Monday, September 30, 2013

Me-Reeboot Hidup

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kolose 1:14
================
"di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa."

"Kalau sudah pusing, seandainya komputer gampang, tinggal ctrl-alt-del, beres." demikian kata seorang menteri dalam sebuah iklan program di salah satu stasiun televisi yang menggambarkan langkahnya mengatasi carut marut dari departemen yang dipimpinnya. Bagi banyak orang terutama orang awam, langkah yang dilakukan ketika komputer menunjukkan gejala-gejala gangguan seperti menjadi terasa berat hingga nge-hang baik karena ketidak stabilan sebuah program dan lain-lain. Biasanya jika hanya gangguan kecil, rebooting komputer seperti ini bisa membuat komputer menjadi normal kembali. Ada beberapa program juga yang bisa kembali 'menyegarkan' komputer seperti pembersih registry dan yang bisa mengembalikan komputer seperti pertama kali program tersebut diinstal apabila di-reboot. Jadi seandainya ada virus yang menyelinap masuk, sebuah reboot akan membuat semuanya kembali seperti sediakala sebelum virus ada.

Ada kalanya kehidupan kita yang tengah berjalan baik terganggu oleh berbagai hal, baik masalah biasa sampai masuknya berbagai dosa dalam macam-macam bentuk. Di sisi lain ada banyak orang yang sulit melanjutkan hidup mereka karena dosa di masa lalu yang masih membelenggu mereka.Terus tertuduh, terus hidup dalam siksaan perasaan dan merasa tidak akan pernah bisa lepas dari rasa bersalah. Ada yang masih terganggu dengan banyak penyesalan atas kesalahan yang pernah dibuat di masa lalu. Ada teman saya yang masih terus menyesali perbuatannya di masa lalu. "Seandainya itu tidak saya lakukan tentu saya tidak harus seperti ini sekarang. Kalau saja hidup bisa diulang, kalau saja ada kesempatan lagi..." katanya pada suatu kali. Gangguan-gangguan seperti ini bisa memperlambat atau memberatkan langkah kita, atau bahkan membuat kita sampai berhenti, tidak lagi bisa melangkah maju. Seandainya hidup bisa semudah komputer yang tinggal di reboot ulang, bukankah itu akan lebih baik? Pertanyaannya, apakah benar kita tidak bisa memulai lagi sebuah hidup baru dari awal ketika kita pernah membuat kesalahan besar dalam hidup kita, atau ketika kita pada suatu kali melakukan sebuah kesalahan yang mengganggu 'sequence' hidup yang baik yang sedang berlangsung?

Kabar baiknya, kita bisa! Begitu baiknya Tuhan sehingga Dia mau memberikan kesempatan untuk itu. Bahkan Tuhan sudah menyatakan hal ini berulang kali dalam Alkitab. Meski ada konsekuensi di dunia yang tentu harus kita tanggung akibat perbuatan salah kita di masa lalu, tetapi ketika kita mengakui dosa kita dan bertobat secara sungguh-sungguh, saat itu pula pengampunan turun atas diri kita. Hal ini penting untuk kita ingat agar kita tidak terus menjadi tertuduh seumur hidup kita. Tertuduh? Ya, tertuduh. Iblis akan dengan segala senang hati memanfaatkan perasaan kita dan akan siap untuk terus menuduh kita agar kita tidak akan pernah lagi bisa bertumbuh, mandek, berhenti bahkan mundur. Jadi kalau kita tidak mengetahui bahwa kesempatan 'reboot' ini ada, kita akan terus menjadi mangsa, target atau sasaran empuk untuk diserang.
Tuhan mengatakan bahwa Dia selalu siap untuk "menghapuskan kesalahan-kesalahan kita dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut." (Mikha 7:9). Tuhan siap menjauhkan kita dari pelanggaran kita sejauh timur dari barat (Mazmur 103:12), bahkan siap untuk tidak lagi mengingat-ingat alias melupakan dosa kita. (Yesaya 43:25). Tuhan siap untuk memutihkan kembali dosa kita yang semerah kirmizi atau kain kesumba sekalipun untuk kembali seputih salju atau bulu domba. (Yesaya 1:18). Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa kesempatan untuk memulai awal yang baru itu terbuka dan nyata adanya.

Tuhan memberikan kesempatan 'reboot' kepada kita, termasuk menyediakan waktu dan kesempatan lebih dari cukup bagi kita untuk bertobat dan meninggalkan semua dosa-dosa di masa lalu. Tidak hanya kesempatan, tapi Tuhan bahkan rela mengutus Yesus untuk turun ke muka bumi ini dengan misi  menebus dosa-dosa kita. Dan dalam Yesus kita mengalami penebusan, pengampunan atas dosa-dosa yang pernah kita buat sebelumnya. Firman Tuhan berkata "di dalam Dia kita memiliki penebusan kita, yaitu pengampunan dosa." (Kolose 1:14). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: "In Whom we have our redemption through His blood, (which means) the forgiveness of our sins." Di dalam Dia, dengan darahNya, kita mendapatkan pengampunan atas dosa-dosa kita. Ini berbicara mengenai dosa secara keseluruhan tanpa memandang ukurannya. Apapun yang sudah anda akui dan mohonkan pengampunan di hadapan Tuhan dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, Tuhan memberikan pengampunan seutuhnya dalam Yesus.

Adakah diantara teman-teman yang masih memiliki ganjalan akan sebuah kesalahan di masa lalu sehingga sulit untuk bangkit kembali? Apakah ada yang masih dihantui perbuatan dosa di waktu lampau yang masih menghantui anda saat ini? Atau anda masih merasa seperti tertuduh, seperti tidak punya kesempatan untuk memulai hidup baru meski sudah berulangkali mengakui dosa dan bertobat? Mulai hari ini bangkitlah kembali, alami hari depan yang cerah tanpa rasa takut lagi, yakinlah bahwa Tuhan sudah mengampuni anda. Dia sudah mengampuni segala pelanggaran kita, menghapuskan "surat hutang" yang terus mendakwa dan mengancam kita, dan semua itu telah Dia tiadakan dengan memakukannya di atas kayu salib. (Kolose 2:13-14). Selain itu Tuhan juga telah memberikan karuniaNya untuk kita bisa menjadi manusia baru. Anda bisa membaca secara lengkap perikop Manusia Baru ini dalam Efesus 4:17-32. Didalamnya ada disebutkan: "Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (ay 21-24). Dalam surat 2 Korintus dikatakan: "Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang." (2 Korintus 5:17).

Lewat darah Kristus kita sudah mengalami pengampunan dosa, dipulihkan bahkan dibenarkan, tidak peduli sebesar apapun dosa yang pernah anda lakukan di waktu lalu. Jangan terus biarkan anda merasa tertuduh dan sulit untuk bertumbuh. Ketika tuduhan kembali menyerang anda, katakanlah bahwa darah Yesus sudah mencuci bersih semua bangkai dosa yang pernah singgah dalam hidup anda. You are forgiven, the new dawn has come. Through Jesus you've been rebooted, it's time to live a fresh new fresh life.

Pengampunan Tuhan adalah pintu untuk memulai hidup yang baru

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, September 29, 2013

Tuhan Beserta Kita

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Tawarikh 15:2
=======================
"TUHAN beserta dengan kamu bilamana kamu beserta dengan Dia. Bilamana kamu mencari-Nya, Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi bilamana kamu meninggalkan-Nya, kamu akan ditinggalkan-Nya."

Saya beruntung dibesarkan dalam keluarga yang tidak pernah terlalu sibuk untuk mengurus anak. Kedua orang tua saya berprofesi sebagai dokter. Siang harus dinas di rumah sakit, malam praktek. Ibu saya memilih untuk meninggalkan karirnya sampai setidaknya anak-anak selesai SMA. Ayah saya sangat aktif dari pagi sampai malam, tetapi itupun waktu untuk anak-anak tetap ada. Kami bisa bertemu dengannya kapan saja. Hampir setiap hari sepulang dari sekolah saya ke ruang kerjanya dulu di rumah sakit pemerintah dan bisa setiap saat memanggilnya jika ada perlu meski ia tengah mengobati pasien di praktek pada malam hari. Ada banyak orang yang tidak seberuntung saya, karena orang tuanya sangat sibuk dan terlalu lelah untuk membagi waktu buat anaknya. Bagi saya yang mengalami kedekatan dengan orang tua, saya tahu betul bahwa itu membawa pengaruh yang sangat baik bagi hidup anak-anak setelah dewasa. Tapi bagi yang tidak, jangan lupa bahwa ada Bapa di Surga yang selalu senang untuk membagi waktu dengan kita, anak-anakNya.

Jika mengurus berapa puluh orang saja kita sudah kelabakan, bayangkan Tuhan yang mengurus milyaran orang, belum lagi alam semesta. Tapi nyatanya Tuhan tidak pernah terlalu sibuk untuk kita datangi. Tuhan justru rindu untuk bisa membangun hubungan yang karib dengan kita. Lewat karya penebusan Yesus, kita sudah diberikan kebebasan untuk menghampiri takhta kasih karunia Tuhan kapanpun kita mau. Tidak perlu lewat perantara, tidak perlu melihat waktu-waktu tertentu. Kita bisa menikmati hadiratNya, mengucap syukur, bertanya dan meminta pertolongan kapanpun kita mau. Tuhan selalu punya waktu untuk kita. We should be thankful that God is never too busy for us.

Perhatikan ayat ini: "TUHAN beserta dengan kamu bilamana kamu beserta dengan Dia. Bilamana kamu mencari-Nya, Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi bilamana kamu meninggalkan-Nya, kamu akan ditinggalkan-Nya." (2 Tawarikh 15:2). Ini menunjukkan kerinduan Tuhan untuk bersama kita. Jika kita mencari Tuhan dan menginginkan sebuah hubungan yang dekat, Tuhan akan menunjukkan penyertaanNya kepada kita. Tapi jika kita memilih untuk meninggalkan Tuhan maka itu artinya kita akan berjalan sendirian tanpa adanya Tuhan di sisi kita. Itu tentu saja sangat merugikan bagi kita, terlebih ketika kita mengetahui bahwa Tuhan sebenarnya selalu membuka diri dan ingin kita bersekutu denganNya setiap waktu.

Bahkan Yesus sendiri sudah mengingatkan kita tentang keterbukaan Tuhan ini. "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." (Matius 7:7). Artinya, itu semua tergantung kita. Apakah kita mau membuka hubungan dengan Tuhan atau kita memilih untuk tidak melibatkanNya sama sekali dalam hidup kita. Selama kita minta Tuhan akan berikan, selama kita cari Tuhan akan memberi, selama kita ketuk pintu akan Dia bukakan. Jika keberadaan orang tua disamping kita selama kita bertumbuh saja sudah begitu indah, apalagi jika kita terus berjalan dengan keberadaan Tuhan beserta kita setiap saat. Kita tidak perlu lagi merasa sendirian, kita tidak perlu khawatir apalagi takut, kita tidak perlu ragu dalam menatap masa depan. Ketika Tuhan membuka tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat hingga berkelimpahan, anda akan mendapati bahwa hidup tidaklah mengerikan jika anda menjalaninya bersama dengan Tuhan. Dan kunci agar anda bisa bergaul karib dengan Tuhan sudah diberikan dalam Mazmur: "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." (Mazmur 24:14).

Kita perlu terus melatih diri kita untuk terus lebih dalam lagi berhubungan dengan Tuhan. Kita harus terus memelihara diri kita agar tetap berada dalam kasih Allah. "Peliharalah dirimu demikian dalam kasih Allah sambil menantikan rahmat Tuhan kita, Yesus Kristus, untuk hidup yang kekal." (Yudas 1:21). Dengan demikian, Tuhan akan selalu ada beserta kita, bahkan dalam saat-saat tergelap sekalipun. "Sebab TUHAN, Dia sendiri akan berjalan di depanmu, Dia sendiri akan menyertai engkau, Dia tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau; janganlah takut dan janganlah patah hati" (Ulangan 31:8). Betapa indahnya hidup dalam penyertaan Tuhan. Pastikan bahwa kita selalu beserta denganNya, hidup dengan rasa takut (hormat) kepadaNya, rajin mendengarkan dan setia melakukan firmanNya, maka Tuhan pun akan selalu beserta kita.

Tuhan selalu ada bersama setiap orang yang setia padaNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, September 28, 2013

Nikodemus (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kita tidak tahu apa alasan yang sebenarnya mengenai kedatangan Nikodemus menemui Yesus. Tapi itu semua tidaklah penting. Apa yang penting untuk kita lihat adalah keinginannya untuk menegnal Yesus secara pribadi. Ia belum mengetahui siapa Yesus sebenarnya, segala tentang Yesus masih gelap baginya, dan ia ingin menyingkapkan kegelapan itu dan mengenal kebenaran yang membawa terang. Kedatangan Nikodemus menemui Yesus menunjukkan dengan jelas kerinduannya untuk mengenal Yesus lebih jauh secara langsung, bukan dari kata orang, bukan dari pengamatan dari jauh saja. Nikodemus tahu bahwa Yesus berbeda dari manusia lainnya. "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." (3:2). Tanda-tanda yang dilakukan Yesus, sejauh pengamatannya dan dari apa yang didengarnya sudah menunjukkan sesuatu yang jelas berbeda. Tapi ia tidak ingin berhenti sampai disitu saja. Ia rindu untuk mengenal Yesus secara pribadi, secara dekat, secara langsung, secara nyata. Bagaimana reaksi Yesus? Ternyata Yesus melayani kunjungannya dengan baik meski tidak pada jam normal.

Sebagai pemimpin agama Yahudi, Nikodemus sebenarnya tidak perlu untuk datang menjumpai Yesus. Ia sudah menjadi pemimpin, dan kita tahu seperti apa sifat orang Farisi rata-rata. Nikodemus bisa
saja cuek, ia bisa saja memilih untuk berpegang pada statusnya dan menjaga wibawanya. Ia bisa memilih atau memutuskan untuk tidak peduli dan terus menjalankan hidupnya untuk selalu sesuai dengan Taurat. Tapi nyatanya Nikodemus menyingkirkan itu semua dan memilih untuk datang menjumpai Yesus. Pertemuannya dengan Yesus sesungguhnya telah menariknya keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam Terang dunia, the Light of the world. Itu adalah sebuah pilihan dan keputusan yang tepat, karena jika kita berjalan mengikutiNya, kita tidak akan berjalan dalam kegelapan lagi melainkan memiliki terang dalam hidup. "Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup." (Yohanes 8:12).

Yesus sudah memanggil kita keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terangNya yang ajaib. Dalam surat Petrus dikatakan: "Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib" (1 Petrus 2:9). Disamping itu, Yesus juga sudah menjanjikan bahwa barangsiapa yang percaya padaNya tidak akan tinggal dalam kegelapan lagi. "Aku telah datang ke dalam dunia sebagai terang, supaya setiap orang yang percaya kepada-Ku, jangan tinggal di dalam kegelapan." (Yohanes 12:46).

Oleh karena itu kita selayaknya bersyukur bahwa kita punya Allah yang luar biasa yang akan senantiasa siap menarik kita keluar dari kegelapan untuk masuk ke dalam terangNya. Itu tidak mengenal waktu. Tidak peduli kapan, Tuhan akan selalu dengan senang hati membuka diriNya untuk kita kenal, sehingga kita bisa membangun hubungan yang karib dan intim denganNya. Meski anda pernah melenceng, Tuhan selalu bersedia untuk menerima kita kembali dan mengijinkan kita untuk mengenalNya lebih jauh secara pribadi. Setiap saat, setiap waktu, tangan Tuhan selalu terbuka untuk menyambut kita dengan lemah lembut. Dia bahkan rindu untuk kita kenal. Tapi untuk bisa melakukan itu kita harus mau menyingkirkan hal-hal duniawi yang bisa merintangi langkah kita untuk mengenal Tuhan. Apakah itu ego pribadi, wibawa, status, popularitas, harga diri di mata orang lain, semua ini bisa menghambat kita untuk mengenal Tuhan secara pribadi.

Firman Tuhan berkata: "apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati" (Yeremia 29:13). Semudah itu? Yes, it's actually as simple as that. Yang dibutuhkan adalah kemauan atau kerinduan kita untuk mengenalNya secara lebih jauh dan lebih dekat. Jika kita memiliki kerinduan itu, maka dia akan selalu membuka diriNya untuk menerima kita bahkan siap untuk menyingkapkan segala rahasia Kerajaan Surga kepada kita. (Matius 13:11). Nikodemus memutuskan untuk melakukannya dan ia mendapatkannya. Agar lebih lengkap, saya menganjurkan anda untuk membaca percakapan antara Nikodemus dengan Yesus yang tertulis dalam Yohanes 3:1-21. Kalau Nikodemus mengambil keputusan itu, bagaimana dengan kita? Dari kisah ini kita tahu bahwa Tuhan berkenan untuk kita temui kapan saja. Tidak ada waktu khusus dan batasan jumlah tertentu untuk itu. Datanglah pada Tuhan, kapan saja, dimana saja, mari kenali Tuhan lebih lagi. Meski dalam keadaan tergelap sekalipun dalam hidup kita, Tuhan selalu siap untuk mengangkat kita masuk ke dalam terangNya jika kita mau datang kepadaNya dan rindu untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi.

Penenalan akan Tuhan tidak mengenal waktu

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, September 27, 2013

Nikodemus (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 3:1-2
=======================
"Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya."

Untuk bisa menjadi guru atau pengajar yang baik tidaklah mudah. Seringkali pekerjaan yang tampaknya sederhana ini menyita waktu, lebih dari standar jam mengajar. Mengapa? Karena ada banyak siswa yang masih terlalu asing dengan dunia yang akan mereka masuki sehingga jika anda ingin menjadi guru yang baik, anda perlu membuka wawasannya agar bisa lebih mengenal seluk beluk dari apa yang mereka pelajari. Itu tidak akan cukup kalau hanya didasarkan pada jam mengajar saja. Ini bukan masalah bagi orang yang hanya sekedar berprofesi sebagai pengajar tanpa kerinduan untuk memberi yang terbaik bagi masa depan siswanya. Tapi bagi yang menjalaninya sebagai panggilan dengan kerinduan seperti itu, para pengajar seharusnya bisa memberi waktu lebih kepada para siswanya. Itu akan membuka cakrawala pemikiran mereka sehingga mereka akan mengerti tujuan mereka belajar dan kemana dan untuk apa mereka nantinya akan mengarahkan ilmunya.

Tak kenal maka tak sayang. Itu kata peribahasa kita yang sudah sangat sering kita dengar. Akan sulit bagi kita untuk bisa menyayangi seseorang tanpa mengenal mereka secara baik terlebih dahulu. Bagaimana cara anda untuk bisa mengenal seseorang? Ada banyak cara, tapi intinya tentu anda harus membangun hubungan terlebih dahulu dengan mereka. Disana anda akan bisa mengerti sifat-sifatnya, mengenal pribadinya dengan baik dan dari sana anda kedekatan baru akan terbangun. Tentu sulit bagi kita untuk bisa mengenal pribadi seseorang yang baru saja kita kenal bukan? Pengenalan akan Tuhan pun sama. Kita hanya akan meraba-raba seperti apa Tuhan itu sebenarnya kalau kita tidak membangun hubungan yang baik denganNya. Kita mungkin hanya mengandalkan kata orang, dengar dari kotbah atau berbagai bacaan, dan itu bukanlah pengenalan secara pribadi. Tuhan baik, itu kata orang. Tuhan panjang sabar, itu kata orang. How can we know who God is without establishing good connection/relationship with Him?

Pertanyaan berikutnya: apakah Tuhan terlalu sibuk sehingga enggan berhubungan dengan kita? Apakah membangun hubungan dengan Tuhan merupakan hal yang sangat sulit atau hampir-hampir tidak mungkin? Faktanya tidak seperti itu. Firman Tuhan sudah mengatakan: "TUHAN beserta dengan kamu bilamana kamu beserta dengan Dia. Bilamana kamu mencari-Nya, Ia berkenan ditemui olehmu, tetapi bilamana kamu meninggalkan-Nya, kamu akan ditinggalkan-Nya." (2 Tawarikh 15:2). Tuhan Yesus sendiri mengatakan "Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu." (Matius 7:7). Itu artinya, apabila hubungan dengan Tuhan masih belum terbangun, masalahnya ada pada kita. Apakah kita sudah serius mencariNya untuk membangun sebuah kedekatan yang baik? Apakah kita mengandalkan Tuhan dalam setiap permasalahan yang kita hadapi? Apakah kita sudah bersyukur atas segala kebaikan dariNya selama ini? Ini adalah hal sederhana yang sering luput dari pemikiran kita. Kita terlalu sering hanya fokus kepada dunia beserta segala persoalan di dalamnya sehingga lupa untuk membangun hubungan dengan Bapa yang mengasihi ciptaanNya, terlebih kita yang dibuat serupa dengan gambar dan rupaNya.tolonganNya, Dia tetap bersedia mendengarkan kita.

Mari kita lihat sedikit kisah tentang Nikodemus. Kisah tentang Nikodemus dicatat dengan jelas oleh Yohanes. "Adalah seorang Farisi yang bernama Nikodemus, seorang pemimpin agama Yahudi. Ia datang pada waktu malam kepada Yesus dan berkata: "Rabi, kami tahu, bahwa Engkau datang sebagai guru yang diutus Allah; sebab tidak ada seorangpun yang dapat mengadakan tanda-tanda yang Engkau adakan itu, jika Allah tidak menyertainya." (Yohanes 3:1-2). Yohanes mengatakan: "Ia datang pada waktu malam kepada Yesus.." (Yohanes 3:2). Kita bisa melihat hal yang aneh dari ayat ini. Mengapa Nikodemus harus datang malam-malam? Mungkin ia sibuk bekerja di siang hari dan hanya punya waktu pada malam hari. Atau mungkin ia tidak ingin menimbulkan polemik di kalangan orang-orang Farisi sehingga dirinya bisa bermasalah. Nikodemus bukanlah orang biasa-biasa saja. Dengan jelas dikatakan bahwa statusnya adalah sebagai seorang pemimpin agama Yahudi. (ay 1). Masa seorang guru besar, seorang pemimpin pergi merendahkan dirinya untuk menemui seseorang? Maka sebagian orang berpendapat bahwa ia memilih waktu gelap agar tidak ketahuan. Mungkin pula, Nikodemus menganggap bahwa malam hari adalah saat yang lebih tepat, karena suasana lebih senyap dan minim gangguan sekitar yang bisa membuyarkan konsentrasi, atau ia memang tidak ingin mengganggu pelayanan Yesus sehingga datang pada waktu yang relatif lebih santai. Kedatangannya memang bukan di jam normal, sehingga setiap kali Yohanes menyinggung tentang Nikodemus, ia selalu menghubungkannya dengan waktu kedatangan Nikodemus yang aneh ini. "Nicodemus, who came to Jesus before at night" (7:50,Amplified Bible), "And Nicodemus also, who first had come to Jesus by night." (19:39). "Nikodemus yang itu lho... yang datang malam-malam menemui Yesus.." kira-kira seperti itu kata Yohanes tentang Nikodemus pemimpin agama Yahudi, orang Farisi.

(bersambung)

Thursday, September 26, 2013

Refreshed

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 19:8
=====================
"Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman."

Gerah di musim kemarau bisa membuat tubuh terasa sangat tidak nyaman. Badan lengket karena keringat, terasa panas, dan kalau sudah begitu saya biasanya sulit untuk konsentrasi mengerjakan tulisan-tulisan saya. Inspirasi seperti mandek. Kalau sudah begitu saya biasanya memilih untuk meninggalkan tugas saya sejenak dan melakukan sesuatu yang bisa menyegarkan saya kembali. Mandi, membuat segelas teh dingin atau jika butuh relaksasi saya biasanya mengambil waktu untuk menonton televisi sebentar. Jika tetap saya paksakan, itu hanya akan membuang waktu sia-sia dan tulisan jadi tidak maksimal.

Jika anda lelah, apa yang bisa membuat anda merasa segar kembali? Jawabannya tentu berbeda bagi tiap orang.  Ada yang cukup dengan mandi dan minum minuman segar, ada yang butuh waktu beristirahat atau bersantai, ada pula yang dengan pergi liburan dan sebagainya. Apapun cara yang anda sukai dalam menyegarkan diri kembali, satu hal yang pasti adalah bahwa tubuh kita butuh disegarkan (refreshed, recharged, restored) setelah kita capai fisik atau otak dalam bekerja sehari-hari. Jika tidak, maka kita bisa kehilangan gairah kerja, performance menurun sehingga kualitas pekerjaan pun menjadi tidak maksimal atau molor dari tenggat waktu yang telah ditetapkan. Kita juga bisa jatuh sakit karena kondisi tubuh yang tidak fit. Wajah menjadi muram dan kita jadi uring-uringan, mudah marah. Itupun merupakan gejala yang biasa atau normal dari orang-orang yang terlalu lelah bekerja tanpa punya waktu untuk menyegarkan diri kembali.

Kalau tubuh kita bisa mengalami kelelahan, kondisi jiwa dan roh kita pun sama membutuhkan penyegaran kembali. Jiwa bisa mengalami kelelahan akibat tekanan-tekanan hidup, bermacam kesulitan yang setiap saat menghampiri kita. Rasa stres, depresi dan lain-lain bisa mengganggu jiwa kita. Sementara roh memang tidak melakukan pekerjaan-pekerjaan mengangkat beban berat seperti halnya fisik, tapi ingatlah bahwa sebenarnya setiap hari kita terus berperang baik melawan berbagai gangguan atau godaan, baik lewat keinginan daging dari diri sendiri hingga berbagai godaan iblis yang terus berusaha untuk menjatuhkan kita dari segala sisi. Kondisi ini tentu menyedot energi, sehingga apabila tidak dijaga, keadaan rohani kita pun bisa kehabisan tenaga dan lama-lama kering lalu mati. Bisa dibayangkan betapa besar resikonya kalau kita membiarkan jiwa dan roh kita mengalami kekeringan. Ketika itu yang terjadi, jiwa kita tidak lagi punya daya tahan kuat untuk menghadapi berbagai persoalan. Roh pun sama, bisa lumpuh kalau tidak disegarkan. 

Daud mengatakan bahwa orang yang mencintai Taurat Tuhan dan mau merenungkannya siang dan malam akan "seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Tidak akan layu, terus berbuah subur. Itu merupakan karakter pohon-pohon yang tumbuh di pinggiran sungai karena terus mendapat suplai air yang cukup.Kondisi tubuh kita bisa kita jaga dengan menjaga pola makan, berolahraga atau kembali disegarkan dengan mengambil waktu-waktu beristirahat, bersantai atau berlibur. Lalu bagaimana jiwa dan roh kita? Kitab Mazmur memberi jawabannya. "Taurat TUHAN itu sempurna, menyegarkan jiwa; peraturan TUHAN itu teguh, memberikan hikmat kepada orang yang tak berpengalaman." (Mazmur 19:8). Firman Tuhan mampu menjawab kebutuhan akan kesegaran jiwa. Jadi jelas bahwa kita membutuhkan  asupan firman Tuhan setiap hari. Firman Tuhan bukan hanya mampu selalu menguatkan, meneguhkan, memberi kelegaan, tapi juga menyegarkan! Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan "The law of the Lord is perfect, restoring the whole person." God's words can and will always restore us!

Lebih lanjut kita bisa melihat hal ini dalam kitab Yesaya. Tuhan tahu betul kebutuhan kita mengenai ini dan Tuhan sudah berjanji untuk menyediakan itu bagi kita. "Sebab Aku akan mencurahkan air ke atas tanah yang haus, dan hujan lebat ke atas tempat yang kering. Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas keturunanmu, dan berkat-Ku ke atas anak cucumu. Mereka akan tumbuh seperti rumput di tengah-tengah air, seperti pohon-pohon gandarusa di tepi sungai." (Yesaya 44:3-4). Pengenalan yang mendalam akan Tuhan yang dibangun secara terus menerus pun akan memberikan kita kesegaran seperti ini. Dalam Hosea kita bisa melihat ayat yang berbicara akan hal ini. "Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi." (Hosea 6:3) Setelah mengalami kemarau panjang, tidakkah curah hujan akan membuat semuanya menjadi segar kembali? Seperti itulah janji Tuhan untuk kita yang mau bersungguh-sungguh mau mengenalNya.

Jadi sangatlah penting bagi kita untuk terus membekali jiwa dan roh kita dengan firman Tuhan. Daud tahu bagaimana bahagianya jika ia tetap berada dekat dengan firman Tuhan yang penuh dengan kuasa. Bacalah Mazmur 119 dimana Daud menyebutkan dengan sangat terperinci mengenai bahagianya orang yang hidup menurut Taurat Tuhan. Berkali-kali pula Daud membagi testimoni dari pengalamannya hidup dekat dengan firman Tuhan. Salah satunya berbunyi seperti ini: "Aku mendapatkan kebahagiaan dalam mentaati perintah-perintah-Mu." (Mazmur 119:55). Dalam bahasa Inggrisnya dikatakan: "This I have had [as the gift of Your grace and as my reward]: that I have kept Your precepts [hearing, receiving, loving, and obeying them]." Tubuh harus disegarkan, jiwa dan roh pun demikian. Karena itu tetaplah dekat dengan firman Tuhan. Let the Words of God splash your soul and be refreshed, restored and recharged! Jika anda merasa jiwa dan roh anda mulai dahaga atau mengalami kekeringan, Firman Tuhan adalah jawaban yang anda butuhkan. Tetap segarkan jiwa dengan firman Tuhan agar kita tetap punya daya tahan yang kuat untuk menghadapi segala tantangan dan kesulitan setiap hari.

Firman Tuhan menyegarkan jiwa yang lelah

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, September 25, 2013

Panjangnya Kesabaran Tuhan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Nahum 1:3,7
=====================
"TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya... TUHAN itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan; Ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya"

Kesalkah anda ketika orang yang anda sayangi terus berbuat kesalahan yang sama? Datang kepada anda meminta maaf, tapi kemudian mengulangi lagi. Satu dua kali anda mungkin masih bisa bersabar, tetapi lama-lama kesabaran pun habis. "Kesabaran orang ada batasnya bro.." demikian kata teman saya pada suatu kali yang menghadapi masalah seperti itu dari kekasihnya yang sepertinya tidak bisa lepas dari kehidupan hura-hura di malam hari bersama teman-teman lamanya. Kesabaran manusia memang berbeda-beda panjangnya. Ada yang bisa sangat sabar, ada pula yang 'sumbu' kesabarannya pendek. Tapi pernahkah anda berpikir bahwa kita pun rata-rata masih sering jatuh ke dalam lubang yang sama, meminta ampun kepada Tuhan berkali-kali tapi masih juga melakukan kesalahan berulang-ulang?

Ada banyak dari kita masih bergumul dengan masalah yang sama dengan Tuhan yang begitu mengasihi kita semua. Jika kita kesal berhadapan dengan orang-orang yang terus menerus melakukan kesalahan yang sama, Tuhan pun mungkin kesal melihat kita yang terus saja melakukan perbuatan-perbuatan yang terus mengecewakan dan menyedihkan hatiNya. Tapi hebatnya, kasih Tuhan masih jauh lebih besar ketimbang rasa kecewaNya. Berulang-ulang kita berbuat salah, Tuhan masih mauterus dengan sabar memberi kesempatan kepada kita, memberikan kesempatan kepada kita semua untuk terus berproses dan berubah menjadi lebih baik dan taat lagi dari hari ke hari.

Dalam kitab Nahum dikatakan: "TUHAN itu panjang sabar dan besar kuasa, tetapi Ia tidak sekali-kali membebaskan dari hukuman orang yang bersalah. Ia berjalan dalam puting beliung dan badai, dan awan adalah debu kaki-Nya." (Nahum 1:3). Maka perhatikanlah dengan jelas. Tuhan memang panjang kesabarannya, tetapi itu bukan berarti kita bisa memanfaatkan kebaikan Tuhan dengan terus melakukan perbuatan yang melanggar ketetapanNya. Jika kesempatan masih ada, bersyukurlah karena itu artinya Tuhan yang sangat panjang sabarnya itu masih memberi anda waktu untuk berbenah, memperbaiki diri kembali ke jalan yang benar agar segala yang Dia janjikan tidak luput dari kita. Semua itu karena Tuhan begitu mengasihi kita dan tidak ingin satupun dari kita gagal menerima keselamatan yang telah membuat Tuhan rela mengorbankan Yesus menggantikan kita di atas kayu salib.

Bayangkan betapa baiknya Tuhan dengan kesabaran yang begitu panjang. Tanpa itu semua, mungkin sejak dulu kita sudah binasa. Dia sungguh baik memberikan kita waktu dan kesempatan untuk terus berusaha menjadi lebih baik lagi. Tidak hanya itu saja, Tuhan pun sangatlah besar dan tak terukur kuasaNya. Lihatlah bagaimana Tuhan mengatur segala alam semesta beserta isinya, sehingga tidak satupun dari planet atau gugus bintang bertabrakan dan saling menghancurkan satu sama lain. Segala yang baik yang disediakan Tuhan dalam pemeliharaanNya pun berperan untuk memberi kesempatan bagi kita untuk terus berbenah diri. Bayangkan jika tiba-tiba alam semesta menjadi kacau, kesempatan kita untuk memperbaiki diri pun sirna. Daud begitu menyadari hal ini dan ia juga berkata "Sesungguhnya aku tahu, bahwa TUHAN itu maha besar dan Tuhan kita itu melebihi segala allah." (Mazmur 135:5).

Kita pantas bersyukur atas kebesaran kuasa Tuhan yang jauh melebihi kemampuan nalar manusia dan atas kesabaran Tuhan terhadap proses perbaikan diri kita. Kebaikan Tuhan seharusnya membuat kita berdiri dan bersorak sorai dalam sukacita, bukannya malah terus menjauh, melupakan atau menyalahkan Tuhan atas segala kesulitan yang kita alami. Maka sudah sepantasnya kita menyadari betul segala perbuatan dan penyertaan Tuhan dalam hidup kita dan mengucap syukur atasnya. Sudah seharusnya pula kita berkomitmen untuk tidak lagi melanggar peraturan/ketetapan Tuhan sebagai bentuk penghargaan kita akan kebaikan dan kesabaran Tuhan. Lewat Kristus kita semua sudah dimerdekakan, oleh sebab itu kita harus menyikapinya dengan terus menjaga diri kita agar tidak kembali terjatuh kepada kebiasaan-kebiasaan buruk atau dosa-dosa di masa lalu. "Supaya kita sungguh-sungguh merdeka, Kristus telah memerdekakan kita. Karena itu berdirilah teguh dan jangan mau lagi dikenakan kuk perhambaan." (Galatia 5:1). Jangan biarkan ada kuk perhambaan lagi yang masih membelenggu kita. Kita harus menjaga kesadaran dengan sebaik-baiknya agar tidak terus mengulangi kesalahan yang sama. "Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!" (1 Korintus 15:34). Kesalahan demi kesalahan yang tidak ditangani serius bisa membuka pintu masuk bagi banyak dosa yang akhirnya menguasai diri kita. Selagi Tuhan masih mengijinkan kita untuk berproses lebih baik, pergunakanlah waktu dan kesempatan yang ada dengan sebaik-baiknya. Bersyukurlah bahwa Tuhan menggunakan kebaikanNya bukan untuk menolak kita, melainkan justru untuk menggapai dan menyentuh hati kita. Tuhan memberi kita kesempatan luas, tapi jangan sia-siakan agar segala yang terbaik yang sudah Tuhan sediakan buat kita tidak berlalu dari hadapan kita.

Tuhan itu baik dan panjang sabar, tetapi jangan pernah manfaatkan sebagai peluang untuk terus mengulangi kesalahan yang sama

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, September 24, 2013

Jatuh Kedalam Lubang yang Sama

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 15:34
=======================
"Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!"

"Hanya keledai yang jatuh ke dalam lubang yang sama." Ini adalah ungkapan yang tidak asing bagi kita, yang sering dipakai untuk mengingatkan agar kita tidak jatuh ke dalam kesalahan yang sama berulang-ulang. Tapi kenyataannya, berapa sering kita jatuh ke dalam lubang yang sama? Kerap kali manusia mudah jatuh mengulangi kesalahan yang pernah mereka perbuat sebelumnya, dan biasanya dilakukan tanpa sadar. Menyesal, tapi jatuh lagi, begitu berulang-ulang. Biasanya kita mengarah kepada sifat atau kebiasaan yang sepertinya sulit untuk dirubah. Jika demikian, tentu kesadaran memegang peranan penting agar kita tidak terus-terusan jatuh ke dalam jebakan yang sama. Tidak sadar atau sedikit saja lengah bisa membawa banyak kerugian baik bagi hidup kita maupun bagi perkembangan iman kita menuju keselamatan yang kekal.

Kesadaran itu sangatlah penting. Firman Tuhan berkata:  "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8). Ayat ini dengan jelas mengatakan bahwa iblis hanya bisa mencari orang yang dapat ditelannya. Iblis tidak bisa serta merta mempengaruhi kita apabila tidak ada celah yang terbuka untuk dia masuki. Tanpa adanya celah, iblis hanya bisa berputar-putar di luar saja. Apabila roh kita lemah, kita rentan untuk diserang oleh berbagai macam jebakan. Itulah sebabnya Tuhan Yesus mengingatkan kita untuk senantiasa berjaga-jaga dan berdoa. "Berjaga-jagalah dan berdoalah, supaya kamu jangan jatuh ke dalam pencobaan; roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Matius 26:41, Markus 14:38). Berjaga-jaga tidak akan bisa dilakukan oleh orang yang setengah sadar. Orang yang setengah sadar biasanya lengah. Lewat Paulus kita diingatkan seperti ini: "Sadarlah kembali sebaik-baiknya dan jangan berbuat dosa lagi!" (1 Korintus 15:34). Perhatikan bahwa kita diingatkan bukan hanya sekedar sadar, bukan setengah sadar, bukan pula pura-pura sadar, tetapi sadar dengan sebaik-baiknya. Itulah akan menutup segala celah sehingga kita tidak terus menerus jatuh ke dalam lubang dosa yang sama.

Kita seharusnya sadar hakekat diri kita saat ini yang sudah ditebus, "yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (Efesus 4:22-24). Kita juga diingatkan agar selalu mampu "menanggalkan semua beban dosa yang begitu merintangi kita dan berlomba dengan tekun dalam perlombaan yang diwajibkan bagi kita." (Ibrani 12:1). Setiap saat dosa bisa memperlambat atau bahkan menghentikan langkah kita. Iblis selalu siap menjebak kita masuk ke dalam jeratnya kapan, dimana dan bagaimanapun. Hanya dengan kesadaran yang sebaik-baiknyalah kita bisa terhindar dari itu semua. Sulit? Tentu saja, sebab kedagingan kita yang lemah bisa membuat kita tergoda terhadap berbagai bentuk dosa terutama yang sudah pernah atau dulu sering kita lakukan. Tapi ingatlah bahwa kita bukan bergantung pada kekuatan kita sendiri, tapi Roh Allah-lah yang akan memampukan kita. Namun itu akan sulit terjadi apabila kita belum sadar sepenuhnya mengenai siapa sejatinya diri kita hari ini dan bagaimana seharusnya kita hidup dalam sebagai manusia yang baru.

Kesadaran yang bukan ala kadarnya tapi sebaik-baiknya mutlak kita jaga agar bisa waspada dari berbagai jebakan dosa termasuk kebiasaan-kebiasaan lama yang kerap menggiring kita kembali kesana.  Sadarilah baik-baik bahwa kita sudah ditebus dan dianugerahkan kedudukan tinggi sebagai anak-anak Allah. Itu tidak akan pernah sebanding dengan berbagai kenikmatan sementara yang mengandung banyak kecemaran. Jadi kita harus benar-benar sadar sepenuhnya, sebaik-baiknya dan tidak berbuat dosa lagi. Miliki tekad hari ini untuk berjalan dalam kesadaran penuh sesuai kedudukan kita yang benar di hadapan Allah. Jika anda merasa khawatir dengan kemampuan anda untuk mencegah kembalinya dosa-dosa lama, Firman Tuhan berkata: "Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu." (1 Petrus 5:7). Hendaklah kita semua sadar,dengan sebaik-baiknya agar kita bisa menerima berkat Tuhan sepenuhnya tanpa halangan dan terhindar dari resiko buruk bagi masa depan kita.

Jangan sadar sekedarnya tapi sadarlah sepenuhnya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, September 23, 2013

Yosia

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Tawarikh 34:2
=======================
"Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri."

Apakah usia muda bisa menjadi alasan untuk tidak perlu taat kepada perintah Tuhan? Mungkin mudah bagi kita untuk berkata itu tidak bisa dijadikan alasan, tapi kenyataannya ada banyak anak muda  yang menganggap usia muda merupakan waktu dimana kita mereka masih bisa bersenang-senang sepuasnya. "Urusan hidup benar nanti saja kalau saya sudah tua, sekarang saya masih mau menikmati hidup dulu sesuka saya." Bentuk pemikiran seperti ini sering diamini oleh banyak anak-anak muda hari ini. Mereka tidak/belum mau direcoki oleh perihal kebenaran dan hidup kudus sesuai perintah Tuhan. Mereka menganggap waktu masih banyak bagi mereka untuk berbalik menjadi benar, yaitu kelak ketika mereka sudah dewasa atau tua. Secara teoritis dengan mengacu kepada faktor umur manusia rata-rata mungkin ya, tetapi berapa lama masing-masing orang itu hidup di dunia merupakan misteri Tuhan yang tidak bisa kita ketahui dengan pasti.

Anda akan terkejut jika bertemu dengan anak seorang teman saya yang usianya masih 10 tahun. Sejak di usia 6 tahun ia sudah menunjukkan tingkat keimanan luar biasa yang bahkan lebih besar ketimbang orang tuanya. Dengan pikiran yang polos seusianya ia ternyata sudah bisa menangkap firman Tuhan dan mengaplikasikannya langsung dalam kehidupannya. Berkali-kali ia mengingatkan orang tuanya agar jangan mengeluh, mengingatkan berdoa, mengucap syukur dan sebagainya. Suatu kali ia berkata kepada saya bahwa tidak seharusnya kita merasa takut karena Tuhan kita adalah Tuhan yang punya segalanya dan bisa melakukan segalanya pula. Ini bentuk iman yang sangat sederhana tetapi esensial, yang akan sangat baik jika dicontoh oleh kita yang berusia jauh di atasnya. Ia sama sekali tidak terganggu ketika teman-teman sekelasnya punya gadget-gadget mewah sementara orang tuanya belum mampu menyediakan itu. Sementara ada anak teman saya lainnya yang tengah menginjak usia remaja. Ia bercerita bahwa teman-temannya menertawakan ketika ia tidak mau clubbing dan minum-minum serta berpacaran dengan gaya anak sekarang. Menanggapi cemoohan temannya yang mengatakan bahwa ia ketinggalan jaman, kuno atau sok suci, ia menjawab: "mudah bagi saya untuk seperti kamu, tapi akan sangat sulit bagi kamu untuk bisa seperti saya." Wah, ini pun merupakan sikap hidup yang sangat baik dan langka di jaman sekarang. Begitu pula anak-anak muda yang terlibat dalam pelayanan. Mereka ternyata bisa tetap menikmati masa mudanya tanpa harus mengorbankan ketaatan akan Firman Tuhan.

Ada contoh menarik dari Alkitab akan hal ini, yaitu mengenai seorang bernama Yosia yang tertulis dalam kitab 2 Tawarikh. Menurut catatan sejarah, Yosia dinobatkan menjadi raja di Yerusalem pada usia yang masih sangat kecil, baru 8 tahun. Masa pemerintahannya tercatat cukup panjang, yakni mencapai 31 tahun. Umur 8 tahun mungkin bukanlah umur yang normal untuk bisa memimpin, apalagi memimpin dengan lurus dan jujur. Tapi Yosia tercatat dalam Alkitab memang memiliki gaya hidup yang lurus semenjak diusia mudanya. "Ia melakukan apa yang benar di mata TUHAN dan hidup seperti Daud, bapa leluhurnya, dan tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri." (2 Tawarikh 34:2). Di ayat berikut dikatakan: "Pada tahun kedelapan dari pemerintahannya, ketika ia masih muda belia, ia mulai mencari Allah Daud, bapa leluhurnya, dan pada tahun kedua belas ia mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari pada bukit-bukit pengorbanan, tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan." (ay 3). Dikatakan pada tahun kedelapan dari pemerintahannya, berarti usia Yosia masih 16 tahun, dan itulah waktu dimana ia memutuskan untuk mencari Tuhan. Itu tentu usia yang masih sangat muda. Jika kita pikir lebih jauh, status Yosia saat itu sudah menjabat raja selama 8 tahun. Ia tentu punya jadwal yang sangat padat, ditambah lagi banyaknya kemungkinan untuk tergiur berbagai bentuk dosa mengingat dia adalah pemegang tampuk pimpinan tertinggi saat itu. Mengingat satusnya, tentu ia bisa berbuat apa saja sesuka hatinya. Kita yang dewasa yang harusnya lebih bijaksana saja pasti gampang tergoda berbagai bentuk dosa kalau kita punya kekuasaan setinggi Yosia. Tetapi Yosia memang beda. Ia memiliki gaya hidup yang berbeda dari banyak raja/pimpinan lainnya yang gaya hidupnya tidak berkenan bagi Tuhan.

Pada tahun ke dua belas, artinya 4 tahun kemudian saat Yosia mencapai usia 20 tahun, ia sudah mulai mentahirkan Yehuda dan Yerusalem dari berbagai bentuk penyembahan berhala. "Mezbah-mezbah para Baal dirobohkan di hadapannya; ia menghancurkan pedupaan-pedupaan yang ada di atasnya; ia meremukkan dan menghancurluluhkan tiang-tiang berhala, patung-patung pahatan dan patung-patung tuangan, dan menghamburkannya ke atas kuburan orang-orang yang mempersembahkan korban kepada berhala-berhala itu." (ay 4). Lihatlah bahwa pada usia yang masih sangat muda, Yosia sudah berperilaku lurus dan sudah mampu meluruskan jalan bangsanya yang sesat. Yosia mempergunakan statusnya sebagai raja dengan benar, tidak menyalahgunakan jabatan yang ia pegang. Di usia belia seperti itu Yosia sanggup menjadi pelopor dalam pergerakan reformasi rohani di wilayah pemerintahannya. Ini tentu catatan yang sungguh luar biasa.

Jika anda masih berusia muda belia, jangan tunggu lama-lama. Jangan tunda untuk hidup benar dan membiarkan diri anda terus terlena dalam gaya hidup dan nafsu duniawi anak muda di jaman modern hari ini. Ada begitu banyak tawaran dan godaan yang akan terlihat menyenangkan tetapi sesungguhnya sangat berbahaya untuk dicoba. Obat-obatan, pengaruh seks bebas, berbagai pesta yang penuh perilaku buruk hingga tindak-tindak kejahatan dalam kelompok-kelompok yang mengganggu ketertiban dan keamanan masyarakat. Jangan pernah buka celah bagi iblis untuk masuk dan merusak diri anda hanya karena anda merasa masih punya banyak waktu untuk menjalani hidup benar. Pada jaman Paulus, ia pernah mengingatkan Timotius yang juga pada saat itu masih muda, "Sebab itu jauhilah nafsu orang muda, kejarlah keadilan, kesetiaan, kasih dan damai bersama-sama dengan mereka yang berseru kepada Tuhan dengan hati yang murni." (2 Timotius 2:22).

Tidak ada yang tahu kapan akhir jaman tiba. "Tetapi tentang hari atau saat itu tidak seorangpun yang tahu, malaikat-malaikat di sorga tidak, dan Anakpun tidak, hanya Bapa saja." (Markus 13:32). Jangankan akhir jaman, sampai berapa lama kesempatan kita hidup di dunia ini pun kita tidak tahu. Kalau kita tidak siap-siap sejak sekarang, bisa jadi penyesalan akan datang pada saat yang sudah terlanjur terlambat. Seperti Yosia dan Timotius, jadilah teladan sejak muda. Begitu pula bagi kita semua yang mungkin sedang berada pada posisi pemimpin, jadilah pemimpin yang mencerminkan keteladanan Kristus. Jangan salah gunakan posisi yang dipercayakan Tuhan pada diri anda saat ini, tapi muliakanlah Tuhan lewat kepemimpinan yang lurus. Didik dan bimbinglah anggota anda dengan jujur, tanamkan gaya hidup yang baik sehingga mereka pun bisa mengenal Tuhan lewat diri anda. Demikian pula anak-anak yang sudah dipercayakan Tuhan kepada anda, merekapun sebaiknya sudah dibimbing untuk mengenal pribadi Tuhan sejak dini. "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6). Sebagai orang tua, jadilah pahlawan dengan "busur panah" yang baik untuk mengarahkan "anak-anak panah" anda ke arah yang benar, seperti yang diingatkan dalam Mazmur 127:4. Jika anda masih muda, anda bisa mulai menjadi pelopor kebangkitan rohani dari sekarang. Bagi anda yang berada dalam posisi pemimpin dalam tingkatan apapun, hendaklah anda bisa mempimpin dengan bersih, jujur dan berorientasi pada kebenaran Firman Tuhan. Pada akhirnya, siapapun anda saat ini dan berapapun usia anda, mulailah mengambil komitmen untuk hidup lurus, benar di mata Tuhan.

Tidak peduli berapa usia kita, kita dituntut untuk hidup benar dan menjadi saksi Kristus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, September 22, 2013

Aku adalah Aku (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Ada beberapa tokoh besar lainnya dalam Alkitab yang pernah mengalami keraguan yang sama. Mereka memfokuskan pandangan kepada kelemahan sehingga lupa melihat kepada siapa yang menugaskannya. Tetapi adalah sangat menarik jika kita melihat bagaimana reaksi Paulus, mantan orang jahat dan kejam yang kemudian berbalik menjadi pengikut Yesus yang sangat berpengaruh dalam pengajaran kekristenan bahkan sampai hari ini. Setelah Paulus aktif melayani, ia pun pada suatu kali pernah merasa terganggu atas kelemahannya dan meminta kepada Tuhan. Tetapi apa kata Tuhan? "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." (2 Korintus 2:9) Jawaban Tuhan ini membuka mata Paulus bahwa bukan kemampuannya yang penting tetapi Tuhan-lah yang memampukan. Ia pun sampai pada satu kesimpulan, bahwa dalam kelemahannya-lah dia menjadi kuat. (2 Korintus 12:10).

Kelemahan kita, keterbatasan kita, kekurangan kita, ketidakmampuan kita, bahkan ketidaklengkapan kita sekalipun bisa dipergunakan Tuhan untuk menyatakan kuasaNya. Tuhan mampu memenuhi kita dengan kekuatan sehingga segala keterbasan kita bisa tetap bersinar luar biasa sehingga dapat dipakai untuk hal yang baik. Yang pasti, jika itu rencana atau panggilan Tuhan, maka Dia sendiri telah menyediakan segala yang kita butuhkan dan akan tetap mendampingi kita dalam menunaikan tugas. Dalam pandangan kita atau manusia mungkin itu terlihat tidak cukup, logika kita mungkin berkata bahwa apa yang kita miliki tidaklah ada apa-apanya, tetapi jika Tuhan yang menghendaki, maka apapun bisa terjadi. Anda tidak harus menjadi super sarjana untuk berhasil dalam hidup, tidak harus jadi super pendeta untuk mampu melayani. Anda tidak harus menjadi Superman yang bisa terbang untuk memberkati orang lain. Kita semua bisa dipakai Tuhan untuk menyatakan kemuliaanNya. Berbagai latar belakang kita, selemah apapun, bisa diubah menjadi sumber berkat luar biasa. Dibalik segala kelemahan kita, kuasa Tuhan justru menjadi sempurna.

Firman Tuhan secara spesifik berbicara mengenai hal ini dengan panjang lebar. "Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia. Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orang-orang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti." (1 Korintus 1:25-28). Dalam segala keterbatasan kita, datanglah pada Tuhan dan berpeganglah padaNya. Kita akan terus bertumbuh dalam kekuatan, semangat, dan sukacita jika kita terus membangun hubungan dengan Tuhan. Semua tergantung seberapa besar kita mau taat, seberapa besar kita mau mematuhi dan menuruti kehendakNya bagi hidup kita, seberapa besar iman yang bisa memampukan kita memandang kepada Tuhan ketimbang memfokuskan pandangan hanya pada kelemahan atau kekurangan kita. Ingatlah, "I AM WHO I AM and WHAT I AM, and I WILL BE WHAT I WILL BE." Kita harus menyadari betul bahwa "Akulah Aku dan Siapa Aku", itu jauh lebih penting dari siapa kita sendiri.

Kuasa Tuhan justru menjadi sempurna dalam kelemahan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, September 21, 2013

Aku adalah Aku (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Keluaran 3:14 (English Amp)
===============
"And God said to Moses, I AM WHO I AM and WHAT I AM, and I WILL BE WHAT I WILL BE"

Bagaimana reaksi kita ketika menghadapi masalah atau beban hidup, kesulitan yang tampaknya bagai lorong berliku (maze) dimana pintu keluarnya tidak kunjung ketemu? Setiap orang tentu pernah mengalami hal ini pada suatu ketika. Akhir-akhir ini teman saya tengah menghadapi persoalan seperti itu. Dari satu kesulitan kepada satu kesulitan lain yang tampaknya berbelit-belit. Ia pun mulai 'down' dan mengeluhkan keterbatasannya dalam berbagai hal. Mungkin karena saya kurang ini, kurang itu, bahkan ia mulai meragukan kepedulian Tuhan dan mengira bahwa Tuhan menutup mata terhadap pergumulannya. Perasaan memang bisa mempengaruhi kita. Jika perasaan negatif itu dibiarkan berlarut-larut maka performance kita dalam hidup bisa menurun. Kita menjadi kehilangan percaya diri, mulai takut dan pada akhirnya kehilangan harapan. Jika diibaratkan petinju, kita sudah melempar handuk tanda menyerah. Kalau dimisalkan dengan lampu maka sudah redup bahkan mati. Mengapa hal ini terjadi? Yang sering menjadi penyebabnya adalah kebiasaan kita untuk melihat kelemahan-kelemahan yang ada ketimbang melihat Sosok yang sesungguhnya senantiasa berjalan bersama kita.

Inilah yang dialami Musa disaat ia pertama kali mendapat tugas berat. Pada saat itu Musa sudah tidak lagi muda, dan merasa punya kekurangan atau kelemahan dari kemampuan berbicara meyakinkan orang.  Maka ketika Tuhan tiba-tiba memanggilnya dikala Musa sedang menggembalakan domba-domba milik Yitro, mertuanya, ia pun meragukan kesanggupannya. Saya yakin dalam seketika ada banyak keraguan berkecamuk dibenaknya, terutama masalah percaya diri. "Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?" (Keluaran 3:11). Dengan kata lain Musa mencoba meyakinkan Tuhan bahwa Tuhan salah pilih orang. Reaksi ini sangatlah wajar mengingat Musa tidak punya pengalaman dalam hal meyakinkan orang lewat kata-kata, terlebih mengingat bangsa Israel adalah bangsa yang keras kepala serta tegar tengkuk. Lalu bagaimana jawaban Tuhan? "Bukankah Aku akan menyertai engkau?" (ay 12). Ketika Musa kembali bertanya, maka Tuhan menjawab dengan tegas: "AKU ADALAH AKU." Lagi firman-Nya: "Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu." (ay 14). Dalam bahasa Inggrisnya lebih tegas: "I AM WHO I AM and WHAT I AM, and I WILL BE WHAT I WILL BE, and He said, You shall say this to the Israelites: I AM has sent me to you!" Agak sulit memang menerjemahkan kalimat yang diucapkan Tuhan ini, tetapi saya percaya anda bisa membedakan antara 'who I am' dan 'What I am', begitu pula dengan I will be what I will be. Intinya, Tuhan meyakinkan Musa bahwa dibalik segala keraguannya, Musa seharusnya sadar bahwa yang menugaskannya bukanlah orang melainkan Tuhan, Raja di atas segala raja, Pencipta dan Pemilik segalanya. Tuhan berkata, "hei Musa, Akulah yang menugaskanmu. Aku adalah Aku dan siapa Aku, dan Aku akan selalu menjadi Aku."

Jika kalimat ini terasa membingungkan, Musa pun merasakan hal yang sama. Tampaknya Musa belum mengerti karena pengertiannya masih tertutupi oleh keraguan yang ada dalam dirinya sehingga ia kembali mengungkapkan ketidakyakinannya. "Ah, Tuhan, aku ini tidak pandai bicara, dahulupun tidak dan sejak Engkau berfirman kepada hamba-Mupun tidak, sebab aku berat mulut dan berat lidah." (4:11). Apakah Musa gagap atau punya kesulitan dalam mengungkapkan isi hati lewat kata-kata? Entahlah. Tapi yang pasti Musa berpusat pada kelemahannya. Tapi Tuhan menjawab: "Siapakah yang membuat lidah manusia, siapakah yang membuat orang bisu atau tuli, membuat orang melihat atau buta; bukankah Aku, yakni TUHAN? Oleh sebab itu, pergilah, Aku akan menyertai lidahmu dan mengajar engkau, apa yang harus kaukatakan." (ay 11-12). Benar, Musa bukanlah orator atau politisi yang pintar bersilat lidah. Musa bukan berprofesi sebagai pengkotbah, ia pun bukan penyair atau pengarang lagu yang handal merangkai kata. Apa yang dilupakan Musa justru hal yang sangat penting, yaitu bahwa bukan kemampuan kita yang menentukan berhasil tidaknya kita, tetapi kuasa Tuhanlah yang memampukan.
(bersambung)

Friday, September 20, 2013

Iman Seperti Emas Murni

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Petrus 1:7
===============
"Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya."

Banyak orang yang mengenal emas sebagai benda padat yang diukir indah sebagai perhiasan. Padahal emas yang murni sebenarnya lembut/lentur, kuning berkilat sehingga mudah ditempa. Cara pemurnian emas ditempuh lewat proses pembakaran. Emas dibakar dengan suhu yang sangat tinggi sampai cair. Setelah cair, kotoran-kotoran yang melekat pada emas seperti karat, debu dan/atau logam-logam lain akan mudah dipisahkan dan disingkirkan. Suhu dinaikkan lagi dan kotoran yang masih tertinggal akan naik ke permukaan lalu sehingga bisa dibuang. Proses ini terus dilakukan berulang-ulang sampai pada akhirnya diperoleh emas yang benar-benar murni, bebas dari segala kotoran dan unsur logam lainnya. Seorang pemurni emas akan bisa melihat mana emas murni dan tidak dari proses pembakaran. Saya membayangkan seandainya emas itu hidup dan bisa bicara, tentu emas akan berteriak-teriak kesakitan penuh penderitaan karena harus 'tersiksa' dalam proses pemurniannya. Tapi pada akhirnya kita bisa melihat perbedaan kualitas. Harga emas murni jelas jauh di atas emas dengan berbagai campuran meski hadir dalam bentuk-bentuk perhiasan menarik.

Apa yang saya alami ketika baru saja lahir baru mungkin berbeda dengan harapan banyak orang saat bertobat. Ada banyak orang yang berpikir bahwa ketika bertobat, seketika itu pula hidup menjadi jauh lebih mudah, tanpa masalah sama sekali. Padahal apa yang saya alami tidak seperti itu. Saya justru mengalami tempaan berat selama sedikitnya 5 tahun yang sempat membuat saya jatuh dulu pada titik terendah dalam hidup saya. Saya mendengar langsung dari banyak orang yang mengalami hal yang sama. Pada akhirnya, saya bisa merasakan perbedaan jauh dari proses pemurnian itu. Apa yang saya pikir bisa saya andalkan sebelum bertobat seperti uang, koneksi kepada orang-orang tertentu, kehebatan diri sendiri dan lain-lain dibakar habis hingga tuntas. Segala perilaku buruk/jahat yang dahulu biasa saya lakukan pun dikikis sampai bersih. Anda bisa bayangkan jika hal-hal buruk itu seperti melekat pada diri anda, tentu proses pembakaran atau pengikisan itu bisa terasa sangat menyakitkan. Itulah yang saya rasakan disaat menjalani proses selama 5 tahun itu. Tetapi sekarang saya bersyukur bahwa saya pernah diberi kesempatan untuk melewati proses itu. Saya tidak bisa membayangkan jika tidak melalui itu, apa jadinya saya hari ini. Tentu saja ini bukan bermaksud menyombongkan diri karena saya masih jauh dari sempurna. Masih banyak yang harus diperbaiki dan dibenahi, tetapi dasar pijakan yang baik untuk bertumbuh saya peroleh justru dari saat-saat berat itu, dimana semua yang buruk dibersihkan dan saya tidak lagi hidup dalam gelap melainkan bisa menatap hari depan tepat seperti yang dijanjikan Tuhan dengan terus menjaga agar saya tidak terjatuh kepada hal-hal yang bertentangan dengan Firman Tuhan. Hal yang sama dikatakan oleh begitu banyak orang yang pernah menyampaikan kesaksiannya kepada saya.

Ketika Tuhan mengijinkan kita masuk dalam proses lewat serangkaian ujian yang mungkin terasa sangat perih, itu bukan ditujukan untuk menyiksa kita, tetapi itu diperlukan untuk memurnikan iman kita. Seperti halnya emas diproses hingga menjadi emas murni, iman kita pun terkadang harus terlebih dahulu melalui proses pemurnian yang bisa jadi sakitnya bagai dibakar api dalam suhu tinggi. Selain itu, seperti halnya pengujian kemurnian emas, iman kita pun akan kelihatan kemurniannya lewat reaksi kita ketika menghadapi permasalahan dan pergumulan hidup. Itu bisa dijadikan sebuah tolok ukur sampai dimana tingkat keimanan kita saat ini. Sebab, bagaimana mungkin kita mengaku beriman jika menghadapi masalah kecil saja sudah bersungut-sungut, ragu/bimbang, khawatir/cemas atau bahkan menyerah? Bagaimana bisa kita mengaku percaya kalau kita masih hidup penuh ketakutan dan keputus-asaan? Orang yang beriman teguh akan selalu tegar, karena mereka percaya penuh pada rancangan Tuhan beserta penyertaanNya dalam setiap aspek kehidupannya.

Mari kita lihat kehidupan orang Kristen mula-mula pada jaman Petrus. Menjadi orang Kristen waktu itu sama sekali tidak mudah. Ada banyak tekanan dan ancaman yang sewaktu-waktu bisa menghilangkan nyawa mereka. Sehubungan dengan hal itu, Petrus merasa perlu untuk mengingatkan akan manfaat dari tekanan atau peneritaan yang mereka sama-sama alami supaya orang-orang percaya dapat menangkap esensi dari semua itu. Petrus memulainya dengan ayat yang mengingatkan esensi hidup dalam Kristus. "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu." (1 Petrus 1:3-4). Sebuah hidup yang penuh dengan pengharapan dimana kita bisa menerima keselamatan kekal, itu disediakan lewat Yesus Kristus. Petrus mengingatkan agar jemaat tetap kuat, tidak kehilangan sukacita ketika menghadapi bermacam-macam pencobaan. "Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan." (ay 6). Apa maksudnya? Penjelasannya adalah sebagai berikut: "Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya." (ay 7). Perhatikanlah bagaimana Petrus membandingkan proses pemurnian iman dengan proses pemurnian emas. Seperti yang saya sampaikan pada ilustrasi di awal renungan, emas harus dibakar berkali-kali hingga akhirnya menjadi emas murni yang berharga. Jika emas bisa bernilai tinggi setelah dimurnikan, bayangkan betapa tinggi nilainya jika iman kita yang dimurnikan. Iman jelas jauh lebih berharga dari emas, karena emas adalah benda fana, yang tidak kekal sementara iman kita akan membawa kita kedalam keselamatan jiwa yang kekal sifatnya. (ay 9).

Bicara tentang tokoh yang paling menderita dalam Alkitab, nama Ayub tentu akan selalu menjadi salah satu yang paling sering disebut. Itu wajar karena ia adalah salah satu tokoh yang mengalami serangkaian penderitaan yang mengerikan, yang mungkin terasa tidak adil dijatuhkan kepada orang yang setia dan bergaul karib dengan Allah sepanjang hidupnya. Tetapi pada akhirnya Ayub menyadari bahwa apa yang ia alami adalah sebuah proses pengujian. "Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas." (Ayub 23:10).

Pesan Petrus yang menguatkan jemaat di masa itu agar tidak goyah ketika menghadapi penderitaan sangat relevan bagi kita hari ini. Apa yang kita alami hari-hari ini pun tidak mudah. Ada banyak ancaman, intimidasi, tekanan dan ketidak adilan yang kita hadapi sebagai pengikut Kristus, belum lagi berbagai bentuk godaan dari berbagai arah yang setiap saat bisa meluluh-lantakkan iman kita. Kalau dipikir-pikir, setiap hari sesungguhnya kita berhadapan dengan berbagai ujian yang sangat tepat utnuk dijadikan tolok ukur kemurnian iman kita. Bagaimana sikap dan reaksi kita menghadapi permasalahan akan menjadi ukuran sampai dimana iman kita akan Tuhan saat ini. Pencobaan yang sedang kita alami bisa sangat menyakitkan bahkan membuat kita menderita. Tapi itu sanggup membangkitkan pengharapan dan ketekunan kita serta melatih iman kita agar lebih kuat. Proses "pembakaran" iman kita akan mampu melepaskan segala kotoran yang melekat pada iman kita, sehingga akhirnya kita bisa memiliki sebentuk iman yang murni, seperti emas murni. Semua itu bertujuan untuk kebaikan kita. Kita dipersiapkan agar layak menerima segala janji Tuhan yang sudah disediakanNya bagi kita semua. Tentu kita perlu memeriksa terlebih dahulu apakah kita memang tengah menghadapi pencobaan atau mengalami masalah karena kesalahan kita sendiri melanggar ketetapan Tuhan. Tapi jika anda sudah serius untuk hidup benar tapi masih berada dalam banyak pergumulan, bertahanlah, bahkan bersyukurlah, sebab itu bertujuan untuk memurnikan. Pada saatnya nanti, anda akan sangat berterimakasih dengan penuh sukacita kepada Tuhan karena sudah diijinkan menempuh proses pemurnian yang tidak saja berguna bagi hidup saat ini tapi juga bagi kehidupan yang akan datang.

Iman yang diuji mampu menghasilkan iman murni, seperti emas murni

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, September 19, 2013

Janji Tuhan itu Murni

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 12:7
===================
"Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah."

Urusan membeli keperluan dapur dan rumah tangga sejak semula dipercayakan istri kepada saya. Sayalah yang 'in charge' jika sabun, shampo, deterjen, pelembut/pewangi, pasta gigi, sabun cuci piring, karbol/pembersih lantai dan lain-lain sudah hampir habis di rumah. Minyak goreng, itu termasuk bagian saya. Maka saya jadi kenal betul merek-merek produk minyak goreng dan bentuk-bentuk andalan mereka agar lebih diterima pasar. Selain Omega 3 dan Omega 9, salah satu strategi jualan yang paling populer adalah dengan mencantumkan dua kali penyaringan di plastik kemasannya. Mengapa dua kali penyaringan? Apa yang istimewa dengan itu? Sistim dua kali penyaringan sebenarnya punya beberapa kelebihan dibanding satu kali. Apabila minyak hanya melewati satu kali proses maka jika disimpan dalam waktu lama minyak akan berkabut sehingga terlihat tidak jernih dan menarik. Selain itu proses dua kali penyaringan lebih menyehatkan karena jumlah asam jenuh akan tersaring lebih banyak sehingga menghasilkan jumlah kolestrol yang lebih baik, meski tingkat gurihnya bisa sedikit berkurang. Disamping melihat merek yang sedang diskon harga, produk yang lebih sehat pun menjadi pertimbangan saya dalam memilih.

Penyaringan yang lebih banyak tentu akan menghasilkan sesuatu yang lebih murni. Saya tertarik ketika melihat Daud pada suatu kali mengibaratkan janji Tuhan dengan kemurnian perak. Daud berkata: "Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah."  (Mazmur 12:7). Seperti apa bentuk pemurnian perak? Perak dilebur dalam dapur (furnace) pada temperatur sangat tinggi mencapai 1200°C untuk dilakukan sampling/pengujian sebelum melalui proses elektrolisis agar mineral-mineral lain bisa dipisahkan dari perak. Janji Tuhan, kata Daud, merupakan janji yang semurni perak teruji lewat tujuh kali pemurnian dalam peleburan tanah (earthen furnace). Ini adalah tingkat kemurnian yang sangat sempurna. Apa yang dikatakan Daud adalah bahwa janji Tuhan adalah sangat murni, artinya akan selalu ditepati dan digenapi, tidak tercampur dengan hal-hal yang tidak dapat dipercaya, dan teruji, artinya telah terbukti dari begitu banyak contoh baik dalam Alkitab maupun kehidupan banyak orang pada setiap jaman sampai saat ini. Dengan membandingkan dengan tingkat kemurnian perak yang teruji lewat tujuh kali pemurnian, kita pun tahu bahwa janji Tuhan itu mengandung nilai yang sangat tinggi baik dalam kehidupan kita di dunia maupun setelahnya nanti.

Yang lebih menarik adalah bentuk iman Daud akan hal ini karena ayat ini hadir disaat Daud tengah menghadapi pergumulan berat, dikejar-kejar dan hendak dibunuh. Daud menggantungkan keselamatan hidupnya ke dalam tangan Tuhan dan menunjukkan tingkat keyakinan tinggi bahwa janji Tuhan akan pertolongan bukanlah sesuatu yang patut diragukan, bukan hanya mungkin tetapi sesuatu yang pasti. Kita tahu bahwa apa yang dipercaya Daud itu memang benar terbukti. 

Janji Tuhan adalah murni. Tidak ada yang sia-sia, tidak ada yang diisi kebohongan, atau hanya sebatas mungkin dan mudah-mudahan saja. Semua mengandung kebenaran yang mutlak. Saya sudah membuktikannya dalam banyak kesempatan, anda pun mungkin sudah memiliki kesaksian tersendiri akan hal itu. Bagi Daud itupun berlaku, sehingga ia bisa berkata dengan tegas bahwa  "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:2). Janji Tuhan itu sangat terbukti, teruji dan sangat murni. Berbagai hal yang mungkin sulit kita terima secara logika sudah dijanjikan Tuhan. Tidak ada yang mustahil bagiNya dan janji itu akan selalu Dia penuhi selama kita melakukan bagian kita dengan benar, yaitu melakukan segala ketetapanNya dan menghidupi FirmanNya. Semua itu nyata dan menggambarkan bagaimana Tuhan masih terus bekerja secara luar biasa jauh mengatasi kemustahilan dalam hidup kita semua hingga hari ini. Jadi apabila anda tengah menghadapi keragu-raguan akan pertolongan Tuhan, ingatlah bahwa janji Tuhan yang murni ini sama berlakunya bagi anda seperti halnya kepada Daud. Jika kepada Daud sudah terbukti, kepada anda pun itu akan terbukti.

Janji Tuhan murni dan teruji

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, September 18, 2013

Kreativitas (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Bicara soal kreativitas Tuhan, itu bukan saja tercermin dalam proses penciptaan mula-mula di awal kitab Kejadian, tapi kita bisa melihat pula bagaimana kreatifnya Tuhan dalam mengulurkan tanganNya untuk melakukan pertolongan lewat jalan-jalan yang sulit ditebak oleh pikiran kita. Kita bisa mengambil sebuah contoh akan hal ini dari kisah perjalanan bangsa Israel menuju tanah yang dijanjikan. Tiang awan, tiang api, manna yang turun dari langit, daging dari burung puyuh, membelah Laut Teberau dan seterusnya, semua ini memperlihatkan kreativitas tinggi Tuhan dalam menolong umatNya. Yesus dalam pelayananNya di dunia pun banyak menggunakan metode kreatif. Menggunakan perumpamaan dalam mengajar, berdiskusi, tanya jawab, menyembuhkan bahkan membangkitkan, memberi contoh keteladanan, dan seterusnya. Yesus tidak pernah monoton dalam pelayananNya.

Di semua aspek kehidupan, kita tetap dituntut untuk bisa berpikir kreatif, baik dalam menciptakan sesuatu yang baru, yang inovatif, ataupun dalam menyelesaikan persoalan-persoalan. Kreativitas mandek, dijamin karir pun mandek. Rasanya tidak mungkin orang yang bisa sukses jika tidak pernah memperbaharui ilmunya atau berkembang, apalagi di jaman dimana persaingan begitu ketatnya seperti hari ini. Tanpa kreativitas kita pun tidak akan berkembang maju dalam segala hal. Kita tidak akan pernah belajar bagaimana menghadapi atau mengatasi berbagai persoalan dalam kehidupan. Ambil contoh kecil saja dalam kehidupan rumah tangga. Jika anda sudah tahu bahwa pasangan anda cepat emosi pada saat-saat atau alasan-alasan tertentu, kreativitas anda dalam menghadapi mereka akan membuat masalah cepat terselesaikan atau anda malah bisa menghindari terjadinya perselisihan sebelum itu muncul. Dalam dunia pelayanan kreativitas pun tentu diperlukan. Gembala harus kreatif memikirkan hal apa lagi yang bisa dibangun untuk meningkatkan iman dan pengenalan akan Firman Tuhan bagi jemaatnya serta membawa jemaat menjadi buah-buah matang yang memberkati di luar. Tim musik perlu kreatif untuk mengaransemen lagu-lagu pujian/penyembahan dengan variasi-variasi musik baik ritem, melodi, tempo dan sebagainya. Bagi yang punya karunia mengajar harus kreatif dalam cara penyampaian agar lebih mudah diterima dan sebagainya.

Kita tahu bahwa kreativitas sudah ada pada diri kita mewarisi sifat Allah yang menciptakan kita sesuai dengan gambar dan rupaNya. Pertanyaan selanjutnya, apakah Allah masih mementingkan hal ini setelah kita hidup di masanya kita? Tentu saja. Kita bisa mengetahuinya lewat kisah Bezaleel dan Aholiab yang membantu Musa membangun rumah ibadah dalam kitab Keluaran. "Lihat, telah Kutunjuk Bezaleel bin Uri bin Hur, dari suku Yehuda, dan telah Kupenuhi dia dengan Roh Allah, dengan keahlian dan pengertian dan pengetahuan, dalam segala macam pekerjaan, untuk membuat berbagai rancangan supaya dikerjakan dari emas, perak dan tembaga; untuk mengasah batu permata supaya ditatah; untuk mengukir kayu dan untuk bekerja dalam segala macam pekerjaan. Juga Aku telah menetapkan di sampingnya Aholiab bin Ahisamakh, dari suku Dan; dalam hati setiap orang ahli telah Kuberikan keahlian. Haruslah mereka membuat segala apa yang telah Kuperintahkan kepadamu." (Keluaran 31:2-6). Bezaleel dikaruniai keahlian, pengertian/kebijaksanaan, pengetahuan, kecakapan dan kemampuan dalam kreativitas membuat rancangan-rancangan dari emas, perak dan tembaga, mengasah batu permata dan mengukir kayu. sedang Aholiab diberi karunia untuk membantu Bezaleel. Dari mana mereka memperoleh semua itu? Ayat di atas jelas mengatakan bahwa itu mereka peroleh lewat Roh Allah. Roh Allah yang ada dalam diri anda akan membuat anda mampu mengasah segala talenta yang telah dikaruniakan dengan kreativitas tak terbatas agar bisa bertumbuh dan bermanfaat bagi diri anda sendiri maupun orang lain.

Tanpa kreativitas semuanya akan monoton, hanya itu-itu saja, jalan di tempat tanpa ada peningkatan. Kabar baiknya, kita mewarisi sifat kreatif Tuhan dan ada Roh Allah yang memberi kemampuan-kemampuan kreatif dalam mempergunakan segala talenta yang telah diberikan kepada masing-masing kita sejak semula. Kreativitas ada dalam diri setiap orang, tetapi sebagian tidak mau atau terlalu malas untuk menggunakan/memikirkannya, sebagian lagi malah tidak tahu bahwa mereka punya itu. Kreativitas sangatlah diperlukan untuk bisa memberi hasil yang terbaik, membawa inovasi-inovasi baru hadir di dunia untuk membawa manfaat bagi kesejahteraan manusia. Kreativitas hendaklah dilakukan untuk memberkati dan memuliakan Tuhan, bukan untuk tujuan-tujuan yang jahat yang justru bertentangan dengan tujuan Tuhan memberikan karunia tersebut kepada kita. Oleh karena itu, kreatiflah dalam segala hal, untuk tujuan yang baik. Maya Angelou mengingatkan kita bahwa kreativitas tidak akan pernah habis, the more you use, the more you have. Temukan kreativitas anda ada di bidang apa, dan asah dan pergunakanlah. Semakin anda gunakan, kreativitas anda akan semakin berkembang, dan itu akan membuat Tuhan mempercayakan perkara-perkara yang lebih besar lagi kepada anda.

"You can't use up creativity. The more you use, the more you have." - Maya Angelou

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, September 17, 2013

Kreativitas (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 1:1 =================
"Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi."

Seorang penulis dan penyair senior asal Amerika Serikat bernama Maya Angelou pada suatu kali menulis sebuah kalimat yang menurut saya sangat menginspirasi, terutama karena saya bekerja di dalam dunia jurnalistik alias hidup dari menulis. Katanya: "You can't use up creativity. The more you use, the more you have." Anda tidak akan pernah kehabisan kreativitas. Semakin banyak anda gunakan, semakin banyak kreativitas yang anda peroleh." Menurut pengalaman saya, apa yang ia katakan sangatlah tepat. Kreativitas adalah sesuatu yang akan terus meningkat jika semakin banyak digunakan, tidak hanya dipendam dan didiamkan. Semakin dipakai semakin banyak. Maya Angelou sekarang berusia 85 tahun, tapi ia masih kreatif di usia senjanya. Kreativitas adalah kemampuan atau kekuatan untuk menciptakan sesuatu, membangun sesuatu dari kemampuan dan imajinasi atau membuat sebuah hal baru dalam bentuk nyata. Kreativitas adalah sesuatu yang unik yang berbeda-beda bagi tiap individu, dan ini tidak akan pernah ada habisnya. Jika kita mengumpulkan 5 orang lalu memberi mereka kertas dan pinsil untuk menggambar, anda akan menemukan bahwa tidak satupun yang persis sama. Itu akan tergantung dari kreativitas mereka dalam menggambar sesuatu dengan menggunakan 'bahan dasar' yang sama yaitu kertas dan pinsil. Semua orang punya kreativitas sendiri-sendiri dalam porsinya masing-masing. Meski tingkatnya berbeda-beda, tetapi setiap orang tentu memiliki itu. Karenanya saya suka tersenyum ketika mendengar orang berkata bahwa mereka tidak punya kreativitas sehingga ragu untuk bisa mengerjakan sesuatu.

Adalah sangat menarik jika kita menyadari bahwa ayat pertama dalam Alkitab sudah menunjukkan sebuah proses kreatif dari Tuhan. "Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi." (Kejadian 1:1). Bermula dari langit dan bumi, Tuhan kemudian melanjutkan proses kreatif tersebut dengan membuat terang (ay3), cakrawala (ay 6), tumbuh-tumbuhan (ay 11), matahari, bulan dan bintang (ay 16), binatang laut dan yang terbang di udara (ay 21), hewan darat (ay 24) dan akhirnya sampai kepada sebuah penciptaan yang sangat istimewa yaitu manusia. Mengapa saya katakan istimewa? Karena khusus mengenai manusia, ayatnya berkata "Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi." (ay 26).

Mari kita lihat secara khusus ayat ke 26 ini. Kita dikatakan diciptakan menurut gambar dan rupa Allah sendiri. Dalam versi English amplified dikatakan "in Our image, after Our likeness". Itu menunjukkan bahwa kita mewarisi bukan hanya image alias bentuk atau gambar, tetapi juga sifat-sifat Allah, termasuk soal kreativitas. Bahkan selanjutnya dikatakan bahwa kepada kita diberikan otoritas atas segala hewan, tumbuhan dan seisi bumi yang penekanannya diberikan dalam ayat 28-30. Jadi tidak ada alasan bagi kita untuk mengatakan bahwa kita tidak dilengkapi dengan kreativitas karena Allah sudah mengatakan bahwa kita diciptakan sesuai dengan gambar dan rupa (image and likeness), dan kita diberi otoritas untuk berkuasa atas ciptaan Tuhan lainnya, yang jelas memerlukan kreativitas agar bisa membawa hasil yang baik sebagai pertanggungjawaban atas tugas yang sudah diberikan kepada manusia sejak semula.

Jika kita masuk lebih jauh lagi tentang proses penciptaan mula-mula ini, kita bisa pula melihat bahwa tuntutan kreatif sudah ditekankan Tuhan kepada manusia sejak awal. Perhatikan ayat berikut ini: "Lalu TUHAN Allah membentuk dari tanah segala binatang hutan dan segala burung di udara. Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu." (Kejadian 2:19). Dari ayat ini kita bisa mengetahui betapa Tuhan ingin melihat sejauh mana kreativitas manusia itu, setidaknya dalam menamai segala ciptaanNya yang lain seperti burung-burung, binatang-binatang dan tiap-tiap mahluk yang hidup. Jika kita mundur beberapa ayat sebelumnya, Tuhan juga menempatkan Adam di taman Eden bukan untuk berleha-leha dan bersantai, tapi untuk mengusahakan dan memelihara taman itu. "TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu." (ay 15). Perhatikan kata mengusahakan dan memelihara. Manusia bukan saja ditugaskan untuk memelihara kelestarian lingkungan, tapi juga mengembangkan apa yang sudah ada untuk menjadi lebih baik lagi. Sudah barang tentu proses kreatif berperan besar di dalamnya. Memaksimalkan, mengembangkan dan menciptakan inovasi atau kreasi baru menuju suatu kehidupan yang lebih baik melalui segala sesuatu yang telah disediakan Tuhan membutuhkan kreativitas. Itu yang harus dilakukan manusia, bukan sebaliknya, pintar dalam merusak alam dengan segala isinya.
(bersambung)

Monday, September 16, 2013

Bagai Biji Mata Tuhan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ulangan 32:10
=====================
"Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya."

"Kamu harus bersyukur selagi mata masih berfungsi bagus, jaga sebaik-baiknya karena kalau sudah seperti saya kamu bakal kehilangan banyak hal." Demikian kata seorang bapak yang menderita katarak pada suatu kali. Mata adalah indera penglihatan yang memungkinkan kita melihat segala keindahan penuh warna hasil pekerjaan tangan Tuhan. Dengan mata kita bisa melihat indahnya fajar menyingsing atau ketika matahari terbenam, kerlap kerlip bintang di langit, awan biru tebal dan lain-lain yang bisa membuat kita menyaksikan dengan nyata kasih Tuhan secara visual. Mata jelas merupakan satu dari sekian banyak karunia Tuhan yang luar biasa. Sayangnya kebanyakan dari kita mempergunakan mata bukan untuk hal-hal yang menyukakan hati Tuhan. Ada yang mata keranjang, cepat tergoda untuk melakukan perbuatan buruk lewat mata, atau bahkan sekedar dipakai menyontek saat ulangan di sekolah. Maka mempergunakan mata untuk menyenangkan hati Tuhan menjadi sangat penting. Dalam beberapa renungan terdahulu kita sudah melihat bahwa Daud mempergunakan matanya untuk melihat kemuliaan dan kasih Tuhan yang secara jelas terpancar lewat keindahan alam yang telah Dia ciptakan. Tuhan memberi bukan satu tetapi dua mata, sehingga seharusnya kita sadar bahwa mata merupakan hal yang istimewa tidak saja bagi kita tapi juga bagi Tuhan. 

Apakah ada orang yang dengan sengaja mau merusak matanya sendiri sampai buta? Tentu tidak, kecuali orang yang tidak waras. Tidak ada bagian tubuh kita yang diciptakan secara sia-sia tanpa maksud oleh Tuhan, termasuk di dalamnya mata. Daud mempergunakan mata untuk memuliakan Tuhan lewat Mazmur-mazmurnya. Lihatlah salah satu ayat dimana Daud berkata: "Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu." (Mazmur 104:24). Jelas, itu muncul dalam hati Daud sebagai sumber inspirasi karena ia mempergunakan organ penglihatannya yaitu mata. Menariknya, ketika Tuhan ingin menunjukkan perhatian, kasih dan kesetiaanNya yang begitu besar kepada kita, Tuhan menyebutkan itu semua adalah sepenting Tuhan memperhatikan biji mataNya sendiri. Ini tertulis di dalam Alkitab, yaitu dalam Ulangan 32:10 sebagai rangkaian dari nyanyian Musa: "Didapati-Nya dia di suatu negeri, di padang gurun, di tengah-tengah ketandusan dan auman padang belantara. Dikelilingi-Nya dia dan diawasi-Nya, dijaga-Nya sebagai biji mata-Nya." Biji mata dalam bahasa Inggrisnya disebut sebagai "Pupil of His Eye".

Kelak pada kitab Wahyu nyanyian ini kembali disebutkan. "Dan mereka menyanyikan nyanyian Musa, hamba Allah, dan nyanyian Anak Domba, bunyinya: "Besar dan ajaib segala pekerjaan-Mu, ya Tuhan, Allah, Yang Mahakuasa! Adil dan benar segala jalan-Mu, ya Raja segala bangsa!" (Wahyu 15:3). Dalam Wahyu pasal ini disebutkan bahwa pada akhir jaman nanti, mereka yang menang atas binatang dan patungnya dan orang-orang yang ditandai dengan angka (bilangan) akan menyanyikan kembali nyanyian Musa, bersama-sama dengan nyanyian Anak Domba dengan diiringi kecapi Allah. (ay 2). Luar biasa bukan? Ini artinya bahwa pernyataan Tuhan bahwa kita akan selalu dijaga seperti Dia menjaga biji mataNya akan terus ada sampai akhir jaman.

Dari Musa, mari kita menuju ke Daud. Ketika Daud dikejar-kejar musuh, Daud mengaitkan biji mata dalam menantikan perlindungan Tuhan. "Peliharalah aku seperti biji mata, sembunyikanlah aku dalam naungan sayap-Mu, terhadap orang-orang fasik yang menggagahi aku, terhadap musuh nyawaku yang mengepung aku." (Mazmur 17:9). Lalu marilah kita lihat bagaimana bunyi Firman Tuhan yang memberi jaminan pemeliharaan atas hidup kita. "Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu--sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya" (Zakharia 2:8). Siapapun yang berani menjamah kita anak-anakNya itu sama artinya dengan menjamah biji mataNya. Bagi mereka-mereka ini, demikian kata Tuhan: "Sesungguhnya Aku akan menggerakkan tangan-Ku terhadap mereka, dan mereka akan menjadi jarahan bagi orang-orang yang tadinya takluk kepada mereka. Maka kamu akan mengetahui bahwa TUHAN semesta alam yang mengutus aku." (ay 9). Ini adalah sebuah jaminan perlindungan luar biasa yang dinyatakan Tuhan sendiri atas kita yang dinyatakan dengan menempatkan kita sama pentingnya seperti pupil atau biji mata Tuhan sendiri.

Jika Tuhan sudah menjanjikan sebuah jaminan pemeliharaan dengan mengumpamakan pupil mataNya sendiri, maka itu artinya kita tidak perlu khawatir, tidak perlu ragu, cemas atau takut dalam menatap hari depan. Meskipun itu semua belum bisa kita lihat, meski mungkin hari ini kita masih berhadapan dengan ketidakpastian atau bahkan himpitan berbagai masalah kehidupan masih terus membebani kita, jangan pernah khawatir karena biar bagaimanapun Tuhan sudah menyatakan bahwa kita merupakan biji mataNya sampai kapanpun. Begitu berharganya kita di mata Tuhan, Dia akan senantiasa ada bersama kita, mengawasi dan melindungi kita dari segala hal agar bisa mendapat hidup yang aman lengkap dengan segala kelimpahannya. Anda tidak perlu ragu, karena sampai kapanpun anda akan selalu seperti biji mataNya

Kita berharga di mata Tuhan seperti biji mataNya sendiri

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, September 15, 2013

Pelangi yang Indah Bagai Senyum Sapa Tuhan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 104:24
=======================
"Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu."

Sukakah anda melihat pelangi? Buat saya, pelangi adalah sebuah fenomena alam yang sangat indah. Untaian warna yang membentang di langit, bagaikan kalung warna-warni yang menghias 'atap' alam dimana kita hidup. Seperti itu pendapat saya tentang pelangi sewaktu masih kecil. Secara ilmiah jika ditilik dari ilmu fisika, pelangi terbentuk lewat peristiwa dispersi (hamburan) cahaya matahari ketika menembus butiran air hujan di udara, sehingga membuat cahaya tersebut terurai menjadi warna-warna spektrum. Karena ada faktor butiran air yang menimbulkan spektrum ketika dilewati oleh sinar, maka pelangi hanyalah dapat kita lihat apabila hari hujan, kecuali jika anda tinggal atau berada di dekat air terjun, disana pun pelangi bisa muncul.
Hujan adalah salah satu keadaan cuaca. Bicara soal cuaca, kita seringkali mudah mengeluh dan sulit merasa puas ketika berada dalam sebuah keadaan cuaca. Ketika hari panas kita protes karena merasa terpanggang dibawah terik matahari, ketika hari hujan kita protes karena jalan licin, jalan raya menjadi macet dan genangan air di jalan bisa membuat sepatu atau sendal bahkan celana bagian bawah kita basah. Tapi ketika udara mendung kita pun mengeluh karena jemuran menjadi lama kering. Jika kita di belahan dunia yang bisa turun salju, kita pun akan mengeluh karena terlalu dingin. Pendeknya, cuaca seperti apapun bagi sebagian orang hanyalah merupakan kambing hitam untuk membenarkan kebiasaan mengeluh dan gampang emosi yang ada pada dirinya. Mengapa kita tidak melakukan sebaliknya, belajar bersyukur dalam kondisi cuaca seperti apapun? Daud memilih untuk melakukan itu, dan kita bisa meneladani caranya memandang alam, cuaca dan lain-lain lewat sudut pandang yang mengarah kepada pengenalan akan Tuhan beserta kemuliaanNya yang luar biasa besar.

Daud berkata: "Betapa banyak perbuatan-Mu, ya TUHAN, sekaliannya Kaujadikan dengan kebijaksanaan, bumi penuh dengan ciptaan-Mu." (Mazmur 104:24). Daud melihat betapa luasnya alam semesta, banyaknya keragaman hewan dan tumbuhan, bukit dan lembah, darat dan laut, beserta segala yang hidup di atas atau didalamnya, lalu menyadari bahwa itu semua diciptakan oleh Dia atas dasar kasih Tuhan yang begitu besar kepada kita. Semua ini Tuhan ciptakan dengan begitu indah tapi kerap luput dari pandangan kita. Kebanyakan alasannya adalah karena tertutupi oleh keluh kesah atau kesibukan kita kepada hal-hal lainnya. Padahal segala keindahan yang tak terhitung banyaknya dan tak terkatakan indahnya ini  seharusnya lebih dari cukup menjadi dasar bagi kita untuk mengucap syukur kepada Sang Penciptanya.

Itu baru dari sudut keindahan bumi beserta isinya dan alam semesta yang tak terukur besarnya. Bagaimana mengenai kita, manusia? Dalam ukuran bumi apalagi alam semesta, kita hanyalah bagian yang sangat kecil yang hidup didalamnya. Tetapi tidak demikian di mata Tuhan. Meski kecil, kita secara istimewa dikatakan diciptakan Tuhan sesuai dengan gambar dan rupaNya sendiri. Lalu lihat apa kata Tuhan mengenai kita: "Dapatkah seorang perempuan melupakan bayinya, sehingga ia tidak menyayangi anak dari kandungannya? Sekalipun dia melupakannya, Aku tidak akan melupakan engkau. Lihat, Aku telah melukiskan engkau di telapak tangan-Ku; tembok-tembokmu tetap di ruang mata-Ku." (Yesaya 49:15-16). Bukankah ini sebuah pernyataan istimewa dari Tuhan langsung tentang bagaimana dalamnya Dia mengasihi kita?

Yesus memberi perumpamaan lain akan hal ini. "Bukankah burung pipit dijual lima ekor dua duit? Sungguhpun demikian tidak seekorpun dari padanya yang dilupakan Allah, bahkan rambut kepalamupun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu lebih berharga dari pada banyak burung pipit." (Lukas 12:6-7). Kalau kita saja sudah kecil, bayangkan kecilnya burung pipit dibanding jagad raya. Tapi burung pipit yang kecil dan lemah saja diperhatikan Tuhan. Mengapa kita, manusia, yang diciptakan menurut gambar dan rupaNya sendiri harus ragu atau khawatir tidak dipedulikan Tuhan? Yang pasti, tangan Tuhan yang menciptakan alam semesta yang begitu besar, luas dan tak terukur berikut isinya adalah juga tangan yang sama yang memeluk kita yang begitu kecil ini. Daud menyadari ini semua dan berkata: "Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?" (Mazmur 8:4-5). Dan ia lalu menutup Mazmur bagian ini dengan indah: "Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!" (ay 10).

Kita bisa saja disibukkan dengan berbagai kesibukan atau pergumulan hidup. Benar, semua itu memerlukan perhatian dan harus disikapi serius, tetapi jangan sampai lupa membagi waktu untuk menghargai dan mensyukuri segala yang telah Dia sediakan bagi kita. Senyum Tuhan yang penuh kasih menyapa kita setiap hari lewat segala keindahan alam, hembusan angin, goyang dedaunan dan bunga-bunga yang harum dan indah. KasihNya hadir lewat hujan dan sinar matahari. Bahkan untaian pelangi bisa terlihat sebagai senyum sapa Tuhan yang ramah bagi anak-anakNya. Seisi alam menggambarkan kebesaranNya, dan semua itu adalah hal-hal yang kita lihat sehari-hari di sekitar kita. Tangan yang sama yang Dia pakai untuk menciptakan segala sesuatu Dia pakai pula untuk memeluk dan menjaga kita. Sudahkah anda mengucap syukur atas kasih setia, penyertaan dan kebaikanNya hari ini?

"Bersyukurlah kepada TUHAN, serukanlah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!" (Mazmur 105:1)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, September 14, 2013

Joyful Noise

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 98:4
================
"Make a joyful noise to the Lord, all the earth; break forth and sing for joy, yes, sing praises!"

Trend burung sepertinya sedang mewabah di Indonesia, setidaknya di kota tempat saya tinggal. Saya sering berpapasan dengan pengendara motor yang membawa burung dalam sangkar dengan ditutupi kain di jalan raya, di sekitar rumah saya pun ada banyak yang memelihara burung dalam berbagai jenis. Ada yang harganya mencapai jutaan, ada juga yang murah. Berada di sekitar para penggemar burung ini membuat saya terbiasa mendengar kicau merdu burung-burung ini, belum termasuk burung yang beterbangan bebas sejak pagi hingga sore di luar rumah maupun di taman. Seringkali burung-burung ini bersuara riuh. Tetapi biar seribut apapun kita rasanya tidak akan terganggu oleh kicauan mereka, tapi merasa tentram dan damai. Saya suka menyebutnya dengan joyful noise, alias keriuhan yang menggembirakan.

Kemarin saya sudah menyinggung kegemaran Daud menikmati keindahan alam dan merasakan kemuliaan Tuhan di dalamnya. Daud berseru: "Langit menceritakan kemuliaan Allah, dan cakrawala memberitakan pekerjaan tangan-Nya" (Mazmur 19:2). Hari ini mari kita lihat ayat lainnya yang juga mengacu kepada alam oleh Daud. " Bersorak-soraklah bagi TUHAN, hai seluruh bumi, bergembiralah, bersorak-sorailah dan bermazmurlah!" (Mazmur 98:4). "Make a joyful noise to the Lord, all the earth; break forth and sing for joy, yes, sing praises!" kata Daud. Rangkaian ayat selanjutnya masih menggambarkan sukacita Daud yang seolah ingin bersorak-sorai menyanyikan puji-pujian dengan kegembiraan penuh bersama bumi dan alam hasil karya tangan Tuhan. "Bermazmurlah bagi TUHAN dengan kecapi, dengan kecapi dan lagu yang nyaring, dengan nafiri dan sangkakala yang nyaring bersorak-soraklah di hadapan Raja, yakni TUHAN! Biarlah gemuruh laut serta isinya, dunia serta yang diam di dalamnya! Biarlah sungai-sungai bertepuk tangan, dan gunung-gunung bersorak-sorai bersama-sama" (Mazmur 98:5-8).

Apa yang dirasakan Daud sehingga ia bisa sampai bersukacita setinggi itu sampai melibatkan alam dan unsur-unsur di dalamnya? Ayat-ayat sebelumnya menuliskan alasannya. "...sebab Ia telah melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib; keselamatan telah dikerjakan kepada-Nya oleh tangan kanan-Nya, oleh lengan-Nya yang kudus. TUHAN telah memperkenalkan keselamatan yang dari pada-Nya, telah menyatakan keadilan-Nya di depan mata bangsa-bangsa. Ia mengingat kasih setia dan kesetiaan-Nya terhadap kaum Israel, segala ujung bumi telah melihat keselamatan yang dari pada Allah kita." (ay 1-3). Daud bersukacita karena ia menyadari Tuhan melakukan perbuatan-perbuatan yang ajaib, mengerjakan keselamatan atas kita, menyatakan keadilanNya dan mengingat kasih setia dan kesetiaan terhadap kita. Itu bukan saja dilihat oleh Daud tetapi meliputi seluruh bumi. Dengan bentuk kasih sebesar itu, bagaimana Daud tidak bersorak-sorai dengan lagu pujian bergemuruh dan menyerukan seisi bumi termasuk gunung, sungai dan unsur-unsur alam lainnya?

Jika kita tidak bisa mendengar gunung dan sungai bermazmur dalam keriuhan sukacita yang besar, kicauan merdu burung bisa menjadi sarana untuk merasakan kebesaran Tuhan. Saya yakin suara kicauan burung yang merdu ini bukan saja membuat hati kita damai, tentram dan gembira, tetapi hati Tuhan pun tentu sangat bersuka mendengarnya. Seperti anugerah Tuhan kepada burung untuk bisa berkicau merdu, kita pun sudah diberkati dengan kemampuan bernyanyi yang bisa dipakai untuk memuliakan Tuhan, bersyukur atas semua anugerah dan karuniaNya atas diri kita. Tuhan layak mendapat segala hormat dan pujian, dan Tuhan sangat suka ketika menghantarkan itu lewat joyful noise. Bukan ribut yang mengganggu, tetapi sorak-sorai pujian gembira. "Ya Tuhan dan Allah kami, Engkau layak menerima puji-pujian dan hormat dan kuasa; sebab Engkau telah menciptakan segala sesuatu; dan oleh karena kehendak-Mu semuanya itu ada dan diciptakan" (Wahyu 4:11). Hari ini mari hampiri Tuhan dan berikan puji-pujian yang terbaik untukNya. Let's sing and make a joyful noise together for Him, for the Lord is good!

Nyanyikan puji-pujian dengan penuh sukacita untuk Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker