Monday, June 30, 2014

Iman Tanpa Perbuatan Nyata (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!

(sambungan)

Mari kita lihat firman Tuhan berikut ini: "Ada yang menyebar harta, tetapi bertambah kaya, ada yang menghemat secara luar biasa, namun selalu berkekurangan." (Amsal 11:24). Kita tidak akan lebih baik jika hanya menimbun saja. Firman Tuhan berkata bahwa itu tidak akan membawa berkat pada kita tapi malah akan merugikan. Tuhan akan selalu melihat ketulusan hati kita, apakah kita punya rasa belas kasih dan mau memberi atau hanya berhitung untung rugi dan tidak peduli terhadap orang lain. Kalau kita memberi atas dasar kasih dengan keikhlasan, Tuhan pasti akan memperhitungkan semua itu. Sebaliknya perhitungan pun akan dibuat kalau kita memiliki agenda-agenda yang buruk dalam memberi, atau kalau tidak melakukan bentuk-bentuk perbuatan nyata dalam hidup kita atas berkat yang telah Dia beri.

Yesus menganggap penting hal ini dan sudah menyebutkan seperti apa artinya saat kita berbuat baik dan beramal atas namaNya. "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Kita bahkan tidak diperbolehkan untuk menunda-nunda atau menahan kebaikan selama kita mampu (Amsal 3:27) dan juga tidak boleh mempersulit orang terlebih dahulu sebelum kita memberi sesuatu kepada mereka (ay 28). Dari semua ini kita bisa melihat bahwa segala kelimpahan berkat yang hanya ditelan sendiri tidaklah pernah baik di mata Tuhan. Bagi Tuhan itu hanyalah produk dari iman kosong yang mati, yang tidak punya nilai apapun jika tidak dibarengi dengan perbuatan-perbuatan nyata yang keluar dari hati yang tulus atas dasar kasih.

Jangan puas dengan kehidupan religius tanpa dibarengi dengan perubahan sikap dan perbuatan nyata, karena dengan demikian kita belum menunjukkan diri sebagai anak Allah yang benar. Kita tidak ubahnya seperti orang munafik yang berpikir bahwa mereka bisa selamat hanya dengan berdoa panjang-panjang dan tidak perlu peka terhadap penderitaan sesama, atau orang yang mengira bahwa mereka bisa mencuci dosa (sin laundering) dengan bersedekah dan beramal. Tuhan ingin agar kita hidup semakin baik, menyatakan kemuliaanNya kepada banyak orang dengan kasih. Anda tidak akan jatuh miskin hanya karena memberi atas dasar kasih. Tuhan akan selalu memperhitungkan semuaNya itu dan Dia akan selalu siap memberkati anda justru lebih lagi. Tuhan sendiri yang akan memelihara anda sesuai janjiNya, dan untuk itu anda tidak perlu kuatir akan kekurangan. Sudah seharusnya iman menyertai kehidupan kita dan memberi sebentuk hidup yang berkenan di hadapan Tuhan. Tidak hanya sebatas kata-kata, tidak hanya abstrak atau samar, tidak hanya lewat berdoa setiap waktu tetapi juga harus secara nyata bersinggungan dengan sendi-sendi kehidupan kita, dan diaplikasikan dalam tindakan-tindakan nyata. Adakah sesuatu yang baik yang bisa anda lakukan untuk orang lain hari ini? Lakukan segera. It's time to do some real action.

Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong dan mati, bagaikan tubuh tanpa roh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, June 29, 2014

Iman Tanpa Perbuatan Nyata (1)

webmaster | 8:00:00 AM | 1 Comment so far
 Ayat bacaan: 2 Korintus 9:8 (BIS)
=========================
"Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal."

Miris sekali melihat semakin banyak saja orang yang ditangkap karena melakukan korupsi. Mereka terus berusaha menumpuk uang sebanyak-banyaknya dengan mengambil hak yang seharusnya menjadi milik warga negara tanpa malu. Mereka mungkin berpikir bahwa uang menjamin kebahagiaan dan kenyamanan hidup. Tidak takut akan hukuman nanti dari Tuhan yang tidak akan pernah bisa disogok dan ditipu, mereka berpikir pendek mencari kemewahan pada bagian hidup yang hanya singkat saja ini. Ada banyak orang pula yang meski bukan lewat korupsi tapi terus membaktikan dirinya kepada uang. Mereka menilai segala sesuatu dari harta, mendasari hidupnya untuk itu dan mempergunakan waktu dan kesempatan untuk menimbun kekayaan agar bisa hidup mewah. Tanpa uang mereka merasa tidak akan bisa hidup baik, ironisnya mau sebanyak apapun uang itu tidak pernah cukup buat mereka. Ingin lebih dan lebih lagi dan itu hanyalah untuk diri sendiri saja. Mereka melupakan hal penting bahwa semuanya sesungguhnya berasal dari Tuhan dan bukan atas kehebatan diri sendiri saja. Setiap saat Tuhan bisa menggoncangkan mereka, tak peduli seberapa besar uang yang sudah mereka miliki, dan apabila itu terjadi semua akan habis ludes dalam sekejap mata. Ada banyak ngengat dan karat yang bisa menggerogoti semua harta yang semata dikumpulkan di bumi dan digunakan hanya untuk kepentingan dunia saja seperti yang sudah disebutkan dalam Matius 6:19. Meski demikian, tetap saja banyak orang berburu mengejar harta tanpa kenal lelah dan cukup.

Ada yang beramal, membangun rumah ibadah dan bersedekah tapi tujuannya untuk 'mencuci' segala penyimpangan dan penipuan yang mereka lakukan, seolah mereka bisa menyogok Tuhan untuk memutihkan mereka dengan cara seperti itu dan bukan karena hatinya tergerak menolong orang yang menderita. Ada yang tampaknya rajin berdoa, menunjukkan keimanan mereka yang tinggi dengan melakukan ibadah-ibadah secara rajin dan teratur, tetapi di sisi lain mereka kerap menghitung untung rugi dan menutup hati rapat-rapat sehingga tidak lagi memiliki rasa iba atau belas kasihan terhadap orang lain. Ini bukanlah gambaran ideal dari para pengikut Kristus, karena Kekristenan tidak pernah mengajarkan kita untuk bersikap eksklusif, hanya mementingkan diri sendiri atau golongan sendiri saja. Kekristenan juga tidak pernah mengajarkan kita untuk mengejar-ngejar harta, menghamba kepada mamon lantas lupa apa sebenarnya yang menjadi hakekat sebuah kehidupan yang berkemenangan. Tidak berarti kita harus hidup miskin di dunia tapi kita harus mengetahui apa tujuan Tuhan memberi kelimpahan atas kita. Bagaimana kita seharusnya merespon ketukan pada hati nurani kita, bagaimana cara kita memberi dan atas dasar apa, semuanya harus benar-benar diperhatikan secara baik.

Melanjutkan renungan kita tentang pentingnya sebuah perbuatan nyata mengikuti setiap langkah kita. Hari ini mari kita lihat dari sebuah sisi iman. Beriman itu sangat baik dan merupakan keharusan. Tetapi ingatlah bahwa iman tidak akan ada gunanya kalau tidak disertai perbuatan nyata. Hal ini disebukan dengan jelas oleh Yakobus, bahwa "...Iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong" (Yakobus 2:20). Sebelumnya Yakobus juga mengatakan seperti ini: "Jika seorang saudara atau saudari tidak mempunyai pakaian dan kekurangan makanan sehari-hari, dan seorang dari antara kamu berkata: "Selamat jalan, kenakanlah kain panas dan makanlah sampai kenyang!", tetapi ia tidak memberikan kepadanya apa yang perlu bagi tubuhnya, apakah gunanya itu?  Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati." (ay 15-17). Atau lihat pula ayat berikut: "Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati" (Yakobus 2:26). Iman tanpa disertai perbuatan adalah iman yang kosong bahkan iman yang mati, bagaikan tubuh tanpa roh.

Selanjutnya mari kita lihat untuk apa sebenarnya kita diberkati. "Allah berkuasa memberi kepada kalian berkat yang melimpah ruah, supaya kalian selalu mempunyai apa yang kalian butuhkan; bahkan kalian akan berkelebihan untuk berbuat baik dan beramal." (2 Korintus 9:8 , BIS). Berbuat baik dan beramal, itulah yang menjadi keharusan bagi orang percaya, dan itulah seharusnya yang dilakukan orang percaya. Intinya, kita diberkati untuk memberkati orang lain, dan saat kita membagi berkat, itu bukanlah merugikan kita karena sesungguhnya semua Allah yang telah dan akan terus memberikannya. Justru itu akan membuat kita bagaikan menabung di sorga, dimana tidak ada ngengat dan karat yang bisa merusaknya. (Matius 6:20). Kalau begitu kenapa kita harus pelit dalam memberi? Kerelaan memberi bukanlah masalah kita punya banyak atau tidak tetapi tergantung dari hati. Sebuah tindakan nyata merupakan sesuatu yang tergantung keputusan kita. Firman Tuhan yang tertanam dalam hati kita seharusnya menumbuhkan iman dengan subur, dan kemudian dari hati yang sehat seperti itu kita pun akan penuh dalam kasih lalu mengaplikasikannya dalam kehidupan dengan perbuatan-perbuatan yang nyata. Seperti itulah seharusnya. Perhatikan apa kata Paulus kepada Timotius. "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (2 Timotius 3:16-17). Allah sendiri telah melengkapi kita untuk melakukan segala perbuatan baik. Semua itu bukan untuk disimpan sendiri tetapi sudah seharusnya kita pakai untuk membagi berkat kepada sesama.

(bersambung)

Saturday, June 28, 2014

Real Love Needs Real Action (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Mengenai kasih dalam bentuk tindakan nyata, ada contoh menarik dari jemaat di Makedonia yang disebutkan dalam 2 Korintus 8:1-15. Disana kita bisa melihat sebuah bentuk kasih yang berisi tindakan-tindakan nyata. Pertama, mari kita lihat kondisi jemaat disana pada saat itu. "Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan." (ay 2). Jemaat Makedonia disebutkan bukanlah jemaat kaya. Mereka juga bukan jemaat yang hidup nyaman tanpa masalah. Jelas dikatakan bahwa mereka itu sangat miskin, dan mengalami banyak penderitaan. Ini adalah situasi yang bisa membuat kita dengan mudah menutup pintu hati kita dari rasa iba apalagi membangun kebiasaan memberi sesuatu yang nyata. Tapi jemaat di Makedonia tidaklah seperti itu. Lihatlah bahwa mereka dikatakan tetap punya sukacita yang meluap dan begitu kaya dalam kemurahan. Bahkan Paulus sampai bersaksi untuk mereka. "Aku bersaksi, bahwa mereka telah memberikan menurut kemampuan mereka, bahkan melampaui kemampuan mereka. Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus. Mereka memberikan lebih banyak dari pada yang kami harapkan. Mereka memberikan diri mereka, pertama-tama kepada Allah, kemudian oleh karena kehendak Allah juga kepada kami." (ay 3-5). Inilah bentuk kasih yang dibarengi tindakan nyata, sangat inspiratif. Jelaslah bahwa kasih tidak tergantung dari miskin dan kayanya seseorang, sedang nyaman atau sedang dalam pergumulan tetapi lewat sukacita yang meluap dan hati yang penuh kemurahan yang dibarengi dengan tindakan-tindakan nyata. Jemaat Makedonia membuktikan mereka mampu menyatakan kasih lewat perbuatan nyata meski mereka sendiri hidup di bawah kemiskinan dan penderitaan.

Selanjutnya, apa saja output dari kasih yang sejati? Paulus menjabarkannya dengan lengkap dalam surat Korintus. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Poin-poin yang disebutkan Paulus sangatlah berhubungan dengan tindakan-tindakan nyata. Jadi kalau kita masih berhenti pada rasa hati saja tapi menutup rapat diri kita dari tindakan nyata, itu sangatlah jauh dari bentuk kasih sejati yang mencerminkan kasih Tuhan yang sesungguhnya.

Real love needs real action. Kasih yang sejati membutuhkan tindakan nyata. Jangan lupa bahwa perbuatan atau tindakan nyata ini pun harus sesuai dengan hukum-hukum kebenaran dari Kerajaan Allah. Jangan karena kita tidak tega lantas kita menjerumuskan orang-orang yang kita kasihi, jangan pula kita hanya berkata sayang tetapi tidak peduli atau malah menyakiti mereka. Alangkah ironisnya kalau kita bilang sayang, tapi tidak ada buktinya. Hari ini, mari periksa orang-orang disekeliling kita. Sudahkah kita melakukan tindakan nyata dalam kasih kita pada mereka? Jika sudah, teruskanlah, tetapi jika belum, mulailah dari sekarang. Mari kita tampil menjadi orang-orang yang memiliki hati penuh kasih yang akan mudah dirasakan oleh orang lain lewat tindakan-tindakan nyata kita. It's time to express your love with real action.

Love can just be a word or end up only as feeling, but action makes it real

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, June 27, 2014

Real Love Needs Real Action (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Yohanes 3:18
=======================
"Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran."

Ada banyak masalah yang bisa menimbulkan masalah dalam hubungan antar pasangan. Salah satu yang tersering adalah kurangnya perhatian dari salah satunya. Banyak yang bercerita bahwa pasangan mereka pintar dalam berkata 'i love you', tetapi pada prakteknya mereka sangat cuek terhadap kebutuhan pasangannya. Saat para pria berpikir bahwa kata-kata cinta atau bahkan membelikan barang-barang berharga untuk wanita sudah cukup untuk menunjukkan kepedulian, seringkali wanita butuh sesuatu yang diluar itu, misalnya mendengar dan menyimak saat mereka menceritakan sesuatu, ada pada saat mereka butuh, mau turun tangan membantu untuk urusan-urusan rumah tangga, ikut mengurus anak yang masih kecil bersama-sama dan sebagainya. "Bilang cinta tapi tidak peduli keluhan atau kebutuhan istri, itu sama saja dengan gombal kan?" kata salah satu wanita muda yang hubungannya tampaknya punya masalah ini. Tentu tidak salah kalau kita mengungkapkan cinta lewat perkataan kepada pasangan kita, itu malah bagus dan indah. Tetapi satu hal yang pasti, real love needs real action. Kasih butuh sebuah tindakan nyata, sebuah perbuatan yang sifatnya aktif, bukan pasif. Masalah kasih yang butuh tindakan nyata bukan hanya melulu soal pasangan, tetapi juga dalam kaitannya dengan orang lain. Kita jelas perlu menjadi saluran kasih Bapa untuk menjangkau orang-orang disekitar kita, dan itu tidak akan pernah bisa terjadi kalau kita berhenti hanya sebatas omongan saja. Kita mengungkapkan rasa iba, rasa simpati, rasa iba, tapi tidak ada hal yang bisa kita lakukan bagi mereka. Ada tetangga kesusahan, kita hanya berkata kasihan tetapi tidak mengulurkan tangan untuk meringankan beban mereka. Hati yang tergerak merasa kasihan merupakan satu langkah awal yang baik, tapi itu akan sia-sia kalau tidak ditindaklanjuti dengan bergerak melakukan sesuatu.

Mengatakan kasih dan simpati lewat perkataan itu mudah. Tapi sebesar atau seserius apa kasih kita kepada seseorang biasanya justru akan terlihat dari sebesar apa kita mau berbuat sesuatu yang ril atau nyata buat mereka atau bahkan sejauh mana kita rela berkorban bagi mereka. Bagaimana orang yang kita kasihi itu bisa percaya kita benar mengasihi mereka kalau kita sama sekali tidak peduli terhadap keadaan mereka, walau kita terus membombardir mereka dengan kata-kata cinta? Bagaimana kita bisa mengaku peduli terhadap penderitaan orang kalau kita tidak pernah berusaha untuk meringankan beban mereka? Atau bagaimana mungkin kita mengaku mengasihi seseorang tapi kita biarkan mereka melakukan kesalahan, atau kita malah ikut-ikutan? Mengaku mengasihi tetapi sering menyakiti, mengaku sayang tapi selalu menghilang ketika dibutuhkan, itu sama sekali bukan bentuk kasih yang sebenarnya. Kasih membutuhkan lebih dari sekedar kata-kata. Kasih membutuhkan perbuatan, tindakan nyata, real action, dan tindakan-tindakan itu harus berada dalam koridor kebenaran. Itu idealnya, dan itulah yang dinyatakan oleh firman Tuhan.

Firman tersebut disampaikan Yohanes dalam pengajaran tentang kasih. "Anak-anakku, marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran." (ay 18). Sebuah kasih sejati bukanlah kasih yang hanya dinyatakan di bibir atau dengan lidah saja, tetapi harus direalisasikan dalam bentuk perbuatan nyata yang berada dalam kebenaran. He taught us to love not just in theory or in speech, but in deed and in truth, in practice and in sincerity. In other words, real love is not something merely in theory but needs real action. 

Sampai sejauh mana dan seserius apa? Lihat apa katanya sebelum ayat ini. "Demikianlah kita ketahui kasih Kristus, yaitu bahwa Ia telah menyerahkan nyawa-Nya untuk kita; jadi kitapun wajib menyerahkan nyawa kita untuk saudara-saudara kita. Barangsiapa mempunyai harta duniawi dan melihat saudaranya menderita kekurangan tetapi menutup pintu hatinya terhadap saudaranya itu, bagaimanakah kasih Allah dapat tetap di dalam dirinya?" (ay 16-17). Kalau menyerahkan nyawa terdengar terlalu berat, apakah kita sudah bisa membagikan apa yang kita miliki untuk membantu saudara-saudara kita yang tengah menderita kekurangan, atau kita masih berhenti hanya pada ucapan kasihan, atau yang lebih parah lagi, kita sama sekali tidak peduli terhadap mereka?

Hal ini menjadi sangat penting karena biar bagaimanapun kasih merupakan dasar dari kekristenan. Kasih dalam kekristenan tidak eksklusif, tidak berlaku hanya untuk segelintir orang atau kelompok, tapi harus bisa menyentuh seluas yang bisa kita raih, tanpa memandang perbedaan dan latar belakang. Alangkah sayangnya apabila di antara orang percaya masih menunjukkan sikap seperti cara orang yang tidak mengenal Kristus dalam mengasihi. Itu akan memberikan sebuah gambaran keliru dari bentuk kasih Kristus yang sebenarnya. Karena kasih yang menjadi dasar ini sifatnya luas, maka tindakan nyata pun menjadi sesuatu yang sangat penting untuk kita adopsi dalam menyatakan kasih. Kita tidak bisa mengaku memiliki kasih Allah kalau kita tidak peduli terhadap penderitaan orang lain, atau kalau hanya sekedar di bibir saja tetapi tidak pernah mewujudkannya dalam bentuk-bentuk nyata. '

(bersambung)

Thursday, June 26, 2014

Tergerak-Bergerak (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Sebuah persembahan yang benar pada hakekatnya lahir dari kerelaan untuk memberikan yang terbaik bagi Tuhan tanpa menonjolkan diri atau mengharap imbalan. Ada banyak orang yang memberi persembahan seolah seperti sogokan agar bisnis lancar, agar bisa berhasil, agar diberkati terutama secara finansial dan lain-lain. Mereka ini menganggap Tuhan seolah bank yang membuka deposito atau bahkan asuransi dengan premi tertentu. Makin besar yang diberi, makin besar pula yang diperoleh. Meski Tuhan bisa memberi kelimpahan dan kepenuhan, cara kerjanya bukanlah seperti itu. Kerelaan yang lahir dari kerinduan untuk memberi yang terbaik kepada Tuhan sebagai wujud ucapan syukur dan mengasihi Tuhan seharusnya tidak boleh terkontaminasi oleh kekeliruan-kekeliruan cara berpikir seperti itu. Dalam hal memberi kepada orang lain, banyak yang menjadikan itu sebagai sarana untuk memperoleh apa yang mereka inginkan. Ingin dilancarkan urusan, ingin naik pangkat, ingin menang dalam pemilihan untuk jadi pemimpin atau anggota dewan dan banyak motivasi keliru lainnya. Sebuah pemberian yang baik bukanlah pemberian yang punya motivasi terselubung atau agenda-agenda dibelakangnya, bhkan dikatakan bahwa kalau kita memberi, seharusnya itu kita lakukan diam-diam saja bukan harus dipublikasikan atau ditunjukkan ke orang lain untuk mendapatkan pujian.

Jangan lupa pula bahwa Firman Tuhan mengajarkan kita untuk tidak menahan-nahan kebaikan selagi kita sanggup atau bisa melakukannya. "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27). Saat banyak orang berpikir bahwa itu melulu soal memberi sedekah dalam bentuk materi, sesungguhnya kebaikan tidak selalu harus seperti itu. Ada banyak hal-hal yang sederhana dan kecil yang tidak kalah penting dan bisa sangat berarti baik bagi orang lain maupun bagi Tuhan. Tuhan sendiri tidak mementingkan besar kecilnya, melainkan ketulusan dan keikhlasan kita dalam memberi, sebab "Bukan yang dilihat manusia yang dilihat Allah; manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi TUHAN melihat hati." (1 Samuel 16:7). Hanya berhenti pada rasa iba, tidak berbuat apa-apa meski sebenarnya hati kita sudah diketuk dan tergerak untuk melakukan sesuatu.

Kita tidak perlu berpikir terlalu jauh untuk memberi yang besar kalau memang belum mampu, tapi kita harus melihat apa yang bisa kita berikan terlebih saat hati kita sudah tergerak. kita hanya diminta untuk memberi sesuai kemampuan kita. Jika hati sudah tergerak, bergeraklah segera dengan melakukan perbuatan nyata sesuai kesanggupan kita. Baik dalam hal persembahan maupun pemberian/sumbangan kepada sesama baik materi maupun tenaga, pikiran, keahlian dan sebagainya, selama itu kita lakukan dengan tulus dan ikhlas yang didasari oleh kasih kita kepada Tuhan, semua itu akan sangat besar nilainya bagi Tuhan. Apakah hati anda tergerak akan sesuatu hari ini? Apakah itu mengenai rasa iba atau kasihan terhadap seseorang, tergerak untuk berhenti dari kebiasaan-kebiasaan buruk dan sebagainya, jangan tahan, jangan tunda. Saat Tuhan sudah mengetuk hati anda, jawablah segera dengan sebentuk tindakan nyata yang pasti membawa dampak positif baik bagi orang lain maupun buat anda sendiri.

Kalau hati sudah 'tergerak', lanjutkan segera dengan 'bergerak'

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, June 25, 2014

Tergerak-Bergerak (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Keluaran 35:21-22
=====================
"Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan dan untuk segala ibadah di dalamnya dan untuk pakaian kudus itu. Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan unjukan dari emas bagi TUHAN."

Beberapa waktu lalu ada sekumpulan anak muda berjalan bergerombol tidak jauh dari tempat saya duduk. Mereka berpapasan dengan seorang bapak penjual koran yang badannya bungkuk dan usianya sudah sangat tua. Si bapak tua berjalan sangat pelan sambil menawarkan koran kepada setiap orang yang ia lewati. Anak-anak muda ini tampaknya merasa kasihan melihat bapak ini karena saya mendengar kata-kata seperti "aduh, kasihan", "sudah tua tapi masih harus kerja" dan sebagainya. Sebagian dari mereka pun terlihat memandang si bapak dengan tatapan iba. Tapi satu dari mereka kemudian berjalan menghampiri si bapak. Ia membeli korannya dan tidak mau menerima kembalian. "Sudah pak, sisanya ambil saja buat bapak." katanya sambil tersenyum. Si bapak penjual koran terlihat senang. Ia mengangkat uang ke dahinya seraya mengucapkan terima kasih kemudian kembali menjajakan koran kepada orang yang ada disana.

Apa yang saya lihat ini membuat saya berpikir tentang perbedaan antara sekedar iba atau kasihan dan sebuah tindakan nyata, atau antara 'tergerak' dan 'bergerak'. Awalan 'ter' pada kata 'gerak' menunjukkan sebuah bentuk kata kerja yang pasif, sedang 'ber' membuat kata tersebut menjadi bentuk aktif. Ambil satu contoh sederhana saja. Seandainya anda berperan sebagai seorang kiper. Hati anda tergerak untuk melompat ke kiri menghalau bola yang menghujam ke gawang anda, tetapi anda tidak melakukan apa-apa. Diam di tempat, berdiri tak bergerak tanpa melakukan sesuatu, apakah itu akan berguna? Yang ada gawang anda akan terus dibobol tanpa ampun. Seperti itulah kira-kira apabila kita hanya diam meski hati nurani sudah diketuk. Betapa seringnya kita merasa iba terhadap kesusahan yang diderita orang lain tapi berhenti sebatas itu saja. Dengan kata lain, banyak yang tergerak tapi sedikit yang bergerak, melanjutkan rasa tergerak yang timbul di hati untuk bergerak melakukan bentuk tindakan nyata. Dari ilustrasi di atas kita bisa melihat hal tersebut dengan sangat jelas. Betapa seringnya hal ini terjadi dalam hidup kita. Ada yang tergerak untuk berhenti berbuat dosa dan bertobat, tapi tidak kunjung bergerak melakukan tindakan-tindakan pertobatan. Ada yang tergerak untuk mengampuni, tapi tidak bergerak untuk memberi pengampunan. Ada yang tergerak menolong orang kesusahan, tapi tidak bergerak mengulurkan tangan. Tergerak tanpa bergerak, berhenti hanya pada wacana atau omongan saja. 'Tergerak' merupakan awal yang baik, tapi tanpa dilanjutkan dengan 'bergerak' maka itu tidak akan membawa dampak apa-apa ke arah yang lebih baik.

Ada contoh menarik yang bisa kita lihat pada jaman Musa seperti yang dicatat dalam kitab Keluaran pasal 35. Disana ada sebuah perikop yang menceritakan saat Musa menyampaikan perintah Tuhan agar jemaah Israel yang ia pimpin turut serta untuk mendirikan Kemah Suci dengan memberikan persembahan khusus (ayat 4 sampai 29). Tuhan menyuruh Musa meminta jemaah untuk memberikan persembahan khusus yang berasal dari barang kepunyaan mereka sendiri. Mereka melakukan itu dengan didasari oleh dorongan atau gerakan yang timbul dalam hati mereka. "Ambillah bagi TUHAN persembahan khusus dari barang kepunyaanmu; setiap orang yang terdorong hatinya harus membawanya sebagai persembahan khusus kepada TUHAN..." (ay 5). Berbagai jenis kain, kulit, kayu, logam mulia, minyak untuk lampu, minyak urapan, minyak ukupan wangi, permata sampai menyumbang sesuatu yang non materil seperti keahlian, semua itu diperlukan agar Kemah Suci sebagai tempat kebaktian mereka. Perhatikan bahwa dalam ayat 5 ini secara spesifik Tuhan mengatakan agar mereka memberi berdasarkan dorongan hati, alias saat hati mereka tergerak. Bukan karena terpaksa atau paksaan apalagi ancaman, tapi dari dorongan hati. Artinya saat hati tergerak, mereka hendaknya melanjutkan kepada langkah selanjutnya, yaitu bergerak melakukan tindakan nyata, memberi persembahan khusus dan tidak diam saja tanpa melakukan apapun. Hati bisa tergerak, tapi keputusan kita masing-masing akan menentukan apakah kita akan melakukan langkah berikutnya yaitu melakukan sesuatu yang nyata berdasarkan dorongan hati atau membiarkan saja tanpa ada aksi sedikitpun. Singkatnya, Tuhan sudah menyebutkan apa yang Dia mau, Dia sudah menyentuh hati kita agar tergerak, tapi kemudian diperlukan tindakan atau gerakan nyata dari kita untuk menjawab keinginan Tuhan tersebut.

Bagaimana reaksi orang-orang Israel waktu itu setelah mendengar perintah Tuhan yang disampaikan lewat Musa? Mereka segera bergegas pulang dan melakukan tepat seperti apa yang mereka dengar dari Musa. "Sesudah itu datanglah setiap orang yang tergerak hatinya, setiap orang yang terdorong jiwanya, membawa persembahan khusus kepada TUHAN untuk pekerjaan melengkapi Kemah Pertemuan dan untuk segala ibadah di dalamnya dan untuk pakaian kudus itu. Maka datanglah mereka, baik laki-laki maupun perempuan, setiap orang yang terdorong hatinya, dengan membawa anting-anting hidung, anting-anting telinga, cincin meterai dan kerongsang, segala macam barang emas; demikian juga setiap orang yang mempersembahkan persembahan unjukan dari emas bagi TUHAN." (ay 21-22). Ayat-ayat selanjutnya melanjutkan apa saja jenis persembahan khusus yang mereka serahkan sebagai respon perintah Tuhan tersebut. "Semua laki-laki dan perempuan, yang terdorong hatinya akan membawa sesuatu untuk segala pekerjaan yang diperintahkan TUHAN dengan perantaraan Musa untuk dilakukan--mereka itu, yakni orang Israel, membawanya sebagai pemberian sukarela bagi TUHAN." (ay 29).

(bersambung)

Tuesday, June 24, 2014

Time Management (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kita bisa pula belajar dari Yesus sendiri. Tidak hanya satuan, puluhan atau ratusan, dalam waktu-waktu tertentu Yesus harus siap menangani ribuan orang sekaligus. Sebuah pekerjaan yang tidak gampang harus Dia lakukan untuk menggenapi kehendak BapaNya hanya dalam rentang waktu yang terbilang sangat singkat, 3 setengah tahun saja. Besarnya belas kasih yang Dia miliki membuatNya harus merespon begitu banyak orang secara personal. Yesus bukan membuka kelas dan menunggu hingga jumlahnya banyak baru mulai mengajar menyampaikan kebenaran, kalau ada satu orang ia pun tidak menolak. Ia bahkan masih berkenan menerima orang yang datang sampai larut malam seperti yang bisa kita lihat dari kisah Nikodemus dalam Yohanes 3:1-21. Semua ia lakukan tanpa mengorbankan waktu untuk bersama Bapa. Kita tahu Yesus tidak meninggalkan itu meski sangat sibuk seperti yang dicatat beberapa kali dalam Alkitab. Pada pagi hari, "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." (Markus 1:35), atau dalam kesempatan lain di malam hari: "Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ." (Matius 14:23). Apabila Yesus tidak pintar-pintar memanajemen waktu, Dia tidak akan sanggup menjalani itu karena biar bagaimanapun Dia hadir ke dunia mengambil rupa sebagai Anak Manusia, yang sama seperti kita. Yesus memberi contoh kepada kita betapa pentingnya untuk menikmati waktu-waktu bersekutu dengan Bapa tanpa harus terganggu oleh hiruk pikuk atau hal-hal lain yang bisa memecah konsentrasi. Dia mencontohkan langsung bagaimana pentingnya membagi waktu. Ada waktu untuk bekerja, ada waktu untuk melayani, ada waktu untuk beristirahat, ada pula waktu untuk mendengar suara Tuhan. Keseimbangan dengan penetapan prioritas yang benar sangatlah penting untuk diperhatikan.

Berulang kali Alkitab mengingatkan kita akan pentingnya mempergunakan waktu dengan baik. Seperti yang sudah saya bagikan kemarin, salah satu bagian doa Musa berbunyi: "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12). Musa berdoa meminta Tuhan memberi hikmat agar kita bisa menghitung dan mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Mengapa? Karena sesungguhnya hidup ini singkat. "So, teach us to number our days", he said, "that we may get us a heart of wisdom." Kita sering lupa akan hal ini saat tengah sibuk bekerja, atau ada pula yang tidak peduli karena hanya ingin bersantai-santai dan bermalas-malasan membuang waktu secara percuma. Demikian pula kita bisa menangkap pesan yang sama lewat pesan Paulus. Dalam Kolose 4:5 disebutkan "...pergunakanlah waktu yang ada." Secara kontekstual pesan ini ditujukan Paulus agar kita tidak menyia-nyiakan waktu dalam menjangkau orang-orang luar, atau orang-orang yang belum percaya, tetapi secara umum pun pesan ini sesungguhnya layak untuk kita renungkan dari segi pemanfaatan waktu. Apalagi kita terus menghadapi hari-hari yang semakin jahat, seperti bunyi pesan Paulus selanjutnya dalam surat lain. "dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat." (Efesus 5:16). Ia mengatakan bahwa orang yang mempergunakan waktu dengan sebaik-baiknya, atau dengan kata lain orang yang pintar memanajemen waktu akan menunjukkan watak yang bijak atau arif, sebaliknya jika tidak maka itu dikatakan sebagai orang bebal. (ay 15).

Waktu bagi setiap orang durasinya sama-sama 24 jam, tetapi ada orang yang berhasil mempergunakannya secara maksimal, ada pula yang menyia-nyiakannya. Ada yang berhasil memanfaatkannya demi kebaikan, ada yang malah memakainya untuk hal sia-sia atau bahkan merugikan. Ada yang sukses berjalan dalam rentang waktu itu, ada juga yang gagal. Apa yang seringkali berpengaruh antara sukses dan gagal ini adalah sejauh mana kita pintar memanajemen waktu yang ada dengan baik. Ada banyak faktor yang bisa berperan terhadap manajemen waktu ini seperti salah satunya sikap kita dalam menyikapi pentingnya mengatur waktu dengan baik. Mental yang buruk akan selalu menyalahkan waktu dan kambing hitam lainnya saat tidak berbuah. Sikap yang buruk akan selalu suka menunda-nunda pekerjaan. Sikap mental yang baik adalah sikap yang menyadari pentingnya menyadari dan mengatur waktu dengan baik, menetapkan skala prioritas secara benar dan memanfaatkan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya, demi kebaikan. Waktu berlalu dengan kecepatan yang sama, jumlah yang diberikan pun sama bagi setiap orang dari dulu, sekarang dan sampai akhir dunia ini berputar.

Daripada sibuk meminta waktu lebih lagi, daripada berkeluh kesah waktu terlalu sedikit, alangkah baiknya apabila kita memikirkan bagaimana agar kita bisa mempergunakan waktu secara maksimal dengan perencanaan yang baik dan seimbang. Manajemen waktu sangatlah penting. Kita harus mempertimbangkan secara matang, menyusun perencanaan dengan baik, mengatur jadwal sehari-hari agar seluruh pekerjaan yang kita lakukan bisa berjalan dengan baik dan seimbang dalam koridor waktu atau "time frame" yang berlaku sama bagi semua orang. Masing-masing dari kita tentu tahu apa yang harus kita lakukan dan bagaimana metode yang terbaik untuk memanajemen waktu ini. Setidaknya mindset kita diarahkan untuk menyadari bahwa manajemen waktu adalah sesuatu yang sangat penting untuk diperhatikan. Agar semua bisa sukses, aturlah pembagian waktunya sebaik mungkin. Apa yang saya tulis ini juga berlaku bagi saya sendiri, karena ada kalanya saya masih kelabakan dalam membagi waktu saat kesibukan sedang padat-padatnya. Bagi anda yang masih merasakan kesulitan yang sama, mari kita sama-sama belajar untuk memanajemen waktu secara lebih baik.

Bukan rentang dan kecepatan waktunya yang salah, tetapi pengaturan waktunya yang harus dibenahi

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, June 23, 2014

Time Management (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
 Ayat bacaan: Kolose 4:5
==================
"...pergunakanlah waktu yang ada."

Seorang ayah memiliki beberapa orang anak dan memodali mereka supaya bisa mulai berusaha demi masa depan mereka. Semua anaknya diberi modal berjumlah sama, kesempatan mereka pun sama. Selang beberapa waktu hasilnya pun terlihat. Ada yang sukses dengan usahanya, ada yang hanya masih jalan di tempat, ada yang hanya mendeposito tanpa melakukan apa-apa, ada yang malah sudah keburu habis sebelum dipakai sebagai modal usaha. Uangnya boleh sama, kesempatannya sama, mulainya sama, tapi hasil akhirnya bisa berbeda.

Saya memulai ilustrasi sederhana diatas untuk menggambarkan sebuah modal yang juga diberikan Tuhan kepada setiap orang tanpa terkecuali dengan ukuran yang sama, yaitu WAKTU. Semua orang di muka bumi ini punya panjang waktu yang sama yaitu 24 jam per-hari. Itu adalah modal yang sebenarnya luar biasa harganya tapi jarang kita perhatikan. Coba bayangkan seandainya waktu anda dikatakan habis saat ini, atau jika waktu-waktu yang bisa dipakai sebagai kesempatan untuk berusaha, untuk memperbaiki diri supaya lebih baik, untuk membangun sesuatu dan sebagainya tiba-tiba dicabut dari anda. Tak peduli seberapa pandai, kaya atau hebat maka itu semua tidak akan bisa dipergunakan tanpa adanya waktu.

Banyak orang yang sering mengeluh bahwa waktu itu terlalu singkat, tidak cukup. Mungkin kita pun sekali waktu pernah mengatakan atau minimal berpikir seperti itu. Seandainya kita punya bukan hanya 24 jam tapi 48 jam sehari, dengan energi yang dua kali lipat pula, kita mengira bahwa kita akan bisa lebih maksimal, lebih baik, lebih sukses dan seterusnya. Ada banyak orang yang terus bergadang mengorbankan waktu-waktu untuk beristirahat, terus memacu dirinya untuk bekerja tanpa henti, seperti mesin yang terus hidup menyala tanpa pernah mati, tanpa pernah mendapat perawatan. Tapi percayalah bahwa kalaupun waktu diperpanjang 2 kali lipat, tetap saja waktu itu tidak akan pernah cukup. Ada yang menyalahkan waktu, tapi dengan durasi yang sama ada banyak pula orang yang bisa sukses baik dalam bekerja, dalam keluarga, punya waktu istirahat cukup, berolahraga, untuk bersosialisasi bahkan untuk melayani Tuhan. Bagaimana mungkin mereka bisa melakukan semuanya dengan baik kalau waktunya bagi sebagian orang dinilai tidak cukup? Seringkali akar pemasalahannya ada pada kealpaan kita dalam melakukan manajemen waktu.

Tidak semua orang bisa memanfaatkan waktu dengan baik. Tidak semua orang mau berpikir untuk memanfaatkan itu demi kebaikan, baik bagi diri sendiri maupun untuk orang lain. Time management alias manajemen/pengaturan waktu adalah sesuatu yang sangat penting yang ironisnya seringkali kita abaikan. Banyak orang yang bermalas-malasan selagi masih ada waktu lalu kalang kabut ketika deadline atau batas waktu tiba. Ini contoh yang paling sering terjadi jika kita menyepelekan manajemen waktu. Atau ada pula yang menebar janji ke mana-mana tanpa memperhitungkan aspek waktu dan kesanggupan lalu akibatnya menjadi kelabakan sendiri. Terlalu sibuk bekerja seharian dan mengabaikan waktu bersama keluarga, istri dan anak-anak, mengabaikan waktu beristirahat dan berolahraga. Akibatnya bisa sangat fatal dan pada akhirnya semua jadi sia-sia. Ini semua bisa menjadi dampak dari ketidakpedulian kita akan manajemen waktu.

Mengenai manajemen waktu kita bisa belajar dari salah satu tokoh luar biasa dalam penyebaran berita Kerajaan bagi orang-orang non Yahudi, terutama dalam menjangkau regional Asia Besar yaitu Paulus. Kebanyakan dari kita hanya mengetahui bahwa Paulus sepenuhnya bertugas hanya untuk mewartakan kabar keselamatan kemana-mana. Padahal Alkitab menyatakan bahwa Paulus punya pekerjaan atau profesi juga yang bisa kita baca dalam Kisah Para Rasul 18:2-3. "Di Korintus ia berjumpa dengan seorang Yahudi bernama Akwila, yang berasal dari Pontus. Ia baru datang dari Italia dengan Priskila, isterinya, karena kaisar Klaudius telah memerintahkan, supaya semua orang Yahudi meninggalkan Roma. Paulus singgah ke rumah mereka. Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah." Paulus ternyata punya pekerjaan sebagai pembuat kemah. Kalau kita melihat bagaimana kesibukan Paulus dalam pelayanan termasuk berbagai resiko-resiko besar yang harus ia hadapi, rasanya Paulus berhak untuk diberi kelonggaran untuk tidak lagi perlu bekerja. Jadi full-timer saja, toh tugasnya sudah sangat berat. Tetapi lihatlah bahwa Paulus sama sekali tidak meminta hak khusus untuk tidak bekerja, meski waktu dan fisiknya sudah terkuras habis untuk terus berjalan membawa kabar keselamatan dari satu tempat menuju tempat yang lain. Ia perlu mencari uang untuk membiayai pelayanannya. "Kamu sendiri tahu, bahwa dengan tanganku sendiri aku telah bekerja untuk memenuhi keperluanku dan keperluan kawan-kawan seperjalananku." (20:34). Ia sudah melayani habis-habisan, tetapi ia masih juga harus bekerja untuk membiayai dirinya dan perjalanannya beserta teman-teman sepelayanan. Hebatnya lagi ia masih juga berpikir untuk memberi kepada orang lain secara meteri. "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (ay 35). Tidak ada ayat yang menyebutkan bagaimana cara Paulus bisa membagi waktu dan melakukan semua itu dengan sukses, dimana dampaknya masih kita rasakan hingga hari ini. Tetapi dengan melihat hasilnya, jelas Paulus pintar dalam memanajemen waktu.

(bersambung)

Sunday, June 22, 2014

Perfeksionis 'Mentok'

webmaster | 8:00:00 AM | 1 Comment so far
Ayat bacaan: Keluaran 18:18
=======================
"Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja."

Menjadi seorang perfeksionis tidaklah mudah. Hasil terbaik memang bisa diharapkan, soal keseriusan jangan ditanya lagi. Tapi sisi buruknya, manajemen waktu dari orang-orang perfeksionis benar-benar harus mendapat perhatian khusus kalau tidak mau semuanya menjadi berantakan, atau malah bisa beresiko membuat orangnya mengalami gangguan kesehatan karena terlalu memforsir tenaga. Orang yang perfeksionis cenderung mau mengerjakan semuanya sendirian karena sulit mempercayakan tugas kepada orang lain. Kalaupun punya bawahan, semua harus diperiksa secara teliti satu persatu supaya sempurna. Banyak karyawan yang mengeluh kalau kebetulan punya pimpinan perfeksionis karena itu artinya mereka harus bekerja ekstra, baik ekstra serius, ekstra jam alias lembur, sering pula harus bisa dihubungi kapan saja dan siap melakukan revisi, koreksi atau perubahan ini dan itu sesuai keinginan si bos perfeksionis. Jika anda termasuk orang yang punya sifat seperti itu, maka anda tentu tahu bagaimana sulitnya mengatur waktu agar semua berjalan sesuai ekspektasi. Waktu 24 jam akan terasa sangat kurang karena semua sepertinya harus dikerjakan sendiri. Kalau diserahkan kepada orang lain rasanya sulit, karena belum tentu mereka bisa melakukannya sebaik kita. Kelabakan, harus mengorbankan banyak waktu seperti waktu beristirahat, waktu untuk keluarga atau kalau perlu, waktu berdoa, saat teduh dan waktu beribadah. Saya dulu termasuk satu diantaranya dan sampai hari ini masih terkadang bergumul dengan kondisi tersebut. Saya sering bertanya, bagaimana mungkin ada orang-orang yang sanggup mengerjakan jumlah kegiatan yang jauh lebih banyak dari saya tapi masih punya waktu untuk hal-hal lain yang sebenarnya tidak kalah penting dalam hidup? Apa rahasia mereka sehingga bisa bekerja di beberapa bidang sekaligus, membagi waktu untuk keluarga, berolahraga atau bahkan masih punya waktu untuk melayani? Dari sekian banyak orang seperti itu yang saya tanya, rata-rata memberi jawaban yang sama, yaitu kemampuan kita membagi waktu alias manajemen waktu, penetapan prioritas yang baik dan pendelegasian. Tiga hal ini sulit dimiliki oleh orang yang perfeksionis, tapi sangatlah penting sebelum kondisi tersebut memakan kesehatan kita dan merusak kehidupan kita. Merusak? Ya, merusak. Pekerjaan baik, hasil maksimal, tapi keluarga berantakan, waktu untuk menjaga kondisi tubuh agar tetap fit dikorbankan, waktu untuk bersosialisasi terpangkas sehingga sulit punya teman, terlebih hubungan dengan Sang Pencipta akan renggang atau bahkan terputus sama sekali. Itu terjadi karena semuanya kalah prioritas, tidak ter-manage dan kebiasaan untuk memilih mengerjakan semuanya sendirian ketimbang membaginya kepada orang lain. Nasihat inilah yang pernah saya terima. "Anda harus belajar percaya kepada pekerjaan orang lain. Mungkin tidak persis seperti yang anda harapkan, tapi belum tentu hasilnya lebih buruk." Seperti itulah kira-kira katanya yang masih saya ingat sampai hari ini. Mendelegasikan. Melihat mana yang bisa diwakilkan dan mana yang benar-benar harus dilakukan sendiri. Mana yang menjadi prioritas dan seperti apa manajemen yang terbaik. Itu merupakan hal-hal yang penting untuk dicermati terlebih bagi kita yang sangat sibuk.

Menariknya, kita bisa belajar tentang hal ini dari Musa dan mertuanya, Yitro. Kita tahu bahwa Musa dipilih Allah secara langsung untuk sebuah tugas besar yang sangat berat, yaitu membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir dan ditunjuk untuk menuntun mereka mencapai tanah terjanji yang telah dijanjikan Tuhan kepada Abraham. Bukan satu-dua orang yang harus ia tuntun tapi jumlahnya sangat besar, dan bukan pula sekumpulan orang yang tunduk dan taat, tapi pembangkang, tidak sabaran dan keras kepala. Itu sama sekali tidak mudah. Dalam prakteknya Musa kerap menjadi penyambung lidah Tuhan untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk Tuhan kepada seluruh orang Israel yang ia pimpin dalam perjalanan yang menempuh rentang waktu sangat lama. Mengingat job desk yang berat itu, tampaknya Musa terlalu fokus menjiwai tugasnya sehingga ia langsung terjun mengurus segalanya sendirian. Apa-apa ia yang harus turun tangan langsung, menangani perselisihan, pertikaian, pertengkaran dan sebagainya. Jumlah orang yang banyak dengan sifat umum keras kepala, kita sudah bisa memastikan bahwa masalah akan sangat sering muncul disana dan sangat banyak pula ragam dan jumlahnya. Musa pun turun tangan langsung menyelesaikan sendiri satu persatu, all by himself. Itu jelas disebutkan dalam ayat berikut:  "Keesokan harinya duduklah Musa mengadili di antara bangsa itu; dan bangsa itu berdiri di depan Musa, dari pagi sampai petang." (Keluaran 18:13). Musa bertindak sendirian menjadi hakim mengatasi perselisihan yang terjadi di antara sesama orang Israel yang memang hobi berseteru dan ribut tanpa ada habisnya. Kapan selesainya kalau seperti itu terus? Kalau kita yang menjalani, kita bisa stres, darah tinggi dan mati muda.

Mertua Musa, Yitro memperhatikan hal tersebut dan prihatin melihat menantunya. Meski ia tahu bahwa apa yang dilakukan Musa itu merupakan hal yang baik, tapi itu tidaklah efektif. Dia pun menanyakan "Apakah ini yang kaulakukan kepada bangsa itu? Mengapakah engkau seorang diri saja yang duduk, sedang seluruh bangsa itu berdiri di depanmu dari pagi sampai petang?" (ay 14). Musa menjelaskan bahwa sebagai yang ditunjuk Tuhan, ia harus memberitahukan ketetapan dan keputusan Allah kepada masing-masing orang. Benar, tapi bukan begitu juga caranya. Itulah kira-kira yang disampaikan Yitro. Katanya: "Engkau akan menjadi sangat lelah, baik engkau baik bangsa yang beserta engkau ini; sebab pekerjaan ini terlalu berat bagimu, takkan sanggup engkau melakukannya seorang diri saja." (ay 18). Yitro mengatakan bahwa bekerja sendirian seperti itu dalam mengelola masalah bangsa Israel yang begitu banyak adalah tidak baik. (ay 17). Lalu Yitro pun memberi masukan kepada Musa, memberi usulan agar Musa bisa memakai strategi yang lebih baik, menyusun struktur kepemimpinan yang akan bisa membantu Musa dalam menyelesaikan setiap permasalahan secara lebih cepat, efektif dan efisien. "Di samping itu kaucarilah dari seluruh bangsa itu orang-orang yang cakap dan takut akan Allah, orang-orang yang dapat dipercaya, dan yang benci kepada pengejaran suap; tempatkanlah mereka di antara bangsa itu menjadi pemimpin seribu orang, pemimpin seratus orang, pemimpin lima puluh orang dan pemimpin sepuluh orang. Dan sewaktu-waktu mereka harus mengadili di antara bangsa; maka segala perkara yang besar haruslah dihadapkan mereka kepadamu, tetapi segala perkara yang kecil diadili mereka sendiri; dengan demikian mereka meringankan pekerjaanmu, dan mereka bersama-sama dengan engkau turut menanggungnya." (ay 21-22). Yitro memberi usulan yang sangat baik agar Musa membentuk kelompok-kelompok yang bertingkat dengan pemimpin masing-masing. Itu tentu akan jauh lebih mempermudah Musa dalam menjalankan perintah Tuhan. Inilah  gambaran struktur kepemimpinan terawal yang dicatat dalam Alkitab. Untunglah Musa merupakan pribadi yang rendah hati dan mau menerima masukan. Ia tidak menolak dan mendengarkan nasihat mertuanya. "Musa mendengarkan perkataan mertuanya itu dan dilakukannyalah segala yang dikatakannya." (ay 24). Yitro pun bisa melihat langsung bagaimana menantunya memperbaiki sistem pelayanannya dengan melibatkan orang-orang yang cakap sebagai rekan sekerja sebelum ia pulang kembali ke negerinya. (ay 27).

Yang juga menarik, dalam salah satu doa Musa di kemudian hari ia meminta Tuhan memberi hikmat kepadanya untuk mampu menghitung hari-hari. "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." (Mazmur 90:12) Musa menyadari pentingnya meminta hikmat agar ia bisa membagi dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Musa belajar dari mertuanya dan menjadi lebih baik dengan pendelegasian, manajemen waktu (menghitung hari) dan penetapan skala prioritas dengan struktur yang baik. Kita pun tentu bisa belajar dari sana. Apa yang penting adalah menyadari terlebih dahulu bahwa kita tidak akan sanggup mengerjakan semuanya sendirian. Kita perlu menyiasati banyak hal agar bisa memanfaatkan waktu secara optimal. Mungkin tidak mudah, tetapi itu harus kita lakukan agar hasil yang diperoleh bisa lebih baik lagi dalam banyak hal dan kita tidak harus mengorbankan banyak hal yang justru akan merugikan diri dan masa depan kita. Paulus juga sudah mengingatkan kita untuk mempergunakan waktu yang ada sebaik-baiknya, karena sesungguhnya hari-hari yang kita lalui ini adalah jahat. (Efesus 5:16). Kemampuan memanajemen waktu akan sangat berkaitan erat dengan kemampuan kita mendelegasikan tugas-tugas. Kita tidak akan bisa menyelesaikan semuanya sendirian, dan disaat yang sama meluangkan waktu yang cukup untuk keluarga dan untuk Tuhan. Kalau begitu caranya, mau 100 jam sehari pun tidak akan pernah cukup. Hitung kemampuan anda, mana yang bisa anda lakukan, mana yang bisa diwakilkan. Atur skala prioritas dengan benar dan pastikan tidak tumpang tindih atau acak-acakan. Tanpa itu kita tidak akan bisa mengalami peningkatan. Waktu memang terbatas, tapi bukan berarti tidak cukup. Kita terbatas, tetapi bukan berarti kita harus jalan di tempat. Bersama Tuhan, milikilah hikmat untuk bisa menyusun jadwal perencanaan yang baik dan belajarlah untuk mempercayakan sebagian dari beban-beban anda kepada orang lain. Dalam banyak hal, itu justru akan mendatangkan manfaat bagi orang lain karena mereka bisa belajar dan bertumbuh untuk lebih baik pula. Tidaklah salah untuk memberi hasil terbaik, itu malah sebuah keharusan. Tapi bukan berarti untuk itu kita harus menjadi perfeksionis 'mentok' tanpa kompromi. Itu justru merugikan pada akhirnya. Apakah anda termasuk orang yang hari ini sedang kelabakan dengan tugas-tugas karena merasa harus mengerjakan semuanya sendirian dan melihat bahwa ada banyak hal lain diluar pekerjaan yang terbengkalai atau retak sana sini? Perbaiki segera sebelum terlambat.

Kemampuan mendelegasikan termasuk strategi terbaik dalam manajemen waktu

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, June 21, 2014

Mewaspadai Keangkuhan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Contoh lainnya bisa kita pelajari dari apa yang terjadi pada raja Nebukadnezar dalam kitab Daniel. Keangkuhan yang membuat Nebukanedzar meninggikan diri diganjar Tuhan dengan membuat dirinya menjadi seperti lembu hingga tujuh masa. (Daniel 4:1-37).

Keangkuhan sangatlah berlawanan dengan kerendahan hati yang menjadi ciri khas kekristenan sebenarnya. Dalam Amsal dikatakan "Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat." (Amsal 8:13). Takut akan Tuhan sudah seharusnya membuat orang-orang yang menjalankannya membenci segala jenis kejahatan termasuk dosa-dosa kesombongan atau kecongkakan, berbagai perilaku jahat dan kebohongan atau tipu muslihat.

Tuhan sangat menentang keangkuhan. "Tetapi kasih karunia, yang dianugerahkan-Nya kepada kita, lebih besar dari pada itu. Karena itu Ia katakan: "Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati." (Yakobus 4:6) Ketinggian hati akibat keangkuhan membuat orang menolak bergantung pada Allah dan memberikan kepada diri sendiri kehormatan yang seharusnya diberikan pada Tuhan. Seperti halnya keinginan daging dan keinginan mata, perkara keangkuhan pun dapat membuat kita tersandung dalam perjalanan hidup kita untuk menerima keselamatan, sebuah anugerah yang sangat besar yang sudah Dia berikan kepada kita. Ada banyak dosa mengintip dari kesombongan. Seringkali kita lupa menyadari hal ini dan menganggap bahwa sikap sombong itu tidaklah serius. Mungkin kita tidak mencuri, tidak membunuh, tapi sesungguhnya sikap sombong pun sama-sama berbahaya dan bisa berakibat fatal bagi masa depan kita.

Kita harus terus meneladani perilaku Kristus yang melayani siapapun dengan penuh kasih. Dalam kasih tidak akan pernah ada tempat bagi keangkuhan. Lihatlah firman Tuhan berikut: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong." (1 korintus 13:4). Ketika kita mendapat limpahan berkat baik dari segi kemakmuran, ketrampilan maupun talenta, bersyukurlah pada Tuhan dan pakailah itu untuk memberkati sesama. Jangan pernah lupa sebuah anjuran penting dalam menyikapi kesuksesan atau segala kebaikan yang tengah ada dalam hidup kita. "Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh!" (1 Korintus 10:12). Ingat pula ayat berikut ini: "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan." (Amsal 16:18). Lihatlah sudah berapa banyak contoh atau bukti yang kita lihat dari kejatuhan orang-orang sukses di bidangnya masing-masing yang justru diawali dari ketidakmampuan mengendalikan diri. Tentu bukan berarti kita tidak boleh senang atas pencapaian-pencapaian kita hari ini. Disatu sisi rendah diri pun tidaklah baik, tapi jangan pakai kesuksesan, keberhasilan, keahlian dan kebaikan-kebaikan lainnya untuk menyombongkan diri, menghargai diri secara berlebihan melainkan muliakan Tuhan kembali dengan semua itu dengan penuh rasa syukur. Hindari sikap sombong dalam keadaan apapun, apapun alasannya. Awasi baik-baik hati kita, periksa terus secara rutin agar jangan sampai ada benih-benih kesombongan yang tersembunyi hidup di dalamnya.

Seperti ilmu padi, semakin berisi semakin merunduk, demikianlah kita harus tetap rendah diri dan menghindari keangkuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, June 20, 2014

Mewaspadai Keangkuhan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 8:13
=======================
"Takut akan TUHAN ialah membenci kejahatan; aku benci kepada kesombongan, kecongkakan, tingkah laku yang jahat, dan mulut penuh tipu muslihat."

"Sombong? Ke laut aja." Demikian bunyi status seorang teman di jejaring sosial. Ia mungkin tengah merasa kesal berhadapan dengan orang yang menunjukkan perilaku sombong terhadapnya sehingga bentuk kekesalannya ia ekspresikan dengan menuliskan kalimat itu disana. Tidak ada satupun dari kita rasanya suka dengan orang-orang sombong, tapi mereka akan selalu ada di sekitar kita. Setiap saat kita mungkin saja bertemu dengan orang bertipe seperti ini, atau jangan-jangan sadar atau tidak kita pun berpotensi menunjukkan sikap yang sama. Sikap sombong muncul saat orang menghargai diri secara berlebihan alias memandang diri lebih dari orang lain. Orang biasanya menjadi sombong kalau memiliki sesuatu yang rasanya lebih dari kebanyakan orang. Bisa harta kepemilikan, bisa keahlian, relasi dan sebagainya, bahkan ironisnya bisa pula karena merasa sudah rajin beribadah, melayani atau beramal. Yang juga sering terjadi, kesombongan bisa sangat cepat muncul ketika terjadi perubahan status menjadi lebih makmur, lebih sukses dan sebagainya dalam waktu yang terlalu singkat, waktu keberhasilan tidak diimbangi dengan kesiapan mental dan spiritual dalam menerimanya. Sombong, angkuh, congkak, pongah dan padanan-padanan kata lainnya semuanya mengarah pada pengertian yang sama, yaitu menghargai diri secara berlebih-lebihan dan memandang orang lain lebih rendah dari diri sendiri.

Pada kenyataannya, kesombongan tidak harus selalu berbanding lurus dengan kesuksesan, kekayaan atau keberhasilan tapi lebih kepada masalah kepribadian. Saya sudah bertemu banyak orang sukses, populer, terkenal atau bahkan melegenda dalam bidang mereka masing-masing, tetapi mereka masih bisa menunjukkan sikap rendah hati, bersahabat dan ramah ketika bertemu. Tahun lalu saya mendapat kesempatan mewawancarai seorang musisi legendaris dunia yang sudah bermusik sejak tahun 50an dan menciptakan banyak trend seiring perubahan era. Ia merupakan figur panutan banyak musisi dari generasi ke generasi, sangat berpengaruh dan merupakan salah satu dari sedikit legenda penting yang masih hidup hingga hari ini. Saat wawancara ia menunjukkan sikap yang sangat ramah meski ia baru saja sampai setelah menempuh perjalanan jauh dari negaranya ke Indonesia. Belum istirahat, belum juga masuk ke kamar hotel, ia langsung menyanggupi sebuah sesi wawancara dengan senang hati. Keesokan harinya saya kembali bertemu dengannya di lobi hotel. Diluar dugaan, ia langsung menyapa dan meminta maaf. Minta maaf untuk apa? Saya kaget ketika ia mengatakan hal itu. Ternyata ia merasa bahwa kemarin ia tidak maksimal dalam menjawab pertanyaan, padahal saya merasa ia sudah sangat baik melakukan itu dengan keramahan dan sikap bersahabat yang luar biasa untuk orang sekelasnya. "I'm sorry I wasn't fit yesterday, I was having a jet lag I guess", katanya sambil tersenyum dan mengulurkan tangan untuk bersalaman. Wow, orang sepertinya masih bisa menunjukkan sikap rendah hati seperti itu, sementara sebagian dari artis kita yang masih seumur jagung karirnya dan kemampuannya biasa saja bisa sangat arogan, pamer harta di infotainment, tinggi omongannya dan bersikap seolah yang terhebat sepanjang masa. Hebatnya ia masih ingat apa yang kami bicarakan sebelumnya dan memberi jawaban yang lebih rinci tanpa saya minta sama sekali. Pengalaman ini menjadi salah satu yang paling berkesan sepanjang hidup saya. Sikapnya terasa sangat menginspirasi dan memberkati.

Menyambung dua renungan terdahulu yang bersumber dari 1 Yohanes 2:15-16, hal ketiga yang patut kita waspadai adalah keangkuhan. Ketika kita berada dalam posisi yang tinggi dalam jabatan, ketika kita memiliki suatu kelebihan dibanding orang lain, baik dalam hal harta, kemampuan atau skill dan lain-lain, dosa keangkuhan ini diam-diam bisa menyelinap dalam diri kita, apalagi kalau kita memberi ruang untuknya. Keangkuhan dapat membutakan rohani, membuat pelakunya lupa bahwa semua yang ia dapat berasal dari berkat Tuhan, bukan atas kemampuannya semata, bukan hanya sebuah kebetulan tanpa sebab yang pantas disombongkan. Betapa ironisnya jika orang yang diberkati Tuhan dengan talenta atau kemakmuran bukannya bersyukur dan semakin peduli, tapi malah menjadi sombong. Sebuah sikap sombong atau angkuh pun bisa menjadi dasar sikap manusia untuk menolak kebenaran dan cenderung menuhankan dirinya sendiri. Karena itulah sikap angkuh atau sombong menjadi salah satu dari tujuh hal yang dibenci Tuhan seperti yang diuraikan Salomo dalam kitab Amsal. "Enam perkara ini yang dibenci TUHAN, bahkan, tujuh perkara yang menjadi kekejian bagi hati-Nya: mata sombong, lidah dusta, tangan yang menumpahkan darah orang yang tidak bersalah, hati yang membuat rencana-rencana yang jahat, kaki yang segera lari menuju kejahatan, seorang saksi dusta yang menyembur-nyemburkan kebohongan dan yang menimbulkan pertengkaran saudara." (Amsal 6:16-17). Perhatikan diantara daftar kejahatan yang dilakukan manusia dan dibenci Tuhan ini termasuk diantaranya "mata sombong". Mata sombong dalam bahasa Inggrisnya disebutkan "Proud look" yaitu sikap angkuh yang meninggikan diri sendiri dan menganggap rendah orang lain.

Alkitab mencatat banyak kisah mengenai ketidaksukaan Tuhan terhadap sikap angkuh. Dari kisah raja Hizkia dalam kitab 2 Raja Raja dan 2 Tawarikh kita bisa mendapati satu diantaranya. Hizkia adalah seorang raja yang saleh yang punya hubungan dekat dengan Tuhan. Hizkia dikenal selalu berpaut pada Tuhan dan berpegang pada perintah-perintah Tuhan sehingga dikatakan bahwa tidak ada lagi yang sama seperti dia diantara raja-raja Yehuda. (2 Raja Raja 18:5-6). Sayangnya ditengah kelimpahan berkat Tuhan yang selalu menyertainya, Hizkia sempat jatuh dalam keangkuhan. Akibatnya hampir saja Yehuda dan Yerusalem ditimpa murka Allah. Untunglah Hizkia cepat sadar akan keangkuhannya sehingga murka Allah tidak sampai menimpa bangsa yang dipimpin Hizkia pada masa pemerintahannya (2 Tawarikh 32:25-26).

(bersambung)

Thursday, June 19, 2014

Mewaspadai Keinginan Mata

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 27:20
========================
"Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas."

Mata yang indah menjadi dambaan semua orang terutama kaum wanita. Banyak dari mereka yang rela menghabiskan dana jutaan hingga puluhan juta rupiah agar bisa memiliki mata yang bagus. Selain bentuknya, mata juga sangat vital fungsinya sebagai indra penglihat. Kalau mata sudah mulai kabur, kacamata, lensa kontak atau mungkin operasi atau dengan menggunakan laser untuk membuat mata kembali normal. Bagi yang pernah jatuh cinta atau minimal tertarik pada seseorang tentu tahu pepatah 'dari mata turun ke hati' atau kalau di luar sana dikatakan 'love at first sight'. Mata bisa menjadi jendela hati untuk memunculkan perasaan-perasaan tertentu yang timbul dari sesuatu yang sifatnya visual. Ada pepatah yang mengatakan bahwa "mata adalah jendela hati yang menyimpan seribu cerita". Apa yang dimaksud oleh pepatah ini adalah bahwa semua yang dirasakan hati kita bisa tercermin dari mata. Mata seolah punya nyawa dan seperti wajah, ada banyak ekspresi atau rautnya dan seperti punya perasaan. Ada banyak manfaat positif yang bisa kita peroleh dari indera yang satu ini, tapi jangan lupa pula bahwa lewat mata pula ada banyak jebakan dosa bisa menyelinap masuk lalu menghancurkan kita. Other than the ability to capture love at first sight,  so many danger can cost us and our life to die starting from our pair of eyes.

Melanjutkan renungan kemarin yang bersumber dari 1 Yohanes 2:15-16, hal kedua yang patut kita waspadai selain keinginan daging adalah keinginan mata. Kalau mata tidak dijaga dan dikendalikan, mata bisa menjadi salah satu jendela dosa yang paling efektif. Lewat mata kita melihat hal-hal yang tidak baik atau tidak pantas untuk dilihat, selain itu apa yang kita lihat bisa menimbulkan berbagai keinginan, yang kalau tidak dikendalikan dapat membuat kita tersandung dalam proses perjalanan hidup kita. Ada banyak orang yang akhirnya tergoda untuk korupsi karena tidak tahan melihat gemerlap kekayaan orang-orang disekitarnya. Ada yang sulit menabung bahkan jadi berhutang karena ingin menyamai gaya hidup dalam lingkungan pertemanan. Kita mendengar banyak berita perkosaan yang diawali dari menonton film porno. Bahkan kalau orang mau menipu, salah satu kode yang paling populer adalah dengan mengedipkan mata. Semua ini berhubungan dengan mata yang bisa mejadi awal kejatuhan orang dalam dosa.

Kurang terbukti apa iman Daud? Kita bisa melihat bagaimana ia terus tegar dan percaya penuh pada Tuhan dalam menghadapi setiap kesulitan dalam hidupnya. Ia berani menghadapi Goliat dan menang karena mengandalkan Tuhan, sejak kecil ia menghalau binatang-binatang buas yang hendak memangsa ternak yang ia gembalakan karena ia percaya ada Tuhan bersamanya. Dalam masa-masa sulit saat hendak dibunuh Saul, ia kembali menunjukkan kebesaran imannya. Tapi kisah gelap dalam hidup Daud pun ada, dan itu dimulai dari mata. Berawal dari mata yang ia pakai untuk mengintip Batsyeba mandi, Daud terus terperosok pada dosa yang terus bertumbuh semakin besar sampai ia merancang pembunuhan secara tidak langsung dengan akalnya. Dosa-dosa perselingkuhan dan zinah pun sering berawal dari ketidakmampuan mengendalikan mata. Perhatikan apa kata Yesus berikut ini: "Kamu telah mendengar firman: Jangan berzinah. Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap orang yang memandang perempuan serta menginginkannya, sudah berzinah dengan dia di dalam hatinya." (Matius 5:27-28). Dunia mengatakan bahwa zinah terjadi saat ada persetubuhan dengan lawan jenis yang bukan pasangan resmi, tapi Yesus menegaskan bahwa apabila kita melihat dan menginginkannya saja sekalipun, itu sudah dianggap sebagai sebuah zinah. Memandang atau melihat, itu tentu menggunakan mata. Dalam kisah lain dalam kitab 1 Raja Raja 21, kita bisa melihat kisah raja Ahab yang menginginkan kebun anggur milik Nabot. Waktu Nabot menolak karena kebun itu merupakan harta pusaka nenek moyang, raja Ahab pun termakan godaan istrinya Izebel untuk membunuh Nabot. Akibatnya pun cukup fatal. Apa yang dilakukan Ahab dikatakan sebagai sebuah hal yang jahat di mata Tuhan. (1 Raja Raja 21:25). Keinginan mata bisa membuat kita serakah ingin menguasai harta orang lain, atau menghamba pada harta agar bisa memiliki harta benda yang mungkin belum saatnya kita miliki.  Ini baru dua dari sisi negatif mata yang tidak dijaga dengan baik.

Ayat bacaan hari ini dikutip dari kata-kata Salomo bahwa mata manusia tidak akan pernah puas. "Dunia orang mati dan kebinasaan tak akan puas, demikianlah mata manusia tak akan puas." (Amsal 27:20). Apa yang dimunculkan oleh keinginan mata bisa meracuni hati kita dengan berbagai keinginan yang tidak pada tempatnya. Mata juga kalau dibiarkan akan selalu menuntut lebih alias tidak pernah puas. Perhatikan bahwa tidak semua yang diinginkan mata mendatangkan manfaat bagi kita, bahkan bisa menjebak kita untuk tidak lagi hidup sesuai kehendak Allah. Jika demikian, mata perlu kita awasi baik-baik dan ditundukkan dalam hukum Roh. Jika keinginan mata mulai menggoda, berdoalah seperti Pemazmur "Lalukanlah mataku dari pada melihat hal yang hampa, hidupkanlah aku dengan jalan-jalan yang Kautunjukkan!" (Mazmur 119:37) Dengan mengetahui bahwa serangan kerap masuk lewat mata, marilah kita selalu menjaga mata kita dari berbagai keinginan-keinginan yang sifatnya duniawi agar kita tidak tersandung ke dalam jebakan dosa, turut hilang bersama dunia yang sedang lenyap bersama keinginan-keinginannya tapi bisa tetap hidup selama-lamanya dengan melakukan kehendak Allah, termasuk didalamnya dengan menundukkan mata kita ke dalam hukum Allah.

Mata bisa membutakan hati untuk menginginkan banyak hal yang jahat di hadapan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, June 18, 2014

Mewaspadai Keinginan Daging (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Firman Tuhan dengan jelas berkata bahwa kita seharusnya hidup sesuai keinginan Roh, bukan daging. "Karena keinginan daging adalah maut, tetapi keinginan Roh adalah hidup dan damai sejahtera." (Roma 8:6). Paulus menyampaikan bahwa menuruti keinginan daging berarti perseteruan terhadap Allah, dan siapapun yang hidup dalam daging tidak mungkin berkenan kepada Allah. (ay 7-8). Jika kita terus memberi kelonggaran untuk memenuhi berbagai keinginan daging, kita akan mati. Sebaliknya jika Roh lebih berkuasa dalam hidup kita, kita akan hidup. "Sebab, jika kamu hidup menurut daging, kamu akan mati; tetapi jika oleh Roh kamu mematikan perbuatan-perbuatan tubuhmu, kamu akan hidup." (ay 13).

Jika kita hidup oleh Roh, kita tidak akan lagi menuruti keinginan daging (Galatia 5:16). Kalau keinginan daging dijabarkan dalam pasal 19 sampai 21, maka buah Roh bertolak belakang dengan itu semua. "Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu." (ay 22-23). Kita harus ingat bahwa "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya. Jikalau kita hidup oleh Roh, baiklah hidup kita juga dipimpin oleh Roh." (ay 24-25). Jadi kalau kita hidup oleh Roh, maka hidup kita sudah seharusnya dipimpin oleh Roh. Dan kalau kita memang mengaku sebagai milik Kristus, maka sudah seharusnya pula kita menyalibkan kedagingan beserta segala nafsu dan keinginan di dalamnya. Keduanya tidak akan bisa dijalankan bersama-sama. Kita tidak bisa mengaku sebagai pengikut Yesus tapi tetap memuaskan keinginan-keinginan daging. Kita tidak bisa terus mencari kenikmatan disana lantas berharap mendapat bagian dalam KerajaanNya juga.

Salah satu pintu masuknya dosa yang paling utama adalah lewat keinginan-keinginan daging. Ini merupakan salah satu celah favorit yang dipergunakan untuk mengalihkan pandangan kita dari kebenaran sampai kita benar-benar rontok dibuatnya. Ingatlah bahwa Yesus sudah menyatakan bahwa roh memang penurut tetapi daging  lemah (Matius 26:41). Daging itu lemah, itulah sebabnya hal-hal yang dianggap nikmat oleh daging kerap menjadi pintu masuknya dosa. Pemahaman kebenaran yang lemah dan toleransi yang besar yang diberikan kepada keinginan-keinginan daging ini akan membuat kita terus jatuh semakin jauh dan tenggelam semakin dalam, sampai-sampai kita tidak lagi sadar bahwa pemuasan keinginan daging ini sudah membuat kita kehilangan bagian dalam Kerajaan Allah kelak. Oleh karena itulah dalam ayat yang sama ini Yesus mengajak kita untuk terus berjaga-jaga dan berdoa supaya titik lemah ini tidak mudah disusupi oleh berbagai dosa yang bisa mendatangkan konsekuensi buruk. Tidak bisa tidak, kita harus benar-benar menyalibkan daging supaya kita bisa mengalami sebuah hidup yang dipimpin oleh Roh, bukan dikuasai oleh segala yang diinginkan daging. Godaan akan selalu hadir untuk menjebak kita. Pastikan agar kita jangan sampai kalah terhadap segala yang diinginkan daging tetapi hidup penuh dengan buah Roh.

Kita harus menolak godaan keinginan daging yang menjadi pintu masuk favorit si jahat dan penghulu-penghulunya untuk menghancurkan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, June 17, 2014

Mewaspadai Keinginan Daging (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 8:7
=====================
"Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah, karena ia tidak takluk kepada hukum Allah; hal ini memang tidak mungkin baginya."

Kemarin kita sudah melihat sebuah seruan penting dari Yohanes akan pentingnya memiliki paradigma yang benar dalam menjalani hidup yang bisa kita baca dalam perikop 1 Yohanes 2:7-17. Apa yang ia sampaikan seperti sebuah perintah baru tetapi sebenarnya tidak baru-baru amat juga. Baru bagi yang sudah lama melupakan perintah-perintah tersebut apalagi setelah Yesus sendiri menunjukkan seperti apa hidup menurut paradigma Kerajaan dalam masa kedatanganNya turun ke bumi, tidak baru karena semuanya sudah pernah disampaikan jauh sebelumnya. Apa yang membuat banyak orang melenceng dari ketetapan Tuhan yang sebenarnya sudah seharusnya diketahui tidak lain adalah pola kehidupan menurut cara dunia yang bertentangan dengan semua itu. Dunia terus menggiring kita kepada hal-hal yang dianggap bisa mendatangkan kebahagiaan atau kepenuhan yang sebenarnya bertolak belakang dengan prinsip-prinsip Kerajaan. Masalahnya, kita hidup di dalamnya sehingga kalau tidak hati-hati paradigma kita pun akan menerima semua itu sebagai sebuah kebenaran. Kita menghidupi berbagai 'ajaran' dunia' selama bertahun-tahun, mengadopsi tawaran-tawarannya sebagai sebuah gaya dan cara hidup sampai-sampai kita merasa aneh ketika diingatkan mengenai prinsip yang benar yang ditetapkan Allah sejak semula. Banyak yang menganggap orang-orang yang hidup sesuai dengan prinsip Allah sebagai orang yang aneh atau bahkan bodoh. Itu menunjukkan betapa paradigma manusia secara umum sudah terlalu jauh melenceng dari kebenaran dan sudah berakar terlalu kuat dalam diri mereka sehingga sudah terlalu sulit untuk diubah.

Secara umum ada tiga hal yang menjadi 'titik serang' yang harus kita waspadai seperti yang disebutkan Yohanes dalam 1 Yohanes 2 ayat 15-16. "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia." Dari ayat ini Yohanes menyebutkan ketiga hal tersebut yaitu: keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan/kesombongan hidup. Hari ini mari kita lihat yang pertama, yaitu keinginan daging.

Apakah yang dimaksud dengan keinginan daging? Keinginan daging adalah rupa-rupa keinginan yang berasal dari tubuh kita, penuh jebakan yang sangat menggoda dan sangat berpotensi untuk membuat manusia jatuh dalam dosa. Dalam Galatia Paulus dengan jelas menyebutkan dengan terperinci jenis-jenis keinginan daging. "Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (Galatia 5:19-21) Keinginan daging ini terus mencoba masuk ke dalam diri kita lewat banyak cara. Jika anda menonton televisi maka anda akan menemukan salah satu atau sebagian bahkan seluruhnya dalam tayangan-tayangan disana. Iklan, sinetron, acara promosi, talk show dan lain-lain, banyak yang sudah disusupi dengan paradigma-paradigma duniawi sehingga saking terbiasanya dengan itu semua kita menganggap bahwa itu hal lumrah atau bahkan dianggap benar.  Lagu-lagu yang ada banyak yang berisi pesan yang mengarah kepada kedagingan juga, baik yang nyata-nyata lewat liriknya maupun pesan-pesan subliminal yang masuk ke alam bawah sadar kita. Tidak heran apabila orang-orang percaya dan hamba Tuhan pun bisa terkontaminasi. Ada diantara mereka yang  aktif melayani sementara masih pula terikat dengan berbagai keinginan daging. Ada diantara mereka yang jatuh akibat dosa selingkuh, korupsi, minum minuman keras, kesombongan, ego centris dan sebagainya. Beberapa dari keinginan-keinginan daging ini sepintas terlihat nikmat, wajar, manusiawi sehingga kerap tidak dianggap sebagai sebuah dosa besar. Seiring masuknya pesan-pesan sesat lewat banyak media, orang pun bisa terjebak dengan berkompromi dengan itu semua lalu lupa bahwa itu bisa menjadi pintu masuk bagi berbagai dosa lainnya dalam jumlah dan ukuran yang lebih besar sehingga pada akhirnya berakibat fatal dan mematikan. mampu menjatuhkan kita, cepat atau lambat. Dengan tegas dalam ayat 21 dikatakan bahwa orang-orang yang melakukan perbuatan-perbuatan daging tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah.

Alkitab memberi banyak contoh kejatuhan pelayan-pelayan Tuhan akibat terjerumus dalam keinginan daging. Misalnya imam besar Eli (1 Samuel 2:11-17) atau Simson yang jatuh akibat godaan Delila (Hakim Hakim 13-17). Daud seorang yang berkenan di hati Allah pun tidak luput dari dosa akibat keinginan daging. Lihat apa yang terjadi ketika Daud menyuruh Yoab dan seluruh orang Israel pergi berperang sementara ia santai-santai di istana. Apa akibatnya? Ketika itulah Daud mengintip Batsyeba mandi, dan selanjutnya berzinah, bahkan sampai membunuh Uria, suami Batsyeba. Kisah ini dapat dibaca pada 2 Samuel 11. Bagaimana pandangan Tuhan mengenai perbuatan Daud? "Tetapi hal yang telah dilakukan Daud itu adalah jahat di mata TUHAN." (2 Samuel 11:27). Ada banyak lagi contoh kejatuhan tokoh-tokoh alkitab yang disebabkan oleh keinginan daging, dan ini harusnya bisa menjadi pelajaran bagi kita bahwa tidak satupun dari kita yang benar-benar kebal terhadap kecemaran lewat keinginan daging. Oleh karena itu kita benar-benar harus waspada.


(bersambung)

Monday, June 16, 2014

Merubah Paradigma

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Yohanes 2:15-16
========================
"Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia."

Sulit diterima akal kalau ada orang yang dengan sengaja mau hidup jauh dari kebenaran dan sengaja ingin berakhir ke dalam siksaan yang kekal. Tetapi pada kenyataannya, hanya sedikit yang benar-benar sanggup hidup seturut kehendak Allah sepenuhnya, tidak pilih-pilih. Apa yang sering menjadi kendala terbesar dari sekian banyak konseling yang pernah saya lakukan ternyata bukan soal keinginan mereka untuk memperbaiki diri melainkan bersumber dari kesulitan setiap pribadi untuk merubah paradigma. Paradigma adalah serangkaian tata nilai, cara pandang dan konsep-konsep pemikiran seseorang tentang bagaimana sesuatu atau segala sesuatu itu berjalan, yang biasanya berhubungan dengan apa yang sudah ditanamkan, diketahui atau diajarkan sejak kecil sehingga membentuk cakrawala berpikir, bersikap dalam menanggapi hal-hal yang dijumpai dalam kehidupan. Paradigma bisa berasal dari pengajaran baik dari orang tua, lingkungan, lingkaran pertemanan dan lain-lain, yang dalam rentang waktu lama bisa dianggap sebagai sesuatu yang benar, baik karena dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya maupun sebagai bentuk kebiasaan mayoritas yang kerap dijumpai dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Semakin kesini, saya melihat bahwa dunia melihat hidup dengan cara-cara yang semakin berbeda dengan kebenaran Kerajaan Allah seperti yang disampaikan Yesus langsung dalam masa pelayananNya yang singkat saat turun ke dunia. Sebagai bagian dari mahluk hidup yang berada dalam dunia, pengaruh-pengaruh yang keliru terus masuk ke dalam pikiran dan hati kita, sehingga paradigma manusia pun semakin hari semakin jauh melenceng dari kebenaran.

Dunia terus mengajarkan konsep kekayaan sebagai solusi untuk mencapai kebahagiaan. Semuanya dinilai dengan uang atau harta. Dunia terus mengagung-agungkan popularitas, tingginya jabatan yang bisa dipakai sebagai etalase kebanggaan diri, untuk menciptakan pribadi yang berpengaruh besar sehingga posisinya bahkan bisa berada di atas hukum. Dunia menganjurkan kepemilikan atas benda-benda yang mewah agar bisa diterima dalam lingkungan pergaulan kelas atas, yang tentu saja akan menaikkan pamor kita di mata orang. Itu dipercaya akan membuat kita 'penuh' dan nyaman. Dunia dan akhirat adalah dua bagian yang terpisah. Urusan beribadah itu hanya untuk nanti setelah mati, urusan dunia terlepas dari soal-soal rohani. Rohani seminggu sekali dan ironisnya hanya dikaitkan dengan kebiasaan mengunjungi gereja, sepulang dari sana hidup akan kembali duniawi lagi sepenuhnya, tidak ada urusan lagi dengan ibadah. Atau banyak pula yang mengira bahwa ke gereja, bersedekah atau berbuat baik pada waktu-waktu tertentu bisa 'mencuci' tindak-tindak kejahatan yang kita lakukan yang suka saya sebut dengan 'cuci dosa' alias 'sin laundering'. Kalau melakukan korupsi tapi takut kena dosa, ya bangun rumah ibadah supaya uang hasil kejahatan jadi bersih. Atau sumbangkan sebagian ke orang, lembaga atau departemen tertentu, maka itupun bisa me'mutih'kan. Perhatikanlah, bukankah banyak orang yang melakukan itu hari ini? Semua ini merupakan kekeliruan yang umumnya bersumber dari paradigma berpikir yang keliru dan sama sekali jauh dari kebenaran.

Dunia tampaknya sudah lama menghidupi kekeliruan seperti ini dalam perjalanannya. Bahkan saat Yohanes masih aktif, ia sudah mengingatkan tentang hal ini secara khusus. Lihatlah apa yang ia sampaikan dalam 1 Yohanes 2:7-17. Ia memulai perikop ini dengan kalimat: "Saudara-saudara yang kekasih, bukan perintah baru yang kutuliskan kepada kamu, melainkan perintah lama yang telah ada padamu dari mulanya. Perintah lama itu ialah firman yang telah kamu dengar. Namun perintah baru juga yang kutuliskan kepada kamu, telah ternyata benar di dalam Dia dan di dalam kamu; sebab kegelapan sedang lenyap dan terang yang benar telah bercahaya." (ay 7). Ia berkata bahwa yang ia sampaikan sebenarnya bukanlah perintah baru, tetapi sesuatu yang sebenarnya sudah demikian sejak semula dunia diciptakan, dan sudah pula diketahui oleh manusia dari apa yang disampaikan oleh para nabi sebelumnya. Akan tetapi perintah itu tetap terasa baru terutama setelah Yesus sendiri datang menunjukkan kebenaran-kebenaran sejak semula itu lewat cara hidupNya yang juga tercermin dari orang-orang yang memiliki Kristus dalam dirinya.  Dalam kesempatan ini Yohanes mengingatkan bahwa kebencian merupakan salah satu bentuk penyimpangan dari perintah yang 'lama tapi baru' ini. Siapa yang membenci saudaranya berarti masih tetap berada dalam kegelapan meski terang sudah nyata lewat Kristus (ay 9), dan Yohanes mengatakan bahwa "Barangsiapa mengasihi saudaranya, ia tetap berada di dalam terang, dan di dalam dia tidak ada penyesatan. Tetapi barangsiapa membenci saudaranya, ia berada di dalam kegelapan dan hidup di dalam kegelapan. Ia tidak tahu ke mana ia pergi, karena kegelapan itu telah membutakan matanya." (ay 10-11).  Perhatikan bagaimana dunia terus memperbesar jurang perbedaan dan membuat orang-orang di dalamnya merasa berhak menghakimi orang lain yang berbeda pemahaman dari mereka. Tidak jarang mereka ini bahkan berani mengatas-namakan Tuhan untuk melegalkan kebencian, kejahatan, kekejian dan kekejaman terhadap sesama manusia. Perhatikan pula bagaimana mayoritas atau yang kuat dianggap dunia punya kuasa dan hak untuk menindas kaum minoritas. Melakukan ketidak-adilan secara terang-terangan tanpa punya rasa bersalah apalagi malu, memaksakan kehendak, menekan dan sebagainya. Semua ini terjadi semakin sering akhir-akhir ini dan sering kita saksikan dalam berita di berbagai media.

Yang sangat menarik adalah saat Paulus memberikan pengajaran yang mungkin terdengar sedikit kontroversi baik pada saat itu terlebih pada jaman sekarang. "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu." (ay 15). Mengapa? "Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia." (ay 16). Janganlah kamu mengasihi dunia dan yang ada di dalamnya, kata Yohanes. Apakah itu berarti bahwa kita harus bersikap memusuhi orang lain yang sama dengan kita hidup di dunia? Tentu saja bukan demikian. Apa yang dikatakan Yohanes adalah agar kita tidak larut menuruti keinginan-keinginan dunia beserta segala pemahaman dan konsepnya yang keliru. Dengan kata lain, Yohanes mengingatkan agar parameter paradigma kita jangan sampai mengacu kepada konsep dan pemahaman dunia tetapi hendaknya mengacu kepada prinsip kebenaran menurut Kerajaan. Yohanes juga memberi tiga hal yang biasanya berpusat atau bersumber dari dalam dunia, dipercaya oleh banyak orang dan menjadi awal kehancuran manusia yaitu: keinginan daging, keinginan mata dan keangkuhan hidup. Ketiganya bukan berasal dari Bapa melainkan dari dunia. Tiga hari ke depan saya akan membahasnya satu-persatu.

Adalah penting bagi kita untuk memastikan agar paradigma kita tidak ikut seperti apa yang dipercaya dunia bisa mendatangkan kebahagiaan. Yohanes berkata "Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (ay 17). Jangan sampai kita ikut-ikutan lenyap seperti dunia yang terus merosot dan terus semakin dilenyapkan keinginan-keinginannya seiring umur yang bertambah tua, tetapi hendaknya kita terus menghidupi firmanNya, mematuhi ketetapanNya, menjauhi laranganNya dan terus melakukan kehendakNya. Orang-orang seperti inilah yang dikatakan akan tetap hidup selama-lamanya. Mari kita periksa setiap konsep pemikiran kita dalam menyikapi berbagai hal dalam hidup. Seperti apa paradigma kita hari ini? Apabila kita mendapati bahwa ternyata kita masih mengadopsi sebagian atau hampir seluruh konsep pemahaman dunia dan hal-hal yang dipercayanya, saatnya bagi kita untuk merubah paradigma. Merubah paradigma sama sekali tidak mudah karena biasanya sudah mengakar dalam jangka waktu yang cukup lama dalam diri kita. Itu hampir sama dengan membongkar seluruh bangunan dan membangun kembali sesuatu yang baru di atasnya, atau membongkar sebuah pohon sampai ke akar-akarnya yang sudah tertanam puluhan meter. Butuh pengorbanan, butuh usaha, butuh waktu, butuh proses dan butuh kesungguhan yang tidak main-main. Tapi apabila perlu, lakukanlah selagi masih ada waktu dan kesempatan. Paradigma mungkin sulit diubah, tapi bukan berarti tidak bisa sama sekali. Dunia terus menawarkan banyak hal yang keliru dan semakin lama semakin lenyap binasa, tetapi orang-orang yang melakukan kehendak Allah akan selalu hidup kekal selama-lamanya.

Paradigma kita mudah terbentuk oleh dunia yang kita hidupi, oleh karenanya waspadai semua yang menyimpang dari kebenaran firman

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho


Sunday, June 15, 2014

Dosa sebagai Penghalang

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yesaya 59:1-2
==========================
"Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu."

"Ah kamu sudah dipanggil-panggil tetap saja tidak melihat." Seperti itu kata teman saya suatu kali saat saya secara tidak sengaja bertemu dengannya di keramaian. Pada waktu itu ada banyak orang lalu lalang dan saya pun sedang tidak konsentrasi melihat siapa-siapa karena tidak mengira bakal bertemu dengan orang yang saya kenal. Ia berkata bahwa ia sudah melihat saya dari jauh. Saya berjalan menuju ke arahnya, tapi saya tidak melihatnya. Bahkan saat ia sudah mulai memanggil dan melambaikan tangan saya masih saja tidak sadar. Sampai ia hadir tepat di depan saya, barulah saya melihatnya. Mata berfungsi baik, kejadian di siang hari yang terang benderang, tapi ketika pandangan terhalang oleh banyak hal termasuk karena sedang tidak fokus, kita bisa gagal melihat sesuatu yang sebenarnya ada tepat di depan kita.

Saya masih ingin melanjutkan tentang apa yang bisa terjadi jika pandangan kita terhalang sesuatu dalam melangkah. Banyak orang yang kecewa kepada Tuhan karena menganggap Tuhan tidak mendengar doa mereka atau tidak menjawab permintaan mereka di saat mereka sedang tertimpa masalah. Benar, terkadang masalah waktu kita dengan waktunya Tuhan itu berbeda. Firman Tuhan sudah menyatakan hal tersebut: "Seperti tingginya langit dari bumi, demikianlah tingginya jalan-Ku dari jalanmu dan rancangan-Ku dari rancanganmu." (Yesaya 55:9). Jarak yang terbentang antara bumi dan langit sangatlah panjang, itu menunjukkan keterbatasan kita dalam mengetahui rencana Tuhan dalam hidup kita. Waktu yang kita anggap terbaik belum tentu yang terbaik di mata Tuhan. Sementara kita harus mengakui bahwa Tuhanlah yang tentu paling tahu mengenai apa yang terbaik bagi manusia ciptaanNya. Dan apa yang dibuat Tuhan itu adalah segala sesuatu yang indah pada waktunya seperti yang tertulis dalam Pengkotbah 3:11. Atau mungkin apa yang kita minta adalah sesuatu yang salah, tidak berguna atau malah berpotensi merusak kita, itu pun tidak akan dijawab Tuhan. FirmanNya berkata: "Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu." (Yohanes 4:3). Keduanya mungkin saja menjadi penyebab belum atau tidak datangnya uluran tangan Tuhan menjawab doa kita. Tetapi ada satu hal yang juga harus kita waspadai, dan kita pastikan tidak sedang bercokol bebas dalam diri kita, yaitu DOSA. Dosa yang terus dibiarkan dalam diri kita sesungguhnya bisa menghalangi atau bahkan memutuskan hubungan kita dengan Tuhan. Dan jika itu yang terjadi maka kita bisa terbentur pada banyak masalah.

Dosa bisa menghalangi tersambungnya kita dengan Tuhan di tahtaNya yang Maha Kudus. Kita harus memastikan benar bahwa tidak ada kejahatan yang kita simpan, tidak ada dosa yang kita sembunyikan lagi dalam diri kita. Dosa itu bisa merintangi hubungan antara kita dengan Tuhan, sehingga Dia tidak mendengar dan menjawab doa-doa kita. Hal ini disebutkan dalam kitab Yesaya. Bunyinya: "Sesungguhnya, tangan TUHAN tidak kurang panjang untuk menyelamatkan, dan pendengaran-Nya tidak kurang tajam untuk mendengar; tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:1-2). Tuhan tidak pernah terlalu sibuk atau tidak mampu menyelamatkan kita. Dia tidak pernah tidak peduli atau cuek. Tuhan tidak tuli. Yang kerap terjadi, dosa-dosa yang ada dalam diri kita dan belum dibereskan, baik yang kita sadari atau tidak ternyata menjadi penghalang terhubungnya kita dengan Tuhan.

Ada banyak orang yang mengira bahwa mereka mampu menyembunyikan dosa dengan rapi sehingga sanggup menipu Tuhan. Itu jelas pikiran yang keliru, karena biar serapi apapun kita menyimpannya, Tuhan akan selalu mengetahuinya dan hal tersebut bisa menjadi penghalang bagi kita untuk menerima berkat dan keselamatan dari Tuhan. Salomo berkata: "Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi. Berbahagialah orang yang senantiasa takut akan Tuhan, tetapi orang yang mengeraskan hatinya akan jatuh ke dalam malapetaka." (Amsal 28:13-14). Oleh sebab itu kita harus rajin memeriksa hati atau diri kita dan apabila menemukan dosa yang masih tinggal, dengan segera membereskan semuanya. Mengakuinya dan bertobat sungguh-sungguh, lalu bertekad tidak mengulanginya lagi. Tuhan Yesus mengingatkan hal yang sama pula. Mari kita lihat Yohanes 5 mengenai kisah Yesus ketika mengunjungi kolam yang disebut Betesda dan menyembuhkan orang yang sudah tiga puluh delapan tahun menderita penyakit. Setelah orang itu disembuhkan, Yesus berpesan padanya: "Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk." (Yohanes 5:14). Dosa seperti apapun, baik besar atau kecil haruslah segera diselesaikan, diakui sehingga tidak menjadi penghalang antara kita dengan Tuhan.

Kita mungkin merasa bahwa kita sudah hidup sepenuhnya benar, tapi tetap rajinlah memeriksa diri, karena bisa saja ada penghalang-penghalang yang meski dianggap kecil tapi ternyata memblokir hubungan kita dengan Tuhan. Kita mungkin sudah mengenal Tuhan, mengenal pribadiNya, tetapi dosa bisa menghalangi dan menjauhkan kita dariNya dan akhirnya mendatangkan petaka. Jangan beri toleransi pada dosa sekecil apapun, karena baik besar atau kecil dosa tetaplah dosa yang bisa menjadi penghalang. Dalam Galatia dikatakan: "Sedikit ragi sudah mengkhamirkan seluruh adonan." (Galatia 5:9). Karena itu, ingatlah selalu pesan Yesus: "Karena itu perhatikanlah supaya terang yang ada padamu jangan menjadi kegelapan."(Matius 12:35) Singkirkan segera dosa-dosa yang menghalangi kita dengan Tuhan, sehingga kita bisa tetap terhubung sepenuhnya dengan Tuhan tanpa gangguan apapun.

Dosa seberapapun ukurannya dan apapun bentuk atau alasannya tetaplah dosa yang bisa memutus hubungan kita dengan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, June 14, 2014

Penghalang Pandangan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Lukas 24:16
====================
"Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia."

Mungkin karena menghabiskan banyak waktu di depan laptop, sejak beberapa tahun lalu mata saya rabun dekat. Saya harus menggunakan kacamata agar bia melihat benda-benda atau tulisan yang dekat. Tanpa kacamata maka pandangan saya akan kabur. Ada kalanya kacamata saya berkabut sehingga jika tidak dilap maka pandangan saya pun terganggu. Gangguan melihat bukan saja karena mata mengalami masalah, tapi juga ketika pandangan terhalang oleh sesuatu. Misalnya apabila ditutup baik dengan tangan, saputangan dan sebagainya, atau saat ada benda yang memblokir arah mata sehingga benda diseberangnya tidak lagi bisa dilihat. Sebaik-baiknya mata berfungsi, apabila pandangan terhalang maka kita tidak lagi bisa melihat apa yang ada di depan meski masih berada dalam jarak pandang.

Pandangan yang terhalang bukan saja bisa dialami secara fisik pada mata tapi kita juga bisa mengalami itu secara spiritual. Contohnya begini. Kita tahu Tuhan ada, tetapi kita tidak mampu melihat sosok Tuhan dan kasih serta kebaikanNya secara benar. Kita tahu akan kebesaran kuasa Tuhan yang tidak terbatas dalam menolong kita, tapi kita tidak bisa melihat itu sebagai sebuah kebenaran yang bisa dipercaya dengan iman. Kita tahu akan ketetapanNya, apa yang dilarang, tapi kita mentolerir itu dengan menganggap bahwa Tuhan sedang meleng tidak melihat kita. Kita merasa diingatkan Tuhan, tapi kita ragu dan menganggap itu mungkin cuma perasaan saja. Atau kita sudah terus berdoa tapi sepertinya Tuhan mengabaikan  Intinya, ada sesuatu yang menghalangi pandangan iman kita sehingga kita pun lalu ragu hidup tanpa jawaban, atau merasa putus asa, tidak lagi punya semangat dan harapan. Ironisnya, penghalang itu tidak selalu harus sesuatu yang besar. Hal yang sangat kecil sekalipun jika tidak hati-hati bisa menutup pandangan kita dari Tuhan.

Sebuah kisah penampakan Yesus setelah kematianNya di atas kayu salib berikut menggambarkan hal itu. Baru saja tiga hari Yesus meninggalkan para murid. Tiga hari adalah waktu yang sangat singkat. Ambil contoh apabila saudara atau teman dekat anda pergi selama tiga hari, anda tentu masih mengenal mereka ketika kembali bukan? Akan sangat aneh jika anda lupa siapa mereka dan tiba-tiba tidak kenal lagi. Tapi itulah yang terjadi atas para murid. Setelah tiga hari Yesus disalibkan, pada suatu ketika dua murid Yesus sedang berjalan menuju sebuah kampung yang letaknya kurang lebih 11 kilometer dari Yerusalem. Sembari berjalan mereka sibuk membicarakan apa yang terjadi. Pada saat itu mereka kemungkinan besar sedang bingung, kalut, mungkin cemas dan tidak tahu harus berbuat apa, goyah melihat apa yang terjadi. Berita simpang siur mengenai hilangnya mayat Yesus dari kubur. Apakah mayat Yesus diculik atau bangkit seperti kesaksian beberapa perempuan yang bertemu dengan malaikat penyampai kabar itu. Mereka mungkin mulai putus asa, kecewa dan sedih, atau malah mungkin ketakutan akan mengalami nasib yang sama. Takut, kalut, kuatir, bingung, semua berkecamuk jadi satu.

Alkitab mencatat sesuatu yang menarik setelahnya. "Ketika mereka sedang bercakap-cakap dan bertukar pikiran, datanglah Yesus sendiri mendekati mereka, lalu berjalan bersama-sama dengan mereka." (Lukas 24:15). Yesus tiba-tiba muncul tepat disamping mereka! Sosok yang mengayomi mereka dan mengisi mereka dengan kebenaran Kerajaan Allah ada di dekat mereka hanya jarak tiga hari. Harusnya mereka tersentak kaget, bersorak dan menyambut Yesus dengan sangat gembira. Tapi ternyata bukan itu kejadiannya. Yang terjadi adalah mereka ternyata tidak mengenal Yesus. Bagaimana mungkin? Alkitab menyebutkan alasannya. "Tetapi ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, sehingga mereka tidak dapat mengenal Dia." (ay 16). Alkitab berkata, ada sesuatu yang menghalangi mata mereka, dan itu membuat mereka tidak bisa mengenali Yesus. Ada awan tebal dan gelap yang menutupi pandangan mereka sehingga mereka tidak bisa melihat Terang. Mereka bahkan belum juga sadar saat Yesus sudah menegur mereka dan menjelaskan nubuatan-nubuatan yang tertulis tentang Dia dalam kitab nabi-nabi. (ay 25-27). Sampai disitu pun mereka masih belum mengenal Yesus. Baru ketika mereka tiba di kampung dan Yesus mengambil roti dan memecah-mecahkan sambil mengucap berkatlah mereka menyadari bahwa orang yang berjalan bersama mereka sejak tadi ternyata Yesus. Bayangkan dalam perjalanan 11 kilometer panjangnya mereka tidak kunjung menyadari bahwa Yesus yang mereka perbincangkan ternyata ada ditengah-tengah mereka. Kebingungan, keraguan, kekecewaan, kesedihan, atau ketakutan menutupi pandangan mereka, membuat mereka tidak mengenali Yesus, meski Yesus berada tepat bersama mereka.

Ketika kita bergumul dengan berbagai permasalahan kehidupan, tekanan, masalah, pergumulan atau beban-beban, kita pun bisa mengalami hal yang sama seperti murid-murid Yesus di atas. Kita bisa tidak lagi mendengar atau mengenali Tuhan lagi seperti yang kita kenal sebelumnya. Kita lupa seperti apa kasih dan kebaikan Tuhan, kita mulai meragukan itu semua bahkan meragukan keberadaanNya di tengah-tengah kita. Ketika jalan yang kita lalui begitu banyak liku-likunya, kita pun tidak lagi percaya bahwa Tuhan telah menyediakan segala kebaikan di ujung jalan itu. Lalu kita putus asa, kehilangan harapan, dan mulai menuduh Tuhan tidak menepati janji, malah bisa jadi, kita kemudian jatuh ke dalam berbagai alternatif yang menyesatkan dan membinasakan. Padahal kesalahan bukanlah di pihak Tuhan. Masalah ada pada pandangan kita yang tertutup beban penderitaan yang terlalu besar sehingga tidak lagi mengenaliNya. Bahkan setelah mendengar firman Tuhan sekalipun, orang-orang yang fokus sepenuhnya hanya kepada permasalahan dan beban berat tidak lagi bisa merasakan apapun, sebab awan tebal itu telah terlanjur menutupi hati mereka.

Tuhan sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita seperti yang bisa kita baca dalam Yosua 1:5: "...seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau", dan Tuhan akan selalu setia akan janjiNya. Ketika Dia berkata "Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu" (Matius 11:28), itu pun tidak akan Dia langgar. Adakah sesuatu yang membuat anda tidak lagi mengenaliNya hari ini, menghalangi pandangan anda akan kebaikan, besar kasih, kuasa dan kesetiaanNya? Itu bisa berupa permasalahan yang sepertinya tidak punya jawaban, gelisah, rasa cemas akan sesuatu, sakit yang diderita, atau mungkin pula berbagai godaan daging yang sulit kita tolak. Semua itu bisa menjadi penghalang pandangan kita kepada Tuhan. Oleh karena itu kita harus memastikan betul bahwa fokus pandangan kita dalam memandang ke depan bebas dari segala sekat yang merintangi atau membatasinya. Agar bisa tetap melihat dan mengenal Tuhan kita harus memiliki pandangan yang bersih dari segala hambatan yang menutupi pandangan kita. Mari singkirkan semua awan kelabu, dan miliki pandangan jernih ke arah Tuhan dan kenali serta imani kembali semua janjiNya.

Hal-hal negatif bisa menghalangi pandangan untuk melihat kebaikan dan kasih Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker