Friday, November 30, 2012

Emas Murni

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Petrus 1:7
===========================
"Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya."

Orang awam mengenal emas dalam bentuk perhiasan-perhiasan. Padahal emas yang sudah dibentuk itu biasanya sudah dicampur dengan logam lain sehingga bentuknya bisa lebih keras. Emas yang murni sebenarnya merupakan logam yang lembut, berkilat, berwarna kuning yang menarik, mudah di tempa dan lentur. Dari sebuah artikel yang pernah saya baca, sebuah proses pemurnian emas biasanya dilakukan lewat proses pembakaran. Caranya adalah dengan membakar emas hingga mencair. Ketika emas sudah cair dalam suhu tinggi itu, berbagai kotoran yang melekat padanya seperti debu, karat dan unsur-unsur logam lain akan naik ke permukaan, sehingga semua kotoran ini bisa diambil untuk disingkirkan. Kemudian panas api dinaikkan dan kotoran-kotoran yang masih tertinggal akan naik ke permukaan untuk dibuang. Demikianlah proses ini dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya diperoleh emas yang benar-benar murni, bebas dari segala kotoran dan campuran logam lainnya. Dari proses pembakaran itu akan jelas terlihat mana emas yang murni, mana yang masih dipenuhi oleh kotoran-kotoran yang mengurangi kadar kemurnian emas tersebut. Dan harga emas murni jelas jauh di atas emas dalam bentuk-bentuk perhiasan yang banyak dijual dipasaran.

Demikian pula iman kita. Ada kalanya Tuhan mengijinkan kita masuk dalam proses lewat serangkaian ujian. Itu bukan ditujukan untuk menyiksa kita, namun untuk memurnikan iman kita. Seperti halnya emas diproses hingga menjadi emas murni, iman kita pun terkadang harus terlebih dahulu melalui proses pemurnian lewat pencobaan-pencobaan yang mungkin rasanya sangat menyakitkan seperti dibakar agar bisa menjadi murni. Seperti halnya emas yang dimasukkan ke dalam api hingga kelihatan murni dan tidaknya, iman kita pun akan kelihatan kemurniannya lewat berbagai pencobaan. Reaksi dan tindakan dalam menghadapi permasalahan dan pergumulan hidup itu bisa menjadi tolok ukur tingkat keimanan seseorang. Bagaimana mungkin seseorang mengaku memiliki iman besar jika menghadapi masalah kecil saja sudah bersungut-sungut, takut, khawatir atau bahkan menyerah? Orang yang beriman teguh akan selalu tegar, karena mereka percaya penuh pada rancangan Tuhan beserta penyertaanNya dalam setiap aspek kehidupannya.

Pada jaman Petrus, menjadi orang Kristen waktu itu tidak mudah. Ada banyak tekanan dan ancaman yang setiap saat mengancam nyawa orang percaya. Maka Petrus pun merasa perlu untuk mengingatkan akan manfaat dari pencobaan, agar orang-orang percaya mampu tegar menghadapi itu semua. Petrus memulainya dengan ayat yang mengingatkan esensi hidup dalam Kristus. "Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu." (1 Petrus 1:3-4). Sebuah hidup yang penuh dengan pengharapan, yang dipersiapkan untuk menerima bagian Surgawi yang kekal, itu disediakan lewat Yesus Kristus. Petrus mengingatkan agar jemaat tetap kuat ketika menghadapi bermacam-macam pencobaan. Bukan hanya kuat, tapi ia menasehati supaya bergembira. "Bergembiralah akan hal itu, sekalipun sekarang ini kamu seketika harus berdukacita oleh berbagai-bagai pencobaan." (ay 6). Mengapa kita harus tetap bergembira ditengah-tengah permasalahan hidup? Petrus menjelaskan demikian: "Maksud semuanya itu ialah untuk membuktikan kemurnian imanmu--yang jauh lebih tinggi nilainya dari pada emas yang fana, yang diuji kemurniannya dengan api--sehingga kamu memperoleh puji-pujian dan kemuliaan dan kehormatan pada hari Yesus Kristus menyatakan diri-Nya." (ay 7). Perhatikan bahwa Petrus pun membandingkan proses pemurnian iman dengan proses pemurnian emas. Emas dibakar berkali-kali hingga akhirnya menjadi emas murni yang berharga, sedangkan iman kita jauh lebih berharga dari emas. Emas adalah benda fana, yang tidak kekal, sementara iman kita akan membawa kita kedalam keselamatan jiwa yang kekal sifatnya. (ay 9). Jelaslah bahwa iman kita jauh lebih berharga dari emas. Jika emas saja harus dimurnikan agar bisa menjadi berharga, apalagi iman kita yang bisa membawa kita kepada kehidupan yang penuh sukacita yang kekal sifatnya.

Ayub adalah salah satu tokoh yang mengalami serangkaian penderitaan yang tak terperikan, yang mungkin terasa tidak adil dijatuhkan kepada orang yang setia dan bergaul karib dengan Allah sepanjang hidupnya. Namun pada suatu ketika Ayub pun menyadari bahwa apa yang ia alami adalah sebuah proses pengujian. "Karena Ia tahu jalan hidupku; seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas." (Ayub 23:10). Pesan Petrus yang menguatkan jemaat di masa itu agar tidak goyah ketika menghadapi penderitaan tetap relevan bagi kita hari ini. Apa yang kita alami hari-hari ini pun tidak mudah. Ada banyak ancaman, intimidasi, tekanan yang kita hadapi, belum lagi berbagai bentuk godaan duniawi yang setiap saat bisa merontokkan iman kita. setiap hari kita berhadapan dengan berbagai ujian yang sesungguhnya bisa kita jadikan tolok ukur kemurnian iman kita. Bagaimana kita menyikapi permasalahan akan menjadi ukuran seteguh apa iman kita percaya pada Tuhan. Pencobaan yang terkadang membawa kita ke dalam penderitaan bisa membangkitkan pengharapan dan ketekunan kita serta melatih iman kita agar lebih kuat. Proses "pembakaran" iman kita akan melepaskan segala kotoran yang melekat pada iman kita, sehingga akhirnya kita bisa memiliki sebentuk iman yang murni, seperti emas murni. Semua itu bertujuan untuk kebaikan kita. Kita dipersiapkan agar layak menerima segala janji Tuhan yang sudah disediakanNya bagi kita semua. Itulah sebabnya kita harus bersyukur ketika kita melewati pencobaan. Jangan menyerah dan terburu-buru mencari alternatif yang menyesatkan ketika sedang menghadapi proses pemurnian, karena di ujung proses itu ada kemenangan yang gemilang menanti kita.

Iman yang diuji akan menghasilkan iman seperti emas murni

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Thursday, November 29, 2012

Proses

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Keluaran 13:17
=======================
"Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin..."

Dalam perjalanan hidup saya lengkap dengan naik turun dan jatuh bangunnya, saya menyadari satu hal, yaitu bahwa saya senang melewati proses untuk menuju keberhasilan. In most of the times I'm enjoying the process more than the result. Ada kalanya proses itu mudah, tapi seringkali proses terasa berat, bagai mendaki jalanan terjal dan bisa jadi menyakitkan. Tapi apapun itu, semua itu merupakan proses yang pada akhirnya membentuk saya menjadi siapa diri saya hari ini. Kita tentu ingin hasil instan, langsung berhasil, langsung sukses. Tapi dari pengalaman saya, sesuatu yang instan sulit untuk bertahan lama. Justru sesuatu yang dibangun dengan cucuran keringat dan air mata dalam proses yang bisa jadi butuh waktu panjang, itu akan terasa lebih berharga dan nikmat ketika pada akhirnya menghasilkan buah yang baik. Karena itulah dalam setiap usaha yang saya lakukan, saya menikmati betul prosesnya, termasuk yang pahit-pahit dan berat. Dan tentu saja, saya menyadari betul bahwa Tuhan akan selalu ada bersama saya dalam setiap langkah yang saya ambil dari hari ke hari.

Seringkali Tuhan mengajak kita menempuh jalan 'memutar' ketimbang jalan yang mulus dan lancar atau lebih singkat. Mengapa harus demikian? Itu bertujuan agar kita bisa belajar melewati proses dalam setiap jenjang untuk bisa naik setahap demi setahap. Itu melatih kita agar tidak menjadi orang-orang yang malas dan manja. That's a part of process to shape us up to be a better, winning person. Kita bisa melihat contoh yang sangat menarik akan keputusan Tuhan ini lewat kisah bangsa Israel ketika mereka keluar dari Mesir.

Lewat serangkaian usaha panjang yang penuh liku-liku, bangsa Israel akhirnya mengakhiri masa perbudakan mereka dan dituntun Tuhan sendiri lewat kepemimpinan Musa untuk berangkat menuju tanah yang disediakan Tuhan bagi mereka. Menariknya, Alkitab mencatat awal perjalanan itu sebagai berikut: "Setelah Firaun membiarkan bangsa itu pergi, Allah tidak menuntun mereka melalui jalan ke negeri orang Filistin, walaupun jalan ini yang paling dekat; sebab firman Allah: "Jangan-jangan bangsa itu menyesal, apabila mereka menghadapi peperangan, sehingga mereka kembali ke Mesir. Tetapi Allah menuntun bangsa itu berputar melalui jalan di padang gurun menuju ke Laut Teberau. Dengan siap sedia berperang berjalanlah orang Israel dari tanah Mesir." (Keluaran 13:17-18). Lihatlah bahwa Tuhan bisa membawa mereka lewat jalan yang jauh lebih dekat, tapi Tuhan ternyata memutuskan untuk membawa mereka memutar lewat jalan yang harus ditempuh sampai 40 tahun lamanya. Jalan yang sulit, penuh penderitaan, lewat gurun dengan panas menyengat di siang hari dan sangat dingin di malam hari. Mengapa harus begitu? Dari ayat tadi kita bisa melihat bahwa Tuhan tahu apabila bangsa itu terlalu cepat tiba di tanah Kanaan dengan mudah, mereka akan mudah melupakan penyertaan Tuhan dan dengan demikian mereka akan terlena dan tidak menghargai sesuatu yang besar yang Tuhan berikan kepada mereka. Jadi bangsa Israel dianggap perlu untuk dipersiapkan agar bisa menjadi bangsa yang besar, mandiri dan tahu bersyukur saat mereka masuk ke tanah yang berlimpah madu dan susunya alias sangat subur itu. Jika kita baca ayat-ayat berikutnya, kita akan tahu bahwa meski perjalanan itu sangat berat dan penuh tantangan, Tuhan tetaplah ada bersama mereka, menyertai dan menolong mereka di dalamnya. "TUHAN berjalan di depan mereka, pada siang hari dalam tiang awan untuk menuntun mereka di jalan, dan pada waktu malam dalam tiang api untuk menerangi mereka, sehingga mereka dapat berjalan siang dan malam.Dengan tidak beralih tiang awan itu tetap ada pada siang hari dan tiang api pada waktu malam di depan bangsa itu." (ay 21-22). Berkali-kali pula dalam kesempatan lain Tuhan menunjukkan bantuannya yang luar biasa. Misalnya menurunkan manna dari surga, membelah danau Teberau dan lain-lain. Artinya, meski perjalanan 40 tahun itu sangat berat, Tuhan menunjukkan bahwa Dia tetap ada beserta mereka sepanjang perjalanan. He wanted them to go through a process, but He would be with them all the way, helping them until they reached the destination.

Apakah bangsa Israel mau belajar dari proses ini? Ternyata bukannya bersyukur meski sudah tahu tujuan dari apa yang diberikan Tuhan, mereka malah menunjukkan sikap negatif dengan terus protes dan bersungut-sungut berulang kali sepanjang perjalanan. Lihatlah beberapa diantaranya: "dan mereka berkata kepada Musa: "Apakah karena tidak ada kuburan di Mesir, maka engkau membawa kami untuk mati di padang gurun ini? Apakah yang kauperbuat ini terhadap kami dengan membawa kami keluar dari Mesir? Bukankah ini telah kami katakan kepadamu di Mesir: Janganlah mengganggu kami dan biarlah kami bekerja pada orang Mesir. Sebab lebih baik bagi kami untuk bekerja pada orang Mesir dari pada mati di padang gurun ini." (Keluaran 14:11-12), "Di padang gurun itu bersungut-sungutlah segenap jemaah Israel kepada Musa dan Harun; dan berkata kepada mereka: "Ah, kalau kami mati tadinya di tanah Mesir oleh tangan TUHAN ketika kami duduk menghadapi kuali berisi daging dan makan roti sampai kenyang! Sebab kamu membawa kami keluar ke padang gurun ini untuk membunuh seluruh jemaah ini dengan kelaparan." (16:2-3), dan banyak lagi. Kalau 40 tahun diproses saja masih begitu mentalnya, bagaimana kalau mereka mendapatkannya dengan mudah? Tentu mereka makin tidak tahu menghargai pemberian Tuhan. Lantas harus berapa tahun lagi mereka diproses? 80 tahun? 100 tahun? Itu semua karena sikap bandel, tegar tengkuk atau keras kepala mereka. Kita pun sama. Daripada harus melalui tahapan keras yang lama, mengapa kita tidak melembutkan hati dan menjalaninya dengan taat saja? Semua itu tetap untuk kebaikan bagi kita sendiri. Itu adalah proses untuk menjadikan kita orang-orang yang layak dihadapanNya.

Seringkali Tuhan sengaja membawa kita lewat 'jalan memutar'. Bentuknya bisa berbagai rupa. Bisa lewat masalah-masalah yang Dia ijinkan untuk masuk ke dalam hidup kita, berbagai bentuk kegagalan, kekalahan atau tekanan-tekanan lainnya. Semua ini mungkin bisa membuat kita bersungut-sungut, kecewa atau bahkan marah seperti halnya bangsa Israel. Tetapi kita bisa melihat bahwa itu tidaklah produktif dan tidak berguna, malah hanya akan menambah masalah bagi kita sendiri. Kita harus mengerti bahwa semua itu untuk kebaikan kita juga. Jadi jangan menyerah, taatlah dan tetaplah berpegang dengan pengharapan kuat kepada Allah. Biar bagaimanapun, seperti yang Dia tunjukkan kepada bangsa Israel pada masa itu, Dia tetap menyertai kita dan menolong kita dengan berbagai caraNya yang ajaib dalam setiap proses tersebut. Allah bahkan sudah berkata, meski dalam lembah kekelaman sekalipun kita tidak perlu takut, sebab Tuhan selalu ada beserta kita dengan pertolongan dan penghiburan dariNya. Itulah yang disadari Daud yang berkata: "Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku." (Mazmur 23:4). Tuhan ingin kita melewati proses penempaan dan pembentukan, tapi Jadi jika anda tengah menjalani proses saat ini, janganlah menyerah. Jalani semuanya dengan sikap tetap bersyukur dan percaya sepenuhnya kepada rencana Allah. Pada saatnya kelak, Tuhan sendiri yang akan menuntun anda keluar, to become a better and winning person.

Berbagai ujian adalah proses yang dilewati bersama Tuhan yang akan menempa kita untuk menjadi lebih sempurna

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, November 28, 2012

Mengeraskan Leher

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 29:1
====================
"Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi."

Bagaimana reaksi kita dalam menghadapi teguran atau peringatan? Ada banyak orang yang langsung merasa harga dirinya diinjak-injak. Mereka langsung sakit hati, memendam rasa dendam dan sebagainya, bahkan tidak jarang pula yang kemudian melakukan hal-hal bodoh yang fatal. Di sisi lain, ada orang-orang yang sudah begitu terbiasa melakukan kesalahan, sehingga mereka tidak lagi merasa terganggu dengan itu. Apakah Tuhan mengingatkan kita, mengetuk pintu hati kita setiap kita berbuat salah? Tentu saja ya. Apakah itu lewat hati nurani, lewat Firman yang kita baca, lewat kotbah, lewat orang lain dan lain-lain, Tuhan selalu menegur atau mengingatkan kita ketika kita melenceng dari jalur yang benar. Jika kita terus berjalan dengan baik, biasanya kita akan gelisah atau merasa sulit hidup tenang ketika melakukan suatu kesalahan. Saya katakan jika kita terus memilih untuk berjalan dengan baik, karena ada kalanya seseorang mulai kehilangan kontrol atas dirinya. Seringnya berbuat dosa membuat mereka tidak lagi peka, tidak lagi merasa bersalah atau menyesal setelah melakukan sesuatu yang jahat. Hati bisa membeku dan membatu, membuat kejahatan menjadi hal yang biasa.

Sebagian orang mempunyai pemikiran yang naif bahwa mereka bisa menunda-nunda untuk mematuhi peringatan Tuhan dengan berbagai alasan. Kita mengira kita bisa sesukanya mengatur kapan kita mau bertobat dan kapan kita memilih untuk terus bersenang-senang dahulu melangkahi semua pesan dan peringatan Tuhan. Betapa kelirunya kita jika mengira bahwa kita dapat mengabaikan saja bila pengarahan Roh Kudus menghampiri kita, dan kemudian mematuhinya kelak sesuka hati kita. Kenyataannya banyak orang percaya yang melakukan hal ini. Mereka tahu mereka tidak melakukan hal yang benar. Mereka sadar gaya hidupnya tidak benar, tapi mereka berpikir untuk membiarkan itu buat sementara waktu, dan nanti pada saatnya mereka akan membereskannya dengan Tuhan, entah kapan. Jika anda memiliki pemikiran seperti itu, berhati-hatilah. Sebab firman Tuhan hari ini berkata "Siapa bersitegang leher, walaupun telah mendapat teguran, akan sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi." (Amsal 29:1). Dalam bahasa Inggris, kata 'bersitegang leher' disebutkan sebagai "hardens his neck", mengeraskan leher mereka. Dalam bahasa Inggris kata to harden the neck artinya to grow obstinate; to be more and more perverse and rebellious.

Ketika kita mendapat teguran lalu memilih untuk mengeraskan leher kita, mengabaikan teguran itu dan terus melanjutkan perbuatan tidak benar, maka yang terjadi adalah hati kita bisa menjadi keras. Bukan karena anugerah Tuhan tidak sampai menjangkau kita, bukan pula Tuhan menolak mengampuni kita jika kita berbalik padaNya, tapi dosalah yang sudah mengeraskan hati kita hingga kita tidak lagi dapat mendengar suaraNya memanggil, mengingatkan dan menegur kita. Tidak heran jika dikatakan "sedangkan orang jahat dan penipu akan bertambah jahat, mereka menyesatkan dan disesatkan." (2 Timotius 3:13). Terbiasa jahat akan membuat orang akan terus bertambah jahat. Orang yang terbiasa sesat akan semakin sesat. Orang-orang seperti ini akan saling menyesatkan dan disesatkan. Semua itu karena tidak ada lagi kontrol dalam diri mereka akibat kerasnya dosa yang sudah membatu menutupi hatinya.

Bangsa Israel di masa lalu merupakan contoh tepat akan hal ini. Berkali-kali Tuhan menunjukkan penyertaanNya secara nyata, berkali-kali pula mereka menunjukkan sikap tidak tahu berterimakasih dan terus menerus mengecewakan Tuhan. Dibebaskan dari perbudakan, mereka malah sinis karena merasa sulit untuk melalui padang gurun di alam kemerdekaan. Diberikan tanah terjanji yang begitu subur dan melimpah madunya bukannya bersyukur tapi malah pesimis. Setelah menerima, mereka malah merasa karena mereka luar biasa hebatnya maka mereka bisa mendapatkan itu. Ini sikap-sikap yang sangat keterlaluan. Inilah bentuk kekerasan tengkuk orang Israel di masa itu. Tidak salah jika Tuhan kemudian marah kepada mereka. Maka Tuhan pun menghardik mereka yang tidak kunjung berubah. "Jadi ketahuilah, bahwa bukan karena jasa-jasamu TUHAN, Allahmu, memberikan kepadamu negeri yang baik itu untuk diduduki. Sesungguhnya engkau bangsa yang tegar tengkuk!" (Ulangan 9:6).

Berbagai alasan mungkin mudah kita jadikan pembelaan diri atau pembenaran untuk tidak mematuhi Tuhan saat ini. Alasan masih muda, belum waktunya, sedang enak-enaknya menikmati yang ditawarkan dunia, ingin balas dendam kepada seseorang, dan sebagainya, itu dipakai untuk meminta kelonggaran untuk berbalik jalan kembali kepada Tuhan. Tapi ingatlah bahwa tidak menjadi soal apapun alasan yang kita pakai untuk tidak mematuhi Tuhan, ketidaktaatan tetaplah sebuah ketidaktaatan, dan yang rugi kita sendiri. Itu akan terus mengeraskan hati kita, sehingga jika tidak cepat diatasi hati kita pun bisa tertutup kerak dosa tebal yang membuat kita tidak lagi bisa mendengar kata Tuhan. Dan jika itu sudah kronis, ayat bacaan hari ini memberikan gambaran keras, "sekonyong-konyong diremukkan tanpa dapat dipulihkan lagi."

Oleh karena itu, hendaklah kita belajar dari sikap bangsa Israel dan konsekuensi yang harus mereka tanggung sebagai akibatnya. Jangan bermain api, nanti bisa terbakar. Jangan bermain-main dengan dosa, sesal kemudian tidak berguna. Begitu hati kita lumpuh, kita pun akan habis sia-sia dalam penyesalan tanpa akhir. Jika hari ini anda masih mendengar teguran dan peringatan Tuhan, jangan tunda lagi untuk segera berbalik, melakukan pertobatan sebelum semuanya terlambat. Firman Tuhan berkata: "Sebab itu, seperti yang dikatakan Roh Kudus: "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman pada waktu pencobaan di padang gurun" (Ibrani 3:7-8). Jangan keraskan terus hati, karena itu akan membangkitkan amarah Allah seperti halnya yang terjadi pada bangsa Israel di jaman Musa. "di mana nenek moyangmu mencobai Aku dengan jalan menguji Aku, sekalipun mereka melihat perbuatan-perbuatan-Ku, empat puluh tahun lamanya. Itulah sebabnya Aku murka kepada angkatan itu, dan berkata: Selalu mereka sesat hati, dan mereka tidak mengenal jalan-Ku," (ay 9-10). Berbaliklah segera, mulailah untuk hidup benar dan saling menasihatilah satu sama lain. "Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan "hari ini", supaya jangan ada di antara kamu yang menjadi tegar hatinya karena tipu daya dosa." (ay 13). Selagi masih ada "hari ini", selagi masih ada kesempatan, bertobatlah segera.

Tuhan memang terus siap memberikan pengampunan dan sudah berjanji untuk memutihkan dosa kita, tidak lagi mengingat-ingat dosa kita dan membuangnya sejauh timur dari barat, tapi jika kita terus menunda-nunda, ada saat dimana kesempatan itu tidak lagi ada. Jika Tuhan hari ini mengingatkan kita, janganlah menunda dengan mengira bahwa lebih mudah melakukannya kemudian. Itu tidak akan pernah lebih mudah, yang ada malah akan menjadi lebih sulit. Jika Roh Kudus hari ini mengoreksi kita, ikutilah segera petunjukNya. Lakukan hari ini juga dan jangan tunggu lebih lama. Jagalah hati kita untuk tetap lembut. Tetap jaga hati kita untuk tetap peka mendengar dan mematuhi serta melaksanakan petunjuk Tuhan. Pastikan agar kita tidak menjadi orang-orang yang mengeraskan leher alias menjadi orang-orang yang tegar tengkuk sebelum hukuman itu jatuh pada kita tanpa bisa dipulihkan lagi.

Jangan keraskan hati jika mendengar suara Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Tuesday, November 27, 2012

Berhenti Sejenak

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Mazmur 46:11
=======================
"Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!"

Apabila anda mengendarai mobil lalu terus dan terus memacunya tanpa berhenti sedikitpun, apa yang akan terjadi? Pada suatu ketika mesin mobil itu akan meledak. Mobil yang hanya dipakai tapi tidak dirawat pun tentu akan lebih cepat rusak ketimbang mobil yang teratur diperiksa dan mengalami perawatan. Tubuh kita pun demikian. Cobalah terus bekerja tanpa henti, tanpa tidur, tanpa rehat, anda akan jatuh sakit atau bisa mengalami hal-hal yang tidak diinginkan. Orang yang kurang istirahat akan cenderung lebih cepat terpancing emosi, labil moodnya dan sulit konsentrasi ketimbang orang yang sudah melakukan istirahat yang cukup. Kita memang harus berbuat sebaik-baiknya dalam bekerja, belajar atau dalam melakukan berbagai kegiatan positif dalam hidup, tapi ada kalanya kita harus mengambil jeda. Eventually we have to press the pause button to reshape, refreshen or rejuvenate ourselves before continuing our tasks.

Kita harus tahu kapan kita harus 'berhenti' sejenak meski pekerjaan masih menggunung di depan mata. Kalau kita sudah sampai pada batas titik jenuh dan masih memaksakan diri, selain kesehatan kita terancam, hasil yang dicapai pun tidak akan bisa maksimal. Kita bisa cepat merasa marah, muak lalu mengamuk kepada setiap orang, termasuk orang-orang yang sama sekali tidak bersalah apa-apa. Maka dari itu sebelum kita terjebak untuk mengambil tindakan-tindakan yang salah, we should press the pause button and take a break. Ada waktu dimana kita harus bekerja, ada saat dimana kita harus terus melakukan sesuatu, tapi ada pula saat-saat dimana kita harus berhenti sejenak. Ada saat untuk bicara, tapi ada pula saat untuk diam. Dalam mengontrol emosi pun demikian. Ketika suasana sudah begitu menyesakkan dan anda merasa ingin mengamuk, itu tandanya anda harus menekan tombol pause atau bahkan stop sejenak agar emosi anda tidak makin membara tapi bisa berangsur turun. Masalah mungkin belum selesai, tugas-tugas mungkin masih banyak, peperangan atau pergumulan masih akan terus berlangsung, tapi ada saatnya kita harus berhenti sejenak sebelum kita mengambil tindakan yang keliru dan hanya dilandasi oleh emosi belaka. Sebuah Firman Tuhan pun mengingatkan kita akan hal ini. "Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mazmur 46:11). Let be and be still, and know that I am God. Berhentilah sejenak, diamlah, dan renungkan bahwa ada Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu yang sedang ada bersama kita.

Kisah kunjungan Yesus ke rumah Maria dan Marta menggambarkan hal ini dengan baik. Yesus datang berkunjung ke rumah mereka. Kunjungan dari Yesus? Betapa istimewanya! Marta pun segera sibuk melakukan dan mempersiapkan segala sesuatu untuk melayani Yesus. Tapi kita tahu Maria justru melakukan yang sebaliknya. Tidak seperti Marta, Maria memilih untuk duduk diam di dekat kaki Tuhan Yesus untuk terus mendengarkan perkataanNya. (Lukas 10:39). Ketika Marta protes dan menganggap Maria seolah-olah tidak peduli, Yesus pun berkata: "Marta, Marta, engkau kuatir dan menyusahkan diri dengan banyak perkara, tetapi hanya satu saja yang perlu: Maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil dari padanya." (ay 41-42). Kita pun sering berlaku seperti ini. Kita sibuk melakukan segala sesuatu semampu kita, dan terus merasa kesal apabila situasi tidak kunjung menjadi baik meski kita sudah mati-matian berusaha mengatasinya. Kita terus berusaha dan berusaha lewat segala daya upaya dan cara, tapi sayangnya kita lupa bahwa ada waktu dimana kita harus berhenti dan kemudian mendatangi Tuhan, berdiam di hadiratNya untuk mendengar suaraNya. That's the thing that we tend to forget when we are too busy.

Mari lihat sekali lagi pesan Tuhan hari ini yang sesungguhnya sangat jelas."Diamlah dan ketahuilah, bahwa Akulah Allah! Aku ditinggikan di antara bangsa-bangsa, ditinggikan di bumi!" (Mazmur 46:11). Take a break, be still, and look up to God. Lihatlah Yesus, Dia pun luar biasa sibuknya melayani dalam rentang waktu yang sangat singkat sebelum harus menjalani karya penebusanNya bagi kita. Tapi meski demikian, Yesus tahu bahwa ada waktu-waktu khusus yang harus Dia ambil untuk mendengar suara Bapa. Yesus bisa melakukannya di pagi hari : "Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana." (Markus 1:35) atau di malam hari, "Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ." (Matius 14:23). Juga ketika beban tekanan yang memuncak menjelang penangkapanNya sempat membuat Yesus merasa sangat takut. Disaat seperti itupun Yesus memilih untuk berhenti dan berdoa kepada Bapa seperti yang dilakukanNya di taman Getsemani. (Matius 26:36-46). Perhatikan bagaimana nyata perbedaan sebelum dan sesudah Yesus berdoa. Yesus tahu kapan Dia harus kembali 'me-recharge' diriNya agar bisa kembali melakukan segala sesuatu tepat seperti keinginan Bapa. Seperti itu pula kita seharusnya.

Kita harus tahu kapan harus jalan, kapan harus lari, tapi juga harus tahu kapan harus berhenti. Kita harus memiliki kemampuan untuk itu. Kemampuan untuk tahu kapan harus berhenti sangat erat kaitannya dengan kekuatan untuk mengontrol diri, emosi maupun untuk mawas diri. Sebelum situasi menjadi tidak terkontrol lagi, kinerja menurun atau kita melakukan hal-hal yang destruktif baik dalam aktivitas maupun kepada diri sendiri, kita perlu mengambil waktu untuk berdiam sejenak, duduk diam dalam hadiratNya dan mendengar suaraNya. Ambil contoh kecil di pagi hari. Daripada langsung stres memikirkan serangkaian tugas menumpuk hari ini, mengapa tidak mengambil waktu sejenak untuk bersaat teduh? Seperti yang saya sebut dalam renungan kemarin, bukankah Tuhan menjanjikan rahmatNya yang baru setiap pagi? (Ratapan 3:21-23). Mengapa hal seindah itu harus kita lewatkan dan lebih memilih untuk membiarkan diri kita hidup dalam ritme 'chaos' tanpa sukacita sejak pagi hari? Jika itu anda lakukan, anda akan merasakan sendiri bahwa itu akan membuat segalanya jauh lebih baik dan mengarahkan anda untuk mencapai hasil yang terbaik dan maksimal.

Be still, and know that He is such a loving Father.

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, November 26, 2012

Rahmat Yang Baru Setiap Pagi

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Ratapan 3:21-23
====================
"Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!"


Adakah diantara teman-teman yang hari ini merasakan kelelahan dan penat luar biasa akibat aktivitas yang anda lakukan? Apakah itu dalam pekerjaan, pelayanan atau bagi yang masih belajar mungkin lelah ditimbun setumpuk tugas yang tampaknya tidak ada habisnya. Saya mengalami hal tersebut akhir-akhir ini, dan betapa saya ingin bisa bangun dengan segar, dengan kekuatan dan semangat baru jika saya tidur dalam keadaan lelah malam hari. A brand new day with a brand new freshness, brand new strength, and of course brand new blessings. Bukankah itu yang kita butuhkan disaat kita merasa begitu capai? Sekarang pertanyaannya, is there any such thing in this life? Jawabannya, yes there is! Tuhan sudah menjanjikan langsung hal seperti itu, dan karenanya itu bukanlah sebuah utopia atau harapan yang tak kunjung ada. Semua itu mungkin, semua itu Dia sediakan bagi kita. Praise the Lord for that!

Disaat tumpukan kegiatan terasa menyiksa, anda pun akan merasa sukacita anda seolah terampas sejak anda bangun pagi. Begitu bangun anda melihat jam, lalu berkata: "aduh saya sudah terlambat! saya seharusnya sudah berangkat sekarang!" atau "aduh, deadline hari ini, tapi belum selesai..." dan sebagainya. Ini bisa dan seringkali menjadi isi dari pikiran kita ketika bangun. Sekarang pikirkanlah alangkah sayangnya apabila semua perasaan itu membuat kita tidak lagi merasakan berkat Tuhan yang baru setiap pagi. Setiap pagi? Ya, firman Tuhan berkata setiap pagi. Artinya ada rahmatNya tercurah, turun disaat kita hendak memulai sebuah hari yang baru. No matter what, no matter how, He will provide it all for us with all His love. Seperti itulah indahnya hidup bersamaNya. Begitu kita bangun, ada rahmat Tuhan yang langsung menyapa kita. Anda lelah tadi malam, pagi ini anda segar dengan kekuatan baru, semangat baru, gairah baru dan tentu saja berkat yang baru. Bukan sisa kemarin, bukan nanti bakal dikasih, tetapi sesuatu yang baru, setiap pagi. Bukankah itu luar biasa indahnya? Itulah yang dijanjikan Tuhan, yang sayangnya akan kita lewatkan apabila kita tidak menyadari itu dan lebih memilih untuk memulai hari dengan setumpuk pikiran rumit, kegelisahan, gerutu dan sebagainya.

Ayat yang menyatakan itu tertulis jelas dalam Alkitab yang bunyinya seperti ini:  "Tetapi hal-hal inilah yang kuperhatikan, oleh sebab itu aku akan berharap: Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (Ratapan 3:21-23). Sang Penulis kitab ini tahu kemana ia harus mengarahkan fokusnya ditengah timbunan agenda atau kesibukan yang terkadang bisa begitu menyiksa. Ia menyadari betul bahwa kasih setia Tuhan itu tiada terbatas dan begitu besar buat kita. Rahmat Tuhan pun demikian, tidak ada habisnya, dan selalu baru setiap pagi. All provided fresh and new every morning. Jika demikian, mengapa kita harus ragu-ragu dalam menaruh pengharapan kepadaNya? Inilah yang seharusnya kita ingat agar kita bisa memulai hari baru dengan sukacita penuh tanpa terganggu oleh beban pikiran atau kesibukan yang sebentar lagi akan kita lakukan. Jadi jelas bahwa kita harus mengingatkan diri kita tentang kesetiaan dan kebaikan Tuhan setiap pagi.

Anda bisa membuka Mazmur 103 saja untuk mengintip segala kebaikan Tuhan yang Dia janjikan dan sediakan bagi kita. Dia menjanjikan pengampunan dosa (ay 3), kesembuhan (3),  penebusan (4), penobatan dengan mahkota kasih setia dan rahmat (4), pemenuhan kebutuhan kita dengan hal-hal yang baik sehingga kita awet muda seperti burung rajawali (ay 5).Tuhan menyediakan keadilan dan hukum bagi orang tertindas, Dia ingin memerdekakan kita (ay 6), menyatakan rencanaNya atau jalan-jalanNya (ay 7), menyatakan diriNya sebagai penyayang, pengasih, panjang sabar dan punya kasih setia berlimpah (ay 8) dan sebagainya. Baru dari satu penggalan dalam Alkitab saja kita sudah bisa melihat bagaimana kebaikan Tuhan yang Dia siapkan bagi kita. Ini baru secuil dari begitu banyak ayat yang menyatakan kebaikanNya. Semua itu Dia janjikan hadir bagi diri kita dalam keadaan baru setiap pagi, fresh and new every morning.

Seandainya semua itu masih kurang, lihatlah ayat dalam Yesaya 40:31 berikut ini: "tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah." Orang yang menanti-nantikan Tuhan dengan taat dan tekun akan mendapatkan kekuatan baru. Mereka, atau kita, akan seperti burung rajawali yang terbang mengatasi badai dengan sepasang sayap yang kuat, tidak akan gampang lelah meski yang dihadapi adalah badai yang berat sekalipun. Ini merupakan janji-janji Tuhan yang akan sangat meneguhkan dan menguatkan kita terlebih di saat beban berat yang membuat kita kelelahan menerpa kita hari-hari ini.

Pastikanlah diri anda untuk mengingat semua ini setiap pagi, dan mengucap syukurlah akan semua kebaikan Tuhan itu ketika anda bangun. Terus ingatkan jiwa anda untuk menyadari betapa baiknya Tuhan itu, dan segera gantikan segala kegelisahan atau beban-beban pikiran yang biasa mengganggu anda di pagi hari. Jangan pernah lupakan rahmatNya yang baru yang Dia limpahkan sebagai anugerah yang luar biasa bagi anda. Pertahankan terus sehingga anda akan mampu terus bertumbuh dengan iman yagn semakin kuat dan subur. Dan tentu saja, anda tidak perlu takut kehabisan tenaga lagi atau malah kehabisan berkat Tuhan, karena Dia akan selalu siap memperbaharuinya tiap pagi. Mengetahui apa saja yang menjadi berkat Tuhan itu baik, tetapi jangan berhenti hanya sampai mengetahui saja. Mari terus mengucap syukur dan pastikan setiap hari anda merasakan kebaikanNya, dan perhatikanlah itu semua agar menjadi nyata dan hidup dalam diri anda.

Rahmat Tuhan tidak terbatas dan selalu baru setiap pagi

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, November 25, 2012

Indikator

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: 1 Korintus 13:4-7
========================
"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu."

Saya pernah membaca sebuah tulisan mengenai tumbuhan indikator. Tumbuhan memiliki sifat dan karakteristik tertentu dan akan sangat dipengaruhi oleh lingkungan dalam pertumbuhannya. Tanaman yang ada di sebuah komunitas atau wilayah tertentu bisa dipergunakan sebagai indikator di lingkungan tersebut, baik untuk melihat ciri atau sifat tanah setempat agar kita dapat menentukan jenis tanaman seperti apa yang bisa diusahakan disana, kandungan jenis logam apa yang ada di area tersebut atau bahkan tanaman bisa pula dipakai sebagai indikator dalam pencemaran lingkungan. Ini semua bisa dipergunakan sebagai bioindikator karena tanaman sudah sangat erat berhubungan dengan habitatnya, apalagi yang sudah lama tumbuh disana. Dalam bekerja kita juga seringkali butuh indikator untuk mengetahui sejauh mana pencapaian kita selama ini. Indikator merupakan sebuah petunjuk atau acuan yang bisa kita jadikan tolok ukur untuk melihat apakah kita sudah berada pada jalur proses yang benar atau tidak.

Inti dari Kekristenan berbicara soal kasih. Seorang pendeta pernah berkata, apabila Alkitab bisa diperas maka kasih-lah yang akan keluar sebagai sarinya. Lebih dari sekedar menyayangi orang-orang terdekat bagi kita, kasih dalam kekristenan haruslah sanggup menjangkau area yang lebih luas lagi hingga sampai kepada orang-orang yang tidak kita kenal atau bahkan musuh kita. Itu akan mampu menjadi indikator yang membedakan kita dengan prinsip-prinsip dunia pada umumnya. Lantas tingkatan kasih seperti apa yang harus kita miliki? Yesus berkata "Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi." (Yohanes 13:34). Kalau kita diminta untuk mengasihi seperti halnya Yesus mengasihi kita, itu artinya kita harus bisa mencapai sebuah tingkatan yang sungguh sangat tinggi. Kita tahu bagaimana bentuk kasih yang dimiliki Kristus. Dia bukan saja menyembuhkan banyak orang dan melakukan mukjizat-mukjizat dimana-mana, tetapi kasih yang dimiliki Kristus bahkan membuatnya rela untuk menjalani penderitaan dan kesakitan hingga mati di atas kayu salib. KasihNya mampu menyentuh semua orang, terutama orang-orang berdosa yang dimusuhi atau dikucilkan masyarakat.

Lewat karya penebusanNya kita dianugerahkan keselamatan, sesuatu yang justru diberikan pada saat kita tengah berlumur dosa. Firman Tuhan mengatakan demikian: "Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa." (Roma 5:8). Ketika Yesus berkata "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya." (Yohanes 15:13), ia tidak berhenti hanya pada wacana saja melainkan sudah melakukannya sendiri, menjadikan diriNya sebagai keteladanan secara langsung. Ini artinya kita diminta untuk mencapai sebuah tingkatan kasih yang jauh lebih besar dari pengertian kasih yang kita ketahui sehari-hari. Ada banyak aspek di dalamnya yang bukan hanya sekedar menyampaikan ungkapan rasa cinta, tetapi di dalamnya juga terdapat pengorbanan, kerelaan untuk menderita dan kesanggupan untuk mengampuni. Ini hal-hal yang sungguh tidak mudah untuk dijalankan, tetapi kasih yang memiliki elemen-elemen seperti itulah yang seharusnya menguasai diri kita dan akan menjawab standar kasih menurut Kerajaan Allah tersebut.

Apakah Alkitab memberi indikator kasih agar kita bisa mengetahui sejauh mana kita berjalan dalam kasih hari ini? Tentu saja. Alkitab sesungguhnya telah memberikan indikator-indikator kasih secara sangat terperinci. Kita bisa melihatnya dalam surat 1 Korintus seperti yang disebutkan dengan detail oleh Paulus. Ayatnya berbunyi sebagai berikut:
"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, sabar menanggung segala sesuatu." (1 Korintus 13:4-7). 

Inilah indikator-indikator kasih itu. Kesabaran, kemurahan hati, tidak cemburu, tidak memegahkan diri, tidak sombong, berlaku sopan, tidak mencari keuntungan sendiri, tidak pemarah, mau mengampuni, tidak mendendam, tidak senang dengan kejahatan, tidak mencari-cari kesalahan orang lain, tahan menghadapi segala sesuatu, mau percaya akan yang terbaik dari setiap orang, hidup dalam pengharapan tanpa henti dan sabar dalam menanggung segala sesuatu. Dengan adanya indikator-indikator ini kita bisa dengan mudah mengetahui apakah kita sedang atau sudah berjalan dalam kasih atau tidak. Jika kita mulai menyimpan amarah dan dendam, ketika kita selalu merasa iri hati terhadap kesuksesan orang lain, menyombongkan diri, lekas menghakimi, pilih kasih dan sebagainya, itu artinya kita belum memenuhi indikator-indikator kasih yang merupakan sebuah kewajiban bagi orang percaya.

Berat? Sulit? Mungkin ya. Tapi selama kita berjalan bersama Tuhan dan tetap dipenuhi Roh Kudus, kasih Allah akan hidup dalam diri kita. Itulah yang akan memampukan kita untuk memenuhi indikator-indikator kasih di atas. Yohanes pun menghimbau kita sebagai anak-anakNya untuk saling mengasihi. "Saudara-saudaraku yang kekasih, marilah kita saling mengasihi, sebab kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah." (1 Yohanes 4:7). Kita tidak bisa mengaku sebagai anak Allah yang mengenal Bapanya apabila kita tidak memiliki kasih dalam diri kita. "Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih." (ay 8). Dan Yohanes pun melanjutkan: "Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi. Tidak ada seorangpun yang pernah melihat Allah. Jika kita saling mengasihi, Allah tetap di dalam kita, dan kasih-Nya sempurna di dalam kita." (ay 11-12).

Kekristenan sejati akan tergambar dari sejauh mana kasih menguasai hidup kita. Yesus telah mengingatkan kita untuk saling mengasihi, seperti halnya Dia sendiri mengasihi kita. Dan selanjutnya Yesus pun berkata "Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi." (Yohanes 13:35). Sejauh mana kita menyatakan kasih Kristus kepada dunia akan menjadi indikator apakah kita murid Kristus yang benar atau tidak. Bagaimana dan siapa Kristus akan ter-representasikan dari perilaku dan perbuatan kita dalam hidup. Sebagai contoh yang benar, maka seharusnya cara kita menerapkan kasih Allah dalam kehidupan sehari-hari seharusnya mampu menyatakan kemuliaan Allah. Dan itu akan dilihat oleh dunia, sehingga dunia bisa mendapatkan gambaran yang jelas tentang Kristus lewat diri kita. Mari kita periksa sejauh mana kasih menguasai kita hari ini lewat indikator-indikator kasih di atas. Apakah kita sudah berada dalam rel yang benar? Apakah kita sudah berjalan dalam kasih Kristus saat ini?

Indikator kasih akan membuat kita mengetahui apakah kita sedang berada dalam kasih atau tidak

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, November 24, 2012

Bergaul Karib dengan Tuhan (2)

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
 (sambungan)

Kemarin kita sudah melihat bahwa kita ternyata bisa bergaul karib layaknya sahabat yang sangat dekat dengan Tuhan. Tuhan mau membuka diri bagi kita untuk mengenalNya terus lebih dalam lagi. Dia bukanlah sebuah misteri yang kaku, dingin, arogan, eksklusif dan tidak terjangkau melainkan sebuah Sosok Pribadi yang terbuka dan bersahabat. Kita pun sudah melihat bahwa ada beberapa orang yang dicatat Alkitab memiliki kehormatan untuk disebutkan sebagai orang-orang yang sangat dekat, berkenan di hati Allah dan hidup bergaul denganNya. Pertanyaannya hari ini, apakah itu berlaku hanya bagi segelintir orang yang benar-benar beruntung saja atau tidak? Tawaran yang sama jelas berlaku bagi semua anak-anakNya, termasuk anda dan saya. Jika Henokh, Nuh dan Daud bisa, kita pun bisa apabila memiliki kualitas hidup penuh ketaatan yang sama seperti mereka. Lantas pertanyaan kedua, apa keistimewaan yang kita dapatkan sebagai sahabat karib Tuhan?

Seseorang yang disebut sebagai sahabat karib yang akrab tentu bukanlah sosok teman yang hanya mencari keuntungan dan kesenangan saja dari kita. Mereka akan tetap setia bersama kita ketika kita mendapat musibah atau berbagai bentuk kesusahan. Mereka akan dengan senang hati membantu kita sedapat-dapatnya ketika kita dalam kesesakan. Itu sosok sahabat karib dan seperti itu pulalah seharusnya hubungan kita dengan Tuhan. Apakah kita hanya berdoa siang dan malam untuk ditolong Tuhan dari kesusahan, dan setelah itu kita melupakannya? Apakah kita cepat menuduh Tuhan tidak adil atau tidak peduli ketika kita terus bergumul dalam masalah? Apakah kita menempatkan segala kegiatan, kepentingan atau kebutuhan di dunia di atas kebutuhan kita untuk bersekutu dengan Tuhan? Itu artinya kita belum menempatkan Tuhan pada posisi sebagai sahabat karib. Lalu bagaimana mungkin kita berharap Tuhan menjadi sahabat karib kita?

Padahal Tuhan menjanjikan banyak hal istimewa kepada orang-orang yang bergaul akrab dengannya. Mari kita lihat apa yang Dia berikan kepada orang-orang yang dianggap sebagai sahabat karibNya. "..Inilah yang difirmankan TUHAN: Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku..." (Imamat 10:3). Tuhan menyatakan kekudusanNya dan memperlihatkan kemuliaanNya kepada orang-orang yang Dia anggap bersahabat karib denganNya. Lewat Daud kita juga bisa memperoleh gambaran akan hal ini. Kata Daud: "TUHAN bergaul karib dengan orang yang takut akan Dia, dan perjanjian-Nya diberitahukan-Nya kepada mereka." (Mazmur 25:14). Takut akan Tuhan akan membawa kita untuk terus membangun hubungan dengan Tuhan hingga ke tingkat ke-karib-an yang benar-benar kuat, dan hal itu akan membuat Tuhan bersikap terbuka dalam memberitahukan rencana dan rancanganNya pada kita. Itu janji Tuhan. Selanjutnya dalam sebuah persahabatan yang terbina akrab biasanya ada penyertaan dan kebersamaan. Dan itu pun akan terjadi antara kita dengan Tuhan ketika kita bergaul karib denganNya. Bukankah berkali-kali Tuhan sudah menyatakan kesetiaanNya untuk tetap ada bersama kita setiap saat? Karenanya janganlah tergoda oleh berbagai hal yang ditawarkan dunia yang mampu merenggangkan hubungan kita dengan Tuhan. Seperti halnya kita merasakan sakit yang luar biasa jika sahabat karib kita menghianati kita, tentu Tuhan pun akan merasa kecewa apabila kita menghianatiNya, terlebih jika itu hanya untuk kepentingan atau kepuasaan sesaat di dunia yang hanya sementara ini. Itu akan sangat menyakitkan bagi Tuhan, seperti halnya kita pun akan merasa sakit ketika diperlakukan demikian oleh sahabat terdekat kita. Tetaplah ingat bahwa setiap pelanggaran dan ketidaktaatan akan mendapat balasan yang setimpal. (Ibrani 2:2).

Tuhan menciptakan kita seperti rupa dan gambarNya sendiri seperti yang bisa kita baca di awal penciptaan. "Berfirmanlah Allah: "Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita... Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia" (Kejadian 1:26-27). Itu salah satu bukti kuat. Tuhan menciptakan kita menurut gambarNya sendiri agar kita dapat mengenal dan menanggapiNya. Dia membangun unsur-unsur dalam kepribadian kita yang selaras dengan kepribadianNya. Kita mempunyai pemikiran untuk mengerti dan menanggapi pemikiranNya, we have emotions to grab His emotions, kita juga punya kehendak untuk menanggapi kehendakNya. Jika tidak, Tuhan tidak akan merasa perlu untuk membuat kita menjadi mahluk mulia, ciptaanNya yang teristimewa lewat rupa dan gambarNya sendiri. Tuhan membuka diri untuk dikenal, dan membuka tawaran untuk bersahabat akrab atau bergaul karib denganNya. Apakah kita mau menyambut uluran tangan Tuhan ini atau tidak, semua itu tergantung diri kita sendiri. Yang pasti, Tuhan akan sangat gembira apabila kita mau menyambutNya dan menjadikan Dia sebagai Sahabat yang akrab dengan kita. Bergaul kariblah dengan Tuhan dengan melibatkanNya dalam setiap aspek kehidupan kita. Rajinlah berdoa, membangun hubungan yang intim denganNya dengan rutin, muliakan Dia selalu dengan tubuh, perbuatan dan perkataan kita. Put Him in the first priority, don't dissapoint or make Him sad with our foolish actions. That's what real best friends do. Tuhan menanti anda untuk menjadi sahabat karibNya, maukah anda menerima uluran tanganNya hari ini?

Tuhan membuka diri untuk dikenal dan kesempatan untuk bersahabat karib denganNya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, November 23, 2012

Bergaul Karib dengan Tuhan (1)

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Imamat 10:3
========================
"..Inilah yang difirmankan TUHAN: Kepada orang yang karib kepada-Ku Kunyatakan kekudusan-Ku, dan di muka seluruh bangsa itu akan Kuperlihatkan kemuliaan-Ku..."

Ada tidaknya sahabat karib atau akrab akan membuat banyak perbedaan dalam hidup kita. Jika ada, setidaknya anda akan tahu bahwa seorang sahabat karib akan selalu berada disamping anda baik dalam suka maupun duka. Salah seorang sahabat karib saya dipanggil Tuhan dalam usia yang masih sangat muda akibat sakit sekitar 3 tahun yang lalu. Saya merasa kehilangan dan itu masih terasa hingga hari ini. Biasanya saya akan bercerita kepadanya mengenai segala sesuatu tanpa ditutupi dan ia pun demikian. Kita sama-sama saling mengenal dengan baik satu sama lain dan akan selalu saling bantu sejauh yang sanggup dilakukan. Rasa kehilangan itu pun terus membekas sampai sekarang. Terkadang kedekatan kepada sahabat karib ini bisa jauh melebihi kedekatan dengan saudara kandung sendiri. Mereka tahu semua kelemahan kita, dan kita tidak ragu untuk berterus-terang karena kita percaya sepenuhnya kepada mereka. Sahabat karib adalah tempat dimana kita bisa berteduh dalam duka, dan akan menjadi orang pertama yang ikut bahagia ketika kita berada dalam suka. Kepercayaan, pengertian, itu tentu menjadi sebuah harapan besar dari seorang sahabat karib.

Sebagai mahluk sosial, kita tentu harus hidup berteman dengan orang lain. Saya kenal dengan beberapa orang yang tidak punya sahabat dekat dan melihat sendiri bagaimana hal itu sering menyulitkan mereka. Apakah hanya manusia yang bisa dijadikan sahabat dekat? Tentu tidak. Kita juga bisa bersahabat karib dengan Tuhan. Mungkin sulit bagi kita untuk mengenal Tuhan secara utuh karena kita tidak bertemu muka secara langsung dengan Tuhan dan mungkin kesulitan pula untuk mendalami misteri kebesaran Tuhan lewat pikiran kita yang terbatas. Tetapi kabar baiknya, Tuhan telah membuka diri untuk dikenal. Dia rindu untuk dikenal dan senantiasa mengulurkan tangan untuk bersahabat karib dengan kita. Lewat Kristus kita bisa mengenal Bapa dan hatiNya, lewat Firman-FirmanNya pun kita bisa mendapatkan pengenalan yang menyeluruh akan Dia.

Tuhan sejak semula merindukan manusia bisa menjadi sahabat karibnya. Kita bisa melihat bagaimana Adam dan Hawa bisa bercakap-cakap dengan Tuhan di taman Eden secara langsung. Sayangnya manusia jatuh dalam dosa dengan sangat cepat. Meski demikian, Tuhan tidak henti-hentinya menunggu kerelaan dari manusia, yang begitu Dia kasihi, untuk datang kepadaNya dan bergaul akrab denganNya. Dan kita bisa melihat beberapa nama yang disebutkan langsung di dalam Alkitab yang punya keistimewaan bisa bersahabat karib, hidup bergaul dengan Tuhan.

Salah satunya bernama Henokh. Dalam kitab Kejadian dijelaskan bahwa Henokh berusia 65 tahun ketika mendapatkan seorang anak laki-laki bernama Metusalah. (Kejadian 5:21). Lantas ayat selanjutnya tertulis sebagai berikut: "Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah selama tiga ratus tahun lagi.." (ay 22a). Perhatikan bahwa Henokh dikatakan hidup bergaul dengan Allah selama 300 tahun lagi. Itu artinya ia sudah hidup bergaul dengan Allah sebelumnya, dan masih melanjutkan kedekatakan itu sampai 300 tahun selanjutnya. Wow. Betapa luar biasanya sebuah hubungan kekerabatan yang akrab yang tidak lekang di makan waktu. Dari ayat ini terlihat bagaimana seorang Henokh mampu menjaga hubungannya dengan Sang Pencipta, hidup selaras dengan kehendak Tuhan dengan setia sampai sebegitu lama. Kesetiaannya teruji dalam rentang waktu yang begitu panjang. Saya yakin pada masa itu Henokh bukannya tidak mendapat cobaan dari berbagai keinginan duniawi yang bisa menariknya menjauh dari Allah, namun jelas Henokh tidaklah terpengaruh dengan itu. Pada akhirnya kita tahu apa yang terjadi pada Henokh. Begitu akrabnya ia dengan Tuhan, sampai-sampai ia tidak perlu mengalami kematian! Henokh diangkat langsung dari dunia yang berlumur dosa ini menuju Surga untuk seterusnya bersama-sama dengan Allah. "Dan Henokh hidup bergaul dengan Allah, lalu ia tidak ada lagi, sebab ia telah diangkat oleh Allah." (ay 24). Kelak penulis Ibrani menuliskan lagi mengenai Henokh. "Karena iman Henokh terangkat, supaya ia tidak mengalami kematian, dan ia tidak ditemukan, karena Allah telah mengangkatnya. Sebab sebelum ia terangkat, ia memperoleh kesaksian, bahwa ia berkenan kepada Allah." (Ibrani 11:5). Perhatikan bahwa perilaku dan kesetiaan Henokh membuatnya menjadi sahabat karib Tuhan. Selain Henokh, kita tahu bahwa Nuh pun disebutkan demikian: "Inilah riwayat Nuh: Nuh adalah seorang yang benar dan tidak bercela di antara orang-orang sezamannya; dan Nuh itu hidup bergaul dengan Allah." (Kejadian 6:9). Lantas Ayub: "seperti ketika aku mengalami masa remajaku, ketika Allah bergaul karib dengan aku di dalam kemahku" (Ayub 29:4) dan tentu saja Daud yang kita tahu begitu mengenal Allah dan memiliki hubungan yang sangat dekat lewat berbagai tulisannya maupun seperti yang disebutkan dalam Kisah Para Rasul: "Tentang Daud Allah telah menyatakan: Aku telah mendapat Daud bin Isai, seorang yang berkenan di hati-Ku dan yang melakukan segala kehendak-Ku." (Kisah Para Rasul 13:22b). Mereka-mereka ini telah terbukti kualitasnya sehingga Tuhan pun berkenan untuk menjadi sahabat akrab yang bergaul karib dengan mereka.

(bersambung)

Thursday, November 22, 2012

Ingin Berhasil dan Beruntung? (2)

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
(sambungan)

Jika memperkatakan dan merenungkan firman siang dan malam sudah kita lakukan, tahap selanjutnya kita harus pula meningkat dengan menjadi pelaku Firman. Dari Yosua 1:8 kita sudah mengetahui bahwa Tuhan mengatakan kepada Yosua untuk "bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalam Taurat Tuhan." Berhenti hanya pada memperkatakan dan merenungkan tidak akan pernah cukup jika tidak disertai dengan aplikasi nyata dalam kehidupan. Tahu kehendak Tuhan tapi tidak melakukannya merupakan salah satu ciri dari orang munafik. Dan Tuhan pun mengecam keras orang-orang yang bersikap munafik seperti ini. Oleh karena itulah Yakobus menekankan pentingnya untuk tidak berpuas diri hanya sebagai pendengar atau pembaca firman, tapi juga harus melanjutkannya dengan perbuatan-perbuatan nyata sesuai apa yang dikehendaki Tuhan. "Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri." (Yakobus 1:22). Orang-orang yang hanya mendengar atau membaca tapi tidak melakukan digambarkan sebagai berikut: "Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin. Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya." (Yakobus 1:23-24). Itulah bentuk orang yang berhenti sebelum melakukan. "Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya." (ay 25). Semua tuntunan Tuhan itu sangatlah berharga untuk menjadi bekal dalam kehidupan kita. Maka dari itu janganlah kita hanya sekedar mendengar lalu melupakan, tapi lakukanlah dengan sungguh-sungguh dan secara utuh, maka keberhasilan demi keberhasilan pun akan mampu kita capai.

Sebagai gambaran lain kita bisa melihat hal ini lewat Ezra. Dalam awal kisah Ezra, kita bisa melihat kepulangannya dari Babel sebagai ahli kitab dilimpahi berkat lewat raja yang memberikan segala sesuatu yang ia inginkan. Singkatnya, Ezra berhasil dan beruntung. Bagaimana ini bisa terjadi? Dikatakan bahwa itu semua terjadi karena tangan Tuhan, Allahnya, melindungi dia. (Ezra 1:6,9). Mengapa Tangan Tuhan berkenan melindungi Ezra? Itu adalah buah dari komitmen kuatnya untuk selalu meneliti Firman Tuhan. Dia tidak berhenti sampai di situ saja, tapi juga kemudian melakukannya serta mengajarkan semua itu kepada orang lain. Ezra dikatakan sebagai ahli kitab, tapi ternyata ia tidak berpuas diri dan terus mau memperkatakan, merenungkan Firman Tuhan dan menjadi pelaku secara langsung. "Sebab Ezra telah bertekad untuk meneliti Taurat TUHAN dan melakukannya serta mengajar ketetapan dan peraturan di antara orang Israel." (ay 10). Dengan melakukan langkah-langkah ini, tidaklah mengherankan jika Ezra mendapat perlindungan langsung dari Tuhan dalam perjalanan hidupnya yang membuatnya berhasil dan beruntung.

Mari kita lihat sekali lagi ayat dalam Yosua 1:8 ini. "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." Kita sudah melihat bahwa agar bisa berhasil dan beruntung, ada 3 kunci yang terlebih dahulu harus dilakukan. Tuhan mau memberkati kita, tetapi itu tidak serta merta Dia berikan begitu saja. Kita harus melakukan dahulu ketiga langkah penting, yaitu memperkatakan, merenungkan dan melakukan agar berkat yang tercurah itu bisa menjadi bagian kita. Ada satu hal penting lainnya yang harus kita perhatikan pula, yaitu bagian awal dari ayat ini. "Janganlah engkau lupa..." Lupa, itu menggambarkan tentang sesuatu yang kita sudah tahu, tapi kita tidak ingat. Seperti itu pula yang terjadi pada kita. Kita mungkin sudah tahu Firman Tuhan, tetapi kita lupa untuk memperkatakan, merenungkan dan melakukan. Apa yang bisa membuat kita lupa? Ada banyak hal. Misalnya kesibukan bekerja, fokus yang tidak seimbang atau hal-hal lain yang rasanya lebih menyenangkan ketimbang mendalami Firman Tuhan. Semua ini bisa membuat kita lupa, dan lambat laun itu hanya akan merugikan diri kita sendiri juga.

Tuhan ingin kita berhasil dan beruntung dalam perjalanan hidup kita, tetapi semua itu tidak akan kita peroleh apabila kita tidak melakukan bagian kita terlebih dahulu. Firman Tuhan bukan hanya berbicara mengenai janji berkat, tapi juga berisi dengan harga yang harus dibayar, kuk yang harus dipikul dan sebagainya untuk bisa menjadi muridNya. Anda bisa membaca Lukas 14:25-33 untuk melihat siapa yang dikatakan Yesus bisa menjadi muridNya dan siapa yang tidak, Matius 10:34, Lukas 6:22 dan Lukas 10:3 misalnya. Ini adalah 'makanan-makanan keras' yang harus siap kita pikul apabila kita mau menjadi murid-muridNya yang diberkati. Perkatakan, renungkan dan lakukanlah Firman Tuhan secara serius dan secara utuh. Disanalah kita akan menjadi orang-orang yang berhasil dan beruntung di bidangnya masing-masing.

Jadilah orang yang berhasil dan beruntung dengan memperkatakan, merenungkan dan melakukan Firman Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Wednesday, November 21, 2012

Ingin Berhasil dan Beruntung? (1)

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yosua 1:8
===============
"Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung."

Sebuah kejadian menarik baru saja saya alami. Berapa sering anda mendapati pemilik rumah makan membagi berkat kepada pengunjungnya lewat Firman Tuhan? Itulah yang dilakukan oleh seorang ibu pemilik sebuah rumah makan ketika saya makan siang buat kali pertama disana. Ketika memberi bon, disana ternyata ia menulis sebuah ayat yang saya jadikan ayat bacaan hari ini, yaitu Yosua 1:8. Ketika hendak pulang ia mengatakan: "Terima kasih, Tuhan memberkati." Ayat yang ia berikan tentu bukan ayat yang asing lagi bagi kita. Ayat ini berbicara mengenai janji berkat Tuhan, tapi tidak berhenti disitu saja melainkan disertai dengan tips atau cara untuk mendapatkannya. Disaat saya sedang sibuk-sibuknya seperti akhir-akhir ini, apa yang ia ingatkan lewat ayat tersebut terasa sangat pas dan memberkati saya.

Saya percaya Tuhan bisa memakai siapa saja untuk mengingatkan anak-anakNya. Dia bisa dan kerap memakai orang lain bahkan yang baru atau tidak kita kenal sebelumnya untuk menjadi jalan bagiNya untuk menyampaikan pesan-pesan penting bagi kita. Hari ini saya memperoleh itu dari seorang ibu yang baru hari ini saya kenal. Untuk renungan hari ini dan besok, mari kita lihat apa sebenarnya kandungan penting dari ayat yang ia berikan ini.

Ayat tersebut tepatnya berbunyi: "Janganlah engkau lupa memperkatakan kitab Taurat ini, tetapi renungkanlah itu siang dan malam, supaya engkau bertindak hati-hati sesuai dengan segala yang tertulis di dalamnya, sebab dengan demikian perjalananmu akan berhasil dan engkau akan beruntung." (Yosua 1:8). Ini sebuah ayat yang seringkali kita lihat hanya dari janji berkatnya saja. Siapa sih  yang tidak mau berhasil dan beruntung dalam perjalanan hidupnya? Kita semua tentu mau seperti itu. Dan itu memang Tuhan sediakan buat kita. Tetapi ingatlah bahwa berkat seperti ini tidak serta merta datang begitu saja. Ada pesan penting di dalam ayat ini yang berisi langkah-langkah yang harus kita lakukan terlebih dahulu agar kita bisa memperoleh janji Tuhan ini, yaitu: 
1. memperkatakan Firman
2. merenungkannya siang dan malam
3. bertindak sesuai Firman Tuhan, alias menjadi para pelaku Firman.

Inilah 3 langkah yang harus dilakukan agar janji berkat Tuhan untuk mencapai keberhasilan yang membawa keberuntungan tersebut bisa menjadi milik kita. Anda merasa bahwa pekerjaan anda saat ini berat dan rasanya seperti jalan di tempat? Anda mengira bahwa apa yang anda lakukan sekarang tidak cukup berhasil dan belum menunjukkan tanda-tanda keberuntungan? Dari ayat ini, Tuhan menyatakan bahwa ada kunci yang akan membuat apapun yang anda lakukan saat ini bisa berhasil dan membawa keuntungan, meski hari ini anda belum melihat itu. Mari kita lihat satu persatu ketiga kunci ini.

Pertama, memperkatakan Firman. Betapa seringnya kita mempergunakan mulut hanya untuk hal-hal yang tidak berguna atau malah mengucapkan hal-hal yang tidak baik. Bergosip, berbohong, mengeluh, menghina, memfitnah atau bahkan mengutuk. Ada sebuah penelitian yang menyebutkan bahwa apabila kita mencoba satu hari saja menghindari hal-hal buruk ini, maka jumlah kata yang kita ucapkan setiap hari bisa menyusut secara drastis. Ada seorang teman yang mencobanya dan itu memang benar. Kita lupa peringatan Yesus yang berbunyi: "Tetapi Aku berkata kepadamu: Setiap kata sia-sia yang diucapkan orang harus dipertanggungjawabkannya pada hari penghakiman. Karena menurut ucapanmu engkau akan dibenarkan, dan menurut ucapanmu pula engkau akan dihukum." (Matius 12:36-37). Sepertinya memang kecenderungan manusia untuk terjebak pada kebiasaan mengeluarkan perkataan yang sia-sia ini. Karena itulah kita bisa belajar dari Daud yang berkata "Awasilah mulutku, ya TUHAN, berjagalah pada pintu bibirku!" (Mazmur 141:3). Menjaga hati pun menjadi hal yang mutlak untuk kita lakukan, karena "Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati." (Matius 12:34).

Setelah memperkatakan Firman, kita harus meningkat kepada tahapan berikutnya, yaitu merenungkannya, bukan sekali-sekali tapi secara rutin, merenungkannya siang dan malam. Perhatikan, ada perbedaan besar antara membaca dan merenungkan. Dalam merenungkan, kita tidak hanya sekedar membaca tapi disertai dengan meneliti dan memikirkan dengan seksama isi yang kita baca, termasuk juga melakukan introspeksi diri sendiri sampai sejauh mana kita sudah melakukan segala sesuatu hari ini sesuai dengan keinginan dan suara hati Tuhan. Untuk bisa mengetahui dengan benar suara Tuhan tidaklah cukup hanya dengan sekedar membaca saja. Sekarang ingat, besok lupa, itulah yang akan terjadi jika kita tidak menyimak secara seksama apa yang menjadi keinginan Tuhan dalam hidup kita. Alkitab mengatakan bahwa Firman yang dibaca ala kadarnya bagaikan benih yang jatuh pada tanah berbatu, di pinggir jalan atau malah di semak duri. (baca Matius 13:1-8). Dibutuhkan kesungguhan untuk merenungkan Firman Tuhan, menyerapnya dengan benar, sehingga benih firman itu bisa jatuh di atas "tanah yang baik" agar bisa menghasilkan buah berlipat ganda. Dalam awal kitab Mazmur dikatakan, "Berbahagialah orang ..yang kesukaannya ialah Taurat TUHAN, dan yang merenungkan Taurat itu siang dan malam. Ia seperti pohon, yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buahnya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diperbuatnya berhasil." (Mazmur 1:1-3). Seperti itulah orang-orang yang selalu menyukai firman Tuhan dan merenungkan itu siang dan malam. Bagaikan pohon yang ditanam di tepi aliran air, sehingga tidak akan mengalami kekeringan dan bisa terus bertunas dan berbuah, alias berhasil dan beruntung.

(bersambung)

Tuesday, November 20, 2012

Sikap Memberontak

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yesaya 1:20
=======================
"Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang." Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya."

Agaknya sudah menjadi kebiasaan bagi kita untuk memberontak ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan kita. Ditegur sedikit kita gampang sakit hati, gampang tersinggung dan lain-lain, lantas dengan mudahnya kita pun memberontak. Mulai dari demonstrasi yang damai hingga anarkis, atau jika masalahnya di tempat kerja mulai dari uring-uringan dalam bekerja, sengaja menurunkan keseriusan kerja, bahkan ada juga yang melakukan sesuatu yang buruk sebagai upaya balas dendam sampai menghasut rekan-rekan untuk memberontak. Itu dilakukan oleh banyak orang yang merasa bahwa apa yang terjadi tidaklah sesuai dengan kemauan mereka. Pemain bola yang merasa tersinggung ditegur pelatihnya langsung memberontak tidak mau dilatih lagi oleh yang bersangkutan, atau memilih mengundurkan diri. Atau melawan ketika orang tua melarang sesuatu atau mengingatkan. Semua ini adalah berbagai bentuk sikap memberontak yang biasanya didasari oleh ego yang gampang tersulut emosi. Sedikit saja tersentil langsung terbakar, tidak mau berbesar hati untuk melakukan introspeksi terlebih dahulu, tapi langsung merasa paling benar dan melakukan tindakan melawan. Memang benar, ada kalanya kita diperlakukan tidak adil sehingga kita pun merasa harus melawan mempertahankan harga diri. Tapi ada baiknya jika kita mau berbesar hati terlebih dahulu untuk memeriksa diri kita sebelum kita langsung menentang tanpa pikir panjang.

Faktanya, manusia memiliki kecenderungan untuk memberontak. Jangankan kepada manusia, kepada Tuhan pun ada banyak orang yang berani memberontak. Begitu mudahnya kita menuduh Tuhan tidak peduli, pertolonganNya tidak cukup cepat sesuai keinginan kita, situasi yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita harapkan dan sebagainya, semua itu bisa menimbulkan keinginan untuk memberontak kepada Tuhan. Seharusnya kita merenungkan dan memeriksa diri kita terlebih dahulu, tapi bukannya melakukan itu kita malah dengan segera menyalahkan Tuhan lalu memberontak. Sikap seperti ini bukanlah gambaran dari orang percaya. Hari ini mari kita lihat bagaimana sikap seharusnya dalam kekristenan.

Firman Tuhan banyak berbicara mengenai pentingnya ketaatan. Tuhan tidak suka dengan sikap memberontak. Menyuarakan ketidakpuasan bukanlah dilakukan dengan melawan, berkata-kata kasar, atau dengan kekerasan. Ada yang namanya diskusi atau dialog, dibicarakan baik-baik. Kita juga perlu menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan, dan sementara itu tetap taat melakukan apa yang menjadi kewajiban kita kepadaNya. Itulah yang seharusnya kita lakukan. Firman Tuhan jelas berkata "Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah." (Mazmur 55:23). Segala ketidakadilan yang kita alami bukan harus dilawan dengan kekerasan, tetapi hendaknya diserahkan kepada Tuhan, karena Dia sudah berjanji untuk tidak akan pernah membiarkan kita goyah, selama kita tetap berpegang melakukan hal yang benar.

Di dalam alkitab kita bisa menjumpai banyak contoh orang dengan karakter pemberontak, yang dengan berani memberontak kepada Tuhan dan akibatnya harus menanggung konsekuensi. Mari kita ambil contoh Saul, raja Israel. Saul memulai segalanya dengan indah. Ia dikatakan sebagai orang yang penuh urapan, penuh Roh Allah seperti halnya nabi (1 Samuel 10:10). Tapi Saul tidaklah memiliki iman yang teguh. Kita bisa melihat ia hidup dalam ketidaktaatan, ia sering menyerah kedalam kecemasan, dan akhirnya roh pemberontakan pun tumbuh dalam dirinya. Saul memulai dengan gemilang, tetapi berakhir tragis, semua karena sikapnya sendiri. Tuhan pun menjatuhkan teguran lewat Samuel buat Saul. "Perbuatanmu itu bodoh. Engkau tidak mengikuti perintah TUHAN, Allahmu, yang diperintahkan-Nya kepadamu; sebab sedianya TUHAN mengokohkan kerajaanmu atas orang Israel untuk selama-lamanya. Tetapi sekarang kerajaanmu tidak akan tetap. TUHAN telah memilih seorang yang berkenan di hati-Nya dan TUHAN telah menunjuk dia menjadi raja atas umat-Nya, karena engkau tidak mengikuti apa yang diperintahkan TUHAN kepadamu." (1 Samuel 13:13-14). Pemberontakan yang ia lakukan merupakan sebuah kebodohan di mata Tuhan, dan itu membuat hidupnya berakhir mengenaskan.

Karakter pemberontak bukanlah karakter yang seharusnya ada dalam diri kita. Kekristenan mengajarkan kita mengenai ketaatan dan kelembutan hati, bukan pemberontakan dengan hati yang mudah terbakar emosi dan gemar melakukan kekerasan, apalagi orang dengan sikap gampang mendendam dan merasa punya hak untuk menghakimi orang lain.  Dari kehidupan Yesus pun kita bisa belajar mengenai ketaatan sejati, bagaimana Dia sanggup tunduk dan taat sepenuhnya kepada kehendak Bapa meski harus melewati penderitaan yang luar biasa mengerikan. Dalam kitab Yesaya kita bisa membaca firman Tuhan berbunyi seperti ini: "Jika kamu menurut dan mau mendengar, maka kamu akan memakan hasil baik dari negeri itu. Tetapi jika kamu melawan dan memberontak, maka kamu akan dimakan oleh pedang." Sungguh, TUHAN yang mengucapkannya." (Yesaya 1:19-20). Dan lihatlah ketika janji berkat diberikan Tuhan dalam kitab Ulangan 28:1-14, Tuhan memulai firmanNya dengan: "Jika engkau baik-baik mendengarkan suara TUHAN, Allahmu, dan melakukan dengan setia segala perintah-Nya yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, maka TUHAN, Allahmu, akan mengangkat engkau di atas segala bangsa di bumi. Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara TUHAN, Allahmu." (Ulangan 28:1-2). Segala berkat akan hadir apabila kita mendengar suara Tuhan dengan seksama, lalu melakukan DENGAN SETIA segala perintahNya. Ini berbicara mengenai ketaatan, dan itulah yang akan mendatangkan berkat. Seperti itu pula bunyi dari firman Tuhan dalam Yesaya di atas.

Kepada Tuhan kita tidak boleh memberontak, dalam kehidupan kita di dunia pun kita tidak seharusnya melakukan hal itu. Prinsip ketaatan menjadi salah satu dasar Kekristenan, dan ini sudah selayaknya juga bisa ditampilkan oleh anak-anak Tuhan dalam kehidupannya. Kepada pemimpin kita diminta untuk taat, meski mungkin apa yang diputuskan pemimpin tidak sesuai dengan visi, kehendak atau keinginan kita. Penulis Ibrani berpesan: "Taatilah pemimpin-pemimpinmu dan tunduklah kepada mereka, sebab mereka berjaga-jaga atas jiwamu, sebagai orang-orang yang harus bertanggung jawab atasnya. Dengan jalan itu mereka akan melakukannya dengan gembira, bukan dengan keluh kesah, sebab hal itu tidak akan membawa keuntungan bagimu." (Ibrani 13:17). Kalau seorang pemimpin harus terus mengurus orang-orang yang melawan, memberontak dan membuat rusuh, kapan mereka bisa bekerja membangun bangsa? Pada akhirnya kita sendiri yang rugi. Selalu saja ada jalan dari Tuhan untuk memberkati kita dan melepaskan kita dari situasi yang menekan kita tanpa harus memberontak dan melawan. Seberat atau sesulit apapun anda mengalami ketidakadilan atau tekanan saat ini, jangan pernah memberontak, apalagi terhadap Tuhan. Ingatlah bahwa Tuhan sanggup melakukan segala hal bahkan yang tidak terselami oleh pikiran kita sekalipun pada waktunya. Tetaplah taat, tetaplah lakukan apa yang menjadi bagian kita, dan lihatlah kelak bagaimana luar biasanya ketika Tuhan melakukan bagianNya.

Taat, bukan memberontak, itulah karakter dan prinsip kekristenan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Monday, November 19, 2012

Bapa Segala Dusta

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Yohanes 8:44
====================
"Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta."

Miris rasanya melihat lagu-lagu mancanegara terutama yang berasal dari Amerika semakin lama semakin tidak mendidik. Keprihatinan ini juga dirasakan oleh banyak penduduk disana yang memilih untuk hidup benar. Saya pernah berbicara dengan salah seorang teman yang tinggal disana, dan dia bercerita bahwa ada banyak orang tua yang khawatir akan mental dan pola pikir anaknya akibat terus disusupi dengan bentuk-bentuk penyesatan yang dikemas indah lewat lagu. Jika anda perhatikan, lirik-lirik lagu dari sana banyak yang mengajarkan hal-hal yang sesat. Mulai dari sikap materialistis, hubungan sesama jenis, perilaku sex bebas, sumpah serapah dan hal buruk lainnya. Ada yang disebutkan berulang-ulang agar bisa tertanam di bawah alam sadar kita. Musik yang terdengar indah, video klip yang sepintas terlihat keren, tapi jika diperhatikan penuh dengan lambang-lambang milik si jahat. Beberapa artis yang dahulu berpenampilan baik sekarang terlihat bagai representatif resmi kerajaan iblis dengan dandanan dan raut muka menyeramkan. Ada  beberapa film Hollywood yang secara jelas terlihat aneh dan mengarah kesana, baik konsepnya, ceritanya maupun visualnya. Apakah itu artinya kita dilarang untuk mendengar lagu sekuler dan menonton film-film yang berasal dari sana? Saya rasa tidak harus seekstrim itu. Hanya saja kita harus berhati-hati dan memilah baik-baik segala yang masuk ke dalam diri kita, termasuk lagu yang masuk lewat pendengaran. Ingatlah bahwa iblis adalah bapa segala dusta yang akan terus mencoba menipu kita dengan segala trik dan cara dengan tujuan untuk membunuh kita. Yang penting kita bisa mawas diri terhadap berbagai jebakan dan mengetahui tipuan-tipuan itu dan tidak terpengaruh oleh tipuan apapun yang dilancarkan iblis.

Iblis sudah diketahui sejak semula mencoba membinasakan manusia lewat segala tipu muslihatnya, bahkan sejak kejadian di taman Eden ketika ia mempengaruhi Hawa. Sepanjang Alkitab kita bisa melihat banyaknya usaha iblis untuk menyesatkan umat Tuhan dan akan terus berusaha melakukannya sampai kapanpun. Itu pekerjaannya, itu profesinya, dan itu hobinya. Iblis merupakan penipu ulung yang pintar sekali mengemas misinya agar tidak terlihat kasat mata, bahkan sanggup meniru berbagai kuasa yang dikerjakan Tuhan. Akan hal ini kita bisa melihat salah satu contoh jelas ketika Musa dan Harun pergi menghadap Firaun untuk menegur. Ketika itu Harun melemparkan tongkatnya di depan Firaun dan anak buahnya seperti yang diperintahkan Tuhan, dan tongkatnya kemudian berubah menjadi ular. (Keluaran 7:10). Lalu apa yang terjadi? "Kemudian Firaunpun memanggil orang-orang berilmu dan ahli-ahli sihir; dan merekapun, ahli-ahli Mesir itu, membuat yang demikian juga dengan ilmu mantera mereka." (ay 11). Perhatikan bahwa iblis mampu meniru mukjizat Tuhan yang secara kasat mata akan terlihat persis sama. Tetapi dalam ayat selanjutnya kita bisa melihat bahwa kuasa Tuhan lebih besar daripada imitasi mukjizat yang sanggup dilakukan iblis. Satu tongkat harun yang dipakai Tuhan sanggup menelan semua tongkat para penyihir itu yang di'backup' kuasa iblis sekaligus. (ay 12).

Iblis punya kemampuan untuk membuat hal-hal yang akan terlihat sangat menyerupai mukjizat-mukjizat Tuhan. Tapi ingatlah bahwa semua itu hanya tiruan dan tipuan. Iblis akan selalu berusaha untuk membuat kita tidak lagi percaya kepada janji-janji Tuhan. Dia akan selalu mencoba menipu kita lewat berbagai iming-iming yang seolah menjanjikan kenikmatan dan kesenangan, sesuatu yang terdengar bagus lewat kemasan-kemasannya. Iblis akan melakukan berbagai trik dan manuver untuk menjauhkan kita dari keselamatan yang sudah dijanjikan Tuhan. Begitu beraninya, bahkan kepada Yesus sekalipun iblis mencoba melancarkan tipuannya seperti ketika Yesus berada di padang gurun. (Matius 4:1-11). Lihat bagaimana lihainya iblis dalam melancarkan serangan. "Dan Iblis membawa-Nya pula ke atas gunung yang sangat tinggi dan memperlihatkan kepada-Nya semua kerajaan dunia dengan kemegahannya, dan berkata kepada-Nya: "Semua itu akan kuberikan kepada-Mu, jika Engkau sujud menyembah aku." (ay 8-9). Semua dunia lengkap dengan kemegahannya. Mungkin terdengar menggiurkan buat kita, tapi Yesus tidak terpengaruh. Maka jawaban Yesus pun seharusnya menjadi jawaban kita pula terhadap tipuan-tipuan iblis. "Maka berkatalah Yesus kepadanya: "Enyahlah, Iblis! Sebab ada tertulis: Engkau harus menyembah Tuhan, Allahmu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti!" (ay 10). Seperti itulah seharusnya jawaban kita apabila iblis mencoba untuk mengelabuhi kita.

Begitu handalnya iblis dalam menipu sehingga Yesus mengatakan bahwa iblis adalah bapa segala dusta, bapa segala tipu daya. Ayat bacaan kita hari ini dikutip dari kata-kata yang diucapkan Yesus sendiri untuk mengingatkan kita agar waspada terhadap segala tipu daya iblis. "Iblislah yang menjadi bapamu dan kamu ingin melakukan keinginan-keinginan bapamu. Ia adalah pembunuh manusia sejak semula dan tidak hidup dalam kebenaran, sebab di dalam dia tidak ada kebenaran. Apabila ia berkata dusta, ia berkata atas kehendaknya sendiri, sebab ia adalah pendusta dan bapa segala dusta." (Yohanes 8:44). Iblis itu pendusta dan bapa segala dusta. Iblis sejak semula selalu mencoba menjauhkan kita dari kebenaran dan berusaha membunuh kita. Lantas bagaimana sebenarnya posisi kita sebagai anak-anak Tuhan? Yohanes menyebutkan seperti ini: "Kita tahu, bahwa kita berasal dari Allah dan seluruh dunia berada di bawah kuasa si jahat." (1 Yohanes 5:19). Seluruh dunia ada di bawah kekuasaan tipunya, namun kita harus menyadari bahwa lewat Kristus kita sudah menjadi ciptaan baru yang berasal dari Allah dan bukan lagi dari dunia. "Akan tetapi kita tahu, bahwa Anak Allah telah datang dan telah mengaruniakan pengertian kepada kita, supaya kita mengenal Yang Benar; dan kita ada di dalam Yang Benar, di dalam Anak-Nya Yesus Kristus. Dia adalah Allah yang benar dan hidup yang kekal." (ay 20).

Petrus sudah mengingatkan kita: "Sadarlah dan berjaga-jagalah! Lawanmu, si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya." (1 Petrus 5:8). Perhatikanlah bahwa iblis hanya bisa mengaum-ngaum berkeliling di luar. Dia tidak akan bisa berbuat apa-apa apabila kita tetap berada dalam Tuhan. Iblis hanya bisa berputar-putar mencari orang-orang yang bisa ditelannya tetapi ia tidak akan pernah bisa menerkam ketika kita berada dalam benteng Firman Tuhan dan dipenuhi Roh Kudus. Kita harus pahami bahwa Yesus sudah mengalahkan iblis dengan gemilang di masa Dia turun ke dunia, dan apa yang tinggal dari iblis sesungguhnya tinggal tipuannya belaka. Tajinya sudah tidak ada lagi, dia tidak punya kekuatan apa-apa lagi. Apa yang bisa ia lakukan tinggal mencoba membodohi kita lewat tipu muslihatnya. Iblis bisa mengaum-aum mencari mangsa, namun ia tidak akan bisa masuk menerkam kita jika kita tidak membuka celah sedikitpun. Iblis tidak bisa berbuat apa-apa lagi kecuali kita mengizinkannya untuk masuk. Oleh karena itu jagalah mata, telinga, hati dan pikiran kita agar jangan terjebak dengan tipuan dan trik dari iblis. Tetaplah pegang teguh kebenaran Firman Tuhan dan jangan tergiur kepada hal-hal yang ditawarkan oleh bapa segala dusta yang bertujuan untuk membinasakan kita.

Iblis, bapa segala dusta hanya bisa mengaum-aum di luar dan tidak bisa berbuat apa-apa jika kita berdiam dalam Tuhan

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Sunday, November 18, 2012

Dosa Mengintip

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Kejadian 4:7
====================
"Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya."

Meneruskan renungan kemarin mengenai panggilan kepada setiap orang percaya untuk tampil menjadi teladan yang melakukan perintah-perintah Tuhan secara nyata, hari ini mari kita lihat apa jadinya jika kita terus saja tidak menganggap penting hal ini. Seringkali kita tidak menganggap penting peringatan untuk menjadi teladan yang bisa menyatakan hati Tuhan secara nyata. Kita mengira bahwa itu cukup menjadi keharusan bagi pendeta, hamba Tuhan, guru atau tokoh-tokoh panutan lainnya dan bukan kita. Kita lupa bahwa pada saat kita tidak menjadi teladan, kita akan cenderung untuk melakukan banyak hal buruk. Dan disaat kita tidak berbuat baik, maka Tuhan sudah mengingatkan sejak semula bahwa dosa sudah mengintip di depan pintu, menunggu untuk masuk dan menerkam kita sampai binasa.

Pesan ini begitu penting hingga sudah disebutkan sejak kitab Kejadian. Mari kita lihat dalam kisah mengenai kisah Kain dan Habel. Ketika persembahannya ditolak, Kain mulai dibakar api amarah. Ia diliputi rasa iri hati. Hatinya dikatakan menjadi sangat panas dan air mukanya pun berubah muram. Tuhan pun berkata kepada Kain "Mengapa hatimu panas dan mukamu muram?" (Kejadian 4:6). Orang yang terbakar emosi akan segera terlihat jelas dari raut wajahnya. Memerah bagai tomat masak dengan mulut melengkung kebawah, mata melotot. Seperti itu mungkin wajah Kain pada saat itu. Lalu Tuhan menegurnya dan berkata: "Apakah mukamu tidak akan berseri, jika engkau berbuat baik? Tetapi jika engkau tidak berbuat baik, dosa sudah mengintip di depan pintu; ia sangat menggoda engkau, tetapi engkau harus berkuasa atasnya." (Kejadian 4:7). Tuhan mengingatkan dengan sangat jelas. Ketika kita tidak berbuat baik, ada dosa yang mengintip di depan pintu bagaikan binatang buas yang siap menerkam mangsa. Dosa menanti kita untuk membuka pintu dan mengijinkannya masuk untuk mengobrak-abrik hidup kita. Kecemburuan dan emosi Kain yang meluap ini merupakan salah satu hal yang bukan merupakan perbuatan baik, dan itu diingatkan Tuhan agar lekas ia atasi sebelum dosa menerkamnya. Artinya ada pilihan yang tersedia buat Kain. Sayangnya Kain tidak mengindahkan dan terus membiarkan emosinya. Yang terjadi sungguh tragis. Kain memilih untuk memuaskan nafsu amarahnya, membuka pintu bagi iblis untuk masuk. Dan kisah pembunuhan pertama pun terjadi. Sebagai konsekuensinya, Kain pun harus menerima konsekuensi akibat perbuatannya. "Maka sekarang, terkutuklah engkau, terbuang jauh dari tanah yang mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu itu dari tanganmu. Apabila engkau mengusahakan tanah itu, maka tanah itu tidak akan memberikan hasil sepenuhnya lagi kepadamu; engkau menjadi seorang pelarian dan pengembara di bumi." (ay 11-12).

Benar, manusia memang punya emosi dan wajar apabila terkadang kita bisa merasa kesal atau marah. Tetapi lewat kisah Kain dan Habel kita diingatkan bahwa ada dosa yang mengintip di depan pintu, sangat menggoda, dan siap menerkam kita apabila kita tidak bisa menguasai emosi kita. Emosi yang tidak terkendali menjadi lahan subur bagi iblis untuk melakukan pengrusakan. Dalam kitab Efesus kita diingatkan "Apabila kamu menjadi marah, janganlah kamu berbuat dosa: janganlah matahari terbenam, sebelum padam amarahmu" (Efesus 4:26). Jangan berlama-lama menuruti emosi, dan jagalah jangan sampai kemarahan itu menjadi celah bagi masuknya dosa. Singkatnya kita baca pada ayat selanjutnya: "dan janganlah beri kesempatan kepada Iblis." (ay 27). Amarah yang tidak terkendali inilah salah satu yang ditunggu-tunggu iblis untuk menyerang kita, memperdaya kita untuk melakukan sesuatu yang jahat, yang nantinya akan kita sesali. Emosi, iri hati dan perselisihan ini termasuk perbuatan kedagingan yang pada akhirnya membuat pelakunya terbuang dari hadapan Tuhan, kehilangan kesempatan untuk menjadi ahli waris Kerajaan Allah. Berbagai perbuatan daging yang bertentangan dengan apa yang dikatakan sebagai perbuatan baik sudah dirinci pula oleh Paulus. "Perbuatan daging telah nyata, yaitu: percabulan, kecemaran, hawa nafsu,penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah,kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya. Terhadap semuanya itu kuperingatkan kamu--seperti yang telah kubuat dahulu--bahwa barangsiapa melakukan hal-hal yang demikian, ia tidak akan mendapat bagian dalam Kerajaan Allah." (Galatia 5:19-21).

Kembali kepada hal menjadi teladan, jika kita mau untuk menjadi teladan-teladan yang mencerminkan atau merepresentasikan Kerajaan Allah secara benar, itu artinya kita akan melakukan segala perintah Tuhan dan menjauhi larangan-laranganNya. Itu akan membuat kondisi hati kita baik, penuh aliran kasih Allah, dan kitapun akan terus melakukan perbuatan baik. Ketika itu yang kita lakukan maka dosa pun tidak akan bisa mendapat celah sedikitpun untuk masuk merusak kita. Iblis hanya bisa "berjalan berkeliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya" (1 Petrus 5:8), tapi tidak akan pernah bisa masuk ke dalam karena tidak ada celah sama sekali baginya untuk masuk. Ingatlah bahwa ketika kita mengira bahwa kita tidak perlu menjadi teladan dan tidak harus melakukan perbuatan baik seturut kehendak Tuhan, maka itu artinya kita membuka pintu bagi dosa yang dirancang si jahat untuk masuk membinasakan kita sekaligus menghilangkan kesempatan kita untuk masuk ke dalam sebuah tempat penuh kebahagiaan, tanpa ada ratap tangis yang sifatnya kekal yang sudah dipersiapkan Kristus bagi kita. Oleh karena itu tampillah menjadi para pelaku Firman yang menjadi teladan di tempat anda masing-masing. Itu akan sangat berguna bagi anak-anak anda, bagi keluarga, juga bagi diri anda sendiri.

Tidak ada tempat buat berbagai perbuatan tidak baik ketika kasih Allah melimpah dalam diri kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Saturday, November 17, 2012

Orang Tua Teladan

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Titus 2:7
==================
"dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu"

Ijinkan saya untuk melanjutkan renungan kemarin yang menyoroti premanisme dan kesesatan di kalangan anak-anak muda atau remaja, kali ini dari sisi orang tua. Kemarin kita sudah melihat bahwa Tuhan meminta kita para orang tua untuk memperkenalkan dan mengajarkan Firman Tuhan kepada anak-anak secara berulang-ulang (Ulangan 6:7). Ini penting untuk dilakukan hingga si anak menjadi paham akan pentingnya hal tersebut dan hingga Firman itu tertanam dengan baik dalam diri mereka. Kita juga diingatkan Tuhan bahwa dengan mendidik anak dengan baik, mereka pun akan memiliki jalan kehidupan yang lurus sebagai bekal penting untuk menuju kehidupan berkemenangan hingga akhir. (Amsal 22:6). Masalahnya, bagaimana kita sebagai orang tua (atau calon orang tua) bisa melakukan itu apabila kita sendiri tidak menjadi contoh nyata dari apa yang kita ajarkan? Ada banyak orang tua yang melakukan itu. Mereka mengajarkan anak-anaknya, melarang ini dan itu, tapi mereka sendiri melakukannya. Itu bukanlah contoh yang baik dan malah akan membuat anak-anak tidak bisa menerima hal-hal baik yang diajarkan tersebut. Singkatnya, apabila kita mau efektif dalam mendidik anak-anak, tidak ada jalan lain, kita harus terlebih dahulu menjadi contoh nyata dan teladan dari segala sesuatu yang kita ajarkan.

Menjadi teladan artinya menjadi sosok yang patut ditiru, dijadikan panutan  atau menjadi role model. Sebuah keteladanan akan jauh lebih efektif ketimbang bentuk-bentuk pengajaran yang hanya bersifat teori saja. Dalam sejarah dunia kita menemukan banyak teladan yang bisa menjadi pelajaran yang baik bagi kita, dalam alkitab pun tersedia begitu banyak keteladanan yang akan sangat bermanfaat buat kita. Dari masa lalu ada banyak teladan, di masa sekarang pun banyak, dan di masa depan nanti akan ada lagi teladan-teladan yang bisa kita jadikan panutan untuk menjadi orang yang lebih baik. Dan anak-anak kita sangat membutuhkan hal itu dalam perkembangan jiwa mereka. Pertanyaannya, apakah kita sudah siap dan sanggup menjadi teladan? Jika ada pertanyaan, mengapa harus kita, tidakkah cukup orang lain saja yang melakukan itu? Jawabannya ada di Alkitab. Alkitab menegaskan bahwa kita semua diminta untuk tampil menjadi teladan-teladan dalam banyak hal mulai dari perbuatan baik hingga iman. Salah satunya bisa kita lihat dari ayat bacaan hari ini yang mengingatkan kita untuk selalu berusaha untuk menjadi teladan terutama dalam hal berbuat baik."Dan jadikanlah dirimu sendiri suatu teladan dalam berbuat baik. Hendaklah engkau jujur dan bersungguh-sungguh dalam pengajaranmu" (Titus 2:7). Kita bisa melihat disini bahwa transfer ilmu pengetahuan dan memberi pengajaran secara teoritis saja tidak akan pernah cukup. Kita harus meningkatkan level kita terlebih dahulu hingga kita bisa menunjukkan apa yang kita ajarkan melalui perbuatan nyata dalam kehidupan kita sehari-hari. Tidak hanya teori, namun praktek sangatlah penting. Semua yang kita ajarkan hanyalah teori kosong, buta atau bohong jika kita hidup bertentangan dengan apa yang kita ajarkan.

Kita bisa melihat contoh keteladanan nyata dari Yesus sendiri. Yesus mengajarkan banyak hal tentang kasih, tapi Dia tidak berhenti sampai pada pengajaran saja, melainkan menunjukkan pula lewat sikap hidupNya secara nyata. Lihatlah sebuah contoh dari pengajaran Yesus sendiri ketika ia mengingatkan kita untuk merendahkan diri kita menjadi pelayan dan hamba dalam Matius 20:26-27. Yesus berkata: "sama seperti Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang." (ay 28). Apa yang diajarkan Yesus telah Dia contohkan pula secara nyata. Pada kesempatan lain, Lalu pada kesempatan lain Yesus berkata: "Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu." (Yohanes 15:12). Yesus mengasihi kita sebegitu rupa sehingga Dia rela memberikan nyawaNya untuk menebus kita semua. Ketika Yesus berkata "Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya" (ay 13), Yesus pun telah membuktikan langsung lewat karya penebusanNya. Inilah sebuah keteladanan yang sejati.Ini baru dua contoh dari banyak pesan Yesus agar kita tampil meneladani sosoknya dan kemudian menjadi teladan pula bagi banyak orang.

Tidak adil jika hanya orang tua yang dituntut menjadi teladan, karena Tuhan sebenarnya menginginkan anak-anakNya bisa menjadi teladan sejak usia mudanya. Lihatlah pesan Paulus buat Timotius yang masih muda. "Jangan seorangpun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu." (1 Timotius 4:12) Dari sini terlihat bahwa masalah menjadi teladan tidak hanya urusan orang-orang tua atau dewasa saja, tapi sejak muda pun kita sebenarnya sudah dituntut untuk bisa menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar kita dalam berbagai hal. Perbuatan baik dalam ayat bacaan hari ini digambarkan Paulus dengan menjaga perkataan, menjaga tingkah laku, terus mengasihi, berlaku setia dan hidup suci/kudus. Lebih jauh lagi, Yesus pun mengingatkan kita agar menjadi teladan bagi banyak orang dimana Tuhan dipermuliakan. Terang Tuhan yang ada pada diri kita hendaklah bisa dipancarkan hingga bercahaya bagi banyak orang."Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga." (Matius 5:16) Ini pun bentuk gambaran dari bentuk keteladanan.

Anak-anak tidak akan bisa tampil menjadi teladan bagi orang-orang disekelilingnya jika tidak mendapatkan keteladanan dari orang tuanya. Tidak ada jalan lain bagi kita selain harus terus berusaha menjaga kehidupan kita, tindakan, perbuatan dan tingkah laku kita sesuai dengan firman Tuhan. Ingatlah bahwa apapun yang kita perbuat akan selalu mendapat perhatian orang lain, dan tentunya oleh Tuhan sendiri. Apakah kita bisa menjadi terang yang bercahaya bagi banyak orang, garam yang memberi rasa kepada dunia yang tawar, atau kita malah menjadi batu sandungan bagi orang lain, semua itu tergantung dari sejauh mana kita mau belajar menjadi teladan. Kita harus bisa menjadi pelaku-pelaku Firman secara nyata. Seperti apa figur Kristus yang kita pertontonkan kepada orang lain lewat sikap kita? Tuhan yang penuh kasih, tidak memandang hina siapapun, tidak meninggalkan yang menderita, tidak membeda-bedakan orang, atau Tuhan yang eksklusif, pilih kasih, egois, kasar, penuh kecurigaan dan lain-lain? Apapun yang kita jalani saat ini, ingatlah selalu bahwa kita tidak hidup untuk diri sendiri saja. Ada orang lain di sekitar kita, ada lingkungan di sekeliling kita yang butuh warna cerah, butuh keteladanan. Siapkah kita untuk memberkati orang lain dan mewarnai dunia dengan perbuatan-perbuatan penuh kasih yang mencerminkan Tuhan secara benar? Apakh kita sudah menjadi orang tua teladan bagi anak-anak kita? Jika belum, maukah kita mulai dari sekarang?

Para orang tua harus menjadi teladan bagi anak-anaknya, agar mereka pun bisa menjadi terang bagi sekelilingnya

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Friday, November 16, 2012

Membekali Anak Dengan Firman Tuhan

webmaster | 10:00:00 PM | Be the first to comment!
Ayat bacaan: Amsal 1:10
=====================
"Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut"

Kelompok-kelompok berandalan sepertinya tidak bisa dihapuskan dari negeri ini. Bayangkan, mereka bisa seenaknya konvoi di jalan dan menyabet orang yang tidak tahu apa-apa dengan clurit atau bahkan samurai seperti di film-film yakuza Jepang, menendang orang yang sedang mengendarai motor lalu merebut motornya, merampas tas pengendara lainnya tanpa peduli keselamatan jiwa korban dengan seenaknya. Polisi sepertinya kura-kura dalam perahu saja. Ada yang ditangkap, tapi hanya 'dibina' dan dikembalikan kepada orang tuanya. Besok si anak bisa beroperasi lagi. Apakah ada orang besar dibelakang mereka sehingga polisi segan untuk turun tangan? Atau alasan-alasan lainnya yang jauh lebih tinggi ketimbang melindungi dan mengayomi warganegara seperti tugas yang seharusnya? Entahlah. Tapi sekiranya pun dikembalikan kepada orang tua, seharusnya orang tua juga mampu mendidik anaknya. Kalau perlu menegur dan menghukum. Kenyataannya ada banyak anak yang memang dibiarkan sejak kecil. Orang tua tidak peduli kepada siapa anak mereka bergaul dan malah membela anaknya yang bersalah. Suatu kali petasan dilemparkan ke dalam rumah saya dan hampir mengenai kepala istri saya. Ketika saya pergi menjumpai para ibu yang ada di lokasi kejadian, mereka pun semua berdalih tidak melihat dan mengaku anaknya tidak mungkin melakukan. Padahal mereka duduk disana dan anak-anak mereka juga yang tengah bermain petasan. Tidak heran apabila ketika remaja anak-anak ini akan 'naik kelas' dalam melakukan kejahatan. Disaat seperti itu, orang tua tidak lagi berani menegur dan tidak lagi bisa berbuat apa-apa. Perekrutan anggota gang sudah dimulai sejak anak-anak itu masih di sekolah dasar, dan akan itens pada tingkat sekolah menengah pertama. Artinya, anak-anak berusia 12-15 tahun sudah bisa melakukan tindakan biadab yang mengancam keselamatan orang lain. Tidak jarang pula anggota gang muda ini harus melakukan sesuatu yang 'hebat' seperti merampas motor orang dan sebagainya agar bisa naik pangkat. Jika bukan pihak berwajib, tentu orang tua yang harusnya punya peran. Apalagi mereka yang melahirkan dan membesarkan, dan anak akan terbentuk sesuai dengan bagaimana orang tua mendidik mereka. Kalau bukan anggota gang, lihat pula anak-anak lainnya yang terjerumus obat-obatan terlarang, seks bebas, aborsi dan sebagainya. Dan itu seringkali juga timbul dari pergaulan yang salah yang tidak diperhatikan oleh orang tuanya.

Para orang tua tentu harus mengawasi anak-anaknya agar terhindar dari bahaya secara fisik , tapi jangan lupa pula bahwa anak-anak pun harus dipersiapkan dengan baik secara spiritual sedini mungkin. Amsal Salomo berkata "Hai anakku, jikalau orang berdosa hendak membujuk engkau, janganlah engkau menurut" (Amsal 1:10). Apa yang dipesankan Salomo ini menggambarkan bahwa pengaruh buruk kepada anak-anak yang dilakukan oleh orang-orang jahat termasuk pengaruh premanisme ternyata sudah ada sejak masa Salomo hidup. "jikalau mereka berkata: "Marilah ikut kami, biarlah kita menghadang darah, biarlah kita mengintai orang yang tidak bersalah, dengan tidak semena-mena; biarlah kita menelan mereka hidup-hidup seperti dunia orang mati, bulat-bulat, seperti mereka yang turun ke liang kubur; kita akan mendapat pelbagai benda yang berharga, kita akan memenuhi rumah kita dengan barang rampasan; buanglah undimu ke tengah-tengah kami, satu pundi-pundi bagi kita sekalian.." (ay 11-14). Bukankah hari ini bentuk kekerasan dan kejahatan yang dilakukan gang-gang preman ini masih sama? Ternyata pesan Salomo masih relevan hingga hari ini. Manusia tidak kunjung berubah menjadi lebih baik. Maka Salomo pun menunjukkan pentingnya orang tua untuk mengingatkan anak-anaknya sejak awal, seperti yang ia lakukan sendiri lewat seruan-seruannya. "Hai anakku, janganlah engkau hidup menurut tingkah laku mereka, tahanlah kakimu dari pada jalan mereka, karena kaki mereka lari menuju kejahatan dan bergegas-gegas untuk menumpahkan darah." (ay 15-16).

Tidak ada jalan lain, para orang tua hendaknya rajin menanamkan Firman Tuhan kepada anak-anaknya sejak dini. Alkitab bahkan menyebutkan bahwa itu harus dilakukan sering-sering. "haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun." (Ulangan 6:7). Ini adalah sesuatu yang sangat penting untuk dicermati, agar sejak awal anak-anak kita akan mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat. Tanpa kemampuan membedakan, mereka akan mudah terpengaruh oleh ajakan-ajakan sesat yang bisa membahayakan hidup mereka. Jika kita sudah menanamkannya sejak kecil, mereka pun akan dapat hidup benar hingga masa tuanya kelak. "Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanyapun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu." (Amsal 22:6).

Dengan sangat jelas firman Tuhan berkata: "Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran." (2 Timotius 3:16). Demikianlah pentingnya Firman Tuhan bagi setiap orang, tidak terkecuali bagi anak-anak kita. Pemazmur berkata: "Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku." Firman Tuhan itu pelita dan terang bagi Pemazmur, bagi anda dan saya, juga kepada anak-anak kita. Firman Tuhan akan mampu menuntun dan menerangi mereka agar mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Mengingatkan anak-anak akan bahaya secara fisik itu penting, tapi menanamkan Firman Tuhan berulang-ulang adalah lebih penting lagi, agar mereka siap secara spiritual untuk hidup di dunia yang keras dan penuh dengan segala penyesatan ini. Kepada kita yang dewasa sudah diingatkan bahwa dosa selalu mengintip di depan pintu untuk masuk menghancurkan kita apabila kita tidak berbuat baik (Kejadian 4:7), hal yang sama berlaku pula bagi anak-anak kita yang masih kecil atau belia. Oleh karenanya, sebagai orang tua persiapkanlah anak-anak anda sejak dini lewat Firman Tuhan. Ajarkanlah berulang-ulang agar mereka tahu yang benar dan yang salah, tidak gampang terpengaruh ajakan jahat serta mampu mengarungi hidup yang berkemenangan penuh berkat seperti yang diinginkan Tuhan sepanjang hidup mereka.

Firman Tuhan itu pelita yang menerangi hidup anak-anak kita

Follow us on twitter: http://twitter.com/dailyrho

Search

Bagi Berkat?

Jika anda terbeban untuk turut memberkati pengunjung RHO, anda bisa mengirimkan renungan ataupun kesaksian yang tentunya berasal dari pengalaman anda sendiri, silahkan kirim email ke: rho_blog[at]yahoo[dot]com

Bahan yang dikirim akan diseleksi oleh tim RHO dan yang terpilih akan dimuat. Tuhan Yesus memberkati.

Renungan Archive

Jesus Followers

Prayer Request

Community

Stats

eXTReMe Tracker