Saturday, February 28, 2015

Menjadi Penyemangat (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 1:11-12
========================
"Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku."

Dari pengalaman saya sendiri yang pernah lama mengajar dan setelah memfokuskan diri di dunia musik bersinggungan dengan banyak anak muda dengan panggilan menjadi musisi, saya melihat bahwa seringkali letak permasalahan untuk berhasil bukan dari segi kemampuan, tetapi dari sisi mental. Ada banyak diantara mereka yang tidak percaya diri sehingga sulit maju. Alasannya banyak. Ada yang sejak kecil tidak pernah mendapat pujian dari orang tua dan keluarganya, ada yang mendapat tekanan di sekolah, sering diejek dan sebagainya. Ada yang memang mentalnya lemah sehingga mereka mudah menyerah atau yang kurang/tidak punya semangat juang.

Karena itu saya sangat senang menempatkan diri sebagai penyemangat, bukan kritikus. Saya lebih suka memotivasi ketimbang mengkritik. Meski di awal mereka masih rada kacau, saya percaya suntikan semangat bisa memacu mereka agar lebih baik lagi. Dan itulah yang terjadi. Ada banyak diantara anak-anak muda ini yang tadinya hanya sendirian, sekarang setidaknya mereka punya satu orang yang mau mendorong mereka untuk sukses. Mereka akan menunjukkan perubahan signifikan setelah ada yang menguatkan, menghibur, menyuntikkan semangat dan kemudian berhasil mengembangkan talenta mereka secara maksimal lalu sukses dalam profesinya masing-masing.

Apa yang dibutuhkan orang yang masih berjuang atau dalam tahap-tahap belajar adalah orang yang bersedia mensupport mereka secara moril. Bukan hanya anak-anak muda yang masih belajar tetapi juga mereka yang sedang menghadapi ujian dalam kehidupan, sedang berhadapan dengan situasi-situasi sulit atau masalah. Pada suatu ketika kita harus kembali kepada hakekat seorang manusia yang tidak mampu bertahan hidup sendirian.

Kalau mengacu kepada Firman Tuhan, Tuhan bahkan sudah menyadari hal itu dan menyebutkan jatidiri kita sebagai mahluk sosial sejak awal. "TUHAN Allah berfirman: "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia." (Kejadian 2:18). Ketika Yesus hadir di dunia, Dia pun mengetahui hal yang sama. Lihatlah apa yang diputuskan Yesus saat mengutus kedua belas murid untuk melakukan pekerjaan mereka. "Ia memanggil kedua belas murid itu dan mengutus mereka berdua-dua.." (Markus 6:7). Tuhan Yesus meminta para murid melakukan tugasnya tidak sendirian tetapi setidaknya berdua agar bisa saling menguatkan dan membantu.

Kepada kita Dia memberikan Penolong, Roh Kudus untuk menyertai, membimbing, mengingatkan dan membantu kita dalam setiap langkah yang kita jalani. "Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya" (Yohanes 14:16). Kalau kita sadar bahwa kita tidak pernah bisa hidup sendirian dan selalu butuh orang lain yang mau menyemangati dan menolong, bukankah kita pun sebenarnya harus bersedia untuk menjadi penghibur atau penyemangat sesama kita juga? Jangan-jangan kita masih terlalu sibuk mementingkan diri sendiri dan tidak peduli terhadap orang lain? Sudahkah kita meluangkan waktu sejenak untuk membantu mereka? Atau maukah kita untuk itu? Tidak tahu harus bilang apa, tidak mampu memberikan apa-apa bukan masalah, karena seringkali sekedar menjadi pendengar yang baik pun sudah berarti besar buat mereka.

Selanjutnya mari kita lihat apa yang disampaikan Paulus kepada jemaat di Roma. "Sebab aku ingin melihat kamu untuk memberikan karunia rohani kepadamu guna menguatkan kamu, yaitu, supaya aku ada di antara kamu dan turut terhibur oleh iman kita bersama, baik oleh imanmu maupun oleh imanku." (Roma 1:11-12). Ia berkata, "saya datang agar kita sama-sama bisa mempergunakan karunia rohani kita untuk saling menguatkan. Iman saya menguatkan kalian, iman kalian menguatkan saya." Di ayat sebelumnya kita melihat bahwa Paulus terus berdoa agar ia diijinkan untuk bisa mengunjungi mereka. Kita tahu betapa berharganya hal itu bagi mereka. Jemaat di Roma tentu sangat senang ketika melihat bahwa ternyata ada orang yang peduli dengan mereka.

bersambung)

Friday, February 27, 2015

Pohon yang Tidak Berbuah

webmaster | 8:00:00 AM | 1 Comment so far
Ayat bacaan: Lukas 13:8-9
=====================
"Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!"

Ada sepetak bidang kecil di belakang rumah saya yang saya jadikan taman. Awalnya rumput tumbuh penuh menutupi tanah, tetapi belakangan ada beberapa bagian tanah yang gundul. Usut punya usut, tanah di bagian yang itu ternyata mengeras sehingga akar rumput tampaknya sulit menembus bagian-bagian tersebut. Kalau memang mau rumput tumbuh baik lagi disana, tanahnya harus terlebih dahulu digemburkan, karena rumput baru tidak akan bisa tumbuh disana kalau tanahnya memang masih keras. Pohon mangga yang saya tanam disana juga sempat sulit tumbuh. Untuk pohon mangga ini saya menyemprotkan anti hama dan memberi pupuk. Tidak lama setelahnya pohon ini mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Cabang mulai muncul, batang pohonnya mulai menebal dan daun terus bertambah dengan baik. Ada beberapa tanaman lain disana yang mungkin terlambat saya rawat sehingga keburu mengering dan mati. Apa gunanya tanaman kalau tidak bisa tumbuh lagi, hanya tinggal batang kurus dan kering? Mau tidak mau saya hanya bisa mencabut dan membuangnya.

Apa yang terjadi pada taman saya sangat cocok untuk dipakai untuk menggambarkan seperti apa seharusnya 'taman' hidup orang percaya. Bahkan Yesus sendiri mempergunakan perumpamaan seperti itu dengan menempatkan Tuhan sebagai pemilik kebun dan kita sebagai pohon-pohon atau tanaman yang ada di dalam kebun tersebut.  Yesus mengatakan: "Tidak mungkin pohon yang baik itu menghasilkan buah yang tidak baik, ataupun pohon yang tidak baik itu menghasilkan buah yang baik. Dan setiap pohon yang tidak menghasilkan buah yang baik, pasti ditebang dan dibuang ke dalam api." (Matius 7:18-19). Pohon yang tidak berbuah, yang tidak kunjung membaik meski sudah mendapat penanganan serius pada akhirnya hanya akan ditebang dan dibakar. Ada kalanya untuk menyelamatkan pohon dan tanaman itu, mereka harus melalui proses pemotongan tunas-tunas yang tidak produktif, pembersihan benalu dan parasit yang menempel dan sebagainya. Bagi pohon mungkin proses itu menyakitkan. Tapi proses tetap harus dilalui agar selanjutnya bisa tumbuh menjadi pohon yang tumbuh subur dengan menghasilkan buah segar dengan lebat. Hal yang sama bagi kita. Kalau sebagai orang percaya kita masih belum berbuah dan tidak sehat tumbuhnya, kita harus mau dibentuk dan mengalami pemotongan-pemotongan hal-hal yang tidak perlu, yang mungkin terasa menyakitkan saat proses berlangsung. Tetapi itu akan membuat kita bisa sehat bertumbuh dalam iman akan Kristus. Itu akan jauh lebih baik ketimbang pada akhirnya dibuang dan dibakar.

Ada sebuah perumpamaan singkat yang menarik berasal dari Yesus. "Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi, aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia!" (Lukas 13:6-9).

Perumpamaan ini menggambarkan Tuhan sebagai pemilik kebun, mendapati ada umatNya yang tidak kunjung berbuah meski sudah diberi kesempatan yang lama. Perhatikan ada jangka waktu yang diberikan Tuhan sebagai kesempatan bagi kita untuk berubah. Yesus datang untuk menyelamatkan dan akan terus mengetuk pintu hati kita agar kita bertobat sehingga bisa menerima keselamatan. Berbagai peringatan agar berbalik dari jalan-jalan yang salah terus diberikan, termasuk masa-masa sulit yang bisa membentuk kita menjadi orang benar yang sejati. Begitu baiknya Tuhan, karena tidak saja Dia memberikan kita waktu dan kesempatan, tetapi Dia pun mau turun tangan langsung bekerja, mengusahakan agar lebih banyak lagi orang-orang yang bertobat, bertumbuh dan berbuah.

Sebuah pohon ara yang tidak kunjung berbuah di kebun anggur masih akan dipertahankan apabila bisa menghasilkan buah. Sang pemilik kebun bahkan dengan jelas menunjukkan perhatian aakn pohon ara ini. Ia mengingat betul kapan pohon itu ditanam, dan dalam perumpamaan ini dikatakan bahwa ia pun terus mengamati apakah pohon tersebut sudah berbuah atau tidak. Tiga tahun, tapi tetap juga tidak menampakkan hasil. Pohon yang tidak berguna pada akhirnya akan ditebang. Pohon Ara yang tumbuh di tengah-tengah kebun anggur itu tidak hanya sia-sia ada disana, tapi juga akan menghabiskan zat-zat nutrisi yang dibutuhkan tanaman anggur dalam kebun. Wajarlah apabila sang pemilik meminta agar pohon itu ditebang saja. Tapi luar biasa, Yesus yang diumpamakan sebagai pengurus kebun masih meminta kesempatan sekali lagi. "aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya,mungkin tahun depan ia berbuah." (ay 8-9a). Sang "Pengurus kebun" akan mengerjakan sesuatu bagi pohon agar bisa berbuah. Hidup kita yang begitu rusak oleh benalu dan tunas-tunas dosa seringkali tidak lagi dapat diperbaiki sendiri, sehingga kita membutuhkan uluran tangan Yesus untuk "mencangkul tanah dan memberi pupuk" agar  bisa selamat. Dan kabar baiknya, Yesus bersedia untuk itu.

Dalam prosesnya, terkadang ada bagian-bagian yang tidak efektif dari diri kita harus dicangkul, dan itu bukanlah hal yang menyenangkan. Proses itu terkadang terasa begitu menyakitkan, tapi sungguh diperlukan, untuk menyelamatkan kita dari ditebang dan dilempar kedalam api. Yesus pun berseru: "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku." (Yohanes 15:4). Agar kita bisa bertumbuh dan berbuah dengan baik, kita harus tetap tinggal di dalam Kristus, dan Kristus di dalam kita. Baik dalam kehidupan sehari-hari, keluarga maupun pekerjaan, hendaklah kita selalu menjalaninya di dalam Kristus, bersama-sama dengan Dia. Ketika ada proses-proses pemotongan tunas yang tidak produktif atau pembersihan benalu, laluilah itu dengan suka cita, karena proses itu sungguh diperlukan untuk menjadikan kita pohon yang berbuah lebat.

Pepatah mengatakan bahwa sebatang pohon dikenal dari buahnya. Pohon yang baik akan berbuah baik, begitu pula sebaliknya. "Jikalau suatu pohon kamu katakan baik, maka baik pula buahnya; jikalau suatu pohon kamu katakan tidak baik, maka tidak baik pula buahnya. Sebab dari buahnya pohon itu dikenal." (Matius 12:33). Ada banyak ranting, tunas dan benalu dalam hidup kita yang harus dipotong agar kita berbuah lebat. Apakah itu kesombongan, harta, kebiasaan buruk, status, adat dan sebagainya, jika itu menghambat kita untuk berbuah, potonglah segera. Terus pupuk kebun kehidupan kita dengan firman Tuhan. Kalau memang ada bagian-bagian yang keras sehingga menghambat pertumbuhan, cangkul dan gemburkanlah. Hanya dengan demikianlah kita bisa menjadi pohon yang tumbuh subur menghasilkan buah yang banyak.

Pastikan agar kita tidak termasuk pohon ang tidak kunjung tumbuh dan berbuah sehingga pada akhirnya harus ditebang dan dibakar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, February 26, 2015

Keep Your Promise

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 5:37
==================
"Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat."

Dalam menjalankan tugas-tugas reportase, saya punya beberapa staf reporter dan fotografer. Ada yang disiplin, tapi ada pula yang hobi plin plan. Hari ini bilang siap bertugas, hanya sehari menjelang hari H tiba-tiba bilang berhalangan. Kalau ini terjadi, sayalah yang kelimpungan untuk mencari penggantinya. Para penyelenggara acara pun seringkali kelimpungan kalau ada band yang tiba-tiba mundur saat sudah mendekati hari H. Dalam kehidupan sehari-hari, apakah anda mengenal orang-orang yang hobinya tidak menepati janji? Rasanya ada banyak orang seperti ini di sekitar kita. Ada yang suka mengobral janji, tapi soal menepati nanti dulu. Disekitar saya ada banyak orang yang berperilaku seperti ini. Agar tidak kecewa, saya menandai mereka dan tidak menaruh harapan apa-apa terhadap apapun yang mereka janjikan.

Semoga saja teman-teman tidak termasuk orang yang suka ingkar janji, sekarang bilang ya tapi nanti bilang tidak, sekarang janji tapi tidak kunjung ditepati. Alasan memang bisa saja ada, seperti bilang ya hanya karena segan, tidak mau membuat orang lain kecewa, atau alasan lain, Yang penting janjikan saja dulu, alasan bisa dicari belakangan. Perilaku ini sering kita pandang sebagai sesuatu yang manusiawi dan wajar, padahal ini sangatlah tidak sesuai dengan kebenaran. Perilaku ingkar janji ini tidak berbeda jauh dengan berbohong. Akan hal ini Yesus tegas berkata: "Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat." (Matius 5:37). "Let your Yes be simply Yes, and your No be simply No; anything more than that comes from the evil one."

Yesus mengatakan hal ini dalam konteks menasihati kita untuk tidak bersumpah, yang didasarkanNya dari 10 Perintah Allah: "Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu" (Keluaran 20:16). Kenyataannya, manusia seolah hobi bersumpah demi segala sesuatu, bahkan demi Tuhan untuk sesuatu kebohongan. Apapun alasannya, ini jelas-jelas melanggar firman Tuhan.

Tuhan sangat tidak suka, bahkan dikatakan jijik dengan sikap atau kebiasaan seperti ini. Dalam Mazmur kita bisa menemukan ayat yang bunyinya sebagai berikut: "Engkau membinasakan orang-orang yang berkata bohong, TUHAN jijik melihat penumpah darah dan penipu." (Mazmur 5:7). Dari ayat ini kita melihat bahwa penipu disamakan dengan pembunuh. Sepintas mungkin terlihat aneh, tetapi tidaklah salah karena penipu, orang yang bersaksi dusta, orang yang ingkar janji bisa membunuh harapan orang, kepercayaan orang, bahkan karakter orang lain dengan segala kebohongannya. Salomo di kemudian hari mengingatkan lebih lanjut: "Saksi dusta tidak akan luput dari hukuman, orang yang menyembur-nyemburkan kebohongan tidak akan terhindar." (Amsal 19:5). Pada saatnya, orang-orang pembohong tidak akan luput dari hukuman. Begitu seseorang berbohong, maka Tuhan pun akan menjadi lawannya. (Yehezkiel 13:9).

Kita perlu belajar dan berlatih untuk menepati dan menganggap serius sebuah janji. Kita perlu memperhatikan secara serius janji yang kita berikan dan tidak asal-asalan mengumbarnya. Orang yang selalu menepati janji dengan sendirinya menjadi saksi kuat akan dirinya sendiri dalam hal kebenaran, sehingga mereka tidak lagi perlu mengucapkan sumpah-sumpah lewat bibirnya untuk meyakinkan orang lain. Kita harus mampu menjalani kehidupan yang bisa mendatangkan kepercayaan orang pada diri kita lewat kesetiaan kita akan sebuah janji, dan itu akan jauh lebih meyakinkan dibanding kepercayaan yang bisa diperoleh lewat sumpah. Kalau kepada manusia saja penting, jangan pernah mengumbar janji kepada Tuhan tapi tidak ditepati. Disebut juga dengan nazar, yang merupakan janji kita terhadap Tuhan ketika memohon sesuatu, itu tidak boleh kita lupakan, ditunda atau dilanggar. Jangan pernah menunda atau lupa membayar nazar, karena itu juga akan menjadi sebuah kebohongan yang sangatlah tidak berkenan di hadapan Tuhan. "Kalau engkau bernazar kepada Allah, janganlah menunda-nunda menepatinya, karena Ia tidak senang kepada orang-orang bodoh. Tepatilah nazarmu." (Pengkotbah 5:4).

Hendaklah kita mau menghormati janji dan senantiasa menepatinya. Jika berjanji, tepatilah. Kalau ya katakan ya, kalau tidak katakan tidak.  tidak. Diluar itu adalah kebohongan yang datang dari iblis. Ketika mengatakan ya, peganglah itu dengan sungguh-sungguh. Jangan biasakan untuk memberi janji-janji palsu dengan alasan apapun. Seperti kata sebuah pepatah bahasa Inggris, "Never make a promise you can't keep". hendaklah kita selalu mengutamakan kejujuran agar tidak membuka peluang bagi iblis untuk masuk dan mengacak-acak hidup kita. Ingatlah bahwa janji yang dibuat asal-asalan dan tidak ditepati akan mengakibatkan ketidakpercayaan orang pada kita, dan merupakan sebuah dosa menjijikkan di mata Tuhan.


When you make a promise make sure to keep it

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, February 25, 2015

Rajin-Rajin Mengevaluasi Diri

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 5:15
===================
"Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif"

Sebuah perusahaan yang baik memerlukan evaluasi secara berkala. Sangatlah penting untuk melihat apa yang sudah dicapai, apakah sudah sesuai target, dan apa rencana jangka pendek dan jangka panjang ke depannya. Penetapan target ke depan, pencapaian yang ingin diraih, apa yang menjadi kekuatan yang harus dipertahankan dan ditingkatkan perlu untuk diperhatikan. Lantas apabila ada yang masih belum baik, perlu pula dipikirkan bagaimana cara memperbaikinya. Meningkatkan kinerja, konsolidasi ke dalam dan penguatan dari berbagai sisi akan sangat menentukan kemana nantinya perusahaan tersebut akan berada. Bukan saja perusahaan, tetapi lembaga lainnya seperti komunitas, organisasi dan sebagainya juga seharusnya memikirkan hal ini. Bahkan secara individu kita pun secara berkala butuh evaluasi, introspeksi atau mengambil waktu-waktu perenungan secara khusus agar kita bisa menjadi lebih baik lagi ke depannya.

Secara berkala saya rutin untuk melakukan introspeksi, mengevaluasi seperti apa saya saat ini sebagai seorang suami, sahabat, dan dalam pekerjaan dan pelayanan yang saya lakukan. Saya ingin menjadi suami yang terbaik bagi istri saya, menjadi kepala rumah tangga yang bertanggungjawab dan bisa memimpin dengan cinta. Saya ingin menjadi sahabat yang peduli yang mengenal mereka dengan baik. Saya ingin berhasil dalam pekerjaan dan ingin terus melayani dengan baik. Semua adalah titipan Tuhan yang harus saya kerjakan dan pertanggungjawabkan dengan semaksimal mungkin dengan talenta-talenta yang telah Dia berikan. I want to do my best in every aspects of life, itu intinya, semoga apapun yang saya lakukan bisa terus memuliakan Tuhan. Ada banyak kelemahan yang masih harus diperbaiki, itu pasti. Semua itu tidaklah mungkin jika saya terlalu santai dan tidak pernah mengevaluasi dan mengintrospeksi diri. Kesuksesan bisa membuat orang jatuh pada dosa kesombongan, ketamakan, lupa diri dan sebagainya. Sebaliknya kegagalan bisa membuat patah semangat bahkan kepahitan. Lengah sedikit, kita bisa terpeleset jatuh ke salah satunya. Maka itu bagi saya adalah sangat penting untuk terus melakukan introspeksi dan evaluasi.

Kepada jemaat Efesus, Paulus memberi pesan agar mereka tetap memperhatikan bagaimana hidup mereka. "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif". (Efesus 5:15). Ini adalah sebuah pesan penting agar tidak lupa diri, jangan menyia-nyiakan waktu dan agar bisa tetap bijaksana. Paulus melanjutkan pula, "dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (ay 16). Jika hari-hari pada jaman itu dikatakan jahat, sekarang pun tidak ada bedanya. Mungkin malah lebih parah. Dosa mengintip dari segala aspek kehidupan kita. Hiburan, lingkungan rumah/pekerjaan/pendidikan, di mana-mana kita bisa setiap saat tersandung dalam dosa. Seringkali dosa-dosa ini dibungkus dengan kemasan yang sepintas terlihat baik, padahal di dalamnya ada bahaya yang mengintai. Paulus menggambarkan celah masuknya dosa-dosa ini lewat tiga hal yang saling berhubungan, yaitu dunia, kedagingan dan iblis. (Efesus 2:1-3). Keterkaitan ketiga aspek ini bagaikan pusaran air yang bisa menyeret kita untuk masuk ke dalamnya jika tidak hati-hati. Yesus pun mengajarkan agar kita senantiasa berjaga-jaga dan berdoa untuk mencegah masuknya pencobaan lewat kelemahan daging kita. "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan: roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41).

Semua usaha keras kita dan pencapaian-pencapaian yang sudah kita raih bisa sia-sia dalam sekejap kalau kita membiarkan diri kita jatuh dalam dosa. Sangat ironis ketika kita telah mulai dengan Roh, namun berakhir dalam daging dan kehilangan janji-janji Tuhan. Itulah yang juga disinggung oleh Paulus dalam suratnya kepada jemaat Galatia. "Adakah kamu sebodoh itu? Kamu telah mulai dengan Roh, maukah kamu sekarang mengakhirinya di dalam daging? Sia-siakah semua yang telah kamu alami sebanyak itu? Masakan sia-sia!" (Galatia 3:3-4).

Sering mengevaluasi diri dan melakukan introspeksi akan membuat kita lebih awas dan waspada dalam berbagai kejatuhan itu, karena ada kalanya kita lemah terhadap berbagai godaan yang ada di sekeliling kita. Disamping itu, tekunlah berdoa dengan kerinduan akan Tuhan. Biarkan Roh Tuhan bekerja dan memimpin langkah-langkah kita, sehingga kita bisa terhindar dari jebakan yang mengarah kepada maut. Marilah kita senantiasa menjaga keberadaan diri kita agar tetap hidup bijaksana, bertumbuh lebih baik dari waktu ke waktu, dan tetap memuliakan Tuhan dalam setiap langkah.

Rajinlah mengevaluasi diri agar tidak mudah disesatkan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, February 24, 2015

Belas Kasih itu Penting

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 9:13
====================
"Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa."

Saya termasuk orang yang tidak suka menutup pintu depan. Hampir setiap saat sampai lewat tengah malam, pintu rumah saya biarkan dalam keadaan terbuka sembari saya melakukan berbagai pekerjaan dengan menggunakan laptop ditemani musik dengan speaker biasa. Karena kebiasaan saya ini, saya terbiasa menerima tamu baik tetangga maupun teman-teman lainnya yang bisa tiba-tiba datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu meski mungkin saya tengah sangat sibuk menyelesaikan deadline. Mengapa saya mau tetap melayani mereka meski sedang tertimbun banyak pekerjaan? Selain saya memang sangat suka bergaul, saya juga tidak mau menutup diri dan merasa urusan saya yang paling penting. Bagaimana kalau mereka memang sedang terdesak dan memerlukan seseorang dengan segera? Betapa seringnya kita berhadapan dengan orang yang membutuhkan bantuan dengan segera justru di saat yang kurang tepat. Situasi-situasi mendadak ini membutuhkan perhatian segera pula, dan sering membuat rencana harus disesuaikan atau malah berubah di tengah jalan. Kita bisa berkata bahwa urusan kita sangat penting, tapi bagaimana jika apa yang mereka hadapi ternyata jauh lebih mendesak? Bagaimana jika penolakan, atau penundaan kita ternyata bisa mengakibatkan sesuatu yang fatal di kemudian hari? Saya belum pernah mengalami sampai seperti itu, tetapi alangkah bahagia rasanya apabila mereka bisa lebih tenang setelah berbincang-bincang. Dan yang paling sering bukanlah meminta bantuan apa-apa tetapi sekedar punya teman berbagi. Mereka tidak mencari solusi, bukan meminta advis, tapi hanya butuh telinga yang mau mendengar.

Melayani memang tidak mudah, namun jika kita melakukannya dengan disertai kasih, maka sukacita ada disana. Ada kebahagiaan yang sulit dilakukan dengan kata-kata bahkan mungkin karenanya waktu bekerja harus menjadi lebih lama. Itu merupakan bentuk panggilan saya. Itu kesempatan bagi saya untuk membagikan firman Tuhan, dan rasa bahagia menjadi lebih saat saya secara langsung banyak orang dipulihkan, dimana kuasa dan kasih Tuhan dinyatakan dalam diri mereka. Seandainya saya menutup diri dan hanya berpusat pada kesibukan sendiri, tentu semua itu tidak akan bisa saya saksikan dan rasa bahagia atau sukacita melihat orang-orang yang dijamah Tuhan pun tidak akan pernah saya rasakan.

Mengacu kepada perjalanan pelayanan Tuhan Yesus saat turun ke dunia, kita menyaksikan bahwa Yesus pun menghadapi hal-hal seperti ini dalam banyak kesempatan. Lihatlah salah satu contoh waktu Yairus, seorang kepala rumah ibadat tiba-tiba datang tersungkur di kaki Yesus, memohon agar Yesus menyembuhkan putrinya. (Markus 5:22-23). Yesus tidak mengatakan "maaf, saya sedang sibuk, lain waktu saja ya.." Yesus sama sekali tidak menolak dan segera mengikuti Yairus untuk melihat putrinya. Dalam perjalanannya ke rumah Yairus, langkah Yesus kembali dihentikan oleh seorang wanita yang menjamah jubahNya. Wanita ini ternyata sudah 12 tahun mengalami pendarahan dan kondisinya semakin memburuk, meski ia sudah berusaha diobati oleh banyak tabib. (ay 25-28). Yesus tidak mengibaskan jubahnya dan mengabaikan si wanita. Dia tidak berkata, "maaf kamu terlambat, saya sudah keburu melayani Yairus." Atau Yesus tidak berkata: "maaf, Yairus itu kepala rumah ibadat, sedang kamu entah siapa.. jadi jelas dia lebih penting dong.." Tidak. Yesus tidak bersikap seperti itu. Dia menghentikan langkahnya dan melayani sehingga wanita yang menderita penyakit ini menjadi sembuh. (ay 29-34). Seperti inilah keteladanan Kristus yang bagi saya sangat patut untuk diteladani.

Perhatikan apa kata Yesus berikut. "Jadi pergilah dan pelajarilah arti firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Matius 9:13). Dalam kesempatan lain kata-kata ini kembali diulang. "Jika memang kamu mengerti maksud firman ini: Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, tentu kamu tidak menghukum orang yang tidak bersalah." (12:7). Tuhan Yesus menghendaki belas kasihan yang dikatakan lebih dari korban persembahan. Ini sejalan pula dengan firman Tuhan dalam Hosea 6:6 yang berkata "Sebab Aku menyukai kasih setia, dan bukan korban sembelihan, dan menyukai pengenalan akan Allah, lebih dari pada korban-korban bakaran." Dua kali Yesus mengatakan hal tersebut, menunjukkan bahwa ajaran ini sangatlah penting.

Mengapa belas kasihan lebih dikehendaki lebih dari persembahan? Karena persembahan bisa jadi didasarkan pada motivasi-motivasi lain di luar rasa belas kasih. Kita bisa memberikan persembahan karena sekedar kewajiban, sekedar syarat, atau agar kita diberkati, atau bahkan agar terlihat baik di mata manusia. Tapi persembahan yang diberikan dari hati yang memiliki belas kasihan tentu berbeda.

Hal ini bisa pula kita lihat lewat kisah seorang janda miskin yang memberi persembahan di bait Allah. Ada banyak orang kaya memberi dalam jumlah yang besar, namun ibu janda yang miskin hanya memberi dua peser. Tapi si ibu dinilai Yesus memberi lebih banyak dari pada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan. (Markus 12:43). Sebab apa? "Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya." (ay 44). Ibu janda memberikan dari kekurangannya, dan itu hanya mungkin dilakukan ketika seseorang memiliki kasih dalam hidupnya. Ibu ini tentu sadar bahwa ia bukanlah orang yang mampu, tetapi kalau dia masih memberi, itu artinya ia merasa bahagia kalau sumbangsih kecilnya bisa bermanfaat bagi orang lain. Ia tentu menyadari apa yang ia miliki semuanya berasal dari Tuhan juga, dan dengan itu ia pun bisa membagi berkat dan kasih kepada sesamanya. Kembali kepada apa yang dikatakan Kristus di atas, Dia menghendaki belas kasihan dan bukan persembahan, sebenarnya apa yang dilihat Tuhan bukanlah apa yang tampak dari luar, tapi apa yang berasal dari dalam. Apa yang ada dalam hati kita ketika memberi akan membuat perbedaan nyata.

Yesus mengingatkan kita untuk murah hati. "Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati." (Lukas 6:36). Seperti halnya Bapa yang begitu murah hati dan melimpah kasihNya, demikian pula seharusnya perbuatan kita kepada sesama. Kepada yang murah hati, yang memiliki hati berbelas kasihan, Tuhan Yesus menjanjikan seperti ini: "Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan." (Matius 5:7). Mungkin mereka yang butuh bantuan datang di saat-saat yang kurang tepat, saat kita sedang sibuk-sibuknya. Tapi apakah itu berarti kita boleh mengabaikan dan menunda melayani mereka? Seperti halnya Tuhan Yesus, hendaklah kita pun memiliki rasa belas kasihan untuk rela menyisihkan waktu-waktu dan apa yang kita miliki untuk menolong orang yang sedang putus asa dan sangat membutuhkan bantuan. Siapkah anda untuk mengorbankan sebagian dari waktu dan tenaga untuk menjangkau orang-orang yang membutuhkan pertolongan hari ini?

Be compassionate as God is compassionate

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, February 23, 2015

Warna Identitas Pengikut Kristus

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 13:35
=======================
"Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi."

Saya tidak bisa membayangkan apa jadinya hidup tanpa adanya warna. Warna sebenarnya bukanlah sekedar 'bukan hitam putih.' Ada begitu banyak fungsi warna seperti identitas (misalnya seragam, bendera dan lain-lain), fungsi isyarat (lampu jalan, bendera penanda dan lainnya), fungsi psikologis (warna yang menyegarkan, warna-warna muram, warna cerah, gelap dan lainnya), fungsi alamiah (warna yang mewakili benda-benda tertentu yang sudah pasti sama) dan sebagainya. Bagi anda  yang berkecimpung di dunia desain, pemilihan warna tentu merupakan sesuatu yang mutlak harus diperhatikan karena pemberian warna haruslah punya alasan dan sesuai dengan apa yang hendak anda tampilkan. Dan biasanya, warna favorit seseorang bisa mewakili sifat mereka. Orang yang tertutup atau pendiam biasanya menyukai warna-warna gelap seperti hitam, ungu, biru tua dan sebagainya, sebaliknya orang periang akan cenderung memilih warna seperti orange, kuning, biru muda dan warna-warna cerah lainnya. Warna pink cenderung menjadi favorit wanita terutama yang feminim, sedang pria secara umum akan lebih memilih warna yang bisa menonjolkan sifat maskulin.

Bicara soal warna dan fungsi identitasnya dalam hal rohani, seharusnya ada "warna" yang bisa merepresentasikan kita sebagai murid Yesus. Sebuah warna yang bisa jelas terlihat dan membawa rasa damai, benar, jujur dan berintegritas, mencerminkan hati Allah,  yang akan membuat orang langsung tahu bahwa kita adalah pengikutNya tanpa kita perlu menyebutkan terlebih dahulu. Warna seperti apakah itu? What's the color that we should have so we can be  declared as His disciple? 

Untuk menjawab hal itu, mari kita lihat apa yang disebutkan di dalam Alkitab. Menjelang penyalibanNya, Yesus menyatakan seperti apa "warna" kita seharusnya lewat sebuah perintah yang Dia berikan. Jika selama ini yang kita tahu hukum kedua yang paling utama adalah "Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Tidak ada hukum lain yang lebih utama dari pada kedua hukum ini" (Markus 12:31), maka kali ini ada level baru mengenai mengasihi sesama manusia yang bunyinya seperti ini: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Ini sebuah level yang lebih tinggi dari perintah mengasihi sesama. Bukan saja harus mengasihi sesama kita seperti diri kita sendiri, tapi kita harus pula mengasihi sesama seperti halnya Yesus telah mengasihi kita. Dan itu tidaklah mudah. Kita tentu tahu bagaimana besarnya kasih Kristus kepada kita yang bukan hanya sebatas kata atau perbuatan ringan saja, bukan pula hanya sebatas mukjizat-mukjizat kesembuhan yang Dia lakukan, tetapi lewat pengorbananNya kita beroleh keselamatan. Itu adalah sesuatu yang sebenarnya tidak layak kita peroleh, bukan merupakan upah atas jasa atau kehebatan kita, tetapi murni karena anugerah. Keselamatan dari Yesus adalah sesuatu yang pasti dan kekal sifatnya. Dengan kata lain, bentuk kasih Yesus terhadap kita manusia bukan hanya bentuk kasih lewat ucapan atau sekedar memperhatikan atau menolong, tetapi disertai pula dengan kerelaan untuk berkorban nyawa. Maka Yesus mengatakan: "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:35). Sebuah kasih, yang tidak berpusat pada diri sendiri tetapi mendahulukan kepentingan yang lain, dimana kerelaan berkorban menjadi dominan atas sebuah perasaan belas kasih, itulah yang menjadi sebuah warna yang mampu memberi kita identitas warna sehingga akan mudah dibedakan dari orang-orang dunia.

Dalam kesempatan lain Yohanes menegaskan lagi tentang hal ini. "Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi." (1 Yohanes 4:11). Yohanes kemudian melajutkan dengan "Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita." (ay 12). Kembali kita diingatkan akan kasih sebagai warna identitas murid Yesus. Jika kita saling mengasihi, maka ada Allah yang bersatu dengan kita, dan kasihNya menjadi sempurna di dalam diri kita. Maka "warna" yang merepresentasikan kita sebagai murid-murid Yesus pun akan nyata terlihat dalam cara hidup, perbuatan, gaya, polah dan tingkah laku kita.

Ketika kasih Allah hidup dalam diri kita, disanalah kita akan mampu menghasilkan buah Roh. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (Galatia 5:22-23). Orang yang memiliki buah Roh tentu memiliki bentuk kehidupan yang saling mengasihi, karena jelas bahwa kasih termasuk satu dari buah-buah Roh yang dihasilkan oleh anak-anak Tuhan. Apabila kita masih hidup dikuasai oleh hawa nafsu, kepentingan atau kesenangan sesaat, egois, dipenuhi dengki dan berbagai perasaan atau sifat jelek lainnya, maka itu artinya kita belum merepresentasikan diri kita sebagai murid dan sahabat Kristus. Artinya kita belum memiliki warna yang menunjukkan identitas kita sebagai pengikutNya, we still haven't got the right color.

Dalam berinteraksi dan bermasyarakat, dalam setiap aspek kehidupan kita, pastikan bahwa kita sudah menunjukkan "warna" yang tepat. Apa yang dituntut dari kita bukan hanya sekedar peduli atau mengasihi, bukan sekedar "hitam atau putih" saja, tetapi kita harus mampu menunjukkan sebentuk kasih kepada sesama kita pada tingkatan yang tinggi, sebagaimana Kristus telah mengasihi kita. That's the right color. Warna apa yang tampak pada diri kita hari ini? Sudahkah warna kita merepresentasikan Yesus tepat seperti seharusnya atau kita masih menampilkan warna-warna yang bisa membawa persepsi keliru terhadap Yesus di mata dunia?

Paint the world with Christ's love and compassion

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, February 22, 2015

Sombong Rohani

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 8:7
=====================
"Dan ketika mereka terus-menerus bertanya kepada-Nya, Iapun bangkit berdiri lalu berkata kepada mereka: "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu."

Menjadi lebih baik dalam hal keimanan dan pemahaman akan kebenaran firman Tuhan merupakan keinginan kebanyakan orang percaya. Sayangnya dalam proses belajar, ada banyak orang yang terjebak pada kekeliruan dalam memandang orang lain. Apabila kita tidak hati-hati, ada roh kesombongan yang akan siap membuat kita berpikir bahwa kita paling kudus, paling suci atau paling rohani. Kalau sudah begitu, kita pun mulai tergoda untuk menghakimi orang lain. Kita mudah menilai orang lain berdosa bahkan menghujat dan menuduh. Bisa antar pribadi, bisa pula secara kelompok atau lembaga. Alangkah ironisnya ketika kita bukannya menjadi terang tetapi malah menjadi batu sandungan. Bukannya merangkul, tapi malah membuang. Memakai atribut rohani lalu pergi kesana kemari menghakimi orang lain, bahkan lewat jalan kekerasan dan mengatasnamakan Tuhan, seolah Tuhan melegalkan sebagian orang untuk bertindak seenaknya. Sebagai anak Tuhan, kita sama sekali tidak boleh melakukan hal itu. Berproses untuk terus menjaga kekudusan dan menjadi seperti Yesus harus pula diikuti oleh sikap mengasihi dan rendah hati. Karena kalau tidak, roh kesombongan akan siap membuat kita menjadi orang-orang yang merasa berhak untuk berperan bagai Tuhan. Salah-salah, kita bisa terjebak untuk menjadi sombong rohani.

Kalau kemarin kita sudah melihat contoh lewat Zakheus sang pemungut cukai, hari ini mari kita lihat momen perjumpaan Yesus dengan perempuan berzinah yang tengah berhadapan dengan sekelompok orang yang siap merajamnya, seperti yang ditulis dalam Yohanes 7:53-8:11. Kejadian ini memberi gambaran jelas bagaimana kecenderungan orang-orang yang merasa sudah baik dan bagaimana seharusnya kita bersikap.

Ketika itu Yesus berhadapan dengan seorang wanita yang digiring orang-orang Farisi karena tertangkap basah akibat berbuat zinah. Menurut hukum Taurat, sang wanita seharusnya dirajam, dilempari batu sampai mati. Tapi lihatlah apa yang dikatakan Yesus kepada mereka. "Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu." (Yohanes 8:7). Untunglah pada waktu itu para ahli Taurat dan orang Farisi masih mau berpikir jernih, karena kalau itu terjadi hari ini, maka bisa jadi perempuan yang tersesat ini langsung mati dirajam ramai-ramai dengan cara brutal dan beringas. Hati nurani mati, merasa paling benar dan paling suci, itu dipertontonkan oleh begitu banyak orang. Bukan saja dari orang-orang yang tidak percaya tapi juga ada di antara orang percaya.

Kembali kepada si perempuan penzinah yang hampir saja mati dilempari batu, Alkitab mencatat bahwa kemudian semua orang Farisi pergi meninggalkan Yesus dan si wanita, dan kita tahu bahwa wanita itu pun mendapat pengampunan. Jika Yesus saja memberi pengampunan kepada pendosa, mengapa dan siapa kita sebagai manusia berani-beraninya mengaku paling suci dan merasa berhak untuk menghakimi?

Belakangan Paulus berkata "Siapakah kamu, sehingga kamu menghakimi hamba orang lain? Entahkah ia berdiri, entahkah ia jatuh, itu adalah urusan tuannya sendiri. Tetapi ia akan tetap berdiri, karena Tuhan berkuasa menjaga dia terus berdiri." (Roma 14:4). Kita tidak dalam kapasitas untuk menghakimi hidup orang lain. Bukan itu yang menjadi tugas kita. Apa yang seharusnya kita lakukan adalah mendoakan dan melayani orang-orang yang jiwanya butuh pertolongan dan jamahan Tuhan. Kita seharusnya merangkul mereka dan membawa mereka untuk mengenal Tuhan lebih dan lebih lagi. Lebih lanjut Paulus pun mengatakan bahwa urusan menghakimi itu adalah urusan Tuhan, bukan kita. "Saudara-saudaraku yang kekasih, janganlah kamu sendiri menuntut pembalasan, tetapi berilah tempat kepada murka Allah, sebab ada tertulis: Pembalasan itu adalah hak-Ku. Akulah yang akan menuntut pembalasan, firman Tuhan." (Roma 12:19).

Bagi gereja dan jemaat, jangan salah langkah dengan mengucilkan, menghempaskan dan membuang mereka yang terjatuh dalam dosa. Jika ini terjadi, bukannya membawa banyak jiwa dari luar, namun malah membuang jiwa dari dalam. Dan itu sama sekali bukan sesuatu yang diinginkan Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan Yesus mati bukan hanya untuk kita saja, namun bagi semua umat manusia tanpa terkecuali. Tuhan membenci dosa bukan membenci orang berdosa. Justru Tuhan Yesus datang untuk orang-orang yang berdosa, agar mereka bisa selamat dan terlepas dari jerat kebinasaan. Yesus mengatakannya begini: "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit." (Matius 9:12, Lukas 5:31). Begitulah besarnya kasih Tuhan buat manusia. Jika kita memiliki kasih Yesus dalam hidup kita, bagaimana mungkin kasih itu lenyap tak berbekas ketika menghadapi orang-orang yang butuh pertolongan? Kedatangan Yesus ke dunia pun justru untuk menyelamatkan mereka yang "sakit". Yesus bukan datang untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa. (Matius 9:13). Janganlah malah menjadi batu sandungan, karena jika itu yang terjadi, kita harus siap mempertanggungjawabkan dan menuai hukumannya kelak.

Kita harus serius menghindari sikap sombong secara rohani, karena itu hanya akan merugikan diri kita sendiri. Itu bukanlah cerminan dari orang-orang benar seperti yang diinginkan Tuhan. Jangan membuang mereka, tapi kasihilah dan layani dengan kasih, sebab Tuhan sendiri pun mengasihi mereka. Jangan rampas kesempatan mereka untuk beroleh pemulihan dan keselamatan. Kasih Kristus akan tercermin secara nyata lewat sikap kita yang mau merangkul orang berdosa.

Cerminkan pribadi Tuhan yang mengasihi siapapun tanpa terkecuali

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, February 21, 2015

Zakheus Diantara Yesus dan Orang Yahudi

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 19:7
====================
"Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa."

Terus memperdalam pengetahuan akan kebenaran firman Tuhan tentu sangat baik. Semakin banyak firman yang kita ketahui dan resapi, semakin baik pula seharusnya cara hidup kita. Tuntunan, panduan, peringatan dan teguran, berbagai solusi atas permasalahan hidup dan langkah-langkah menuju keselamatan semuanya sudah disampaikan secara jelas di dalam Alkitab. Sayangnya banyak orang yang terjerumus pada dosa kesombongan. Semakin banyak tahu, mereka semakin sombong, merasa paling suci sehingga merasa berhak menghakimi orang lain. Ini sangat sering terjadi di kalangan orang percaya, bahkan gereja yang seharusnya lebih giat menjangkau jiwa ketimbang menghakimi jiwa. Bukan baru satu dua kali saya mendengar gereja yang tega menyingkirkan jemaat atau orang yang melayani karena mereka merasa sudah paling suci sehingga tidak mau gerejanya 'dicemari' oleh orang yang dinilai berdosa. Sikap seperti ini jelas-jelas tidak mencerminkan sikap Kristus, karena Dia bahkan berkata "Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit; Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa." (Markus 2:17). Jadi kalau Yesus saja menjangkau jiwa-jiwa berdosa untuk diselamatkan, bagaimana dengan orang percaya atau lembaga yang justru berani menghakimi? Bukannya menjangkau tapi malah membuang. Bukannya menerima tapi malah menolak. Sadar atau tidak, bukannya mencontoh pribadi Yesus, menjadi semakin serupa dengan Dia, tetapi justru kita semakin jauh dari Yesus dan mencerminkan perilaku para ahli Taurat.

Sebuah contoh menarik akan hal ini bisa kita lihat dari kisah Zakheus. Gambaran visual Zakheus yang berbadan pendek namun sibuk memanjat pohon agar bisa melihat Yesus, dan kemudian kisah pertobatannya sudah tidak asing lagi bagi kita. Zakheus yang berbadan pendek ini adalah seorang pemungut cukai yang kaya. Pada masa itu orang Yahudi terutama para ahli Taurat menggolongkan para pemungut cukai ini sebagai orang berdosa. Cap sampah masyarakat, pendosa, digolongkan dalam satu kelas bersama orang lalim, penzinah dan perampok (Lukas 18:11) diberikan kepada mereka. Para pemungut cukai ini biasanya dicemooh dan dipandang hina. Zakheus ada dalam kelompok ini. Tapi ternyata Zakheus punya kerinduan yang sangat besar untuk dapat bertemu Yesus. Sayang badannya pendek, sehingga pandangannya tertutup orang-orang lain yang berpostur lebih tinggi darinya. Zakheus tidak menyerah dan memutar otaknya. Alkitab mencatat usahanya kerasnya untuk bisa melihat Yesus dengan cara memanjat pohon ara. (Lukas 19:4).

Usahanya gigihnya berhasil. Bukan cuma berhasil melihat Yesus, tapi Yesus pun melihatnya. "Ketika Yesus sampai ke tempat itu, Ia melihat ke atas dan berkata: "Zakheus, segeralah turun, sebab hari ini Aku harus menumpang di rumahmu." (ay 5). Tidak saja melihat dirinya, tapi Yesus berkenan untuk datang menumpang di rumahnya. Tentu saja hal ini disambut Zakheus dengan sukacita. Tapi lihatlah apa yang dikatakan kerumunan orang Yahudi dan orang-orang Farisi. "Tetapi semua orang yang melihat hal itu bersungut-sungut, katanya: "Ia menumpang di rumah orang berdosa." (ay 7). Mereka beranggapan bahwa Zakheus itu sangat hina sehingga Yesus seharusnya tidaklah layak untuk mendatangi rumah orang seperti Zakheus. Mereka meghakimi, bukannya bersukacita melihat seorang pemungut cukai bakal bertobat dan dilayakkan untuk menerima keselamatan. Dan itulah yang terjadi lewat kunjungan Yesus ke rumahnya. Tuhan Yesus menganugerahkan keselamatan kepada Zakheus sebagai buah pertobatannya. Bukan saja kepada diri Zakheus sendiri, namun seluruh anggota keluarganya pun turut diselamatkan. Yesus pun menutup jawaban terhadap protes kerumunan orang-orang yang merasa lebih benar ini dengan "Sebab Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang." (ay 10).

Siapa yang ingin kita teladani, Yesus atau para ahli Taurat yang merasa dirinya sudah lebih baik dari orang lain? Adakah hak kita menjatuhkan penghakiman terhadap orang lain dan merasa kita lebih suci dari mereka? Tanpa sadar manusia sering membanding-bandingkan diri mereka dengan orang lain, mencari-cari kesalahan orang lain agar diri mereka terlihat hebat. Itu bukanlah cerminan pribadi Kristus. Membuang muka, mencibir, menghina, menjaga jarak juga merupakan bentuk-bentuk penghakiman yang seharusnya bukan menjadi hak kita, apalagi kalau berani-beraninya menghujat keputusan Tuhan dalam menyelamatkan umat manusia. Tuhan mengampuni, kita tidak. Tuhan menjangkau, kita mengabaikan. Tuhan membuka kesempatan, kita menutupnya. Tuhan menerima, kita menolak. Tuhan memanggil, kita mengusir. Kita merasa lebih berhak menghakimi bahkan berani mempertanyakan keputusan Tuhan.

Dengan sikap yang salah, kita pun menyia-nyiakan kesempatan untuk menjadi berkat bagi mereka yang butuh pertolongan. Kita gagal untuk memenangkan jiwa bagi Kerajaan Allah. Lihatlah saat Yesus mengulangi pertanyaanNya tiga kali kepada Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku?" Tiga kali Petrus menjawab "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau", tiga kali pula Yesus mengakhiri pertanyaanNya dengan "Gembalakanlah domba-domba-Ku." (Yohanes 21:15-19). Inilah yang seharusnya kita lakukan setelah kita memasuki fase kehidupan baru yang mengejar kekudusan dan ketaatan. Ada pesan penting bagi kita semua untuk menggembalakan domba-dombaNya, dan itu semua haruslah didasarkan atas kasih kita kepada Kristus, bukan hal lainnya. Selama masih bersikap sombong dan merasa diri lebih benar, kita tidak akan pernah bisa menjangkau dan memenangkan jiwa-jiwa untuk diselamatkan.

Bagaimanapun juga kita diingatkan "Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu." (Efesus 4:2), "Segala kepahitan, kegeraman, kemarahan, pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu, demikian pula segala kejahatan." (ay 31) dan "Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu." (ay 32). Ingatlah bahwa perkara menghakimi adalah mutlak milik Tuhan. "Jangan kamu menghakimi, supaya kamu tidak dihakimi. Karena dengan penghakiman yang kamu pakai untuk menghakimi, kamu akan dihakimi dan ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu." (Matius 7:1-2). Yesus datang justru untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang, dan kepada kita pesan untuk menggembalakan domba-dombaNya dan mewartakan kabar gembira telah Dia wariskan. Oleh karena itu, jauhilah perilaku seperti para ahli Taurat dan orang-orang Yahudi yang merasa diri mereka begitu benar sehingga layak untuk menghakimi dan menjauhi orang lain. Kasihilah mereka, karena mereka pun layak beroleh kesempatan untuk diselamatkan. Dan siapa tahu, lewat diri kita Tuhan mau menjangkau mereka untuk bertobat. Mungkin kita yang diutus Tuhan untuk memimpin mereka hingga mengenal kebenaran dan lepas dari jerat iblis. (2 Timotius 2:25-26).

Menghakimi orang lain akan menjauhkan mereka dari keselamatan dan itu bukanlah hal yang diinginkan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, February 20, 2015

Tuhan yang Memperlengkapi

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 4:11-12
=======================
"Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus"

Apa saja yang kita butuhkan dalam menjalani panggilan? Masing-masing orang punya panggilannya sendiri yang tentu saja memerlukan kebutuhan yang berbeda. Selain talenta, keahlian dan pengetahuan, tidak jarang pula kita membutuhkan berbagai kelengkapan lainnya agar bisa maksimal dalam menjalankannya. Seperti yang saya sampaikan kemarin, banyak orang yang lari dari panggilan, menolaknya karena beralasan bahwa mereka tidak sanggup. Kurang mampu, kurang waktu, kurang tenaga, kurang fasilitas dan kurang lainnya akan menjadi dasar alasan untuk menolak. Kita sering menutup mata dari apa yang sebenarnya sudah ada pada kita dan mengarahkan pandangan hanya kepada apa yang kita belum/tidak punya. Padahal, beranikah kita memberi pertanggungjawaban kelak kalau panggilan yang sudah diberikan Tuhan tidak pernah kita lakukan sampai akhir masa hidup kita di dunia? Apakah ada firman Tuhan yang secara jelas menyatakan bahwa Tuhan ternyata sudah memperlengkapi masing-masing orang menurut kebutuhannya untuk menjalani panggilan tersebut?

Sebelum kita sampai kesana, ketahuilah bahwa Tuhan menyuruh kita untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan besarNya di bumi ini. "Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya." (Efesus 2:10). Seperti yang saya sebutkan, karena hanya melihat apa yang belum ada, kita kerap lupa bahwa ketika Allah menyuruh kita, Dia sebenarnya sudah melengkapi kita dengan segala sesuatu, dan akan terus melengkapi kita lebih lagi. Tuhan bahkan telah memberikan Roh Kudus yang akan selalu membantu dalam pelaksanaannya, sehingga sebenarnya bukan kehebatan dan kemampuan kita yang utama, namun kemauan dan kesungguhan kitalah yang diinginkan Tuhan. Untuk bisa melaksanakannya, kita semua telah Dia perlengkapi dengan baik.

Musa pernah mengalami keraguan seperti ini ketika ia pertama kali menerima penugasan dari Tuhan. Musa berulangkali menolak karena merasa tidak mampu. Musa terus berbantah terhadap perintah Tuhan, semua itu bisa kita baca dalam Keluaran 2:23 hingga Keluaran 4:17. Musa merasa tidak mampu, punya banyak kelemahan, tidak mampu berbicara dengan baik dan terus diliputi keraguan bagaimana bangsa Israel yang besar itu mau mempercayainya. Musa melupakan satu hal, yaitu bahwa ketika Tuhan menyuruh, Dia sudah melengkapi segalanya, dan akan terus menuntun hingga pekerjaan yang dilakukan akan bisa berhasil. Tuhan terus meyakinkan Musa bahwa Dia sendiri akan menyertai dan melengkapi Musa dengan segala sesuatu yang diperlukan. Kita tahu bahwa akhirnya terbukti Musa sanggup memimpin bangsa Israel keluar dari tanah Mesir.

Seringkali kita merasa tidak mampu atau belum sanggup melakukan pekerjaan Tuhan. Tidak sekolah Alkitab, masih terlalu muda, punya banyak kesibukan, belum siap, belum terpanggil dan sebagainya. Padahal ketika Tuhan memberikan panggilanNya, Dia selalu melengkapi kita dengan apapun yang kita butuhkan. Kita bisa melihat hal ini dalam kitab Efesus. "Dan Ialah yang memberikan baik rasul-rasul maupun nabi-nabi, baik pemberita-pemberita Injil maupun gembala-gembala dan pengajar-pengajar, untuk memperlengkapi orang-orang kudus bagi pekerjaan pelayanan, bagi pembangunan tubuh Kristus" (Efesus 4:11-12).

Petrus pun mengingatkan hal yang sama. "Dan Allah, sumber segala kasih karunia, yang telah memanggil kamu dalam Kristus kepada kemuliaan-Nya yang kekal, akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kamu, sesudah kamu menderita seketika lamanya." (1 Petrus 5:10).Allah akan melengkapi, meneguhkan, menguatkan dan mengokohkan kita semua ketika kita taat untuk melakukan tugasnya.

Apapun panggilan yang ada pada kita, Tuhan selalu memperlengkapi sepenuhnya agar kita mampu menyelesaikannya. Ada berbagai karunia rohani atau kemampuan khusus bagi masing-masing orang yang percaya kepadaNya dan mau melakukan pelayanan demi kemuliaanNya. Semua dengan jelas telah difirmankan Tuhan melalui Paulus. "Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh. Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan." (1 Korintus 12:4-5). Rinciannya adalah sebagai berikut: "Sebab kepada yang seorang Roh memberikan karunia untuk berkata-kata dengan hikmat, dan kepada yang lain Roh yang sama memberikan karunia berkata-kata dengan pengetahuan. Kepada yang seorang Roh yang sama memberikan iman, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menyembuhkan. Kepada yang seorang Roh memberikan kuasa untuk mengadakan mujizat, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk bernubuat, dan kepada yang lain lagi Ia memberikan karunia untuk membedakan bermacam-macam roh. Kepada yang seorang Ia memberikan karunia untuk berkata-kata dengan bahasa roh, dan kepada yang lain Ia memberikan karunia untuk menafsirkan bahasa roh itu." (ay 8-10). Dan Paulus menutupnya dengan kembali mengingatkan bahwa semua itu dikerjakan oleh Roh yang satu dan sama. Satu Roh, satu Tuhan, dan karunia-karunia itu diberikan sesuai dengan apa yang dikehendaki Tuhan. (ay 11).

Mungkin saja ada perlengkapan dan kebutuhan yang saat ini tampaknya belum anda miliki. Tetapi sudahkah anda memeriksa terlebih dahulu apa yang ada pada anda? Dengan apa yang ada mungkin anda bisa mulai dahulu sembari menunggu sampai semua yang dibutuhkan terpenuhi. Kita harus benar-benar memeriksa apa yang ada, dan apa yang bisa mulai kita kerjakan. Seringkali dalam melengkapi kita Tuhan tidak memberikan semuanya langsung jadi tetapi menyediakan segala yang dibutuhkan dalam proses pemenuhan kebutuhan tersebut. Jika diibaratkan, Tuhan lebih suka menyediakan kail dan ikan di laut ketimbang ikan bakar yang langsung terhidang di meja makan.

Apabila diantara teman-teman ada yang masih merasa tidak mampu meski sudah mendapat panggilan dari Tuhan melakukan sesuatu, jangan ragu dan mulailah segera. Gereja dimana anda tumbuh tetap membutuhkan pengerja-pengerja untuk melakukan pekerjaan Tuhan di dunia ini, lebih dari itu, lewat apapun anda tetap bisa melayani Tuhan, baik dalam pekerjaan, pendidikan dan sebagainya. Tidak perlu takut tidak mampu, karena Tuhan adalah Allah yang akan terus memperlengkapi segala sesuatu yang dibutuhkan untuk bisa mengerjakannya dengan cemerlang.

Where God guides, He provides

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, February 19, 2015

Menolak dan Lari dari Panggilan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Lari dari Tuhan? Apa bisa? Kita mungkin berkata tidak, tapi bukankah kita pun sering kabur dari panggilan kita seperti Yunus? Yunus mengira ia bisa lari dari panggilan Tuhan. Dan inilah yang dilakukan Yunus. "Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN." (ay 3). Ini jadi sebuah pilihan yang gegabah, karena kita tahu ia kemudian mengalami badai besar di tengah perjalanan dan mendarat di dalam perut ikan yang pasti berbau sangat busuk. Bukan hanya satu dua jam, tetapi dikatakan hingga tiga hari tiga malam lamanya. (ay 17). Pada akhirnya Yunus menyadari bahwa ia tidak punya pilihan lain selain harus taat, karena Tuhan akan memakai caraNya baik lembut maupun keras untuk menundukkan orang-orang yang sudah ditetapkan untuk dipilihNya.

Haruskah kita mengalami masalah terlebih dahulu untuk mau menuruti panggilan Tuhan? Perlukah kita terlebih dahulu diberi pelajaran keras supaya bisa taat? Dari Yunus kita bisa belajar bahwa lari dari Tuhan bukanlah solusi. Lari dari panggilan Tuhan tidak akan membuat kita bebas dari perintahNya. Apakah kita memilih untuk menolak dengan tegas atau dengan diam-diam berusaha melepaskan diri dari panggilan Tuhan, kita tidak akan bisa meredam panggilanNya. Selain kita akan hidup tanpa damai sukacita karena gelisah dan merasa bersalah dalam hati, Tuhan secara tegas sudah menyatakan bahwa bukan kita yang memilih Dia, tetapi Dia-lah yang telah memilih kita. "Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu. Dan Aku telah menetapkan kamu, supaya kamu pergi dan menghasilkan buah dan buahmu itu tetap, supaya apa yang kamu minta kepada Bapa dalam nama-Ku, diberikan-Nya kepadamu." (Yohanes 15:16). Dari ayat ini jelas terlihat bahwa dibalik panggilanNya yang sudah Dia tetapkan sejak awal, Dia pun telah menyiapkan berkat-berkatNya untuk tercurah pada kita. Sesungguhnya panggilan dari Tuhan merupakan sebuah kehormatan. Paulus mengakui pula hal ini kepada jemaat Galatia. "Tetapi karena kebaikan hati Allah, Ia memilih saya sebelum saya lahir dan memanggil saya untuk melayani Dia." (Galatia 1:15).

Panggilan dari Tuhan adalah sebuah anugerah dan kehormatan yang luar biasa. Mungkin tidak gampang, mungkin berat, mungkin merugikan, tetapi belajarlah taat terhadap panggilanNya. Sebab bukan kuat dan hebatnya kita yang diperlukan, namun kerelaan hati dan kesediaan kita untuk menuruti kehendak Tuhan karena kita mengasihiNya. Kepada Yeremia pun Tuhan mengingatkan: "Janganlah katakan: Aku ini masih muda, tetapi kepada siapapun engkau Kuutus, haruslah engkau pergi, dan apapun yang Kuperintahkan kepadamu, haruslah kausampaikan. Janganlah takut kepada mereka, sebab Aku menyertai engkau untuk melepaskan engkau, demikianlah firman TUHAN." (Yeremia 1:7-8). Ketika Tuhan menyuruh, sebenarnya Dia sendirilah yang bekerja dengan memakai kita. Tuhan tidak membutuhkan ahli-ahli dan jagoan. Tuhan tidak membutuhkan kekuatan dan kehebatan manusiawi kita. Yang Dia butuhkan adalah orang yang memiliki hati yang rindu untuk mengasihi orang lain, yang dengan sukacita menuruti panggilanNya. Yunus melakukan hal yang keliru dan ia pun sudah mendapatkan pelajaran yang mahal harganya. Jangan lari dari panggilanNya. Taatlah sejak awal ketika Tuhan menanamkan sesuatu dalam diri anda untuk dikerjakan. Apa yang jadi panggilan anda? Sudahkah anda mengetahuinya dan menjalankannya? Find out your calling and do it the best you can. 

Bersyukurlah dan lakukan yang terbaik atas panggilan karena itu merupakan kehormatan besar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, February 18, 2015

Menolak dan Lari dari Panggilan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yunus 1:2-3
======================
"Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku. Tetapi Yunus bersiap untuk melarikan diri ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN; ia pergi ke Yafo dan mendapat di sana sebuah kapal, yang akan berangkat ke Tarsis. Ia membayar biaya perjalanannya, lalu naik kapal itu untuk berlayar bersama-sama dengan mereka ke Tarsis, jauh dari hadapan TUHAN."

Sadar atau tidak, setiap orang punya panggilannya masing-masing. Sebagian orang belum mengetahui panggilannya dan masih mencari tahu, sebagian lagi sudah tahu. Tapi dari yang sudah tahu, hanya sedikit sekali yang menjalankan panggilannya dengan serius dan sepenuh hati. Sebagian lainnya masih sibuk berhitung untung rugi dan biasanya cendrung merasa rugi ketimbang untung. Rugi waktu, rugi tenaga, rugi uang, rugi ini dan rugi itu. Karenanya mereka menolak dan lari dari panggilan. Menunda hingga waktu yang tidak jelas kapan.

Untuk menjawab panggilan memang tidak mudah. Seringkali kita harus meninggalkan zona kenyamanan kita bahkan mengorbankan sesuatu dan masuk ke dalam situasi sulit. Tapi kita juga tidak boleh lupa bahwa sebuah panggilan bisa menjadi sebuah titik balik yang bisa mengubahkan hidup kita untuk menapak ke arah yang lebih baik, dan tentu saja mendatangkan kebaikan dan berkat bagi orang lain yang bersentuhan dengan panggilan kita.

Apa yang kita sering lupa adalah bahwa Tuhan tidak menyuruh tanpa mempersiapkan. Tuhan tidak menetapkan panggilan bagi setiap kita tanpa menyediakan segala yang kita butuhkan untuk itu. Dia sudah menaruh berbagai bekal yang harus kita kembangkan dan mempergunakannya untuk menjalankan panggilan. Kalau ada yang masih kurang, Dia pula yang akan mempersiapkan. Dari pengalaman saya pribadi saja, misalnya untuk menulis renungan setiap hari untuk anda yang sudah berjalan selama 7 tahun, saya sudah bisa memberi kesaksian akan hal itu. Saat Tuhan pertama kali menanamkan panggilan itu, saya merasa itu adalah panggilan yang tidak masuk akal. Saya belum lama bertobat dan belum mengetahui apa-apa secara mendalam mengenai kebenaran yang terdapat dalam Alkitab. Beruntunglah anda yang punya kakak rohani, karena saya yang bertobatnya belakangan lewat berbagai pengalaman supranatural Ilahi yang luar biasa tidak berakar dimana-mana dan tidak kenal siapa-siapa pada waktu itu. Lantas diberi 'beban' untuk menulis setiap hari, apa yang mau ditulis jika situasinya seperti itu? Tapi dengan jelas Tuhan menyatakan bahwa yang Dia butuhkan bukanlah kemampuan saya melainkan kemauan. Kerelaan untuk membagi sedikit waktu untuk penyebaran berita gembira dari KerajaanNya buat teman-teman yang surfing di internet.

Saya bisa saja menolak, dan itu rasanya akan lebih masuk akal, tetapi saya memutuskan untuk taat. Saya tidak tahu apakah saya bakal sanggup, ditengah pekerjaan yang menggunung, koneksi yang seringkali tidak bersahabat, dan ketidaktahuan saya secara mendalam tentang firman-firman Tuhan. Tetapi ternyata Tuhan memang mempersiapkan segalanya. Apa yang terjadi memang demikian. Saat Dia menyuruh, Dia menyediakan dan mempersiapkan. 7 tahun dan masih terus berjalan. Yang luar biasa, selama saya aktif menulis, saya mengalami dan menyaksikan begitu banyak mukjizat yang tidak akan mampu terselami akal manusia. Ada banyak orang yang dipulihkan, mengalami kesembuhan dan yang terpenting, masuk ke dalam janji keselamatan. Kredit untuk saya? Tidak. Saya hanya menjalankan panggilan saya, dan bersukacita saat Tuhan bisa menjamah banyak orang lewat panggilan saya. He, Himself that does the work, through us. All He need is our willingness, obedience and faith. Kerelaan, kepatuhan dan iman kita.

So, what should we do if God calls me to do something? Apa yang harus kita lakukan ketika Tuhan memanggil kita untuk melakukan sesuatu? Menerima dengan sukacita atau malah lari karena merasa tidak sanggup, pemikiran akan berbagai kerugian dan alasan lainnya? Yang Tuan mau sesungguhnya jelas. Tuhan menginginkan kita untuk taat terhadap panggilanNya. Melarikan diri jelas bukan pilihan, karena biar bagaimanapun Tuhan bisa memakai caraNya untuk menundukkan kekerasan orang-orang yang dipilihNya. Bisa dengan cara lembut maupun dengan didikan yang keras. Bicara soal keras, Yunus mengalami hal itu.

Mari kita lanjutkan renungan kemarin dengan mundur ke awal kisahnya. Yunus pada suatu hari mendapatkan panggilan secara spesifik dari Tuhan. "Bangunlah, pergilah ke Niniwe, kota yang besar itu, berserulah terhadap mereka, karena kejahatannya telah sampai kepada-Ku." (Yunus 1:2). "Niniwe, kota yang penuh orang jahat dan sangat memusuhi bangsa Israel. Jai untuk apa diselamatkan? "Untuk apa aku harus repot-repot menghadapi resiko untuk menyelamatkan kota yang seperti itu?" seperti itulah kira-kira isi pikiran Yunus. Dan lihat, ia memutuskan untuk lari.

(bersambung)

Tuesday, February 17, 2015

Senang Melihat Musuh Jatuh (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(Sambungan)

Yunus memang menaati perintah Tuhan setelah kapok mengalami malapetaka yang hampir menelan jiwanya, tetapi ternyata hatinya masih sama kerasnya seperti saat ia melarikan diri dari penugasan Tuhan. Di dalam hatinya ia masih tetap menginginkan kehancuran Niniwe. Itu bukanlah sikap yang diinginkan Tuhan untuk dimiliki umatnya. Ada banyak orang-orang yang pernah, sedang dan akan menyakiti kita nanti. Terhadap mereka kita tidak diperbolehkan untuk mendendam apalagi mengutuk. Justru yang diinginkan Tuhan adalah sebentuk kasih yang didalamnya terdapat pengampunan tanpa batas. Kita juga dituntut untuk selalu berbuat baik bagi mereka, bahkan mendoakan mereka.

Firman Tuhan banyak berbicara akan hal ini. "Tetapi kepada kamu, yang mendengarkan Aku, Aku berkata: Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu... kasihilah musuhmu dan berbuatlah baik kepada mereka dan pinjamkan dengan tidak mengharapkan balasan, maka upahmu akan besar dan kamu akan menjadi anak-anak Allah Yang Mahatinggi, sebab Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat." (Lukas 6:27,35). Dalam Injil Matius dikatakan "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44). Ini merupakan perintah penting yang digariskan Tuhan untuk kita amalkan dalam kehidupan kita. Mungkin berat bagi kita kalau menggunakan kemampuan dan kekuatan diri sendiri,tapi ingatlah bahwa ada Roh Kudus di dalam diri kita yang memampukan kita untuk berbuat seperti itu.

Tuhan mengasihi semua ciptaanNya di dunia ini. Siapapun manusianya, baik atau jahat, semuanya tetap layak untuk diselamatkan. "Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal. Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia." (Yohanes 3:16-17). Hak diselamatkan berlaku sama bagi setiap orang. Kasih Allah itu besar bagi siapapun tanpa terkecuali, bukan hanya terhadap Israel saja. Kedatangan Yesus bukan hanya untuk menyelamatkan segelintir umat pilihan, tapi berlaku untuk siapa saja yang percaya padaNya. Tanpa pandang bulu, tanpa terkecuali. Tuhan Yesus berkata "Ada lagi pada-Ku domba-domba lain, yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga dan mereka akan mendengarkan suara-Ku dan mereka akan menjadi satu kawanan dengan satu gembala." (Yohanes 10:16).

Semua ini menggambarkan besarnya kasih Allah kepada seluruh umat manusia di bumi ini. Dia rindu untuk melihat pertobatan dari bangsa-bangsa agar selamat. Jika Tuhan memiliki persepsi demikian, mengapa kita malah harus bersenang hati melihat kehancuran orang lain? Mari kita menjaga hati kita agar tidak terperosok kepada pemahaman keliru seperti Yunus. Jangan sampai kita hanya mencari keselamatan buat diri sendiri lalu mengabaikan pentingnya menjangkau orang lain, apalagi kalau sampai membenci dan senang melihat mereka jatuh. Tetaplah berbuat baik, jangan terpengaruh oleh provokasi atau pancingan-pancingan dari orang yang berlaku jahat, tetapi doakanlah mereka dan ampuni. Jika seteru atau orang yang menyakiti kita jatuh, jangan bersenang hati, tapi justru kita harus menunjukkan empati dan berusaha menolong semampunya. Jika itu sulit, berdoalah dan minta agar Roh Kudus memampukan kita untuk melakukannya.

Dari Yunus kita bisa belajar, meski kita sudah melakukan tindakan yang benar, tetapi kita masih mungkin berbuat kesalahan jika kita tidak menjaga hati kita agar tetap seturut kehendak Allah. Mari miliki hati yang lembut dan penuh kasih, karena Allah pun memperlakukan kita semua dengan cara yang sama.

Bukan dibenci, bukan senang melihat mereka jatuh, tapi kasihi dan doakan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, February 16, 2015

Senang Melihat Musuh Jatuh (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yunus 4:1
====================
"Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia."

Dalam dunia bisnis, berbagai konspirasi dirancang dan mata-mata diselundupkan kepada pesaing atau kompetitor yang bahkan belum tentu jahat. Mereka mencoba mengintip apa yang sedang dicoba, kreasi-kreasi baru, inovasi terdepan atau kemana investasi diarahkan sehingga mereka bisa mencoba memotong lebih dahulu. Kalau terhadap kompetitor saja seperti itu, apalagi terhadap musuh. Rata-rata orang senang kalau melihat musuhnya jatuh. Ada rasa puas disana yang semakin besar saat musuh terjatuhnya semakin parah. Kata-kata yang keluar pun biasanya bernada puas. Rasakan, biar tahu rasa, biar kapok, bahkan kata-kata yang lebih kasarpun akan keluar dari mulut kita. Dahulu ada orang yang saya kenal bahkan mentraktir teman-temannya saat seterunya terpeleset jatuh mengalami kesulitan.  Mengapa tidak? Dia sudah menyakitiku kan? Wajar dong kalau aku senang melihatnya jatuh.. itu merupakan alasan yang umum dimiliki banyak orang.

Sebenarnya tidak ada satupun alasan bagi kita orang percaya untuk melakukan hal seperti itu. Mengapa? Karena kita seharusnya memiliki kasih Kristus di dalam diri kita yang sama sekali tidak menyediakan tempat buat bersukacita atas kejatuhan orang lain, bahkan yang telah berbuat jahat terhadap kita. Sekalipun terhadap orang yang jahat, Tuhan mengharuskan kita menyatakan kasih dan tetap mendoakan mereka dan tidak pernah senang kalau kita berlaku jahat atau sekedar senang melihat mereka kesusahan sekalipun, tanpa memandang alasannya.

Kita bisa belajar akan hal ini lewat Yunus. Kita tentu sudah tahu bahwa saat Yunus membangkang dari perintah Tuhan, ia mengalami situasi berbahaya dengan dibuang keluar dari kapal dan ditelan ikan besar. Pengalaman pahit itu seharusnya mampu menyadarkannya, karena Tuhan masih memberinya kesempatan dengan tidak mencabut nyawanya pada saat itu juga. Ia bisa selamat dan keluar dari perut ikan hidup-hidup.

Setelah ia keluar dari perut ikan, Yunus memutuskan untuk taat terhadap perintah Tuhan. Maka ia pergi untuk mengingatkan Niniwe agar bertobat, tepat seperti apa yang diperintahkan Tuhan untuk ia lakukan. Pertobatan bangsa Niniwe pun hadir. Seisi Niniwe berbalik dari tingkah laku yang jahat dan berselubung kain kabung tanda pertobatan. Bukan hanya manusia, tetapi bahkan hingga hewan ternak. Itu merupakan bentuk pertobatan menyeluruh yang sangat langka terjadi. Dan ternyata itu berkenan bagi Tuhan. Tuhan pun mengampuni mereka.

Alkitab dengan jelas menyatakan hal itu. "Ketika Allah melihat perbuatan mereka itu, yakni bagaimana mereka berbalik dari tingkah lakunya yang jahat, maka menyesallah Allah karena malapetaka yang telah dirancangkan-Nya terhadap mereka, dan Iapun tidak jadi melakukannya." (Yunus 3:10). Seharusnya Yunus senang dan bahagia karena tugasnya berhasil membawa keselamatan bagi bangsa Niniwe. Seharusnya ia merasa lega bahwa tugas maha berat yang dibebankan kepadanya mampu ia selesaikan dengan baik. Seharusnya Yunus bersukacita melihat begitu banyak manusia yang terluput dari kebinasaan dan beroleh keselamatan. Tapi anehnya, bukan itu yang dirasakan Yunus. Justru sebaliknya, Alkitab mencatat bahwa Yunus malah marah. "Tetapi hal itu sangat mengesalkan hati Yunus, lalu marahlah ia." (Yunus 4:1).

Agar kita mengetahui mengapa Yunus marah, ada baiknya kita melihat latar belakang hubungan antara Niniwe dan Israel terlebih dahulu. Niniwe merupakan musuh bebuyutan dari Israel. Lantas buat apa Allah Israel menyelamatkan musuh dari umatNya sendiri? Itulah yang mungkin menjadi isi hati Yunus. Ia mengira bahwa hanya bangsa Israel saja yang mendapat janji Tuhan, dan dengan demikian hanya Israel lah satu-satunya yang berhak diselamatkan. Bangsa lain? Biar saja, toh mereka bukanlah masuk dalam perjanjian. Begitu mungkin pikirnya. Yunus bahkan berterus terang mengungkapkan rasa marahnya melihat Niniwe diselamatkan. Tapi pikiran seperti itu sangatlah keliru. Lewat pohon jarak yang ditumbuhkan dan kemudian layu di hari selanjutnya Tuhan memberi pelajaran kepada Yunus bahwa bukan hanya Israel, tapi bangsa-bangsa lain pun punya kesempatan yang sama untuk menerima kasih karunia Tuhan. "Lalu Allah berfirman: "Engkau sayang kepada pohon jarak itu, yang untuknya sedikitpun engkau tidak berjerih payah dan yang tidak engkau tumbuhkan, yang tumbuh dalam satu malam dan binasa dalam satu malam pula. Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari seratus dua puluh ribu orang, yang semuanya tak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak?" (Yunus 4:10-11). Bukankah Niniwe Tuhan kiga yang menciptakan? Bukankah mereka juga diciptakan menurut gambar dan rupaNya? Jika demikian, bagaimana mungkin Tuhan tidak mengasihi mereka juga?

(bersambung)

Sunday, February 15, 2015

Mengalirkan Kasih Karunia lewat Perkataan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 4:29
================
"Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia."

Suatu kali seorang pengerja di bidang musik bercerita bahwa ada satu temannya yang tampaknya sangat sulit menjaga perkataannya. Memang, di kota dimana saya tinggal ada beberapa kata sandang yang memang terdengar kasar seperti memaki, tapi sebenarnya dipakai sebagai bahasa gaul. Mungkin karena sangat gaul, temannya sulit menjaga perkataan bahkan saat di gereja. Idealnya, mau di gereja mau di luar, perkataan harus dijaga agar jangan terbiasa mengeluarkan kata-kata yang tidak sopan dan kotor. Tapi alih-alih di dalam dan di luar, saat di lingkungan gereja saja ia sudah tidak mampu menjaga perkataannya. "Kalau sama kita-kita sih jadi becandaan, tapi bagaimana kalau dia keceplosan di depan pendeta atau orang yang lebih tua? Bisa repot kan?" kata teman saya sambil tertawa.

Ada banyak orang yang mengira bahwa soal omongan itu tidaklah penting-penting amat. Di sisi lain, ada yang kebingungan untuk memberkati, karena mereka mengira bahwa memberkati orang lain hanyalah lewat mengkotbahi, menumpang tangan di atas kepala orang secara formal sedang dia tidak merasa punya panggilan untuk melayani secara langsung di gereja. Itu adalah pandangan yang keliru, karena Alkitab mengatakan bahwa jangankan memberkati, lewat ucapan yang keluar dari mulut kita, kasih karunia Allah bahkan bisa mengalir kepada orang yang mendengar.

Ada sebuah pengalaman saya pribadi yang rasanya baik untuk dibagikan. Bukan tentang manusia melainkan tanaman. Suatu kali istri saya memindahkan tanaman dari satu pot ke pot lainnya. Tenyata tanaman itu menunjukkan gejala-gejala yang tidak sehat. Kata orang tanaman juga bisa stres, dan salah satunya adalah kalau dipindahkan. Saya tidak tahu benar atau tidak, tapi yang pasti tanaman itu memang terlihat tidak segar. Iseng-iseng saya mendekati tanaman itu dan berbicara pelan: "Kamu tidak boleh mati. Kamu itu dipindahkan supaya bisa tumbuh lebih baik dan lebih besar. Ayo, hidup dan tumbuhlah dengan baik, kamu pasti bisa." Tidak tahu apakah perkataan itu memang didengar oleh tanaman atau tidak, tapi yang jelas mulai keesokan harinya tanaman itu mulai menunjukkan gejala sehat dan sampai saat ini tumbuh dengan sangat subur.

Entah kebetulan atau tidak, tetapi faktanya tanaman itu pulih segera setelah kata-kata positif saya berikan kepadanya. Jika kita mengacu kepada firman Tuhan, bisa jadi perkataan positif dan membangun memang mampu memberikan semangat kepada tanaman untuk mengalami pemulihan dan kembali tumbuh dengan sehat. Jadi kalau kepada tanaman saja bisa, mengapa tidak kepada sesama manusia? Mulut punya kuasa, perkataan yang keluar pun punya kuasa. Itulah sebabnya kita diingatkan untuk tidak mengeluarkan kata-kata kutuk dan selalu mengisi segala yang keluar dari mulut kita berupa kata-kata berkat, yang membangun, yang positif dan yang bisa memberi kebaikan bagi orang lain. Seperti apa yang dikatakan Yakobus: " dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi." (Yakobus 3:10).

Perhatikan apa yang dipesankan Paulus. "Janganlah ada perkataan kotor keluar dari mulutmu, tetapi pakailah perkataan yang baik untuk membangun, di mana perlu, supaya mereka yang mendengarnya, beroleh kasih karunia." (Efesus 4:29). Perkataan baik sudah sepantasnya berada dalam mulut orang percaya, yang kalau diucapkan punya kuasa untuk memberkati orang lain dan mampu membuat yang menerima/mendengarnya beroleh kasih karunia. Jangan sampai kita mengaku anak Tuhan tetapi kita terus memakai mulut hanya untuk mengeluh, bersungut-sungut dan sebagainya. Atau yang lebih parah malah mengutuk ke kiri dan ke kanan, mengeluarkan kata-kata kotor, tidak sopan, tidak pantas dan lain-lain. Kita tidak boleh lupa bahwa firman Tuhan berkata "Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab." (Ibrani 4:13). Tentu saja ini termasuk kata-kata yang keluar dari mulut kita. Pemazmur berkata "Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu" (Mazmur 34:14), bahkan dalam Amsal peringatannya lebih keras: "Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya." (Amsal 18:21).

Kata-kata dari mulut kita sebenarnya bisa menjadi ujung pena Tuhan untuk memberkati orang lain. Orang bisa merasakan kasih karunia Tuhan lewat apa yang kita katakan. Sebaliknya orang bisa menjadi hancur berantakan lewat kata-kata negatif kita pula. Semua itu hendaknya kita ingat agar jangan sampai kita keliru mempergunakan mulut dalam berkata-kata. Apakah kita mengeluarkan kata berkat atau kutuk, semua tergantung dari diri kita. Kita harus benar-benar menjaga jangan sampai kata-kata kita menyakiti orang-orang yang kita sayangi lewat perkataan yang keluar dari mulut kita, termasuk yang mungkin tidak kita sengaja sekalipun. Bayangkan betapa indahnya jika kita bisa membuat hidup orang lebih baik, menghidupkan mereka, membekati mereka dan membuat mereka merasakan kasih karunia lewat diri kita, termasuk perkataan yang kita ucapkan kepada mereka. Jika tanaman saja bisa terpengaruh lewat perkataan baik yang keluar dari mulut kita, apalagi bagi manusia. Mari kita sama-sama menjaga lidah kita agar tidak mengeluarkan kata-kata yang negatif, kotor dan berisi kutukan. Selalu jaga dengan baik agar setiap perkataan berisi kata-kata membangun yang mampu memberkati orang lain dan membuat mereka merasakan kasih karunia Allah.

Keluarkan berkat dan bukan kutuk, pergunakan mulut untuk menjadi ujung pena Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, February 14, 2015

Aspek-Aspek yang Terkandung dalam Kasih (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Standar tinggi ini tentu saja sangat baik apabila diaplikasikan kepada pasangan kita, antara suami-istri, terhadap anak-anak atau keluarga dan sahabat. Tapi kasih seperti ini akan jauh lebih membawa manfaat apabila diaplikasikan jauh melebihi itu, dengan menjangkau orang-orang diluar sana, yang belum kita kenal bahkan yang sulit dijangkau sekalipun. Kasih seperti inilah yang akan mampu membawa perubahan ke arah yang lebih baik, sebentuk kasih Surgawi yang sudah dipraktekkan oleh Allah sendiri lewat Kristus, kasih yang sudah mendatangkan keselamatan bagi kita dan mendamaikan hubungan antara Sang Pencipta dan yang diciptakan yang tadinya terputus akibat dosa.

Lebih jauh lagi, orang yang memiliki kasih akan tahan menghadapi segala sesuatu, dan mau melihat sisi baik dari setiap orang, tidak pernah kehilangan harapan dan sabar. Mari kita lihat rangkaian ayat berikutnya. "Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (ay 7). Lantas "Kasih tidak berkesudahan; nubuat akan berakhir; bahasa roh akan berhenti; pengetahuan akan lenyap". (ay 8). Semua yang lainnya pada suatu ketika akan lenyap, bahkan hingga tiga poin penting terakhir yaitu iman, pengharapan dan kasih, Firman Tuhan mengatakan bahwa diantara ketiganya yang paling besar itu adalah kasih. "Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih." (ay 13).

Kata "kasih tidak berkesudahan" pada ayat 8 sesungguhnya mengandung pesan yang sangat penting. Dalam versi Amplified Bible dikatakan "Love never fails". Kasih tidak akan pernah gagal, tidak pernah gagal untuk membuat perubahan-perubahan dalam kehidupan kita menuju ke arah yang lebih baik, tidak pernah gagal untuk memulihkan dan memperbaiki apa yang sudah rusak atau bahkan hancur. Seandainya alkitab diperas habis, maka semuanya akan yang akan kita peroleh adalah kasih. Semua bermuara kepada kasih. Ini pula yang menjadi dua hukum yang terutama yang diberikan Yesus sendiri. "Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Itulah hukum yang terutama dan yang pertama. Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri. Pada kedua hukum inilah tergantung seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi." (Matius 22:37-40).

Mengasihi orang lain, seperti halnya Tuhan mengasihi kita, tanpa memandang siapa diri mereka, memilah-milah mana yang harus dikasihi dan mana yang boleh dibenci seperti yang dilakukan sebagian orang yang keliru dalam mengartikan makna kasih. Ada begitu banyak orang yang menjadi tawar karena tidak lagi merasakan kasih dalam hidupnya, dan mereka ini ada di sekitar anda dan saya. Jika anda menganggap bahwa kasih Tuhan nyata dalam hidup anda, jika anda menyadari bahwa Tuhan bukan hanya sumber kasih tetapi kasih itu sendiri, jika anda tahu bagaimana indahnya perasaan dikasihi dan mengasihi, sekarang saatnya untuk membagikan sukacita yang sama pada mereka yang membutuhkan. Hari Valentine yang diperingati sebagai hari kasih sayang hendaknya bisa pula dipakai sebagai sebuah hari yang bukan saja khusus untuk kekasih atau orang-orang terdekat saja, tetapi jadikanlah itu sebagai titik tolak bagi kita untuk membagi kasih kepada sesama manusia, tanpa terkecuali. Selamat Hari Kasih Sayang, Tuhan memberkati!

Semakin anda mengenal kasih Tuhan, hendaknya semakin banyak pula kasih yang kita berikan pada sesama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, February 13, 2015

Aspek-Aspek yang Terkandung dalam Kasih (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 13:13
======================
"Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih."

Valentine's Day, Hari Kasih Sayang, telah tiba. Setiap tahunnya perayaan ini memicu pro dan kontra. Yang membuat saya sedih, kenapa yang menentang hanya didasarkan pada asal muasalnya menurut fakta sejarah saja dan bukan kepada esensinya. Kalau memang hanya berdasarkan asalnya, kenapa tidak pilih saja hari lain yang berbeda untuk itu? Dalih selanjutnya adalah bahwa kasih tidak perlu diperingati secara istimewa. Kasih seharusnya tiap hari dan bukan hanya sehari saja, katanya. Itu idealnya, dan saya sangat setuju kalau itu bisa dijalankan oleh manusia. Faktanya, kesibukan yang menyita waktu, berbagai kegiatan dan agenda sehari-hari selalu saja membuat kita kekurangan waktu, tenaga atau mood untuk bisa seperti itu. Apalagi kalau orang-orang terdekat yang paling kita sayangi tinggal di kota atau negara yang berbeda, akan sulit bagi kita untuk setiap hari bisa menyatakan kasih kita kepada mereka. Fakta lainnya adalah bahwa manusia semakin banyak yang hidup dengan memperkaya kebencian ketimbang menyatakan kasih. Karenanya saya rasa kita semua perlu diingatkan lewat sebuah hari yang dikhususkan untuk kasih. Sebuah hari yang seharusnya lebih dari sekedar makan malam romantis bersama kekasih, tetapi dirayakan dengan kembali merenungkan kasih sebagai esensi yang terindah dalam hidup manusia. Artinya kasih seharusnya bisa menjangkau jauh lebih luas daripada hanya antar pasangan saja, bahkan seharusnya melebihi hubungan antar keluarga dan orang-orang terdekat saja.

Everybody needs to love and to be loved in return. Sebagian orang mungkin menganggap itu sebagai pernyataan sikap cengeng, tapi apa benar ada manusia yang begitu dingin sampai tidak lagi butuh kasih dalam hidupnya? Apakah benar manusia tidak memerlukan itu? apakah kasih itu hanya sesuatu yang semu dan tidak pernah nyata? Saya yakin, siapapun orangnya, termasuk yang paling jagoan sekalipun akan butuh dicintai dan bisa mencintai, meski mungkin perasaan itu tersimpan jauh di dalam lubuk hati mereka. Kalau begitu, terlepas dari ada tidaknya hari kasih sayang, ini merupakan sesuatu yang perlu untuk membuat kita bisa menikmati hidup yang berbahagia.

Kalau ditanya tentang kasih, kebanyakan orang biasanya hanya mengacu kepada sebuah perasaan cinta antara pasangan. Dari ketertarikan kepada seseorang, dari mata turun ke hati, timbul rasa cinta yang mengarah kepada keinginan untuk menjalani dan menghabiskan hidup bersama dengannya. Itu adalah salah satu bentuk dari kasih. Tapi sebenarnya ada banyak lagi seluk beluk atau aspek-aspek penting dari kasih yang mungkin masih luput dari perhatian kita. Apa saja itu? Alkitab sudah membeberkannya dengan jelas, yaitu dalam 1 Korintus pasal 13.

1 Korintus 13 berbicara panjang lebar mengenai kasih. Kasih disana digambarkan bukan hanya sebatas dicintai oleh orang lain, namun lebih jauh berbicara mengenai aspek-aspek yang ada dalam kasih. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran." (1 Korintus 13:4-6). Lihatlah bahwa ada begitu banyak aspek kasih yang jauh lebih dari keinginan untuk memiliki. Di dalam kasih ada:
- kesabaran
- kemurahan hati
- tidak cemburu
- tidak memegahkan diri
- tidak sombong
- tidak melakukan yang tidak sopan
- tidak mencari keuntungan sendiri
- tidak berisi kemarahan
- tidak menyimpan kesalahan orang alias mendendam
- menentang ketidakadilan
- menyukai kebenaran
- menguatkan/memberi daya tahan untuk menghadapi segala sesuatu
- memampukan untuk melihat sisi-sisi terbaik pada setiap orang
- membuat kita terus hidup dalam pengharapan, dan
- membuat kita tabah dalam menanggung segala sesuatu.

Inilah aspek-aspek kasih yang kalau dijalankan akan bermakna besar bagi tatanan kehidupan dunia yang damai, jauh dari kekerasan, kebencian dan kejahatan. Begitu pentingnya dan begitu banyaknya, maka kita perlu diingatkan pada waktu-waktu tertentu akan makna kasih yang mendasari keimanan kita.

(bersambung)

Thursday, February 12, 2015

Perlindungan dan Kekuatan dari Sukacita karena Tuhan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Nehemia 8:11b
========================
"Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!"

Apa yang dimaksud dengan sukacita? Menurut kamus, sukacita adalah hati yang bersuka, girang. Kapan kita merasakan sukacita? Rata-rata orang menghubungkan sukacita kepada sebuah perasaan dalam suatu kondisi dimana tidak ada penderitaan atau permasalahan yang sedang menimpa mereka. Berarti sukacita sangat tergantung dari kondisi atau keadaan yang sedang dialami. Kalau hidup sedang lancar, aman, berkecukupan atau bahkan berkelebihan, sedang dapat rejeki atau keuntungan, mendapat hadiah, bonus dan lain-lain barulah kita bersukacita. Sebaliknya, kalau sedang menghadapi persoalan, itu tandanya sukacita tidak boleh ada lagi didalam diri kita. Paling tidak sampai situasi bisa menunjukkan perubahan terlebih dahulu. Coba pikir, bagaimana mungkin bersukacita jika sedang dalam keadaan tersesak? Gila apa? Itu pandangan sebagian besar dari kita. Sebenarnya sebuah sukacita bukan seperti itu. Sukacita yang sejati sesungguhnya tidak tergantung dari apa yang sedang kita alami atau rasakan. Bagaimana bisa demikian? Sebab sukacita yang sesungguhnya itu seharusnya berasal dari Tuhan dan tidak boleh tergantung dari manusia, situasi, kondisi atau keadaan apapun.

Mari kita langsung lihat ayatnya, lewat Firman Tuhan yang disampaikan lewat Nehemia: "Jangan kamu bersusah hati, sebab sukacita karena TUHAN itulah perlindunganmu!" (Nehemia 8:11b). Sukacita karena Tuhan ternyata bukan saja bisa mengobati kesusahan hati tetapi sangat mampu menjadi perlindungan kita. Artinya tidak saja sukacita itu tidak boleh digantungkan kepada keadaan atau kondisi yang tengah kita hadapi, tetapi seharusnya sukacita itu pun bisa memberikan sebuah kekuatan tertentu untuk bisa bertahan bahkan menjadikan kita keluar sebagai pemenang ditengah kesesakan apapun. That's the power of joy, the power of rejoicing. Tapi bukankah itu sulit kita rasakan saat kita sedang dalam tekanan atau masalah? Kalau memakai kekuatan kita sendiri tentu saja ya, tapi itu bisa dimungkinkan karena sukacita yang sejati sebenarnya berasal dari Tuhan.

Sekarang ayo kita lihat aplikasinya lewat contoh dari Paulus yang secara langsung mengaplikasikan sukacita ini dalam perjalanan pelayanannya. Setelah bertobat, hidup Paulus bukanlah menjadi lebih gampang. Yang terjadi justru sebaliknya, karena ia segera bertemu dengan masalah dan penderitaan. Ia mengalami berbagai tekanan, siksaan, deraan bahkan ancaman yang setiap saat bisa menamatkan nyawanya. Secara logika kita mungkin akan berpikir bahwa itu artinya ada sesuatu yang salah. Itu bisa timbul dalam pikiran kita apabila kita tidak memiliki motivasi yang benar dalam bertobat, yaitu menerima Yesus hanya untuk mencari berkat-berkat duniawi saja.

Lantas bagaimana dengan Paulus? Apakah Paulus menyesal mengambil jalan bertobat? Sama sekali tidak. Ia terus konsisten dalam mewartakan firman Tuhan kemanapun ia pergi, apapun taruhannya. Bukan itu saja, secara jelas kita bisa melihat bahwa sukacita ternyata tetap menyertainya. Lihat apa katanya: "Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! ... Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur. Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." (Filipi 4:4,6-7). Dan dengan tegas ia juga menyatakan "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku." (ay 13). Seperti itulah bentuk iman Paulus yang tahu betul bagaimana pentingnya memiliki sukacita yang berasal dari Tuhan, yang mampu memberikannya kekuatan dalam menghadapi berbagai masalah dalam pelayanannya.

Berada dalam penjara, mendapat siksaan secara fisik sekalipun, Paulus tidak patah semangat. Dia tidak menganggap penjara sebagai sebuah halangan, kendala atau kerugian, tapi justru sebagai kesempatan atau keuntungan baginya. Ia mempergunakan ruang penjaranya bukan sebagai tempat untuk meratapi nasib, tapi mengubahnya sebagai pusat penginjilannya. Banyak surat ia tuliskan berasal dari dalam penjara. Ia terus membagi sukacita kerajaan Allah dan tips-tips kehidupan yang penuh kemenangan seperti apa yang ia alami. Sebuah sukacita yang berasal dari Tuhan tidak terpengaruh oleh keadaan sekitar. Semua itu sesungguhnya adalah sebuah pilihan bagi kita. Apakah kita mau membiarkan diri kita dikuasai masalah dan kemudian kehilangan sukacita, atau kita mau memakai sukacita ini sebagai kekuatan yang memampukan kita menghadapi badai apapun dengan tegar.

Apakah saat ini anda tengah mengalami situasi-situasi sulit yang menekan hidup kita? Apakah anda tengah mengalami keadaan yang sepertinya sungguh tidak adil? Atau satu masalah belum kelar, masalah baru sudah muncul sehingga kita jadi kalang kabut atau tertekan? Jika ada teman-teman yang merasakan itu, lihat bagaimana Paulus menanggapinya. "Tentang hal itu aku bersukacita. Dan aku akan tetap bersukacita." (Filipi 1:18b). Seperti itu pula hendaknya prinsip hidup kita. Jangan sampai kita menyerah kalah oleh masalah, jangan sampai pula berbagai tekanan hidup itu menjadi jalan masuk bagi iblis untuk merampas kemenangan kita. Pergunakanlah kekuatan sukacita, the power of rejoicing yang berasal dari Tuhan sebagai senjata yang memampukan anda menghadapi semuanya dengan tegar. Dengan adanya sukacita Kerajaan Allah dalam hidup kita, maka kita bisa bebas dari kekhawatiran, kecemasan dan ketakutan. Masalah boleh hadir dan tidak bisa kita hindari seterusnya, tapi biar bagaimanapun sukacita harus tetap tinggal di dalam diri kita. Sebab, sukacita karena Tuhan, itulah perlindunganmu!

God says: Don't worry, because My joy is your strength!

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker