Thursday, October 31, 2013

Beribadah Tapi Tidak Percaya

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Timotius 3:5
=====================
"Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya."

Ada seseorang yang saya kenal pernah menceritakan keheranannya terhadap cara berpikir dari teman-teman gerejanya. Setiap kali saya menceritakan mukjizat Tuhan yang saya alami, mereka menanggapinya dengan sinis. Ia ditertawakan malah dikatakan gila. "ah, kamu mengada-ada..mana ada yang seperti itu?" kata teman-temannya. Okelah kalau yang diceritakan itu mukjizat besar yang sulit diterima akal, tapi untuk yang sederhana sekalipun sulit mereka cerna. Ini adalah gambaran bahwa di kalangan orang percaya pun ternyata masih sangat banyak orang yang belum punya iman yang cukup untuk mempercayai kuasa dan kekuatan Tuhan. Mereka menganggap bahwa itu tidak mungkin dialami secara langsung dalam kehidupan nyata, sehingga apa yang dialami orang lewat kesaksian mereka tidak mengubahkan mereka untuk hidup lebih baik. Tidaklah heran apabila kita melihat orang-orang percaya yang masih saja hidup penuh kecemasan, kekhawatiran atau terus takut. Mereka mengukur kemungkinan untuk lepas dari masalah hanya dari besar kecilnya masalah yang mereka hadapi dan tidak menyadari bahwa Tuhan sanggup melakukan apa-apa. Kalau masalahnya kecil mungkin bisa, tapi kalau sudah terlalu berat maka berdoa pun pasti tidak membawa hasil apa-apa. Mereka beribadah rutin, mereka berdoa, tapi hanya sebatas liturgi atau kebiasaan saja. Ada yang berpikir bahwa itu harus dilakukan hanya karena takut masuk neraka, bukan karena ingin membangun hubungan yang erat dengan Tuhan sehingga memiliki kehidupan yang kuat ditengah badai kehidupan. Meski rajin menjalankan ibadah mereka tetapi mereka sendiri sulit atau bahkan tidak bisa percaya kepada kekuatan yang bisa hadir di dalamnya. Betapa ini merupakan hal yang ironis. Di satu sisi orang berharap mukjizat terjadi dalam hidupnya, tetapi di sisi lain mereka sendiri ragu dan memungkiri kekuatannya.

Sikap seperti ini sebenarnya bukanlah hal yang baru. Kebiasaan memakai logika manusia yang terbatas dalam memahami kuat kuasa Tuhan yang tak terbatas bukan hanya masalah bagi orang percaya hari ini tapi sudah terjadi sejak jaman dahulu. Paulus menggambarkan hal ini sebagai salah satu fenomena yang akan semakin marak menjelang akhir jaman. "Secara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannya." (2 Timotius 3:5) Ini adalah satu dari sekian banyak hal serius yang digambarkan Paulus sebagai "masa yang sukar". (ay 1). Masa yang sukar, dalam benak kita itu berarti ada banyak krisis, bencana, peperangan, tekanan dan sebagainya. Benar, itu memang kerap terjadi akhir-akhir ini. Tetapi apa yang dikatakan oleh Paulus sebagai masa yang sukar ternyata bukan sekedar mengacu kepada kerusakan lingkungan atau bahkan krisis ekonomi. Masa-masa yang sukar menurut hemat Paulus adalah pada saat kejatuhan manusia semakin jauh dalam mementingkan dirinya sendiri. "Manusia akan mencintai dirinya sendiri dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri, mereka akan menjadi pemfitnah, mereka akan berontak terhadap orang tua dan tidak tahu berterima kasih, tidak mempedulikan agama, tidak tahu mengasihi, tidak mau berdamai, suka menjelekkan orang, tidak dapat mengekang diri, garang, tidak suka yang baik, suka mengkhianat, tidak berpikir panjang, berlagak tahu, lebih menuruti hawa nafsu dari pada menuruti Allah." (ay 2-4). Perhatikan bahwa sikap-sikap seperti ini bukan lahir dari orang tidak percaya tapi justru lahir dari orang-orang yang rajin menjalankan ibadah seperti yang disebutkan dalam ayat 5 di atas. Secara lahiriah mereka beribadah, tapi mereka sebenarnya menolak kekuatannya. They deny and reject it, they are still strangers to the power of it. ini merupakan teguran buat kita juga yang secara fisik hadir di gereja tetapi hanya sebagai sebuah ritual atau kebiasaan atau tradisi semata tanpa mengalami pertumbuhan iman apapun lewat itu semua. Kita memang beribadah, tetapi kita sendiri malah memungkiri kekuatannya. We pray but we reject the power of praying. 

Beribadah sangatlah penting. Paulus mengatakan "Latihlah dirimu beribadah". (1 Timotius 4:7b). Mengapa harus dilatih? Karena latihan rohani itu bisa membawa manfaat yang jauh lebih besar dari latihan badani/jasmani. "Latihan badani terbatas gunanya, tetapi ibadah itu berguna dalam segala hal, karena mengandung janji, baik untuk hidup ini maupun untuk hidup yang akan datang." (ay 8). Latihan jasmani akan sangat berguna bagi kesehatan dan daya tahan tubuh kita. Itu berguna bagi kehidupan kita di dunia saat ini, tetapi tidak akan ada gunanya lagi untuk hidup yang akan datang. Sedangkan melatih diri untuk beribadah akan berguna baik untuk hidup saat ini maupun yang akan datang nanti. Jadi jelas beribadah itu penting. Tapi jangan lupa bahwa kita pun harus tahu hakekatnya kita beribadah. Paham tujuannya, kegunaannya, kekuatannya, agar ibadah yang kita lakukan tidak menjadi sia-sia, tidak berhenti hanya sebatas menjalankan tradisi, sesuai kebiasaan atau tata cara liturginya saja. Ibadah yang dilakukan dengan benar akan mampu membangun iman kita untuk bertumbuh makin besar, berakar dalam Kristus semakin dalam, sehingga kita lagi terjebak memungkiri sendiri kekuatan di balik ibadah-ibadah yang kita lakukan itu.

Kalau untuk percaya terhadap pengalaman orang saja kita sulit, bagaimana mungkin kita bisa mengalaminya sendiri? Ibadah yang dilakukan hanya pada titik lahiriah saja tidak akan membawa manfaat apa-apa bagi kita. Kita akan terus semakin jauh dari pengalaman-pengalaman luar biasa bersama Tuhan. Kita tidak akan bisa merasakan mukjizatNya, penyertaan dan pertolonganNya yang ajaib, serta berbagai kuasa Tuhan yang terus dinyatakan hingga hari ini secara nyata. We can see it, feel it, experience it for real. Kita harus terus maju memahami kekuatan dari ibadah hingga pada suatu ketika nanti bisa mengalaminya langsung, bukan lagi hanya kata orang tetapi kita sudah mengalami sendiri. Semua orang percaya harus sampai kepada tingkatan seperti itu, dan itu akan sulit sekali apabila kita sendiri masih memungkiri kekuatannya.

Ibadah tidak boleh terbatas pada seremonial yang penuh dengan hafalan tanpa memahami esensinya. Ibadah tidak boleh berhenti pada tata cara, gerak tubuh, posisi dan ucapan yang sama berulang-ulang. Ibadah seharusnya diarahkan untuk membangun hubungan yang intim dengan Tuhan. Ibadah bukanlah tempat dimana kita hanya meminta dan terus meminta, mengeluh dan merengek tetapi lebih dari itu seharusnya dipergunakan untuk bersekutu denganNya, merasakan hadiratNya, mendengar suaraNya dan mengetahui kehendak dan rencanaNya yang terbaik atas kita, atau mendengar teguranNya ketika kita melakukan sesuatu yang salah. Tuhan tidak suka dengan orang-orang yang hanya menjalankan ibadah sebagai sebuah rutinitas atau ritual belaka. "Dan Tuhan telah berfirman: "Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan, maka sebab itu, sesungguhnya, Aku akan melakukan pula hal-hal yang ajaib kepada bangsa ini, keajaiban yang menakjubkan; hikmat orang-orangnya yang berhikmat akan hilang, dan kearifan orang-orangnya yang arif akan bersembunyi." (Yesaya 29:13-14). Perhatikan bahwa bahkan akan ada hukuman Tuhan yang jatuh kepada orang-orang yang hanya sebatas bibir saja memuliakan Tuhan, hanya sebatas hafalan, seremonial, kebiasaan, sementara hatinya tidak memancarkan kasih sama sekali kepada Tuhan. Sebaliknya kepada orang yang sungguh-sungguh mencari Tuhan dalam tiap ibadah yang mereka lakukan, Tuhan memberikan seperti ini: "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya dan memberi engkau kasih karunia; TUHAN menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera." (Bilangan 6:24-26). Ini akan diberikan sebagai berkat kepada kita jika kita meletakkan nama Tuhan di atas segalanya, termasuk dalam ibadah kita. (ay 27). Dan lihat pula Firman Tuhan berikut: "beribadahlah kepada TUHAN dengan segenap hatimu" (1 Samuel 12:20b). Beribadah harus dilakukan dengan segenap hati, dengan serius dan sungguh-sungguh dengan memiliki tujuan yang benar.

Tuhan tidak suka apabila kita mementingkan tata cara dan hal-hal lain di luar membangun kedekatan hubungan denganNya. Tuhan tidak suka ketika kita hanya ingin terlihat hebat rohani dari luar sementara di dalam iman kita malah tidak jelas bentuknya. Sebaliknya Tuhan akan disenangkan hatiNya kala melihat anak-anakNya yang rajin beribadah karena haus merasakan saat-saat teduh bersamaNya, rindu untuk terus bertemu dan mendengar pesan-pesanNya, dan tentu saja yang menunjukkan imannya dengan mengaplikasikan firman Tuhan secara nyata di dalam kehidupannya sehari-hari. Kita bukanlah hidup untuk terlihat hebat di depan manusia, tetapi justru yang terpenting adalah menghidupi sebuah kehidupan yang berkenan di mata Tuhan. Jika kita sudah beribadah tetapi masih juga meragukan atau menolak kuasa Tuhan, itu artinya masih ada yang harus kita perbaiki dalam melakukan ibadah kita. Percayalah bahwa Tuhan punya kuasa jauh melebihi segalanya dan mampu menjungkir-balikkan logika manusia. Itu masih terjadi secara nyata sampai hari ini, masih akan terjadi nanti, dan itu pun bisa kita alami secara langsung dalam kehidupan kita sendiri.

Jangan sia-siakan ibadah dengan hanya mementingkan tata cara dan kebiasaan saja

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, October 30, 2013

Tergesa-gesa Mengambil Keputusan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 21:5
===================
"Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan."

Hanya karena terlalu cepat mengambil keputusan, orang bisa mengalami kerugian besar yang mungkin bisa sulit dipulihkan dalam waktu singkat. Ini terjadi pada seorang teman saya. Ceritanya begini. Pada suatu kali ia ditawari rekannya untuk berinvestasi pada sesuatu. Karena tergiur oleh janji keuntungan, ia buru-buru mengiyakan, meski istri dan anak-anaknya sudah mencoba mengingatkannya untuk berpikir baik-baik terlebih dahulu mengingat uang yang harus diinvestasikan tidaklah sedikit. Ironisnya belakangan ia mengaku kepada saya bahwa sebenarnya hatinya juga kurang sreg setiap kali berdoa tentang investasi ini. Tapi itu tadi, karena keuntungan yang dijanjikan tampaknya besar, ia takut tawaran keburu diambil orang lain dan mengambil keputusan untuk melakukan itu. Ia menjual tanah, mobil dan menggadaikan beberapa benda berharga bahkan sempat berhutang demi melunasi sesuai kesepakatan. Tidak butuh waktu lama baginya untuk menyadari bahwa ia melakukan kesalahan besar. Investasi gagal dan uangnya dibawa lari. Ia pun sadar sudah ditipu, tetapi penyesalan datang terlambat. Hingga saat ini ia masih berjuang menutupi hutangnya dan harus rela kehilangan begitu banyak harta, belum lagi rasa bersalah yang harus ia pikul di depan istri dan anaknya yang harus pula ikut menanggung dan menderita akibat kecerobohan yang ia lakukan.

Ada seorang lagi yang saya kenal terus gagal dalam bisnis. Selama setidaknya 10 tahun terakhir, ia terus mencoba membangun usaha tapi terus bangkrut. Kerugian yang ia alami sudah sangat banyak, bahkan rekan dan saudaranya pun sudah ikut menjadi korban karena berinvestasi bersamanya. Selidik punya selidik, ternyata ia merupakan tipe orang yang tidak hati-hati. Ia tidak suka berpikir dan merencanakan matang-matang terlebih dahulu sebelum melakukan sesuatu, tidak mau repot dan terlalu tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Dan sebagai akibatnya, ia terus berganti-ganti usaha dan terus jatuh. Meski ia bukan tipe yang mudah menyerah, tapi kerugian baik waktu, uang, tenaga dan sebagainya sudah begitu besar.

Sebuah sikap tergesa-gesa selalu tidak membawa kebaikan atau keuntungan, tapi kerugian dan kemalanganlah yang seringkali menjadi akibatnya. Mengenai kerugian dari orang-orang yang suka tergesa-gesa atau terburu-buru mengambil keputusan, Salomo sudah mengingatkan sejak ribuan tahun yang lalu. "Rancangan orang rajin semata-mata mendatangkan kelimpahan, tetapi setiap orang yang tergesa-gesa hanya akan mengalami kekurangan." (Amsal 21:5). Orang yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan atau melakukan sesuatu tidak akan pernah memperoleh hasil baik, melainkan hanya akan mengalami kerugian. Seperti itulah orang-orang yang tidak memperhatikan pentingnya perhitungan yang matang sebelum melangkah. Mereka cenderung tergesa-gesa, bertindak serampangan tanpa hikmat, tanpa pertimbangan, tidak cermat dan sebagainya. Dan akibatnya kerugian atau kejatuhanlah yang menjadi hasilnya. Untuk menutupi kerugian yang timbul bisa jadi jauh lebih mahal ketimbang apabila itu dikerjakan sejak awal dengan pertimbangan matang dan cermat. Bahkan tidak menutup kemungkinan pula bahwa konsekuensinya akhirnya harus ditanggung sepanjang sisa hidup dan tidak bisa lagi diperbaiki. Salomo mengatakan bahwa rancangan orang rajinlah yang mendatangkan kelimpahan, bukan orang yang tergesa-gesa. Ada kata rancangan disana yang berarti perencanaan, pertimbangan yang matang dan cermat, lalu ada kata 'rajin' disana. Rajin dalam hal apa? Dalam banyak hal, seperti rajin berpikir, rajin memperhitungkan dengan baik, rajin menimbang, rajin belajar, rajin bekerja, rajin mendengar nasihat atau masukan dari orang lain dan sebagainya, termasuk tentu saja rajin berdoa.

Firman Tuhan juga berkata: "Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif...Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan." (Efesus 5:15,17). Kita harus arif, penuh hikmat dan tidak bebal atau bodoh dalam memahami kehendak Tuhan atas diri kita, karena itulah yang terbaik. Kita harus ingat bahwa "TUHAN menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya." (Mazmur 37:23). Ini janji Tuhan yang sudah disampaikan pada kita jauh-jauh hari. Kepekaan kita terhadap suara Tuhan akan membuat kita mampu menjaga setiap langkah agar rencana Tuhan tergenapi dalam sekuens demi sekuens hidup kita. Ini tepat seperti yang dilakukan oleh Pemazmur: "Aku memikirkan jalan-jalan hidupku, dan melangkahkan kakiku menuju peringatan-peringatan-Mu." (119:49). Lebih jauh lagi dalam Amsal dikatakan, "Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana." (Amsal 19:21). Itu artinya penting bagi kita untuk menyelaraskan setiap langkah sesuai rencana Tuhan agar kita tidak membuang-buang waktu secara sia-sia dan terus menerus mengalami kerugian. Kita harus mau mendengar dulu baik-baik apa sebetulnya rencana Tuhan bagi hidup kita, lalu melakukannya tepat seperti itu dengan pertimbangan yang matang dalam setiap langkah perencanaannya. Dan Salomo pun berkata: "Serahkanlah perbuatanmu kepada TUHAN, maka terlaksanalah segala rencanamu." (Amsal 16:3).

Hindarilah bertindak ceroboh dan tergesa-gesa dalam mengambil keputusan, baik yang berhubungan dengan pekerjaan, investasi, keluarga dan sebagainya. Apakah anda seorang pemimpin di pekerjaan, di lingkungan, di organisasi, lembaga atau cuma dalam keluarga, anda perlu kemampuan untuk mengambil keputusan yang tepat. Keragu-raguan dalam mengambil pertimbangan, bingung dalam menghadapi banyak opsi atau seperti yang menjadi tema kita hari ini, tergesa-gesa atau terburu-buru dalam memutuskan sesuatu hanya akan membawa kerugian, penyesalan dan penderitaan, baik terhadap diri sendiri maupun orang lain. Sebelum anda mengambil sebuah keputusan, lakukan pertimbangan menyeluruh terlebih dahulu dengan memikirkan berbagai aspek yang terkait termasuk orang-orang baik yang terlibat secara langsung maupun yang tidak langsung. Pikirkan masak-masak, jangan tergesa-gesa. Ambil waktu untuk tenang dan diam, sabar dan berdoalah. Tanyakan pada Tuhan mengenai langkah yang akan anda ambil, dengarkan baik-baik dan pastikan agar jangan ada keinginan-keinginan pribadi yang menghalangi suara Tuhan untuk bisa anda dengar. Meski anda rajin dan gigih dalam memperjuangkan sesuatu, tanpa pertimbangan matang, sebuah keputusan yang tergesa-gesa bisa membuat anda salah langkah dan akibatnya menderita kerugian yang tidak sedikit. "Tanpa pengetahuan kerajinanpun tidak baik; orang yang tergesa-gesa akan salah langkah." (Amsal 19:2). Jangan jadi orang yang ceroboh, tetapi jadilah orang bijak, berhikmat yang akan selalu berpikir matang dan berhati-hati dalam melangkah dan patuh menuruti kehendak Tuhan. Kecerobohan akibat tergesa-gesa dalam mengambil keputusan bisa menjadi awal dari datangnya banyak masalah dan bencana. Perhatikan baik-baik setiap langkah, selaraskan dengan rencana Tuhan dan tetap berpegang pada ketetapan-ketetapanNya. Menunda-nunda pengambilan keputusan memang bukan hal yang baik, tetapi tergesa-gesa pun bisa membawa konsekuensi berat untuk kita pikul. Terutama untuk sebuah keputusan besar, jangan buru-buru. Ambillah waktu untuk mempertimbangkan dan menyerahkan kepada Tuhan sebelum anda ambil.

Tergesa-gesa mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang baik bisa membawa kerugian besar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, October 29, 2013

Puji-pujian di Malam Hari

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 42:9
=======================
"TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku."

Malam hari merupakan saat yang paling rileks bagi saya. Setelah sibuk seharian, di malam hari saya relatif bisa lebih punya waktu untuk melakukan hal-hal yang saya anggap sebagai sebuah relaksasi yang bisa memberikan ketenangan dan kedamaian. Memang tidak jarang saya masih melanjutkan berbagai pekerjaan menulis pada malam hari, termasuk menulis renungan untuk dibagikan kepada anda semua, tapi suasana malam yang tidak seperti hiruk-pikuk siang hari membuat saya lebih santai dalam mengerjakan tulisan-tulisan yang belum sempat terselesaikan. Jika anda ada disini, anda akan melihat bahwa hampir setiap malamnya saya menulis dengan beratapkan bintang-bintang di langit gelap. Untuk bisa mendapatkan langit seperti ini saya memilih untuk tinggal jauh di pegunungan ketimbang di tengah kota, karena pemandangan indah di waktu malam ini sulit didapatkan jika berada ditengah gedung-gedung tinggi di perkotaan padat penduduk.

Keindahan malam dengan bintang dan bulan ini dirasakan oleh Daud, dan momen perenungannya saat melihat langit malam ini ia tuangkan dalam Mazmur 8. "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan:apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:4-5). Daud berkata: "Dibandingkan keindahan buah karyaMu atas langit yang indah ini, siapa manusia yang sangat Engkau peduli?"  Dalam ayat-ayat selanjutnya Daud menunjukkan bahwa ia paham akan keistimewaan manusia di antara ciptaan lainnya. Kita dibuat hampir sama seperti Allah dan dimahkotai dengan kemuliaan dan hormat (ay 6) dan diberi otoritas atas segala ciptaan lainnya. (ay 7-9). Daud mengambil momen merenung di malam hari, memanjatkan pujian dan rasa syukurnya atas anugerah Tuhan yang besar dan penempatan manusia yang sangat istimewa dalam pandanganNya.

Mengapa saya suka melakukan hal yang sama seperti Daud? Karena di malam hari suasananya lebih kondusif atau mendukung untuk bisa merenung dan menikmati kebaikan Tuhan tanpa gangguan. Di malam hari pula saya lebih sering mendengarkan lagu-lagu pujian dan penyembahan, dan terkadang turut pula bernyanyi kecil. Satu hal yang pasti, ada kekuatan di balik lagu-lagu pujian dan penyembahan ini. Ditengah keheningan malam lagu-lagu seperti itu tidak saja mampu membuat saya tenang dan rileks tapi bisa kembali segar setelah lelah beraktivitas sepanjang hari. Bahkan lagu-lagu rohani akan mengantar saya untuk masuk ke dalam hadirat Tuhan dan merasakan kasihNya yang luar biasa. Terlepas dari apapun yang saya alami sepanjang hari, seberat dan sesulit apapun, pujian di waktu malam dapat memulihkan kembali semuanya dan membawa sukacita hadir dalam hati saya. Itulah sebabnya saya tidak mau melewatkan kesempatan untuk merasakan kedamaian ini setiap malamnya.

Betapa seringnya mata kita hanya tertuju kepada permasalahan yang terjadi ketimbang menyadari kasih setia Tuhan yang senantiasa menyertai kita. Life is hard, that's true. Dalam perjalanan hidup kita akan bertemu dengan situasi-situasi sulit dan harus mengerti bahwa apa yang terjadi tidaklah selalu berjalan sesuai dengan apa yang kita harapkan. Ada saat senang, ada pula saat susah. Ada saat kita tertawa, ada pula saat kita menangis. Ada saat kita bergembira, ada saat kita bersedih. Ada saat kita segar, ada saat kita lelah. Ada kalanya beban terasa ringan, tetapi dalam kesempatan lain terasa sedemikian berat. Bahkan ada kalanya kita harus memberanikan diri berjalan dalam kegelapan. Tetapi ingatlah bahwa di saat seperti itu kita tetap berjalan dengan penyertaan Tuhan. Dia tidak akan pernah membiarkan kita menghadapinya sendirian, sebab firman Tuhan berkata "Sekalipun aku berjalan dalam lembah  kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4).

Kembali kepada kitab Mazmur, kita bisa melihat keteguhan iman Pemazmur yang menyadari betapa baiknya Tuhan dalam hidupnya. "TUHAN memerintahkan kasih setia-Nya pada siang hari, dan pada malam hari aku menyanyikan nyanyian, suatu doa kepada Allah kehidupanku." (Mazmur 42:9). Seringkali saat kita disibuki berbagai aktivitas pada jam-jam kerja kita lupa bahwa Tuhan tetap ada bersama kita dengan kasih setiaNya. He's with us all the way. Saat malam hari sebelum kita beristirahat, bukankah akan sangat baik dan indah apabila kita mengambil waktu sejenak untuk menikmati hadiratNya, bersyukur atas kasih setia dan anugerahNya sepanjang hari dan memanjatkan puji-pujian? Anda bisa melakukannya bersama keluarga anda, saling mendoakan dan menguatkan, berbagi cerita dan masuk kehadiratNya bersama-sama. Cobalah ambil waktu untuk melakukan hal ini maka anda akan merasakan sendiri betapa bahagianya hidup berjalan bersama Allah dengan seisi rumah.

Mengenai manusia yang hanya memandang besar dan beratnya masalah lalu melupakan keberadaan Tuhan bisa kita lihat lewat Ayub. "Orang menjerit oleh karena banyaknya penindasan, berteriak minta tolong oleh karena kekerasan orang-orang yang berkuasa".(Ayub 35:9), "tetapi orang tidak bertanya: Di mana Allah, yang membuat aku, dan yang memberi nyanyian pujian di waktu malam.." (ay 10).  Bukankah itu yang sering terjadi? Mengapa kita hanya berteriak dalam kesesakan tetapi lupa untuk memuji penyertaan Tuhan yang sesungguhnya tidak pernah hilang dari hidup kita? Mengapa kita hanya mengeluh sehingga lupa bersyukur? Mengapa kita cenderung lebih tertarik untuk merasakan beban berat penderitaan ketimbang memfokuskan pandangan kepada Tuhan dengan kuasa serta kasih setiaNya? Mengapa kita lebih suka untuk merasa takut atau khawatir daripada mengambil waktu sejenak untuk duduk di kakiNya, mendengar apa kata Tuhan?

Selain kita menghormati dan memuliakan Tuhan lewat puji-pujian, ingatlah bahwa ada kuasa besar disana. Dari contoh keruntuhan tembok Yerikho kita bisa melihat hal itu. Tembok Yerikho runtuh di hari ke tujuh setelah dikelilingi berhari-hari. Selain memang Allah sendiri yang telah menjanjikan, "Berfirmanlah TUHAN kepada Yosua: "Ketahuilah, Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa." (Yosua 6:2), tapi lihatlah bahwa pujian dan sorak sorai bagi Tuhan akhirnya mampu meruntuhkan tembok itu. "Lalu bersoraklah bangsa itu, sedang sangkakala ditiup; segera sesudah bangsa itu mendengar bunyi sangkakala, bersoraklah mereka dengan sorak yang nyaring. Maka runtuhlah tembok itu, lalu mereka memanjat masuk ke dalam kota, masing-masing langsung ke depan, dan merebut kota itu." (ay 20). Dalam kisah lain, kita tahu bagaimana Gideon dengan prajurit berjumlah hanya 300 orang mampu menaklukkan musuh tak terhitung banyaknya, seperti belalang dan pasir di tepi laut, lewat puji-pujian dan gemuruh suara sangkakala, dan ini bisa kita baca dalam Hakim Hakim 7. Contoh lain bisa kita lihat lewat Paulus dan Silas yang sedang dipasung dalam penjara. Dalam situasi seperti itu mereka mengambil keputusan untuk tidak meratapi diri melainkan berdoa dan memanjatkan puji-pujian kepada Tuhan. "Tetapi kira-kira tengah malam Paulus dan Silas berdoa dan menyanyikan puji-pujian kepada Allah dan orang-orang hukuman lain mendengarkan mereka." (Kisah Para Rasul 16:25). Hasilnya tertulis jelas dalam Alkitab. "Akan tetapi terjadilah gempa bumi yang hebat, sehingga sendi-sendi penjara itu goyah; dan seketika itu juga terbukalah semua pintu dan terlepaslah belenggu mereka semua." (ay 26). Bukan hanya bebas, tetapi keputusan mereka pun membawa pertobatan orang lain. (ay 30-33). Lihatlah bagaimana besarnya kuasa di balik puji-pujian, dan itu semua bisa terjadi karena ada Tuhan yang bertahta/bersemayam di atas puji-pujian. (Mazmur 22:4).

Meski kita disibuki berbagai aktivitas di siang hari, masih maukah kita menyadari bahwa Tuhan sebenarnya tidak pernah lupa menyertai kita? Sudahkah anda memuji Tuhan malam ini? Ingatlah bahwa Tuhan sendiri yang telah memberikan kita nyanyian pujian di waktu malam, alangkah baiknya jika kita pergunakan itu untuk memuji dan menyembahNya kembali. Daripada mengeluh, bersungut-sungut, menggerutu, berkeluh kesah atau mengutuk, tidakkah jauh lebih baik apabila kita menaikkan pujian untuk Tuhan? Ada kuasa di balik puji-pujian. Bukan saja kita memuliakan dan menyenangkan hati Tuhan lewat puji-pujian tulus dari hati kita, tetapi kita pun akan diberi kelegaan, kekuatan, semangat dan sukacita baru untuk terus melangkah melewati hari demi hari yang sulit. Ambil waktu khusus malam ini, ajak keluarga anda dan bangun hubungan yang indah dengan Tuhan. Tanyakan kepada Tuhan apa yang harus anda lakukan, minta apa yang anda butuhkan, tapi diatas segalanya, ucapkan syukur atas penyertaanNya yang penuh kasih setia terhadap anda beserta keluarga. Cobalah dan anda akan langsung merasakan bedanya.

"Menyanyilah bagi TUHAN, pujilah nama-Nya, kabarkanlah keselamatan yang dari pada-Nya dari hari ke hari." (Mazmur 96:2)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, October 28, 2013

Cuma Ikut-Ikutan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 1:10
====================
"Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut"

"Saya hanya ikut-ikutan pak.. ampun.." ujar seorang pemakai narkoba dengan lirih sambil tertunduk lesu. Ia tertangkap tangan ketika tengah berpesta obat-obatan terlarang. Meski masih muda, ia menghadapi ancaman hukuman cukup lama akibat perbuatannya, bahkan menjadi tersangka pengedar yang tentu akan menambah masa hukumannya. Meski ada banyak yang berdalih hanya ikut-ikutan, tidak jarang pula ada yang memang benar-benar terjerumus akibat salah bergaul. Karena ingin dianggap hebat atau takut kehilangan teman, banyak orang yang akhirnya memilih untuk melakukan tindakan buruk yang bukan saja merusak masa depannya sendiri tetapi juga orang lain. Pemakai narkoba, perampok, koruptor atau bahkan pembunuh bisa berawal dari salah mengikuti ajakan teman yang tidak bertanggung jawab. Mereka lupa bahwa meski hanya ikut-ikutan, merekapun bisa mendapat ancaman hukuman yang sama apabila menjadi pelaku sebuah tindak kejahatan. Akan halnya si pemakai narkoba di atas, ia pun harus menanggung akibat perbuatannya, mendekam di penjara untuk waktu yang lama.

Pergaulan yang salah bisa merusak seseorang. Tadinya orang itu hidup baik, tetapi ketika masuk ke dalam lingkungan pergaulan yang salah mereka terjerumus ikut-ikutan masuk ke dalam dosa. Mungkin mulanya bisa berkata tidak, tapi lama kelamaan tidak kuasa menolak sehingga dosa pun dilakukan. "Ah, cuma sekali ini saja, tidak apa-apa." begitu mungkin pikiran yang muncul. Toleransi atas dosa mulai diberikan, dan yang terjadi selanjutnya, orang yang tadinya baik bisa berubah menjadi orang-orang yang tidak lagi peka terhadap pelanggaran ketetapan Tuhan.

Hidup di dunia yang penuh dengan keinginan-keinginan daging yang dipercaya sebagai hal yang membahagiakan oleh orang-orang yang tidak takut akan Tuhan tidaklah mudah. Orang-orang ini akan berusaha menarik kita. Mereka ada di sekitar kita dan akan terus menawarkan sesuatu yang sepintas mungkin saja terlihat menyenangkan dan nikmat, tetapi ada banyak dosa yang mengintip di baliknya. Kalau tidak hati-hati kita bisa terjerumus ke dalamnya dan akibatnya mau tidak mau harus siap menanggung konsekuensinya. Sebuah lingkungan pertemanan yang tidak sehat seringkali menjerumuskan orang ke dalam dosa. Konsekuensinya kelak harus kita tanggung, dan penyesalan sering datang terlambat.

Apakah ini berarti kita tidak boleh membuka diri seluas-luasnya untuk berteman dengan banyak orang? Tentu saja bukan itu maksudnya. Kita tidak dilarang untuk berteman dengan orang lain, hanya saja kita harus memperhatikan benar dengan siapa kita menjalin hubungan pertemanan. Tidak peduli sekuat apapun iman kita, ketika kita terus menerus memberi toleransi akan dosa maka cepat atau lambat kita bisa terpengaruh dan terjebak dalam bermacam-macam dosa.

Adakah peringatan yang spesifik menyangkut hal ini di dalam Alkitab? Tentu saja ada, bahkan sudah sejak masa Salomo. Dalam Amsal ia menulis: "Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut." (Amsal 1:10). Pesan penting tentu saja. Lewat hikmatnya Salomo sudah bisa melihat kecenderungan manusia yang gampang termakan bujukan atau rayuan untuk berbuat dosa. Orang-orang berdosa akan selalu mencari orang lain untuk mengikuti gaya hidup mereka yang salah. Dan sayangnya, kita kerap menurut karena banyak alasan. Takut dianggap ketinggalan jaman, ingin menjaga gengsi atau segan jika menolak, takut dikucilkan dari pergaulan dan sebagainya. Kita tidak sadar hanya karena alasan-alasan ini kita bisa mengorbankan masa depan kita, membuang janji-janji Tuhan dan membuka awal bagi kejatuhan kita sendiri.

Selain dalam Amsal, ada banyak pula firman Tuhan yang mengingatkan bahayanya bermain-main dengan dosa. Mungkin awalnya hanya coba-coba, mungkin hanya ingin tahu, ikut-ikutan dan sebagainya, tetapi ingatlah bahwa meski terlihat sepele hal seperti ini bisa menjadi awal hadirnya masalah. Dosa baik besar atau kecil tetaplah dosa yang punya konsekuensi. Yakobus menyampaikan gambaran betapa berbahayanya ketika kita mulai bertoleransi dengan dosa. "Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut." (Yakobus 1:15). Berawal hanya dari keinginan, kemudian ketika dibuahi itu akan melahirkan dosa. Dan ketika dosa menjadi matang dalam diri kita maka itu akan berujung pada maut.

Ini adalah peringatan yang harus kita cermati dengan sangat serius. terlebih jika mengingat kita hidup di dunia yang dipenuhi orang-orang yang siap menyesatkan kita, baik mereka sadar atau tidak. Mereka akan terus menawarkan banyak kenikmatan yang sangat dirindukan oleh daging kita. Itulah sebabnya kita benar-benar harus berhati-hati dalam lingkungan pergaulan kita. Tentu saja sangat baik jika kita bisa membawa pengaruh perubahan yang baik di tengah lingkungan yang buruk, membawa mereka masuk dalam pertobatan dan berbalik dari jalan-jalan yang jahat. Tetapi kita harus berhati-hati agar jangan sampai bukannya membawa pengaruh baik tetapi malah kita yang terjerumus ke dalam rupa-rupa dosa.

Paulus merinci keinginan-keinginan yang bisa berbuah dosa dan melahirkan maut. "Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya." (Galatia 5:19-21a). Dan terhadap pelaku dari semua itu tidak akan mendapatkan bagian dalam Kerajaan Allah. (ay 21b). Jika kita lihat satu persatu, jenis-jenis ini bukan lagi hal yang asing bagi kita yang bisa masuk lewat banyak cara. Karenanya kita perlu waspada dan berpikir baik-baik sebelum memutuskan sesuatu.

Paulus juga sudah mengingatkan agar kita waspada dalam pergaulan. "Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik." (1 Korintus 15:33). Kita harus memperhatikan dengan sungguh-sungguh kepada dan dengan siapa kita bergaul. Kita memang tidak boleh memusuhi mereka, tetapi adalah wajib bagi kita untuk berhati-hati agar jangan termakan bujukan mereka lalu masuk ke dalam jebakan dosa.  Kembali kepada ayat Amsal diatas, perhatikanlah bahwa Salomo kemudian melanjutkan dengan  "..mereka menghadang darahnya sendiri dan mengintai nyawanya sendiri" (Amsal 1:18). Orang-orang yang bertoleransi dengan menikmati dosa sebenarnya sedang melakukan self-destruction, menghancurkan diri sendiri dan mengarahkan dirinya menuju kebinasaan. Peran kita adalah untuk menyadarkan dan menyelamatkan mereka dari kebinasaan bukannya malah ikut-ikutan masuk ke dalamnya. Kita harusnya menjadi contoh atau teladanbukannya malah dengan mudah terbujuk untuk ikut-ikutan. Firman Tuhan pun mengingatkan "Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna." (Roma 12:2).

Segala perbuatan dosa sesungguhnya berasal dari Iblis. Dan Yesus pun sudah hadir ke dunia atas kebesaran kasih Allah pada diri kita untuk membayar lunas semua itu. Alkitab menyatakan demikian: "barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab Iblis berbuat dosa dari mulanya. Untuk inilah Anak Allah menyatakan diri-Nya, yaitu supaya Ia membinasakan perbuatan-perbuatan Iblis itu." (1 Yohanes 3:8). Dosa-dosa memang bisa hadir dalam berupa kemasan yang terlihat indah dan penuh kenikmatan, lewat bujukan-bujukan teman yang terasa sayang untuk dilewatkan, tetapi apa yang sesaat itu sama sekali tidak sebanding dengan akibat yang harus kita tanggung selamanya kelak. Hari ini marilah kita sama-sama mawas diri memperhatikan pergaulan kita dan terlebih lagi menjaga diri kita. Hanya ikut-ikutan tidak akan pernah bisa diangkat menjadi alasan, karena biar bagaimanapun akan ada konsekuensi yang harus siap kita tanggung ketika kita sudah terlanjur terjerumus ke dalam dosa.

When someone ask you to do bad things, say no

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, October 27, 2013

Solusi lewat Alkitab

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 15:4
===================
"Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci."

Jika anda membeli sebuah alat, mesin atau gadget, anda akan menemukan buku manual yang bisa memandu anda dalam memahami berbagai fitur, fungsi dan kegunaan dari alat tersebut. Anda mungkin bisa mempergunakan alat tanpa buku manual, tapi anda akan melewatkan banyak fungsi lainnya yang mungkin saja bisa sangat besar manfaatnya. Sekarang coba lihat hidup kita. Ada begitu banyak masalah yang datang dan pergi, baik besar dan kecilnya, dan itu semua harus kita hadapi ketika datang menghampiri kita. Alangkah sangat membantu jika kita memiliki buku manual tentang bagaimana cara menghadapi setiap jenis persoalan, apa yang harus dihindari, apa yang harus dilakukan, apa yang harus diingat dan apa yang harus diwaspadai. Manusia yang lemah sesungguhnya rentan untuk hancur berantakan jika tidak hati-hati, sama seperti alat yang bisa rusak dalam waktu singkat jika anda tidak tahu bagaimana memakainya. Apakah ada buku panduan atau manual yang bisa menuntun kita? Tentu saja. Kita punya Alkitab yang akan menjawab segala persoalan, apa yang mungkin menjadi penyebabnya sekaligus memberi solusi yang lengkap.

Cobalah berjalan bersama firman-firman Tuhan dalam hidup, maka anda akan merasakan sendiri perbedaannya. Saya sudah merasakan langsung betapa besar manfaat yang bisa diperoleh antara berjalan bersama Tuhan atau tidak. Perbedaannya sangat besar dan akan langsung terasa. Saya tidak mengatakan bahwa anda akan 100% hidup tanpa masalah. Bukan, that's not the point. The point is, anda akan tahu betapa tenangnya jika anda berjalan bersamaNya. Kita tidak perlu khawatir, tidak perlu cemas, tidak perlu takut karena tahu ada Tuhan bersama kita.

Paulus berkata dalam surat Korintus bahwa yang ia beritakan adalah "hikmat Allah yang tersembunyi dan rahasia, yang sebelum dunia dijadikan, telah disediakan Allah bagi kemuliaan kita". (1 Korintus 2:7). Ada banyak rahasia-rahasia yang tersembunyi di balik setiap ayat dalam Alkitab, yang oleh karunia Roh Kudus disingkapkan untuk membuat kita hidup lebih baik lagi dari hari ke hari sesuai dengan rencanaNya. Anda bisa bayangkan apabila secuil saja rahasia Kerajaan ini dibuka buat kita, kita tentu akan jauh terbantu dalam menjalaninya. Apalagi jika anda mendalami seluruhnya, ketika seluruh rahasia yang tersembunyi itu tersingkapkan.

Lantas lihatlah pesan Tuhan lainnya: "Sebab segala sesuatu yang ditulis dahulu, telah ditulis untuk menjadi pelajaran bagi kita, supaya kita teguh berpegang pada pengharapan oleh ketekunan dan penghiburan dari Kitab Suci." (Roma 15:4). Semua itu telah Tuhan sediakan bagi kita, agar kita bisa mendapat pelajaran mengenai bagaimana mengalami kehidupan yang berkemenangan. Kita bisa terhindar dari lekas berputus asa, kita bisa memperoleh penghiburan, dan melatih ketekunan kita dengan pengharapan tanpa henti.

Seperti yang saya katakan di atas, saya sudah merasakan sendiri indahnya berjalan bersama Firman Tuhan setiap harinya. Indah disini bukan berarti bahwa hidup menjadi lebih mudah, tanpa masalah dan berlimpah-limpah. Tentu bukan seperti itu. Saya pun menghadapi masalah-masalah tersendiri. Tetapi yang membedakan adalah saya merasakan adanya Tuhan dalam setiap hal yang saya jalani, dan itu sangatlah luar biasa indahnya. Saya tidak perlu kehilangan sukacita dan damai sejahtera meski kondisi mungkin sedang sulit-sulitnya. Dengan berpegang teguh dan percaya sepenuhnya kepada Tuhan, saya tidak harus kehilangan harapan dalam kondisi separah apapun. Saya tahu Dia meneguhkan, FirmanNya hidup, dan itu menjadi pegangan yang mampu membuat saya tetap semangat dalam segala kondisi. Karena itu saya merasa sangat senang membagikan Firman Tuhan setiap harinya untuk bersama-sama kita renungkan. Apa yang saya tulis bukan hanya ditujukan kepada pembaca, tetapi juga berguna bagi saya sendiri. Karena rutin menyampaikan firman Tuhan setiap harinya, saya mendapatkan kesimpulan penting, yaitu bahwa segala jawaban dalam kehidupan ini sesungguhnya tertulis di dalam Alkitab. Apapun permasalahan yang ada, apapun pergumulan kita, apapun yang kita butuhkan, pertanyaan apapun yang butuh jawaban, Firman Tuhan dalam Alkitab menjawab dan memberi solusinya. Itulah sebabnya saya terus haus akan Firman Tuhan setiap hari dan selalu rindu membagikannya karena selalu saja ada jawaban disana yang akan sangat berguna bagi kita semua.

Ada pula ayat yang berkata: "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16). Lihatlah betapa besar manfaat yang diberikan Firman Tuhan kepada kita. Dalam tiap ayatnya selalu ada bimbingan yang mengarahkan kita dalam kebenaran, dan itu bisa memberi hikmat dan menuntun kepada keselamatan oleh iman akan Kristus (ay 15). Lalu lihat ayat pembuka Mazmur dikatakan: "Berbahagialah orang yang..kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Dari Mazmur ini kita bisa melihat dahsyatnya kuasa yang akan menyertai orang-orang yang gemar membaca, merenungkan dan melakukan firman Tuhan. Kita akan kehilangan itu semua apabila kita menyia-nyiakan atau mengabaikan kesempatan yang ada untuk mengetahui segala tulisan yang diilhamkan Allah kepada kita seperti yang sudah tertulis di dalam Alkitab.

Alkitab secara komplit telah menyatakan segala hal, pesan, janji dan jawaban yang bisa menuntun kita dalam kebenaran menuju keselamatan. Alkitab memberi hikmat kepada kita. Ada kuasa di dalamnya, dan Firman itu hidup. Semua itu akan lepas dari genggaman kita apabila kita tidak juga mau meluangkan waktu untuk membaca, merenungkan, memperkatakan dan melakukannya. Segala tuntunan dalam perjalanan kehidupan, segala jawaban dari pertanyaan dan kesulitan-kesulitan kita hingga selamat sampai di tujuan sudah tesedia dalam Alkitab. Semua terpulang kepada diri kita, apakah kita mau mulai untuk membacanya dengan serius dan sungguh-sungguh atau hanya membiarkan Alkitab kita tergeletak tanpa disentuh. Kalaupun memegangnya terasa berat, dengan gadget-gadget sekarang seharusnya kita sudah lebih terbantu untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan sehingga tidak lagi ada alasan yang bisa menghambat akses kita. Jika saya sudah dan akan terus mendapatkan segala jawaban tentang kehidupan baik yang saat ini maupun yang akan datang lewat Alkitab, saya percaya anda pun pasti demikian. Semakin banyak yang anda ketahui, semakin banyak rahasia Kerajaan Allah yang disingkapkan, maka semakin anda tahu bahwa hidup ini sangatlah indah jika dijalani bersama Sang Pencipta.

Alkitab menjawab semua pertanyaan dan permasalahan dalam hidup kita dan memberi jalan keluar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, October 26, 2013

Hidup seperti Pohon Badam

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Bilangan 17:8
=====================
"Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam."

Mari kita lanjutkan renungan kemarin mengenai tongkat Harun yang mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam seperti ayat bacaan di atas. Jika kemarin kita memfokuskan ayat ini sebagai pengingat bahwa Tuhan punya kuasa lebih dari cukup untuk mengembalikan kehidupan yang penuh pengharapan dari apa yang sudah mati, hari ini mari kita lihat yang tumbuh di tongkat Harun, yaitu buah badam. Kita bisa menemukan pohon badam dalam beberapa kesempatan berbeda di Alkitab. Ini adalah pohon yang mungkin jarang sekali disebut namanya, sehingga kita akan mengetahui lebih jauh mengenai makna buah badam yang tumbuh di tongkat Harun ini jika mengenal karakteristik pohon tersebut.

Pohon Badam adalah jenis pohon yang berbeda dari kebanyakan pohon karena mampu tumbuh pada keempat musim. Bahkan ketika musim salju saat pohon-pohon lainnya kebanyakan meranggas, pohon badam malah berbunga dengan indahnya. Bunganya berwarna putih, sehingga serasi dan menambah keindahan ketika dipandang pada musim salju. Selain mampu berbunga pada keempat musim, pohon badam ini juga seringkali diasosiasikan dengan pohon yang berbunga lebih awal, karena kemampuannya untuk berbunga disaat pohon-pohon lain masih "tidur" pada musim ini. Tidak banyak pohon yang bisa bertahan selama empat musim penuh dan terus berbunga, tetapi pohon badam bisa. Itulah sebabnya sangat menarik melihat pohon badam ini berulang kali disebutkan di dalam Alkitab, dan tentu ada tujuannya mengapa pohon ini diangkat untuk menyampaikan dan mengajarkan sesuatu bagi kita.

Selain dalam kisah Harun di atas, pohon badam juga disebutkan dalam kitab Yeremia. Pada suatu hari saat Yeremia mendapatkan tugas dari Tuhan, Tuhan memberikannya dua buah penglihatan. Yang pertama ia lihat adalah sebatang dahan pohon badam. Ayatnya berbunyi demikian: "Sesudah itu firman TUHAN datang kepadaku, bunyinya: "Apakah yang kaulihat, hai Yeremia?" Jawabku: "Aku melihat sebatang dahan pohon badam." (Yeremia 1:11). Apa yang dilihat oleh Yeremia merupakan visi dari Tuhan. Dan Tuhan pun membenarkan apa yang ia lihat (ay 12). Setelah itu datanglah penglihatan kedua. "Firman TUHAN datang kepadaku untuk kedua kalinya, bunyinya: "Apakah yang kaulihat?" Jawabku: "Aku melihat sebuah periuk yang mendidih; datangnya dari sebelah utara." (ay 13). Kontras dengan penglihatan pertama, penglihatan kedua menunjukkan datangnya periuk yang mendidih dari utara. Ini menunjukkan bahwa akan ada malapetaka yang menimpa penduduk yang jahat di mata Tuhan berasal dari utara. Bahkan Tuhan sendiri memberi penjelasan tentang penglihatan ini. "Lalu firman TUHAN kepadaku: "Dari utara akan mengamuk malapetaka menimpa segala penduduk negeri ini. Sebab sesungguhnya, Aku memanggil segala kaum kerajaan sebelah utara, demikianlah firman TUHAN, dan mereka akan datang dan mendirikan takhtanya masing-masing di mulut pintu-pintu gerbang Yerusalem, dekat segala tembok di sekelilingnya dan dekat segala kota Yehuda." (ay 14-15). Ini bentuk hukuman Tuhan atas segala kejahatan bangsa Yehuda yang sudah sangat keterlaluan pada masa itu. Keterlaluan seperti apa? Ayat berikutnya kesalahan mereka pun disebutkan. "Maka Aku akan menjatuhkan hukuman-Ku atas mereka, karena segala kejahatan mereka, sebab mereka telah meninggalkan Aku, dengan membakar korban kepada allah lain dan sujud menyembah kepada buatan tangannya sendiri." (ay 16). Lihatlah kesalahan mereka yang berani menduakan Allah. Dan itu membawa akibat serius dan fatal. Bagi mereka yang jahat ini Tuhan menghukum dengan kemurkaanNya seperti periuk mendidih. Sebaliknya di sisi lain, dahan pohon badam yang berbunga indah tersedia bagi Yeremia dan siapapun yang tetap teguh, taat dan setia kepada Tuhan.

Tuhan mengatakan kepada Yeremia: "Tetapi engkau ini, baiklah engkau bersiap, bangkitlah dan sampaikanlah kepada mereka segala yang Kuperintahkan kepadamu. Janganlah gentar terhadap mereka, supaya jangan Aku menggentarkan engkau di depan mereka!" (ay 17). Inilah tugas Yeremia yang jelas sangat tidak gampang, menyampaikan bahwa saatnya sudah tiba bagi hukuman Tuhan untuk jatuh kepada bangsa itu atas kejahatan mereka. pesan Tuhan agar mereka segera berbalik dari kejahatan mereka, kembali kepada Bapa yang telah begitu banyak menunjukkan kasih dan kebaikanNya kepada mereka. Mereka harus segera bertobat agar jangan sampai periuk mendidih ini jatuh atas mereka. Janganlah periuk mendidih yang menjadi bagian mereka, tetapi hendaknya pohon badam, pohon yang terus tumbuh, berbunga dan berbuah empat musim penuhlah yang terjadi atas mereka.

Kalau kita lihat, janji lewat pohon badam ini sejalan dengan apa yang tertulis pada awal kitab Mazmur. "Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh, tetapi yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam.Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi Kaliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Pohon badam memiliki karakteristik tepat seperti itu. Pohon ini tidak layu dan terus berhasil tumbuh meski dalam iklim atau musim yang berbeda. Dan kitab Mazmur ini memberikan kunci bagi kita agar bisa memiliki karakteristik yang sama, sama seperti seruan dari Tuhan yang diberikan kepada Yeremia untuk mengingatkan bangsa Yehuda pada saat itu agar bertobat, berbalik dari jalan-jalan yang salah dan kembali kepada jalan Tuhan.

Orang percaya seharusnya hidup seperti pohon badam. Di tengah badai apapun, ditengah kesulitan atau lingkungan yang tidak kondusif sekalipun bisa tetap mengeluarkan tunas, berbunga dan berbuah. Itulah gambaran umat Tuhan yang ideal seperti rencana Tuhan atas kita. Tuhan sendiri telah menyediakan segala yang dibutuhkan agar kita bisa seperti itu. Kita bisa lelah dalam menghadapi masalah, tapi Tuhan siap untuk terus gendong kita sampai tua, "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 46:4), Bukan itu saja, Tuhan bahkan siap untuk berperang bagi kita. "Janganlah takut kepada mereka, sebab TUHAN, Allahmu, Dialah yang berperang untukmu." (Ulangan 3:22). Atau lihat pula apa yang dikatakan Yahaziel ketika ia dihinggapi Roh Tuhan dalam kitab 2 Tawarikh: "Camkanlah, hai seluruh Yehuda dan penduduk Yerusalem dan tuanku raja Yosafat, beginilah firman TUHAN kepadamu: Janganlah kamu takut dan terkejut karena laskar yang besar ini, sebab bukan kamu yang akan berperang melainkan Allah." (2 Tawarikh 20:15). TAda banyak lagi janji-janji Tuhan lainnya yang akan memampukan kita untuk terus tumbuh berbunga dan berbuah subur sepanjang musim, baik pada musim yang tenang maupun sulit. Semua itu akan luput apabila kita tidak tertarik untuk mencari tahu, merenungkan dan melakukan ribuan janji Tuhan yang terdapat di dalam Alkitab. Bagian mana yang akan hadir pada kita dari penglihatan Yeremia, apakah pohon badam atau periuk yang mendidih, semua tergantung dari keputusan kita sendiri. Oleh karena itu mari kita perhatikan baik-baik cara hidup kita.  Sudah sejauh mana kita mengaplikasikan Firman Tuhan dalam hidup, sudah seberapa jauh kita taat dan setia kepadaNya. Itu akan sangat menentukan apa yang akan menjadi bagian kita, apakah periuk mendidik atau pohon badam yang mampu bertunas, berbunga indah dan berbuah subur pada segala keadaan.

Tuhan ingin kita hidup kuat dan subur bagai pohon badam

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, October 25, 2013

Tongkat Mati Bertunas Baru

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Bilangan 17:8
===================
"Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam."

Tentu tidak sulit membedakan orang yang hidup dengan mati. Orang yang sudah mati tidak akan merespon kontak dari kita dan tidak lagi bisa berinteraksi. Secara fisik, tubuh pun akan kaku, mulai menghitam dan mengalami pembusukan. Tapi ada banyak orang pula yang meski raganya masih hidup, mereka sesungguhnya sudah mati. Mati dalam artian sudah tidak lagi punya harapan, tidak lagi punya semangat, merasa bahwa mereka tidak akan pernah bisa bangkit dari keterpurukan, sembuh dari penyakit, bebas dari masalah atau merasa semuanya sudah terlambat. Banyak yang sudah begitu lama hidup dengan kekosongan atau kehampaan dalam diri mereka. Secara fisik mereka masih hidup, tapi tidak ada lagi vitalitas yang menjadi salah satu ciri jiwa yang hidup dalam diri mereka.

Mari kita lihat sebuah kisah menarik yang terjadi pada masa Musa dan Harun dalam Bilangan 17. Pada sutau kali Tuhan memerintahkan Musa untuk mengumpulkan tongkat dari pemimpin-pemimpin tiap suku dan menuliskan nama pemimpin pada masing-masing tongkat. Secara spesifik Tuhan menyuruh nama Harun ditulis pada tongkat suku Lewi. Tongkat itu kemudian harus diletakkan di dalam Kemah Pertemuan dimana peti yang berisi tabut Perjanjian diletakkan. Tuhan lalu bersabda: "Dan orang yang Kupilih, tongkat orang itulah akan bertunas; demikianlah Aku hendak meredakan sungut-sungut yang diucapkan mereka kepada kamu, sehingga tidak usah Kudengar lagi." (Bilangan 17:5). Keesokan harinya, ternyata tongkat Harunlah yang mengeluarkan tunas. "Ketika Musa keesokan harinya masuk ke dalam kemah hukum itu, maka tampaklah tongkat Harun dari keturunan Lewi telah bertunas, mengeluarkan kuntum, mengembangkan bunga dan berbuahkan buah badam." (ay 8). Kemudian Tuhan berfirman kepada Musa, "Kembalikanlah tongkat Harun ke hadapan tabut hukum untuk disimpan menjadi tanda bagi orang-orang durhaka, sehingga engkau mengakhiri sungut-sungut mereka dan tidak Kudengar lagi, supaya mereka jangan mati." (ay 10).

Tongkat biasanya terbuat dari kayu yang sudah mati. Akan aneh apabila kita melihat tongkat yang tiba-tiba mengeluarkan tunas, daun bahkan bunga. Apa yang dialami oleh Harun menjadi sebuah momen yang baik dalam menyaksikan kuasa Tuhan yang ajaib, yang bisa memperteguh iman agar bangsa itu tidak lagi bersungut-sungut dan karenanya tidak harus menerima hukuman. Di sisi lain, tunas dan bunga badam yang tumbuh di tongkat yang merupakan sebuah benda mati berbicara mengenai kehidupan yang kembali muncul dari sesuatu yang sudah mati. Ya, Tuhan bisa memberikan itu. Memulihkan anda dari masalah yang tersulit, menyembuhkan anda dari penyakit mematikan, mengangkat anda keluar dari pergumulan dan meletakkan anda di tempat yang aman. Tuhan punya kuasa lebih dari cukup untuk melakukan itu. Kita bisa melihat bahwa Daud mengerti akan hal ini dan bisa dengan yakin berkata: "Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku." (Mazmur 40:2-3). Singkatnya, Tuhan bisa memulihkan anda dari kondisi mati jiwa, menumbuhkan tunas-tunas baru bahkan bunga sehingga anda bisa kembali berjalan mantap dengan pengharapan kuat.

Dengan memberi diri dibaptis dan kemudian menerima Kristus pun sebenarnya kita menerima anugerah untuk kembali lahir baru, menjadi ciptaan baru, becoming the whole new creation. "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17). Seperti itulah kita yang dimatikan dari dosa, lalu keluar kembali menjadi ciptaan baru, persis seperti tongkat Harun yang kemudian bertunas dan berbunga. Ini adalah sebuah anugerah yang memberi kita kesempatan besar untuk memulai sesuatu yang baru dengan jaminan keselamatan apabila kita menjalaninya dengan benar. Sebenarnya dengan hidup baru ini kita tidak perlu kehilangan harapan, putus asa dan mengalami mati jiwa. Tapi sekalipun ada orang-orang yang mati semangat, gairah dan harapannya, Tuhan selalu sanggup menumbuhkan tunas baru dalam hidup anda.

Adakah diantara anda saat ini yang mengalami bentuk-bentuk 'kematian' seperti kekeringan rohani, kehilangan kasih mula-mula, tidak lagi merasa damai sukacita, merasa pekerjaan anda saat ini mentok sehingga kehilangan gairah dan semangat, kepahitan dalam hubungan keluarga maupun berbagai kekecewaan lainnya yang merampas harapan-harapan dalam hidup anda, ingatlah bahwa anda bisa kembali hidup, bertunas, berbunga dan berbuah pada saat kita kembali menggantungkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan. Tongkat harun yang berbunga menunjukkan bagaimana Tuhan punya kuasa membangkitkan sebuah kehidupan baru dari sesuatu yang sudah mati. Bukan sekedar tumbuh, tetapi lihatlah bahwa tunas-tunas segar dan bunga yang indah bisa keluar dari sana. Periksa diri anda saat ini, jika anda menemukan hal-hal yang menjadi sumber permasalahan itu, bertobatlah dan atasi segera. Memilih untuk mengeluh, bersungut-sungut atas situasi buruk tidak akan membawa apa-apa selain malah mendatangkan hukuman seperti yang terjadi pada masa Musa dan Harun di atas. Tidak peduli sesulit, sepahit atau separah apapun yang kita hadapi, kita bisa mengalami pemulihan secara luar biasa apabila kita mau kembali kepada Tuhan dan menaati perintah-perintahNya. Mungkin kita sudah mengalami berbagai "kematian" baik dalam pekerjaan, usaha dan bahkan mengalami mati rohani, tetapi percayalah bahwa Tuhan mampu membalikkan itu semua dan kembali menumbuhkan tunas, buah dan bunga dalam sebuah kehidupan yang benar-benar baru.

Tuhan sanggup memulihkan dari beragam kematian dengan menumbuhkan tunas-tunas baru dalam hidup anda

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, October 24, 2013

Cemungud

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Tawarikh 15:7
======================
"Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!"

Generasi berbeda tampaknya punya bahasa gaul yang berbeda. Beberapa tahun terakhir kita mengenal bahasa sangat gaul yang banyak disebut orang sebagai bahasa alay, yang akan sulit dimengerti bagi orang awam. Salah satunya adalah seruan semangat yang dalam bahasa mereka dikatakan dengan "cemungud". Karena saya berhubungan dengan berbagai kalangan usia, tidak jarang saya menerima pesan teks dalam gaya bahasa ini, sehingga saya tidak terlalu asing dengan istilah-istilah mereka. Misalnya kemarin saya menerima teks "Cmungudh ea kk!", yang artinya "semangat ya kakak!" dari seorang teman yang usianya jauh dibawah saya. Saya tersenyum geli membacanya tapi menghargai betul karena itu adalah bentuk perhatian dan penerimaannya terhadap saya yang lebih tua.

Semangat akan menampilkan raut muka dan gerak tubuh kita berbeda. Orang yang bersemangat akan terlihat sangat kontras dengan yang tidak. Saat orang patah semangat biasanya terlihat lesu dan murung, air muka keruh, loyo dan lemas, orang yang bersemangat akan terlihat antusias dengan wajah bersinar ceria. Senyum pun akan rajin menghiasi wajah mereka. Selalu menyenangkan melihat orang-orang bersemangat. Mereka bisa membuat kita termotivasi dalam mood yang baik. Coba kita pikirkan, apakah orang-orang yang bersemangat ini hidup tanpa masalah? Mereka pun pasti punya masalahnya sendiri. Semua manusia sama-sama berhadapan dengan masa-masa sulit sekali waktu. Tetapi reaksi dalam menanggapinya akan berbeda jika disertai semangat atau tidak. Penampilan dan performa orang bersemangat akan jauh di atas orang yang hidupnya layu tanpa semangat. Dan itu tidak tergantung dari lama-sebentarnya orang berjuang. Ada yang baru mencoba sebentar tapi cepat kehilangan semangat, ada yang terus mencoba tanpa kehilangan semangat meski mereka sudah berulang kali gagal.

Sepenggal kisah dicatat dalam kitab 2 Tawarikh tentang seorang raja bernama Asa yang melakukan reformasi terhadap bangsa Yehuda yang ia pimpin. Sebelum ia melakukannya, ia terlebih dahulu didatangi oleh nabi Azarya bin Oded yang diberikan mandat oleh Allah untuk menyampaikan pesan khusus. Dari serangkaian pesan kepada Asa oleh Azarya, salah satunya menyangkut soal semangat. mengenai semangat. "Tetapi kamu ini, kuatkanlah hatimu, jangan lemah semangatmu, karena ada upah bagi usahamu!" (2 Tawarikh 15:7). Dari ayat ini kita bisa melihat bahwa Tuhan menjanjikan upah bagi orang-orang yang memiliki semangat. Asa mendengar pesan itu, dan proses reformasi menyeluruh pun ia lakukan. Hasilnya ternyata sangat baik dan dicatat dalam Alkitab, yaitu "Tidak ada perang sampai pada tahun ketiga puluh lima pemerintahan Asa." (ay 19). Ini sebuah pencapaian luar biasa baik mengingat situasi dan kondisi pada masa itu yang sarat dengan peperangan.

Dalam banyak kesempatan lain firman Tuhan berbicara mengenai semangat. Amsal Salomo berkata: "Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?" (Amsal 18:14). Semangat dipercaya mampu menguatkan kita untuk menanggung penderitaan seperti apapun. Tetapi apa yang bisa kita perbuat ketika kita tidak lagi memiliki semangat lagi? Dan itu benar, mengingat orang yang patah semangat cenderung sulit untuk bangkit. Semakin lama dibiarkan, semakin sulit pula untuk pulih. Semangat bisa berfungsi bagaikan bahan bakar yang membuat kita punya tenaga terus untuk maju. Tanggung jawab baik kecil maupun besar bisa kita selesaikan dengan hasil terbaik apabila disertai dengan antusiasme, semangat dan gairah yang tinggi. Sebaliknya, jangan pernah bermimpi untuk menggapai sesuatu yang besar jika kita tidak punya semangat.

Ada hubungan erat antara semangat yang disertai sikap antusias dan gairah dengan sikap hati. Hati yang gembira dipenuhi sukacita akan membuat kita mampu memandang sisi-sisi positif dari segala hal, bahkan dari keadaan sulit sekalipun. Firman Tuhan berkata: "Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat." (Amsal 15:13). Itulah sebabnya orang-orang yang antusias air mukanya biasanya berseri-seri, matanya berbinar memancarkan semangat, sebuah penampilan yang tidak terlihat dari orang-orang yang tidak memiliki semangat hidup. Sikap hati akan sangat menentukan bagaimana reaksi kita memandang kehidupan. Kembali Salomo berkata: "Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang."(Amsal 17:22).

Masalah boleh saja datang dan pergi, tetapi itu tidak boleh membuat kita patah semangat. Semangat yang patah tidak akan memberi manfaat apa-apa malah hanya akan menambah masalah. Semangat mampu memberi perbedaan yang sangat besar dalam menyelesaikan masalah satu persatu. Lagipula Tuhan sudah menjanjikan penyertaanNya, dan Tuhan yang menjanjikan itu adalah Tuhan yang setia. Dia mau agar kita hidup di dalam rencanaNya, dimana Dia akan membimbing dan menyertai kita dalam setiap langkah untuk menuai apa yang telah Dia sediakan bagi kita. Kalau begitu kenapa kita harus hidup tanpa semangat? Semangat akan memampukan kita untuk terus bertahan melewati batu-batu ujian dengan kuat. Sekali lagi, ada upah yang disediakan Tuhan bagi mereka yang tahan banting dalam membangun usahanya. "Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah." (2 Korintus 3:14).

Apapun masalah yang anda hadapi hari ini, hadapi dan selesaikanlah dengan semangat. Percayalah kepada janji-janji Tuhan, rasakan kebaikan dan penyertaanNya dan terus pegang itu dengan iman. Itu akan membuat hati kita tetap memiliki sukacita yang sejati, dan dari sana kita akan mampu bersemangat dan tetap bersikap positif, penuh rasa antusias dalam melakukan pekerjaan kita. Orang-orang yang berpikir positif dan bersemangat tidak akan menyerah meski batu yang harus mereka loncati terlihat besar dan tinggi. Kesempatan akan berlalu sia-sia jika kita menyikapinya tanpa semangat, hidup akan sulit berkembang, kita sulit maju apabila kita menyikapi kehidupan tanpa dibarengi semangat. Sebaliknya setiap kesempatan kecil sekalipun bisa sangat berharga jika kita sikapi dengan semangat yang besar. Ada banyak orang pintar yang terus berjalan di tempat karena mereka tidak memiliki semangat, sebaliknya ada orang-orang biasa yang tumbuh menjadi luar biasa karena mereka memiliki semangat juang tinggi. Mana yang kita pilih hari ini? Ayo semangat!

Hidup dengan semangat akan mendatangkan upah dari Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, October 23, 2013

Waspadai Lidah

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yakobus 3:5
===================
"Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar"


Semua orang ingin damai, tapi sedikit yang mempraktekkan. Kekerasan terus terjadi bahkan yang mengatasnamakan Tuhan dengan tujuan yang mereka anggap baik. Dengan kata lain, ada orang-orang yang bermimpi untuk menciptakan perdamaian justru lewat jalan kekerasan. So be it, masing-masing orang punya caranya sendiri. Tapi sadarkah kita bahwa kerusakan terbesar seringkali bukan lewat tindakan-tindakan kekerasan yang ekstrim tapi justru lewat organ kecil bagian tubuh kita yaitu lidah. Dan yang lebih parah, awal persoalan seringkali bukan hal yang berat, tapi lewat gesekan-gesekan kecil yang seharusnya mudah diredakan. Bagaikan nyala api yang mulainya kecil, itu bisa cepat dipadamkan. Tetapi ketika api didiamkan maka ia akan terus membesar dan membakar lebih banyak lagi. Ketika api sudah sedemikian besar, maka api bisa menghancurkan dan menimbulkan kerusakan yang tidak sedikit. Bukan saja bagi satu orang tapi bisa menyangkut sebuah bangsa bahkan eksesnya bisa panjang hingga menembus batas-batas wilayah.

Alkitab mengingatkan dengan jelas mengenai potensi bahaya yang bisa ditimbulkan oleh lidah yang ukurannya relatif kecil dibanding tubuh kita dan menariknya menghubungkannya dengan api yang membakar. Yakobus mengatakan: "Demikian juga lidah, walaupun suatu anggota kecil dari tubuh, namun dapat memegahkan perkara-perkara yang besar. Lihatlah, betapapun kecilnya api, ia dapat membakar hutan yang besar." (Yakobus 3:5). Ini adalah sebuah analogi yang sungguh tepat, karena efek atau dampak kerusakan yang ditimbulkan bisa sama parahnya seperti kebakaran besar. Sepercik api itu sangatlah kecil dan sama sekali tidak kita anggap berbahaya. Jika anda nyalakan korek, api itu sama sekali tidak akan membahayakan. Tapi apa jadinya jika kita mulai mendekatkan itu kepada kulit? Atau bagaimana jika api itu kita letakkan membakar sedikit bagian hutan dan dibiarkan selama beberapa waktu? Dampaknya bisa sangat berat bahkan fatal. Bisa menghilangkan nyawa orang, kalaupun tidak sampai nyawa, untuk memperbaikinya bisa membutuhkan tahunan, puluhan tahun, atau malah tidak akan pernah bisa dikembalikan lagi ke kondisi semula.

Yakobus melanjutkan: "Lidahpun adalah api; ia merupakan suatu dunia kejahatan dan mengambil tempat di antara anggota-anggota tubuh kita sebagai sesuatu yang dapat menodai seluruh tubuh dan menyalakan roda kehidupan kita, sedang ia sendiri dinyalakan oleh api neraka.Semua jenis binatang liar, burung-burung, serta binatang-binatang menjalar dan binatang-binatang laut dapat dijinakkan dan telah dijinakkan oleh sifat manusia, tetapi tidak seorangpun yang berkuasa menjinakkan lidah; ia adalah sesuatu yang buas, yang tak terkuasai, dan penuh racun yang mematikan." (ay 6-8). Jika Yakobus menyorot tentang kebuasan lidah, yang begitu sulit dijinakkan, tak terkuasai dan penuh racun, seperti itulah tepatnya. Kita sudah terlalu sering melihat kehancuran hubungan antar manusia, antar suku bangsa bahkan negara yang berasal dari kebuasan lidah yang tak terkendali ini, sama seperti api yang membakar dan menghancurkan. Ironisnya, lidah sebenarnya bisa dipakai untuk memuji Tuhan, tapi lidah yang sama ini pula bisa menjadi senjata penghancur yang lebih dahsyat dari senjata termuktahir hari ini. "Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi." (ay 9-10).

Setiap saat kita berhadapan dengan begitu banyak orang dengan tingkah, polah dan gayanya sendiri-sendiri, bahkan dikalangan keluarga atau orang-orang terdekat. Gesekan bisa terjadi kapan saja dan perselisihan pun bisa timbul. Seperti yang saya sebut tadi, penyebabnya biasanya bukanlah masalah besar tetapi dimulai dari hal-hal yang kecil atau sepele, namun kemudian meluas sehingga pada akhirnya sulit untuk dikendalikan. Itulah sebabnya kita dianjurkan untuk bersabar dan bisa menahan diri, tidak terbujuk atau terpengaruh oleh emosi sesaat yang pada akhirnya kita sesali juga tetapi sudah terlanjur menghancurkan banyak hal. Hubungan keluarga hancur, hubungan pertemanan, hubungan bertetangga, hubungan antar manusia, dan jika ini yang terjadi, jangan pernah harapkan lagi ada perdamaian di muka bumi. Iblis akan berusaha menghancurkan manusia, dan biasanya itu dilakukan dengan menyerang sel terkecil yaitu keluarga. Dari kehancuran keluarga, semua impian iblis bisa diwujudkan, dan ketika itu yang terjadi, maka kita sendiri yang akan menanggung kerugian besar. Tidak ada tempat bagi kebencian apalagi dendam dalam Kekristenan. Kita selalu diminta untuk mengasihi, mengerti dan mengaplikasikan bagaimana kasih Tuhan yang tanpa batas itu untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Apakah orang yang bersalah itu mau mengakui kesalahannya atau tidak, kita diminta untuk bisa memberi pengampunan. Firman Tuhan berkata: "Janganlah kamu menghakimi, maka kamupun tidak akan dihakimi. Dan janganlah kamu menghukum, maka kamupun tidak akan dihukum; ampunilah dan kamu akan diampuni." (Lukas 6:37). Jika itu kita terapkan, maka kita bisa berharap untuk melihat perdamaian semakin bertumbuh di dunia ini. Sayangnya kita justru sering memakai hukum sebab akibat sebagai alasan pembenaran atas permusuhan yang terjadi antara kita dengan orang lain. Kita mengira bahwa dengan mengeluarkan emosi lewat kata-kata maka kita bisa lebih tenang. Tetapi yang justru sering terjadi, lidah yang tidak terjaga akan terus membakar sehingga pada suatu ketika tidak lagi bisa dipadamkan.

Itulah sebabnya firman Tuhan berkata: "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18). Ini penting karena kita sering lupa bahwa keputusan untuk berdamai atau bertikai seringkali bukan tergantung dari orang, tetapi justru berasal dari diri kita sendiri. Mungkin memang orang lain yang memulai, tetapi bukankah keputusan untuk mengampuni atau tidak itu datangnya dari diri kita sendiri? Apa yang harus kita jaga adalah memiliki kasih dalam diri kita, dan ada elemen kecil yang seharusnya kita jaga dan perhatikan karena sering luput dari perhatian kita, yaitu lidah.

Lidah itu cuma bagian kecil dari keseluruhan tubuh kita. Bandingkan dengan tubuh kita, lidah tidak ada apa-apanya. tetapi kehancuran yang bisa ditimbulkan oleh lidah yang tidak terkawal bisa begitu hebat. Bukan saja menghancurkan diri kita, tetapi bisa berdampak jauh lebih besar daripada itu. Masa depan orang lain bahkan kelangsungan kehidupan manusia secara luas bisa berakhir hanya karena lidah yang tidak terkendali. Sejarah mencatat banyak peristiwa yang mengubah kehidupan manusia menjadi porak poranda, dimana dibutuhkan puluhan bahkan ratusan tahun untuk bisa pulih dari kerusakan yang berawal dari lidah. Untuk itu kita perlu menyerahkan lidah kita ke dalam tangan Tuhan, mengisi hati kita sebagai sumber kehidupan dengan firman Tuhan dan menghidupi kasih secara nyata dalam diri kita. Kemampuan manusia tidak akan sanggup menguasai lidah, tetapi kita bisa belajar untuk mengandalkan Tuhan dalam mengendalikannya.

Sebuah pesan yang tidak kalah penting mungkin baik pula untuk diangkat dalam menyikapi kebuasan lidah ini. "Hai saudara-saudara yang kukasihi, ingatlah hal ini: setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah" (Yakobus 1:20). Jangan terburu-buru melempar kata-kata, apalagi dalam keadaan yang gampang tersulut emosi. Jangan sampai emosi sesaat yang terlontar lewat perkataan itu menjadi sesuatu yang kita sesali kelak, yang bisa jadi sudah terlambat untuk diperbaiki. Sebuah "amarah manusia tidak mengajarkan kebenaran di hadapan Allah" (ay 20), karena dampak yang ditimbulkan bisa sangat parah dimana lidah biasanya menjadi ujung tombak dalam mewakili kemarahan ini. Disamping itu peran lidah sebagai pintu keluar produk kemarahan juga menunjukkan bahwa meski kecil, organ tubuh ini benar-benar harus kita jaga baik. Oleh karena itu, marilah kita waspadai dengan secermat-cermatnya segala sesuatu yang keluar dari mulut kita. Jangan sampai ada kutuk dalam bentuk apapun yang keluar dari mulut kita, jangan sampai lidah kita berlaku begitu bebas berlaku buas dan membunuh masa depan banyak orang. Apa yang baik adalah mempergunakan lidah untuk memuji dan menyembah Tuhan, dan pakai pula untuk memberkati sesama. Itulah tujuan utama Tuhan memberi lidah bagi manusia selain untuk merasa. Tuhan bisa pakai lidah kita untuk menjadi terang dan garam bagi dunia, maka pergunakanlah itu sesuai dengan kehendakNya.

Lidah yang tidak terkawal bisa menghancurkan, maka waspadai baik-baik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, October 22, 2013

Three Kingdoms (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Hari-hari ini iblis mencoba menyerang lembaga terkecil manusia yaitu keluarga. Suasana panas, rasa bosan, benci, cepat marah bisa merusak keutuhan lembaga keluarga. Ini bisa menjadi salah satu celah untuk menghancurkan kita. Oleh karena itu kita harus benar-benar mewaspadai serangan lewat celah ini. Jika anda mulai merasakan ketidakharmonisan dalam rumah tangga, perbaiki segera sebelum kerajaan ini terlanjur berkuasa atas diri anda. Dalam ayat Efesus 6:11 dikatakan bahwa mengenakan senjata Allah adalah cara bagi kita untuk dapat bertahan melawan tipu muslihat iblis.

Kerajaan satu lagi adalah Kerajaan Allah, The Kingdom of God. Kerajaan ini menempatkan Tuhan diatas segalanya, sebagai Raja atas segala raja. Jika Kerajaan Allah yang berkuasa, maka ketaatan dan kepatuhan kita tanpa syarat kepada Allah sebagai Raja adalah hal yang mutlak. Kita tidak memberi kompromi sedikitpun atas pelanggaran meski sangat kecil dan sering dianggap boleh diabaikan, terus berjalan dalam koridor yang berkenan di hadapan Tuhan dan memuliakanNya lewat segala yang kita kerjakan. Mengasihi orang lain dengan tulus, bekerja serius, sungguh-sungguh dan penuh kejujuran, punya kerinduan untuk terus mendengarkan Tuhan dan tunduk secara total atas otoritas Tuhan dalam segala aspek kehidupan, itulah yang menjadi sikap orang-orang yang menjadikan Allah sebagai Raja atas hidupnya.

Kerajaan Allah adalah kerajaan yang tak tergoncangkan (Ibrani 12:26-28). Kita berhak untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah lewat lahir baru, menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Orang yang berjalan bersama Yesus dan dipenuhi Roh Allah akan terlihat dari buah-buah hidupnya. Ketika Allah yang memerintah sebagai Raja, maka hidup pun akan mencerminkan kasih dan kesetiaan yang merupakan sifat utama Allah. Kita tidak lagi hanya ingin menerima tapi terus rindu untuk memberi. Kita akan menghormati Tuhan dalam apapun yang kita lakukan. Melakukan semua kebajikan dan menghindari kejahatan. Melakukan apa yang benar dan menolak yang salah.

Anggaplah diri kita seperti bagian dari sebuah kerajaan, maka siapa yang memimpin akan sangat menentukan perjalanan hidup kita. Yes, there's a kingdom in our hearts, dan kita harus menentukan siapa yang menjadi pemimpin di dalamnya. Ada sebuah ayat yang dengan tegas menyebutkan apa yang seharusnya kita lakukan, dan itu disampaikan Petrus dengan singkat, padat namun jelas: "Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!" (1 Petrus 3:15). "But in your hearts set Christ apart as hold (and acknowledge Him) as Lord." Versi lain yang menyebutkan ayat ini dengan "Sanctify the Lord God in your hearts." Rangkuman dari keduanya berarti kita harus menguduskan, menjadikan atau mendedikasikan Yesus sebagai Penguasa tertinggi dalam hidup kita. Dan Petrus jelas mengatakan bahwa itu semua bermula dari hati. Hatilah yang menjadi pusat kerajaan, dan siapa yang berkuasa disana akan sangat menentukan siapa dan bagaimana diri kita hari ini, juga akan sangat menentukan ke arah mana kita menuju kedepannya.

Oleh karena itulah alkitab berbicara banyak mengenai pentingnya menjaga hati. Sebuah ayat dalam Amsal berkata: "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan." (Amsal 4:23). Mengapa hati harus dijaga dengan segala kewaspadaan? Karena dari sanalah kehidupan itu sesungguhnya terpancar. Yesus pun menyebutkan alasannya dengan rinci. "sebab dari dalam, dari hati orang, timbul segala pikiran jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, keserakahan, kejahatan, kelicikan, hawa nafsu, iri hati, hujat, kesombongan, kebebalan." (Markus 7:21-22). Ini merupakan daftar yang bisa membuat kita bergidik ngeri. Dan lanjutannya, Yesus mengatakan secara jelas pula bahwa "Semua hal-hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang." (ay 23). Kalau begitu, sangatlah penting bagi kita untuk menguduskan hati kita lalu terus mempertahankan dan menjaga kekudusannya. Dan hal tersebut tidak mungkin kita lakukan jika kita membiarkan hal-hal selain Tuhan Yesus untuk menjadi Penguasa di dalamnya. Nasib sebuah negara atau kerajaan akan sangat tergantung dari siapa pemimpin atau rajanya, dan sama seperti itu pulalah hidup kita. Dan hati, sebagai pusat dari kehidupan butuh Sosok Pemimpin yang benar, atau semuanya akan berakhir dalam kehancuran.

Kembali kepada seruan Petrus, sebuah ayat lain mengingatkan pentingnya menjaga kekudusan ini. "sebab ada tertulis: Kuduslah kamu, sebab Aku kudus." (1 Petrus 1:16). Kita harus mengejar kekudusan, "sebab tanpa kekudusan tidak seorangpun akan melihat Tuhan." (Ibrani 12:14). Untuk menjadikan Yesus sebagai Raja yang bertahta dalam hati kita, kita harus mematikan segala sesuatu yang bisa merusak atau menggagalkan hal itu. Keinginan daging, hawa nafsu, godaan-godaan, membiarkan pengaruh-pengaruh buruk meracuni kita atau berbagai penyebab kerusakan lainnya haruslah bisa kita tundukkan dan matikan. Tanpa itu hati kita tidak akan pernah bisa memiliki Raja yang tepat yang akan membawa kita masuk kedalam keselamatan dalam kepenuhan.

Ada banyak hal di dalam diri kita yang mencoba untuk memegang kendali penuh, menjadi penguasa atas kita. Jangan-jangan Tuhan sudah terpinggirkan sejak lama dalam hati kita, kalaupun ada mungkin hanya menempati sebagian kecil saja disana atau bahkan sudah sama sekali tidak punya tempat lagi. Kita mungkin merasa itulah kebebasan yang membawa kenikmatan dalam hidup, tetapi sesungguhnya sebuah kebebasan sejati hanya akan datang jika kita mengijinkan Yesus sendiri untuk berkuasa atas hati dan hidup kita. Siapakah yang menjadi raja atas diri anda hari ini? Apakah the kingdom of myself, kingdom of evil/satan atau the Kingdom of God? Saatnya bagi kita untuk bersama-sama memeriksa hati. Make sure that Kingdom of God is the one that rules, or destructions is only a matter of time. Hidup yang sepenuhnya tunduk kepada otoritas Tuhan akan membawa kita menuju jalan keselamatan Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, October 21, 2013

Three Kingdoms (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!

Ayat bacaan: 1 Petrus 3:15
==================
"Tetapi kuduskanlah Kristus di dalam hatimu sebagai Tuhan!"

Salah satu literatur sastra dunia yang paling mengagumkan berasal dari daratan Cina, berjudul Romance of the Three Kingdoms. Karya epik terkenal ini selain dalam bentuk novel juga sudah dihadirkan dalam banyak bentuk lainnya seperti film dan game. Romance of the Three Kingdoms ditulis oleh Luo Guanzhong pada abad ke 14, mengisahkan tiga negara bagian/kerajaan pada masa-masa menjelang kejatuhan Dinasti Han sekitar tahun 169 sampai kepada penyatuan daratan Cina di tahun 280 sesudah Masehi. Novel ini sangat luar biasa karena memiliki ratusan tokoh dan sub-plot yang sangat banyak. Ada intrik, skandal, perang, politik dan sebagainya disana sehingga novel historis tebal ini begitu menarik untuk dibaca.

Tiga kerajaan yang saling bertikai untuk menjadi pemenang digambarkan secara detail oleh Luo Guanzhong. Sadarkah anda bahwa dalam hidup kita pun ada tiga kerajaan yang bisa berkuasa atas diri setiap kita? Kerajaan-kerajaan itu adalah the kingdom of myself (kerajaan diri sendiri), the kingdom of evil (kerajaan iblis) dan the kingdom of God (Kerajaan Tuhan).

Seringkali kita terlalu mudah menganggap bahwa iblis sebagai biang kerok segala kesengsaraan di muka bumi ini. Itu tidak sepenuhnya salah, karena iblis memang selalu berusaha menjauhkan kita dari keselamatan, terus mencoba menjerumuskan kita ke dalam berbagai bentuk dosa. Peringatan jelas disampaikan pada kita bahwa "...Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8). Iblis akan selalu mencoba memporak-porandakan tatanan kehidupan, pemikiran dan perasaan kita ketika ada celah baginya untuk masuk. Bagaimana jika tidak ada celah? Maka iblis sebenarnya tidak akan bisa menelan kita. Tidak ada satupun yang bisa dibuat iblis apabila kita tidak memberinya kesempatan untuk mempermainkan kita. Anda bahkan seharusnya tidak perlu takut untuk berada di tempat yang kata orang angker karena Roh Allah yang ada di dalam anda lebih besar dari semua lainnya (1 Yohanes 4:4).

Jika demikian masalahnya adalah ketidakwaspadaan atau kelengahan kita mengawasi hidup sehingga ada celah-celah yang baik disadari atau tidak bisa muncul. Disanalah iblis akan mencoba menyerang kita. Oleh karena itulah saya mengangkat tiga bentuk kerajaan dan bukan dua. Satu lagi, selain kerajaan iblis dan Kerajaan Allah adalah kerajaan diri sendiri. Orang yang didalamnya berkuasa kerajaan diri sendiri (the kingdom of myself) akan menganggap dirinya sebagai raja diatas segala raja. Keputusan-keputusannya absolut, mutlak, pendapatnya tidak ada yang boleh menyanggah. Mereka akan mementingkan dirinya sendiri jauh di atas orang lain dan tidak akan segan-segan merugikan atau bahkan menghancurkan orang lain jika itu menyangkut kepentingannya. Tidak ada kebenaran Tuhan yang bisa masuk ke dalam pemahaman mereka karena mereka menganggap dirinyalah yang paling benar. Sifat ke-akuan begitu tinggi sehingga untuk bisa diterima oleh mereka, tidak ada jalan lain selain kita mutlak patuh kepada mereka dan setuju terhadap apapun yang mereka katakan. Inilah bentuk orang yang didalamnya berkuasa kerajaan diri sendiri. Kerajaan diri sendiri ini sangatlah berbahaya karena mereka yang berada di dalamnya bisa terjebak pada pemikiran-pemikiran yang keliru sehingga mudah tersesat. Pemikiran-pemikiran mereka hanyalah bersumber dari apa yang mereka anggap benar dan logika mereka biasanya mudah menolak atau menyanggah kebenaran firman Tuhan. Apakah lewat logika, tingkat keilmuan mereka yang tinggi, kepintaran atau kejeniusan mereka. Pendek kata, jika itu tidak sesuai dengan pendapatnya, maka semua itu pasti salah. Tidak jarang pula mereka ini akan terlebih dahulu menyanggah meski dalam hati mereka tahu itu benar, hanya karena ego mereka menolak untuk menerima. Merasa diri paling hebat, paling kuasa dan merasa orang lain hanya sebagai suruhan atau alat yang bisa diperintah untuk memenuhi kebutuhan mereka atau menjalankan keputusan mereka. Kerajaan ini bisa diperalat oleh iblis untuk melakukan banyak hal kejahatan sekaligus lahan bermain yang sangat menyenangkan bagi si jahat untuk terus menyesatkan orang yang mengadopsi kerajaan ini dalam hidup sehingga semakin jauh dari kebenaran dan akhirnya binasa.

Orang yang didalamnya berkuasa kerajaan iblis (kingdom of evil> akan terus hidup dalam berbagai dosa. Mereka menikmati benar dosa-dosa dan berbuat kejahatan tanpa rasa bersalah. Hati nurani tertutup dan berbagai pelanggaran dianggap wajar. Mereka ini bahkan sanggup bersikap kejam terhadap orang lain dan akan selalu berusaha menyesatkan. Perhatikan bahwa Efesus 6 sudah mengatakan tentang struktur kerajaan iblis ini. "karena perjuangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan pemerintah-pemerintah, melawan penguasa-penguasa, melawan penghulu-penghulu dunia yang gelap ini, melawan roh-roh jahat di udara." (Efesus 6:12). Kerajaan iblis tampil mulai dari pemerintah tertingginya hingga jajaran dibawahnya sampai ke penghulu-penghulu. Itulah yang harus kita waspadai, karena bentuk-bentuk terkecil yang bisa luput dari perhatian kita justru bisa menjadi penghancur utama. Kerajaan yang tidak kelihatan (the unseen world) ini berisi banyak tipu muslihat yang membawa dampak kerusakan parah pada manusia. Kita sering kali memperhatikan kondisi tubuh dan jiwa, tetapi manusia juga dibangun atas roh, yang akan menjadi titik serang paling rawan. Perjuangan melawan kuasa si jahat akan terus berlangsung. Oleh karenanya sangatlah penting untuk mengetahui strategi dan prinsip-prinsip iblis untuk memenangkan pertarungan.

(bersambung)

Sunday, October 20, 2013

Berbuat Kebaikan Jangan Ditunda-tunda

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 3:27
===================
"Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya."

Pada suatu hari teman baik saya meng-sms saya dan mengatakan bahwa ia perlu meminjam uang yang jumlahnya tidak sedikit. Ketika saya tanya untuk keperluan apa, ia hanya menjawab bahwa itu untuk sesuatu yang penting. "Kalau tidak penting gue gak bakalan minjem.. elo kan tau gimana gue." katanya. Pada saat itu saya sedang pas-pasan, tetapi saya memang kenal betul sifatnya sehingga apabila ia meminjam, itu tentu untuk sesuatu yang sangat penting. Setelah saya bicarakan kepada istri, akhirnya kami berdua memutuskan untuk meminjamkan sesuai yang ia minta, meski konsekuensinya kami harus mengirit betul pengeluaran setelahnya. Tidak lama berselang, saya menerima kabar yang membuat saya sangat terpukul. Sahabat baik saya meninggal dunia di sebuah rumah sakit di Jakarta. Ternyata uang itu ia pinjam untuk biaya berobat dan opname. Ia berasal dari keluarga broken home, hanya ada ibu yang hidup berkekurangan dan seorang kakak tiri yang biasanya justru hanya meminta kepadanya meski sudah punya suami yang tidak bekerja. Sahabat saya ini meninggal di usia 23 tahun, usia yang masih sangat muda. apa yang membuat saya kaget adalah bahwa ia tidak pernah punya catatan menderita penyakit apapun. Sehari-hari ia kelihatan baik-baik saja, tetap ceria walau hidupnya tidak mudah. Dokter mengatakan bahwa ia meninggal karena penyakit lever, tapi sejauh yang saya tahu ia bukan pemabuk dan bukan pemakai obat-obat apapun. Sampai saat ini saya tidak tahu apa persisnya, tetapi ia sudah tidak ada lagi. Saya merasa sangat kehilangan karena ia adalah satu-satunya teman terdekat saya waktu itu. Meski demikian, saya merasa lega sebab setidaknya sudah membantunya. Saya membayangkan entah seperti apa rasa bersalah akan menghantui saya apabila pada waktu itu saya memilih untuk menunda memberi pinjaman atau menolak.

Ada banyak orang yang lebih suka menunda-nunda untuk melakukan sesuatu. Sifat ini sudah dibiasakan sejak masa-masa mengenyam pendidikan dengan menunda belajar atau mengerjakan tugas-tugas. Lantas setelah bekerja, mereka akan menunda menyelesaikan pekerjaan hingga mepet. Jika untuk hal-hal seperti ini saja orang sudah terbiasa menunda, apalagi dalam hal berbuat baik yang seringkali merupakan perbuatan tanpa imbalan apa-apa, sebuah pekerjaan sukarela yang justru menyita waktu dan pengorbanan-pengorbanan lainnya.

Salomo menyampaikan: "Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya." (Amsal 3:27). Ayat selanjutnya berkata "Janganlah engkau berkata kepada sesamamu: "Pergilah dan kembalilah, besok akan kuberi," sedangkan yang diminta ada padamu." (ay 28). Kita sangat pintar mencari alasan untuk menghindari kewajiban kita untuk menolong orang lain. Tidak punya cukup uang, belum sanggup membantu dan sebagainya. Mungkin benar bahwa kita tidak berada dalam kelimpahan alias pas-pasan, tetapi bukankah seringkali dengan jumlah yang sedikit saja kita bisa memberi kelegaan kepada mereka yang tengah membutuhkan? Atau bahkan sedikit perhatian dan kepedulian kita saja sudah sangat membantu bagi mereka yang membutuhkan. Kata sanggup atau tidak sering menjadi hal yang subjektif, karena pada satu sisi saya melihat ada banyak pula orang yang hidup pas-pasan tetapi ternyata masih mau berusaha untuk menolong orang lain. Sebaliknya di sisi lain ada banyak juga orang yang kaya tetap saja merasa masih kurang, semakin banyak hartanya malah semakin pelit dan sulit menolong orang lain.

Ketika kita bisa berbuat baik, sudah sepantasnya kita tidak menunda-nunda untuk melakukan itu. Saya memberi contoh mengenai bantuan secara finansial atau keuangan, tetapi berbuat kebaikan tidak hanya berbicara mengenai itu melainkan bisa hadir lewat berbagai bentuk. Perhatian, kasih sayang, kesabaran, dukungan moril, memberi masukan/pertimbangan atau nasihat, meluangkan sedikit dari waktu kita dan sebagainya, itupun merupakan bentuk dari kebaikan. Ketika kita memiliki hal itu, meski sedikit, kita sudah bisa melakukan sesuatu yang akan sangat bermakna bagi orang lain yang membutuhkannya, dan pada situasi demikian kita tidak seharusnya menunda-nunda untuk melakukan sesuatu. Untuk hal-hal diluar bantuan finansial kita pun pintar mencari alasan. Tidak cukup mengerti, sedang sangat sibuk, tidak mau ikut campur dan sebagainya, padahal alasan sesungguhnya adalah karena malas. Jangan tunda untuk melakukan sesuatu untuk orang-orang yang membutuhkan, jangan mengelak, jangan mengaku tidak mampu padahal kita sebenarnya tahu bahwa kita mampu untuk melakukannya.

Kita harus sadar bahwa kita bukanlah diselamatkan OLEH perbuatan baik, tetapi kita diselamatkan UNTUK melakukan perbuatan baik. Perbuatan baik tidak menjamin keselamatan melainkan merupakan buah dari keselamatan yang telah kita terima lewat Yesus Kristus. Surat Paulus kepada jemaat Filipi pasal 2 juga memberi penekanan mengenai masalah kerelaan atau kerendahan hati untuk mendahulukan kepentingan orang lain daripada diri sendiri.  "..hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri; dan janganlah tiap-tiap orang hanya memperhatikan kepentingannya sendiri, tetapi kepentingan orang lain juga." (Filipi 2:3b-4). Mengapa? Karena sebagai pengikut Kristus kita seharusnya mencerminkan pribadi Kristus. Penghiburan kasih, kasih mesra dan belas kasihan, itu semua ada dalam Kristus. (ay 1). Dan sebagai pengikut Kristus, kita seharusnya memiliki hati yang sama sepertiNya juga. Kita melihat sendiri dbagaimana Yesus terus bekerja untuk melakukan kehendak Bapa tanpa menunda-nunda sedikitpun. Dia terus berjalan melakukan tugasNya hingga selesai, dan itulah yang membawa keselamatan kepada kita.  Jika Yesus melakukan seperti itu, mengapa kita justru gemar menunda-nunda untuk melakukan kebaikan ketika pada saat yang sama mengaku sebagai muridNya?

Kerelaan memberi/mengulurkan tangan untuk membantu sebagai salah satu aspek dari perbuatan baik merupakan cerminan kedewasaan rohani kita. Orang yang imannya dewasa akan terus berusaha memberi, sebaliknya yang masih belum akan cenderung mengambil atau meminta. Lihatlah ayat berikut:  "Dalam segala sesuatu telah kuberikan contoh kepada kamu, bahwa dengan bekerja demikian kita harus membantu orang-orang yang lemah dan harus mengingat perkataan Tuhan Yesus, sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima." (Kisah Para Rasul 20:35). Orang yang sudah dewasa secara rohani akan sampai kepada pemahaman bahwa memberi ternyata lebih membahagiakan ketimbang menerima. Selanjutnya Alkitab mencatat perkataan Yesus seperti ini: "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Yesus begitu mengasihi manusia sehingga Dia rela menanggung segala dosa-dosa kita untuk ditebus dengan cara yang sungguh luar biasa besar. Dia bahkan memberikan nyawaNya untuk keselamatan kita. "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yohanes 15:13) kata Yesus, dan tidak sebatas wacana, Dia sudah membuktikan itu secara langsung. Mengacu kepada firman Tuhan itu, seharusnya kita terus berusaha untuk mencapai sebuah tingkatan seperti apa yang telah dilakukan Yesus untuk kita, para sahabatNya. Jika nyawa kita pun seharusnya siap untuk diberikan, mengapa kita sulit sekali untuk mengeluarkan sedikit dari tabungan kita, usaha kita, tenaga atau sebagian dari waktu kita untuk melakukan kebaikan bagi sesama?

Aspek memberi/melakukan kebaikan merupakan hal yang sangat penting di mata Tuhan untuk kita lakukan. Begitu pentingnya hingga Tuhan berkata "sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku." (Matius 25:40). Kita tidak akan pernah mampu membayar kebaikan Tuhan dengan harta milik kita, berapapun besarnya. Tapi apabila kita ingin membalas kebaikan Tuhan, Alkitab mengatakan bahwa kita bisa melakukannya melalui berbuat kebaikan  kepada orang lain yang membutuhkan.

Dalam Yesaya 60:1-3 dikatakan demikian: "Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang, dan kemuliaan TUHAN terbit atasmu. Sebab sesungguhnya, kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atasmu, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata atasmu. Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu, dan raja-raja kepada cahaya yang terbit bagimu." Ayat ini menunjukkan sebuah pesan penting bahwa menjadi terang adalah sebuah ketetapan dari Tuhan dan bukan merupakan pilihan. Ketika kita berfungsi benar sebagai terang, maka dengan sendirinya kita harus berhadapan dengan orang-orang yang datang kepada kita. Di lain waktu saya akan membahas hal menjadi terang ini secara lebih detail. Tapi untuk saat ini sadarilah bahwa anda ditetapkan sebagai terang oleh Tuhan, dan itu akan mengharuskan kita untuk rela meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan berbagai bantuan lainnya untuk membantu orang-orang yang datang kepada kita. Itu adalah sebuah konsekuensi yang harus kita syukuri dan jalani dengan penuh sukacita. Jika ini kita tunda, itu sama saja dengan melepas tanggungjawab yang telah ditetapkan Tuhan, dan itu tentu sesuatu yang seharusnya tidak kita lakukan.

Tuhan sudah mengasihi kita dengan kasih setia yang begitu luar biasa besarnya. Sekarang giliran kita, apakah kita mampu menyalurkan kasih Tuhan yang ada dalam diri kita itu lewat kepedulian kita terhadap sesama? Apakah kita sudah melakukan perbuatan baik kepada mereka yang membutuhkan atau kita masih terus mengelak dan menunda-nunda untuk melakukannya dengan berbagai dalih? Mari periksa diri kita, apakah ada yang mampu kita berikan hari ini kepada mereka yang kesulitan, mereka yang sebenarnya berhak menerimanya? Apakah itu untuk orang di lingkungan kita, untuk kota, bangsa dan negara, periksalah kontribusi apa yang bisa anda lakukan. Jika ada, jangan tunda lagi, lakukan hari ini juga.

Helping makes the world a happier place

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker