Sunday, March 31, 2013

Yusuf: Dari Sumur Menuju Istana (2)

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kisah hidup Yusuf bukanlah kisah yang asing bagi kita. Kita tahu apa yang terjadi selanjutnya. Singkat cerita, lewat hubungannya dengan seorang juru minuman yang pernah sama-sama dipenjara, dimana orang tersebut pernah melupakannya dan membiarkan Yusuf tetap dipenjara selama dua tahun, ia pun kemudian sukses mengartikan mimpi Firaun dan mendapat lompatan promosi yang menakjubkan diluar logika manusia. Dari tawanan tiba-tiba menjadi orang yang berkuasa atas seluruh tanah mesir. (ay 40-41). Yusuf akhirnya mencapai posisi kepala yang sesungguhnya. Ketika saudara-saudaranya menghadap, Yusuf seharusnya bisa membalas dendam atas segala penderitaannya selama ini yang berawal dari perlakuan buruk dan kejam saudara-saudaranya itu. Tapi itu semua tidak ia lakukan karena ia jauh lebih tertarik untuk memuliakan Tuhan lewat kehidupannya. Itu jauh lebih penting daripada memuaskan nafsu untuk membalaskan sakit hati. Ia pun memaafkan saudara-saudaranya. Perkataan Yusuf kembali menunjukkan mental juara dalam hal ketaatan dan iman. "Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (Kejadian 50:20). Sikap terpuji seperti itu tidaklah mudah dilakukan jika kita yang berada di posisi Yusuf. Tapi jika kita melihat bagaimana Yusuf tetap berjalan bersama Tuhan, dan berkali-kali kita menyaksikan adanya Roh Tuhan menyertainya, maka semua itu menjadi mungkin.

Dari sumur gelap, fitnah, penjara, dan pada akhirnya istana. Itu benar-benar rangkaian perjalanan yang begitu penuh liku-liku. Tetapi dalam proses itu ada penyertaan Tuhan yang ternyata mampu membuat segala yang Yusuf lakukan berhasil. Dalam posisi sulit dan di bawah sekalipun Yusuf tetap mampu tampil sebagai kepala. Ini adalah hal luar biasa yang menjadi bukti nyata dari Firman Tuhan yang mengehendaki kita semua untuk berada di "habitat" kita sesungguhnya yaitu kepala. Bahkan masalah sebesar apapun tidak mampu menghentikan Yusuf untuk mencapai posisi kepala!

Apa yang menjadi syarat agar Tuhan selalu menyertai dan memampukan kita mencapai posisi kepala sesungguhnya sudah diberitahukan dengan jelas. Mari kita lihat kembali ayat bacaan dari renungan ini. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28: 13-14).

Dari ayat ini kita bisa mengalami seperti apa yang terjadi pada Yusuf jika:
- kita mendengarkan perintah Tuhan
- menjadi pelaku-pelaku firman yang setia
- tidak menyimpang ke kiri dan ke kanan
- hanya menyembah Allah saja, dan bukan allah lain

Rangkaian kisah Yusuf menggambarkan dengan jelas bagaimana keempat hal ini menjadi pedoman hidup yang ia pegang sepenuhnya. Bukankah Yusuf tetap taat melakukan ke 4 hal tersebut tanpa peduli kondisi apapun yang ia hadapi? Ia tidak kecewa, ia tidak mengeluh,  ia tidak menghujat, ia tidak putus asa, ia tidak hilang harapan, melainkan tetap percaya sepenuhnya untuk berjalan bersama dengan Allah! Dan janji Tuhan pun dengan sendirinya berlaku bagi diri Yusuf.

Tuhan telah menetapkan anak-anakNya untuk menjadi kepala dan bukan ekor. Kita akan senantiasa naik dan bukan turun. Janji yang sudah terbukti pada Yusuf pun berlaku sama buat kita semua hari ini, juga anak-cucu kita di masa yang akan datang. Ini sebuah janji berkat Tuhan yang akan bisa kita dapatkan jika kita melakukan apa yang telah Tuhan tetapkan sebagai syaratnya. Dalam kondisi apapun saat ini anda berada, tetaplah berpegang teguh pada firman Tuhan, percayalah tanpa ragu sedikitpun, jangan memberi toleransi pada jebakan dosa dan jangan tergoda untuk mengambil alternatif-alternatif lain karena tidak sabar mengalami proses. Sebuah perjalanan yang terkelam sekalipun, jika ada penyertaan Tuhan di dalamnya akan tetap memberikan sebuah hasil yang berbeda. Kita akan tetap berhasil meski ditekan, kita akan tetap maju meski ditahan, tidak ada satupun yang bisa menghentikan keinginan Tuhan jika kita melakukan semua ketetapan yang telah Dia berikan. Proses boleh menyakitkan, namun pada suatu ketika kita akan menuai janji Tuhan dengan sepenuhnya. Dan ingatlah bahwa dalam sepanjang proses itupun Tuhan mampu membuat kita tetap berhasil dan memperoleh pencapaian-pencapaian tersendiri. Yusuf sudah membuktikan dan berhasil. Siapkah kita membuktikannya sama seperti Yusuf?

Kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun, itulah yang dijanjikan Tuhan untuk kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, March 30, 2013

Yusuf: Dari Sumur Menuju Istana (1)

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ulangan 28:13-14
========================
"TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya."

Semua orang ingin mengalami peningkatan-peningkatan dalam hidup. Berhasil dalam pekerjaan, karir meningkat, kesejahteraan semakin baik merupakan dambaan semua orang. Tidak ada orang yang mau mengalami stagnasi dalam karirnya, apalagi jika merosot. Tentu menyenangkan jika pekerjaan kita berhasil dan kita terus mendapat promosi untuk naik lebih tinggi lagi. Dalam berusaha apapun kita selalu ingin berhasil. Kita ingin berhasil membangun keluarga yang berbahagia, kita ingin jadi anak yang berhasil di mata orang tua, kita ingin berhasil mendidik anak-anak dan sebagainya. Tidak ada orang yang memimpikan kegagalan. Namun ada banyak orang yang masih bergumul dengan itu. Usaha terus gagal. Bangkrut lagi, lagi-lagi terlilit hutang, keluarga berantakan dan sebagainya. Bukannya mendapatkan promosi, bukannya jalan ditempat tapi malah melorot ke dalam keadaan yang lebih rendah. Tidak apa-apa jika itu merupakan bagian dari proses karena kita tidak bisa selamanya berharap semuanya akan baik-baik saja, tetapi itu seharusnya tidak berlaku selamanya. Apa yang diinginkan Tuhan adalah menempatkan setiap kita menjadi kepala, bukan ekor. Tetap naik dan bukan turun. Jika masih naik turun atau tetap berada di bawah posisi seperti yang dikehendaki Tuhan, itu bisa jadi pertanda bahwa masih ada yang harus kita benahi dari diri kita.

Kepala dan bukan ekor? Ya, seperti itu. Mari kita lihat ayatnya. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun.." (Ulangan 28:13). Kita bisa melihat bahwa itulah yang dikehendaki Tuhan untuk terjadi kepada kita. Dalam proses mungkin kita dibentuk melalui fase-fase yang tidak nyaman, bahkan mungkin menyakitkan. Tapi dalam proses itupun sebenarnya kita bisa merasakan perbedaan nyata jika kita berjalan dalam tuntunan Tuhan. Penyertaan Tuhan sudah dinyatakan akan terus bersama kita sampai selama-lamanya (Matius 28:20). Artinya Tuhan berada bersama kita bukan hanya ketika kita dalam keadaan aman tanpa masalah saja , tapi dalam keadaan yang tidak kondusif, bahkan kekelaman yang tergelap sekalipun Tuhan tetap ada bersama kita. Prosesnya mungkin pahit, namun Tuhan ternyata tetap ada bersama kita, membantu kita dalam melangkah hingga pada akhirnya kita bisa menuai janjiNya. Daud merasakan hal itu. Ia mengatakan demikian: "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4).

Saya ingin melanjutkan renungan kemarin dari sisi bagaimana kita menyikapi sebuah proses kehidupan untuk akhirnya bisa menjadikan janji Tuhan tersebut sebagai sebuah kenyataan. Jalan hidup Yusuf menjadi sebuah bukti nyata bagaimana penyertaan Tuhan itu berlaku dalam setiap keadaan, dan itu membuat keberadaan dalam situasi sulit sekalipun tetap memiliki perbedaan jika kita menghadapinya bersama Tuhan.

Sejak kecil Yusuf diperlakukan berbeda oleh orang tuanya. Ia dikatakan lebih dikasihi dari anak-anak yang lain. (Kejadian 37:3). Melihat hal ini, cemburulah saudara-saudaranya, dan kehidupan Yusuf pun mulai dipenuhi penderitaan. Ia sempat hampir dibunuh karena menceritakan mimpinya. Selamat dari pembunuhan bukan berarti masalah selesai, karena kemudian ia dilemparkan ke dalam sumur yang gelap gulita. Itu situasi yang mengancam nyawa, karena ia bisa saja mati secara perlahan di sana. Untunglah ia tidak jadi dibiarkan mati disana. Tapi ternyata itupun bukan sebuah kebebasan, karena ia selanjutnya dijual kepada para saudagar Midian dan dibawa ke Mesir dalam status sebagai budak. Budak, ini bukan posisi kepala, tapi posisi ekor, posisi terendah pada masa itu. Apa yang terjadi selanjutnya? Ternyata Yusuf dibeli oleh Potifar, seorang kepala pengawal istana.

Dalam posisi budak, apakah ada yang bisa menjadi prestasi? Dari pengalaman Yusuf ternyata ada. Dikatakan disana Yusuf selalu berprestasi dan ia pun mendapat promosi untuk dapat tinggal di rumah mewah tuannya Potifar. Bagaimana bisa demikian? Alkitab mencatat demikian: "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu." (39:2). Kelihatannya Yusuf tidak memiliki mental yang bersungut-sungut. Ia menjalani "profesi"nya sebagai budak tetap dengan melakukan yang terbaik dari dirinya. Buahnya? Apapun yang ia buat berhasil, sehingga dalam posisi ekor sekalipun ia bisa menjadi kepala. Mengapa bisa demikian? Sebab Tuhan menyertai Yusuf.

Apakah setelah itu perjalanan Yusuf menjadi lebih ringan? Ternyata tidak. Masalah berikutnya datang. Ia lalu digoda oleh istri Potifar. Yusuf dengan tegas menolak. Dia tidak tergoda oleh kenikmatan sesaat karena ia mau hidup taat. Kedagingannya mungkin bisa tergoda, tapi rohnya ternyata lebih kuat. Yusuf pun berkata "Bagaimanakah mungkin aku melakukan kejahatan yang besar ini dan berbuat dosa terhadap Allah?" (ay 9). Terus menerus ditolak, lama-lama beranglah istri Potifar. Ia pun memfitnah Yusuf yang mengakibatkan Yusuf dilemparkan ke penjara. Posisi makin anjlok. Yusuf bukan lagi berstatus bukan lagi budak, tapi narapidana, orang tahanan. Putus asa kan Yusuf? Ternyata tidak. Mentalnya tetap sama. Ia tidak mengeluh atau menghujat siapapun termasuk Tuhan, tapi kelihatannya ia tetap menunjukkan sikap luar biasa, sikap yang lagi-lagi berkenan di hadapan Tuhan. Kembali kita menjumpai ayat yang mirip dengan ayat 39:2 di atas, hanya saja kali ini terjadi di dalam penjara. "Tetapi TUHAN menyertai Yusuf dan melimpahkan kasih setia-Nya kepadanya, dan membuat Yusuf kesayangan bagi kepala penjara itu. Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya. Dan kepala penjara tidak mencampuri segala yang dipercayakannya kepada Yusuf, karena TUHAN menyertai dia dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil." (ay 21-23). Kesulitan boleh bertambah, tapi kenyataannya Daud tetap menjalaninya dengan sebaik yang ia sanggup. Kembali kita lihat bahwa dalam keadaan di bawah (ekor), yang lebih bawah dari budak, ternyata Yusuf tetap bisa menjadi kepala. Mengapa? "Karena Tuhan menyertai dia, dan apa yang dikerjakannya dibuat TUHAN berhasil."

(bersambung)

Friday, March 29, 2013

Naik Jabatan

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 75:7-8
==========================
"Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu,tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain."

Segala daya upaya dilakukan orang untuk bisa naik pangkat atau naik jabatan. Menyuap atau memberi uang pelicin, bingkisan-bingkisan, menjilat atasan dan berbagai upaya lain sudah biasa dilakukan agar promosi bisa mengalir lancar pada karir seseorang. Menjegal atau menjelekkan teman sendiri pun jika terpaksa apa boleh buat, yang penting kenaikan jabatan bisa diperoleh. Semua itu sudah dianggap sebagai hal yang lumrah untuk dilakukan di jaman sekarang, apalagi di negara kita yang tingkat korupsinya lumayan 'mantap'. Ada banyak orang berdalih bahwa itu terpaksa dilakukan, karena itu memang sudah menjadi kebiasaan di mana-mana. "Kalau tidak ikut korupsi rugi dong, atau malah kita justru bakal terkena masalah di kantor.." demikian ujar salah seorang pegawai negeri sambil cengengesan kepada saya pada suatu kali.  Kita seringkali terpaku pada kebiasaan dunia dan cenderung menyerah mengikutinya, meski tahu bahwa itu salah di mata Tuhan. Kita melupakan sebuah fakta bahwa masalah mengalami peningkatan atau tidak itu sesungguhnya bukanlah tergantung dari dunia, atau dari manusia, tapi sesungguhnya berasal dari Tuhan. Tanpa berlaku curang dan berkompromi dengan hal buruk yang sudah dianggap lumrah di dunia ini, kita tetap bisa mengalami peningkatan karir, dan saya bisa katakan itu akan terasa luar biasa indahnya jika itu berasal dari Tuhan.

Ayat yang menyinggung mengenai promosi atau kenaikan jabatan ini terdapat dalam kitab Mazmur. Pemazmur mengatakan: "Sebab bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun datangnya peninggian itu, tetapi Allah adalah Hakim: direndahkan-Nya yang satu dan ditinggikan-Nya yang lain." (Mazmur 75:7-8). Dalam bahasa Inggris Amplifiednya dikatakan "For not from the east nor from the west nor from the south come promotion and lifting up. But God is the Judge! He puts down one and lifts up another." Inilah hal yang sering kita lupakan. Kita sering tergiur dengan jabatan dan mengira bahwa kita perlu mati-matian menghalalkan segala cara untuk memperolehnya. Kita lupa bahwa peningkatan yang sesungguhnya justru berasal dari Tuhan dan bukan dari manusia. Kita seringkali terburu nafsu untuk secepatnya menggapai sebuah jabatan, padahal Tuhan tidak pernah menyarankan kita untuk terburu-buru. Ketekunan, kesabaran, keuletan, kesungguhan, itulah yang akan bernilai di mata Tuhan, dan pada saatnya, sesuai takaran dan waktu Tuhan, kita pasti akan naik walau tanpa melakukan kecurangan-kecurangan yang jahat di mata Tuhan.

Apa yang diinginkan Tuhan untuk terjadi kepada anak-anakNya sesungguhnya bukanlah sesuatu yang kecil atau pas-pasan saja. Kita telah ditetapkan untuk menjadi kepala dan bukan ekor, terus naik dan bukan turun. Tetapi untuk itu ada syarat yang ditetapkan Tuhan untuk kita lakukan dengan sungguh-sungguh. Hal ini tertulis dalam kitab Ulangan. "TUHAN akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, apabila engkau mendengarkan perintah TUHAN, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya." (Ulangan 28:13-14). Melakukan kecurangan-kecurangan demi kenaikan jabatan mungkin sepintas terlihat menjanjikan solusi cepat, namun ketika itu bukan berasal dari Tuhan, maka cepat atau lambat keruntuhan pun akan membuat semuanya berakhir sia-sia. Lihatlah 'parade' banyak koruptor yang kemudian menangis setelah vonis dijatuhkan. Ada yang masih merasa santai karena mereka beranggapan mereka tetap bisa menyuap untuk bebas atau setidaknya bisa menjalani hukuman dengan lebih nyaman bak di hotel bintang lima, tetapi kelak di hadapan Tuhan tidak ada penyuapan atau apapun lagi yang bisa dibuat. Tidak ada satupun kejahatan di muka bumi ini yang luput dari hukuman Tuhan, dengan alasan apapun.

Apa yang dituntut dari kita sebenarnya hanyalah kesungguhan kita dalam bekerja. "Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia." (Kolose 3:23). Itu bagian kita, dan masalah berkat, termasuk di dalamnya kenaikan pangkat atau jabatan, itu adalah bagian Tuhan. Mungkin tidak mudah untuk bisa tetap hidup lurus di tengah dunia yang bengkok, namun bukan berarti kita harus menyerah dan berkompromi. Justru Tuhan menjanjikan begitu banyak berkat jika kita mau mendengarkan firman Tuhan baik-baik dan melakukan dengan setia semua perintahNya tersebut, seperti yang diuraikan panjang lebar dalam Ulangan 28:1-14.

Kita harus berhati-hati untuk tidak masuk ke dalam jebakan dunia dengan segala permainan dan kecurangan yang tersembunyi dibaliknya. Kita bisa memaksakan kenaikan sesuai keinginan kita, namun tidakkah semua itu akan berakhir sia-sia dalam kebinasaan jika itu bukan berasal daripadaNya? Tuhan sudah menjanjikan bahwa kita akan terus meningkat. Tuhan menjanjikan kita sebagai kepala dan bukan ekor, tetap naik dan bukan turun, namun itu hanya berlaku jika kita mendengarkan dan melakukan firmanNya dengan setia, tidak menyimpang dan tidak menghambakan diri kepada hal lain apapun selain kepada Tuhan. Jika anda memberikan kesungguhan 100% dalam pekerjaan kita. Sekecil apapun itu, biar bagaimanapun, itu akan memberikan nilai tersendiri bagi tempat di mana anda bekerja. Sebab perusahaan mana yang mau kehilangan pegawai terbaiknya? Dan tentu saja itu akan sangat dihargai Tuhan. Oleh karena itu, tetaplah bekerja dengan baik, tekun dan sepenuh hati, seakan-akan anda melakukannya untuk Tuhan, maka soal peningkatan hanyalah soal waktu saja. Tuhan sudah menetapkan kita untuk berada di posisi atas biar bagaimanapun. Lakukan bagian kita, dan Tuhan pasti akan mengerjakan bagianNya.

Just do your part and let God do His part

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, March 28, 2013

Relatifnya Sebuah Ukuran

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 2 Korintus 4:17
======================
"Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami."

Sebutir nasi itu tentu sangat kecil bagi kita, yang biasanya bisa memakan puluhan atau bahkan ratusan butir itu dalam sekali suap. Tapi ketika anda melihat seekor semut mengangkut sebutir nasi, butiran itu terlihat sangat besar bagi semut. Contoh berikutnya, besar atau kecilkah bola tenis menurut anda? Jawabannya pun bisa beragam. Bola tenis akan terlihat kecil jika dibandingkan dengan bola sepak atau bola bowling, tetapi akan terlihat besar dibanding bola pingpong atau gundu. Sebuah jeruk bisa terlihat besar kalau dibandingkan dengan anggur, tapi kecil kalau berada di dekat buah semangka. Dalam satuan ukur setiap benda punya ukurannya masing-masing, tapi untuk memutuskan besar atau tidaknya benda itu tentu akan sangat relatif. Nilai mata uang pun demikian. Dua puluh tahun yang lalu lima ribu rupiah sudah sangat besar, tapi hari ini kita hanya bisa makan pas-pasan di warung dengan jumlah itu. Seperti itulah gambaran relativitas nilai atau ukuran sebuah benda.

Bagaimana dengan ukuran masalah yang tengah anda hadapi? Seperti apa anda memandang permasalahan hidup hari ini? Besar atau kecil? Saya kira kebanyakan orang akan setuju menilai permasalahan hidup ini besar. Hidup memang tidak mudah. Pergumulan-pergumulan dan tekanan-tekanan hidup akan selalu siap mendorong kita jatuh jauh ke bawah, begitu jauh hingga terkadang kita sulit untuk kembali bangkit dalam waktu yang singkat. Tidak jarang orang yang menyerah setelah diterpa badai, tapi ada pula yang tetap tegar meski badai telah mencoba mengobrak-abrik hidup dalam waktu yang cukup lama. Besar kecilnya masalah pun ternyata relatif. Ada yang sudah pesimis ketika sedikit masalah saja menerpanya. Masalah itu besar jika dibandingkan ketika keadaannya sedang tanpa masalah, namun kecil jika dibandingkan permasalahan yang jauh lebih berat yang mungkin sedang menimpa orang lain. Ada pula orang yang bisa tetap tenang dalam menghadapi masalah besar karena sudah pernah berhasil melewati masalah yang jauh lebih besar lagi. Karena besar kecilnya masalah itu relatif, maka saya beranggapan bukan kadar masalah yang membuat orang jatuh menyerah dalam keputus asaan, namun pola pikir atau cara pandanglah yang sangat menentukan. Fokus kepada masalah, maka masalah itu akan terus bertumbuh semakin besar. Namun jika fokus diarahkan dalam iman yang percaya, niscaya kita akan masih bisa tersenyum dan bersukacita seberat-beratnya masalah menimpa kita.

Sebuah contoh bisa kita lihat dari riwayat Paulus. Kurang besar bagaimana lagi masalah yang dihadapi Paulus? Jika kita yang mengalami, mungkin sepertiga saja dari masalahnya sudah membuat kita mundur dan menyerah. Lihatlah bahaya, ancaman atau penyiksaan yang ia alami baik dari sesama manusia maupun alam. (2 Korintus 11:23-28). Apakah cuma itu? Tidak. Ia juga mendapatkan masalah dari dalam tubuhnya sendiri. (12:7-8). Dalam kesempatan lain Paulus mengatakan "Sampai pada saat ini kami lapar, haus, telanjang, dipukul dan hidup mengembara, kami melakukan pekerjaan tangan yang berat. Kalau kami dimaki, kami memberkati; kalau kami dianiaya, kami sabar; kalau kami difitnah, kami tetap menjawab dengan ramah; kami telah menjadi sama dengan sampah dunia, sama dengan kotoran dari segala sesuatu, sampai pada saat ini." (1 Korintus 4:11-13). Paulus mengalami semua itu, tapi dia tetap sabar. Dia tetap bisa bertahan dan tetap teguh menjalankan tugas pelayanannya seperti yang telah ditetapkan Tuhan dengan keramahan, kesabaran dan ketabahan. Bagaimana bisa demikian? Seperti yang pernah saya tulis beberapa hari yang lalu, Paulus bisa bersikap seperti itu karena ia mengarahkan pandangannya bukan kepada masalah yang menimpanya, tapi kepada apa yang ada di depannya.

Bagaimana ia bisa tahan menghadapi semua itu? Semua berasal dari visi atau kemana ia memandang. Visinya adalah memandang kepada apa yang dijanjikan Tuhan lewat Kristus. "..tetapi ini yang kulakukan: aku melupakan apa yang telah di belakangku dan mengarahkan diri kepada apa yang di hadapanku, dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus." (Filipi 3:13-14). Dengan pandangan seperti itulah Paulus bisa tetap tegar meski tubuh bahkan nyawanya harus ia pertaruhkan. Ia tidak terfokus kepada penderitaan daging yang fana, tapi ia memusatkan perhatiannya kepada keselamatan roh yang kekal. Jika dipandang dari sudut masalah, jelas masalah yang dialami Paulus amat sangat besar. Dan tentu ia paham itu. Tetapi jika dipandang dari apa yang akan ia terima di depan, semua itu tidaklah ada apa-apanya. Dan itulah sebabnya mengapa Paulus mampu berkata dengan luar biasa seperti ini: "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami." (2 Korintus 4:17).

Secara manusia, stamina atau daya tahan Paulus dan teman-teman sepelayanan pasti merosot. Tapi disaat seperti itu mereka menyadari bahwa secara batin mereka terus diperbaharui dari hari ke hari. (ay 16). Penderitaan itu terasa ringan karena mereka membandingkannya dengan apa yang dijanjikan Tuhan di depan. Dibanding masa-masa ketika Paulus belum bertobat, penderitaan yang ia alami sekarang tentu besar. Namun itu tidaklah sepadan jika dibandingkan sebuah mahkota kehidupan yang akan ia terima. Mahkota kehidupan, janji keselamatan kekal sebagai ahli waris Allah bisa ia lihat melalui imannya, meski secara kasat mata hal itu tidak bisa dilihat. Seperti itulah yang dikatakan Paulus selanjutnya. "Sebab kami tidak memperhatikan yang kelihatan, melainkan yang tak kelihatan, karena yang kelihatan adalah sementara, sedangkan yang tak kelihatan adalah kekal." (ay 18).

Sebuah kunci penting diberikan oleh Penulis Ibrani yang mendefenisikan arti sebuah iman. "Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat." (Ibrani 11:1). Sesuatu yang belum terlihat dengan kasat mata itu ternyata bisa terlihat jelas dengan memakai kacamata iman. Itulah yang dilakukan Paulus. Ia tidak pernah putus pengharapan, karena sesungguhnya dengan imannya ia sudah melihat semuanya dengan pasti. "Sebab kita diselamatkan dalam pengharapan. Tetapi pengharapan yang dilihat, bukan pengharapan lagi; sebab bagaimana orang masih mengharapkan apa yang dilihatnya? Tetapi jika kita mengharapkan apa yang tidak kita lihat, kita menantikannya dengan tekun." (Roma 8:24-25). Lihatlah visi Paulus tersebut. Itulah yang memungkinkan dirinya tetap kuat menanggung segala masalah yang dari ukuran manusia rasanya sudah terlalu berat. Seperti apa kita mengukur masalah yang menimpa kita hari ini? Jika dibandingkan dengan orang yang sedang hidup nyaman, atau hidup kita di masa lalu yang tenang, masalah akan terasa berat. Tapi itu semua bisa menjadi tidak berarti ketika kita melihat keselamatan yang telah dijanjikan Tuhan kepada kita. Sebuah hidup yang kekal, yang bebas dari masalah, kesedihan, penderitaan dan dukacita telah dipersiapkan di depan. Apakah kita mampu bertahan untuk mencapainya, atau kita menyerah saat ini dan malah luput dari apa yang Dia janjikan di depan, semua itu tergantung bagaimana kita menyikapi segala permasalahan yang saat ini menimpa kita. Paulus pun mengingatkan kita untuk tetap mengerjakan keselamatan kita dengan takut dan gentar setiap saat, setiap waktu. (Filipi 2:12). Seperti relatifnya ukuran bola tenis diantara bola-bola lain, buah jeruk di antara buah lainnya, seperti itu pula besar kecilnya masalah yang kita hadapi. Seberat apapun itu, semuanya belumlah sebanding dengan besarnya janji yang telah Tuhan berikan kepada kita.

Pakailah kacamata iman dan fokuslah kepada janji keselamatan yang telah Tuhan sediakan di depan

Follow RHO Twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, March 27, 2013

Kesetiaan

webmaster | 10:00:00 PM | 1 Comment so far
Ayat bacaan: Wahyu 2:10
==================
"..Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan."

Kemarin kita melihat bagaimana kesetiaan Daniel kepada Tuhan membawa turunnya terang ke dalam bangsa dimana ia tinggal. Kesetiaan sayangnya semakin lama menjadi semakin langka untuk ditemukan di muka bumi ini. Alangkah sulitnya mencari orang yang bisa benar-benar setia untuk waktu yang panjang. Apakah itu dalam sebuah hubungan cinta, pekerjaan dan sebagainya, hampir setiap hari kita menyaksikan orang-orang yang tidak menganggap kesetiaan sebagai sesuatu hal yang penting lagi untuk dipertahankan dan dipegang teguh.  Berita pasangan bercerai, kedapatan selingkuh terjadi dimana-mana. Orang yang berpindah-pindah pekerjaan karena mendapat tawaran yang lebih baik atau sedikit saja tersinggung, itu pun dengan mudah kita dengar. Tidak jarang mereka bahkan tega menghianati tempat mereka bekerja untuk satu dan lain hal. Kesetiaan merupakan sebuah unsur di dalam integritas. Jika kesetiaan saja sudah semakin langka, tidak heran jika integritas pun menjadi hal yang semakin langka pula.

Kesetiaan jelas merupakan aspek yang sangat penting dalam Kerajaan Allah. Pertama-tama kita harus tahu bahwa Allah, Sang Raja di dalam Kerajaan itu merupakan Sosok yang Setia. Alkitab menyebutkan dalam banyak kesempatan mengenai sifat Allah yang setia, misalnya dalam Mazmur 31:5, 48:9, 59:10, 1 Raja Raja 8:23, 2 Korintus 1:18, 1 Petrus 4:19, Ibrani 10:23 dan lain-lain. Lihat pula bagaimana Yesus dengan setia dan taat melakukan semua kehendak Allah dengan tuntas. Dengan keteladanan secara langsung seperti itu seharusnya kita yang merupakan warga Kerajaan pun hidup dengan kesetiaan. Tapi seringkali kita lebih tertarik untuk mengadopsi gaya hidup dunia yang mudah berkhianat ketimbang menjalani hidup kesetiaan seperti yang dikehendaki Tuhan.

Sulitnya mendapati kesetiaan ternyata bukan saja menjadi isu di jaman modern ini. Ribuan tahun yang lalu pun manusia sudah menunjukkan sikap buruk yang sama. Kita bisa melihat bagaimana bangsa Israel yang berulangkali menyaksikan atau mengalami secara nyata penyertaan Tuhan secara langsung, tetapi mereka masih saja tega untuk menyakiti hati Tuhan berulang-ulang lewat tingkah dan polah mereka. Tidak heran jika Salomo berkata "Banyak orang menyebut diri baik hati, tetapi orang yang setia, siapakah menemukannya?" (Amsal 20:6) Kita bisa melihat bahwa pada masa itu ternyata kesetiaan sudah menjadi sesuatu yang langka untuk ditemukan. Hingga ke dalam Perjanjian Baru pun masalah kesetiaan tetap menjadi pesan penting untuk dimiliki oleh kita. Kesetiaan adalah sebuah kualitas utama yang seharusnya ada di dalam diri orang-orang percaya. "...kejarlah keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran dan kelembutan." (1 Timotius 6:11). Berulang-ulang Tuhan mengingatkan kita untuk setia dalam segala hal, tetapi dari generasi ke generasi manusia masih saja terus menganggap kesetiaan sebagai sesuatu yang tidak penting, yang bisa dikorbankan demi kepentingan lain.

Kesetiaan di dalam Kerajaan Allah memiliki peranan yang sangat penting. Kesetiaan penting untuk kita hidupi karena itu akan sangat menentukan bagi keselamatan kita kelak. Firman Tuhan berkata "...Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." (Wahyu 2:10). Ada mahkota kehidupan yang akan dikaruniakan kepada kita kelak apabila kita bisa mempertahankan kesetiaan sampai selesai. Dan bukan itu saja, karena Allah tetap menjanjikan berkat-berkatNya kepada siapapun yang tetap hidup dengan berpegang pada kesetiaan. "Pada hari ini TUHAN, Allahmu, memerintahkan engkau melakukan ketetapan dan peraturan ini; lakukanlah semuanya itu dengan setia, dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu. Engkau telah menerima janji dari pada TUHAN pada hari ini, bahwa Ia akan menjadi Allahmu, dan engkaupun akan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan berpegang pada ketetapan, perintah serta peraturan-Nya, dan mendengarkan suara-Nya. Dan TUHAN telah menerima janji dari padamu pada hari ini, bahwa engkau akan menjadi umat kesayangan-Nya, seperti yang dijanjikan-Nya kepadamu, dan bahwa engkau akan berpegang pada segala perintah-Nya, dan Iapun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. Maka engkau akan menjadi umat yang kudus bagi TUHAN, Allahmu, seperti yang dijanjikan-Nya." (Ulangan 26:16-19).

Ada banyak hal yang akan kita peroleh dari hidup dalam kesetiaan. Sebaliknya kita akan mengorbankan banyak hal penting jika kita memilih untuk mencari kenikmatan sesaat dengan mengabaikan kesetiaan. Kehidupan di dunia selalu mengajak kita untuk melupakan kesetiaan, tetapi hari ini marilah kita belajar untuk mengadopsi dengan benar prinsip-prinsip Kerajaan mengenai kesetiaan, sebab tanpa kesetiaan tidak akan pernah ada integritas yang akan mampu membawa perubahan-perubahan ke arah yang lebih baik.

Tanpa kesetiaan tidak akan ada integritas

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, March 26, 2013

Menjadi Terang Di Dunia Usaha dan Pekerjaan (2)

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
(sambungan)

2. Daniel tidak membalas kejahatan dengan kejahatan
Daniel tahu bahwa kedua pejabat tinggi lainnya yang notabene teman sekerja sendiri sedang menyediakan perangkap baginya. Tapi Daniel tidak tertarik untuk menyerang, mengkonfrontir atau membalas mereka. Bahkan ia tidak mengelak sama sekali karena ia terus mengandalkan Tuhan dengan sepenuh hati. Benar bahwa Alkitab mengatakan bahwa kita harus cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati di dunia yang jahat (Matius 10:16), tapi ingatlah bahwa cerdik tidaklah sama dengan kejahatan. Ada batas-batas yang tetap tidak boleh kita langgar supaya jangan sampai kita seolah-olah cerdik tetapi ternyata di mata Tuhan itu dinaggap sebagai sebuah kejahatan. Dalam Yesaya 53:7 dinubuatkan bahwa Yesus dalam menghadapi aniaya membiarkan diriNya ditindas, seperti domba yang kelu dibawa ke pembantaian. Itulah tepatnya yang terjadi. Dalam Roma 12 kita mendapati nasihat yang sama lewat Paulus. "Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang....Tetapi, jika seterumu lapar, berilah dia makan; jika ia haus, berilah dia minum! Dengan berbuat demikian kamu menumpukkan bara api di atas kepalanya. Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!" (Roma 12:17-21). Lebih dari sekedar tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, kita justru diminta untuk memberkati, mengasihi dan mendoakan orang-orang yang berbuat jahat kepada kita. "Kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu." (Matius 5:44)

3. Daniel tetap percaya dan mengandalkan Tuhan
Dalam Daniel 6:17 kita bisa melihat bahwa Daniel sempat dilemparkan ke gua singa. Jika kita menjadi Daniel, tentu itu merupakan saat-saat genting yang sangat berat bahkan mengerikan untuk dihadapi. Tapi kita bisa mengetahui bagaimana reaksi Daniel dalam menghadapi saat-saat genting antara hidup dan mati itu. Kita tahu bagaimana akhir kisah ini. Tapi sebelum itu terjadi, sangatlah menarik melihat apa yang dikatakan raja Darius sebelum Daniel dieksekusi. "Sesudah itu raja memberi perintah, lalu diambillah Daniel dan dilemparkan ke dalam gua singa. Berbicaralah raja kepada Daniel: "Allahmu yang kausembah dengan tekun, Dialah kiranya yang melepaskan engkau!" (ay 17). Darius adalah seorang raja yang sebenarnya tidak menyembah Allah Daniel yang hidup, tetapi ternyata ia bisa melihat bagaimana Daniel selama ini diberkati secara luar biasa oleh Allahnya. Itulah yang persisnya terjadi. Daniel tetap percaya meski dalam situasi hidup dan mati. Imannya tidak goyah sedikitpun, ia tetap percaya dan mengandalkan Tuhan meski situasinya sudah sedemikian gentingnya. Dan buah yang ia petik pada akhirnya pun manis. Allah Daniel, Allah kita semua adalah Allah yang hidup dan berkuasa atas segala sesuatu, dan berkuasa melakukan segala sesuatu. Pada akhirnya, raja Darius menyaksikan kuasa Allah yang besar, hingga ia pun memerintahkan bangsa yang ia pimpin untuk takut dan gentar akan Allahnya Daniel. "Bersama ini kuberikan perintah, bahwa di seluruh kerajaan yang kukuasai orang harus takut dan gentar kepada Allahnya Daniel, sebab Dialah Allah yang hidup, yang kekal untuk selama-lamanya; pemerintahan-Nya tidak akan binasa dan kekuasaan-Nya tidak akan berakhir. Dia melepaskan dan menolong, dan mengadakan tanda dan mujizat di langit dan di bumi, Dia yang telah melepaskan Daniel dari cengkraman singa-singa." (ay 27-28).

Dalam kehidupan kita di market place atau dunia usaha, lingkungan pekerjaan atau usaha kita, biarlah ketiga hal ini kita lakukan dengan tekun dan taat. Mungkin masalah atau pergumulan kita tidaklah seberat yang dihadapi Daniel, tapi Daniel berhasil membuktikan kebesaran Allahnya di tempat dimana ia bekerja. Dan seperti itu pulalah hendaknya kita. Seperti yang Daniel alami setelahnya, kita pun rindu melihat banyak orang bisa menyaksikan kebesaran dan kebaikan Kristus. Disanalah kita bisa menjadi terang yang menyinari dan memberkati banyak orang.

Bersinar bukan hanya di keluarga, tempat tinggal atau gereja, tapi juga di dalam dunia usaha dan pekerjaan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, March 25, 2013

Menjadi Terang Di Dunia Usaha dan Pekerjaan (1)

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Daniel 6:2-3
=====================
"Lalu berkenanlah Darius mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja atas kerajaannya; mereka akan ditempatkan di seluruh kerajaan; membawahi mereka diangkat pula tiga pejabat tinggi, dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu; kepada merekalah para wakil-wakil raja harus memberi pertanggungan jawab, supaya raja jangan dirugikan."

Sebagai orang percaya kita diminta untuk bangkit dan menjadi terang, sebab terang Tuhan sudah terbit atas kita. Ini dikatakan dalam Yesaya 60:1. Dimana kita bisa menjadi terang ketika terang kemuliaan Tuhan itu terbit atas kita? Tentu saja kita bisa memulainya dari lingkungan sekitar kita, dan itu termasuk pula dalam dunia pekerjaan dimana kita ditempatkan. Kita harus paham bahwa ditempat kita bekerja, berusaha dan menjalankan profesi kita, ada banyak jiwa yang membutuhkan terang Tuhan. Ini yang sering kita lupakan. Kita berpikir bahwa menjadi terang itu hanya bisa dilakukan lewat pelayanan-pelayanan di gereja atau persekutuan, tetapi kita lupa bahwa di tempat kita bekerja (market place) pun kita harus pula bisa menjadi terang yang memberkati banyak orang.

Akan hal ini kita bisa belajar lewat Daniel, bagaimana melalui kehidupannya ia mampu membuat raja Darius pada akhirnya memerintahkan seluruh rakyatnya untuk takut dan gentar terhadap Allahnya Daniel.

Perhatikanlah ayat bacaan hari ini. "Lalu berkenanlah Darius mengangkat seratus dua puluh wakil-wakil raja atas kerajaannya; mereka akan ditempatkan di seluruh kerajaan; membawahi mereka diangkat pula tiga pejabat tinggi, dan Daniel adalah salah satu dari ketiga orang itu; kepada merekalah para wakil-wakil raja harus memberi pertanggungan jawab, supaya raja jangan dirugikan." (Daniel 6:2-3). Pada masa pemerintahan raja Darius, Daniel diangkat menjadi satu dari tiga pejabat tinggi yang bertugas mengawasi seratus dua puluh wakil raja. Diantara ketiga pejabat tinggi ini, raja bermaksud untuk mengangkat Daniel sebagai yang tertinggi (ay 4) sehingga itu menimbulkan iri di hati kedua pejabat lainnya. (ay 5). Mereka pun mencari akal untuk menjebak Daniel. Salah satunya adalah dengan memaksa raja membuat peraturan yang dapat menjadi perangkap buat Daniel, yaitu lewat hal ibadah Daniel kepada Allahnya. (ay 6). Raja Darius ternyata menyetujui untuk membuat peraturan itu tanpa mengerti rencana jahat dibelakangnya. Meski kelihatannya Daniel terperangkap dan akan kalah, tapi lihat bahwa Tuhan memunculkan kebenarannya dan membuat raja akhirnya mempermuliakan Allah Daniel.

Dari kisah singkat ini ada tiga hal yang bisa kita pelajari dan teladani dari Daniel.

1. Daniel tetap setia beribadah kepada Tuhan
Dikatakan dalam kitab Daniel bahwa ia setiap hari berlutut, berdoa dan memuji Tuhan tiga kali secara teratur. Hebatnya Daniel tetap setia melakukan itu meski muncul peraturan yang menghalanginya untuk beribadah. (ay 5-10). Meski ada hukuman yang harus ia terima, dan hukuman itu sangat mengerikan yaitu dilemparkan ke gua singa, ia tidak bergeming dalam hal iman dan kepercayaannya kepada Tuhan. Dalam lingkungan sehari-hari termasuk dalam lingkungan usaha dan pekerjaan kita, bisa saja ada tekanan-tekanan dan perlakuan tidak adil yang harus kita terima karena iman kita kepada Kristus. Bisa jadi ada tawaran-tawaran yang diberikan agar kita menyangkal iman kita atau setidaknya untuk tidak melakukan hal-hal sesuai Firman Tuhan. Seperti Daniel, hendaklah kita tetap setia meskipun mungkin kita harus menapak jalan yang lebih berat dan terjal. Apa yang akan menjadi ganjarannya apabila kita setia? Firman Tuhan berkata: "..Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan." (Wahyu 2:10). Lalu lihat pula pesan Paulus kepada Titus: "...hendaklah selalu tulus dan setia, supaya dengan demikian mereka dalam segala hal memuliakan ajaran Allah, Juruselamat kita." (Titus 2:10). Biarlah kita juga seperti Daniel yang tetap mempermuliakan tuhan dan melakukan Firman serta kehendakNya. Pada suatu ketika mereka yang menolak akan bisa melihat kebenaran apabila kita tetap dengan sungguh hati dan setia mengikuti kehendak Tuhan.

(bersambung)

Sunday, March 24, 2013

Home: Heaven on Earth or Hell Break Lose? (2)

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
(sambungan)

Kasih menjadi kunci yang sangat vital disini. Dan lihatlah apa saja yang terdapat di dalam sebuah kasih itu seperti yang disampaikan Paulus kepada jemaat Korintus. "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). Semua elemen ini apabila anda terapkan di rumah tentu akan mampu membuat suasan rumah yang nyaman, hangat dan penuh cinta. Jangan lupa pula pesan penting lainnya tentang bagaimana besarnya peran kasih itu. "Tetapi yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih menutupi banyak sekali dosa" (1 Petrus 4:8). "For love covers a multitude of sins [forgives and disregards the offenses of others]."  Kasih bisa menutupi banyak sekali dosa. Seberapa jauh kita mengingat hal itu? Pertengkaran sesungguhnya meruntuhkan perisai iman, menghambat hasil doa dan yang lebih parah bisa mengundang iblis ke tengah-tengah rumah tangga. Amsal 17:14 berkata "Memulai pertengkaran adalah seperti membuka jalan air". Seperti yang belum lama saya bahas, perselisihan sekecil apapun bisa tidak terkendali dan akhirnya bisa menghancurkan. Pertengkaran di rumah akan melumpuhkan kuasa Tuhan dalam hidup kita.

Jangan pernah membiarkan iblis merusak keharmonisan rumah tangga anda dengan membiarkan pertengkaran atau perselisihan bercokol di dalamnya. Rumah tangga selayaknya menjadi tempat di mana terdapat hubungan yang harmonis, saling dukung, saling support, dimana kasih menjadi dasar yang kuat di dalamnya. Berlakulah bijaksana dan adil, jangan bersikap otoriter dan menuntut perlakuan berlebihan dari pasangan anda. Pasangan kita adalah sosok yang akan melengkapi dan menyempurnakan kita, mengisi berbagai kekurangan kita untuk menjadi lebih baik lagi. Pasangan bukanlah sosok yang pantas untuk dijadikan "sansak tinju", kambing hitam atau tempat kita menumpahkan emosi seenaknya. Singkatnya firman Tuhan memberikan gambaran "Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah isterimu seperti dirimu sendiri dan isteri hendaklah menghormati suaminya." (Efesus 5:33). Dan ingatlah pesan ini: "Hendaklah kamu sehati sepikir, dalam satu kasih, satu jiwa, satu tujuan, dengan tidak mencari kepentingan sendiri atau puji-pujian yang sia-sia. Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama dari pada dirinya sendiri." (Filipi 2:2-3). Ini pesan yang penting agar kuasa Tuhan tidak terhalang dan doa-doa yang kita panjatkan bisa menemukan jawaban. Yakobus mengatakan dimana ada iri hati dan egoisme, disanalah akan timbul kekacauan dan segala macam perbuatan jahat. Tetapi sebaliknya, "hikmat yang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai, peramah, penurut, penuh belas kasihan dan buah-buah yang baik, tidak memihak dan tidak munafik." (Yakobus 3:17). Itulah bentuk kebijaksanaan yang berasal dari atas, yang seharusnya mengisi kehidupan setiap pasangan dalam rumah tangga masing-masing. "Dan buah yang terdiri dari kebenaran ditaburkan dalam damai untuk mereka yang mengadakan damai." (ay 18).

Apakah rumah tangga anda saat ini termasuk heaven on earth atau hell break lose? Hari ini mari kita belajar untuk lebih lagi membangun keharmonisan dan kehangatan dalam rumah, sehingga anda akan selalu rindu untuk segera pulang ke rumah karena disanalah anda akan merasakan kedamaian dan kenyamanan tak terhingga. Jangan jadikan rumah tangga sebagai tempat memanjakan ego diri sendiri dan melakukan segala sesuatu seenaknya. Jadikan rumah tangga kita sebagai contoh bagaimana hangat dan damainya sebuah hubungan yang memiliki kasih dan damai Kristus di dalamnya.

Let God's values live at our home, let's have peace at home

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, March 23, 2013

Home: Heaven on Earth or Hell Break Lose? (1)

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yakobus 3:16
======================
"Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat."

Bagaimana perasaan anda di rumah hari ini? Apakah anda betah dan nyaman atau justru malas untuk pulang? Apakah rumah terasa hangat dan nyaman atau malah begitu panas sehingga anda tidak tahan berada di dalamnya?
Rumah bisa menjadi tempat yang ternyaman dan terhangat bagi kita, tapi sebaliknya bisa pula menjadi tempat terpanas di muka bumi ini. It can be like heaven on earth, but can also be hell break lose. Ada rumah tangga yang tingkat pertengkarannya begitu parah sehingga hubungan menjadi hambar atau bahkan menjadi pahit. Tidak lagi ada kasih di rumah, sehingga pulang ke rumah pun menjadi alternatif paling akhir, kalau sudah terpaksa saja. Bahkan tidak jarang yang kemudian dengan ringan berkata bahwa tidak ada lagi rasa kepada pasangannya. Bagaimana kata-kata seperti itu mungkin keluar dengan mudah dari orang yang sudah memutuskan untuk menikah, menjadi satu dengan pasangannya? Tapi semakin lama hal seperti ini semakin dianggap lumrah terjadi dalam keluarga. Tidak heran jika tingkat perceraian pun semakin lama semakin tinggi. Berbagai alasan dikemukakan, bahkan tidak sedikit pula yang berani-beraninya menyalahkan Tuhan dengan mengatakan bahwa sudah merupakan takdir Tuhan bahwa mereka harus bercerai. Tuhan yang menyatukan, tapi Dia pula yang menginginkan perceraian di antara ciptaanNya? Masuk akalkah itu?

Rumah biasanya merupakan tempat dimana kita bisa sebebasnya menjadi diri sendiri. Ketika di luar, kita biasanya memperhatikan betul untuk menjaga image, juga menjaga perasaan orang lain. Ada dorongan untuk menjaga perilaku dan sikap terhadap orang lain. Namun ketika berada bersama keluarga sendiri, jika tidak hati-hati kita bisa tergoda untuk bertindak seenaknya. Kita bisa lebih mementingkan hak istimewa yang serakah daripada menjalankan kewajiban. Kita tidak lagi menganggap penting untuk melakukan hal-hal yang digariskan Tuhan untuk dilaksanakan dalam keluarga. Tidakkah kita sering melihat bahwa orang-orang yang begitu ramah, penuh canda, ceria dan royal di luar ternyata di rumah menjadi sosok egois, pemarah dan pelitnya bukan main terhadap keluarga sendiri? Atau orang yang selalu tersenyum dan baik di luar menjadi bagai petinju atau petarung di rumah? Singkatnya, ada banyak orang yang menganaktirikan keluarganya sendiri, lebih peduli terhadap perasaan orang lain ketimbang istri/suami dan anak-anaknya. Di rumah sifat aslinya keluar, dan itu bukanlah sifat asli yang baik. Seringkali manusia terjebak untuk lebih banyak menuntut penghargaan dan penghormatan, untuk dikasihi, daripada mengasihi. Jika itu yang terjadi, tidaklah mengherankan apabila suasana rumah menjadi panas.

Rumah tangga kristen seharusnya jauh dari bentuk-bentuk demikian. Orang percaya yang sudah terlanjur melakukannya seharusnya sadar bahwa semua itu harus berubah. Yakobus mengatakan "Sebab di mana ada iri hati dan mementingkan diri sendiri di situ ada kekacauan dan segala macam perbuatan jahat." (Yakobus 3:16). Ayat ini tidak saja berlaku dalam hubungan kita dengan orang lain di luar, tapi terlebih lagi berlaku dalam hubungan dalam rumah tangga. Ketahuilah bahwa dalam pernikahan sesungguhnya Tuhan sendiri yang langsung memateraikan hubungan antara suami dan istri. Itu adalah bentuk ikatan yang kuat, begitu kuatnya sehingga firman Tuhan mengatakan bahwa tidak ada satupun manusia yang berhak memutuskannya. "Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia." (Matius 19:6). Ini bentuk hubungan dua menjadi satu, begitu menyatunya sehingga dikatakan selayaknya menjadi satu daging. (ay 5). Dengan demikian, ketika kita menyakiti pasangan kita, bukankah itu artinya sama saja dengan menyakiti diri sendiri?

Keharmonisan dan kesepakatan dalam keluarga adalah hal mutlak yang harus bisa kita capai. Sayangnya hal ini menjadi semakin langka di jaman sekarang, dimana suami dan istri seringkali memilih jalannya sendiri-sendiri. Padahal Tuhan Yesus dengan tegas berkata "Dan lagi Aku berkata kepadamu: Jika dua orang dari padamu di dunia ini sepakat meminta apapun juga, permintaan mereka itu akan dikabulkan oleh Bapa-Ku yang di sorga. Sebab di mana dua atau tiga orang berkumpul dalam Nama-Ku, di situ Aku ada di tengah-tengah mereka." (Matius 18:19-20). Ini adalah bentuk kuasa dari kesepakatan yang begitu penting, dan seharusnya bekerja dalam hidup setiap pasangan kristiani. Maka sudah selayaknya pasangan-pasangan yang dimateraikan langsung oleh Tuhan ini tidak boleh membiarkan pertengkaran berada di dalam rumah.

(bersambung)

Friday, March 22, 2013

Perdamaian

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Roma 12:18
========================
"Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!"

Rasanya semua orang tentu menginginkan kehidupan dunia yang damai. Tidak ada peperangan, tidak ada kerusuhan, tidak ada kekerasan, kejahatan dan tidak ada perselisihan. Bayangkan betapa indahnya jika semua manusia hidup berdampingan secara harmonis. Tidak ada yang mengedepankan perbedaan tapi mencari persatuan di atas keragaman. Itu bentuk dunia yang diimpikan oleh banyak orang. Sayangnya itu hanyalah utopia saja, karena ada banyak sekali orang yang berhenti hanya pada bermimpi dan berharap. Dalam menjalani kehidupannya mereka masih menerapkan begitu banyak sekat-sekat pembatas. Mereka terus fokus pada perbedaan dan akibatnya hidup dikuasai permusuhan. Ada pula yang bahkan bertindak lebih jauh dengan menghalalkan kekerasan terhadap orang-orang yang berbeda pandangan dengan mereka. Apakah itu didasari oleh perbedaan keyakinan, perbedaan ideologi, perbedaan suku, bangsa, budaya, perbedaan pendapat, dan lain-lain, semua itu akan semakin mempersulit terciptanya kedamaian. Make love not war, slogan yang kencang dikumandangkan di akhir tahun 60 an sampai awal 70an ketika Amerika memutuskan perang terhadap Vietnam, lalu ada pula slogan peace on earth, akhirnya berhenti hanya sebatas slogan dan harapan yang tidak akan pernah bisa diwujudkan.

Kita berharap hidup dalam tatanan dunia yang damai. Tapi pikirkanlah, apakah mungkin kita mencapai dunia yang damai jika kita yang hidup di dalamnya tidak pernah bisa belajar untuk berdamai? Apakah sekat-sekat pembatas yang kita ciptakan akan membantu membuat dunia semakin baik? Apakah betul ada kalanya Tuhan menginginkan kita untuk saling bermusuhan berdasarkan segala perbedaan itu? Apakah memang Tuhan menciptakan manusia berbeda-beda karakter, sifat dan sebagainya dengan tujuan agar kita hidup bermusuhan? Tentu tidak. Tuhan tidak hanya penuh kasih, tapi Dia adalah kasih itu sendiri. (1 Yohanes 4:16). Jika demikian, tentu tidak ada alasan apapun bagi kita yang percaya kepadaNya untuk menciptakan berbagai bentuk permusuhan di muka bumi ini.

Serangkaian pesan penting Paulus buat perdamaian tercatat pada Roma 12:9-21. Jangan pura-pura baik (ay 9), saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului memberi hormat (ay 10), berkomitmen menolong orang yang kesusahan (ay 13), memberkati yang jahat kepada kita, dan dilarang mengutuk (ay 14), memiliki empati terhadap orang lain (ay 15), hidup rukun dan rendah hati (ay 16), tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dengan kebaikan (ay 17,21), tidak menuntut balas (ay 19), tetap memberi bantuan bahkan kepada musuh sekalipun (ay 20). Ini pesan luar biasa yang menggambarkan bentuk ajaran Tuhan Yesus yang penuh kasih. Mari kita lihat ayat berikut ini: "Sedapat-dapatnya, kalau hal itu bergantung padamu, hiduplah dalam perdamaian dengan semua orang!" (Roma 12:18). Perhatikan bahwa tidak ada diajarkan untuk membenci orang yang berbeda keyakinan. Kita tidak diajarkan untuk tidak membalas salam, malah dianjurkan untuk lebih dulu menyampaikan salam. Kita tidak diajarkan untuk menutup mata atas kesulitan hidup mereka yang berbeda kepercayaan, tapi kita diminta untuk membantu dan ber-empati. Kita tidak diijinkan untuk bergembira atas penderitaan orang lain, bahkan yang dianggap musuh sekalipun. Tidak boleh mengutuk, namun harus memberkati mereka. Kesimpulannya adalah, kehidupan penuh damai di dunia ini baru memungkinkan untuk terjadi jika komponen penting pengisi dunia, yaitu kita, manusia, mau memulai dari diri kita sendiri untuk belajar hidup rukun dan damai dengan semua orang, tanpa terkecuali.

Ketika banyak orang belum mampu menghayati hakekat perdamaian dalam kehidupan untuk mencapai dunia yang lebih baik, ketika masih banyak orang yang lebih memilih jalan-jalan permusuhan dan kekerasan, perdamaian dunia hanyalah akan menjadi sebuah utopia belaka. Dan apabila kita orang percaya saja masih menerapkan permusuhan, bukan hanya terhadap orang lain tapi bahkan terhadap sesama kita sendiri, jangan bermimpi kita bisa memiliki sebuah dunia yang penuh kedamaian. Sebagai anak-anak terang, hendaklah kita mulai dari diri kita sendiri terlebih dahulu untuk menerapkan bentuk kasih yang penuh damai dengan orang-orang disekitar kita. Semua haruslah dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu. Sedapat mungkin, selama kita masih bisa, selama itu tergantung kita, berdamailah dengan semua orang. Hanya dengan demikian kita bisa menunjukkan bentuk kasih seperti yang diajarkan Kristus secara nyata kepada sesama, dan hanya demikian kita bisa turut serta untuk memperbaiki dunia yang carut marut kondisinya agar bisa menjadi tempat yang lebih baik untuk kita tinggali.

Runtuhkan tembok permusuhan dan ulurkan persahabatan dengan semua orang

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, March 21, 2013

Air dan Api (2)

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
 (sambungan)

Sebuah ayat yang menarik bisa kita baca di dalam kitab Yesaya. Disana dikatakan:  
"Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau." (Yesaya 43:2-3a).

Air dan api, demikian dua elemen yang dipakai dalam ayat tersebut, itu menggambarkan penderitaan atau kesulitan-kesulitan yang kita lalui dalam hidup kita. Dalam menghadapi gelombang air yang ganas atau di tengah nyala api yang panas, Tuhan ternyata menjanjikan penyertaanNya yang menyelamatkan. Ada kalanya kita memang harus melalui air yang terkadang bisa berombak tinggi atau terkadang harus menempuh api yang panas. Tetapi Tuhan berkata bahwa meski harus menyeberang air kita tidak akan hanyut, dan kalaupun harus melalui api kita tidak akan terbakar. Tuhan menjanjikan penyertaanNya yang menyelamatkan. Seperti itulah janji Tuhan, dan itu menunjukkan dengan jelas bahwa dalam kondisi sesulit apapun Tuhan tetap ada bersama kita, dan Dia siap untuk selalu melindungi kita.

Kembali kepada kisah Tuhan yang membelah Laut Teberau agar bangsa Israel bisa selamat dari kejaran pasukan Mesir pimpinan Firaun, dalam Keluaran 15:1-21 kita bisa melihat bunyi nyanyian Musa bersama dengan bangsa Israel yang selamat. "Karena nafas hidung-Mu segala air naik bertimbun-timbun; segala aliran berdiri tegak seperti bendungan; air bah membeku di tengah-tengah laut." (ay 8). Dengan kuasa yang tak terbatas Tuhan membuat hal yang tidak mungkin menjadi mungkin. Dia membelah air hingga berdiri pada kedua sisi bagai tembok, dan disanalah kemudian bangsa Israel berjalan bagai melintasi tanah kering. Dalam ayat 19 kita bisa membacanya: "Ketika kuda Firaun dengan keretanya dan orangnya yang berkuda telah masuk ke laut, maka TUHAN membuat air laut berbalik meliputi mereka, tetapi orang Israel berjalan di tempat kering dari tengah-tengah laut." Itulah bukti kasih setia Tuhan yang sungguh nyata. Bangsa Israel sudah mengalaminya, dan jika demikian, mengapa tidak buat kita?

Berkali-kali Tuhan sudah mengingatkan kita akan penyertaanNya. Lihatlah Firman Tuhan ketika Yosua baru diangkat menggantikan Musa. "Seorangpun tidak akan dapat bertahan menghadapi engkau seumur hidupmu; seperti Aku menyertai Musa, demikianlah Aku akan menyertai engkau; Aku tidak akan membiarkan engkau dan tidak akan meninggalkan engkau." (Yosua 1:5). Lalu Penulis Ibrani pun mengingatkan hal yang sama: "Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5b). Yesus sendiri juga berkata: "Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman." (Matius 28:20b). Demkian seringnya Tuhan mengulangi hal yang sama, itu menunjukkan bahwa janji ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk selalu kita ingat.

Gelombang air pasang mungkin tengah kita hadapi atau sewaktu-waktu harus kita lewati. Nyala api yang panas pada suatu ketika tidak bisa kita hindari. Tuhan tidak berjanji bahwa kita bisa hidup 100% tanpa kesulitan, tetapi Tuhan berjanji bahwa apapun yang kita hadapi tidak akan membinasakan kita. Seperti apa yang terjadi pada bangsa Israel, Tuhan sanggup membelah lautan masalah sehingga kita bisa melewatinya bagai berjalan di tanah kering dan sampai ke ujungnya dengan selamat. Demikian pula ketika berhadapan dengan api, kita bisa melewatinya tanpa terbakar, seperti yang dialami oleh Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Masalah boleh datang, tetapi ingatlah bahwa kita tidak pernah sendirian menghadapinya. Jika anda tengah berhadapan dengan situasi seperti itu, datanglah kepadaNya dan percayakan semuanya ke dalam tanganNya. Lakukan segalanya tepat seperti yang telah Tuhan firmankan, dan anda akan menyaksikan bagaimana kuasa Tuhan yang tak terbatas itu sanggup membawa anda melintasi masalah dengan penuh kemenangan.

Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan yang akan senantiasa menyertai kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, March 20, 2013

Air dan Api (1)

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yesaya 43:2-3a
=====================
"Apabila engkau menyeberang melalui air, Aku akan menyertai engkau, atau melalui sungai-sungai, engkau tidak akan dihanyutkan; apabila engkau berjalan melalui api, engkau tidak akan dihanguskan, dan nyala api tidak akan membakar engkau."

Mana yang lebih parah, mati tenggelam atau terbakar? Ini pertanyaan yang cukup menjebak, karena tentu saja keduanya sama-sama tidak enak dan menyakitkan. Seringkali dalam menghadapi permasalahan hidup kita berhadapan dengan situasi-situasi dimana kita merasa 'tercekik' seperti orang yang tenggelam atau perih bagaikan terbakar api. Yang lebih menyakitkan lagi adalah ketika kita merasa menghadapinya hanya sendirian saja. itu adalah salah satu ketakutan yang terbesar manusia yang sudah dialami oleh begitu banyak orang. Betapa menyakitkan ketika harus menghadapi masalah sendirian tanpa teman, saudara, keluarga dan lain-lain.Mungkin benar bahwa kita tidak bisa sepenuhnya berharap kepada orang lain untuk menolong kita setiap kali kita menghadapi masalah. Tapi apakah benar kita memang sendirian? Are we really alone when we are in the times of trouble? Alkitab tidak pernah mengatakan demikian. Ada Tuhan yang sudah berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita, dan kita tahu bahwa Dia akan selalu setia terhadap janjiNya.

Situasi yang begitu sulit hingga bisa membuat orang kehilangan akal dan putus asa bahkan terasa mengerikan ketika berhadapan dengan air dan api keduanya pernah digambarkan di dalam Alkitab, yaitu dalam kisah pelarian bangsa Israel yang terbentur pada bentangan Laut Teberau dan Sadrakh, Mesakh dan Abednego yang menghadapi ancaman dibakar hidup-hidup karena menolak menyembah berhala.

Pertama mari kita lihat kisah indah penyelamatan Tuhan terhadap bangsa Israel ketika tengah terjepit antara laut yang membentang luas dengan ratusan bala tentara Firaun yang mengejar dari belakang dalam kitab Keluaran pasal 14. Situasi seperti itu tak pelak membuat siapapun termasuk bangsa Israel pada waktu itu panik. Mereka berpikir bahwa itulah akhir pelarian mereka. Sebentar lagi tentara Firaun akan mendapati mereka di tepi laut dan mereka semua pasti akan dibantai habis oleh bala tentara yang besar itu. Tapi lihatlah apa yang terjadi kemudian. Laut Teberau terbelah sehingga mereka bisa berjalan di tengah-tengah laut di tempat kering. Air menjadi tembok buat mereka (ay 15 - 22). Selanjutnya ketika bala tentara Firaun mengejar hingga ke tengah laut, air pun kembali berbalik ke posisi semula dan menenggelamkan Firaun dan seluruh pasukannya. (ay 26-28). Mereka pun akhirnya selamat sampai ke seberang (ay 30). Dengan kuasaNya yang ajaib Tuhan membuat air laut terbelah, berdiri tegak bak dinding di kedua sisinya, sehingga orang Israel bisa berjalan melintasi lautan yang terbelah bagaikan berjalan di tanah yang kering. Tidak masuk akal, tetapi nyata. Sebagai bukti kuatnya, kisah ini pun disebutkan berulang kali dalam kitab-kitab lainnya dalam rentang masa yang jauh sesudah kejadian tersebut seperti dalam Mazmur 106:7-12 dan Nehemia 9:9-11.

Selanjutnya mari kita lihat sejenak kisah Hanaya, Misael dan Azarya yang juga dikenal dengan nama Sadrakh, Mesakh dan Abednego. Kisah ini tertulis dalam kitab Daniel. Mereka menghadapi ancaman kematian dengan cara mengerikan jika masih terus mempertahankan iman mereka dan menolak menyembah berhala-berhala Babel dan rajanya. Menghadapi ancaman, Sadrakh, Mesakh dan Abednego menjawab: "Tidak ada gunanya kami memberi jawab kepada tuanku dalam hal ini.Jika Allah kami yang kami puja sanggup melepaskan kami, maka Ia akan melepaskan kami dari perapian yang menyala-nyala itu, dan dari dalam tanganmu, ya raja; tetapi seandainya tidak, hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu." (Daniel 3:16-18). Sadrakh, Mesakh dan Abednego menolak menyembah berhala-berhala yang menjadi tuhan bangsa Babel, dan akibatnya merekapun dicampakkan ke dalam perapian yang menyala-nyala. Tapi apa yang kemudian terjadi? Sadrakh, Mesakh dan Abednego disertai malaikat dan tidak cedera sedikitpun. Apa yang mereka alami bahkan menjadi kesaksian luar biasa akan kuasa Tuhan yang mereka sembah. (ay 24-30).

(bersambung)

Tuesday, March 19, 2013

Membuka Mata

webmaster | 11:24:00 AM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 119:18
=====================
"Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu."

Berjalan dengan dan tanpa Firman Tuhan setiap hari sangatlah berbeda. Ini bisa menjadi kesimpulan saya karena saya telah merasakan keduanya dalam perjalanan hidup saya. Dahulu sebelum saya bertobat saya sama sekali tidak mengetahui apa-apa mengenai kebenaran. Lantas setelah saya bertobat, saya ternyata masih butuh waktu lagi untuk dibentuk hingga akhirnya sampai kepada sebuah kesadaran penuh akan pentingnya hidup bersama Firman Tuhan. Apa yang saya alami selama setidaknya empat atau lima tahun terakhir bersama Firman Tuhan tidaklah sedikit. Ada begitu banyak pengalaman dimana saya bisa melihat betapa besarnya kuasa Tuhan, dan bagaimana Tuhan ternyata masih bekerja dalam begitu banyak hal hingga hari ini. Berbagai mukjizat yang menunjukkan kebesaranNya pun sudah tak terhitung saya alami. Masalah hidup memang tidak serta-merta hilang seluruhnya. Ada saat-saat dimana saya masih berhadapan dengan berbagai pergumulan. Tapi luar biasanya, saya tidak perlu khawatir tentang apapun. Ketika saya menyerahkan hidup saya dan keluarga ke dalam tanganNya, saya tahu bahwa saya tidak akan pernah menghadapi apa-apa sendirian. Tuhan selalu ada berjalan bersama-sama. Luar biasanya lagi, ada begitu banyak rahasia yang disingkapkanNya seiring perjalanan saya menulis renungan buat anda setiap harinya. Ayat yang sama aplikasinya bisa berbeda di waktu lain, dan hebatnya sangat-sangat membantu dalam menghadapi masa-masa sulit. Ada begitu banyak rahasia-rahasia KerajaanNya yang disingkapkan Tuhan lewat ayat demi ayat, yang akan sayang sekali jika terlewatkan begitu saja. Itu akan kita lewatkan apabila kita mengabaikan pentingnya untuk terus membaca, merenungkan dan menghidupi FirmanNya setiap hari secara teratur.

Ada banyak orang percaya yang tidak menyadari pentingnya hidup bersama Firman Tuhan ini. Jikapun harus membaca Alkitab, tidak sedikit orang yang hanya membacanya selintas saja tanpa direnungkan, dicerna apalagi dilakukan secara nyata atau aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Padahal apa yang terkandung di dalam Firman Tuhan itu sungguh luar biasa. Ada kuasa Ilahi dibalik setiap Firman Tuhan yang bukan saja sanggup menjawab segala permasalahan kita tetapi juga mampu menghasilkan sesuatu yang bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Kita perlu membuka mata, baik sepasang mata yang kita pergunakan untuk membaca maupun mata hati kita agar bisa melihat keajaiban demi keajaiban yang terkadung di balik setiap Firman Tuhan. Pemazmur menyadari pentingnya hal itu. Lihatlah doa Pemazmur berikut: "Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu." (Mazmur 119:18). Versi bahasa Inggrisnya berbunyi: "Open my eyes, that I may behold wondrous things out of Your law." Saya menyukai ayat ini dan sering saya bawa dalam doa. Bukan saja agar saya bisa mendapat penyingkapan Tuhan di balik FirmanNya untuk dibagikan kepada teman-teman, tetapi juga berguna bagi saya untuk terus memperbaiki diri agar bisa bertumbuh lebih lagi dari hari ke hari.

Semakin banyak dan semakin dalam kita mengenal Firman Tuhan itu bermakna mengenal pribadi Tuhan lebih jauh. Semakin lama kita akan semakin menyadari betapa besarnya kasih Tuhan kepada kita, betapa Tuhan peduli dan telah mempersiapkan segala pedoman atau panduan yang kita butuhkan untuk bisa terus hidup sesuai kehendakNya hingga selamat sampai di akhir. Paulus mengatakan hal ini dengan jelas. "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16). Dan lewat segala yang diilhamkan Allah dalam alkitab ini kita bisa diperlengkapi dengan sempurna pula untuk setiap pekerjaan yang baik. "Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik." (ay 17). Kita tidak akan bisa mengetahui kebenaran yang hakiki apabila kita tidak menganggap serius pentingnya untuk berakar dalam FirmanNya dalam menghadapi kehidupan di muka bumi ini.

Firman Tuhan itu penting, begitu penting sehingga dikatakan lebih tajam dari pedang bermata dua manapun. "Sebab firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua manapun; ia menusuk amat dalam sampai memisahkan jiwa dan roh, sendi-sendi dan sumsum; ia sanggup membedakan pertimbangan dan pikiran hati kita." (Ibrani 4:12). Firman Tuhan memiliki kekuatan, keajaiban, dan kuasa yang sangat besar, yang alangkah sayangnya apabila kita abaikan. Oleh karena itu jangan pernah malas membaca Firman Tuhan. Teruslah bertekun di dalamnya, renungkan, perkatakan dan lakukan. Jika itu yang kita buat, maka kuasa Firman Tuhan itu akan begitu nyata bagi kita. Firman Tuhan telah disediakan secara lengkap untuk menjadi panduan bagi kita untuk menjalani hidup. Ada banyak tuntunan, arahan, nasihat, teguran, pelajaran, contoh dan berbagai hal lainnya yang akan sangat berguna bagi kita yang hidup di dunia yang sulit ini. Ada banyak janji Tuhan dan penunjuk jalan agar kita tahu bagaimana untuk terus melangkah menuju keselamatan. Dan ada banyak keajaiban dan rahasia-rahasia Kerajaan Allah yang akan membuat kita tidak pernah berhenti terpesona di dalamnya. Jangan abaikan Firman Tuhan, jangan sepelekan. Galilah terus dan temukanlah berbagai hal menakjubkan yang terkandung dalam setiap Firman yang mengandung kebenaran yang berasal dari Tuhan.

Merujuklah kepada Alkitab dalam menjalani segala aspek kehidupan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, March 18, 2013

Menjaga Mata

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 5:29
====================
"Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka."

Bagi saya yang berkecimpung di dunia desain, fungsi mata sebagai alat visual tentu sangatlah penting. Ada bidang keilmuan yang disebut desain komunikasi visual, dimana orang-orang yang mempelajarinya mendalami bagaimana seni menyampaikan sebuah informasi, promosi, pesan atau lain-lain bukan lewat komunikasi verbal melainkan lewat sebuah bahasa visual. Adalah mata yang melihat, kemudian mata akan mengirimkan apa yang dilihat ke dalam hati untuk diolah menjadi sebuah bentuk rasa. Apabila itu terasa rumit, mari kita ambil contoh yang lebih sederhana, yaitu ketika anda tertarik kepada lawan jenis. Ada sebuah istilah 'love at first sight' alias 'cinta pada pandangan pertama' yang menunjukkan bagaimana ketertarikan terhadap seseorang bisa dimulai lewat pandangan mata. Manis parasnya, jalannya yang gemulai, bahasa tubuhnya, senyum atau caranya tertawa, semua itu sering menjadi titik awal bagi kita untuk mulai memperhatikan dan berusaha mengenal mereka secara lebih dalam. Mata secara bebas bergerak leluasa untuk menangkap gambar demi gambar dari apa yang berada disekitar kita. Demikian pentingnya fungsi sebuah mata bagi kita sehingga sulit rasanya membayangkan apa jadinya jika kita tidak memiliki mata.

Ada banyak hal bermanfaat yang bisa kita peroleh dari mata, tetapi di sisi lain ada banyak pula hal yang bisa menyesatkan dan bisa menjerumuskan kita ke dalam bahaya juga berawal dari apa yang kita lihat. Menonton televisi saja misalnya, ada begitu banyak hal yang bisa membuat kita ketakutan, cemas atau dalam hal lain mungkin saja mata kita akan berfungsi sebagai jendela dosa dengan melihat pornografi dan lain-lain. Seandainya Daud masih hidup, dia tentu akan bercerita panjang lebar mengenai pengalamannya ketika dosa masuk lewat pandangan matanya mengintip Batsyeba, istri orang lain. "Sekali peristiwa pada waktu petang, ketika Daud bangun dari tempat pembaringannya, lalu berjalan-jalan di atas sotoh istana, tampak kepadanya dari atas sotoh itu seorang perempuan sedang mandi; perempuan itu sangat elok rupanya." (2 Samuel 11:2). Kita tahu bagaimana kemudian Daud terjerumus dalam serangkaian dosa yang terus membesar eskalasinya, semua berawal dari mata yang tidak terjaga dengan baik.

Yesus mengingatkan akan hal ini dengan kalimat yang terdengar cukup keras. "Maka jika matamu yang kanan menyesatkan engkau, cungkillah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa, dari pada tubuhmu dengan utuh dicampakkan ke dalam neraka." (Matius 5:29). Ayat ini merupakan bagian dari sebuah pesan penting bahwa dengan memandang seorang wanita dan menginginkannya meski dalam hati saja, itu sama saja dengan berzinah. (ay 28). Yesus kemudian melanjutkan peringatannya kepada tangan. "Dan jika tanganmu yang kanan menyesatkan engkau, penggallah dan buanglah itu, karena lebih baik bagimu jika satu dari anggota tubuhmu binasa dari pada tubuhmu dengan utuh masuk neraka." (ay 30). Kedua anggota tubuh ini menjadi contoh mewakili anggota-anggota tubuh lainnya yang harus kita jaga dengan penuh kewaspadaan. Mengapa? Karena Alkitab sudah mengatakan bahwa "roh memang penurut, tetapi daging lemah." (Markus 14:38). Ada banyak diantara kita yang memasang pagar batas Firman Tuhan dengan terlalu fleksibel tergantung dari kemauan dan sukanya kita sendiri. Berbagai kenikmatan kedagingan akan dengan mudah mempengaruhi kita sehingga kitapun akan terpengaruh untuk memberi toleransi kepada banyak hal yang bisa menjadi awal mula masuknya berbagai jebakan iblis ke dalam hidup kita.

Firman Tuhan turun lewat Yohanes berbunyi: "Dan dunia ini sedang lenyap dengan keinginannya, tetapi orang yang melakukan kehendak Allah tetap hidup selama-lamanya." (1 Yohanes 2:17). Dunia sedang lenyap dengan kenginannya, demikian bunyi Firman Tuhan. Bukankah hal itu semakin jelas saja terlihat hari-hari belakangan ini? Ketika kita memilih untuk bergabung dengan segala kenikmatan yang ditawarkan dunia maka kita pun sesungguhnya sedang lenyap dengan keinginan-keinginan daging kita. Hanya orang yang melakukan kehendak Allah-lah yang akan tetap hidup selama-lamanya alias kekal. Agar bisa melakukan kehendak Allah ini kita harus mampu menyalibkan semua keinginan-keinginan daging kita dan hidup seturut kehendak Allah dengan taat. Paulus menyampaikan "Barangsiapa menjadi milik Kristus Yesus, ia telah menyalibkan daging dengan segala hawa nafsu dan keinginannya." (Galatia 5:24).

Kembali kepada peringatan mencungkil mata dan memotong tangan di atas, apakah Yesus bermaksud kejam dan berniat untuk menghadirkan horor mengerikan ke dalam hidup kita? Apakah itu artinya Dia menyuruh kita benar-benar mencungkil mata atau memotong tangan sendiri? Tentu tidak. Apa yang menjadi pesan Kristus adalah bahwa kita harus benar-benar memperhatikan secara seksama, menjaga benar-benar anggota tubuh kita agar tetap kudus. Lebih baik mencungkil mata atau memenggal tangan ketimbang membiarkannya lalu tubuh kita secara utuh disiksa di neraka untuk masa yang kekal. Kalau kita mau berusaha untuk menjaga dengan sungguh-sungguh, maka tentu saja kita tidak perlu harus melakukan hal mengerikan seperti itu. Yesus tidak menginginkan satupun dari kita untuk binasa dengan cara demikian, Dia bahkan rela menyerahkan diriNya sendiri menggantikan kita di atas kayu salib agar kita terlepas dari ancaman seperti itu. Oleh karena itulah Yesus mengingatkan dengan tegas akan pentingnya menjaga anggota-anggota tubuh kita agar tetap kudus, tidak terjebak pada keinginan-keinginan daging yang mampu membuat kita kehilangan seluruh janji Allah. Mata merupakan salah satu dari anggota tubuh kita yang sangat berpotensi menjadi pintu masuk berbagai dosa, oleh karena itu jagalah dengan baik dan pergunakanlah untuk memuliakan Allah.

Jagalah agar segala yang dibawa mata untuk masuk ke hati adalah segala sesuatu yang baik

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, March 17, 2013

Cinta dan Relatifnya Waktu

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 29:20
======================
"Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel."

Kecepatan waktu itu sama dari dahulu sampai sekarang, dan berlaku sama pula bagi semua orang tanpa terkecuali. Tapi perasaan kita dalam merasakan cepatnya waktu berjalan bisa berbeda-beda, tergantung apa yang sedang kita alami atau rasakan. Ketika anda tengah terkantuk-kantuk dalam ibadah raya di gereja atau merasa kotbah yang disampaikan membosankan, waktu rasanya begitu lama berlalu. Tapi ketika anda antusias mendengarkannya, apalagi kalau pendetanya punya cara yang menyenangkan dalam menyampaikan Firman Tuhan, maka anda pun akan merasa waktu berjalan dengan sangat cepat. Ketika sedang menunggu atau mengantri, waktu terasa begitu lambat berjalan. Begitu juga bagi anda yang masih kuliah atau sekolah, pelajaran yang bagi anda membosankan akan membuat waktu terasa berjalan begitu lambat. Tapi sebaliknya waktu terasa begitu cepat ketika kita sedang mengerjakan sesuatu yang menyenangkan. Kita sering lupa waktu ketika sedang bermain, ngobrol dengan sahabat dan sebagainya. Apalagi ketika sedang bersama kekasih, waktu terasa seperti berlari sprint saja. Baru saja bertemu, tiba-tiba sudah harus berpisah. Waktu seakan begitu kencang berjalan. Sebaliknya ketika anda tengah menanti antrian, waktu bisa terasa panjang.

Berbicara mengenai cinta dan waktu, sangat menarik melihat sekelumit kisah percintaan antara Yakub dan Rahel yang tertulis dalam Kejadian 29. Ayat bacaan hari ini diambil dari pasal tersebut, bunyinya: "Jadi bekerjalah Yakub tujuh tahun lamanya untuk mendapat Rahel itu, tetapi yang tujuh tahun itu dianggapnya seperti beberapa hari saja, karena cintanya kepada Rahel." (Kejadian 29:20). Bukan tujuh jam, bukan tujuh hari, tapi tujuh tahun lamanya Yakub harus bekerja di rumah Laban, ayah Rahel agar bisa menjadikan pujaannya sebagai istri. Tujuh tahun itu merupakan waktu yang sangat lama. Jika kita bisa menggerutu di saat menunggu antrian dua jam saja, bayangkan jika harus bekerja cuma-cuma untuk menanti sebuah harapan hingga tercapai. Tapi Yakub nyatanya melakukan itu dengan senang hati. Apa yang menggerakkannya? Ayat tersebut secara jelas menyebutkan alasannya, yaitu "karena cintanya kepada Rahel". Karena cinta. Betapa relatifnya waktu itu bagi kita. Yakub merasa tujuh tahun itu bagaikan beberapa hari saja, dan adalah dorongan cinta yang bisa membuat waktu itu serasa cepat berlalu. Cinta ternyata dapat memperpendek waktu. Meskipun waktu dalam keadaan nyata waktu berjalan sama cepatnya bagi setiap manusia, tapi waktu bisa terasa seolah cepat atau lambat, tergantung perasaan kita. Yang jelas, jatuh cinta bisa membuat waktu terasa sangat pendek. Saya yakin kita semua pun pernah merasakan hal yang sama ketika tengah jatuh cinta.

Kalau dalam hubungan antar manusia hal itu bisa kita rasakan, bagaimana dengan hubungan kita dengan Tuhan? Terasa singkat atau lamakah rasanya waktu yang kita gunakan untuk bersekutu dengan Tuhan di saat-saat teduh kita? Misalnya setengah jam saja sehari saja yang kita pergunakan secara teratur untuk bersaat teduh, terasa cepat atau lambatkah itu bagi kita? Apakah kita memiliki kerinduan terus menerus untuk bersekutu denganNya atau malah sekarang terasa membosankan? Ini adalah pertanyaan yang sesungguhnya sangat penting dan sangat menentukan seperti apa kuatnya kita berjalan dalam hidup ini dan dimana kita berdiri saat ini.

Kekuatan dan kesetiaan kasih Tuhan bagi kita sesungguhnya sudah jelas. Tuhan selalu rindu berada dekat dengan kita. Dia sudah berulang-ulang berjanji tidak akan pernah meninggalkan kita, dan Tuhan selalu dan akan selalu memegang janjinya. Jika dalam lembah kekelaman saja Tuhan tidak meninggalkan kita, bagaimana mungkin Dia membiarkan kita sendiri menghadapi berbagai kesulitan hidup? Yakobus menyadari hal itu. Karenanya ia pun menyatakan "Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu." (Yakobus 4:8a). Daud sudah membuktikan itu jauh sebelumnya. Kita bisa melihat bagaimana keintiman atau kekariban yang terbangun antara Daud dengan Tuhan hampir disepanjang kitab Mazmur. Terasa begitu harmonis, begitu dekat, begitu indah. Lihatlah bagaimana Daud menggambarkan kedekatannya dengan Tuhan. "Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; bibirku akan memegahkan Engkau." (Mazmur 63:3). Bagi Daud, kasih setia Tuhan lebih besar dari hidup itu sendiri. It's larger than life. Jika anda mencintai seseorang dengan begitu besar, hingga rela mengorbankan nyawa anda sekalipun demi dia, Tuhan mengasihi anda seperti itu. Kehadiran Yesus untuk menebus dosa-dosa kita menjadi bukti yang tidak terbantahkan. Jika anda merasa waktu berjalan singkat ketika anda tengah berada dekat dengan orang yang anda cintai, seharusnya seperti itu pula yang anda rasakan dalam setiap momen-momen pribadi yang anda ambil untuk bersekutu dengan Tuhan.

Apa yang penting untuk kita renungkan adalah sejauh mana saat ini kita mengasihi Tuhan, yang sudah mengasihi kita sedemikian besar terlebih dahulu justru di saat kita masih berdosa. "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8). Kita diangkat menjadi anak-anakNya sejak semula oleh Kristus, dan itu merupakan bentuk kasih Tuhan yang nyata bagi kita. "Dalam kasih Ia telah menentukan kita dari semula oleh Yesus Kristus untuk menjadi anak-anak-Nya, sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya, supaya terpujilah kasih karunia-Nya yang mulia, yang dikaruniakan-Nya kepada kita di dalam Dia, yang dikasihi-Nya." (Efesus 1:5-6). Kalau begitu, sekarang semuanya tergantung kita sendiri. Mari kita periksa diri kita apakah kita masih merasakan kasih mula-mula atau sebenarnya tanpa kita sadari kasih kita itu sudah mulai mendingin atau membeku? Apakah saat ini anda masih merasakan gairah dalam bersaat teduh atau merasa bosan, terpaksa atau bahkan sering tertidur? Apakah anda masih mengisi banyak waktu dengan doa sebagai saluran dialog dengan Tuhan atau merasa bahwa itu bukan lagi hal yang penting dibandingkan aktivitas-aktivitas lainnya sehari-hari? Dari ukuran kecepatan waktu yang kita rasakan ketika bersekutu dengan Tuhan  sebenarnya kita bisa mengetahui dimana posisi kita saat ini. Bila kasih kita kepada Tuhan berkobar-kobar, setengah jam akan terasa terlalu singkat. Sedangkan jika kasih itu mulai pudar, maka setengah jam akan terasa sangat lama dan seperti buang-buang waktu. Bagi yang mulai merasa jauh dari Tuhan, mulai kehilangan motivasi, kehilangan semangat untuk bersekutu denganNya, Tuhan masih membuka kesempatan untuk berbenah. "Sebab itu ingatlah betapa dalamnya engkau telah jatuh! Bertobatlah dan lakukanlah lagi apa yang semula engkau lakukan. Jika tidak demikian, Aku akan datang kepadamu dan Aku akan mengambil kaki dianmu dari tempatnya, jikalau engkau tidak bertobat." (Wahyu 4:5). Ini saatnya kita pulihkan kembali kasih mula-mula kita. Kembalilah miliki kasih yang begitu besar, menggelora dan berkobar kepada Tuhan, dan rasakan kembali betapa waktu seolah terlalu singkat bagi kita dalam menikmati kedamaian berada di hadiratNya yang kudus.

Cepat lambatnya waktu bisa terasa sangat relatif, tergantung dari perasaan kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, March 16, 2013

The Three Little Pigs

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Matius 7:25
=====================
"Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu."

Anda tentu tidak asing lagi dengan sebuah kartun Walt Disney yang berjudul "The Three Little Pigs". Kartun pendek yang diproduksi tahun 1933 ini menceritakan kisah tentang tiga babi kecil bersaudara yang harus membangun tempat perlindungan paling aman dari ancaman seekor serigala jahat yang ingin memangsa mereka. Ketiganya sama-sama membangun rumah dengan bahan baku dan cara yang berbeda. Kedua babi yang paling kecil menganggap remeh sang serigala dan malah bernyanyi lagu yang mungkin masih anda ingat berjudul "Who's Afraid of the Big Bad Wolf?". Yang satu membangunnya dari jerami. Cepat, ringkas dan murah.  yang kedua memilih bahan dasar kayu, yang lebih kokoh tapi memerlukan modal dan waktu yang lebih lama. Anak babi tertua memilih untuk membangun dengan batu bata dan semen. Kedua adiknya yang membangun dengan jerami dan kayu tentu pekerjaannya lebih cepat selesai sehingga mereka sempat menertawakan saudara tertuanya yang masih tekun menumpuk batu bata demi batu bata dan menyatukannya dengan semen secara perlahan. Tapi si abang tertua tetap dengan tekun membangun tanpa mempedulikan cemoohan adik-adiknya. Pada satu hari serigala jahat pun datang. Rumah dari tumpukan jerami dengan mudah diluluh lantakkan dengan sekali hembus, dan kaburlah si adik terkecil dengan ketakutan. Ia lari berlindung di rumah kakaknya yang dibangun dari kayu. Ternyata rumah kayu itu juga masih mudah dirobohkan oleh si serigala jahat. Seketika mereka berdua berhamburan ketakutan, dan akhirnya bersembunyi ke rumah abang tertuanya. Di sana mereka aman dari kejaran serigala jahat karena sang serigala tidak mampu merubuhkan rumah yang kokoh dibangun di atas dasar kuat.

Ada makna penting yang terkandung di dalam kartun pendek ini yang sangat alkitabiah. Seperti halnya tiga babi kecil, demikianlah kita dalam kehidupan harus senantiasa mewaspadai iblis yang terus mengaum-aum mencari mangsa. (1 Petrus 5:8). Untuk mengahadapi itu, dasar yang kita pilih untuk menghindari serangan iblis itu tentu menjadi sangat penting. Apa yang harus kita lakukan? Apakah cukup dengan rajin mendengar firman Tuhan? Alkitab berkata tidak cukup. Seperti yang sudah saya bahas kemarin, Yesus mengingatkan kita bahwa sekedar mendengar tidaklah cukup. Ada banyak di antara kita yang sejak lahir sudah dengan setia beribadah ke Gereja, rajin mendengar kotbah, kerap mengunjungi kebaktian-kebaktian rohani, membaca buku-buku rohani atau membeli CD/kaset/DVD kotbah, namun ternyata mereka masih belum menunjukkan pribadi yang sesuai dengan apa yang telah bertahun-tahun mereka pelajari dan dengar.

Perumpamaan singkat mengenai "Dua Macam Dasar" yang diajarkan oleh Yesus sendiri menggambarkan hal ini dengan jelas. Yesus berkata: "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." (Matius 7:24-27).

Mari kita telaah bunyi ayat ini. Perhatikan bahwa kedua orang yang membangun rumah ini sama-sama orang yang mendengar perkataan Yesus. Artinya keduanya adalah orang yang sudah menerima Yesus dan mengetahui pengajaranNya. Tapi ada perbedaan nyata di antara keduanya. Keduanya sama-sama mendengar, tapi hanya satu yang mempraktekkannya dalam hidup, sementara yang satu berhenti pada mendengar saja. Akibatnya, ketika hujan dan banjir masalah datang, si orang bijaksana yang melakukan apa yang telah ia dengar tidak tergoncang dan tidak rubuh karena didirikan di atas batu yang kokoh. Sebaliknya si orang yang bodoh yang mendirikan kehidupannya di atas pasir, hidupnya akan rubuh dan porak poranda karena pondasi dan ketahanannya tidak cukup kuat. Perumpamaan sederhana yang sangat singkat ini merupakan penutup dari rangkaian kotbah Yesus di atas bukit. Memang singkat, namun maknanya sungguh dalam dan sangat penting sehingga patut kita cermati baik-baik dalam proses perjalanan kehidupan kita di dunia ini.

Yesus mengingatkan bahwa apa yang telah Dia katakan, Dia ajarkan, Dia firmankan hendaklah tidak berhenti hanya pada sebatas mendengar saja, melainkan justru harus dilanjutkan dengan melakukannya, mempraktekkannya dalam hidup sehari-hari. Yakobus mengingatkan agar kita menjadi para pelaku firman. "Sebab itu buanglah segala sesuatu yang kotor dan kejahatan yang begitu banyak itu dan terimalah dengan lemah lembut firman yang tertanam di dalam hatimu, yang berkuasa menyelamatkan jiwamu. Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri...Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (Yakobus 1:21-25). Sebuah kehidupan yang kokoh haruslah diletakkan di atas dasar Yesus Kristus, Sang Batu Penjuru. (Efesus 2:20). Lalu lihat pula ayat berikut: "Karena tidak ada seorangpun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus." (1 Korintus 3:11). Kehidupan yang dibangun dasar iman kuat dalam Kristus akan kokoh dari segala situasi. Untuk mencapai itu, kita harus melakukan lebih dari sekedar pendengar yang baik. Kita harus menjadi pelaku firman, menerapkan segala firman Tuhan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Dengan membangun di atas dasar Kristus, kita tidak akan gampang goyah ketika angin ribut, badai hujan dan banjir datang menerpa kita. Kita akan tetap kuat, tetap penuh oleh ucapan syukur, tidak harus kehilangan sukacita dan berubah menjadi takut karena kita bukan hanya mendengar, tapi sudah melakukannya dalam kehidupan kita. Setiap Firman yang kita aplikasikan secara nyata itu seperti kita menumpuk satu batu kokoh dalam membangun rumah kita. Satu persatu batu itu kita susun hingga kita pun akhirnya bisa membangun hidup di atas sebuah dasar kokoh dengan tembok yang kokoh pula. Itu akan membuat kita aman dari keadaan sesulit apapun yang terjadi dalam kehidupan kita. Pemahaman akan firman Tuhan, rajin beribadah, rajin mendengar kotbah, rajin membaca buku-buku rohani, rajin membaca Alkitab, semua itu adalah sungguh baik, namun tidaklah cukup untuk menghasilkan sebuah kedewasaan rohani dan pertumbuhan iman yang baik. Itu juga tidak akan cukup untuk mengatasi berbagai persoalan, kecuali dengan mempraktekkan dan menerapkannya dalam kehidupan kita sehari-hari secara nyata. Hidup tidaklah hanya ditentukan oleh pengalaman, kekayaan, pendidikan, status dan sebagainya,tetapi yang terpenting adalah di atas dasar apa kita membangunnya. Seperti kisah ke tiga anak babi di atas, kita memang tidak perlu takut kepada iblis, tapi bukan berarti bahwa kita boleh mengabaikan dan menyepelekan ancamannya sehingga kita menjadi lengah dan lemah. Perhatikan betul di atas dasar apa kita membangun kehidupan dan iman kita, karena itu akan menentukan sejauh mana kita akan bisa tetap aman hingga akhir.

Jangan berhenti jadi pendengar, jadilah pelaku Firman

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, March 15, 2013

Lagu Merdu Tanpa Makna

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yehezkiel 33:32
======================
"Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kau ucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya."

Suka terhadap sebuah lagu belum tentu menjamin kita untuk menangkap makna dibalik lirik dari lagu tersebut. Banyak dari kita yang mungkin hanya menyukai rangkaian melodi yang tersusun dari musiknya saja tanpa mempedulikan lirik atau bahkan judulnya. Seorang teman misalnya, hanya menyukai lagu barat dari melodi dan beatnya karena ia tidak mengerti bahasa Inggris. Ada juga yang memang tidak menganggap penting lirik yang terkandung meski hafal dengan lagu tersebut. Sebagai pendengar atau penikmat lagu, kita pun bisa memilih apakah kita mau memperhatikan lirik-liriknya dan kemudian melakukan apa yang dinyanyikan, atau hanya menyukai musiknya tanpa memperhatikan apa yang dikatakan disana. Bicara soal syair atau lirik lagu, isinya bisa bermacam-macam. Ada yang berisi pesan yang membangun, inspirasional, ada pula yang mengajarkan hal-hal jahat. Apapun bentuknya, kita sendiri yang memutuskan apakah kita memperhatikan isi lagu itu dengan cermat atau tidak. Seyogyanya kita bisa mendapat bahan perenungan, pelajaran dari lagu-lagu yang berisi pesan yang baik atau setidaknya termotivasi untuk hal-hal baik lewat pesan tersebut, sebaliknya menjaga agar tidak terpengaruh pesan-pesan yang buruk. Tetapi sekali lagi semua tergantung dari kita, karena kita pun bisa saja hanya menjadi pendengar pasif yang cuma menikmati melodi atau merdunya suara yang bernyanyi tanpa mempedulikan isinya.

Saat ini bagaimana kerajinan anda dalam membaca Firman Tuhan yang ada di dalam Alkitab? Banyak di antara kita yang punya keinginan untuk semakin dekat dan taat lagi kepada Tuhan, dan itu bisa dibangun lewat ketekunan kita dalam mendalami Firman Tuhan. Adalah sangat baik jika kita rajin membaca Firman, karena itu akan membuat kita terhubung dengan Tuhan, mendengar suaraNya, mengenal pribadi Tuhan dan mengetahui kehendakNya sehingga lebih kuat menghadapi kesulitan-kesulitan yang mungkin menghadang di depan. Tapi akan jauh lebih baik lagi agar kita tidak berhenti sampai di situ saja. Sebab alangkah sia-sianya jika kita hanya membaca dan menganggap firman-firman itu bagaikan "lagu merdu" yang terdengar indah tapi tanpa makna, karena tidak ada iman yang menyertai kita dalam menerima Firman-Firman Tuhan tersebut. Hanya berhenti sampai membaca tapi tidak menjadi pelaku Firman itu akan menjadikan semuanya sia-sia saja. Dan Yakobus sudah mengingatkan hal itu. "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (Yakobus 1:22).

Ada yang hanya suka membaca Firman tapi terlalu malas untuk meresapi dan merenungkan, apalagi melakukan. Dalam beribadah, ada banyak orang yang suka mendengar kotbah tapi tidak mau melakukan. Mereka senang dan tertawa ketika kotbah terdengar lucu tapi tidak berminat menangkap esensi Firman Tuhan yang terkandung di dalam kotbah tersebut, atau malah hanya pindah tidur saja. Tidaklah heran jika sejam setelahnya mereka ini sudah lupa dengan apa yang dikotbahkan, alih-alih mewujudkan Firman yang disampaikan dalam kehidupan sehari-hari. Yehezkiel adalah seorang nabi yang pernah mengalami hal tersebut pada masanya. Ia berbicara dan terus berbicara pada sekelompok orang yang suka mendengar tapi tidak mau melakukan. Dan Tuhan pun berkata pada Yehezkiel: "Dan mereka datang kepadamu seperti rakyat berkerumun dan duduk di hadapanmu sebagai umat-Ku, mereka mendengar apa yang kauucapkan, tetapi mereka tidak melakukannya; mulutnya penuh dengan kata-kata cinta kasih, tetapi hati mereka mengejar keuntungan yang haram. Sungguh, engkau bagi mereka seperti seorang yang melagukan syair cinta kasih dengan suara yang merdu, dan yang pandai main kecapi; mereka mendengar apa yang kau ucapkan, tetapi mereka sama sekali tidak melakukannya." (Yehezkiel 33:31-32). Jemaat yang ada di depan Yehezkiel waktu itu suka mendengar pesan Tuhan. Mereka duduk berkerumun seperti kita yang tengah mengikuti ibadah hari Minggu di gereja. Mereka familiar dengan suara Tuhan, bahkan mereka bisa mengatakan kata-kata berisikan cinta kasih, tetapi sesungguhnya semua itu hanya berhenti di telinga dan paling jauh di bibir saja. Mereka terus mencari keuntungan dengan hal-hal yang haram, mereka tetap tidak menuruti atau melakukan Firman yang mereka dengar tersebut. Apa yang mereka perbuat dalam kehidupan nyata mereka sehari-hari tidaklah mencerminkan apa yang mereka dengar sama sekali. Mereka hanya suka mendengar Yehezkiel menyampaikan Firman Tuhan, tapi semua berlalu begitu saja.

Ingatlah bahwa iman tanpa perbuatan adalah iman yang kosong (Yakobus 2:20), bahkan dikatakan berarti mati. (ay 26). Adalah baik apabila kita rajin membaca firman Tuhan, tapi jauh lebih baik lagi jika kita mau melakukannya. Menjadi pelaku Firman akan membuat iman kita hidup dan mengalami Tuhan dalam setiap langkah kita. Ini merupakan hal yang penting karena kita tidak tahu bagaimana kondisi yang akan kita hadapi dalam setahun ke depan. Dunia semakin sulit, hidup semakin sulit. Dengarlah pesan Kristus berikut ini: "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya." (Matius 7:24-27).

Perhatikan bahwa Yesus tidak berhenti pada perkataan "mendengar", tapi melanjutkan kalimat dengan "melakukannya". Inilah yang akan membuat kita kokoh, kuat, tegar dan mampu bertahan menghadapi badai kesulitan yang menghadang di depan. Kita tidak perlu takut akan masa depan, karena bagi orang yang mendengar dan melakukan selalu ada jaminan penyertaan Tuhan. Di dalam Kristus selalu ada pengharapan, pertolongan dan keselamatan. Perhatikan bahwa janji Tuhan ini tidak tergantung dari besar kecilnya masalah, tidak tergantung dari tingkat kesulitan yang harus kita hadapi. Tidak ada hal yang mustahil bagi Tuhan, dan Dia sanggup mengangkat kita tinggi-tinggi melewati kesulitan ekonomi dan kesulitan lainnya yang sedang menimpa dunia. Jangan berhenti hanya pada komitmen untuk lebih rajin membaca Alkitab, tapi miliki tekad untuk melakukan firman Tuhan dengan lebih dalam pula. Berjalanlah dan hiduplah sebagai pelaku firman agar kita semua mampu melewati hari-hari kita dengan penuh sukacita bersama Tuhan.

Jangan biarkan Firman Tuhan berlalu hanya bagai lagu yang merdu tanpa makna, tetapi hidupilah dalam setiap langkah yang kita ambil

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, March 14, 2013

Surat Cinta dari Tuhan

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 104:31
========================
"Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!"

Berteman dengan banyak fotografer membuat saya bisa melihat foto-foto pemandangan yang unik dan sangat menakjubkan hasil jepretan mereka. Itu sangat berbeda jika saya yang memotret. Bukan saja karena gear atau perangkat kamera mereka yang hebat, tapi sebagai fotografer mereka bisa mengambil angle, menangkap momen, mengatur fokus dan sebagainya yang bisa menghasilkan sebuah fotografi yang bisa berbicara banyak mengenai keindahan. Banyak dari mereka yang pergi ke banyak tempat-tempat baru bahkan yang terpencil seperti hutan dan sebagainya untuk memotret alam disana, dan itu semua memang mencengangkan. Beda tempat, beda nuansanya, beda tumbuhannya dan beda indahnya. Sunset di Bali terlihat berbeda dengan sunset di atas gunung Bromo, itu misalnya. Bagi saya, foto-foto ini menjadi seperti sebuah surat cinta tersendiri dari Tuhan untuk kita, anak-anakNya.

Di tengah perjuangan kita di dunia ini, kita sering lupa menyadari bahwa alam semesta ini diciptakan Tuhan begitu indahnya. Bintang-bintang berkelip, bulan purnama, langit biru diselimuti awan putih, rerumputan hijau dengan bunga warna warni mekar dimana-mana dan sebagainya. Semua itu tentu sangat indah untuk kita nikmati, tapi kesibukan dan berbagai beban hidup membuat kita jarang punya waktu untuk menikmati hasil ciptaanNya yang indah itu. Kita seringkali terlalu sibuk kepada permasalahan kita, kita berkeluh kesah dan mengira Tuhan berlama-lama untuk melakukan sesuatu, padahal jika kita mau mengambil waktu sebentar untuk melihat sekeliling kita, maka kita akan menyadari bahwa Tuhan sebenarnya telah melakukan begitu banyak hal yang indah bagi kita. Seperti keindahan alam misalnya, bukankah itu juga berkat yang luar biasa dari Tuhan yang seharusnya kita syukuri?

Meski kamera belum ditemukan pada masa Daud, tapi mungkin apa yang dilihat Daud kurang lebih sama dengan apa yang ditangkap oleh para teman-teman fotografer lewat lensa kameranya. Ketika Daud menuliskan Mazmur 104 misalnya, mungkin ia sedang mengagumi keindahan alam yang tersaji di depannya. Rasanya itu yang ia alami pada saat itu karena dalam Mazmur ini ia menggambarkan keindahan alam ciptaan Tuhan dengan sangat puitis. Alam yang indah itu jelas merupakan buah tangan Tuhan, sebuah bukti keiahian Tuhan yang bisa kita saksikan dengan amat sangat nyata. Hal tersebut disinggung Paulus pada suatu kali. "Sebab apa yang tidak nampak dari pada-Nya, yaitu kekuatan-Nya yang kekal dan keilahian-Nya, dapat nampak kepada pikiran dari karya-Nya sejak dunia diciptakan, sehingga mereka tidak dapat berdalih." (Roma 1:20). Daud begitu mengagumi apa yang ia lihat, sehingga ia pun berkata "Biarlah kemuliaan TUHAN tetap untuk selama-lamanya, biarlah TUHAN bersukacita karena perbuatan-perbuatan-Nya!" (Mazmur 104:31).

"Biarlah Tuhan bersukacita karena perbuatan-perbuatanNya, lewat ciptaan-ciptaanNya.." kata Daud. Tapi melihat apa yang terjadi hari-hari ini rasanya tidak akan bisa membuat Tuhan tetap bisa bersukacita lewat ciptaan-ciptaanNya. Lihatlah bagaimana manusia terus saja merusak kelestarian lingkungan. Buang sampah sembarangan, sungai-sungai tercemar limbah industri dan buangan dari rumah-rumah pemukiman penduduk, asap yang keluar dari knalpot kendaraan dan pabrik-pabrik, penebangan liar, semua itu merusak segala keindahan yang Tuhan sediakan bagi kita. Kerusakan lingkungan membuat dunia ini semakin lama semakin hancur. Manusia yang diciptakan Allah secara istimewa ternyata tidak menghargai dan mensyukuri karya Penciptanya. Mereka membuang dan merobek-robek surat cinta dari Tuhan. Selain merusak lingkungan, menghancurkan ekosistem dan lain-lain, manusia pun masih sanggup saling membinasakan satu sama lain. Padahal semua manusia ini ciptaan Tuhan, yang berharga dimataNya. Tapi di mata sesama manusia, nyawa itu tidaklah penting, letaknya masih sangat jauh di bawah ego dan kepentingan diri sendiri. Dia sudah begitu baik dengan menganugerahkan keselamatan kepada kita lewat Kristus, tapi kita begitu sulit untuk sekedar menghargai kebaikanNya. Jika semua ini terjadi, bagaimana Tuhan bisa bersukacita karena perbuatan-perbuatanNya?

Segala yang ada di alam semesta merupakan ciptaan Tuhan yang luar biasa indahnya. Itu adalah anugerah yang amat besar yang telah ia sediakan sebelum Dia menciptakan manusia, agar ketika manusia hadir, keindahan itu bisa dinikmati secara langsung. Tuhan menyatakan bahwa apa yang Dia ciptakan adalah baik. Tanaman, pohon-pohon berbuah, tunas-tunas muda, itu diciptakan dengan baik (Kejadian 1:11-12). Matahari, bulan dan bintang, cakrawala, semua itu diciptakan Tuhan dengan baik. (ay 14-18). Segala jenis hewan, baik burung-burung di udara, ikan-ikan di laut dan hewan-hewan darat, semua Dia ciptakan dengan baik. (ay 20-22). Dikatakan bahwa bumi beserta segala isinya adalah milik Tuhan (Mazmur 24:1), tapi otoritas untuk menguasai diberikan kepada kita. (Kejadian 1:28). Menguasai bukanlah berarti bahwa kita boleh bertindak semena-mena dan merusak seenaknya, it's not meant to be the right to be abusive, tapi justru sebaliknya, kita diminta untuk menjaga dan melestarikan alam dan lingkungan hidup. Tuhan menitipkan itu semua kepada kita. Idealnya kita bersyukur. Idealnya kita bersukacita bersama-sama dengan Tuhan menikmati segala keindahan itu. Tapi apakah kita sudah melakukannya? Apakah Tuhan bisa bersukacita atas segala ciptaanNya hari ini? Apakah surat cinta dari Tuhan itu sudah kita tanggapi dengan sepantasnya?

Foto yang diambil teman-teman fotografer saya adalah gambaran kasih Tuhan yang sungguh besar buat kita. It's the love letter from God. Saya bersyukur jika hari ini masih bisa melihat alam yang indah seperti itu dari berbagai belahan dunia lewat jepretan mereka. Apakah anak cucu kita kelak masih bisa menyaksikannya? Tuhan menitipkan milikNya kepada kita untuk dikelola, dijaga, dilestarikan dan dikembangkan. Jika kita mau melakukannya, disanalah Allah akan bersukacita melihat seluruh ciptaanNya di muka bumi ini dapat saling bekerjasama dalam menghormati hasil karyaNya yang agung. Jika anda melihat sekeliling anda hari ini dan masih mendapati sesuatu yang indah, bersyukurlah untuk itu dan mari kita jaga bersama-sama agar anak cucu kita kelak masih bisa menyaksikan keindahan seperti yang kita lihat saat ini.

Alam yang indah merupakan milik Tuhan yang dititipkan kepada kita untuk dilestarikan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker