu. (1 Tesalonika 5:18)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, February 25, 2016

Mengantuk Saat Beribadah

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kisah Para Rasul 20:9
===========================
"Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati."

Gara-gara mengantuk kita bisa mengalami celaka. Tidak percaya? Rekan guru pada saat saya masih mengajar berkali-kali punya pengalaman itu. Ia sering mengantuk dan hilang kesadaran saat naik sepeda motor, dan tahu-tahu ia sudah di aspal. Masih untung ia tidak sampai dilindas mobil atau truk dari belakang atau luka parah lain. Untuk menghindari hal itu ia pun membiasakan diri untuk tidur sebentar setiap selesai mengajar sebelum pulang. Adik saya pernah pecah bibirnya terbentur keyboard komputer karena memaksakan diri mengetik meski sudah ngantuk berat. Ada ratusan kasus kecelakaan di jalan raya yang hampir tiap hari kita dengar terjadi karena pengemudinya mengantuk. Ini baru sedikit contoh saja dari sekian banyak kecelakaan yang ditimbulkan akibat mengantuk.

Sekarang coba bayangkan ini. Sekiranya ada kasus dimana seorang anak muda jatuh dari tingkat tiga pada saat kebaktian akibat mengantuk, saya yakin itu akan jadi tajuk utama di berbagai media massa. Bagi sebagian orang itu mungkin terdengar konyol, menyedihkan dan tentu menyeramkan. Seseorang tidak kuat menahan kantuk saat kebaktian, kemudian tertidur dan gara-gara hal tersebut ia jatuh dari tingkat tiga ke bawah. Kasus ini bukan fiksi melainkan pernah benar-benar terjadi dan itu dicatat jelas dalam Alkitab. Orang itu bernama Eutikhus, dan kejadian itu terjadi di Troas, sebuah kota Yunani kuno dalam rangkaian perjalanan penginjilan Paulus.

"Seorang muda bernama Eutikhus duduk di jendela. Karena Paulus amat lama berbicara, orang muda itu tidak dapat menahan kantuknya. Akhirnya ia tertidur lelap dan jatuh dari tingkat ketiga ke bawah. Ketika ia diangkat orang, ia sudah mati." (Kisah Para Rasul 20:9). Mengantuk saat kebaktian kita anggap biasa. Alasannya pun bisa banyak disampaikan. Tapi Eutikhus membayar mahal kecerobohan itu. Kecerobohannya terlelap saat di gereja bukan saja membuatnya kehilangan kesempatan untuk mendapat berkat dari firman Tuhan, tetapi bahkan membawa maut dengan terjatuh tiga tingkat ke bawah. Kita tidak tahu apa yang membuatnya mengantuk. Apakah Paulus terlalu lama berbicara dan membosankan, apakah kotbahnya berulang-ulang, atau Eutikhus terlalu lelah bekerja, kurang tidur dan sebagainya. Tetapi yang jelas ia tertidur, dan akibatnya mengenaskan. Untunglah Paulus kemudian membangkitkannya kembali, sehingga ia pun mendapatkan sebuah pelajaran berharga dengan terhindar dari maut.

Mungkin Eutikhus bukanlah orang pertama yang tertidur dalam kebaktian, dan pasti bukan yang terakhir. Saya tidak tahu apakah ada yang mengalami pengalaman persis yang dialami Eutikhus, rasanya- dan semoga - tidak ada. Pemandangan orang mengantuk bahkan yang tertunduk-tunduk tertidur di gereja bukan lagi sesuatu yang asing bagi kita. Bahkan mungkin saja kita pun pernah mengalaminya sendiri. Ada yang saking ngantuknya mencoba  menyibukkan diri dengan bermain smart phone atau chatting, alasannya agar tidak mengantuk. Kalau begitu untuk apa beribadah di gereja? Alasan bisa jadi banyak. Mungkin karena sudah kebiasaan, disuruh orang tua, sebuah kewajiban dari sekolah atau kewajiban seremonial semata, atau tidak jarang pula yang beranggapan bahwa mereka bisa mendapat berkat hanya dengan hadir di gereja, walaupun hati dan pikiran mereka sebenarnya tengah mengembara kemana-mana. Ironisnya jika mengantuk pendeta lah yang malah disalahkan. Kotbahnya terlalu seriuslah, membosankanlah, kurang luculah, atau ayatnya sudah sering dibawakan dan sebagainya. Padahal mereka tidak sadar bahwa mereka sebenarnya sudah membuang kesempatan besar untuk diberkati lewat firman Tuhan, dan untuk bersekutu bersama saudara seiman, bersatu hati memuji dan menyembah Tuhan, merasakan hadirnya Kristus ditengah-tengah jemaat.

Salah satu kunci agar bisa mengikuti kebaktian dengan baik adalah persiapan yang cukup. Banyak orang yang pergi ke gereja di hari Minggu hanya karena rutinitas, karena terbiasa atau karena dipaksa oleh orang tua, istri/suami dan lain-lain. Pertama, kita harus menyadari betul bahwa kita beribadah ke gereja itu banyak gunanya dalam segala hal, baik buat hidup yang sekarang atau hidup yang akan datang nanti.(1 Timotius 4:8). Bayangkan ketika kita mengalami begitu banyak tekanan dan bergumul dalam pekerjaan selama 6 hari, kerohanian kita bisa disegarkan kembali, dipulihkan agar kuat menghadapi minggu berikutnya dengan siraman firman Tuhan. Bagaimana ibadah kita pun berpengaruh pada apa yang akan datang pada kita di kehidupan berikutnya. Berikutnya, kita harus menyadari betul bahwa tujuan kita menghadiri kebaktian adalah berkumpul bersama saudara-saudara seiman untuk memuliakan Tuhan. Kita bisa saling menguatkan, saling sokong, bersama-sama bersukacita dalam hadirat Tuhan. "Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Mat 18:20).

Penulis Ibrani mengingatkan: "Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat." (Ibrani 10:25). Ketahuilah bahwa iblis akan selalu mengaum-aum, mencoba mempengaruhi lewat segala hal agar kita tidak fokus dalam kebaktian, bahkan terus mengupayakan agar kita punya seribu satu alasan untuk tidak menghadiri kebaktian. Eutikhus jatuh dari lantai tiga akibat mengantuk dan meninggal. Untunglah ia kemudian dibangkitkan lagi. Kita mungkin tidak sampai jatuh dari lantai tiga, tapi melewatkan penguatan dan penyegaran otot-otot rohani dengan tidak mendengarkan Firman Tuhan pun sesungguhnya bisa mendatangkan masalah dalam hidup kita. Apa yang kita hadapi setiap hari tidaklah mudah. Ada berbagai jebakan yang siap menelan kita. Kalau kita lemah dan lengah, kita bisa berakhir seperti Eutikhus.

Sebaiknya persiapkan diri anda sehari sebelumnya, termasuk dalam merencanakan apa yang anda akan lakukan pada malam minggu dan tidur yang cukup, sehingga anda dapat mengikuti kebaktian dengan segar dan bersemangat. Tetap ingatkan diri kita bahwa kita adalah manusia-manusia yang membutuhkan kekuatan Tuhan agar bisa terus melanjutkan hidup kita dengan optimal. Meski mungkin anda telah menetapkan jadwal teratur untuk bersama Tuhan di saat-saat teduh di rumah setiap hari, tapi pada kebaktian di gereja anda memuliakan Tuhan bersama dengan saudara-saudara lainnya, merasakan hadirat Tuhan turun atas seluruh anak-anak Tuhan yang benar-benar mencariNya. Bukankah ini hal yang indah?

Persiapkan diri sebaik mungkin setidaknya sehari sebelumnya agar kita dapat beribadah dengan baik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, February 24, 2016

Penolakan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 13:33
========================
"Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem."

Ada seorang salesman yang datang ke rumah. Saya kasihan melihatnya berkeringat menenteng tas yang tampaknya berat. Saya pun menawarkannya segelas minuman dingin dan mengajaknya ngobrol. Ia bercerita bahwa ia adalah pendatang yang belum lama di kota ini. Awalnya ia tidak kenal siapa-siapa. Jangankan relasi atau pelanggan, ia sudah biasa ditolak saat mendatangi rumah satu persatu. Jarang sekali ada yang ramah, apalagi sampai menawarkan minum seperti ini, katanya sambil tersenyum. Saya membayangkan bagaimana sedihnya ketika kita datang tapi yang punya rumah menolak kedatangan kita. Masih untung kalau dengan ramah, tidak jarang ada yang langsung menutup pintu atau memasang muka masam. Yang bikin lebih sulit, ia pun dibebani target setiap harinya. Apa yang membuatnya bisa bertahan adalah karena ia fokus pada tujuan. "Dibawa santai saja pak, ditolak ya sudah. Saya ini salesman, tugas saya menjual. Kalau satu tidak mau, masih ada orang lain yang mungkin mau." katanya.

Saya pikir pekerjaannya tidak mudah dan memerlukan mental baja yang tidak gampang hancur. Salesman ini bekerja menjual sesuatu dan ia kerap mengalami penolakan. Bagaimana jika seandainya apa yang ditawarkan bukanlah produk tapi keselamatan kekal, diberikan cuma-cuma? Faktanya banyak manusia melakukan hal yang sama, yaitu menolak. Itu terjadi hari ini, akan terus terjadi, dan sejak dahulu pun sudah terjadi. Bahkan di masa ketika Yesus hadir mengambil rupa fisik seperti manusia.

Saat Yesus turun ke dunia, bukan satu dua kali Yesus mengalami penolakan. Itu terjadi baik saat Dia mengajarkan Injil maupun ketika melakukan mukjizat. Lukas 4:29 mencatat adanya sekelompok orang di rumah ibadat yang berniat menjatuhkanNya dari tebing. Lalu ada ancaman dibunuh Herodes jika masih bersikeras memasuki Yerusalem (Lukas 13:31), persekongkolan orang Farisi yang gerah atas sepak terjang Yesus untuk mencobai (Matius 16:1) bahkan untuk membunuhNya (Matius 3:6). Kedatangan Sang Juru Selamat yang ingin menyampaikan isi hati Tuhan, prinsip Kerajaan Surga, melakukan banyak mukjizat secara nyata, mendamaikan manusia dengan Tuhan dan membawa keselamatan yang kekal, bukankah itu anugerah yang sangat luar biasa besarnya terutama bagi manusia yang berdosa, tapi masih ditolak? Demikianlah faktanya. Yesus tetap ditolak di banyak tempat dan kesempatan. Kalau kita yang mengalami, mungkin kita segera melupakan saja pekerjaan itu. Tapi Yesus tidak seperti itu. Begitu besar Yesus mengasihi manusia, semua itu tidak cukup kuat untuk membuatnya berhenti melakukan pelayanan.

Apa yang membuat Yesus bisa tetap melakukan itu meski mengalami penolakan? Alkitab menyebutkan alasannya, yaitu karena Dia datang untuk menyelesaikan kehendak BapaNya, bukan hal lain. "Tetapi hari ini dan besok dan lusa Aku harus meneruskan perjalanan-Ku, sebab tidaklah semestinya seorang nabi dibunuh kalau tidak di Yerusalem." (Lukas 13:33). Yesus tahu jelas tugasNya turun ke dunia. Dia tahu apa yang harus Dia lakukan untuk kita, manusia-manusia yang begitu sulitnya mengerti dan berterima kasih. Dia tahu apa yang menjadi kehendak Bapa, dan Yesus fokus kepada hal itu. Maka penolakan, gugatan, dan ancaman-ancaman tidaklah menjadi kendala bagiNya, bahkan ketika Dia disiksa dan wafat di kayu salib, semua Dia lakukan dengan patuh sampai selesai karena itulah kehendak Bapa yang mengutusNya demi menyelamatkan kita semua dari kematian.

Penolakan dan berbagai kegagalan dalam hidup jangan sampai membuat kita patah semangat. Sebaliknya justru harus dijadikan pengalaman dan pembelajaran berharga agar kita bisa mencapai tujuan. Salesman di atas bersyukur jadi sales, karena dia bisa berkeliling kemana-mana, bukan duduk terkurung dalam ruangan sampai sore. Selain itu katanya dia pun jadi banyak belajar kenapa mereka menolak untuk membeli produk kami. Dari si bapak salesman saya belajar bahwa dalam penolakan atau kegagalan sekalipun tetap ada hal yang patut disyukuri, karena ada banyak hal yang bisa kita pelajari dari sana. Akan halnya Yesus, bayangkan apa yang terjadi apabila Yesus menyerah saat menghadapi tekanan dan penolakan hingga penyiksaan dan pembunuhan. Kalau itu yang terjadi maka kita tidak akan selamat dan tidak dapat merasakan hadirat Tuhan yang luar biasa hingga hari ini.

Kehendak Tuhan dalam hidup kita adalah yang terbaik buat kita, meskipun dalam perjalannya terkadang kelihatannya sulit dan penuh hambatan. Ketika kita menghadapi penolakan baik dalam pekerjaan, kehidupan ataupun pelayanan, saat kita melakukan apapun dan terbentur pada penolakan atau kegagalan, jangan pernah menyerah! Bersyukurlah dan ambil semua yang bisa dipakai sebagai pelajaran. Lantas fokuslah pada tujuan hingga tugas anda selesai.

Penolakan itu biasa. Kegagalan hanyalah sukses yang tertunda. Belajarlah dari sana untuk mencapai kesuksesan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, February 23, 2016

Jadilah Terang!

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 1:3
=========================
"Berfirmanlah Allah: "Jadilah terang." Lalu terang itu jadi."

Saya pernah membaca sebuah hasil survei mengenai negara-negara dengan penduduk terbanyak mengkonsumsi obat anti depresi. Sebuah fakta mengagetkan pun diperoleh, yaitu bahwa negara-negara dalam daftar itu adalah negara dengan malam-malam yang panjang. Ada seorang saudara saya yang pernah bekerja di sebuah kota yang terletak di Eropa utara, disana terang dan gelapnya begitu ekstrim. Ada banyak hari dimana matahari sama sekali tidak muncul sehari penuh. Yang ada hanyalah malam yang dingin, kelam dan gelap. Ia bercerita bahwa negara tempatnya bekerja memiliki tingkat kematian akibat bunuh diri yang sangat tinggi. Apa yang menyebabkan hal tersebut? Kota itu dilanda kemiskinan tak berujung? Tidak. Banyak orang tertindas? Tidak. Orang tidak punya pekerjaan dan makanan? Tidak. Apa yang menyebabkan tingginya angka kematian akibat bunuh diri disana ternyata adalah depresi. Depresi ini timbul akibat terus menerus berada dalam kegelapan, kata saudara saya. Dan itu pun cocok dengan hasil survei di awal renungan ini. Kegelapan yang terus menerus ternyata bisa membuat manusia depresi lalu melakukan tindakan-tindakan bodoh. Saya tiba-tiba diingatkan akan ayat mengenai penciptaan. Tuhan menciptakan terang, maka terang itu jadi.

Ternyata apa yang dikandung ayat ini implikasinya luas, bukan hanya menyangkut kegelapan rohani dan kegelapan terhimpit masalah kehidupan, tapi ternyata kegelapan pun punya dampak langsung dalam kehidupan nyata. Saya sebelumnya tidak menyangka bahwa orang yang terus menerus berada dalam kegelapan ternyata bisa mengakibatkan depresi dalam hidupnya, walaupun mungkin mereka tidak sedang berada dalam kesulitan hidup. Maka ayat di atas pun terasa sangat menggambarkan pentingnya terang di mata Tuhan. Kita mungkin jarang menyadari bahwa terang itu adalah salah satu bentuk kasih tak terhingga Tuhan bagi kita yang dikasihiNya: Dia menganugrahkan terang sebagai berkat luar biasa bagi kita. Tuhan tidak berencana membuat bumi terus diliputi kegelapan. Dia menciptakan terang, dan terang itu jadi. Haleluya!

Tuhan Yesus pun berulang kali menyatakan makna penting "terang" bagi kita. Lihatlah bahwa salah satu tujuan kedatangan Yesus ke dunia adalah sebagai terang yang menyinari kehidupan kita. "Maka Yesus berkata pula kepada orang banyak, kata-Nya: "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup " (Yohanes 8:12). Atau lihatlah ayat ini: "Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya " (Yohanes 1:4-5).

Kita diingatkan untuk terus berjaga-jaga dengan pelita yang tetap menyala. (Lukas 12:35). Betapa Tuhan menyadari bahwa banyak manusia yang terjatuh dalam kegelapan, dan bagaimana bahayanya sebuah kegelapan itu, sehingga Kristus berpesan agar kita mampu menjadi terang dan garam dunia. (Matius 5:13-14). Yesus pun kemudian mengingatkan kita bahwa selama kita percaya pada terang dan terang itu ada pada kita, kita pun menjadi anak-anak terang. (Yohanes 12:36).

Ada saat dimana kita berada dalam kegelapan dan pada saat tertentu seolah-olah sulit melihat setitik cahayapun. Ada kalanya hidup kita akan bertemu dengan kegelapan, baik kegelapan secara rohani, atau ketika kita berjalan dalam kegelapan, bahkan dikala kita dihadapkan bagaikan ada di kota dengan malam-malam yang panjang diatas. Ketika hal tersebut kita alami, jangan takut, jangan biarkan depresi menyerang kita, dan jangan pernah putus asa. Ingatlah bahwa bagi Tuhan, kegelapan, kehampaan atau kemustahilan hanyalah lahan subur bagiNya untuk membuat suatu keajaiban. Selalu ada terang dalam diri kita selama kita percaya pada Kristus, Sang Terang Dunia. Dan kegelapan tidak akan bisa mengalahkan Terang. (Yohanes 1:5). Berpeganglah teguh dalam iman akan Kristus, dan biarlah cahaya terangNya menyinari diri kita. Lalu jangan lupa bahwa kita pun dituntut untuk menjadi terang bagi sesama. Terang Kristus yang ada pada kita harus memancar kepada orang lain.

Selama ada terang tidak akan ada gelap. Jadilah terang bagi sesama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, February 22, 2016

Iri Hati (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Perhatikan, Tuhan tidak berkata: "AnakKu Kain, itu adalah hal yang wajar, santai saja... nanti lama-lama juga reda." Tidak. Sebaliknya Tuhan berkata: "Kain, hati-hatilah. Dosa sudah mengintip di depan pintu." Kita tahu apa yang terjadi kemudian. Berawal dari iri hati, ia dikuasai si jahat dan kemudian membunuh adiknya (ay 8). Kemudian ada kisah anak-anak Yakub, yakni Yusuf dan saudara-saudaranya di kitab Kejadian 37. Mereka begitu iri pada Yusuf, sehingga mereka berpikir bahwa dengan menyingkirkan Yusuf, hidup mereka akan menjadi lebih baik. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Mereka bahkan harus pergi ke negeri lain agar tidak mati kelaparan. Bukan hanya dua contoh ini saja, ada banyak lagi kisah mengenai kekacauan dan perbuatan jahat yang  berawal dari iri hati yang dicatat alkitab. Saya yakin dalam kehidupan anda masing-masing anda pun mudah menemukan contohnya dari kejadian di sekitar anda.

Jika demikian, iri hati jelas adalah masalah yang serius yang harus kita singkirkan sepenuhnya, secepatnya, tanpa kompromi. Tanpa menimbang iri hati itu ringan atau berat, wajar atau tidak. BEgitu rasa itu muncul, saat itu juga kita harus memadamkannya. Mari kita lihat lebih jauh, ternyata iri hati termasuk salah satu dari keinginan daging yang berlawanan dengan keinginan roh, yang dapat menyebabkan kita kehilangan bagian dalam Kerajaan Allah (Galatia 5:19-21). Lihatlah bahwa iri hati berada dalam kategori yang sama dengan dosa-dosa yang kita anggap "lebih serius" seperti percabulan, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir dan sebagainya. Alangkah sayangnya jika kita sudah bersusah payah menghindari dosa-dosa itu, namun kita berkompromi pada iri hati yang menyelinap secara diam-diam.

Sadarilah betapa pentingnya kita untuk berjaga-jaga sepenuhnya karena waktunya sudah dekat. Paulus mengatakan: "Hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Sebab itu marilah kita menanggalkan perbuatan-perbuatan kegelapan dan mengenakan perlengkapan senjata terang! Marilah kita hidup dengan sopan, seperti pada siang hari, jangan dalam pesta pora dan kemabukan, jangan dalam percabulan dan hawa nafsu, jangan dalam perselisihan dan iri hati." (Roma 13:12-13).

Sudah waktunya bagi kita untuk berhenti mengijinkan iblis membawa masuk hal-hal yang membinasakan, pada hidup, pekerjaan dan pelayanan kita, termasuk hal-hal yang seolah ringan seperti iri hati. Kita harus terus berusaha agar tidak serupa dengan dunia ini. "Karena kamu masih manusia duniawi. Sebab, jika di antara kamu ada iri hati dan perselisihan bukankah hal itu menunjukkan, bahwa kamu manusia duniawi dan bahwa kamu hidup secara manusiawi?" (1 Korintus 3:3). Apa yang harus kita lakukan? Bergantunglah pada Kristus. "Tetapi kenakanlah Tuhan Yesus Kristus sebagai perlengkapan senjata terang dan janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya." (Roma 13:14).

Mari kita waspadai sikap iri hati yang hendak masuk ke dalam diri kita agar jangan sampai kekacauan dan perbuatan jahat merebut kita dari keselamatan yang sudah dianugerahkan kepada kita.

Jangan pernah berkompromi dengan iri hati walau sekecil apapun

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, February 21, 2016

Iri Hati (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yakobus 3:16
======================
"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat."

Apakah iri hati itu? Iri hati adalah sebuah perasaan tidak senang atau tidak puas yang timbul saat melihat kelebihan atau keuntungan orang lain. Secara umum kalau mendengar kata iri hati orang cenderung mengasosiasikan pada kepemilikan harta benda seperti iri melihat rumah lebih mewah, mobil, aksesoris dan sebagainya. Tapi iri hati sebenarnya bisa muncul dari banyak hal selain materi. Misalnya iri terhadap kesuksesan, kebahagiaan, karir, pekerjaan, kesempatan dan lain-lain. Iri hati tampaknya sepele, karena seringkali rasa ini muncul tanpa sadar dan pernah dialami hampir semua orang. Karenanya orang pun sering menganggap iri hati itu manusiawi, tidak berbahaya bahkan sesuatu yang alami. Tapi berhati-hatilah, karena ayat bacaan hari ini mengingatkan akibat yang bisa timbul dari rasa iri yang dibiarkan bercokol mengotori hati kita.

Saya akan beri ilustrasi sederhana. Ada seorang teman yang tinggal di Australia bercerita bahwa kamarnya pernah kemasukan ular. Ular itu diam dan menggulung di pojokan bawah kasur dan hampir tidak kelihatan. Ia segera memanggil penangkap ular untuk mengambil dan memindahkan ular itu untuk kembali ke habitatnya. Ular yang masuk itu ternyata ular jenis berbisa, yang bisa menimbulkan konsekuensi serius apabila sempat terkena gigitannya. Tidak ada satupun orang yang mau ular berbisa ada di dalam rumah atau kamarnya, yang artinya masuk ke dalam kehidupannya. Tapi bagaimana kalau ular berbisa itu menyusup tanpa kelihatan? Itu jelas berbahaya. Dosa pun seperti itu. Mungkin kita mudah menghindari dosa yang jelas-jelas kasat mata (meski tidak jarang pula orang menikmati dosa bahkan yang terlihat jelas sekalipun), tapi bagaimana dengan dosa yang tidak terlihat nyata tapi saat kita lengah dosa itu bisa menyerang dan mendatangkan akibat mematikan? Itu pun tidak kalah bahaya.

Iri hati sama seperti ular berbisa yang menyelinap diam-diam dan bersembunyi di dalam rumah, mengancam nyawa pemiliknya. Iri hati yang kelihatan sepele dan manusiawi itu? Ya, betul. Mari kita lihat ayat berikut. "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). Iri hati dan mementingkan diri sendiri akan membuka pintu bagi iblis untuk masuk ke dalam kehidupan kita. Dimana iri hati dan mementingkan diri sendiri itu ada, maka potensi kekacauan dan segala macam (bukan hanya beberapa atau sedikit tapi disebutkan segala macam) perbuatan jahat pun sangat besar. Perbuatan jahat apa saja yang akan dibawa iblis melalui pintu yang satu ini? Banyak sekali, mulai dari "sekedar" cemburu, depresi bahkan pembunuhan.

Pembunuhan? Tepat sekali. Pembunuhan pertama yang dicatat dalam Alkitab justru berawal dari iri hati. Itu bisa kita lihat dalam Kejadian pasal 4. Ketika Kain merasa iri pada saudaranya Habel, bahwa korban persembahannya "kalah", hatinya pun panas, dan Wajahnya muram. Apa kata Tuhan melihat Kain? Mari kita lihat ayat 6 dan 7: "Firman TUHAN kepada Kain: "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram? Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." 

(bersambung)

Saturday, February 20, 2016

Sopan Santun

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 13:4-5
=======================
"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain."

Etika dan sopan santun seharusnya menjadi bagian hidup kita. Apalagi budaya ketimuran itu sebenarnya sangat menjunjung tinggi etika dan sopan. Konon pada suatu masa budaya ketimuran yang dipakai oleh bangsa kita membuat kita dikenal dengan keramah-tamahannya. Murah senyum, baik budi pekerti, sopan santun dan menunjukkan sikap yang baik kepada siapapun. Sayangnya perkembangan jaman tampaknya diikuti pula oleh erosi etika dan sopan santun dalam kehidupan bermasyarakat di berbagai lapisan. Anak muda tidak lagi sopan kepada yang lebih tua. Kalau papasan di jalan sudah semakin jarang yang mau senyum apalagi menyapa. Tetangga semakin jarang yang dekat, syukur-syukur tidak sampai ribut karena masing-masing tidak menenggang perasaan  yang tinggal di sekitarnya. Lihatlah berbagai ormas merasa berhak melakukan kekerasan dan tindakan-tindakan yang sangat jauh dari sopan santun bahkan beradab. Apakah yang mengaku anak-anak Tuhan sudah bebas dari penyakit ini? Harus diakui, anak-anak Tuhan pun ada yang tidak tahu menjaga perilakunya, dan akhirnya menjadi contoh buruk di masyarakat, bahkan menjadi batu sandungan. Betapa ironis. Bagaimana bisa mengenalkan Yesus, jika orang sudah terlebih dahulu anti pati akibat contoh-contoh buruk dari perilaku mereka yang seharusnya menjadi terang? Apa yang hilang dari manusia sehingga sopan santun dan etika bisa mengalami degradasi seperti ini?

Permasalahan yang paling mendasar adalah semakin dinginnya kasih dalam diri manusia. Kasih sebagai inti dari kekristenan seharusnya menjadi dasar hidup semua anak-anak Tuhan. Hubungannya kasih dengan kesombongan dan sopan santun? Mari kita lihat ayat bacaan hari ini. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain." (1 Korintus 13:4-5). Di dalam kasih itu ada sabar dan murah hati. Kasih tidak mengenal kecemburuan, memegahkan diri atau sombong, tidak mengenal ketidaksopanan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Kita lihat disini bahwa sesuatu yang dilandasi kasih seharusnya membuat kita tampil sebagai orang-orang yang tidak sombong dan tahu sopan santun.

Mari kita lihat lagi ayat berikut: "Dan anggaplah sebagai suatu kehormatan untuk hidup tenang, untuk mengurus persoalan-persoalan sendiri dan bekerja dengan tangan, seperti yang telah kami pesankan kepadamu, sehingga kamu hidup sebagai orang-orang yang sopan di mata orang luar dan tidak bergantung pada mereka." (1 Tesalonika 4:11-12). Kita diminta untuk hidup dengan tenang, tidak mencampuri persoalan orang lain, apalagi mengganggu ketentraman orang, mencari nafkah dengan jujur tanpa mengganggu orang lain, dan dengan demikian kita akan hidup dengan sopan, sehingga orang-orang yang belum mengenal Kristus pun akan melihat perbedaannya dan menghormati kita. Kesombongan adalah sebuah kekejian di hadapan Allah (Amsal 16:5) dan merupakan awal dari kehancuran (16:18). Bentuk-bentuk kesombongan akan membuat orang memegahkan diri secara berlebihan sehingga kehidupan orang sombong akan jauh dari etika, perilaku terpuji dan sopan santun. Tidak itu saja, kesombongan pun akan menjadi pintu masuk dari dosa-dosa lain.

Tanpa kasih, sehebat apapun pengetahuan kita akan Firman dan sehebat apapun kita dalam pelayanan, semua akan sia-sia saja. Paulus sudah menyebutkannya dalam 1 Korintus 13:1 "Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing.". Karena itu, marilah kita kembali memenuhi diri kita dengan kasih, sebuah kasih sejati dari Allah agar kita tidak harus berubah menjadi orang-orang yang jauh dari sopan santun. Mari kita menjadi contoh yang benar, baik dalam perkataan, tingkah laku maupun perbuatan. Dunia tengah dilanda krisis tata krama, etika dan sopan santun. Janganlah kita ikut-ikutan terseret kepada hal tersebut, tetapi jadilah orang yang berbeda dengan dunia, menjunjung tinggi kesopanan dan ber-etika sehingga kemuliaan Tuhan bisa dinyatakan lewat sikap kita ditengah masyarakat.

Kesopanan dan rendah hati adalah bagian dari kasih yang merupakan inti dari kekristenan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, February 19, 2016

Gemerincing Tak Bermakna (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Banyak orang yang mengira bahwa semakin banyak kita memberi sumbangan, maka itu berarti kita semakin mengasihi. Padahal sebenarnya pemberian bisa didasari oleh beribu macam alasan. Lihat apa kata Yesus. "Jadi apabila engkau memberi sedekah, janganlah engkau mencanangkan hal itu, seperti yang dilakukan orang munafik di rumah-rumah ibadat dan di lorong-lorong, supaya mereka dipuji orang. Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya mereka sudah mendapat upahnya." (Matius 6:2).

Pemberian bisa didasarkan karena mengharapkan sebuah imbalan atau balas jasa, mengharapkan pujian, agar keinginan kita dipermudah dan sebagainya. Atau jangan-jangan malah mengira kita bisa menyuap Tuhan dengan melakukan pemberian yang besar. Ini seringkali dilakukan banyak orang. Tapi perhatikanlah, pemberian sebesar apapun, bahkan menyerahkan diri kita sendiri sekalipun jika tidak didasari kasih tidak akan membawa manfaat apa-apa. Tuhan tidak melihat besar kecilnya pemberian. Apa yang Dia lihat adalah motif di balik sebuah pemberian itu. Itulah sesungguhnya yang akan membedakan apakah Tuhan berkenan atau tidak lewat pemberian kita itu. Dan dasar yang berkenan bagi Tuhan adalah kasih. Pemberian yang didasari kasih yang tulus, sekecil apapun itu, meski hanya sebuah senyum sekalipun, itu akan dihargai Tuhan.

Selanjutnya, seperti apa sebetulnya kasih itu? Paulus menjabarkan apa saya yang menjadi bagian dari kasih yang sungguh-sungguh ini. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Itulah gambaran dari buah-buah yang dihasilkan oleh kasih yang sesungguhnya. Inilah sebentuk kasih yang bisa membawa perubahan nyata. Kasih seperti inilah yang mampu membuat perbedaan. Ketika kita memiliki kasih yang seperti ini, kita akan melihat langsung betapa kasih itu tidak akan pernah gagal. We'll see how love never fails to make a difference. We'll see how love never fails to make every aspects of our life much better.

Iman, pengharapan dan kasih merupakan tiga hal yang sangat penting untuk kita miliki. Paulus menyebutkannya demikian. Tapi jangan lupa bahwa ia menekankan: "yang paling besar di antaranya ialah kasih." (ay 13). Pengetahuan dan nubuatan pada suatu saat akan lenyap, pengharapan dan iman akan selesai ketika kita sudah sampai di hadapan tahta Allah dengan selamat dan sudah melihat segala bukti dengan sempurna kelak, namun kasih akan terus bersama kita dalam kehidupan kekal. Karenanya kasihpun disebutkan Paulus sebagai yang terbesar. "Kasih tidak berkesudahan." (ay 8).

Sangatlah penting bagi kita untuk mengetahui kasih seperti apa sebenarnya yang dikehendaki Tuhan untuk kita aplikasikan dalam hidup. Dia sudah memberikan itu semua lewat Roh Kudus (Roma 5:5). Sekarang keputusan ada di tangan kita. Apakah kita mau mengaplikasikannya dalam setiap sisi kehidupan kita, mencurahkan kasih Allah kepada orang lain juga, atau kita hanya mau menyimpannya untuk diri sendiri saja? Sesungguhnya kedua hukum yang terutama, mengasihi Allah dan manusia itu haruslah berjalan secara bersamaan. Bayangkan jika kita hanya terus melayani di gereja tapi tidak peduli terhadap tetangga kita yang sedang ditimpa masalah. Kita sibuk di gereja tapi menutup mata dari jiwa-jiwa yang ada di luar dinding-dindingnya. Kita terus membuka dompet lebar-lebar untuk persembahan tetapi orang yang kesusahan di dekat kita tidak kita pedulikan. Atau, kita mengira bahwa cukup mengucurkan uang tetapi tidak mau ambil bagian dalam pekerjaan Tuhan, apalagi menjalankan Amanat Agung. Itu bukanlah bentuk kasih yang penuh.Lakukan keduanya sejalan, dan dasarkan dalam kasih, bukan kepentingan-kepentingan lainnya.

Pengharapan terhadap dunia yang fana ini akan sia-sia, tapi kasih yang bersumber dari Allah, yang dikaruniakan lewat Roh Kudus itu mampu membebaskan. Meski kita bisa berbicara dalam berbagai bahasa, hebat dalam menyampaikan berita dari Tuhan, memiliki pengetahuan hingga rahasia-rahasia firman Tuhan, memiliki iman yang sanggup mencampakkan gunung ke laut, sangat royal menyumbang bahkan rela dibakar sekalipun demi kepercayaan yang kita anut, jika kita tidak mempunyai kasih maka semuanya akan sama sekali tidak berguna, sia-sia saja bagai gong yang gemerincing tanpa arti.

Tuhan Yesus mengingatkan "Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!" (Matius 7:21-23). Dan Tuhan menghendaki kita untuk hidup dengan kasih, tinggal di dalam kasih dan menyatakan kasih kepada Tuhan dan sesama. Jika bentuk kasih yang sebenar-benarnya ini yang kita miliki, disanalah orang akan bisa melihat kemuliaan Tuhan secara nyata. Itulah yang akan membedakan kita dari dunia ini. Hari ini mari kita baca baik-baik dan renungkan kemudian perkatakan 1 Korintus 13 ini. Dan mulailah mengaplikasikannya dalam kehidupan kita. Kasih seperti itu sudah dicurahkan Tuhan bagi kita, tinggal kita yang mengeluarkan, mengolah dan memakainya untuk bisa menjadi berkat bagi siapapun tanpa terkecuali. Only then you will witnesss that love really never fails.

A life without love is no life at all

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, February 18, 2016

Gemerincing Tak Bermakna (1)

webmaster | 8:44:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 13:1
========================
"Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing."

Suatu kali sebelum konser musik dimulai, anak dari pemain drum mendekati ayahnya yang sedang men-setting instrumennya. Si anak sepertinya sering melihat ayahnya berlatih di rumah, dia langsung mengambil stick dan memukul drum. Ayahnya dan orang-orang yang ada disana pun tertawa melihat gaya lucu si anak. Ia masih balita, ia belum tahu bagaimana bermain drum dan menghasilkan beat dari setiap ketukan pada bagian-bagian drum tersebut. Drum tersebut ditangan ahli seperti sang ayah tentu bisa menghasilkan bunyi yang melengkapi kesempurnaan sebuah komposisi atau lagu, sedangkan saat dipukul asal-asalan tanpa pola tentu yang muncul hanyalah bunyi yang tanpa makna, yang mungkin saja akan mengganggu telinga kita.

Saya ingin membahas lebih jauh topik dalam renungan terdahulu yaitu tentang kasih. Jika kemarin saya sudah menggambarkan betapa besarnya kasih Allah pada kita dan bagaimana kasih bisa berperan besar dalam kehidupan ini, hari ini kita akan melihat lebih lanjut kasih seperti apa yang sebenarnya mampu membuat perbedaan itu. Paulus menjabarkan itu semua secara lengkap dan jelas dalam 1 Korintus 13. Mari kita lihat seperti apa kasih yang sebenarnya.

"Sekalipun aku dapat berkata-kata dengan semua bahasa manusia dan bahasa malaikat, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama dengan gong yang berkumandang dan canang yang gemerincing." (1 Korintus 13:1).

Paulus mengatakan, meski dia bisa berkata-kata dengan berbagai bahasa yang ada di dunia ini bahkan bahasa malaikat sekalipun, tapi jika ia tidak memiliki kasih terhadap orang lain, maka ia tidak lebih dari bunyi gong dan canang tanpa makna, yang hanya berbunyi tapi tidak punya arti apa-apa. Lalu kita lihat ayat berikutnya.

"Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna." (ay 2).

Kita tahu bahwa Paulus adalah seseorang dengan begitu banyak karunia. Dia memiliki karunia bernubuat, dia punya pengetahuan yang sangat dalam mengenai rahasia surgawi dan kita tahu bahwa Paulus adalah sosok yang memiliki iman yang kuat. Dalam ayat 2 di atas ia menyebutkan iman seperti yang digambarkan Yesus, dimana iman yang sebesar biji sesawi saja akan mampu memindahkan gunung untuk tercampak kelaut seperti yang bisa kita baca dalam Matius 21:21 dan Markus 11:23. Tidakkah semua itu luar biasa? Lalu, mungkinkah orang yang memiliki karunia selengkap itu dikatakan tidak berguna? Tapi Paulus menekankan, bahwa sehebat apapun orang itu, sebesar apapun kemampuan rohani seseorang, mereka tetap saja tidak ada gunanya jika tidak mempunyai kasih.

Selanjutnya Paulus berkata: "Dan sekalipun aku membagi-bagikan segala sesuatu yang ada padaku, bahkan menyerahkan tubuhku untuk dibakar, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, sedikitpun tidak ada faedahnya bagiku." (ay 3). Suka menyumbang, beramal? Banyak menyumbang untuk gereja? Atau bahkan merelakan diri untuk dibakar karena agama yang anda anut? Rela mati dibom demi kepercayaan? Paulus mengatakan bahwa semua itu tidaklah ada manfaatnya sama sekali jika tidak ada kasih.

(bersambung)

Wednesday, February 17, 2016

Love Never Fails (2)

webmaster | 8:00:00 AM | 1 Comment so far
(sambungan)

Jika Allah mengasihi kita sebegitu besar dan kita sudah merasakan sendiri betapa indahnya kasih Allah yang tanpa batas itu, bukankah kita seharusnya  mengasihi Tuhan kembali, dan harus pula bisa mengaplikasikan kasih seperti itu kepada sesama? Tidakkah keterlaluan apabila kita justru lebih tertarik mengisi hidup dengan banyak kebencian, iri hati, dengki dan sejenisnya, hanya mau menerima kasih tapi tidak mau memberi? Padahal Firman Tuhan dengan tegas berkata: "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (1 Yohanes 4:8).

Itu wajar mengingat Allah sendiri mengasihi kita semua dengan kasih setiaNya yang melimpah. Lalu jika ada yang berkata bahwa ia tidak memiliki kasih seperti itu dalam hidupnya? Alkitab sudah menyebutkan bahwa kita semua telah memiliki bentuk kasih yang seperti itu dalam hidup kita! Dalam Roma 5:5 kita bisa membaca dengan jelas bahwa kasih Tuhan telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita. Lihatlah bahwa yang dipakai adalah "telah dicurahkan", bukan akan, bakal atau mudah-mudahan dicurahkan. Artinya, semua itu sebenarnya sudah kita miliki sepenuhnya lewat Roh Kudus. Tinggal kita yang memutuskan apakah kita mau berjalan dalam hidup ini dengan digerakkan oleh kasih atau kita masih terus berpusat pada kepentingan diri sendiri dan sulit untuk mengasihi dan bersyukur buat orang lain.

Kasih merupakan elemen terpenting yang seharusnya menjadi pola dasar dimana kekristenan dibangun, dan dengan sendirinya menjadi cerminan nyata dari kehidupan orang percaya. Ketika yang lain akan berakhir, tidak demikian halnya dengan kasih. "Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap...Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih." (1 Korintus 13:8,13). Kasih akan terus menuntun kita ke dalam koridor yang benar menuju keselamatan, dan masih akan berlaku di kehidupan kekal nanti. Seperti itulah pentingnya kasih yang telah dikaruniakan Tuhan kepada kita semua.

Apakah ada di antara anda yang saat ini tengah frustasi karena keluarga anda tidak kunjung mengalami pemulihan? Apakah anda mulai putus asa melihat anggota keluarga yang terus terjerumus dalam dosa? Komunikasi yang sepertinya sulit terbangun diantara anda, atau anda stres akibat berbagai permasalahan yang seakan tidak selesai? Orang-orang keras kepala yang seolah sengaja ingin membuat anda kesal tanpa henti atau bahkan kecapaian sendiri dengan membenci atau iri hati terhadap orang lain, mengapa tidak menggantikannya dengan kasih? Ingatlah bahwa firman Tuhan sudah berkata bahwa kasih tidak pernah gagal. Kasih mampu mengatasi berbagai permasalahan dan menjaga agar sukacita senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Kasih mampu membawa berbagai berkat dari Tuhan, damai sukacita bahkan pemulihan dalam hidup kita.Sentuhlah orang lain dengan kasih yang berasal dari Tuhan, dan saksikanlah bagaimana kasih mampu mengubahkan segalanya menjadi lebih baik.

Keep living in/with love, because love never fails

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, February 16, 2016

Love Never Fails (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 13:8
===================
"Love never fails" (Amplified Bible)

Ada beberapa orang yang saya kenal selalu menahan diri untuk tidak menunjukkan kasih secara ekspresif kepada anak-anaknya. Mengapa mereka begitu? Alasannya kurang lebih sama: mereka tidak ingin anaknya menjadi manja, ingin anak mandiri dan kuat. Mereka beranggapan cinta atau kasih merupakan penghalang seseorang untuk menjadi tegar dalam menghadapi dunia yang sulit. Cinta/kasih itu mereka anggap melemahkan. Saya sudah begitu sering mendengar bagaimana kasih bisa mengatasi begitu masalah-masalah yang berat. Anak-anak bermasalah pulih ketika mereka merasakan kasih. Berbagai bentuk hubungan yang sudah rusak selama waktu yang panjang bisa tersambung kembali karena kasih. Ada yang kembali menemukan semangat lewat kasih yang mereka dapat, bahkan ada pula yang sembuh dari penyakitnya karena didorong oleh kasih. Tidakkah anda pernah mendengar hal-hal seperti itu?

Perhatikan keluarga yang penuh kasih dengan yang sudah berjalan sendiri-sendiri, dingin atau bahkan panas karena seisinya ribut melulu satu sama lain. Bagi anda yang punya hewan peliharaan seperti saya, anda tentu setuju kalau kasih antara kita dan mereka ternyata mampu menjembatani hubungan antara kita dan mereka meski bahasanya berbeda. Kasih punya tenaga yang luar biasa besar dan sangat sanggup melakukan hal-hal yang besar bahkan di luar logika kita. Tidaklah salah kalau ada ayat yang berbunyi: "Love never fails".

Kita bisa menemukan ayat tersebut dalam 1 Korintus 13:8. Benar, dalam Alkitab kita ayatnya berbunyi: "Kasih tidak berkesudahan." Tetapi jika kita melihat versi Amplified Bible, disana ayat ini berbunyi "Love never fails". Kasih, cinta atau love tidak akan pernah gagal untuk membuat perubahan-perubahan dalam kehidupan kita menuju ke arah yang lebih baik. Seorang pendeta pernah berkata bahwa kalau Alkitab diibaratkan sebagai sebuah jeruk, apabila diperas habis maka sari yang akan kita peroleh adalah kasih. Dan itu benar adanya. Semua bermuara kepada kasih. Kasih pula yang menjadi dua hukum yang terutama yang diberikan Yesus sendiri. "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:37-40).

Soal kasih, Tuhan telah menganugerahkan kasih kepada setiap manusia sejak semula. Mulai dari ciptaan yang pertama, orang-orang pada masa sebelumnya, yang hidup saat ini sampai kepada generasi-generasi selanjutnya. Kasih merupakan sebuah pemberian yang luar biasa besarnya dan indahnya, karena bisa kita bayangkan apa jadinya hidup ini tanpa kasih. Tidak saja memberikan kasih kepada manusia, tapi Tuhan sendiri justru terlebih dahulu telah melimpahkan kasihNya yang teramat sangat besar justru di kala manusia masih hidup berselubung dosa. "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8). Sebagai bukti kasihNya kepada kita, Yesus pun hadir di dunia ini, rela mengorbankan segalanya demi diri kita semua. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16).

Itu sebentuk kasih yang sungguh besar yang bahkan sulit untuk ditiru oleh manusia. Dan lihatlah bahwa apa yang sanggup menggerakkan Allah untuk rela melakukan hal seperti itu tidak lain dan tidak bukan adalah kasih. Mungkin kita mau mengorbankan nyawa demi anak atau istri/suami, orang tua atau saudara, tapi maukah kita memberikan nyawa bagi orang yang tidak kita kenal sama sekali? Atau kepada orang yang jahat? Rasanya tidak satupun dari kita yang mau, tapi Tuhan mau. Itu adalah bukti dari kasihNya yang begitu besar, yang sudah Dia lakukan bagi kita semua. Jika hari ini kita hidup dalam sebuah kehidupan yang dekat secara pribadi dengan Tuhan, jika hari ini kita memiliki Roh Kudus yang senantiasa menuntun kita agar tidak salah melangkah, jika hari ini kita sudah diberikan kunci kerajaan Surga, artinya diberikan keselamatan lengkap dengan petunjuk melangkah agar semua itu terjadi dalam kepastian, itu semua adalah berkat Yesus yang rela turun ke dunia mengambil rupa seorang hamba, dan itu adalah penggenapan dari kehendak Allah yang didasari kasih kepada semua manusia.

(bersambung)

Monday, February 15, 2016

True Love of God (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)


Jika anda baca Roma pasal 5, anda akan kembali menemukan pesan ini. "Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah seorang mau mati untuk orang yang benar--tetapi mungkin untuk orang yang baik ada orang yang berani mati--. Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:6-8).

Yesus melakukan itu semua bukan karena kita orang baik, karena kita luar biasa, karena kita sangat hebat dan lain-lain. Yesus mati untuk kita disaat kita masih berdosa. Dia datang untuk kita orang berdosa dan mengorbankan diriNya demi keselamatan kita. Dan ayat 8 kembali menyatakan dengan jelas bahwa "Allah menyatakan kasih-Nya kepada kita ketika Kristus mati untuk kita pada waktu kita masih orang berdosa." (BIS) Dalam bahasa Inggris amplifiednya dikatakan "But God shows and clearly proves His [own] love for us by the fact that while we were still sinners, Christ (the Messiah, the Anointed One) died for us." A love so true, so genuine, bentuk kasih yang kita rindukan untuk memenuhi diri kita selamanya.

Kita ingin kasih seperti ini melimpah dan bisa kita alirkan pula kepada sesama, terlebih pada mereka yang saat ini tengah kesepian, menderita dan merindukan bentuk kasih seperti itu. Adakah yang bisa memisahkan kita dari kasih Allah? Kalau kita menyadari hakekat kita sebagai orang-orang yang lebih dari pemenang, kita seharusnya sadar pula bahwa kasih Allah yang begitu besar itu melekat pada diri kita sedemikian rupa sehingga tak ada apapun yang bisa memisahkan. Itu tertulis dalam Roma 8.

"Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita. Sebab aku yakin, bahwa baik maut, maupun hidup, baik malaikat-malaikat, maupun pemerintah-pemerintah, baik yang ada sekarang, maupun yang akan datang, atau kuasa-kuasa, baik yang di atas, maupun yang di bawah, ataupun sesuatu makhluk lain, tidak akan dapat memisahkan kita dari kasih Allah, yang ada dalam Kristus Yesus, Tuhan kita." (Roma 8:38-39).

Tidaklah salah merayakan Hari Kasih Sayang alias Valentine bersama kekasih atau pasangan anda dengan suasana romantis. Ini bisa menjadi momen yang baik untuk menghangatkan kembali hubungan yang mungkin mulai dingin atau memperkuat hubungan yang masih terekat dengan baik. Orang-orang terdekat seperti orang tua, kakek, nenek, saudara maupun sahabat-sahabat terdekat juga bisa menjadi orang yang mendapatkan pernyataan kasih secara khusus di hari ini. Tapi jangan lupa pula bahwa ada banyak orang di luar sana yang merindukan bagaimana indahnya dipedulikan dan dikasihi. Bagilah kasih bersama mereka juga. Terutama jangan pernah lupakan the greatest love of all, bentuk kasih sejati dari Tuhan yang berlaku buat semua umat manusia sepanjang masa. Feel the love inside you, never let it go, and flow it out to reach others. Betapa indahnya apabila itu terjadi lewat orang percaya, dan perayaaan tahun ini bisa dijadikan momentum untuk itu. Happy Valentine everyone, God love you! 

Feel his Love and let others feel it too through us

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho



Sunday, February 14, 2016

True Love of God (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 5:8
=============
"But God shows and clearly proves His [own] love for us by the fact that while we were still sinners, Christ (the Messiah, the Anointed One) died for us." (English AMP)

Hari ini kita merayakan hari Valentine. Di Indonesia perayaan ini termasuk yang kontroversial karena pro dan kontra yang terjadi. Saya tidak mau mempermasalahkan hal itu. Adalah hak setiap orang untuk memilih dan menentukan apa yang mereka anggap baik. Buat saya apa yang lebih baik adalah merenungkan apa sebenarnya hikmat yang bisa kita ambil dari hari Valentine ini. Bagi yang merayakan, terutama anak-anak muda biasanya akan memberi sesuatu kepada kekasihnya seperti yang paling umum coklat dan bunga mawar, candlelight dinner dan sebagainya. Suasana di pusat-pusat keramaian seperti mall, cafe dan resto pun akan membuat pengunjung dimanjakan dengan suasana romantis bernuansa pink.

Bagaimana bagi yang tidak punya pasangan? Sebagian tidak mau merayakan, sebagian mungkin memilih untuk bergabung dengan orang-orang yang memandang Valentine's Day dengan kacamata yang lebih luas, yaitu merayakannya bersama orang tua, saudara, keluarga dan orang-orang terdekat. Bagi mereka yang hari ini sendirian, kesepian atau mungkin sedang terluka, di hari Valentine ini saya rindu untuk mengingatkan bahwa ada Pribadi yang peduli, yang selalu ada bersama anda dan sangat mengasihi anda, yaitu Yesus. Yesus selalu ingin memberikan kasihNya kepada anda setiap saat, bukan sementara. Dia tidak akan mengecewakan anda, meninggalkan anda, menyakiti anda. Tidak. Dia tidak akan membenci anda. Dia bahkan sudah memberikan nyawaNya sendiri untuk semua manusia agar bisa ditebus dari dosa, dipulihkan hubungan dengan Bapa dan dilayakkan untuk menerima kehidupan yang kekal. He has done that many years ago. He loves us, He is Love. 

Mari kita lihat ayat berikut ini. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal." (Yohanes 3:16). Apa yang menggerakkan Tuhan untuk mengorbankan Kristus tidak lain dan tidak bukan adalah kasih. For God so greatly loved and dearly prized us who live in this world, He gave up His only son. There can be no greater love than this. Ayat ini secara jelas dan nyata menulis bagaimana besarnya kasih Allah kepada kita, manusia yang berdosa dan lemah.

Ada banyak dari kita yang lupa akan hal itu dan masih terbelenggu oleh berbagai penyesalan akan perbuatan-perbuatan di masa lalu. Kita tidak bisa menghapus ingatan itu, kita tidak bisa mundur ke masa lalu dan merubahnya. Ya, kita tidak bisa melakukan itu. Tapi ketahuilah ini: Tuhan sudah mengatakan bahwa dalam Kristus kita mendapatkan kesempatan untuk menjadi ciptaan baru. Berbalik dari segala luka dan penderitaan di masa lalu untuk menjadi umatNya yang indah.

"Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. Dan semuanya ini dari Allah, yang dengan perantaraan Kristus telah mendamaikan kita dengan diri-Nya dan yang telah mempercayakan pelayanan pendamaian itu kepada kami. Sebab Allah mendamaikan dunia dengan diri-Nya oleh Kristus dengan tidak memperhitungkan pelanggaran mereka. Ia telah mempercayakan berita pendamaian itu kepada kami. Jadi kami ini adalah utusan-utusan Kristus, seakan-akan Allah menasihati kamu dengan perantaraan kami; dalam nama Kristus kami meminta kepadamu: berilah dirimu didamaikan dengan Allah. Dia yang tidak mengenal dosa telah dibuat-Nya menjadi dosa karena kita, supaya dalam Dia kita dibenarkan oleh Allah." (2 Korintus 5:17-21).

Ayat-ayat 2 Korintus 5:17-21 menyatakan lebih lanjut bentuk kasih yang luar biasa besar dan sejati. Yesus menyatakan kasihNya bukan saja saat Dia berkeliling menyampaikan suara hati Bapa dan melakukan begitu banyak mukjizat, tapi terlebih saat Dia harus melalui proses yang begitu menyiksa hingga Dia mati di kayu salib, untuk anda dan saya. Yesus mendamaikan hubungan antara kita dengan Allah Bapa yang terputus akibat dosa. In Christ we are a new creation. The old moral and spiritual condition has passed away. Behold, and be happy, the fresh and new has come. Ini adalah anugerah luar biasa besar yang dimungkinkan oleh kasih Tuhan kepada kita.

(bersambung)

Saturday, February 13, 2016

Dinas Luar

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Markus 6:7-8
===================
"Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan"

Tetangga saya baru saja pulang dari dinas luar kotanya ke sebuah tempat yang sebelumnya belum pernah ia kunjungi. Ia bercerita banyak tentang kota itu, dan yang membuatnya senang, ia tidak mengeluarkan biaya apapun selama disana. "Semua ditanggung kantor", katanya sambil tersenyum. Hotel, makan, transportasi dibiayai oleh tempatnya bekerja berhubung ia pergi kesana dalam rangka menjalankan tugas, plus uang saku selama perjalanan. Saat menjalankan tugas mewakili sebuah instansi, lembaga atau negara sebuah kebanggaan, fasilitas selama perjalanan ditanggung oleh instansi dimana seseorang itu bekerja. Itu tentu hal yang wajar. Itu juga hal yang membanggakan bagi sebagian orang, karena biasanya tidak semua bisa mendapat kesempatan itu. Ya, itu biasa. Tapi pada saat Yesus mengutus kedua belas muridNya untuk melakukan tugas seperti yang ia sudah jalani Dia melakukannya cukup unik. Kisah inilah yang ingin saya ambil sebagai ayat bacaan hari ini.

"Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua. Ia memberi mereka kuasa atas roh-roh jahat,dan berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat, rotipun jangan, bekalpun jangan, uang dalam ikat pinggangpun jangan" (Markus 6:7-8). Apa yang dilakukan Yesus terlihat sangat aneh. Dia mengutus murid-muridNya berdua-dua alias berpasangan, dan melarang mereka membawa apapun, termasuk bekal dan uang. Coba anda bayangkan seandainya anda mendapat tugas mewakili sebuah tempat anda bekerja, anda tentu akan menolak kalau tidak dibekali lebih dari cukup. Tugas dari Yesus kepada murid-muridNya ini merupakan bentuk utusan Tuhan, untuk sebuah tugas Kerjaan Allah. Kalau dipikir-pikir, untuk tugas biasa dari atasan yang orang biasa juga kita bisa jadi protes kalau ditugasi tanpa dibekali apa-apa. Tampil rapi, kalau bisa dengan stelan jas mewah dan berpenampilan ekstra keren pun sering menjadi keharusan. Bagaimana dengan sebuah tugas dari Tuhan? Lupakan soal penampilan yang keren. Tuhan Yesus malah melarang utusan-Nya membawa bekal.

Sepintas ayat ini mungkin terkesan aneh kalau dipikir dengan menggunakan logika. Tapi kalau kita cermati baik-baik, sesungguhnya ada tiga hal penting yang ingin diajarkan Yesus lewat hal ini.

1. Yesus mendidik para muridNya untuk percaya sepenuhnya pada Dia. Tidak bergantung pada harta, materi dan atribut-atribut duniawi lainnya, tapi berharap penuh pada apa yang disediakan Allah buat mereka.
2. segala kemewahan mudah untuk membuat orang berubah menjadi sombong, tapi sebagai murid Yesus, kita harus selalu berpegang pada kasih setia Allah dan itu akan menjaga kita terhindar dari kesombongan.
3. Yesus tahu bahwa sebagai manusia, para murid-muridNya, termasuk kita, bisa setiap saat menjadi lemah, terkadang bisa hilang motivasi, lelah dan sebagainya, maka Dia mengutus berpasang-pasangan, bukan sendirian, agar bisa saling membantu dan menguatkan.

Khusus untuk poin ketiga ini, kita bisa melihat bahwa Yesus menunjukkan hakekat manusia seperti yang ada di benak Allah saat menciptakan. Manusia sejatinya tidak diciptakan untuk menjadi mahluk individual yang hidup sendiri melainkan sebagai mahluk sosial. Kita tidak akan bisa berbuat banyak kalau hanya melakukan apa-apa sendirian saja. Talenta yang berbeda-beda telah diberikan Tuhan kepada masing-masing pribadi, yang kalau disatukan akan mampu menghasilkan  pekerjaan-pekerjaan besar. Tuhan Yesus menunjukkan bahwa dengan berdua itu jauh lebih baik dari sendirian. Itu sejalan dengan ayat berikut: "Berdua lebih baik dari pada seorang diri, karena mereka menerima upah yang baik dalam jerih payah mereka. Karena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi wai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk mengangkatnya!" (Pengkotbah 4:9-10). Selain itu Yesus sendiri sudah berkata: "di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka."(Matius 18:20). Jadi saat mereka melaksanakan tugas, mereka pun disertai Yesus langsung. Oleh karena itu menjalani hidup sesuai hakekat sebagai mahluk sosial sangatlah penting untuk diperhatikan.

Tugas mewartakan kasih Tuhan Yesus, mewartakan siapa pribadi Yesus kepada saudara-saudara kita bukanlah tugas yang ringan, tapi bukan pula tugas yang tidak mungkin dilakukan. Jika kita mengalami kasih Yesus dan bersungguh-sungguh dalam komitmen mengabarkan Injil, kitapun akan mendapat kekuatan dari Allah. Dan ingatlah agar maksimal, akan sangat baik apabila dilakukan dalam kapasitas sebagai mahluk sosial dengan membangun hubungan bersama anak-anak Tuhan lainnya. Pergunakan talenta dan kemampuan anda, bersinergilah dengan saudara seiman lainnya. Ketahuilah bahwa bukan urusan besar kecilnya yang anda lakukan hari ini, bukan soal berapa modal yang anda punya, tetapi penyertaan Tuhan pada kesungguhan anda memulikakanNya dalam menjalankan tugas lah yang menentukan. Menjalankan Amanat Agung sebagai perwakilan Tuhan di muka bumi ini sesungguhnya merupakan sebuah kehormatan, karenanya lakukan yang terbaik agar kita bisa menjalankannya dengan benar.

Bukan karena kekuatan kita, bukan karena materi, tapi karena kuasa Tuhan bekerja dalam kebersatuan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, February 12, 2016

Blessed to be a Blessing (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Dalam Amsal 11:24-25 dikatakan: "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan. Siapa banyak memberi berkat, diberi kelimpahan, siapa memberi minum, ia sendiri akan diberi minum." Perhatikanlah bahwa bersikap pelit tidak akan membuat kita bertambah kaya. Apa yang saya maksud dengan kaya disini tidaklah hanya mengacu kepada nilai harta materi saja melainkan juga kekayaan non materi seperti yang sudah saya singgung dalam beberapa renungan sebelumnya seperti kepandaian, ilmu pengetahuan, hikmat dan sebagainya. Ada orang yang pelit dalam membagi ilmu atau pengetahuan/keahliannya karena tidak ingin orang bisa lebih hebat dari mereka. Dan sikap seperti ini tentu juga tidak benar karena sama saja menyalahi ketetapan Tuhan.

Selain itu, Yesus juga mengingatkan: "Dan barangsiapa memberi air sejuk secangkir sajapun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya." (Matius 10:42). Lihatlah bahwa Tuhan selalu menekankan pentingnya membagi berkat kepada orang lain. Yesus sudah mengingatkan bahwa kita tidak akan pernah kehilangan upah ketika memberi kepada orang yang membutuhkan selama dilakukan karena menyadari benar posisi kita sebagai orang percaya, sebagai muridNya. Apa yang Tuhan berikan kepada kita, bukanlah untuk kita simpan sendiri, namun haruslah dipakai untuk bisa memberkati sesama kita, siapapun mereka. Dan Tuhan tidak pernah membebankan kita sehingga kita malah menjadi kekurangan karena menolong. Itu tidak akan terjadi selama kita memberi dengan tulus karena kasih bukan karena mencari keuntungan-keuntungan pribadi.

Apa yang penting untuk kita perhatikan adalah motivasi kita dalam memberi/membagi berkat untuk orang lain. Paulus mengingatkan kita agar "Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:7). Tuhan tidak akan pernah merugikan kita ketika memberi, sebab "Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." (ay 8). Sebuah penekanan penting diberi Paulus dalam awal dari perikop yang berbunyi "Memberi dengan sukacita membawa berkat" ini (2 Korintus 9:6-15) yaitu "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga."

Apa yang dikehendaki Tuhan adalah kita harus mau memberkati orang lain dengan segala berkat yang kita peroleh dari Tuhan. Mari kita periksa, sudah sejauh mana kita telah mempergunakan berkat yang telah kita terima dari Tuhan? Semua pemberian yang kita lakukan dengan tulus didasari kerinduan dan kasih kita pada Tuhan dan sesama tidak akan pernah berakhir sia-sia. Tidak peduli berapapun yang bisa anda berikan saat ini, sekalipun sangat kecil jumlahnya, atau bukan dalam bentuk materi, semua itu akan sangat bernilai di mata Tuhan jika dilakukan dengan motivasi yang benar. Tuhan selalu sanggup mencukupkan, bahkan memberkati berkelimpahan. Saat kita memberi, kita akan diberi. Ketika kita banyak menabur berkat, kita akan menuai kelimpahan. Paulus mengingatkan hal ini juga. "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Jangan pernah merasa bosan untuk memberkati, karena Tuhan pun tidak pernah merasa bosan untuk memberkati anda.

We are blessed to be a blessing to others

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, February 11, 2016

Blessed to be a Blessing (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Korintus 9:8 (BIS)
=======================
"Berilah kepada orang lain, supaya Allah juga memberikan kepadamu; kalian akan menerima pemberian berlimpah-limpah yang sudah ditakar padat-padat untukmu. Sebab takaran yang kalian pakai untuk orang lain akan dipakai Allah untukmu."

Saya masih ingin melanjutkan lagi tentang being blessed to be a blessing to others. Ada contoh menarik akan hal ini yang belum sempat saya bagikan. Lukas mencatat ada beberapa orang perempuan aktif dalam mengikuti Yesus melayani bersama murid-muridNya. "Tidak lama sesudah itu Yesus berjalan berkeliling dari kota ke kota dan dari desa ke desa memberitakan Injil Kerajaan Allah. Kedua belas murid-Nya bersama-sama dengan Dia, dan juga beberapa orang perempuan yang telah disembuhkan dari roh-roh jahat atau berbagai penyakit, yaitu Maria yang disebut Magdalena, yang telah dibebaskan dari tujuh roh jahat, Yohana isteri Khuza bendahara Herodes, Susana dan banyak perempuan lain. Perempuan-perempuan ini melayani rombongan itu dengan kekayaan mereka." (Lukas 8:1-3). Perhatikan ayat ini baik-baik. Lukas menjelaskan bahwa para perempuan yang ikut itu adalah mereka yang sebelumnya sudah pernah menerima pertolongan, baik kesembuhan, pemulihan dan berbagai berkat lain. Maria yang disebut Magdalena dibebaskan dari tujuh roh jahat, dan beberapa lainnya juga mengalami kesembuhan dari berbagai penyakit dan roh-roh jahat. Mereka mengalami jamahan Tuhan dan dipulihkan. Menariknya, mereka tidak langsung pergi setelah menerima mukjizat melainkan kemudian  turut serta dalam pelayanan. Singkatnya, mereka tahu pasti bahwa berkat yang mereka terima harus dipakai untuk memberkati orang lain. Mereka bergerak aktif dalam mencukupi keperluan Yesus beserta tim selama menjalankan misi pelayanan dari kota ke kota.

Diberkati untuk memberkati. Kemarin kita sudah melihat ayatnya dalam 1 Petrus 3:9, "...hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat..." Hari ini saya ingin membagikan ayat lainnya yang juga mengacu kepada hal tersebut yaitu dari surat 2 Korintus. Demikian kata Paulus: "Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." (2 Korintus 9:8) Dalam versi BIS dikatakan: "Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal." Jadi jelas kita lihat bahwa Tuhan melimpahi kita dengan segala kasih karunia bukan saja agar kita tidak berkekurangan melainkan agar kita bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain.

Ada banyak orang yang saat berkelebihan secara materi, mereka bukannya menjadi semakin membantu orang lain tapi malah semakin sulit memberi. Semakin kaya, semakin sombong dan semakin pelit. Kalaupun memberi itu akan dipakai sebagai sebuah etalase kebanggaan pribadi, agar kemakmurannya bisa dipamerkan didepan banyak orang. Lihatlah artis-artis yang memanggil wartawan untuk meliput mereka beramal atau menunjukkan rumah mereka yang mewah. Itu bisa kita tonton hampir setiap hari kan?  Atau memberi kalau mengharapkan sesuatu alias pamrih. Supaya hubungan bisnis jadi mulus, supaya proyek gol, supaya menang tender, supaya naik pangkat dan sebagainya. Mereka memberi demi keuntungan pribadi, dan itu sangat bertentangan dengan tujuan Tuhan memberkati.

Selanjutnya mari kita lihat apa yang dikatakan Yesus sendiri. "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Lukas 6:38). Dalam versi Bahasa Indonesia Sehari-hari dikatakan "Berilah kepada orang lain, supaya Allah juga memberikan kepadamu; kalian akan menerima pemberian berlimpah-limpah yang sudah ditakar padat-padat untukmu. Sebab takaran yang kalian pakai untuk orang lain akan dipakai Allah untukmu."  Dari ayat ini terlihat jelas korelasi antara diberi dan memberi, antara diberkati dan memberkati. God gives us so we can give others. Kita diberi untuk memberi. Bahkan dikatakan bahwa ukuran atau takaran yang kita pakai untuk orang lainlah yang akan dipakai Allah untuk kita.

(bersambung)

Wednesday, February 10, 2016

Blessed to be a Blessing to Others (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Pertanyaan selanjutnya: Akankah kita rugi, bangkrut atau jatuh miskin bila kita banyak memberi? Banyak orang beranggapan seperti itu. Memberi itu bagi mereka seolah sama dengan buang-buang uang dan rugi. Padahal kalau kita memberi dengan hati yang tulus semata-mata karena mengasihi Tuhan dan sesama, Tuhan sudah mengatakan kita tidak akan menjadi berkekurangan, malah akan semakin banyak lagi menerima berkat. Firman Tuhan dengan jelas menyatakan hal itu:  "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." (Amsal 11:24). Selain Firman Tuhan berkata demikian, ada banyak sekali orang yang bisa memberi kesaksian atau bukti tentang itu lewat pengalaman hidupnya sendiri. Saya sendiri punya begitu banyak bukti akan hal ini. Pelit, tamak, serakah, egois dan sejenisnya tidak akan pernah membawa hasil apa-apa selain kerugian buat diri kita sendiri. Kita tidak perlu takut kekurangan karena semua itu sesungguhnya berasal dari Tuhan dan bukan dari dunia seperti yang dipikir banyak orang. Benar, itu sebuah prinsip yang sangat berbeda dengan apa yang diajarkan dunia, tetapi mulailah biasakan diri dari sekarang untuk mengadopsi prinsip Kerajaan Allah dan merasakan sendiri bedanya.

Kembali kepada ilustrasi awal tentang gelas yang dituang air terus menerus hingga melimpah, perhatikanlah bahwa untuk bisa membasahi area diluar gelas, maka terlebih dahulu tentu gelas harus penuh. Kalau tidak penuh maka tidak ada yang mengalir keluar bukan? Seperti itu pula prinsip Tuhan memberkati kita. Tuhan tidak akan membiarkan kita susah disaat kita rindu untuk memberi. Kalau kerinduan itu didasari hati yang tulus dan penuh belas kasih, Tuhan tidak akan pernah mau menahan curahan berkatNya hingga berkelimpahan. Tuhan tentu tahu bahwa kita akan bisa lebih leluasa dalam memberi kalau kita tidak kekurangan. Kita akan Dia penuhi terlebih dahulu agar kita bisa menjadi saluran berkatNya secara maksimal.

Dalam banyak kesempatan Tuhan sudah berkata bahwa apa yang ingin Dia berikan bukanlah sesuatu yang secukupnya/ala kadarnya atau biasa, tetapi sesuatu yang berlimpah-limpah misalnya dalam 2 Korintus 9:6-8, Ulangan pasal 28, Yohanes pasal 10 dan lain-lain. Tapi jangan lupa bahwa itu bukan untuk dihabiskan dengan berfoya-foya untuk memenuhi keinginan-keinginan daging, tetapi hendaklah dipakai sesuai panggilan kita yaitu untuk memberkati sesama.

Kita harus tahu untuk apa Tuhan memberkati kita, kita harus memiliki kerinduan untuk melakukannya. Kita harus sadar bahwa berkat hanya bisa dimiliki dengan usaha yang jujur, serius dan dibarengi dengan kedekatan dengan Tuhan, hidup kudus dan seturut kehendakNya, lalu selanjutnya mengetahui untuk apa berkat Dia limpahkan. Jadi hiduplah seperti keinginan Tuhan, berusahalah sungguh-sungguh dengan jujur, dan ketika Tuhan memberkati anda, pergunakanlah itu untuk memberkati sesama. Mulailah memberi, maka Tuhan akan terus mencurahkan berkatNya memenuhi lumbung agar anda bisa memberkati lebih, lebih dan lebih lagi.

We are blessed to be a blessing to others

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, February 9, 2016

Blessed to be a Blessing to Others (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Selain Petrus, Paulus ternyata mengajarkan hal yang sama. "Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menuai banyak juga. Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita." (2 Korintus 9:6-7). Paulus tidak berhenti sampai disitu. Ia lebih jauh menjelaskan bahwa Tuhan sanggup melimpahkan segala kasih karuniaNya bahkan hingga berkelebihan, dan ini semua bukan untuk memperkaya diri, menyombongkan diri dan dinikmati sendiri dengan serakah, melainkan untuk beramal, memberkati orang lain. "Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan." (ay 8).

Dalam Alkitab versi BIS ayatnya berbunyi demikian: "Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal." Sangat jelas dan sama bukan? Kasih karunia Tuhan lebih dari cukup buat kita. Tuhan berkuasa untuk melimpahi kita dengan berkat, tetapi sangatlah penting bagi kita dalam menyadari mengapa dan untuk tujuan apa Dia memberikan itu. Selain agar kita mampu memiliki apa yang kita butuhkan dalam hidup, tetapi terlebih pula itu ditujukan agar kita punya sesuatu untuk berbuat baik dan beramal.

Ketahuilah bahwa berkat-berkat yang kita peroleh adalah titipan Tuhan yang harus kita sisihkan dan pergunakan untuk memberkati sesama kita. Kita harus berpikir seius untuk menjadi saluran berkat dan cerminan kemuliaan dan kasih Tuhan atas manusia, tanpa terkecuali. Apakah itu berkat kekayaan, berkat kesehatan, talenta-talenta yang kita miliki, semua itu hendaklah kita pergunakan untuk menjadi berkat buat orang lain. Apapun yang kita lakukan buat membantu orang lain akan sangat Dia hargai. Firman Tuhan berkata: "Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku." (Matius 25:45). Kita harus sadar bahwa kekayaan, kemampuan, kepandaian dan kekuatan yang ada pada kita semua merupakan berkat yang berasal dari Tuhan. Karena itu sudah selayaknya kita mempergunakannya untuk sesama kita, siapapun mereka, apapun latar belakangnya.

Dalam prinsip kekristenan, mengasihi dan menolong orang lain tidak boleh pandang bulu dan pilih-pilih. "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Siapapun yang tengah lemah ditimpa kesulitan,apapun latar belakangnya, wajib kita bantu. Dan semua orang percaya harus bisa sampai kepada sebuah kesimpulan bahwa rasa bahagia akan jauh lebih terasa saat kita memberi ketimbang saat menerima.

Perhatikan, semakin dalam kita masuk ke dalam hadiratNya, semakin dekat kita pada Tuhan, maka cara kita memandang kebahagiaan pun dengan sendirinya berubah. Jika dulu kita berbahagia ketika kita diberi, maka kini kita akan jauh lebih berbahagia ketika bisa memberi kepada orang lain. Kita bisa merasa sangat bahagia ketika berkesempatan menolong meringankan beban orang lain, yang dilakukan bukan karena pamrih apa-apa tapi semata-mata karena belas kasih. Kita memperoleh berkat adalah agar kita bisa memberkati orang lain. Semakin banyak kita mendapat berkat, berarti kesempatan kita memberkati orang lain pun seharusnya makin besar.

(bersambung)

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker