Wednesday, July 31, 2013

Cara Mengatasi Masalah ala Daud (3)

webmaster | 8:00:00 AM | 4 Comments so far
(sambungan)

Mengenai memeriksa dan mempergunakan apa yang ada kita bisa belajar pula dari cerita tentang Yesus yang menggandakan 5 roti dan 2 ikan utuk memberi makan ribuan orang seperti yang bisa kita baca dalam injil Markus ayat 6. Murid-muridNya ketika itu memandang kepada problema yang muncul dan fokus kepada apa yang tidak ada, tetapi Yesus mengajarkan mereka untuk melakukan hal yang sebaliknya, yaitu mencari tahu apa yang ada dan bisa dipergunakan untuk menyelesaikan masalah. "Tetapi Ia berkata kepada mereka: "Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!" Sesudah memeriksanya mereka berkata: "Lima roti dan dua ikan." (Markus 6:38).

Bandingkan dengan reaksi kita pada umumnya ketika menghadapi masalah besar. Bukankah pikiran kita sering tertutupi oleh rasa takut dan kepanikan sehingga kita lebih cenderung fokus kepada apa yang tidak kita miliki ketimbang memeriksa terlebih dahulu apa yang ada pada kita? Akan sangat baik apabila kita bisa tetap tenang dan melihat dahulu apa yang kita punya sebelum kita buru-buru panik? Kita sering berpikir terlalu jauh lalu mengabaikan bahwa solusinya mungkin saja bisa timbul lewat penyelesaian sederhana. Mungkin hanya sesuatu yang sederhana, tetapi seperti Daud, kita harus percaya bahwa ditangan Tuhan itu bisa menjadi senjata luar biasa untuk mengatasi persoalan.

Demikianlah langkah-langkah yang diambil Daud untuk bisa mengatasi sosok besar dengan perlengkapan perang komplit seperti Goliat. Dengan bentuk iman yang percaya seperti ini Daud bisa mengatasi apa yang dianggap mustahil bagi dunia. Daud siap menambahkan pencapaian baru dalam catatan pribadinya, dan Daud pun siap mempergunakan itu sebagai sebuah kesaksian. Demikian kata Daud: "Hari ini juga TUHAN akan menyerahkan engkau ke dalam tanganku dan aku akan mengalahkan engkau dan memenggal kepalamu dari tubuhmu; hari ini juga aku akan memberikan mayatmu dan mayat tentara orang Filistin kepada burung-burung di udara dan kepada binatang-binatang liar, supaya seluruh bumi tahu, bahwa Israel mempunyai Allah, dan supaya segenap jemaah ini tahu, bahwa TUHAN menyelamatkan bukan dengan pedang dan bukan dengan lembing. Sebab di tangan Tuhanlah pertempuran dan Iapun menyerahkan kamu ke dalam tangan kami." (ay 46-47).

Sebuah kesaksian bisa menginspirasi banyak orang dan mengenalkan kuasa Kristus kepada orang lain. Jika merujuk pada kitab terakhir yaitu Wahyu, kita akan tahu bahwa musuh hanya bisa dikalahkan oleh darah Anak Domba dan oleh perkataan kesaksian (Wahyu 12:11). Itu akan jauh lebih efektif dibandingkan jika anda harus berkotbah di pinggir jalan untuk menjangkau jiwa.

Adakah diantara teman-teman yang hari ini tengah berhadapan dengan masalah yang rasanya besar seperti raksasa? Anda tengah panik, kelabakan dan mengira bahwa anda tidak akan mampu mengatasinya? Belajarlah dari Daud untuk menghadapinya. Daud berkata: "Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu." (1 Samuel 17:45). Dengan hal yang sama anda bisa berkata kepada masalah yang tengah mengintimidasi anda. Masalah boleh menghampiri anda lengkap dengan segala 'persenjataan' yang lengkap, tapi anda siap untuk mendatangi masalah dalam nama Tuhan. Masalah besar boleh datang, tapi ingatlah bahwa tidak ada satupun masalah yang lebih besar dari Tuhan. Kelak pada suatu ketika anda bisa mempergunakan hal ini sebagai kesaksian yang bisa menjangkau banyak jiwa.

Tuhan tetap lebih besar dari masalah yang terbesar, tidak perlu takut jika anda berjalan bersamaNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, July 30, 2013

Cara Mengatasi Masalah ala Daud (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

2. Jangan merasa tawar hati

Dalam ayat 32 tertulis "Berkatalah Daud kepada Saul: "Janganlah seseorang menjadi tawar hati karena dia; hambamu ini akan pergi melawan orang Filistin itu." Perhatikan bagaimana Daud bisa percaya diri menghadapi orang Filistin bertubuh sangat besar itu, dan bandingkan dengan perasaan para tentara Israel yang berisi orang-orang terlatih dan berpengalaman. Bukankah rasanya aneh apabila ada seorang anak kecil yang dikeluarganya saja tidak dianggap, sehari-hari kerjanya hanya menggembalakan ternak milik ayahnya, tapi berani menasihati raja Israel pada waktu itu beserta bala tentaranya. Tapi itulah yang terjadi. Daud berani karena ia tahu siapa yang ada dibelakangnya. Daud tahu bahwa jika Tuhan ada bersamanya ia tidak perlu tawar hati terhadap apapun. Ini adalah sebuah sikap iman yang ternyata mampu memberi hasil gemilang, jauh melebihi segala kelengkapan, kuat dan hebat kita sebagai manusia dan lain-lain yang menurut kita layak untuk dibanggakan.

Dalam menghadapi beban masalah besar, yang juga perlu kita jaga adalah jangan sampai kita tawar hati. Jika merujuk pada kitab Amsal, disana kitapun diingatkan bahwa dengan tawar hati ketika menghadapi situasi sulit, kekuatan kita akan segera menyusut sehingga kita tidak punya daya lagi untuk menghadapinya. "Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu." (Amsal 24:10).

3. Ingat bagaimana luar biasanya pertolongan Tuhan di masa lalu

Sangatlah menarik jika kita ingin tahu bagaimana Daud bisa sebegitu yakin dalam menghadapi persoalan besar. Daud ternyata merujuk pada pengalaman-pengalaman pribadinya dimana ia sudah merasakan sendiri bagaimana Tuhan melindunginya ketika sedang menggembala. Mari kita baca bagaimana Daud menyatakan hal ini.
"Tetapi Daud berkata kepada Saul: "Hambamu ini biasa menggembalakan kambing domba ayahnya. Apabila datang singa atau beruang, yang menerkam seekor domba dari kawanannya, maka aku mengejarnya, menghajarnya dan melepaskan domba itu dari mulutnya. Kemudian apabila ia berdiri menyerang aku, maka aku menangkap janggutnya lalu menghajarnya dan membunuhnya. Baik singa maupun beruang telah dihajar oleh hambamu ini. Dan orang Filistin yang tidak bersunat itu, ia akan sama seperti salah satu dari pada binatang itu, karena ia telah mencemooh barisan dari pada Allah yang hidup. Pula kata Daud: "TUHAN yang telah melepaskan aku dari cakar singa dan dari cakar beruang, Dia juga akan melepaskan aku dari tangan orang Filistin itu." (ay 34-37).

Ketika berhadapan dengan masalah, Daud segera membuka buku perjalanan hidupnya, museum pribadinya yang berisi pengalaman-pengalamannya terdahulu ketika merasakan kuasa penyertaan Tuhan. Bagi tentara Israel Goliat terlihat sebagai raksasa yang tidak akan mungkin dikalahkan, tetapi bagi Daud, Goliat tidaklah lebih dari beruang atau singa yang sudah pernah ia taklukkan bersama Tuhan. Kalau Tuhan sanggup membuat Daud kecil mampu mengalahkan binatang-binatang buas, kenapa dia harus gentar menghadapi Goliat?

Dalam Mazmur dikatakan: "Allah itu bagi kita tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti." (Mazmur 46:2). Kata 'sangat terbukti' menunjukkan sesuatu yang sudah pernah terjadi berulang kali. Pemazmur tahu bahwa museum pribadinya pun berisikan begitu banyak bukti bagaimana kuasa Allah sanggup menolong dalam kesesakan, bagaimana Allah mampu menjadi tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai solusi atau jawaban dari setiap permasalahan yang kita alami. Alkitab jelas berkata: "Bahwasanya Aku, TUHAN, tidak berubah.." (Maleakhi 3:6). Dan Yesus pun demikian. "Yesus Kristus tetap sama, baik kemarin maupun hari ini dan sampai selama-lamanya." (Ibrani 13:8). Tetap sama, kemarin, hari ini dan sampai selamanya, tidak berubah. Itu artinya, jika dahulu Tuhan bisa, hari ini pun sama, besok lusa dan sampai kapanpun Dia bisa!

4. Periksa dan pergunakanlah apa yang ada

Senjata apa yang dipakai Daud untuk melawan Goliat? Daud tidak memilih pedang atau tombak karena secara ukuran saja ia pasti akan kesulitan mengangkatnya, apalagi jika harus beradu dengan Goliat. Daud ternyata memilih apa yang ada pada dirinya dan apa yang tersedia disana. "Lalu Daud mengambil tongkatnya di tangannya, dipilihnya dari dasar sungai lima batu yang licin dan ditaruhnya dalam kantung gembala yang dibawanya, yakni tempat batu-batu, sedang umbannya dipegangnya di tangannya. Demikianlah ia mendekati orang Filistin itu." (ay 40). Tidak masalah senjata apa yang ia miliki, karena ia tahu ditangan Tuhan senjata yang terlihat sepele itu bisa berkekuatan luar biasa.

(bersambung)

Monday, July 29, 2013

Cara Mengatasi Masalah ala Daud (1)

webmaster | 8:00:00 AM | 1 Comment so far
Ayat bacaan: 1 Samuel 17:45
=================
"Tetapi Daud berkata kepada orang Filistin itu: "Engkau mendatangi aku dengan pedang dan tombak dan lembing, tetapi aku mendatangi engkau dengan nama TUHAN semesta alam, Allah segala barisan Israel yang kautantang itu."

Disebuah pagi kira-kira 1000 tahun Sebelum Masehi, tepat di lembah Tarbantin yang terletak di tengah dua bukit. Disana sedang berhadapan dua orang yang sangat jomplang baik dari segi ukuran tubuh maupun kelengkapan peralatan dan persenjataan. Di sudut yang satu berdiri sosok bertubuh raksasa dengan tinggi kurang lebih tiga meter, memakai perisai lengkap yang mahal dan bersenjata lembing terbuat dari tembaga. Mata tombaknya saja sudah sekitar tujuh kilogram. Di sudut lain ada seorang anak muda berwajah kemerahan, tanpa perisai atau pelindung tubuh apapun dan hanya bersenjatakan umban yaitu sejenis ketapel. Sebuah pertarungan tidak seimbang sepertinya bakal tersaji di depan mata. Sudah kalah ukuran tubuh, kalah perlengkapan perang, kalah senjata pula. Ketidakseimbangan bertambah jelas jika mengetahui bahwa sudah 40 hari lamanya raksasa ini beserta tentaranya sukses mengintimidasi tentara Israel. Suasana mencekam memenuhi lembah itu. Anda bisa membayangkan bagaimana situasi disana pada waktu itu, tapi anda pun tentu tahu apa yang menjadi hasilnya. Benar, ini adalah kisah yang sangat terkenal ketika Daud muda berhadapan dengan raksasa dari Gat bernama Goliat. Hanya dengan ketapel Daud mampu menumbangkan lawannya. Sebuah kemenangan fenomenal yang tercatat dalam tinta emas hingga hari ini.

Kita mungkin sudah tahu apa yang menjadi rahasia Daud untuk mengalahkan raksasa bersenjata lengkap seperti itu. Tapi apa hubungannya buat kita? Coba ganti sosok raksasa dan prajuritnya itu dengan permasalahan yang menekan kita, maka anda akan melihat hubungannya. Bukankah kita seringkali diterpa masalah sebesar raksasa sehingga kita kelabakan, hilang akal dan sudah menyerah duluan sebelum menghadapi? Jangankan berani menghadapi, memikirkan saja mungkin kita takut. Kita merasa tidak punya kemampuan untuk mengatasinya karena secara logika itu tidak mungkin. Kita berpikir, inilah akhir dari diri kita. Mungkin secara manusia itu terjadi, tapi jangan lupa bahwa ada Tuhan di belakang kita yang tidak pernah kehabisan cara untuk menolong kita, mengangkat kita keluar dari permasalahan seberat apapun dan meletakkan kita kembali di tempat yang baik untuk kembali melangkah dengan mantap.

Dari kisah Daud vs Goliat ini kita bisa mengambil teladan tentang bagaimana menghadapi masalah sebesar raksasa, berdasarkan cerita lengkapnya yang dicatat dalam 1 Samuel 17:1-31. Setidaknya ada empat poin yang bisa kita teladani dalam menghadapi masalah besar, mari kita lihat satu persatu.

1. Jangan memandang masalah, tapi fokuskan pandangan kepada Tuhan

Seperti halnya Daud, berhentilah memandang besarnya masalah dan alihkan dengan memandang besarnya Tuhan yang ada bersama kita. Memandang besarnya masalah, itulah yang dilakukan oleh para tentara Israel, dan itu melemahkan mental dan moral mereka, tapi tidak demikian dengan Daud. Ia tidak memandang kepada besarnya masalah tapi memandang kepada siapa yang menyertainya. Lihat bagaimana reaksi Daud ketika mendengar intimidasi Daud yang menakutkan seluruh prajurit ISrael. "Lalu berkatalah Daud kepada orang-orang yang berdiri di dekatnya: "Apakah yang akan dilakukan kepada orang yang mengalahkan orang Filistin itu dan yang menghindarkan cemooh dari Israel? Siapakah orang Filistin yang tak bersunat ini, sampai ia berani mencemoohkan barisan dari pada Allah yang hidup?" (ay 26).

Daud bisa berkata seperti ini karena ia tidak memandang masalah melainkan memfokuskan pandangannya kepada Tuhan yang hidup, yang berada bersamanya. Sebesar apa masalah anda hari ini, akankah itu lebih besar dari Tuhan sehingga Tuhan tidak lagi mampu menolong kita? Tentu saja tidak, tidak ada masalah apapun yang bisa mengatasi kuasa Tuhan. Jadi jika kita memandang Tuhan, kita tidak akan terintimidasi lagi oleh masalah meski yang sangat besar, sehingga kita bisa tetap tenang dalam menghadapinya. Selama kita tetap hidup sesuai ketetapanNya, kita hanya perlu memenangkan diri, karena Firman Tuhan berkata "Dengan bertobat dan tinggal diam kamu akan diselamatkan, dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu." (Yesaya 30:15).
(bersambung)

Sunday, July 28, 2013

Pikiran dan Perasaan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Filipi 2:5
==============
"Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus"

Kemarin saya sudah menyampaikan pentingnya untuk menaklukkan pikiran dan sempat menyinggung soal perasaan. Antara pikiran dan perasaan terdapat perbedaan walau bisa saling terkait satu sama lain, dan setiap orang pasti memiliki keduanya. Pikiran berisi hal-hal tentang logika, ilmu pengetahuan, akal juga imajinasi atau proyeksi rekaman otak. Sedang perasaan merupakan perkara 'sensasi' yang hanya bisa diakses melalui jiwa dan hati. Tanpa keduanya kita akan sulit dikatakan sebagai manusia, dan seringkali kedua hal inilah yang menentukan langkah-langkah pengambilan keputusan dan proses lainnya dalam hidup.
Sekarang, sadarkah kita bahwa pikiran atau perasaan bisa sangat menentukan tingkat keimanan kita? Salah satunya bisa saling mengganggu pertumbuhan iman, atau malah dua-duanya saling berkomplimen untuk mendegradasikannya. Mari kita ambil contoh. Pikiran anda mengetahui Firman Tuhan berkata jangan takut, tapi perasaan anda masih sering diliputi rasa cemas, khawatir, dihantui ketakutan bahkan atas hal yang sepele. Sebaliknya, perasaan anda mungkin sudah mengingatkan lewat hati nurani akan sesuatu hal, tetapi pikiran anda meyakinkan bahwa sebuah langkah harus diambil karena keuntungannya menjanjikan. Ini contoh yang mudah-mudahan bisa membuat anda paham akan perbedaannya. Yang lebih parah lagi kalau keduanya masih belum tereformasi. Misalnya anda tidak kenal janji Tuhan, perasaan pun terus takut. Itu tentu sama sekali tidak baik bagi pertumbuhan iman. Ketahuilah bahwa dalam pengalaman saya ketemu banyak orang, saya mengambil kesimpulan bahwa pikiran dan perasaan, baik salah satu maupun keduanya bisa menjadi celah bagi si jahat untuk merusak kehidupan iman kita. Jadi kita tentu sepakat bahwa antara perasaan dan pikiran harus sinkron, tersambung dengan baik untuk mengacu kepada kebenaran. Bagaimana caranya dan kemana?

Ayat hari ini secara jelas memberi jawabannya. "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Filipi 2:5). Ayat ini menunjukkan bahwa Tuhan sudah memberi peringatan (warning) mengenai pentingnya mengawal atau memperhatikan pikiran dan perasaan dengan serius. Lewat Paulus, Firman Tuhan menyerukan bahwa kita harus menaruh pikiran dan perasaan seperti Kristus. Dengan kata lain, adalah penting bagi kita untuk memedomani cara pikir dan perasaan Yesus alias selaras dengan Yesus. Itulah yang akan memampukan kita untuk bisa mensinkronkan pikiran dan perasaan kita agar keduanya mengacu kepada kebenaran Allah tepat seperti segala sesuatu yang diajarkan Kristus.

Selanjutnya kita juga perlu mengetahui bahwa apa yang bisa memelihara hati (perasaan) dan pikiran kita dalam Yesus tidak lain adalah damai sejahtera Allah. Ini disebutkan dalam Filipi 4:7, "Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus." Ayat ini didahului dengan pesan bagaimana seharusnya kita bereaksi terhadap masalah. "Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apapun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur." (ay 6). Kita diingatkan agar jangan khawatir terhadap segala perihal yang menyusahkan hidup kita, tetapi bawakanlah semuanya kepada Allah dengan disertai doa dan ucapan syukur. Lalu ayat berikutnya setelah ayat 7 mengingatkan kita untuk tetap mendasarkan pikiran kita terhadap segala sesuatu "yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji" (ay 8), lalu kita diminta pula untuk mempelajari apa yang sudah kita terima baik lewat pendengaran atau penglihatan. Dan disanalah damai sejahtera Allah akan ada beserta kita. (ay 9). Kunci untuk bisa mensinkronkan perasaan dan pikiran jelas tergambar dari rangkaian ayat-ayat ini. Jangan berhenti pada apa yang telah kita pelajari atau ketahui karena itu hanyalah tersimpan dalam pikiran, tapi praktekkanlah langsung lewat cara hidup kita, dan itulah yang akan bisa membangun jembatan antara pikiran dan perasaan agar keduanya berisi nilai-nilai kebenaran yang bisa terpancar keluar secara sinergi.

Antara pikiran dan perasaan ada hubungan, dimana kondisi salah satu atau keduanya bisa sangat menentukan perjalanan pertumbuhan keimanan kita. Karena itu kita perlu memeriksa keduanya secara serius dan menyelaraskan hubungan antara keduanya. Artinya pikiran dan perasaan harus sejalan, dan menuju kepada kebenaran. Selaraskan dengan Yesus Kristus, lantas pelihara dengan memiliki damai sejahtera Allah. Itulah yang akan memastikan agar pengetahuan kita akan Firman Tuhan tidak menguap sia-sia dan tidak membawa dampak apapun dalam hidup kita. Jika anda masih sulit untuk memastikan apakah keduanya sudah sejalan atau belum, anda bisa memakai cara Daud untuk meminta Tuhan memeriksa pikiran dan perasaan kita. "Ujilah aku, ya TUHAN, dan cobalah aku; selidikilah batinku dan hatiku." (Mazmur 26:2). Dalam bahasa Inggris ayat ini berbunyi: "Examine me, O Lord, and prove me; test my heart and my mind." Tuhan, periksalah perasaan dan pikiranku, kata Daud. Dengan cara yang sama kita bisa memastikan kondisi keduanya agar selaras dengan Tuhan.

Both our mind and heart need check and be connected to Jesus

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, July 27, 2013

Transformasi Pikiran

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Efesus 4:17
======================
"Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia"

"Orang Kristen itu banyak, tapi sedikit yang percaya." Itu yang dikatakan oleh seorang teman yang mungkin bisa membingungkan jika didengar secara sepintas. Tapi apa yang ia katakan memang ada benarnya. Mengapa? Sebab memakai label Kristen belumlah menjamin keimanan seseorang. Saya sudah sering bertemu dengan orang Kristen yang takut setan atau bahkan masih percaya berbagai tahyul seperti halnya orang dunia. Jangan tinggal di lokasi yang tidak jauh dari kuburan karena nanti kamu bisa sakit, posisi rumah, pintu dan perabotan menentukan kesehatan dan rejeki, harus meletakkan sapu terbalik di depan pintu rumah supaya tidak kemalingan, ini hanyalah sedikit dari apa yang sudah saya dengar dan lihat dari kalangan anak-anak Tuhan sendiri, bahkan termasuk dari mereka yang melayani. Ada juga yang masih terus khawatir, hidup dengan penuh rasa takut, berburuk sangka, gemar bergosip dan lain-lain meski rajin ke gereja. Jika kita melihat Firman-firman Tuhan, jelaslah bahwa itu semua seharusnya tidak menjadi bagian dari orang yang percaya lagi. Tapi pada kenyataannya, hal seperti ini masih saja ada di pikiran mereka. Mungkin dalam banyak hal mereka ini sudah banyak berubah menjadi lebih baik setelah mengetahui Firman Tuhan, tetapi ternyata masih ada saja yang tinggal. Some 'old-fashioned thoughts' are still left in their mind. So, for some people, they still have some problems in their mind to be solved, reformed and transformed, in Jesus.

Dalam Efesus kita bisa menemukan sentilan Paulus tentang hal ini. Ketika ia berbicara mengenai Manusia Baru, ia mengingatkan orang-orang disana agar jangan lagi hidup seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah melalui pikiran yang tidak-tidak atau tidak sesuai dengan kebenaran Allah. Paulus berkata: "Sebab itu kukatakan dan kutegaskan ini kepadamu di dalam Tuhan: Jangan hidup lagi sama seperti orang-orang yang tidak mengenal Allah dengan pikirannya yang sia-sia." (Efesus 4:17). Lihatlah bahwa ternyata masalah yang sama terjadi pada waktu itu. Sebuah proses pengenalan akan kebenaran jika tidak diperhatikan dengan sungguh-sungguh bisa jadi tidak mentransformasi seseorang secara menyeluruh atau total. Ada bagian-bagian tertentu yang masih tertinggal dalam pikiran yang masih perlu dibereskan terlebih dahulu. Mungkin kebiasaan-kebiasaan lama termasuk pola pikir lama masih belum ditanggalkan sepenuhnya sehingga sewaktu-waktu masih bisa mencuat keluar dan dianggap sebagai sesuatu yang biasa saja.

Kita harus ingat bahwa ada ayat yang berkata: "Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia." (Amsal 23:7) Ayat ini mengingatkan kita bahwa seperti apa yang kita pikirkan, seperti itulah jadinya. Lebih lanjut lewat Ayub kita bisa melihat pula hal yang sama: "Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku." (Ayub 3:25). Apa yang kita alami akan sangat tergantung dari pola pikir kita, dari apa yang kita pikirkan. Pikiran kita akan sangat menentukan seperti apa kita jadinya, karena itulah sebuah perubahan pola pikir, meninggalkan pola pikir lama dan masuk kepada pola pikir Kristus menjadi sesuatu yang sangat penting untuk kita cermati.

Lalu bagaimana caranya kita bisa mereformasi pikiran? Dalam Efesus 4 Paulus tidak hanya mengingatkan tapi juga memberikan jawaban. "Karena kamu telah mendengar tentang Dia dan menerima pengajaran di dalam Dia menurut kebenaran yang nyata dalam Yesus, yaitu bahwa kamu, berhubung dengan kehidupan kamu yang dahulu, harus menanggalkan manusia lama, yang menemui kebinasaannya oleh nafsunya yang menyesatkan, supaya kamu dibaharui di dalam roh dan pikiranmu, dan mengenakan manusia baru, yang telah diciptakan menurut kehendak Allah di dalam kebenaran dan kekudusan yang sesungguhnya." (ay 21-24). Dari ayat ini kita bisa melihat solusinya. Kita harus menanggalkan manusia lama kita yang seharusnya binasa lewat keinginan-keinginan yang menyesatkan dengan menjadi manusia baru, agar kita diperbaharui (renewed) dalam roh dan pikiran, lalu mengenal atau mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Menjadi ciptaan baru adalah anugerah buat siapapun yang berada di dalam Kristus (2 Korintus 5:17), dan menjadi ciptaan atau manusia baru seharusnya berupa sebuah transformasi menyeluruh hingga menyentuh roh dan pikiran kita. Jadi apabila masih ada sisa-sisa peninggalan masa lalu di dalam pikiran kita, itu artinya masih ada yang perlu kita bereskan agar pikiran kita pun bisa mengikuti sebuah proses perubahan dari manusia lama ke dalam manusia baru dengan tuntas.

Adalah penting bagi kita untuk hidup sepikir dan seperasaan seperti Yesus. Dengan kata lain, agar pikiran kita tetap terjaga, tidak terkontaminasi dari pola pikir lama kita harus menaruh pikiran dan perasaan kita selaras dengan Kristus. Dan itu sudah disebutkan pula di dalam Alkitab. "Hendaklah kamu dalam hidupmu bersama, menaruh pikiran dan perasaan yang terdapat juga dalam Kristus Yesus" (Filipi 2:5). Jangan lupa pula bahwa damai sejahtera Allah akan selalu memelihara hati dan pikiran kita dalam Yesus Kristus seperti yang disebutkan dalam Filipi 4:7.

Bagaimana kita bisa mendapatkan damai sejahtera Allah? Bacalah ayat berikut ini: "dimana ada kebenaran disitu akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran adalah ketenangan dan ketenteraman." (Yesaya 32:17). Damai sejahtera akan tumbuh sebagai efek atau dampak dari kebenaran, dan itu bukan hanya untuk sementara tapi selamanya. Jadi jelas bahwa damai sejahtera akan menjadi milik dari setiap orang yang melakukan apa yang benar, mematuhi dan melaksanakan ketetapan-ketetapan Tuhan dengan sepenuh hati, sungguh-sungguh dan tidak pilih-pilih.

Mari periksa pikiran kita apakah masih ada hal-hal yang menyimpang dari kebenaran Allah di dalamnya. Apakah ada tahyul, mitos dan kepercayaan-kepercayaan yang tidak sesuai dengan Firman Tuhan yang masih kita anggap benar dalam pikiran kita? Jika masih ada, perbaikilah segera. Anda sudah menjadi ciptaan baru, maka pikiran pun seharusnya sudah menjadi baru. Taklukkan pikiran dan perasaan anda dalam Yesus Kristus dan biarkan damai sejahtera tumbuh untuk memeliharanya sebagai hasil dari kebenaran dari Allah berdasarkan iman kita. Luangkan waktu untuk membaca Firman Tuhan dalam Alkitab, perhatikan setiap kotbah yang disampaikan secara serius, karena "iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus." (Roma 10:17). Don't wait any longer, now is the time to free our mind from any wrong thoughts and base everything upon the truth.

Pelajari kebenaran firman dan tanamlah dalam pikiranmu

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, July 26, 2013

Tenang dan Diam

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ratapan 3:26
================
"Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN."

"Sebentar ya...saya layani satu-satu." Itu saya dengar lewat ucapan seorang penjual donat yang sedang ramai diserbu pengunjung. Ia kelabakan melayani banyak orang sendirian. Mending kalau semuanya mengantri dengan sabar. Ini semuanya ingin cepat tanpa memandang orang-orang yang sudah datang lebih dulu kesana. Saya bisa membayangkan kerepotannya, tapi pikiran saya kemudian membayangkan bentuk-bentuk masalah yang menerpa kita. Seringkali masalah datang bertubi-tubi, saling ingin mendahului bagaikan tidak mau kalah untuk menyusahkan kita. Belum beres satu, sudah datang dua masalah baru. Bukankah masalah sering datang dengan cara seperti ini? Kita jadi bingung harus menyelesaikan yang mana dulu, mulai dari mana, bingung bagaimana bisa keluar dari tumpukan masalah ini, apalagi kalau masalah-masalah ini enggan meninggalkan kita. Kita dicekam rasa panik menghadapi serangan masalah seperti ini. Berdoa meminta pertolongan Tuhan tapi merasa seolah Tuhan sedang terlalu sibuk untuk mengurus kita. Ditengah terpaan bertubi-tubi seperti itu kita bisa cepat kehilangan kesabaran lalu bergegas mencari alternatif-alternatif lainnya. Disana ada banyak jebakan yang bisa membuat segalanya menjadi lebih runyam, membuat kita semakin menjauh dari Tuhan dan akhirnya menjerumuskan diri sendiri ke dalam jurang kesesatan. Kalau tidak separah itu, kita bisa bermasalah dengan kesehatan seperti terkena stres, depresi, kehilangan kontrol diri, darah tinggi dan lain-lain apabila membiarkan kepanikan melanda kita.

Sebelum ini semua terjadi, ada baiknya kita mengetahui sebuah tindakan penting yang dianjurkan beberapa kali di dalam Alkitab sebelum terlambat. Dari pada terus berteriak, mengeluh, mengaduh, menangis atau malah melakukan tindakan-tindakan yang didasari emosi hinga merugikan diri sendiri dan orang lain, ada baiknya kita turuti apa yang diajarkan menurut Tuhan, yaitu memilih untuk melakukan sebaliknya, yaitu mengambil waktu untuk diam.

Di dalam Ratapan ada sebuah ayat yang mengingatkan hal ini. "Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN." (Ratapan 3:26) Mengapa baik bagi kita untuk diam dalam menanti pertolongan Tuhan? Karena dengan diam kita bisa terhindar dari berbagai godaan yang menyesatkan. Dengan diam kita bisa fokus mengambil momen perenungan, introspeksi ke dalam diri kita, mencari tahu kalau-kalau ada yang masih belum kita bereskan. Dengan diam kita bisa terhindar dari mengambil langkah-langkah yang hanya didasarkan kepada perasaan emosional, tidak rasional dalam memutuskan. Dengan diam itu bisa mencegah kita melakukan kesalahan-kesalahan yang hanya akan menambah masalah.

Jika dalam Ratapan kita diingatkan oleh Yeremia, dalam Mazmur kita bisa mendengar langsung lewat suara Tuhan langsung. "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mazmur 46:11). Dalam bahasa Inggris tertulis seperti ini: "Let be and be still, and know that I am God." Bukankah kita sering lupa kepada Tuhan ketika kepanikan sedang berkecamuk menguasai kita? Ambil jeda sejenak, diam dan berhentilah. Lalu ajak pikiran dan hati anda kembali mengingat bahwa ada Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu, mampu melakukan sesuatu bahkan hal yang paling mustahil sekalipun. Kembali mengingat janji-janji Tuhan yang begitu mengasihi kita, kuasaNya yang ajaib yang mengatasi bumi.

Masalah mungkin tidak langsung selesai, pergumulan masih akan terus berlangsung, tapi ada saatnya kita harus mengambil langkah tersebut sebelum kita mengambil langkah yang keliru. Disamping itu, adalah jauh lebih baik bagi kita untuk diam ketimbang terus mengisi hidup dengan keluhan dan kata-kata lain yang negatif, yang bukan saja merugikan kita sendiri tapi juga akan menambah lebih banyak lagi masalah.
Dalam menghadapi serangan masalah beruntun kita akan terpancing untuk sibuk melakukan segala sesuatu tanpa pikir panjang dan akan terus kecewa apabila situasi tidak kunjung menjadi baik meski kita sudah mati-matian berusaha mengatasinya. Waktu itu terjadi, kita seringkali lupa bahwa sebenarnya kita harus mengambil waktu untuk diam lalu mendatangi Tuhan. Duduk diam di hadiratNya untuk mendengar suaraNya, menikmati kedekatan terhadap Tuhan yang sangat mengasihi kita, menyerahkan segala permasalahan kita ke dalam tanganNya dan mengijinkan kehendak dan rencanaNya turun atas kita, karena itulah yang terbaik. Jangan pernah lupa bahwa Tuhan sanggup menghadirkan kelegaan (Matius 11:28), bahkan menggendong, menanggung dan memikul dan menyelamatkan kita sampai kapanpun. "Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu." (Yesaya 46:4). Kita bisa lupa akan semua ini apabila kita terlalu sibuk dalam kepanikan. Kita lupa bahwa di atas segalanya, ada Tuhan yang berkuasa lebih dari apapun di dunia ini. Kita lupa bahwa ada Tuhan yang kuasanya tak terbatas melebihi kemampuan kita yang terbatas.

Sekali lagi mari kita lihat lagi suara Tuhan: "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mazmur 46:11) dan resapi dalam-dalam kata Yeremia "Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN." (Yeremia 3:26). Diamlah dan arahkan pandangan kepada Tuhan. Dalam menghadapi serangan masalah, ketika badai menghantam, mudah bagi pikiran kita untuk merasa seolah-olah semua janji Tuhan seperti terasa sangat jauh dari jangkauan kita, atau sangat lambat datangnya. Tapi ingatlah bahwa meski saat ini kita mengalami kekecewaan dari harapan yang belum juga kunjung tercapai, ada saat dimana kita harus menunggu disertai harapan yang tetap menyala. Terus menanti-nantikan Tuhan tidaklah pernah sia-sia. Ada banyak kuasa luar biasa yang disediakan Tuhan kepada anak-anakNya yang terus tekun menanti-nantikanNya, seperti yang sudah kita bahas dalam renungan kemarin.

Sementara menantikan pertolongan Tuhan, jangan panik. Tetaplah pegang janji Tuhan, luangkan waktu lebih banyak bukan untuk terus berkeluh kesah dan menangis dalam doa-doa kita, tapi untuk diam, menghampiri hadiratNya, memandang wajahNya dan mendengarkan suara Tuhan lebih lagi. Ingatlah bahwa sesungguhnya "Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita.." (Ibrani 6:19) Percayalah dengan iman yang teguh hanya kepadaNya, maka pertolongan Tuhan pun akan datang yang akan datang bagai fajar menyingsing atau hujan yang menyejukkan.  "Marilah kita mengenal dan berusaha sungguh-sungguh mengenal TUHAN; Ia pasti muncul seperti fajar, Ia akan datang kepada kita seperti hujan, seperti hujan pada akhir musim yang mengairi bumi." (Hosea 6:3). Mungkin jawaban Tuhan belum datang hari ini, mungkin anda masih bergumul, tapi pada waktunya, sesuai waktu Tuhan, segala yang terbaik akan menjadi milik anda, dan Tuhan akan segera mengangkat anda, tepat seperti janji Tuhan yang tertulis dalam Mazmur: "Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku." (Mazmur 40:2-3) After all, remember that "Salvation belongs to the Lord." "Dari TUHAN datang pertolongan. Berkat-Mu atas umat-Mu!"(Mazmur 3:9). Dari Tuhanlah datangnya segala pertolongan, bukan dari yang lain. Jadi, mengapa tidak mengarahkan pandangan kepadaNya? Anda tentu boleh terus berusaha, tapi doakan terus langkah-langkah yang anda ambil. Bawa kepada Tuhan, dengar suaraNya dan lakukan tepat seperti apa yang Dia katakan. Itu hanya bisa kita lakukan apabila kita tetap tenang dan mengambil waktu untuk diam. You can't handle it anymore? do you feel being pushed to the edge? God can! Percayalah, Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk melepaskan anda.

"Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!" (Yesaya 30:18)

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, July 25, 2013

Menanti-nantikan Tuhan (3)

webmaster | 8:00:00 AM | 1 Comment so far
(sambungan)

Dari poin-poin yang saya sampaikan kemarin, kita bisa melihat begitu banyak janji Tuhan yang luar biasa akan dialami oleh orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan. Artinya, kita bisa mendapat kemuliaan, berkat, mukjizat, kehormatan, pelipatgandaan (multiplikasi), pemenuhan hingga kelimpahan dan sebagainya. Kemurahan Tuhan turun atas kita, menjadikan kita orang-orang yang tetap berada dalam tanganNya.

Sekarang mari kita lihat bagaimana/apa yang harus kita lakukan dalam menanti-nantikan Tuhan. Ada dua poin penting yang sangat baik untuk kita perhatikan. Untuk itu mari kita kembali mengacu kepada Yesaya terutama pasal 40.

1. Menanti Tuhan dengan membereskan dosa
Seperti yang telah kita baca dalam bagian terdahulu, janji Tuhan untuk merestorasi kekuatan kita untuk kembali menjadi baru dan berbagai janji lainnya itu tentu sudah pasti. Tapi penting bagi kita untuk melakukan langkah membereskan dosa-dosa yang masih bercokol dalam diri kita. Dalam kitab Yesaya pasal 40 yang menyampaikan berita kelepasan, dikatakan "tenangkanlah hati Yerusalem dan serukanlah kepadanya, bahwa perhambaannya sudah berakhir, bahwa kesalahannya telah diampuni, sebab ia telah menerima hukuman dari tangan TUHAN dua kali lipat karena segala dosanya." (Yesaya 40:2). Bangsa Israel selama perjalanannya telah berbuat banyak dosa, termasuk meninggalkan Tuhan dan menyembah dewa-dewa atau ilah lain. Ini jelas merupakan pelanggaran besar yang harus dibereskan.

Pertanyaannya, mengapa dosa penting untuk dibereskan? Jawabannya bisa dilihat dalam Yesaya pasal sebelumnya: "tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu adalah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga ia tidak mendengar, ialah segala dosamu." (Yesaya 59:2). Jadi jelaslah bahwa dosa dalam bentuk dan ukuran apapun harus dibereskan. Jadi kita harus menanti Tuhan dengan membereskan dosa-dosa yang masih menghalangi segala janji Tuhan turun atas kita.

2. Menantikan Tuhan dengan awas saat pertolonganNya turun
Tuhan selalu menyertai kita. Ketika kita datang kepadanya dengan hati yang hancur, melakukan pertobatan dengan sungguh-sungguh dan sepenuhnya, Tuhan akan datang dan dengan senang hati memulihkan kita. "Lihat, itu Tuhan ALLAH, Ia datang dengan kekuatan dan dengan tangan-Nya Ia berkuasa. Lihat, mereka yang menjadi upah jerih payah-Nya ada bersama-sama Dia, dan mereka yang diperoleh-Nya berjalan di hadapan-Nya. Seperti seorang gembala Ia menggembalakan kawanan ternak-Nya dan menghimpunkannya dengan tangan-Nya; anak-anak domba dipangku-Nya, induk-induk domba dituntun-Nya dengan hati-hati." (Yesaya 40:10-11). Bukankah ini terdengar sangat indah? Untuk bisa merasakan indahnya janji Tuhan ini ketika turun atas kita, kita harus awas dan jangan lengah. Ada banyak orang yang terus berdoa menantikan Tuhan, tetapi ketika jawaban Tuhan datang mereka tidak siap. Mereka tidak menyangka bahwa itu adalah jawaban Tuhan dan dengan sendirinya melewatkan pertolongan Tuhan tersebut. Karenanya kita perlu memperhatikan dengan seksama apapun yang terjadi, sekecil apapun itu. Ingat bahwa Tuhan bisa menjawab doa lewat banyak hal, termasuk lewat hal-hal kecil yang mungkin saja luput dari perhatian kita.

Apakah anda saat ini tengah mengalami kelelahan sedemikian rupa, sehingga kehilangan passion atau semangat untuk memberi yang terbaik dalam pekerjaan yang anda tekuni? Anda merasa burn-out dan kehabisan bensin untuk terus berjalan? Anda mulai tidak lagi bergairah untuk melayani, atau bahkan mulai lelah dengan kehidupan rumah tangga anda? Tuhan siap merestorasi itu semua dan memberikan anda segala kebaikan yang berkelimpahan. Apa yang anda harus lakukan adalah bertekun menanti-nantikan Tuhan. Hari ini saya secara khusus berdoa bagi anda yang sedang dalam keadaan lemah, letih dan lesu dan membutuhkan kekuatan baru dari Tuhan. Hampiri Tuhan, terus nantikan Dia, kiranya Tuhan memulihkan anda untuk kembali penuh dengan kebahagiaan dan sukacita, jauh dari kekurangan atau masalah lainnya.

Berbahagialah orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, July 24, 2013

Menanti-nantikan Tuhan (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Apa saja yang bisa kita peroleh dari menanti-nantikan Tuhan? Alkitab menyebutkan begitu banyak janji Tuhan yang luar biasa bagi orang-orang yang dengan tekun menantikanNya. Mari kita lihat satu persatu dalam kaitannya dengan rincian arti menantikan Tuhan seperti yang telah saya sampaikan kemarin.

- Tuhan memberi kekuatan baru"tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." (Yesaya 40:31). Dalam kesempatan lain dalam kitab 2 Tawarikh kita bisa menemukan ayat yang berbunyi kurang lebih sama, yaitu "Karena mata TUHAN menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatan-Nya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia." (2 Taw.16: 9a).  Bersungguh hati adalah salah satu inti dari menantikan Tuhan, maka kepada mereka yang seperti ini Tuhan siap memberikan kekuatan baru yang berasal dari kekuatanNya sendiri.

- Tidak mendapat malu
Lewat Daud kita bisa membaca janji Tuhan ini. "Ya, semua orang yang menantikan Engkau takkan mendapat malu.” (Mazmur 25: 3a) juga lewat Yesaya "Maka raja-raja akan menjadi pengasuhmu dan permaisuri-permaisuri mereka menjadi inangmu. Mereka akan sujud kepadamu dengan mukanya sampai ke tanah dan akan menjilat debu kakimu. Maka engkau akan mengetahui, bahwa Akulah TUHAN, dan bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Aku tidak akan mendapat malu." (Yesaya 49:23). Tuhan sendiri yang menjamin bahwa orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan tidak akan mendapat malu.

- Keselamatan
Dalam kitab Ibrani dikatakan: "demikian pula Kristus hanya satu kali saja mengorbankan diri-Nya untuk menanggung dosa banyak orang. Sesudah itu Ia akan menyatakan diri-Nya sekali lagi tanpa menanggung dosa untuk menganugerahkan keselamatan kepada mereka, yang menantikan Dia." (Ibrani 9:28). Menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat pribadi merupakan syarat untuk menerima keselamatan. Tapi dalam perjalanan apabila kita tidak bersungguh hati maka kita bisa kehilangan janji itu. Maka penting bagi kita untuk terus menantikan dengan hati teguh. Yesus siap menganugerahkan keselamatan, full salvation, buat orang-orang yang terus menantikanNya, to those who are eagerly, constantly and patiently waiting for and expecting Him.

- Dikawal oleh ketulusan dan kejujuran
Mazmur Daud berkata: "Ketulusan dan kejujuran kiranya mengawal aku, sebab aku menanti-nantikan Engkau." (Mazmur 25:21). Menantikan Tuhan bisa membuat hidup kita terus dikawal oleh integritas dan kejujuran dalam menjalani hidup. Dalam dunia yang semakin saling menyesatkan dan disesatkan, orang-orang berintegritas dan jujur semakin jarang ditemukan. Kita tetap bisa berada dalam kedua hal ini jika kita tetap tekun menanti-nantikan Tuhan.

- Mewarisi 'negeri'
Sangatlah menarik apabila kita menemukan pula janji Tuhan bahwa orang yang menanti-nantikanNya akan mewarisi negeri. "Sebab orang-orang yang berbuat jahat akan dilenyapkan, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN akan mewarisi negeri." (Mazmur 37:9). Mewarisi artinya, menduduki, menanggungjawabi dan memperbaiki. Sedang kata negeri berbicara tentang aspek-aspek kehidupan termasuk usaha, karakter dan berbagai pergumulan hidup. Jadi Tuhan menjanjikan orang seperti ini untuk bisa diberikan tanggung jawab untuk mengelola, membangun dan memperbaiki kehidupan menuju dunia yang lebih baik. Dalam Galatia dikatakan "Jadi kamu bukan lagi hamba, melainkan anak; jikalau kamu anak, maka kamu juga adalah ahli-ahli waris, oleh Allah."  (Galatia 4:7). Sebagai ahli waris Kerajaan, tentu kita berhak mendapatkan segala yang terbaik dari Tuhan. Itu bukan saja berbicara mengenai keselamatan kekal tetapi juga segala kelimpahan dari kebaikan Tuhan dalam hidup kita. Kita siap mewarisi itu semua jika kita menanti-nantikan Tuhan dengan sungguh-sungguh.

- Tuhan memberi pertolonganMazmur Daud berkata "Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong. Ia mengangkat aku dari lobang kebinasaan, dari lumpur rawa; Ia menempatkan kakiku di atas bukit batu, menetapkan langkahku." (Mazmur 40:2-3). Bukankah sangat indah ketika Tuhan mau melihat dan mendengar teriakan meminta pertolongan kita? Bukan hanya mendengar, Tuhan pun berjanji untuk mengangkat kita keluar dari kehancuran dan meletakkan kita kembali ke posisi yang kokoh dimana kita bisa kembali melangkah dengan mantap.

- Tuhan menyatakan kasihNya dan memberi kebahagiaan
"Sebab itu TUHAN menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih-Nya kepada kamu; sebab itu Ia bangkit hendak menyayangi kamu. Sebab TUHAN adalah Allah yang adil; berbahagialah semua orang yang menanti-nantikan Dia!" (Yesaya 30:18). Tuhan tidak sabar untuk menyatakan kasihNya secara nyata kepada kita yang selalu menatikanNya. For the Lord is a God of justice, blessed (happy, fortunate) are all those who earnestly wait for Him, who expect and look and long for him (His victory, His favor, His love, His peace, His joy and His matchless, unbroken companionship).

-  Perlindungan dari KrisisDalam kitab Wahyu ada ayat yang berkata "Karena engkau menuruti firman-Ku, untuk tekun menantikan Aku, maka Akupun akan melindungi engkau dari hari pencobaan yang akan datang atas seluruh dunia untuk mencobai mereka yang diam di bumi." (Wahyu 3:10). Tuhan siap menghadiahkan orang-orang yang bertekun dengan perlindungan dari masa kesusahan yang akan menimpa seluruh dunia. Akan datang masa sulit yang jauh lebih sulit dari saat ini. Berbagai krisis akan membuat dunia goncang, seperti yang sudah mulai terjadi hari ini, tetapi orang yang taat Firman dengan tekun menantikan Kristus, Dia sendiri yang akan melindungi dari masa kesusahan itu.

(bersambung)

Tuesday, July 23, 2013

Menanti-nantikan Tuhan (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yesaya 40:31
=================
"tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah."

Menunggu adalah salah satu hal yang paling sering mengesalkan kita. Ada beberapa orang yang sifatnya agak sensitif ketika diminta menunggu. 5 menit saja menunggu maka mereka mulai uring-uringan dan kemudian memilih untuk pergi saja. Salah satu anggota keluarga yang sangat dekat dengan saya memiliki sifat seperti ini, sangat bermasalah dengan menunggu. Maka ketika saya berurusan dengannya, lebih baik saya yang menunggu lama daripada telat datang meski hanya sebentar saja. Bagi kita yang tidak terlalu sensitif dengan menunggu, tetap saja untuk jangka waktu tertentu kita lama-lama bisa merasa bosan dan kesal juga.

Menarik ketika kita melihat ayat bacaan hari ini. Ada janji untuk mendapat restorasi atau pemulihan kekuatan bagi orang-orang yang tekun menanti-nantikan Tuhan. Orang-orang seperti ini dikatakan seperti rajawali yang terkenal sebagai burung dengan daya jangkau tertinggi lewat kedua kepak sayapnya. Dalam renungan kali ini kita akan melihat apa yang dimaksud dengan menanti-nantikan Tuhan itu. Apakah itu berarti hanya menunggu datangnya pertolongan Tuhan? Menantikan Tuhan menjawab doa? Menurunkan berkat-berkatNya? Melepaskan kita dari belitan masalah? Sesungguhnya kata menanti-nantikan Tuhan memiliki makna jauh lebih luas daripada itu. Lantas apa artinya? Bagaimana/apa yang harus kita perhatikan ketika menanti Tuhan? Apa saja yang kita peroleh dari menanti Tuhan? Dalam beberapa hari ke depan kita akan melihat semua ini satu persatu.

Mari kita mulai dengan pengalaman bangsa Israel keluar dari masa pembuangan. Selama puluhan tahun bangsa ini mengalami masa sebagai budak, dan setelah dimerdekakan dibawah pimpinan Musa mereka harus pula menempuh jarak panjang selama 40 tahun lagi untuk bisa mencapai tanah yang dijanjikan. Kita tahu bagaimana keras kepalanya bangsa Israel yang terus berbuat hal-hal yang menyakiti hati Tuhan dalam perjalanan sejarah mereka dalam Alkitab, tetapi pernahkah anda bayangkan betapa lelahnya mereka ini? Bukan hanya fisik, tapi saya yakin kelelahan sedemikian rupa juga menimpa jiwa dan roh mereka. Bukannya gampang mengalami situasi seperti ini. Tapi ayat dalam kitab Yesaya yang menjadi ayat bacaan kita hari ini yang bunyinya: "tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." (Yesaya 40:31) memberi sebuah jawaban atas segala kelelahan yang mereka alami waktu itu. Janji Tuhan ini pun berlaku bagi kita yang tengah merasakan kepenatan atau kelelahan yang luar biasa. Tuhan menjanjikan sebuah kekuatan baru, sekuat burung rajawali. Dan janji ini diberikan bagi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan.

Jika demikian, apa yang dimaksud dengan menanti-nantikan Tuhan? Orang yang menanti-nantikan mengacu kepada beberapa hal, yaitu those who expect, look for, faithfully trust and put all their hope in God. Jadi menanti-nantikan Tuhan adalah percaya, terus berharap, mencari, mempercayai dengan bersungguh hati dan meletakkan seluruh pengharapan mereka kepada Tuhan. Dengan kata lain, orang yang menanti-nantikan Tuhan adalah orang yang sepenuhnya mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Dan orang-orang seperti ini dikatakan akan mendapat kekuatan baru, being restored back to the fullest. Ini tentu merupakan hal yang sangat kita inginkan, terlebih bagi kita yang telah cukup lama berbeban berat atau sekedar kelelahan dalam aktivitas baik dalam pekerjaan, melayani maupun dalam rumah tangga. 

Mengandalkan Tuhan memiliki arti yang sangat penting bagi orang percaya, terlebih ketika keadaan sedang tidak kondusif. Dalam kisah Daniel yang kita baca dalam renungan terdahulu kita bisa belajar bagaimana Daniel tetap setia berdoa dan meletakkan segalanya ke dalam tangan Tuhan. Ia mengandalkan Tuhan dalam menghadapi fitnah yang bisa mengancam nyawanya dan itu merupakan pilihan yang tepat. Tuhan sendiri mengecam keras orang-orang yang terus mengandalkan kekuatan sendiri atau manusia lain dan melupakan Tuhan. "Beginilah firman TUHAN: "Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah." (Yeremia 17: 5-8). Ada perbedaan sangat besar antara orang-orang yang mengandalkan Tuhan dengan yang menjauh dari Tuhan lalu mencari pertolongan dari orang lain, kekuatan sendiri dan rupa-rupa tawaran dunia lainnya.
(bersambung)

Monday, July 22, 2013

Memiliki Roh yang Kuat lewat Membangun Kehidupan Doa (3)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Perhatikan bahwa doa bisa berfungsi seperti radiator, sebagai pendingin ketika 'mesin' atau pikiran, perasaan kita sedang panas. Doa bisa membuat kita tetap tenang dan tidak kehilangan kontrol dalam menghadapi berbagai masalah pelik.

Mazmur Daud mengatakan "Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku."  (Mazmur 62:2). Lihat bahwa bukan hanya Daniel, tapi Daud pun memperoleh ketenangan dari berbagai masalah dengan mendekatkan diri kepada Tuhan. Ia tahu betul bahwa keselamatannya hanya berasal dari Tuhan dan bukan dari yang lain, sehingga ia tidak perlu takut ketika harus menghadapi banyak masalah. Kita tahu bagaimana Daud dikejar-kejar oleh Saul dan itu bukanlah situasi yang ringan. Tapi ia tidak takut sedikitpun. Ia tetap tenang, karena ia tahu betul darimana keselamatan itu sesungguhnya berasal. Jika keselamatan kekal saja Tuhan mau berikan kepada kita, dan untuk itu Tuhan rela mengorbankan Yesus, masa untuk urusan di dunia Tuhan tidak mau atau bisa? Hubungan yang karib dengan Tuhan lewat doa akan membuat kita semua bisa menerima sebentuk hidup yang tenang, damai, tentram, sejahtera, sentosa, sebuah hidup yang dipenuhi 'syalom', bukan syalom biasa tetapi bentuk syalomnya Tuhan.

4. Doa mendatangkan kasih
Bagaimana reaksi anda terhadap orang yang siap mengeksekusi anda atas tuduhan yang tidak pada tempatnya? Kita bisa merasa sangat marah bahkan dendam. Tapi tidak demikian halnya dengan Daniel. Ia ternyata bisa tetap bisa mengasihi. Ketika Daniel sudah tiba di depan mulut gua, meski sedih hati tapi raja sudah bersiap melaksanakan eksekusi sesuai surat perintah yang ia keluarkan atas hasutan orang-orang yang iri terhadap Daniel. Raja bertanya kepada Daniel: "Daniel, hamba Allah yang hidup, Allahmu yang kausembah dengan tekun, telah sanggupkah Ia melepaskan engkau dari singa-singa itu?" (ay 21). Apa jawab Daniel? "Lalu kata Daniel kepada raja: "Ya raja, kekallah hidupmu! Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk mengatupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku, karena ternyata aku tak bersalah di hadapan-Nya; tetapi juga terhadap tuanku, ya raja, aku tidak melakukan kejahatan." (ay 22-23) Daniel tetap memberkati raja meski sedang dalam situasi yang sebenarnya tidak memungkinkan.

Jika kita melihat keteladanan dari Yesus, kitapun akan menemukan hal yang sama. Yesus sama sekali tidak berubah sikapnya setelah menerima siksaan sangat kejam dan tengah berada di atas kayu salib. "Yesus berkata: "Ya Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat." (Lukas 23:34). Kita bisa melihat bagaimana cara hidup kita seharusnya yang dipenuhi doa lewat keteladanan dari sikap Yesus sendiri. Berulang kali kita bisa membaca bahwa Yesus berdoa secara teratur. Beberapa ayat yang menyebutkan hal ini, diantaranya: "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." (Markus 1:35), "Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ." (Matius 14:23), di taman Getsemani sesaat menjelang penangkapan dirinya (Matius 26:36-46) dan lain-lain. Yesus juga mengajarkan bagaimana berdoa yang baik dan benar lewat doa yang dikenal sebagai doa Bapa Kami, yang intinya mengucap syukur dan menyelaraskan diri kita untuk sepakat dengan kehendak Tuhan, di bumi seperti halnya di surga.

Bersama Tuhan, tidak ada masalah yang bisa menghancurkan kita. Lewat Daniel kita bisa belajar bahwa membangun hubungan dengan doa bisa mendatangkan hikmat dan pengurapan Tuhan, nasihat dan/atau teguran, iman dan ketenangan, serta kasih. Melihat banyaknya pergumulan yang harus kita hadapi sehari-hari, jelas kita memerlukan roh yang kuat seperti Daniel. Roh seperti ini hanya bisa hadir lewat keseriusan kita untuk membangun hubungan yang kuat dengan Tuhan, dan itu adalah lewat kebiasaan dan kedisiplinan kita dalam berdoa. Daniel dikatakan biasa berdoa secara rutin tiga kali sehari. Artinya ada atau tidak masalah dalam hidupnya, sibuk atau tidak sibuk, ia tetap berdoa sama seriusnya. Itulah yang dikatakan dengan sebuah kegiatan rutin.

Doa bukanlah berbicara mengenai tata cara, hafalan, prosesi atau seremonial, tetapi berbicara mengenai pembangunan hubungan dengan Tuhan secara pribadi. Sebuah doa yang disertai pertobatan sungguh-sungguh akan membawa pengampunan dosa dan pemulihan atas kita dan keluarga, bahkan bisa membawa dampak luar biasa bagi lingkungan dimana kita ditempatkan bahkan atas bangsa, negara dan selanjutnya hingga ke ujung bumi. Bangunlah sebuah kehidupan doa dalam keluarga anda, jadikan itu sebagai media membangun hubungan yang kuat dengan Tuhan. Dari sana anda akan memiliki roh yang kuat, yang tidak akan bisa digoncangkan oleh apapun, dan disanalah anda akan menjalani sebentuk kehidupan yang berbeda dari pola kehidupan dunia. Let's pray!

Doa membawa dampak luar biasa yang tidak saja bermanfaat besar bagi kita tetapi juga bagi orang lain

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, July 21, 2013

Memiliki Roh yang Kuat lewat Membangun Kehidupan Doa (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kita bisa belajar dari Daniel mengenai pembentukan roh yang kuat lewat doa. Apa saja pengaruh luar biasa dari doa akan hal ini? Mari kita lihat satu persatu lewat kisah Daniel.

1. Doa mendatangkan hikmat dan pengurapan Allah
Kebiasaan Daniel berlutut dan mencari Tuhan ternyata membawa hikmat dan pengurapan Allah turun atasnya. Hikmat disini bukanlah hikmat yang ada di dunia tetapi merupakan hikmat yang lebih tinggi yaitu hikmat Allah, sebuah hikmat yang berada diatas batas kemampuan pengetahuan kita. Mengandalkan kepintaran, tenaga, kemampuan finansial mungkin bisa mengatasi sebagian masalah. Tapi hikmat Tuhan bisa memberitahu apa yang kita tidak tahu atau mengerti. Hikmat Allah adalah sebuah hikmat yang tidak terbatas melebihi kepintaran manusia.

Sebuah contoh menarik diluar Daniel mengenai bagaimana jika hikmat Allah yang turun atas manusia bisa kita lihat dari Nuh. Pada masa Nuh sepertinya orang belum mengenal kapal, sehingga jika kita berada di posisi Nuh, kita tentu bingung seandainya Tuhan menyuruh kita membangun kapal. Tapi Nuh ternyata sanggup melakukan tepat seperti apa yang ditugaskan Tuhan. Bukan saja untuk keluarganya tetapi untuk segala spesis hewan sepasang-sepasang. Bagaimana Nuh bisa membangun kapal? Alasannya bisa kita baca dalam awal kisah Nuh: "Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah." (Kejadian 6:9).

Dalam hidup kita akan berhadapan dengan begitu banyak hal yang memerlukan pengambilan keputusan. Sekali lagi, kita bisa mengandalkan apa yang kita miliki hari ini, tetapi diatas segalanya akan jauh lebih baik apabila kita bisa mendapatkan hikmat Allah agar apapun yang kita putuskan tidak salah atau melenceng dari rencana Tuhan. Sepakat dengan rencanaNya, itulah intinya, dan itu bisa kita ketahui jika hikmat dan pengurapan Allah turun atas kita.

2. Doa mendatangkan nasihat dan teguran
Ketahuilah bahwa Tuhan bisa mengingatkan kita akan pikiran-pikiran negatif, rasa takut, ragu-ragu, khawatir dan menjauhkan kita dari bermacam-macam godaan jika kita membangun hubungan yang karib dengan Tuhan lewat doa. Daniel dijebak lewat cara berdoanya. Pada waktu surat larangan untuk berdoa selain kepada raja dibuat, Daniel sama sekali tidak goyah dan terus berpegang kepada keputusan yang benar. Dia terus tetap tenang dan berdoa, bahkan ketika para musuh sudah tiba tepat di hadapannya. "Lalu orang-orang itu bergegas-gegas masuk dan mendapati Daniel sedang berdoa dan bermohon kepada Allahnya." (Daniel 6:12). Bagaimana mungkin ia bisa tetap tenang dan membiarkan dirinya tertangkap basah setelah tahu betapa berat ancaman hukuman yang harus ia terima? Rohnya yang kuat lewat doa teratur membuatnya bisa mendengar berbagai nasihat dari Tuhan. Hikmat Allah turun atasnya sehingga ia tidak perlu takut menghadapi masalah berat yang mengancam jiwanya.

Bentuk hubungan yang karib atau akrab seperti itu tentu membuatnya peka terhadap nasihat-nasihat dari Tuhan, termasuk teguran apabila ia berbuat sesuatu yang keliru. Jika hikmat Allah memungkinkan kita untuk bisa tahu sesuatu yang melebihi kemampuan daya pikir kita, tentu berbagai nasihat dan teguran dengan sendirinya akan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari pula.

3. Doa mendatangkan iman dan ketenangan
Kemana kita lari ketika masalah menghantam kita? Daniel memutuskan untuk datang kepada Tuhan. Ia tetap tenang meski ketika musuh sudah tiba dan siap menangkapnya. Iman dari rohnya yang kuat membuat Daniel bisa tetap tenang dan khusyuk berdoa tanpa terganggu situasi sekitarnya, bahkan dalam keadaan sangat genting sekalipun.
(bersambung)

Saturday, July 20, 2013

Memiliki Roh yang Kuat lewat Membangun Kehidupan Doa (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Daniel 6:11
====================
"Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya."

Tahukah anda apa gunanya berdoa dan apa pengaruhnya bagi hidup? Banyak orang yang berdoa karena kebiasaan atau rutinitas saja, alias hanya bersifat seremonial. Banyak yang lebih mementingkan tata cara, gerakan dan doanya hanya berupa hafalan. Ada juga yang berdoa karena takut berdosa atau karena takut setan. Hakekat berdoa sebenarnya jauh lebih daripada itu. Doa punya kekuatan yang sangat luar biasa dalam banyak hal. Ambil satu contoh kekuatan doa seperti yang tertulis dalam ayat berikut: "dan umat-Ku, yang atasnya nama-Ku disebut, merendahkan diri, berdoa dan mencari wajah-Ku, lalu berbalik dari jalan-jalannya yang jahat, maka Aku akan mendengar dari sorga dan mengampuni dosa mereka, serta memulihkan negeri mereka." (2 Tawarikh 7:14). Doa bisa membuat dosa kita diampuni, kondisi keluarga kita dipulihkan, lingkungan dimana kita berada, bahkan negeri pun bisa dipulihkan. Itulah sebabnya baik tidaknya negara akan sangat tergantung dari seberapa banyak orang percaya yang berdoa untuk bangsa dan negaranya. Banyak orang yang lebih mementingkan jumlah dan lamanya doa ketimbang isinya. Atau kemasan kata-kata dipercaya menentukan didengar tidaknya sebuah doa. Intinya, banyak orang berdoa, tapi sedikit yang tahu makna, tujuan, kegunaan dan kekuatan di balik sebuah doa.

Tahukah anda bahwa doa bisa membuat anda memiliki roh yang kuat? Dalam renungan kali ini mari kita belajar mengenai pengaruh doa dalam memiliki roh yang kuat lewat kisah Daniel. Daniel dikenal sebagai pejabat raja yang luar biasa, melebihi 120 wakil raja dan dua pejabat lainnya seperti yang bisa dibaca dalam Daniel 6:2-4. "Lalu berkenanlah Darius mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja atas kerajaannya; mereka akan ditempatkan di seluruh kerajaan; membawahi mereka diangkat pula tiga pejabat tinggi, dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu; kepada merekalah para wakil-wakil raja harus memberi pertanggungan jawab, supaya raja jangan dirugikan. Maka Daniel ini melebihi para pejabat tinggi dan para wakil raja itu, karena ia mempunyai roh yang luar biasa; dan raja bermaksud untuk menempatkannya atas seluruh kerajaannya." Yang juga unik adalah bahwa Daniel tetap menjabat dalam 4 kali pergantian raja. Dari mana Daniel meperoleh itu semua? Dari rangkaian ayat diatas kita bisa menemukan alasannya. Daniel bisa memiliki itu semua "karena ia mempunyai roh yang luar biasa." Dan itu merupakan hasil dari doa.

Dari mana kita tahu bahwa itu merupakan hasil dari kekuatan doa? Kita bisa melihatnya dari gaya hidup Daniel yang dipenuhi doa. "Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya." (Daniel 6:11). Ayat bacaan kita hari ini menyatakan bahwa Daniel secara rutin berdoa tiga kali sehari.

Mari kita lihat apa yang terjadi. Karena Daniel memiliki posisi penting diatas para wakil dan pejabat lain, merekapun mulai merancang dakwaan untuk menghabisi Daniel. Mereka dikatakan tidak menemukan satupun kesalahan kecuali dalam hal ibadahnya (ay 6). Reaksi Daniel ternyata berbeda dengan kebanyakan orang. Jika orang akan ketakutan bahkan bukan tidak mungkin segera mengorbankan imannya agar selamat dari ancaman, Daniel tidaklah demikian. Ia memutuskan untuk tetap melakukan apa yang biasa ia lakukan, yaitu menjaga hubungan dengan Tuhan lewat doa teratur dan rutin. Daniel memilih untuk menghadapi bersama dengan Tuhan, karena rohnya yang kuat tahu bahwa bersama Tuhan ia pasti bisa mengatasi permasalahan tidak peduli berapa besarnya. Roh yang kuat milik Daniel tidak bisa digoyahkan oleh apapun. Kita tahu apa hasilnya, Daniel selamat dari terkaman singa di dalam gua dan kemudian para penuduhnyalah yang akhirnya binasa dimangsa singa-singa tersebut.
(bersambung)

Friday, July 19, 2013

Hubungan Anak dan Ayah (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Ada ayat penting untuk diingat para ayah yang sudah saya sampaikan dalam beberapa renungan kemarin. "Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang." (Mazmur 127:4-5). Anak-anak adalah bagaikan anak panah di tangan seorang pahlawan. Selayaknya pahlawan yang sedang memanah, ia harus pintar mengarahkan busurnya ke arah yang dituju, bukan menembak sembarangan. Apa yang bisa dipetik sebagai hasilnya bukan saja bermanfaat bagi masa depan anak-anak saja, melainkan orang tuanya pun kelak akan merasakan kebahagiaan lewat mereka. Orang sering lupa bahwa anak bukanlah hasil dari hubungan suami istri semata, tetapi seperti apa yang dikatakan Firman Tuhan, anak adalah merupakan warisan atau pusaka dari Tuhan. "Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah." (Mazmur 127:3) Tentu bukan hanya anak laki-laki, tetapi anak perempuan pun merupakan pusaka yang indah dari Tuhan. Jika kita menyadari kehadiran mereka sebagai anugerah yang sangat indah, bukankah itu berarti bahwa kita harus mensyukurinya dengan bertanggung jawab penuh atas mereka?

Jika pahlawannya Tuhan adalah para orang tua yang mampu mengarahkan anak-anaknya ke sasaran yang tepat, Firman Tuhan juga berkata bahwa ada sesuatu yang melebihi pahlawan, yaitu orang-orang yang sabar. "Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota." (Amsal 16:32). Dalam hal mendidik dan memberi waktu kepada anak, kesabaran tentu menjadi sebuah faktor yang sangat penting untuk kita miliki. Dan Tuhan menghargai kesabaran kita dengan begitu tinggi, karena selain dalam kasih itu memang terdapat kesabaran (1 Korintus 13:4) dan kita harus mengaplikasikan kasih dalam segala hal, kita pun harus sadar pula bahwa tanpa kesabaran kita bisa terjerumus melakukan banyak hal yang akan kita sesali di kemudian hari.

Bagi anda para pria, semua ini tentu tidak mudah, bahkan bisa jadi sangat sulit. Anda bisa merasa seakan-akan tidak berhak untuk beristirahat dan memiliki waktu-waktu bersantai sama sekali. Tapi apa yang sebenarnya bisa dilakukan adalah dengan membuat sebuah manajemen waktu. Orang tua butuh memiliki hikmat Tuhan agar bisa mendidik anak-anak mereka dengan bijaksana. Dan Firman Tuhan Untuk itu kita butuh hikmat , dan Alkitab berkata bahwa "Permulaan hikmat adalah takut akan TUHAN, dan mengenal Yang Mahakudus adalah pengertian." (Amsal 9:10). Jadi kita bisa mulai dengan rasa segan dan hormat akan Tuhan, dan dari sana melangkahlah maju dengan memberi waktu, perhatian dan pujian kepada anak-anak kita agar mereka bertumbuh dalam pengenalan yang baik akan Firman tuhan.

Jika ada di antara teman-teman yang sempat atau pernah menyakiti hati anak-anak anda atau belum membagi waktu untuk bermain bersama mereka dan mendengarkan cerita-cerita mereka, perbaikilah segera. Jika perlu, berbesar hatilah untuk mengakui dan meminta maaf kepada mereka dan mulailah lembaran baru. Bersama Tuhan, pulihkanlah kembali hubungan antar keluarga termasuk antara orang tua dan anak-anaknya. Jadilah bentuk keluarga-keluarga teladan yang bisa menginspirasi banyak orang. 

Beri waktu yang cukup bagi anak-anak karena mereka menerjemahkan 'kasih' lewat kata 'waktu'

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, July 18, 2013

Hubungan Anak dan Ayah (1)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kolose 3:21
==================
"Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya."

Agaknya sudah menjadi kebiasaan para pria untuk salah kaprah dalam memberi kasih kepada keluarga terlebih anak-anaknya. Banyak yang mengira bahwa tanggung jawab ayah hanyalah sebatas menyediakan dan mencukupi kebutuhan-kebutuhan anaknya. Bisa sekolah di tempat yang terkenal, dilengkapi dengan baju-baju mahal, gadget terkini dan memberi apapun yang mereka minta, kalau bisa sebelum diminta sudah dikasih. Begitu kerasnya bekerja, para ayah sering sudah kehabisan 'bensin' (baca: energi) ketika pulang dan hal terakhir yang mereka mau dengar adalah keributan suara anak-anaknya. Mereka ingin anak-anak jangan ribut sedikitpun ketika mereka pulang dan tidak mengganggu waktunya beristirahat. Mereka tidak bisa mentolerir sedikit suara, segera marah jika anak-anaknya mendekati mereka. Tidaklah jarang kita melihat kondisi rumah yang berubah menjadi gelap dan suram begitu mendengar suara mobil ayahnya melewati pagar rumah. Semua anak-anak segera berlari ke kamar dan berpura-pura tidur supaya tidak dimarahi. Para ayah, sadarkah anda bahwa yang paling dibutuhkan anak-anak anda sebenarnya bukan itu? Jika para ayah menerjemahkan arti kasih dengan pemenuhan kebutuhan secara finansial, anak-anak sebenarnya menerjemahkannya dengan 'time' alias 'waktu'.

Untuk membuktikan hal ini saya pernah melakukan 'survey' kecil-kecilan terhadap anak-anak dari teman saya yang usianya masih duduk di sekolah dasar. Saya menanyakan, apa yang paling kalian inginkan dari papa? Jawaban dari anak-anak ini hampir seluruhnya sama, yaitu waktu yang bisa dipakai untuk bermain dengan ayahnya. Mereka bercerita mengenai betapa bahagia rasanya jika bisa bermain dengan ayah sebelum tidur meski hanya sebentar. A father who's willing to spend some quality time with them is what they need the most. Salah satu anak mengatakan kira-kira demikian: "seandainya saya boleh minta sesuatu, saya minta sedikit dari waktu papa untuk bersama saya... saya rindu bermain dengan papa karena papa belakangan sangat sibuk dan jarang pulang." Si anak mengatakan sambil berkaca-kaca, dan ketika saya sampaikan kepada papanya, papanya memeluk si anak sambil menangis dan berjanji akan membagi waktu secara teratur tak peduli sedang sesibuk apapun.

Untuk menjadi ayah sejati, anda dituntut untuk tidak hanya mampu mencari nafkah tetapi juga harus bisa menyediakan sebuah 'quality time' bagi keluarga. Anda harus tahu bagaimana perkembangan mereka di sekolah, apa yang masih mereka butuhkan untuk bisa lebih baik lagi, dan disana seringkali pujian tulus dari ayah akan memberi makna besar sebagai pendorong anak-anak agar terus giat belajar.  Saya sudah bertemu dan mendengar cerita tentang banyak anak muda yang mati-matian berusaha hanya sekedar rindu mendapat sedikit pujian dari ayahnya. ADa banyak pula anak-anak yang terjebak kehidupan buruk seperti narkoba, premanisme dan berbagai bentuk hidup yang hancur lainnya yang setelah ditelusuri ternyata berawal dari kurangnya perhatian ayah sebagai kepala rumah tangga bagi mereka atau bentuk intimidasi berlebihan yang seringkali dianggap sebagai bentuk pendisplinan. Akibatnya mereka ini tumbuh menjadi anak-anak yang kehilangan figur ayah yang hatinya tawar bahkan pahit. Kepahitan hati seperti ini kerap menjadi penyebab gagalnya seseorang untuk berhasil baik dalam karir, keluarga dan aspek lainnya. Jika ini terus berulang seperti lingkaran setan ke generasi seterusnya, itu sangatlah disayangkan, terlebih ketika Firman Tuhan sebenarnya sudah mengingatkan sejak lama akan hal ini.

Alkitab mengingatkan agar para ayah mampu bertindak bijaksana terhadap anak-anaknya. "Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya." (Kolose 3:21). Bentuk menyakiti hati bisa berupa banyak hal. Sering melontarkan kata-kata kasar, bentuk kekerasan fisik, intimidasi mental, atau hal yang tampaknya sepele seperti terlalu sibuk sehingga tidak punya waktu lagi buat para buah hati anda. Kita harus ingat bahwa hati yang terlanjur tawar atau sudah pahit akan sangat susah untuk dipulihkan. Jangan sampai karena tidak mampu menahan emosi atau lupa tanggungjawab para ayah merasa boleh bertindak melewati batas. Itu bisa meninggalkan luka di hati mereka untuk waktu yang cukup lama. Itu bisa berpengaruh besar terhadap masa depan mereka.

Pada kesempatan lain kita bisa mendapat rujukan dari ayat lainnya, kali ini lewat Paulus. "Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan." (Efesus 6:4). "Do not irritate and provoke your children to anger", demikian bunyi pesan Paulus, "but rear them tenderly in the training and discipline and the councel and admonition of the Lord." Mengajar atau menghukum anak bertujuan agar mereka menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik lagi bukan untuk menyiksa atau menjadikan mereka tempat pelampiasan. Jangan terus kecewakan dan membuat hati mereka marah karena anda seakan tidak lagi peduli terhadap keberadaan mereka di rumah.

Apa yang baik menurut Paulus adalah dengan mendidik anak-anak dalam ajaran dan nasihat Tuhan, dan para ayah diharapkan mengerti dan mengaplikasikan prinsip-prinsip kebenaran agar bisa menjadi teladan yang baik bagi anaknya. Berbagai bentuk kekerasan baik secara fisik maupun mental bukannya membuat mereka mengenal Tuhan, tetapi justru sebaliknya akan membuat mereka tawar dan sulit untuk percaya kepada siapapun, termasuk kepada Tuhan.

(bersambung)

Wednesday, July 17, 2013

Keluguan Anak Kecil dan Yang Terbesar di Kerajaan Surga

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 18:4
=================
"Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga."

Suatu kali teman dekat saya mendapat tugas ekstra sehingga ia tidak sempat menjemput anaknya. Ia kemudian meminta saya untuk pergi menjemput ke sekolah. Selama dalam perjalanan pulang anaknya dengan polos bercerita tentang apa saja yang tadi ia alami di sekolah dengan bersemangat. Ada banyak teman-temannya yang sudah punya gadget mewah, tetapi ia berkata bahwa ia sama sekali tidak kecil hati karena belum memiliki gadget-gadget itu. "Pengen sih.. tapi mungkin papa dan mama belum sanggup membelikan itu, atau mungkin saya harus rajin belajar dulu... tapi saya sudah berdoa meminta kepada Tuhan. Tuhan itu kan yang punya segalanya ya om, Tuhan pasti bisa mengabulkan permintaan saya nanti." Saya tersenyum mendengar ucapannya. Itulah sebuah keluguan atau kepolosan anak kecil. Ia bisa mengatakan bahwa Tuhan sanggup menjawab doanya tanpa ragu sedikitpun. Bandingkan dengan kita yang pikirannya sudah banyak terpolusi oleh masalah hidup sehingga sering kurang yakin dalam berdoa atau malah lupa berdoa ditengah kesibukan sehari-hari.

Keluguan anak kecil memang bisa membuat mereka polos dalam memandang hidup. Mereka dengan yakin bisa memasang cita-cita setinggi langit tanpa harus dipengaruhi oleh logika-logika yang biasanya dimiliki orang dewasa mengenai mungkin dan tidaknya hal itu terjadi. Kepolosan mereka dalam berdoa pun bisa membuat kita tersenyum. Bagi sebagian orang mungkin terlihat lucu karena mereka belum tahu bagaimana sulitnya hidup ketika mereka dewasa nanti, tapi sebenarnya, justru bentuk keluguan anak-anak inilah menurut Yesus yang seharusnya bisa kita teladani. Kita harus angkat topi dan belajar dari mereka yang belum terkontaminasi berbagai keraguan lewat logika dan pikiran manusiawi yang seringkali justru merupakan penghalang utama dalam mencapai keberhasilan. Keluguan anak kecil dikatakan Yesus sebagai cerminan orang-orang yang dikatakan terbesar dalam Kerajaan Surga.

Perkataan Yesus mengenai anak-anak ini bisa kita baca dalam Matius 18:1-11. Pada suatu kali murid-murid Yesus bertanya kepadanya mengenai siap yang terbesar dalam Kerajaan Surga. Mereka mungkin berpikir, itu adalah salah satu dari mereka. Mungkin yang paling rajin melayani, paling taat, selalu ikut kemanapun Tuhan Yesus pergi, tidak pernah melawan dan sebagainya. Tapi uniknya, Yesus justru memanggil seorang anak kecil yang kebetulan lewat disana lalu menempatkan anak-anak itu berdiri ditengah-tengah para murid, "lalu berkata: "Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika kamu tidak bertobat dan menjadi seperti anak kecil ini, kamu tidak akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga. Sedangkan barangsiapa merendahkan diri dan menjadi seperti anak kecil ini, dialah yang terbesar dalam Kerajaan Sorga." (Matius 18:3-4). Saya membayangkan anak ini bingung dijadikan model oleh Yesus untuk menunjukkan siapa yang terbesar dalam Kerajaan Surga, tetapi ternyata seperti itulah gambaran pandangan Bapa yang disampaikan oleh Yesus sendiri. Yesus kemudian mengatakan bahwa siapapun yang menyambut anak yang polos dan lugu dalam namaNya, itu akan sama artinya dengan menyambut atau menerima Yesus. (ay 5). Kita bisa melihat bahwa kepolosan, kejujuran dan kerendahan hati anak-anak kecil mendapat penghargaan yang sangat tinggi dari Tuhan. Disana ada jawaban, solusi, pemeliharaan dan perlindungan atau proteksi dari Tuhan, sekaligus dikatakan sebagai yang terbesar dan menjadi yang empunya Kerajaan Surga (Matius 19:1). For of such as these children is the Kingdom of heaven composed. 

Proteksi? Ya, proteksi. Lihat bagaimana kerasnya Tuhan dalam menghukum mereka yang ingin merusak keluguan mereka, menyesatkan anak-anak ini untuk tidak percaya lagi kepadaNya. "Tetapi barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil ini yang percaya kepada-Ku, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia ditenggelamkan ke dalam laut." (ay 6). Selanjutnya Tuhan Yesus juga mengingatkan kita agar "jangan menganggap rendah seorang dari anak-anak kecil ini. Karena Aku berkata kepadamu: Ada malaikat mereka di sorga yang selalu memandang wajah Bapa-Ku yang di sorga." (ay 10).

Anak-anak kecil yang lugu tidak dipandang/dianggap oleh dunia, tetapi di mata Tuhan mereka sungguh sangat berharga. Cara mereka melihat hidup sangat polos, mereka tidak pintar merangkai kata-kata puitis yang indah dalam berdoa, tetapi mereka akan menyampaikannya dengan sederhana dan jujur. Karena itu kita jangan meremehkan anak-anak ini. Dan kita pun jangan pula merendahkan atau menghina orang-orang yang bisa hidup dengan mengadopsi kejujuran/keluguan anak-anak dalam berhubungan dengan Tuhan, apalagi kalau sampai menyesatkan mereka, karena itu artinya kita sedang meminta Tuhan untuk menghukum kita seberat-beratnya. sampai menyesatkan mereka. Belajarlah dari kepolosan anak-anak kecil dan jadilah yang terbesar di Kerajaan Surga. Saya akan tutup dengan sebuah quote dari Michael Jackson: "In their innocence, very young children know themselves to be light and love. If we will allow them, they can teach us to see ourselves the same way.”

Kepolosan/keluguan anak kecil bisa menginspirasi kita untuk membangun hubungan yang baik dengan Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, July 16, 2013

Membekali Anak

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 1:10
=====================
"Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut"

Sangatlah memprihatinkan melihat bagaimana anak-anak yang terlibat dalam geng motor terus mengganggu kedamaian di banyak kota. Bukan saja mereka merampas motor, merampok atau memukuli orang tanpa alasan apapun, mereka bisa bertindak lebih sadis seperti memperkosa bahkan membunuh dengan menggunakan benda-benda tajam termasuk golok dan samurai. Untungnya sekarang polisi sudah lebih 'berani' menangkap dan menindak mereka. Belum lama kita melihat ada anggota geng motor yang memeluk ketua komnas perlindungan anak dan menangis di pundaknya. Mereka bisa bertindak diluar batas sebagai anggota geng, tetapi ternyata mereka adalah anak-anak yang masih punya rasa takut juga dan bisa menangis ketika sudah berhadapan dengan penyesalan. Kejam di jalan karena merasa hebat sebagai anggota kelompok berandalan, tapi menangis seperti anak kecil ketika sudah tertangkap. Penyesalan sering datang terlambat. Bisa dibayangkan masa depan anak-anak ini sudah berantakan, kalaupun masih bisa diperbaiki tentu akan banyak waktu yang terbuang sia-sia.

Kalau kita telusuri, kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga broken home atau dari orang tua yang tidak mampu mendidik anaknya. Mereka adalah produk dari orang tua yang tidak peduli kepada perkembangan jiwa si anak, tidak memperhatikan dengan siapa anak mereka bergaul atau memanjakan anak tidak pada tempatnya. Kalau salah tidak ditegur, tetapi malah dibela. Adakah orang tua yang seperti itu? Tentu saja ada. Saya sudah melihat banyak contoh akan sikap keliru dari orang tua seperti ini.  Jika latar belakang mereka seperti itu, tidaklah mengherankan apabila ketika remaja anak-anak ini akan 'naik kelas' dalam melakukan kejahatan yang terus meningkat dalam skala yang lebih besar lagi. Disaat seperti itu, orang tua tidak lagi berani menegur dan tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Jika melihat bahwa ada banyak diantara mereka yang brutal ternyata masih dibawah umur, kita bisa menduga bahwa perekrutan anggota geng sudah dimulai sejak masa sekolah dasar dan akan menjadi lebih intens pada tingkat sekolah menengah pertama. Itu artinya, anak-anak berusia 12-15 tahun sudah bisa melakukan tindakan kejam yang membahayakan orang lain. Ini adalah sebuah masalah sosial yang seharusnya bisa dihindarkan apabila anak-anak ini mendapatkan pelajaran moral dari orang tuanya sejak usia dini. Ingatlah bahwa semua anak-anak lahir dari kondisi yang sama. Apa yang membedakan adalah apakah orang tuanya mau mendidik atau hanya memanjakan atau membiarkan anak tumbuh tanpa dibina. Dari pengamatan saya, hal ini tidaklah tergantung dari apakah mereka lahir di keluarga miskin atau kaya, yang berpendidikan tinggi atau tidak, karena saya sudah bertemu dengan banyak orang tua yang hidup dalam kemiskinan dan tidak mengenyam pendidikan tinggi tetapi tetap mampu mendidik moral dan mental anaknya hingga bisa lebih berhasil dari mereka.

Seperti yang saya sampaikan dalam beberapa renungan terakhir, orang tua punya peran besar terhadap keberhasilan anaknya. Anak akan terbentuk sesuai dengan bagaimana orang tua mendidik mereka dan bagaimana keteladanan yang mereka peroleh dari orang tua mereka. Firman Tuhan sudah mengatakan bahwa keberhasilan anak-anak di masa depan sangatlah tergantung dari orang tua yang punya peran bagai pahlawan yang mengarahkan anak panahnya ke sasaran yang benar. (Mazmur 127:3). Orang tua yang mampu mengarahkan anak panahnya dengan benar akan berbahagia dan tidak akan mendapat malu (ay 4), dan bagi sang anak, pendidikan menurut jalan yang benar akan membuat masa tuanya tidak akan menyimpang dari jalan itu (Amsal 22:6). Terjebak geng motor bukanlah satu-satunya ancaman karena meski mereka bukan anggota geng berandalan yang biadab, mereka masih bisa terjerumus ke dalam jurang kehancuran lewat perilaku-perilaku lainnya seperti obat terlarang, seks bebas, aborsi, terbiasa menipu orang, korupsi dan lain-lain. Itu semua biasanya timbul dari pergaulan yang salah yang tidak diperhatikan oleh orang tuanya, dengan kata lain, dari anak-anak yang tidak memperoleh pengajaran dan perhatian cukup dari orang tuanya.

Fungsi pengawasan dari orang tua terhadap anak-anaknya tentu penting. Tapi ingatlah bahwa tidak kalah pentingnya untuk membekali anak-anak dengan persiapan spiritual yang baik sejak di usia dini. Dalam salah satu bagian awal di kitab Amsal, Salomo berkata "Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut" (Amsal 1:10). Apa yang ia katakan menunjukkan bahwa pengaruh buruk yang dicoba tanamkan kepada anak-anak oleh orang-orang jahat ternyata bukan hal baru melainkan sudah terjadi sejak masa hidup Salomo. "jikalau mereka berkata: "Marilah ikut kami, biarlah kita menghadang darah, biarlah kita mengintai orang yang tidak bersalah, dengan tidak semena-mena; biarlah kita menelan mereka hidup-hidup seperti dunia orang mati, bulat-bulat, seperti mereka yang turun ke liang kubur; kita akan mendapat pelbagai benda yang berharga, kita akan memenuhi rumah kita dengan barang rampasan; buanglah undimu ke tengah-tengah kami, satu pundi-pundi bagi kita sekalian.." (ay 11-14). Perhatikanlah ayat ini. Tidakkah anda masih menyaksikan bentuk kekerasan dan kejahatan yang sama dari kelompok-kelompok berandalan hari ini? Ternyata setelah ribuan tahun manusia tidak juga berubah menjadi lebih baik. Salomo sepertinya tahu akan hal itu, maka ia memberikan pesan kepada para generasi muda setelahnya termasuk buat kita saat ini: "Hai anakku, janganlah engkau hidup menurut tingkah laku mereka, tahanlah kakimu dari pada jalan mereka, karena kaki mereka lari menuju kejahatan dan bergegas-gegas untuk menumpahkan darah." (ay 15-16).

Adalah sangat penting bagi para orang tua untuk secara kontinu menanamkan Firman Tuhan kepada anak-anaknya. Alkitab bahkan menyebutkan bahwa itu harus dilakukan sering-sering atau berulang-ulang. "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:7). Ini artinya ada sebuah proses perulangan yang kontinu yang harus kita lakukan untuk membimbing dan membekali anak-anak kita agar mereka bisa membedakan mana yang benar dan salah dalam hidup mereka. Tanpa kemampuan membedakan, mereka akan sangat mudah diracuni lewat ajakan-ajakan sesat yang bisa membahayakan hidup orang lain dan hidup mereka sendiri. Sebaliknya jika kita mau mendidik mereka lewat sebuah proses yang berkelanjutan, mereka akan mampu memilah-milah mana yang baik dan jahat dan dengan sendirinya mereka bisa terhindar dari berbagai jebakan yang membinasakan.

Membekali anak dengan Firman Tuhan merupakan kewajiban kita sebagai orang tua, sebab "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16). Jika bagi kita seperti itu, tentunya bagi anak-anak kita pun sama.  Selanjutnya kita bisa melihat apa kata Pemazmur tentang Firman Tuhan lewat ayat yang tentunya sudah tidak asing lagi bagi bagi kita. "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." Firman Tuhan itu pelita dan terang bagi kita para orang tua dan anak-anak kita. Jika anda berjalan di tengah kegelapan, sebuah sinar dari senter tentu akan sangat membantu agar anda bisa selamat sampai ke tujuan bukan? Seperti itulah juga Firman Tuhan yang akan mampu menuntun dan menerangi anak-anak kita agar mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, yang benar dan salah, mana yang mengarah kepada keselamatan dan kebinasaan ,mana yang akan mendatangkan berkat atau kutuk.

Kita perlu mempersiapkan mereka untuk hidup di dunia yang keras dan penuh dengan segala penyesatan ini, dan itu harus dilakukan dengan cara membekali mereka dengan Firman Tuhan. Jika kepada kita yang dewasa sudah diingatkan bahwa dosa selalu mengintip di depan pintu untuk masuk menghancurkan kita apabila kita tidak berbuat baik (Kejadian 4:7), hal yang sama sebenarnya berlaku juga bagi anak-anak kita yang masih kecil atau belia. Oleh karenanya, sebagai orang tua persiapkanlah anak-anak anda sejak dini lewat Firman Tuhan. Ajarkan terus berulang-ulang agar mereka terbiasa hidup dengan mendengar dan mengetahui ketetapan-ketetapan prinsip-prinsip Kerajaan Allah, kemudian menjadi anak-anak yang bertumbuh dengan menjadi pelaku Firman. Dengan demikian, mereka akan mengarungi hidup yang berkemenangan penuh berkat melimpah, berhasil dan menjadi orang-orang yang menginspirasi dan berdampak positif bagi orang lain.

Firman Tuhan adalah pelita yang menerangi hidup anak-anak kita. Bekali mereka sejak dini

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, July 15, 2013

Pusaka dari Tuhan

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 127:3
================
"Behold, children are a heritage from the Lord, the fruit of the womb a reward."

Seorang ibu yang bekerja sebagai pembantu bercerita bahwa di tempat kerjanya ia bukan hanya diminta untuk bekerja tapi dititipi pula anak dari majikannya yang masih bayi. Saya terkejut mendengar cerita ini, tetapi itulah faktanya. Si ibu menitipkan anaknya bukan karena harus bekerja tetapi karena ingin bebas keluar bermain bersama teman-temannya. "Bawa saja ke rumah atau titipkan lagi ke tetangga kalau sibuk.. yang penting pegang saja anak saya dulu sampai saya pulang." Begitu katanya kepada ibu pembantu. Si ibu pembantu menolak karena merasa tanggung jawabnya terlalu besar dan merasa bahwa itu bukanlah cara yang baik dalam membesarkan anak. Anak itu titipan yang diatas pak, seharusnya diurus dengan baik bukan dititipkan lagi." katanya kepada saya.

Salah karena ibu si bayi masih terlalu muda dan belum mengerti? Terlalu mudah mendapatkan bayi atau malah tidak diinginkan sehingga tidak sayang? Entahlah. Tapi mau muda atau sudah dewasa, kenyataannya ada banyak orang tua yang tidak menyadari bahwa anak merupakan pusaka atau titipan dari Tuhan yang harus dipertanggungjawabkan dengan baik. Banyak yang tidak mau berkompromi dan memilih untuk menyerahkan saja anaknya kepada pembantu atau orang lain sejak masih bayi. Seringkali anak-anak yang tidak berdosa ini malah dianggap sebagai hal yang mengganggu kenyamanan. Ada pula yang bertindak semena-mena kepada anaknya. Ada yang terlalu keras mendisiplinkan anak sehingga si anak terbiasa menerima cercaan, makian hingga bentuk kekerasan fisik kalau dianggap berbuat salah. Di sekeliling saya, saya melihat semakin hari semakin banyak orang tua yang tidak lagi menghargai kehadiran anak dalam hidup mereka. Kalau menyimak berbagai berita di media massa kita mudah menemukan ibu-ibu yang melepas tanggung jawab dengan tega. Jika meninggalkan anak di rumah sakit saja sudah rasanya keterlaluan, bagaimana dengan ibu yang tega menjual atau bahkan membuang anaknya di tong sampah? Itu sangat memperihatinkan dan menunjukkan bahwa banyak orang masih belum menyadari dari mana sebenarnya anak itu berasal dan apa hakekatnya seorang anak hadir dalam keluarga kita.

Anak bukanlah hasil karya dari manusia tetapi Alkitab mengatakan bahwa anak merupakan warisan atau pusaka dari Tuhan. Dalam kitab Mazmur dikatakan "Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah." (Mazmur 127:3). Dalam versi Bahasa Inggris dikatakan: "Behold, children are a heritage from the Lord, the fruit of the womb a reward." Dari sini kita bisa melihat bahwa ayat ini bukan hanya berbicara mengenai anak lelaki saja, tetapi juga anak perempuan. Anak adalah pusaka dari Tuhan, buah kandungan adalah sebuah upah atau hadiah, a reward. Seperti itulah keberadaan seorang anak dalam sebuah keluarga menurut Tuhan. Anak harus dipandang sebagai titipan dari Tuhan yang dihargai dengan penuh rasa syukur, bukan diabaikan, ditelantarkan atau malah dianggap sebagai pengganggu kenyamanan.

setiap anak yang dilahirkan ke dunia memiliki potensi besar untuk menjadi anak-anak Ilahi yang hebat. Di tangan mereka terletak masa depan dari dunia ini. Apakah mereka akan menjadi pekerja-pekerja Allah yang tangguh penuh kasih atau mereka nantinya menjadi orang-orang berpengaruh buruk dan jahat, semua akan sangat tergantung dari sejauh mana peran dan tanggungjawab orang tua dalam mendidik dan membesarkan mereka.

Jika ada yang masih berpikir bahwa mencukupi kebutuhan saja sudah cukup, sesungguhnya itu masih jauh dari bentuk tanggungjawab yang diinginkan Tuhan atas titipanNya ini. Bukan cuma  bukan saja menyediakan makanan dan tempat tinggal atau uang sekolah, tetapi pengenalan akan Tuhan pun harus menjadi prioritas para orang tua sejak awal. Ada Firman Tuhan yang mengingatkan kita untuk terus mengajarkan kebenaran kepada anak-anak kita tanpa jemu-jemu dan tanpa kenal lelah. "Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:6-7). Bukan sekedar mengajarkan dan memberi peraturan berbentuk larangan, tetapi para orang tua dituntut untuk menjadi teladan terhadap semua yang diajarkan. Ayat selanjutnya berkata: "Haruslah juga engkau mengikatkannya sebagai tanda pada tanganmu dan haruslah itu menjadi lambang di dahimu, dan haruslah engkau menuliskannya pada tiang pintu rumahmu dan pada pintu gerbangmu." (ay 8-9).

Firman Tuhan mengingatkan kita untuk mengarahkan anak-anak kita kepada Kristus sejak dini. Perhatikan bagaimana Yesus bersukacita menyambut anak-anak, memeluk serta memberkati mereka satu persatu. "Ketika Yesus melihat hal itu, Ia marah dan berkata kepada mereka: "Biarkan anak-anak itu datang kepada-Ku, jangan menghalang-halangi mereka, sebab orang-orang yang seperti itulah yang empunya Kerajaan Allah...Lalu Ia memeluk anak-anak itu dan sambil meletakkan tangan-Nya atas mereka Ia memberkati mereka." (Markus 10:14,16).

Benar, dalam pendisiplinan ada kalanya kita harus memberi hukuman. Tapi hukuman bukanlah harus berbentuk kekerasan fisik untuk menumpahkan atau melampiaskan emosi melainkan harus diarahkan demi kebaikan mereka. Amsal Salomo mengingatkan akan hal ini. "Hajarlah anakmu selama ada harapan, tetapi jangan engkau menginginkan kematiannya" (Amsal 19:18). Seorang teman punya tips yang baik akan hal ini. Jika ia harus menegur atau menghukum anaknya, adalah sangat penting untuk memberitahu si anak kenapa ia dimarahi, apa kesalahannya dan bagaimana ia harus memperbaikinya. Itu merupakan salah satu langkah yang baik agar si anak mengerti dan bisa memperbaiki sikapnya.

Sangat penting pula untuk mengasihi mereka dengan kasih yang tidak terbatas, loving them unconditionally, the way our Heavenly Father loves us. Perumpamaan anak yang hilang dalam Lukas 15:11-32 bisa dijadikan contoh mengenai "the unconditional love" ini, demikian pula keteladanan dari Yesus sendiri yang memberikan dirinya untuk menebus dosa-dosa kita, memulihkan hubungan dengan Bapa di Surga.

Jangan lelah dan jemu mengajarkanlah anak-anak untuk mengenal Tuhan sejak di usia dini mereka. Kasihi mereka dengan kasih Allah yang mengalir dalam diri kita dan bimbing mereka hingga tumbuh menjadi pribadi-pribadi tangguh yang hidup takut akan Tuhan. Itulah yang seharusnya kita lakukan jika kita menghargai warisan atau pusaka yang dititipkan Tuhan kepada kita. Seperti yang saya sampaikan kemarin, ingatlah bahwa Kita harus ingat bahwa peraturan hanyalah membatasi dari luar, tetapi prinsip-prinsip Kerajaan yang diadopsi dengan baik dalam kehidupan nyata bisa merubah seseorang dari dalam dan akan hidup di dalam mereka untuk waktu yang lama. Kelak pada suatu masa ketika mereka berhasil menjadi orang-orang sukses yang memuliakan Allah dengan segala perbuatan dan perkataan mereka, kitapun akan merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Bahagia karena anak-anak kita menjadi teladan di mata dunia, juga bahagia karena kita telah menghargai pemberian Tuhan dengan sungguh baik. Ketika mereka menjadi orang-orang yang berpengaruh kelak, mereka akan tampil di depan sebagai orang-orang yang mampu menyatakan kemuliaan Tuhan pada generasinya. Ingatlah bahwa masa depan mereka terletak di tangan anda, para orang tua.

Anak bukan hasil karya kita melainkan pusaka dari Tuhan, karena itu pertanggungjawabkanlah dengan benar dan sungguh-sungguh

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, July 14, 2013

Pahlawan Pemanah (2)

webmaster | 8:00:00 AM | Be the first to comment!
(sambungan)

Akan halnya elastis dan fleksibel terhadap anak, mari kita ambil contoh kecil saja, antara generasi X yang lahir di jaman sekitar 1960an hingga 1980an dengan generasi Y yang disebut juga dengan Millenial Generation, mengacu kepada generasi yang lahir di tahun 80an sampai awal 2000an. Antara dua generasi ini saja ada banyak perbedaan nyata yang akan sulit dipahami jika memaksakan kebiasaan atau pola pikir generasi anda ke dalam generasi setelahnya. Seperti apa contohnya? Misalnya dalam hal menyikapi hobi dan profesi. Generasi X cenderung mengatakan bahwa kerja dahulu baru menyalurkan hobi jika sempat. Generasi X masih berpusat pada gelar-gelar kesarjanaan klasik seperti dokter, insinyur dan sebagainya. Sedang pada generasi Y, hobi sudah bukan lagi sesuatu yang dilakukan hanya kalau ada waktu luang tetapi bisa dijadikan profesi. Tidaklah heran jika ada banyak orang tua yang tidak mengerti keinginan anaknya. Mereka terus memaksakan kehendak mereka, mengadopsi kebiasaan dan pola pikir generasinya ke dalam zaman si anak. Mereka sulit mengerti bahwa hobi sudah bisa menjadi profesi yang bisa memberi kehidupan stabil bagi anak-anaknya. Pendidikan-pendidikan era baru seperti desain grafis/desain komunikasi visual, menjadi chef atau juru masak, musisi, ini bagi generasi X hanyalah dianggap bagian dari hobi yang tidak menjamin masa depan anaknya. Padahal di generasi Y semua ini menjadi bidang-bidang profesi yang menarik dan menjanjikan. Itu baru generasi X dan Y, bagaimana jika generasi X dihadapkan dengan generasi digital hari ini? Masalah yang lebih besar tentu akan muncul.

Karena itulah orang tua sebaiknya diharapkan untuk bisa memahami/mengerti generasi apa yang tengah dihidupi oleh anaknya. Anda perlu tahu dunia pekerjaan hari ini seluas apa, anda perlu tahu bidang yang sesuai bakat atau hobi mereka, anda perlu juga tahu tentang hiburan-hiburan apa yang mereka nikmati hari ini seperti lagu-lagu misalnya. Jumlah lagu yang berisi lirik negatif semakin banyak, sehingga anda perlu tahu apa yang mereka dengar agar bisa mengingatkan mereka tentang hal-hal buruk yang diajarkan lewat lagu-lagu yang sedang 'in' tersebut. Bersikap menentang dengan keras akan membuat anak semakin berjarak dan tertutup dari anda, bersikap cuek atau tidak peduli akan membuat mereka terseret ke dalam pusaran kesesatan yang ditawarkan dunia. Jadi jangan terlalu sibuk mengatur gaya, trend, mode atau hobi, minat dan bakat mereka dan kemudian menjadi terlalu kaku sehingga gagal dalam menyiapkan busur yang kuat dan elastis. Meski mungkin tidak sesuai dengan selera anda, selama tidak bertentangan dengan Firman Tuhan, anda harus bisa bertoleransi. Bentuk mendidik atau mendisplinkan yang terlalu kaku dan memaksakan kehendak berlebihan hanyalah akan membuat anak-anak hidup dalam ketakutan, menjauh dari anda dan membuat mereka tidak bisa berkembang. Sebuah sikap fleksibel akan mampu menjembatani hubungan antar generasi, antara anda dan anak-anak, dan itu akan membuat anda mampu mengarahkan mereka, bagai pahlawan yang mengarahkan anak panahnya menuju sasaran.

3. Mengarahkan anak panah ke tempat yang tepat
Seorang pemanah tentu ingin menembakkan anak panahnya mengenai target secara tepat. Tapi bisakah si pemanah mengenai sasaran apabila ia sendiri tidak tahu apa yang menjadi targetnya? Pada kenyataannya ada banyak orang tua yang hanya menerapkan peraturan secara buta tanpa tahu apa yang menjadi tujuan. Mereka tidak mau dilarang, tidak memberi contoh yang baik, tapi mereka menerapkan secara keras terhadap anak-anaknya. Mereka belum jelas tentang kebenaran Firman Tuhan tapi bersikap layaknya pemimpin diktator dalam rumah tangga. Ini bukanlah gambaran yang baik jika mau mendidik anak-anak untuk menjadi orang-orang terampil yang berhasil dan takut akan Tuhan dalam hidupnya.

Apa yang terlebih dahulu harus diperhatikan adalah sejauh mana orang tua memahami prinsip-prinsip Kerajaan Allah dan mengaplikasikan semua itu secara nyata dalam keluarga. Bagaimana mau anak tidak merokok kalau orang tuanya saja bebas merokok didepan mereka? Mau bagaimana mendidik mereka agar tidak menghakimi orang lain kalau orang tuanya jago gosip? Mau bagaimana mendidik moral dan akhlak anak-anak kalau orang tuanya menunjukkan pola hidup yang tidak baik seperti korupsi, berbuat curang atau mempertontonkan keahlian mencari keuntungan dengan merugikan yang lain? Anak-anak akan melihat keteladanan dari orang tuanya. Itu yang sering dilupakan oleh banyak orang tua. Mereka cenderung bersikap otoriter karena menyangka posisinya diatas sehingga merasa berhak bersikap seenaknya terhadap anak-anak.

Para orang tua harus ingat bahwa mencari Tuhan bukanlah berarti mencari peraturan saja tetapi lebih jauh itu berarti mengenal Tuhan. Ketetapan Tuhan dijadikan kesukaan bagi kita yang diterapkan sebagai prinsip-prinsip hidup yang akan menginspirasi dan diteladani oleh anak-anak.

Selain itu orang tua juga diharapkan mampu menemukan minat, bakat atau potensi anak-anak yang tertinggi dan kemudian mengarahkan mereka dengan baik, bukan memaksakan obsesi pribadi. Anak-anak harus diasah untuk tajam dan diarahkan untuk melesat ke arah yang benar, dan itu artinya kita memberi visi kehidupan yang tepat bagi mereka. Kita harus ingat bahwa peraturan hanyalah membatasi dari luar, tetapi prinsip-prinsip Kerajaan yang diadopsi dengan baik dalam kehidupan nyata bisa merubah seseorang dari dalam dan akan hidup di dalam mereka untuk waktu yang lama.

Dari seluruh isi renungan yang saya sampaikan ini kita bisa melihat bahwa untuk menjadi orang tua sama sulitnya seperti menjadi pemanah ulung. Itu butuh proses, butuh perjuangan dan seringkali butuh pengorbanan. Tapi itulah yang bisa menjadikan kita tampil sebagai pahlawan-pahlawan di mata Tuhan. Jika kita sudah melakukan semua ini, kelak bukan hanya anak-anak kita yang hidupnya baik dan berhasil, tapi kita sebagai orang tua pun akan merasa bangga dan bahagia. "Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang." (Mazmur 127:4). Dalam Amsal dikatakan "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6). Anda siap untuk menjadi pahlawan pemanah? Jika ya, arahkanlah anak-anak panah anda menuju sasaran, sehingga selain hidup mereka diberkati mereka pun bisa berdampak bagi kesejahteraan lingkungan sekitar, kota, bangsa dan negara bahkan hingga memberkati dunia.

Anda adalah pahlawannya Tuhan jika berhasil mengarahkan anak-anak panah anda ke sasaran yang benar

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker